Jump to ratings and reviews
Rate this book

Zobar - 2

Rate this book
Buku ini adalah lanjutan dari Zobar Jangan Pulang Malam. Zobar terus berpetualang hingga ke penjara Perancis, Thailand dan Singapura.Bahkan, hingga ke daerah segitiga Emas atau The Golden Triangle yang sering disebut-sebut orang sebagai sumber masalah narkotika dan kawasan Asia Tenggara. Daerah ini memproduksi opium atau Candu dan heroin dalam jumlah yang sangat besar.

Bagaimana nasib Zobar yang selalu diburu oleh DEA ( Drug Enforcement Administration) ? akankah dia selamat? Penulis akan membawa kita ke dalam petualangan Zobar dalam cerita sindikat narkotika internasional yang lebih seru dan mencekam hingga halaman terakhir buku ini...

216 pages

First published June 1, 2008

7 people want to read

About the author

Ilham Malayu

3 books

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4 (44%)
4 stars
1 (11%)
3 stars
3 (33%)
2 stars
1 (11%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 of 1 review
Profile Image for Willy Akhdes.
Author 1 book17 followers
April 21, 2016
Saya langsung membaca Zobar-3, trilogi Zobar, sebab belum ketemu seri pertama dan kedua. Menurut saya ini salah satu novel thriller terbaik kreasi penulis lokal, penceritaannya yang lugas dengan kejadian-kejadian yang tidak diduga membuat saya terus membacanya sampai selesai karena terus penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. Dengan jumlah halaman kurang dari 250, hanya dalam durasi sekitar tiga jam saya menyelesaikannya. Novel ini menceritakan petualangan Zobar dalam aksi penyelundupan narkotika dalam jumlah besar yang melibatkan banyak sel-sel penyelundupan dengan setting berbagai negara, mulai dari Prancis, Itali, Palestina, Mesir sampai ke Asia Tenggara: Myanmar dan Thailand. Penggambarannya yang rinci membuat saya seolah-olah berada di tempat kejadian. Seperti sedang menonton film thriller hollywood yang menegangkan. Satu hal yang kurang saya suka adalah pencampuran gaya tutur tokoh-tokohnya yang kadang-kadang berbacara semi-formal dengan gaya bahasa gaul/non formal. Hal itu membuat penceritaan kekurangan sisi keseriusan, saya lebih suka dengan bahasa tutir semi-formal. Ya, ini mungkin soal selera saja. Selebihnya saya suka.
Displaying 1 of 1 review

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.