Tulisan Mohammad Hatta, mantan Wakil Presiden pertama RI ini pernah dimuat di Majalah Pandji Masjarakat no. 22 1 Mei 1960 dan sempat dilarang terbit disertai dgn larangan untuk membaca, menyiarkan bahkan menyimpan majalah Pandji Masjarakat edisi tersebut. Buku ini memuat uraian yang jenius dari seorang bapak bangsa yang mengkhawatirkan jalannya pemerintahan semenjak dikeluarkannya Dekrit Preseiden Sukarno 5 juli 1959 dan diberlakukannya Keadaan Daurat dgn dibubarkannya Badan Konstituante yang bertugas menyusun UUD baru.
Latar Belakang dan Pendidikan Dr.(H.C.) Drs. H. Mohammad Hatta (populer sebagai Bung Hatta, lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 12 Agustus 1902 – wafat di Jakarta, 14 Maret 1980 pada umur 77 tahun) adalah pejuang, negarawan, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama. Ia mundur dari jabatan wakil presiden pada tahun 1956, karena berselisih dengan Presiden Soekarno. Hatta dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Bandar udara internasional Jakarta menggunakan namanya sebagai penghormatan terhadap jasanya sebagai salah seorang proklamator kemerdekaan Indonesia.
Nama yang diberikan oleh orang tuanya ketika dilahirkan adalah Muhammad Athar. Anak perempuannya bernama Meutia Hatta menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta.
Perjuangan Saat berusia 15 tahun, Hatta merintis karir sebagai aktivis organisasi, sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond (JSB) Cabang Padang. Di kota ini Hatta mulai menimbun pengetahuan perihal perkembangan masyarakat dan politik, salah satunya lewat membaca berbagai koran, bukan saja koran terbitan Padang tetapi juga Batavia. Lewat itulah Hatta mengenal pemikiran Tjokroaminoto dalam surat kabar Utusan Hindia, dan Agus Salim dalam Neratja.
Kesadaran politik Hatta makin berkembang karena kebiasaannya menghadiri ceramah-ceramah atau pertemuan-pertemuan politik. Salah seorang tokoh politik yang menjadi idola Hatta ketika itu ialah Abdul Moeis. “Aku kagum melihat cara Abdul Moeis berpidato, aku asyik mendengarkan suaranya yang merdu setengah parau, terpesona oleh ayun katanya. Sampai saat itu aku belum pernah mendengarkan pidato yang begitu hebat menarik perhatian dan membakar semangat,” aku Hatta dalam Memoir-nya. Itulah Abdul Moeis: pengarang roman Salah Asuhan; aktivis partai Sarekat Islam; anggota Volksraad; dan pegiat dalam majalah Hindia Sarekat, koran Kaoem Moeda, Neratja, Hindia Baroe, serta Utusan Melayu dan Peroebahan.
Pada usia 17 tahun, Hatta lulus dari sekolah tingkat menengah (MULO). Lantas ia bertolak ke Batavia untuk melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School. Di sini, Hatta mulai aktif menulis. Karangannya dimuat dalam majalah Jong Sumatera, “Namaku Hindania!” begitulah judulnya. Berkisah perihal janda cantik dan kaya yang terbujuk kawin lagi. Setelah ditinggal mati suaminya, Brahmana dari Hindustan, datanglah musafir dari Barat bernama Wolandia, yang kemudian meminangnya. “Tapi Wolandia terlalu miskin sehingga lebih mencintai hartaku daripada diriku dan menyia-nyiakan anak-anakku,” rutuk Hatta lewat Hindania.
Pemuda Hatta makin tajam pemikirannya karena diasah dengan beragam bacaan, pengalaman sebagai Bendahara JSB Pusat, perbincangan dengan tokoh-tokoh pergerakan asal Minangkabau yang mukim di Batavia, serta diskusi dengan temannya sesama anggota JSB: Bahder Djohan. Saban Sabtu, ia dan Bahder Djohan punya kebiasaan keliling kota. Selama berkeliling kota, mereka bertukar pikiran tentang berbagai hal mengenai tanah air. Pokok soal yang kerap pula mereka perbincangkan ialah perihal memajukan bahasa Melayu. Untuk itu, menurut Bahder Djohan perlu diadakan suatu majalah. Majalah dalam rencana Bahder Djohan itupun sudah ia beri nama Malaya. Antara mereka berdua sempat ada pembagian pekerjaan. Bahder Djohan akan mengutamakan perhatiannya pada persiapan redaksi majalah, sedangkan Hatta pada soal organisasi dan pembiayaan penerbitan. Namun, “Karena berbagai hal cita-cita kami itu tak dapat diteruskan,” kenang Hatta lagi dalam Memoir-nya.
Selama menjabat Bendahara JSB Pusat, Hatta menjalin kerjasama dengan percetakan surat kabar Neratja. Hubungan itu terus berlanjut meski Hatta berada di Rotterdam, ia dipercaya sebagai koresponden. Suatu ketika pada medio tahun 1922, terjadi peristiwa yang mengemparkan Eropa, Turki yang dipandang sebagai kerajaan yang sedang runtuh (the sick man of Europe) memukul mundur
"Buku keramat" bagi orang yang hendak mendalami Pancasila.
Hatta adalah salah seorang peletak dasar bagi Indonesia. Tulisannya adalah suatu sumbangan yang sangat berharga bagi orang-orang yang hidup di masa kini dan belum pernah mendapat "pendidikan Pancasila yang layak".
Hatta melalui buku ini bercerita mengenai apa itu Pancasila yang sebenarnya. Pancasila yang memang merupakan nilai-nilai yang sudah ada di Indonesia sejak dahulu. Betapa Pancasila bukanlah suatu ideologi kosong yang berisi nilai-nilai ideal tanpa penerapan nyata belaka. Pancasila adalah sebenar-benar gagasan dasar bernegara yang ditujukan untuk menjadikan rakyat Indonesia sebagai rakyat yang hidup sejahtera dan berdaulat.
Hatta pun membahas bahwa kesejahteraan rakyat bisa dicapai dengan syarat rakyatnya memiliki daulat. Pada buku ini dibahas mengenai mengapa daulat rakyat tersebut diperlukan dan bagaimana nilai-nilai Pancasila tersebut digali dari nilai yang memang benar diterapkan oleh rakyat Indonesia di kehidupan sehari-hari.
Suatu buku yang layak untuk dibaca oleh seorang manusia Indoensia.
Bung Hatta udah sepinter dan segamblang itu ngasih gambaran rinci dan mudah dimengerti soal esensi demokrasi sosial kok ya ndak dihargai ama Bung Karno dan Pak Harto ya...
Kalo liat komentar-komentar orang belakangan ini yang terkesan rada "nyinyir" ke orang yang punya kepintaran di bidangnya sendiri-sendiri sebagai "sok intelek" "si paling baca" kok rasanya sedih dan marah banget ya? Apa emang bangsa ini gak nganggep kecerdasan itu sebagai salah satu virtue/kelebihan? Lha wong founding fathersnya bikin surat dan buku yang gampang dimengerti aja, bukunya gak populer dan surat-surat kritik dan sarannya gak ditanggapi sama pemimpin waktu itu (re: Karno dan Harto)
Apa? Bukunya sempet dilarang terbit dan dilarang dibaca? Fiks, ini ada yang bermasalah dari pola pikir kita sebagai nation. Atau mungkin pola pikir (kebanyakan) pemimpin-pemimpin kita dari dulu bermasalah?
Apapun itu, baca buku ini supaya kita sadar, kalau pekerjaan rumah kita dalam berdemokrasi dan mewujudkan demokrasi yang benar-benar seutuhnya memperjuangkan kedaulatan rakyat, itu masih panjang. Tapi bukan berarti gak bisa. Pelan-pelan, demokrasi yang seutuh-utuhnya berwujud kedaulatan rakyat, pasti bisa terwujud!
Buku ini ditulis oleh Bung Hatta sebagai kritik atas Bung Karno yang di masa kepemimpinannya menjadi otoriter.
Di dalamnya juga terdapat kritik atas penggunaan partai dalam menempatkan menteri yang tidak melalui jalur meritokrasi, yang nampaknya hingga abad 21 ini masih belum ada perubahan.
Di tulisan ini, Bung Hatta juga mengkritik gagasan demokrasi terpimpin Bung Karno yang secara arti jadi lucu karena tidak ada demokrasi sama sekali dalam gagasan tesebut. Pada akhir tulisan ini, Bung Hatta mengingatkan kembali kepada pembacanya dengan menyampaikan ulang naskah pembukaan UUD 1945 dan menyampaikan agar kita dapat kembali kesana.
-Buku ini masuk dalam daftar: 100 catatan yang merekam perjalanan sebuah negeri oleh Majalah Tempo-
Buku ini kurang lebih adalah kritik Bung Hatta terhadap sistem pemerintahan Indonesia pasca kemerdekaan, termasuk kritik beliau terhadap mantan rekan dwitunggal-nya, Presiden Soekarno.
Menarik bahwa pikiran Bung Hatta dalam buku ini masih sangat relevan bahkan setelah lebih dari 70 tahun Indonesia merdeka.
"Bagi beberapa golongan menjadi partai pemerintah berarti "membagi rezeki". Golongan sendiri dikemukakan, masyarakat dilupakan."
"Seorang menteri memperoleh tugas dari partainya untuk melakukan tindakan-tindakan yang memberi keuntungan bagi partainya. "
"Dalam hal menempatkan pegawai pada jabatan umum... Seringkali keanggotaan partai menjadi ukuran bukan dasar the right man in the right place."
Hatta presents a democratic vision that clearly differs from Soekarno, reflecting their contrasting principles and political approaches. I understand Hatta’s concern regarding how democracy should have been practiced in Indonesia during the early years following independence. His criticism of Soekarno, expressed after his resignation as Vice President, should be seen as a genuine warning and a form of responsibility aimed at improving the nation so that the state itself could function better. Hatta strongly emphasized the importance of proper education for the Indonesian people, arguing that democracy can only operate as it should when citizens are politically aware and informed, rather than kept uneducated to serve particular interests.
"Kita selalu menggembar-gemborkan, bahwa negara kita berdasarkan Pancasila, tetapi di mana keadilan, peri-kemanusiaan, demokrasi yang sebenarnya. Adakah demokrasi, kalau orang rata-rata merasa takut, harus tutup mulut, kritik tidak diperbolehkan, sehingga berbagai hal yang tidak dapat dipertanggungjawabkan berlaku leluasa?"
Buku pertama karya bung Hatta yang kubaca, membicarakan soal demokrasi khas Indonesia yang kental unsur akar rumput serta etika moral yang ada di Indonesia. Ada surat bung Hatta ke bung Karno yang berisi kritik sangat menarik karena memperlihatkan betapa profesionalnya mereka meski berbeda pandangan.
Despite of the myth of his federalism advocacy, here's in this short book, he actually layed out strict guidance and requirements for federalization. In a nutshell, he wanted *democracy* in term of economic.
Bung hatta tokoh nasionalis yang saya kagumi dan membaca ini semakin terkagum atas pemikiran beliau. Bagaimana pandangan beliau akan demokrasi dan kepedulian terhadap rakyat.
Buku ini menjelaskan dengan rinci masalah mengenai demokrasi di Indonesia dan bagaimana melaksanakan demokrasi yang sesuai dengan Pancasila yang dimana pembahasannya relevan hingga hari ini
It's depressing how we're really just going in circles... Hatta points out the same issues that was plaguing Indonesia's Democracy in the 60's which WE STILL SEE TODAY
Dilihat dari nilai buku ini, dan cara pemaparannya yang jelas, mudah diikuti, buku ini sangatlah berharga, dus 5-stars, atau sangat direkomendasikan.
Didalamnya ditulis semacam memoir dari Bung Hatta, perspektifnya dalam menilai apa-apa yang terjadi pada demokrasi di masa-masa awal paska proklamasi '45, hingga ketika ia mengundurkan diri dari jabatan sebagai wakil-presiden, dus pecahnya dwitunggal Soekarno-Hatta.
Slain itu bagi yang males baca, bukunya tipis bangeeet. Cuman 34 halaman.
salutlah sama Hatta, yang bisa mengkritik sahabatnya sendiri dengan lugas. beda pandangan dalam perpolitikkan sekalipun sahabat itu trnyata 'diizinkan'
Sekecewa itu dia sama Soekarno—Presiden, partner, dan temannya. Gua sih ga akan pernah tega ngecewain teman kayak Hatta??? Kayak apa sih yang Soekarno kejar?? Tamak.