All ills are good when attended with food, kata Batara, tapi pada realitasnya agak susah juga ya. Semisal kita menjenguk teman sakit, pasti yang memakan buah tangan penjenguk adalah si sehat, hehe. Seperti kerasukan peri smokol, Batara begitu lihai dalam urusan masak-memasak untuk merayakan sosialita bersama kelompensmokol-nya sekaligus memperpanjang tradisi makan-makan yang diperkenalkan melalui Oma Sjanne-nya. Ironi dan apatis muncul bersamaan dalam cerpen ini, Batara seperti berteriak kenapa dapur omanya tidak menyelipkan satu saja bau kelaparan. Batara sebagai orang paling riang sekota Jakarta akhirnya jatuh sedih sampai kekurusan bersemayam padanya di saat realis tampak betul-betul nyata di negerinya, di televisinya. Tak tau lagi apa kabar Smokol setelah itu. Benar kata Batara bahwa segala sesuatu meski berkadar secukupnya.
Dalam epilog, Linda Christanty menyatakan bahwa pembaca awam tak akan mudah memahami konteks cerpen Iblis Paris. Sebagai pembaca awam, saya membutuhkan sedikitnya tiga kali membaca dan belasan kali membolak-balik halaman cerpen ini. Sederhananya saya simpulkan: cerpen yang berlatarkan konflik di perbatasan Thailand Laos Burma. Konflik ini pulalah yang melahirkan romantisme sekaligus hororisme segitiga antara Zita, Khun Sa, dan Duarte, serta perpindahan kisah ke Lyon, Prancis. Lalu, siapa lagi Thian itu?
Di Kampung Paru, diceritakan ada sebuah Kiriman Laut yang Terlambat. Nama-nama yang hidup di sini unik-unik: Perdadu, Dojala, Masteri, Raspulen, Nisoto, Wargepuk, Lokrapu, Tokpentung, Kunpenyu, Nucumi, dan Palkepiting. Sebuah misteri tentang kepala busuk seorang perempuan yang melolong sepanjang malam hingga pagi dengan nyanyian kesedihan "Lelaki rembulan yang berpedati, lelaki rembulan yang berpedati." Awalnya dicurigai bahwa Masteri mengurung seorang perempuan dan menyiksanya karena setelah dua belas tahun menduda baru kali ini ia menggembok rumahnya ketika pergi melaut.
Senja di Pelupuk Mata benar-benar terjadi pada Bli Gede dan istri. Kebahagiaan itu hanya sesingkat dua puluh tahun ketika anak-anak mereka masih bersama mereka. Ketika renta dan papa ke mana mereka? Seperti terlalu sibuk akan kehidupan rumah tangga masing-masing sampai lupa keadaan orangtua yang membesarkan mereka dengan kasih sayang. Di saat yang sama, ibu mereka seperti menerima karma karena melakukan hal yang sama ketika meninggalkan orangtuanya dan ikut bersama suaminya tanpa kemudian menoleh. "Karma terjadi begitu cepat," katanya ketika mengingat Meme dan Bapa. Yang menggantung dalam cerpen ini, kenapa tidak ada kisah lanjutan tentang es kelapa muda di Tanah Lot?
Ada banyak potongan kisah dalam Cerita Dari Rantau, sedikitnya delapan episode. Ada yang terkait dan menurut saya juga ada yang tidak terkait dan tidak dirasa perlu untuk dimasukkan dalam potongan kisah utama. Berlatarkan penambang emas utusan VOC yang ditugaskan menuju Sumatera Barat. Namun sebelum kapal yang mengangkut mereka tiba, di Batavia cerita ini dipenuhi konflik perselingkuhan hingga kematian. Agak ribet sih cerpennya.
Terbang kali ini berbeda. Sejak dua anak mereka bisa ditinggal, Jati mengharuskan suaminya, Ari, untuk tidak lagi terbang satu pesawat. Paling tidak dan paling logis agar anak mereka tidak jadi yatim piatu, Jati berteori. Perjalanannya yang entah dari mana, lalu transit di Surabaya, dan akhirnya berakhir di Jakarta itulah Jati bertemu seorang pria baik-baik. Mereka membahas banyak: pekerjaan hingga kesamaan antara kamera digital dengan lelaki. Idenya lucu sekali, menarik, dan orisinil. Narasinya mengalir manis seperti lelehan coklat, coklat juga ada yang pahit kan? Ya, kepahitan itu saya rasakan dalam dua paragraf terdapat dua kefatalan. Pada paragraf "Kukeluarkan buku. Kuletakkan di pangkuan, sebab aku sulit membaca ketika lepas landas dan lampu tanda kenakan sabuk belum mati." Lalu persis di paragraf setelahnya tertulis "Aku menyadari pesawat ini tak punya lampu tanda kenakan sabuk pengaman..., aku menarik napas lega yang pertama, dan mulai membaca lagi." Ada ketidakkonsistenan di sini, yaitu tentang lampu tanda kenakan pesawat dan membaca buku.
Awalnya saya mengira betulan kalau Sakri Terangkat ke Langit. Ternyata tidak, hanya tersangkut di pohon beringin tua. Cerpen ini berkisah tentang seorang istri yang tertelan api cemburu tanpa sebab. Padahal dia sendiri yang berselingkuh. Orang yang aneh. Lebih aneh lagi, Sakri yang hanya bergeming mendengar racauan istrinya. Ada kasih sayang yang hangat antara Arum dan Sakri, yang walaupun sebagai anak angkat dia telah menyayangi Sukri seperti ayah kandungnya. Lebih baik tidak diceritakan saja siapa orangtua Arum sesungguhnya, karena takutnya penerimaan Sakri atas tawaran pemilik pabrik gula hanya sebatas kepentingan tutup mulut.
Tuan tanah yang merampas hidup ayahnya-lah yang membuat Mangku Mencari Doa di Daratan Jauh. Adalah Lampung tanah yang didiami orang Bali untuk menyambung hidup tanpa melupakan adat yang dipilih oleh Mangku untuk menetap. Pemberontakan 1965 begitu akrab dalam cerpen ini, selain karena ayahnya yang dituduh komunis lalu dibunuh, perjalanan Mangku juga mempertemukannya dengan kru film yang sedang mengambil gambar dan keterangan terkait pemberontakan itu. Penulis mampu menyelipkan adegan lucu ketika mewawancarai salah satu saksi hidup. Pintar sekali. Perjalanan Mangku dari Bali diawali dengan mendarat di Banyuwangi. Di tanah Jawa, Mangku bertemu dengan politik uang dan kebengisan ibukota yang merenggut nyawa salah satu sahabatnya, Jonggi. Tanah Lampung sempurna dicapai Mangku untuk pekuburan sahabatnya yang lain, Si Kera, dengan pekuburan yang baik dan doa, bukan yang seperti ayahnya dapatkan.
Si Aku akhirnya menerima mawar khusus berwarna Merah Pekat dari Dante, sosok yang ditemuinya di rumah benteng. Kejadian di umurnya lima tahun kembali terjadi dan kali ini membeku pada dua puluh lima tahun umurnya, bertemu alm ayah dan alm kakeknya, tapi si Aku harus kembali dulu ke lima tahun umurnya yang tentu saja setelah Dante mencecap lehernya. Ceritanya ada bumbu magis, berlatar drama keluarga yang tidak bahagia.
Dua perempuan dan satu laki-laki yang telah meninggal berada di Rumah Duka. Mereka mencintai laki-laki yang telah mati itu. Di satu sisi, si istri mengira suaminya hanya mencicipi "makanan" bukannya memelihara "anjing" lalu lama-kelamaan ia menerima keadaan itu karena alasan sakitnya yang menahun. Di sisi lain, si perempuan lain itu juga mengira pacar tujuh belas tahunnya memang tetap mencintai istrinya ketika jazz tidak lagi menarik bagi mereka dan obrolan pun beralih ke tema istrinya. Jika teori "anjing" dipakai untuk perempuan ini, bukankah anjing lebih setia? Jadi....
Dalam Hujan Hijau Friedenau ada cinta yang gak gw ngerti antara Aku, Arok, dan Ellen. Ada banyak bener istilah bunuh diri di sini. Eh kak Triyanto Triwikromo berani banget bilang Vanessa Mae ngawur. *ngikik*
Awalnya kaget akan pilihan Berburu Beruang atau berburu hiu, pilihan yang sama sulitnya, sama jahatnya. Cerita berjalan ternyata beruang hanyalah sebuah perumpamaan untuk batang pisang. Mas Burhan yang tidak bisa melihat kesenjangan sosial tiba-tiba terluka batinnya lalu kumat dengan tak mau makan, aktifis ini seolah perlu melampiaskannya dengan menusuk leher beruang. Menusuk leher kekuasaan.
Bukan masalah primordialisme kalau saya memilih Ratapan Gadis Suayan sebagai cerpen terbaik so far. Bagaimana tidak, seseorang telah memilih mata pencaharian sebagai tukang ratap dalam hidupnya. Meskipun ada atau tak ada kematian, Raisya tetap akan meratap. Berlatar di dusun yang melahirkan perempuan cantik berbibir pipih bertubuh montok, Raisya, si cantik itu juga menikah atas persekongkolan mamaknya dengan Nurman. Hutang omnya lunas, Raisya melahirkan, suaminya pergi mencari daun muda yang lain. Tukang ratap itu akhirnya membawa ratapannya kepada mantan suaminya sendiri.
Beningnya mewarisi kesukaan dari ibunya, Ren, yaitu suka mendapat kiriman kartu pos. Mendapat kartu pos bagi mereka bagaikan mendapati sepotong lagi jiwa yang hilang dan kembali utuh, bahagia sekali rasanya. Lalu ketika Ren meninggal dan sang ayah belum mampu menjelaskan kepada Beningnya, di sini konflik muncul. Perlahan Beningnya menyadari bahwa ibunya telah meninggal dengan mendapat Kartu Pos dari Surga, kiriman ibunya.
Suka sekali dengan penggalan ini: "mungkin karena pikiran kotor mudah terbaca." Sumpah, keren kali cerpen ini bahkan vonis ini sebelum saya benar-benar selesai membacanya. Kaka Ugoran Prasad, this is the most ultimate, officially! Kalau saya sepertinya pernah satu gang dengan Izrail, duh. Mak Saodah, what's the hell are you doing tapi kok enak ya? Wak Misnah bilang kalau laki-laki sinting di jalan dan Perempuan Sinting di Dapur. What, gw kan suka ke dapur. Jadi jadi?