Sobary, penulis novel ini, bersaksi: Novel ini bukan sejarah. Meskipun ditulis berdasarkan fakta sejarah dalam birokrasi yang dia pimpin, di sana-sini penulis berhak mengubah-mengurangi dan menambah-kedalaman, warna-warni dan renik-renik suatu momentum historis, untuk lebih menekankan titk dramatis dan menjadikannya lebih tajam, atau membuatnya lebih estetis, demi menegaskan bahwa-sekali lagi-novel bukan sejarah. Kecuali itu, novel memang tak dibebani kewajiban memanggul tugas etis maupun ilmiah agar tetap setia memenuhi ketepatan "sejarah sebagai rekonstruksi peristiwa", tetapi menjaga kewajiban etis untuk memelihara kebenaran "sejarah sebagai keutuhan dinamika sosiologis"-sejarah sebagai ilmu, yang memang merupakan ruh novel jenis ini.
Sejarah menjadi lebih berarti, lebih berbicara, ketika ditulis bukan sebagai sejarah, melainkan ketika ia mengejawantahkan dalam bentuk novel. Inilah cara Sobary menulis sejarah Partnership, organisasi penting tempat dia menjadi direkstur selama tiga tahun, ikut bergulat dalam reformasi.
Ini pulalah cara Sobary menghadirkan organisasi besar ini ke tengah masyarakat. "Banyak cara kita mengucapkan terima kasih. banyak cara kita memberikan penghargaan tinggi atas sesuatu yang memang layak ditinggikan di mata dan di hati khalayak." Katanya.
"Partnership-dan segenap tokoh penting didalamnya-membukakan kesempatan menikmati momen-momen reflektif, ketika saya sedang suka dan bergairah, maupun saat duka, kehilangan inspirasi, dan butuh teman untuk ketawa-sesuatu yang mewah dalam kehidupan manusia modern, yang 'dijajah' agenda demi agenda yang dibuatnya sendiri."
Mohamad Sobary (biasa dipanggil Kang Sobary, lahir di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, 7 Agustus 1952; umur 57 tahun) adalah budayawan yang sering menulis di beberapa surat kabar Indonesia. Kolomnya sampai sekarang masih muncul di Harian Kompas Minggu di rubrik Asal-Usul. Mantan Pemimpin Umum Kantor Berita Antara ini sekarang menjabat sebagai Direktur Eksekutif Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan[1] (Partnership for Governance Reform).Jabatan tersebut berakhir bulan Juli 2009. Kini Sobary sedang memfokuskan diri pada penulisan Novel tentang keluarga Syalendra yang membangun Borobudur. Ditengah kesibukan itu dia juga menyelesaikan segenap kenangan dengan Gus Dur : 1. Jejak Guru Bangsa: Meneladani Kearifan Gus Dur, minggu ketiga Februari 2010 terbit di GRAMEDIA 2. Kenangan lainnya, dialog-dialog dengan Gus Dur yang pernah direkam dan diperjualbelikan, akan diterbitkan kembali dengan judul Gus Dur dan Kang Sobary : KeIndonesiaan dan Kemanusiaan.
Novel rasa non fiksi, tapi jauh lebih enak dinikmati buku non fiksi dari pak Sobary yang sebelumnya saya baca; Kang Sejo Melihat Tuhan, di mana buku tersebutlah menjadi alasan saya membaca karyanya yang lain.
Pak Sob, hatur tenkyu bukunya. Juga kopinya yang pas itu. Sayang gak bisa lama ikut diskusinya. Tempat duduknya sebenarnya cukup lapang, sayang waktu saya hanya seperkopian sajah tadi siang. Pun badan saya tidak bersahabat dengan AC yang terlalu dingin. (nDESSOOOO!!) Saya segera kabur dari ruangan begitu Pak Sob berceloteh dengan bahasa awannya sementara saya masih dibebani dengan bahasa teknis di kantor. Repots besar kalo emosi membuncah pada saat ada laporan yang harus dikemas dalam bahasa teknis! Masa, ada laporan gaya soliloquy?
Lagian ada panggilan tandatangan gaji yang harus dituntaskan... :))
Rekan-rekan gudriders yang ingin lebih tahu tentang peluncuran buku ini silakan bertanya kepada Rekan Saya dari Lantai 9 yang khusyuk di meja depan. (nunggu ada yang teriak fitnah neh, :p) Dia yang menyimak Pak Sob bersenandung tentang kidung-nya dengan arahan master of seremoni itu tuh mas-mas suaminya yang jadi istrinya Naga Bonar (dooh lupa nama eike)!
Saya mah cuma bisa bilang sampul bukunya berwarna krem kecoklatan. Manis. Semanis kopi yang saya bubuhi dua sachet gula di ruangan tadi!
Pak Sob, hatur tenkyu sekali lagi. Bukunya manis! (teuteup!)
Cara Kang Sobary bertutur di "Novel" ini mirip dengan gaya Jostein Gaarder dengan novel2 filsafatnya (Dunia Sophie,dll), atau Patrick Lencioni dengan buku2 manajemennya. Buat saya, ini lebih terasa sebagai buku kepemimpinan, cuma memang dikemas sebagai novel. Buat Anda yang dulu aktif di organisasi kemahasiswaan saat kuliah, akan dibuat merasa sangat beruntung, karena telah belajar cara memimpin yang benar. Sekali lagi, Anda telah belajar cara untuk menjadi pemimpin, bukan penguasa. Buku ini sangat menarik buat saya pribadi, berhubung kantor tempat saya bekerja punya cara bekerja yang mirip dengan Partnership -organisasi yang dicaritakan Kang Sobary di novel ini-.
datang ke launching berharap dapat bukunya. nyamar jadi wartawan, eh malah gak dapat bukunya. orang yang langsung ke registrasi malah dapat. duh. jadi bete. kemudian memutuskan untuk balik kantor. untungnya, sudah dapat tandatangan dari pak sobary untuk bukunya roos.
akhirnya selesai juga. cukup lelah membaca buku yang notabene berlabel 'novel' namun menurut saya sejatinya adalah 'panduan manajemen kepemimpinan. tidak ada alur cerita yang ada hanya dialog-dialog yang terlalu cerdas, makanya agak susah dicerna.
Berat..... Bukan bukunya yang berat, bukunya sih gak tebel-tebel amat, cenderung masuk kategori tipis malahan.. Tapi isinya, sekelas buku-buku filsuf, buku ini butuh dibaca dengan berpikir... Saya butuh setahun namatinnya... poor my brain -___-"
Well, butuh waktu sebulan lebih utk menyelesaikan buku ini. Bukan karena kesibukan atau apa, tapi memang butuh "effort" utk bisa menyelesaikannya. Yang pasti dapat banyak tambahan ilmu tentang leadership dari buku ini. 💪🏼👍🏼