Joshua Files: The Invisible City dimulai dari hilangnya dr. Andres Garcia di Meksiko secara misterius. Pihak berwajib menemukan reruntuhan pesawatnya dan tubuh sang doktor dalam keadaan mengenaskan. Mereka memutuskan bahwa itu merupakan pembunuhan dan dengan cepat menangkap pelakunya. Terlalu cepat bahkan. Bagi si tokoh utama cerita, Joshua Gracia, dia tidak bisa menerima fakta itu begitu saja. Mengendus adanya konspirasi, dia memutuskan menyelidiki.
Ternyata kematian dr. Gracia membawanya pada serangkaian petualangan maut; dalam penyelidikannya, Joshua menemukan potongan surat Calakmul yang menyebutkan berbagai kota tersembunyi yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Diluar dugaan dia mendapatkan musuh yang berupaya merebutnya. Surat itu rupanya petunjuk untuk menemukan sebuah Codex rahasia bernama Codex Ix, codex yang tak pernah ditemukan para peneliti sebelumnya. Konon dalam Codex Ix tercantum rahasia mengenai kiamat ala penanggalan Maya yi 22 Desember 2012, keberadaan UFO dan semua petunjuk itu membawanya pada sebuah kesimpulan bahwa ayahnya mencari Codex Ix di kota Ek Naab, sebuah kota yang hilang tertelan jaman. Kota yang bisa jadi jauh lebih maju, kota yang tersembunyi dan penuh bahaya. Kota dimana Codex itu berasal.
Nah, kembali ke cerita. Dengan segenap iming2 akan misteri Codex dan kota yang hilang, premis buku ini menjanjikan saat membelinya. Tapi kok yah... rasa2nya gue terlalu muluk berharap.
Sebab terus terang, ini adalah buku yang separo bab2nya gue habiskan sambil menahan godaan untuk tidak melemparkannya ke luar jendela. Kenapa?
Yah... jawabannya membutuhkan sedikit penjelasan panjang. Pertama, terus terang ceritanya sangat membingungkan untuk diikuti. Timbul tenggelam. Kedua, penyelesaian masalah demi masalah terasa sangat digampangkan sampai2 gue sebagai pembaca merasa diremehkan oleh si pengarangnya. Ketiga, tingkat kelebaiannya cukup mengkhawatirkan karena sudah lewat ambang batas yang bisa gue terima. Keempat, karakterisasinya lemah. Sekadar iklan lewat kalo boleh jujur.
Tokoh utama cerita ini adalah Josh Gracia, lalu temannya Olivia 'Ollie' Johnson, dan Tyler. Ketiganya bukan teman terlalu akrab, Joshua hanya mengenal Ollie dari blognya, dia bahkan tidak pernah tahu nama asli gadis itu sampai akhirnya mereka bertatap muka. Dan bagaimana caranya Ollie bisa menemukan Joshua, gue juga kurang paham. Tidak dijelaskan. Sempat terpikir oleh gue bahwa Ollie ini sebenarnya salah satu agen yang mengincar surat Calakmul itu, tapi nyata2nya nggak tuh.
Peran kedua orang ini sangat minim di sepanjang cerita, kecuali saat Josh dalam bahaya dan butuh diselamatkan secara 'ajaib'. Kemudian ada kakak tiri Joshua, Camilla, yang muncul lalu mati hanya dalam jarak dua bab, astaga... terlalu singkat. Tak jelas.
Gue mulai meragukan integritas cerita ini ketika si tokoh utama bermimpi aneh dan mendapatkan petunjuk soal mimpi. Terus terang ini bukan hal yang gue pikirkan saat membeli ni buku, gue tidak suka mencampur baurkan mimpi ajaib dengan pencarian harta. Yang gue inginkan adalah teka teki murni dan kemampuan otak untuk memecahkan maksud di baliknya. Coba bayangin, sudikah kalian membaca The Da Vinci Code kalo seandainya Profesor Langdon mendapatkan petunjuk untuk memecahkan teka-teki di sepanjang buku, melalui mimpi???
Lalu seusai mimpi itu segalanya terasa makin kacau, seperti main kereta halilintar yang keluar dari jalur. Seusai bab ke-16, gue tambah frustasi. Yang paling menggelikan jelas Joshua bertemu Ixchel, seorang gadis misterius di hutan yang menyelamatkannya lalu memberinya petunjuk bagaimana menemukan kota hilang itu, dan lenyap begitu saja? Busyet... what? The?
Ini kota yang hilang selama RIBUAN TAHUN, GUYS! Kenapa mendadak nemuinnya segampang kalo lo nyasar di Pejompongan trus ada tukang ojek ngasi tau jalan?
Sehabis itu dia menemukan pintu masuk Kota Ek Naab semudah mengetuk pintu, lalu apa lagi? Ternyata kota itu adalah kota bawah tanah yang modern dan necis abis lengkap dengan fasilitas internet.
Padahal penggambaran pertamanya begitu angker dan menakutkan bahkan untuk menemukannya harus melewati ringatan marabahaya ditambah lagi kejaran agen2 misterius yang ga jelas afiliansinya. Rasanya jadi. Oh... jadi gitu doang?
Begitu memasuki kota Ek Naab, gue langsung merasa deja vu dengan film Atlantis The Lost City. Apalagi dengan keberadaan Muwan (kendaraan terbang berteknologi antigravitasi) yang bersliweran semakin membuat pikiran gue melayang ke Atlantis The Lost City.
Lagipula semakin gue membaca mengenai orang2 kota ini, semakin gue menginginkan Joshua memutuskan segala pertalian dengan mereka. Mereka menyebalkan! Dan lebih buruk lagi, Joshua adalah salah satu pemegang sah Codex Ix! Dia adalah seorang Bakap Ix, hanya dia dan keturunannya yang diperkenankan memegang buku itu, orang lain yang menyentuhnya akan tewas seketika.
Oh... so he's the chosen one then.
Bagi gue, cerita ini sangat simpang siur. Bangunan plotnya super berantakan dan kabur, tidak jelas mau dibawa kemana, tercampur baur antara supranatural, sains fiksi, sejarah, mitologi, dan ramalan jadi satu kacau balau. Gabungan semacam ini bisa saja terjadi tapi buku ini kurang berhasil menyatukannya, alih2 gue harus memunguti satu persatu sambil mencoba mencocokkan pasangannya. Pusing tujuh keliling!
Buku ini lebih bagus kalau:
1. Mbok yang meyakinkan dong kalo bikin storytelling, memunculkan gadis kecil misterius di tengah hutan hujan tropis dalam kegelapan malam sebagai penunjuk jalan tanpa penjelasan masuk akal jelas2 bukan cara yang bagus untuk membawa cerita, oke! Itu lelucon! LELUCON!!
2. Jagalah kerapihan dalam membuat cerita. Seperti menggambar, menulis pun juga harus rapih dan berunut. Sebab kalo tidak, dijamin pembaca pusing.
3. Seumur hidup gue baru tau ada cerita code cracking yang dipecahkan dengan bantuan mimpi gaib. Itu terdengar seperti sinetron yang dibikin sama Raam Punjaabi. Plis deh, ini bukan Cinta Fitri kan?
4. Cerita ini sejenis kayak Indiana Jones meets X-Files. Tolong dasar ilmiahnya dipertegas lagi, referensinya digali lagi, penjelasannya diperbanyak; jadi pengarang ya mesti lebih rajin dan lebih pinter dari pembacanya kan?
5. Karakter dalam novel haruslah efektif, jangan dibikin trus peranannya kek iklan lewat.
6. Musuhnya diperjelas. Di Fringe ada Massive Dynamic, di Lost ada Dharma Initiative, di Blood Oath Series ada Shadow Company. Bahkan di Conan aja ada kelompok pria berjubah hitam. Siapa musuh dalam dunia Joshua Files??? Tak ada petunjuk. Dan sori aja cuy... buat ukuran musuh mereka terlalu lemah. SUCKS!
Sebagai ide Invisible City menarik tapi eksekusinya tergolong acak adut. Penuturannya tidak bagus, membingungkan pembaca.