Mungkin, sekali dalam seratus tahun Dinas Rahasia Amerika Serikat lengah dalam pengamanan wakil presidennya yang berkunjung ke suatu negara lain. Mungkin, sekali dalam seratus tahun para petugas keamanan Republik Indonesia kurang teliti. Tapi kemungkinan yang sangat tidak mungkin itu terjadi pada saat Wakil Presiden Amerika Serikat berkunjung ke Indonesia dan berhasil diculik! Tepat dibawah hidung para petugas keamanan kedua negara. Dan Astrid, Sweta, serta Wiedha terlibat. Siapa penculiknya? Apa yang dimintanya? Hanya satu kata yang bisa jadi petunjuk siapa sebenarnya si penculik. Tapu satu kata itupun keliru diartikan oleh Astrid dan kawan-kawannya!
Keadaan SIAGA PERANG dijalankan untuk membekuk si penculik, sementara pemerintah Amerika Serikat mengirimkan nota bernada sangat keras pada pemerintah RI.
adalah seorang penulis buku Indonesia tahun 70 hingga 80-an. Dia dikenal sebagai penulis buku fiksi-ilmiah seperti seri Penjelajah Antariksa (Bencana di Planet Poa, Sekoci Penyelamat, Kunin Bergolak), Jatuh ke Matahari dan sekuelnya, Bintang Hitam. Selain menulis buku fiksi-ilmiah, Djokolelono juga dikenal sebagai penulis buku anak-anak, seperti seri Astrid, dan beberapa cerita wayang. Djokolelono juga adalah seorang penerjemah. Buku-buku yang ia terjemahkan antara lain Petualangan Tom Sawyer dan karya Mark Twain yang lain, seri Pilih Sendiri Petualanganmu, seri cergam Mimin, seri Mallory Towers dan buku-buku Enid Blyton yang lain, dan seri Rumah Kecil Laura Ingalls Wilder[1]. Karya-karyanya diterbitkan oleh Pustaka Jaya (PT Dunia Pustaka Jaya), Gramedia, dan BPK Gunung Mulia.
“Apakah memang Astrid ataukah Wakil Presiden Amerika Serikat yang diculik, sesungguh-nya si penculik bisa kita bikin mengkal. Katakan saja bahwa yang mereka culik itu, dalam hal ini Wapres AS, adalah palsu,” kata Wiedha, tertawa. “Biasanya kan orang-orang terkenal punya kem-baran untuk acara-acara tertentu. Bilang saja sesungguhnya yang mereka culik adalah wapres yang palsu, sementara wapres yang sebenarnya palsu tampilkan di muka umum. Dengan begitu si penculik pasti kapok! Hi hi hi...” Wiedha tertawa.
GUYS I SWEAR I’M NOT BEING TOO POLITICAL 😭 It’s just the plot of Astrid: Penculikan Tamu Negara dan Wakil Presiden Amerika Serikat yang sekarang is safe and sound yaaa! I wish my life is as interesting as Astrid karena di serial yang ini, lagi-lagi Astrid harus jadi saksi dari penculikan Wakil Presiden Amerika Serikat oleh oknum yang mengaku-ngaku bekerja di industri hiburan dan tertarik buat memakai Astrid sebagai bintang utama film mereka. Little did Astrid know kalau sebenarnya dia cuma jadi kambing hitam (AGAIN) dan dia harus masuk ke modus operandi yang sukar dimengerti anak-anak seusianya (yet AGAIN). How did such a thing happen to little Astrid, anyway?
And that’s where Astrid: Penculikan Tamu Negara started to roll! Untuk sebuah serial anak-anak, serial Astrid yang ini punya alur cerita yang jauuuh lebih kompleks dibandingkan dengan serial Astrid lainnya. Serial ini punya banyak karakter, punya alur yang lebih runut, dan punya closure yang lumayan suspenseful karena melibatkan konflik fiktif antar dua negara. Aku sangat berempati dengan karakter Astrid di serial ini karena.. guys she just wanted to act 😭 dan dongkol di waktu yang bersamaan sama karakter Jean karena she really was a dozen the way she dozen’t contribute to almost EVERYTHING and was just there to ruin things up for EVERYONE. Esensi kayak gini yang bikin aku sadar kalau sejauh ini, aku bisa merasa paling attached sama serial Astrid yang ini and I truly enjoyed the plot throughout!
Hal yang lumayan aku sayangkan dari Astrid: Penculikan Tamu Negara cuma gimana closure nya terkesan buru-buru dan tiba-tiba aku disuapin sama kehadiran banyak karakter yang baru muncul di momen itu aja. Dari awal mereka nggak muncul, tau-tau ada, terus aku nggak dikenalin secara proper dulu sama mereka– so it felt like they were just.. there and quickly forgotten. Aku bahkan lupa siapa-siapa aja yang terlibat di penculikan si Wapres selain Jack Evans sama Carl karena emang sebanyak itu yang baru hadir di separuh akhir cerita. Astrid: Penculikan Tamu Negara had such a messy ending and I didn’t really vibe with it, unfortunately. Berantakan banget ending nya, kayak kisah siapa?
Overall, Astrid: Penculikan Tamu Negara punya plot yang sejauh ini paling bagus dan paling “utuh” dari serial Astrid lain yang pernah aku baca sebelumnya, which is good but can be risky at the same time, karena plot yang penuh juga bisa meninggalkan kesan terakhir yang riuh kalau digarapnya terlalu buru-buru– but anyways, karena aku suka BANGET sama plot nya (it’s camp!!!), aku kasih 4 dari 5 bintang untuk buku ini. Next time, aku request Sweta aja yang diculik sebelum aku bius beneran? NYEBELIN BANGET SOALNYA. 😭
stopped reading it the moment Sweta said, "repot memang jika pemimpinnya seorang wanita."
I mean, c'mon, there's Astrid right there and she said nothing. Tadinya mau mikir, "ah, ini mah mungkin emang karakter Sweta-nya aja yang digambarin punya pemikiran patriarki," but knowing there was another character who just let it slide when Sweta said that (nobody said anything), I lost it
Buku pertama dari Djokolelono yang saya baca. Tahunya, penulis 80-an ini penerjemah serial Little House, eh ternyata nulis cerita anak juga. Baru sampai di halaman 10, saya terkesan. Bahasanya asyik, mengingatkan saya akan bahasa dan kisah Lupus, kakak beradik yang gokil.
Awal yang renyah. Peristiwa di halaman itu yang berkesan adalah percakapan antara Astrid dan Sweta, kakaknya, serta seorang pembantunya. Bahasanya mengalir, renyah, dan dialognya lincah. Baru tahu saya kalau ada serial anak, detektif pula, yang Indonesia banget. Dulu kenalnya cuma Trio Detektif, STOP, petualangan Lima Sekawan, dan Pasukan Mau Tahu. Saya senyam-senyum mendengar dialog antara Astrid dan pembantunya. Ada keluarga yang gokil gitu. Hanya saja, saya agak terganggu dengan banyaknya keluhan 'sialan' di banyak dialog.
Serial ini mengambil lakon Astrid, artis cilik terkenal, yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Dalam berpetualangan, dia bermain bersama Sweta, kakaknya, dan Wiedha, teman Sweta.
Astrid mendapat tawaran main film yang bayaran dolar yang terbilang tinggi. Mulanya Astrid curiga karena banyak kejanggalan di awal kontrak. Astrid pada akhirnya mau menerima atas bujukan sekolah yang telah mendapat bujukan juga dari temannya Jean, yang kebetulan mendengar tawaran itu. Jean anak dari anggota komite dengan saham besar di sekolahnya. Mau mendapatkan untung besar, Jean berkonpirasi dengan perusahaan film yang bagi Astrid mencurigakan sebab asing dan baru.
Ada apa dibalik tawaran film itu, kenapa Astrid yang harus main di film yang mengambil latar TMII, tepatnya di anjungan istana Majapahit? Lalu apa hubungannya dengan judul, Penculikan Tamu Negara? Ya, kebetulan wapres AS sedang berkunjung saat syuting sedang berlangsung. Episode demi episode penculikan hingga akhir menarik diikuti, lebih-lebih bagi anak-anak. Saya membayangkan saya kecil ketika membaca.
Cerita yang menghibur buat saya. Kisah anak dengan petualangan semacam ini bagi saya lebih menarik ketimbang novel dewasa romance. Dalam episode pencarian Waperes, kecerdasan Astrid punya peran hingga ditemukan. Saya jadi ingat Jupiter Jones dalam Trio Detektif. Meski saya bertanya-tanya, apakah anak kecil sudah punya pola pikir semacam ini, ketika saya menjumpai dialog-dialog yang terlalu tinggi jika diucapakan anak SD. Saya penasaran, untuk sekelas anak SD yang "jadi detektif" mungkinkah pola pikir seperti itu lazim?
Ringkasnya, saya suka buku ini. Boleh deh buat koleksi perpustakaan saya agar anak-anak saya juga membaca kisah petualangan yang Indonesia banget.