Negeri Para Peri adalah kumpulan cerpen tergelap yang pernah saya jumpai. Mata dan darah, yang menjadi citra citra dominan, berleburan dengan hitamnya warna dasar cerpen, membangun kontras kontras penuh kekerasan. tebaran ungkapan liris dalam hampir setiap cerpen bukannya mengusik kemutlakan kuasa kegelapan ini, tapi malah menambah sangitnya ironi ironi yang mejadi marka khas cerpen-cerpen Avianti
Avianti Armand adalah seorang penulis, dosen, dan arsitek. Kumpulan puisinya, Perempuan yang Dihapus Namanya (2011), memenangkan Khatulistiwa Literary Award untuk kategori puisi. Buku tersebut merupakan reinterpretasi atas tokoh-tokoh perempuan dalam kitab suci. Avianti telah menulis dua kumpulan cerpen: Negeri Para Peri (2009) dan Kereta Tidur (2011). Cerpennya, "Pada Suatu hari, Ada Ibu dan Radian," terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 2009.
Avianti Armand Negeri Para Peri Andramartin 171 halaman 8.8 (Best Book)
Saya tidak ingat sudah berapa tahun teman saya meminjamkan koleksi langka buku cetak Negeri Para Peri, tapi yang saya ingat adalah saya sudah membiarkan buku ini teronggok dan tergeletak begitu saja tanpa ada hasrat untuk membaca hingga suatu malam ketika saya sedang bosan dan membongkar rak buku saya yang tidak terlalu banyak isinya, dan menemukan buku ini. Sampulnya berwarna putih pucat--jika itu mungkin terjadi--dan halamannya menguning dan tidak terlihat mengintimidasi, tetapi itu hanyalah fasad. Negeri Para Peri adalah buku yang paling gelap yang pernah saya baca.
Saat sedang membaca Negeri Para Peri, album terbaru Jens Lekman, Life Will See You Now, sedang hot-hot-nya dibahas. Album terbaru musisi asal Swedia ini seperti semacam oksimoron: terdengar pahit, tetapi Lekman mengemasnya dengan ceria. Lekman ingin menyeimbangkan tema lagu yang gelap dan menyedihkan dengan nada-nada, alunan biola, dan synthesizer yang ceria. Negeri Para Peri terasa seperti kontradiksi. Saya merasa Armand tidak ingin repot-repot menyeimbangkan debut kumpulan cerpennya dengan menyelipkan cerita-cerita yang manis. Kalaupun ada cerita yang sedikit menghangatkan hati, Armand menutupnya dengan twist yang masam, seperti dalam cerita Mata.
Tema perselingkuhan, teleiophilia, darah, dan seksualitas mewarnai sebagian besar cerita dalam Negeri Para Peri. Seperti dalam cerpen pembuka, Ayah, yang menceritakan seorang gadis yang jatuh cinta pada kekasih ibunya, seorang pria yang seharusnya ia sebut ayah. Ayah juga menjadi penentu tone cerita berikutnya, dan terasa lebih gelap dari sana. Dalam highlight kumpulan cerpen ini, Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian yang terinspirasi dari tulisan pertama Daniel, putra Armand, Armand mengambil langkah yang lebih jauh dalam menceritakan dampak kekerasan dalam rumah tangga dengan cerita yang berdarah dan pembunuhan keji. Grotesque, barangkali kata yang tepat untuk menggambarkan cerita ini. Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian menggambarkan deformitas moral manusia yang diselipkan ke dalam sebuah cerita drama domestik. Kata-kata yang Armand gunakan cenderung sendu, tapi menyayat.
Tapi, Negeri Para Peri tidak hanya mengandalkan kata-kata Armand. Jika saya mencermati sejumlah foto-foto hitam putih dan layout buku yang ada di dalam buku ini, saya berpikir hal tersebut bukan sekadar sebagai nilai estetis, melainkan juga menggambarkan sejumlah agenda tersembunyi yang Armand miliki. Seperti dalam cerita Cahaya, kertas yang digunakan tiba-tiba diblok hitam dan warna huruf yang putih, seperti percikan cahaya yang kita lihat saat melewati terowongan gelap yang panjang. Dalam cerita Negeri Para Peri, cetakan huruf terlihat kabur, menggambarkan abstraksi negeri para peri yang Armand deskripsikan.
Saya belum pernah membaca sesuatu seperti Negeri Para Peri sebelumnya, tetapi karya Armand yang pertama kali saya baca ini benar-benar mindblowing. Cantik, gelap, misterius, dan klandestin. Jika saya diberi kesempatan untuk memohon ampun, saya akan minta ampun karena sudah membiarkan buku ini teronggok.
selesai membaca ini saya langsung kayak penjaga museum yang pelan2 mengambil pecahan beling di lantai gitu. pas baca ini ya, hati saya kayak perlahan2 retak dan pecah berjatuhan gitu. makanya pas selesai saya langsung kayak debu di lantai berserakan gitu. asli dah, ini buku cerita apaan sih :')
***
kalau diminta mengambil garis besarnya buku ini bercerita tentang apa, jujur saya gak bisa ya. soalnya ceritanya macam2. mungkin bertema ''kehidupan". dan ya, sebenarnya kisah2 didalamnya itu sakit dan sedih semua. tapi entah mengapa bahkan di cerita yang sakit sekalipun saya seperti bisa menemukan sebuah kebahagiaan kecil.
duh, nulis review ini doang aja dada saya masih cekit-cekit mengingat kembali ''rasa'' pas bacanya :')
Saya suka tiap bagian cerita anak-ibu, entah mengapa saya merasa bahwa ini seperti cerita mbak avianti sendiri-atau mungkin orang terdekat beliau. karena rasa-rasanya, cerita itu begitu hidup dan mengorek mata dengan baik sampai bikin saya nangis.
saya banyak belajar dari buku ini. banyak banget ''percakapan'' di buku ini yang membuat saya merenung dan membuat saya curhat di buku diary sampai 3 lemba
kutipan kesukaan saya banyak. mbak Avianti ini paling jago ya kalau disuruh buat deskripsi. saya benar2 terbius sampai mengangga pas yang ceritaaaa.... (duh lupa judulnya), pokoknya pas yang di jepang, naik kereta itu. itu saya sampai bengong karena ''merasa'' berada di dalamnya. dan disitu kokoro saya juga tercabik-cabik dengan hebat.
mbak, yang ada dalam benak serta pikiran mbak ketika menulis cerita-cerita ini apa ya? masih ingat tidak(?)
dan mbak, siapa sih ''orang'' yang udah bikin mbak nulis sedemikian sedihnya? siapa orangnya?!
saya gak bisa bayangin....xD
***
P: apa yang terjadi bila dua orang saling mencintai tapi tak sanggup bersama L: seperti yang kita lakukan. berpisah P: apakah itu lebih baik L: tidak. sama menderitanya. tapi kita harus memilih P: aneh, kita saling mencintai tapi tak sanggup hidup bersama. sementara aku bisa hidup begitu lama bertahun-tahun, puluhan tahun dengan orang tidak aku cintai. kami melakukan banyak hal bersama, tinggal serumah, mempunyai anak, membesarkan anak,,,,
mereka termangu. mungkin merenungi keanehan cinta mereka.
P: kamu tidak pernah memintaku menikah denganmu L: aku tak akan sanggup menanggung penolakanmu. menikah berarti menyerahkan jiwa. kalau kamu menolakku, aku akan mati P: kenapa kamu yakin aku akan menolak ajakan menikahmu L: apakah kamu akan menerima ajakan menikahku
Mereka berpandangan lama. asap rokok menari-nari di depan wajah merea yang biru dan hati yang sendu. setelah beberapa lama, ternyata waktu tidak menyediakan jawaban apapun.
P: ini memang mengejutkan. seperti terburu-buru. kamu mencintainya? L: aku menemukan sedikit kamu dalam dirinya P: kamu mencintainya? L: ya.
(masukkan lagu kimi ga iru nara-nya 7!!! disini)
'' ada apa denganmu?'' ''ada apa dengan kita?'' ''aku tidak punya masalah dengan kita'' ''aku punya'' ''kalau begitu mari kita bicara'' ''kita sudah selesai membicarakannya''
dan ya, kamu pasti tau siapa yang ada dalam bayangan saya ketika membaca buku ini. ya, Rangga. Rangga yang lagi di NewYork.
Membaca buku NEGERI PARA PERI Oleh Avianti Armand Andramation Publication 2009 173 halaman
Bagaimana kalau seorang arsitek yang sehari-hari bergulat dengan garis-garis tegas menuliskan perasaannya dalam karya fiksi? Hasilnya buku ini. Negeri Para Peri yang berisi 16 kisah. Cerita-cerita khas masyarakat urban. Kesibukan dan impian. Cinta terlarang dan pengkhianatan. Luka dan pesta. Alkohol dan Jimmy Choo. Juga kisah ibu-anak yang memberi ruang jeda untuk merenung.
Hampir semua konten cerita bertutur soal kekelaman. Berbagai hidup yang gelap ada di sini. Namun disaji secara prosa liris yang indah meski sendu. Bersiaplah untuk tidak merasa bahagia selama dan selesai membaca. Kesedihan yang terus-menerus ternyata memberi tekanan kepada pikiran saat membaca. Tapi saya tidak mengabaikan kalimat. Rahasia ditemukan di awal, di tengah atau di akhir cerita.
Buku yang tanpa editor tanpa penerbit ini memberi kelonggaran sepenuhnya kepada penulis. Ia bisa saja terus menulis sampai energinya habis atau berhenti kapan dia mau, karena dia sendiri yang menentukan. Saya kira penulis melakukan ini karena ia ingin bebas membuka diri dan tak mau peduli apa kata orang. Ada hal-hal tertentu dalam hidup ini yang harus kita lakukan sendiri (hal 114), kata penulis. Metafor-metafor indah namun terkadang sinis. Langit hijau, matahari putih, rumput jingga, limun ungu, pas untuk melukis kekacauan. Rumah pohon itu adalah dunia kecilku (hal 40), menyatakan wilayah pribadi. Penulis juga bibi titi-teliti. Ia hanya menatap, bukan melihat (hal 52). Baunya samar pohon pinus dan rumput basah. Puitis.
Cerpen berjudul Ayah adalah kisah seorang perempuan muda jatuh cinta kepada pacar ibunya. Mereka bertemu kembali setelah dua belas tahun terpisah. Dua orang mencoba mendapat remah-remah cinta yang disisakan orang lain, sama-sama kesepian, mencari tapi tidak tahu apa yang dicari.
Cerpen Kabut ditulis secara menarik. Beberapa bagian merupakan paradoks yang membuat batas-batas tegas di pikiran ketika membaca. Kisah perselingkuhan, cinta yang membelenggu, dan tidak membebaskan. Romantika cengeng para pemuja eros. Sampai-sampai menarik Tuhan terlibat dalam peristiwa mereka, di kalimat: jatah waktu yang boleh kita habiskan berdua. Sedang pada Ambang, dikisahkan sepasang laki-laki dan perempuan yang gagal mencintai di masa lalu karena takut terluka, namun nasib mempertemukan kembali dalam keadaan yang sungguh tak terduga. Si laki-laki menjadi calon menantu si perempuan dan mereka membahas nostalgia masa lalu mereka itu sambil menunggu si gadis memilih baju pengantinnya. What a story!
Di halaman-halaman pertama tertulis bahwa buku ini untuk Daniel. Anak laki-laki penulis. Di cerpen Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian, misalnya, diilhami tulisan pertama Daniel ketika ia belajar menulis. Ada pesan yang jelas di sini. Bahwa anak merekam setiap peristiwa hiruk-pikuk di dalam rumah. Pesan sedih, senang, takut, semua tersimpan baik-baik di kepalanya yang lunak. Maka adalah sebuah keniscayaan bila anak laki-laki tujuh tahun itu mampu membunuh ayahnya sendiri yang ia beri nama jahat.
Saya jadi ingat Dadaisme-nya Dewi Sartika yang memenangi lomba novel DKJ 2003, tentang anak schizofrenia, yang mengkomunikasikan perasaannya lewat gambar-gambar, lalu membunuh dirinya. Belum lama saya nonton serial TV Private Practice, seorang ibu mengeluhkan anak remajanya yang membunuh anjing di rumah dengan wajah datar, namun sayang tak ingat menonton lanjutannya hingga tak tahu masalah diselesaikan.
Masih soal ibu-anak, dalam Pangeran Kecil dengan gaya liris penulis mengisahkan seorang ibu yang sekarat dengan berbagai infusan dan monitor, tergeletak di ranjang rumah sakit, ditemani buah hatinya. Mereka mengobrol soal kepergian tanpa kesan. Tapi sebenarnya si ibu sedang mempersiapkan mental si kecilnya untuk melepasnya pergi kelak. Sedang dalam cerpen Aku Telah Mengenal Dia, memuat pergulatan luka batin seorang perempuan muda ketika di masa kecil ia mendapati ibunya mengambang di kolam renang di rumah mereka dan ia yang menarik tubuh mati itu naik ke atas kolam. Berkali-kali gambar itu muncul di kepalanya, ia menolak berdamai dengan diri sendiri dan berharap luka itu akan pergi begitu saja. Namun, luka itu mencari jalan untuk menjadi, merayap dalam gelap, meruap lewat retak-retak yang semakin banyak (hal 162).
Champagne adalah cerita yang unik. Perempuan bagaikan champagne, kata seorang laki-laki. Laki-laki seperti champagne, kata perempuan. Memabukkan bagi yang lain. Sedangkan Mata mengisahkan seorang perempuan yang merasa telah menemukan belahan jiwanya karena ia merasa laki-laki itu bisa melihat seperti caranya melihat. Tapi ternyata ia salah sangka. Cerpen Suara itu, Sebelum Kamu Mengatakan Tidak, menceritakan ketekunan perempuan yang tak berhenti merebut hati satu laki-laki yang selalu berkata tidak kepadanya. Sampai ia merasa kesabarannya akan berakhir, di situlah ia mendapatkan apa yang diinginkan.
Tak Ada yang Lebih Tepat Berada di Sini Selain Kamu adalah cerita yang absurd. Menyampaikan pesan cinta dan harapan lewat botol ke laut. Seperti love in a bottle. Sebegitu kuatnya perasaan si tokoh, pesan itu tiba ke tujuan, seolah berkata cinta sejati akan mencari nasibnya sendiri meski dunia tidak menerimanya.
Saya suka cerita Perempuan. Saya membaca dua kali untuk menangkap makna. Saya berpikir, kenapa penulis beberapa kali menulis, di mana kita akan menuliskan nama kita? Apa pentingnya nama dan ditulis? Saya menduga bahwa kisah cinta sesama jenis ini berusaha mendapat pengakuan dari orang-orang sekitarnya. Mereka berusaha menuliskan nama mereka di tempat-tempat hingga membuat hubungan mereka terbuka. Di udara. Di debu matahari. Di atas angin. Helai-helai daun. Embun. Pada air. Di tiap ujung mata angin. Tapi tetap tak ada tempat untuk memberitahu dunia bahwa mereka ada. Lalu dalam keputusasaan mereka mengembalikan kepada Sang Pencipta, seolah menunjuk bahwa Dialah penyebab semua ini.
Lalu cerpen Pesta. Coktail dan punggung terbuka. Rokok dan gosip. Mabuk dan musik. Iri dan saling kerling. Laki-laki dan perempuan. Perempuan dan perempuan. Laki-laki dan laki-laki. Semua berusaha menjadi yang paling diinginkan orang lain. Menyesali ketidakmampuan diri menarik perhatian. Mensyukuri kebodohan orang lain. Tapi tidak menertawakan diri sendiri. Dikotomi yang menarik. Tempat mencari kepuasan tapi tidak pernah puas. Pesta adalah keriuhan sesaat yang mengantar seseorang kembali pada sepi yang yang lain dan tak tertahankan.
Cerita Negeri Para Peri, yang juga jadi judul buku dengan kaver putih ini, adalah resepsi pesimis penulis tentang kota dan manusia yang berinteraksi di bawahnya. Sayang, halaman cacat, hampir tak terbaca seperti kehabisan tinta. Di halaman-halaman tertentu ada ilustrasi berwarna hitam putih seolah mewakili si kelam tadi. Tapi, bravo! Saya tak temukan salah-salah ketik di dalamnya.
Yang gelap, kadangkala lebih terang dari arti kata terang itu sendiri. Kira-kira begitu yang saya dapat saat menyimak cerita-cerita dalam Negeri Para Peri karya Avianti Armand ini. Avianti Armand, seperti kata GM dalam endorsement, menyentak kita, lalu menarik kita ke dalam gerak kata dan imaji. Di sinilah, menurut saya, penulis berhasil menerjemahkan yang terbatas menjadi tidak terbatas. Tidak seperti agama dan filsafat. Meski memang menenangkan tetapi terbatas.
Hampir semua cerita dalam buku ini berlatar tentang manusia dan keputusan. Seperti dalam cerita ‘Tak Ada yang Lebih Tepat Berada di Sini Selain Kamu’ yang berhasil membuat saya mengingat. Bahwa memutuskan adalah sebuah pekerjaan yang menuntut kegilaan penuh. Bukan karena saya sering ngawur dalam memutuskan sesuatu, tetapi saat saya yakin dengan apa yang saya putuskan, sebenarnya saya sedang berhenti memperhatikan yang tak terduga, yang lain, yang tak tertangkap. Saat itulah, saya menjadi ‘gila’. Karena melompat ke dalam ketidakpastian. Saya menjadi subyek sekaligus obyek dari keputusan itu. Mustahil bagi saya untuk mengetahui kehendak-Nya. Makanya, dalam momen-momen tertentu, saya selalu menyimpan gentar dan doa dengan pelbagai cara.
Dalam ‘Suara Itu, Sebelum Kamu Mengatakan Tidak’, saya menangkap kemustahilan sebuah rindu. Bahwa yang terbatas selalu menyisakan penasaran yang lebih. Kerinduan selalu bisa ditafsirkan sebagai yang normal dan abnormal. Meski sebenarnya batas keduanya semu. Dalam diri, normalitas selalu membawa luka dan lupa. Jika hari ini kita bisa mendengar suara itu, bukan saja kita telah meletakkan kerinduan. Lebih dari itu, kita juga membuka pintu lebar sebuah ketidakpastian di hari besok. Kita juga tak bisa menduga, ada pengulangan kejadian pada jam ini di sudut kota yang lain. Seperti berjudi. Prosedur yang teratur untuk menentukan pemenang, justru bagian dari ritual untuk terkejut. Sebuah seremonial ketidakpastian. Ya. Mungkin probabilitas bisa diperkirakan secara statistik. Tetapi, para ahli tahu, hasilnya selalu menyisakan deviasi. Termasuk memperkirakan rindu yang datang secara mengejutkan dan menakjubkan.
Dua cerita di atas adalah cerita favorit saya dalam buku yang ditata dengan sangat ‘arsitek’ ini.
Amazing yeah amazing, amaze me. Menakjubkan, mengejutkan, itu yang gw rasakan terhadap kumpulan cerpen ini. Dari awal saat gw melihat buku ini bersanding di rak di TB Gramedia, buku ini telah memikat gw untuk menyentuhnya. Ilustrasi di setiap kisah di buat berbeda untuk mendukung dari kisah masing-masing. Kumpulan cerita dengan beragam perasaan.
Satu kisah yang menyentuh gw "Pangeran Kecil" : "Ya, pangeran kecilku, aku akan ada di sana. Di satu bintang. Menjagamu. Selalu" "Dan saat malam tiba, anakku sayang, lihatlah ke langit. Aku akan tinggal di sana, tertawa untukmu di sana. Lalu, bagimu, semua bintang akan tertawa."
Gw setuju dengan pendapat Pak Goenawan Mohamad tentang buku ini "Jika ada yang merupakan benang merah dalam prosa Indonesia pasca Pramoedya, itu adalah berubahnya peran naratif di dalamnya: kata-kata tak lagi menjadi alat mendukung sebuah ide, melainkan seakan-akan punya kehidupan sendiri. Kumpulan cerita ini merupakan perkembangan yang lebih jauh: narasinya merupakan perjalanan yang tak dikendalikan oleh alur, melainkan impuls yang membuat puisi lahir"
Ya.....dan karena keterbatasan otak gw, I have to read it twice and now I understand the meaning in every word. Kata-kata puitis ini terlalu indah buat gw. Kita *gw maksudnya* tak akan pernah paham maksud dari setiap cerita hingga sampai ke akhir cerita. Lalu, akhir yang bahagia atau sedih kah? Akhir yang PAS, kalau gw bilang. Pas untuk menutup setiap kisahnya, cerita-cerita puitis dari seorang bernama Avianti Armand.
Versi digital dari kumcer ini sudah lama bersarang di laptop, sejak saya mngunduhnya di websitenya penulis. Selalu suka dengan gaya bahasa dan cara bercerita Avianti Armand.
Ada 16 cerpen tentang kehidupan masyarakat urban. Menariknya karena isinya terkadang miris, tidak jarang terasa nge-jleb. Yang pasti perlu waktu sejenak untuk mencerna setiap ceritanya sebelum berpindah ke cerita berikutnya.
Sebenarnya saya berniat memberi bintang 3,5, tapi karena tidak ada jadi saya bulatkan ke atas (Untuk membulatkan ke bawah, saya tidak tega) dengan pertimbangan sulitnya mencari buku ini, sampul buku yang sederhana tapi menarik, dan untuk beberapa cerpen yang memberi kesan dalam.
Kumpulan cerpen ini dibuka dengan cerita berjudul Ayah. Judul telah bercerita tentang banyak hal (mungkin keseluruhan cerita ini), jadi saya tidak terlalu terkejut dengan isi bahkan twisted ending yang dikasih penulis tidak mengejutkan. Pengalaman serupa saya rasakan ketika membaca cerita Perempuan. Cerita ini malah lebih memualkan karena terlalu gombal dan mendayu-dayu.
Ada beberapa cerpen yang menjadi jagoan saya, salah satunya Ambang. Tema cerita tidak istimewa tapi Avianti menyajikannya dengan sangat bagus #tarik napas dulu#, bikin sesak kalo mau sedikit berlebihan (hahaha).
Aku mencintaimu. Dan itu ternyata menyakitkan. Kamu tidak tahu betapa setiap kali kamu berpaling, aku sangat menderita. Aku seperti orang yang sedang menoreh nadi dan meneteskan darah perlahan-lahan. Semakin lama aku jadi semakin lemah hingga darah habis terkuras. Karena itu aku pergi. Aku harus menjauh darimu. (hal. 44)
P : Apa yang terjadi bila dua orang saling mencintai tapi tak sanggup bersama L : Seperti yang kita lakukan berpisah P : Apakah itu lebih baik L : Tidak. Sama menderitanya. Tapi kita harus memilih P : Aneh. Kita saling mencintai, tapi tak sanggup hidup bersama. Sementara, aku bisa hidup begitu lama- bertahun-tahuan, puluhan tahun - dengan orang yang tidak aku cintai. (hal. 45).
Cerpen Pada Suatu Hari Ada Ibu dan Radian, saya sudah mengenalnya lebih dulu sebelum membaca kumpulan cerpen ini. Dan saya mengamini bila cerpen ini mejadi cerpen terbaik pilihan Kompas. Detailnya sangat kelam dan menyentuh. Saya bisa merasa kengerian yang muncul saat membaca, Mungkin ia cuma ingin tahu, apa jadinya jika dicekik kuat-kuat (hal. 18). Kengerian yang sama, saya rasakan di cerpen Aku Telah Mengenal Dia. Emosi tumpah ruah di dua cerpen ini.
Hampir seluruhnya cerpen dalam kumcer ini gelap, wajar bila saya mesti beberapa kali berhenti (mengambil jeda)sebelum baca cerpen yang lain. Setiap cerpen memberi pengalaman yang berbeda. Tapi saya membenci cerpen cahaya (lebih dari cerpen-cerpen yang lain). Mengerikan dan menjijikkan. Tapi ada cerpen Kabut yang menyedot saya dengan narasinya yang terkesan lambat tapi memikat. Lalu cerpen yang menjadi tajuk kumpulan cerpen ini, Negeri Para Peri, masih menjadi pekerjaan rumah yang tak mudah untuk kuselesaikan.
Membaca cerpen Tak Ada yang Lebih Tepat Berada di Sini Selain Kamu, saya teringat Massage in the bottle. Tema yang biasa, tapi Avianti tidak membiarkan saya merasa santai dengan tidak meninggalkan kesan apa-apa. Saya dipaksa merenung. Apa yang kamu perbuat ketika kamu merasa telah mempunyai segalanya dalam hidup tapi ternyata kamu salah? Ada yang kosong. Mimpi yang tidak kamu kenal menguntitmu bertahun-tahun. "Aku tidak mengenalnya, meski dia telah ada sejak aku ada. Memanggil-manggil dari ruang-ruang yang intim. Dia menunggu di satu tempat, satu waktu, entah di mana, hadil dalam imaji-imaji dan mimpi kanak-kanak yang tak pernah mati. (hal 88)
Masih ada beberapa cerpen yang juga menghadirkan pengalaman suram dan kelam yang berbeda-beda. Ada Champagne, Mata, 69, 90, dan 77 di antaranya, Pangeran Kecil, Pesta, Suara itu, Sebelum Kamu Mengatakan Tidak dan Pelajaran Terbang. Getir.
Well, baiklah. Memang tidak adil rasanya membulatkan ke bawah menjadi tiga bintang, karena kumpulan cerpen ini berhasil membuat saya tidak tenang sehabis membacanya. Meski saya sebenarnya tidak terlalu nyaman dengan gaya bercerita yang puitis seperti ini.
avianti seolah mencalit lukisan pada satah kanvas. Abstrak. terlalu. dan kita yang menikmati lukisannya hanya mampu berilusi dalam dalam dunia anggapan sendiri.
The best thing I can say it: It's crazy! It knocked me off, kicked me out of my personal comfort zone which I assumed is vague at it's best. Apparently not.
Reading it, from page one, made me shivers. Uncomfortable. The similar feeling I got when reading Edgar Allan Poe's.
***
Sejak membaca kisah pertama rasa tidak nyaman selalu membayangi, menunggu dengan sabar saat untuk menerkamku. Menertawaiku. Sama seperti ketika membaca kisah-kisah karya Edgar Allan Poe. Membuatmu sadar ada banyak hal di dunia yang bisa membuatmu takut, merinding, sedih, kecewa, sakit, hampa, dan banyak rasa lain.
Sudah banyak pujian untuk Avianti, dan aku tidak bermaksud memuji karena aku orang yang dia buat tidak nyaman. Bukan nyaman seperti kisah yang harus berakhir bahagia ya, hey Cinderella's Syndrome yang aku derita tidak seakut itu. Rasa tidak nyaman itu membuatku awas, dan untuk itu aku berterima kasih.
Sekian lama nyari buku ini, ternyata di blog pengarangnya ada pdfnya dibagikan gratis. Seneng banget. Gak nyesel baca kumpulan cerpen ini. Saya suka gaya bahasanya. Saya suka tema cerita yang diangkat. Saya suka kreatifitasnya di beberapa cerita, misalkan dengan membuat halaman yang terlihat seperti bekas gambar anak kecil, latar hitam warna huruf putih, dsb.
saya tidak tahu kalau 'kegelapan' bisa ditulis dengan sedemikian 'indah'nya... membacanya seperti ditancap pisau di pergelangan tangan, namun karena begitu kuat kata2nya, saya merelakan pisau itu terseret ke sekujur tubuh saya yg lain. seandainya tema2nya tidak penuh dengan kekerasan, sudah saya beri bintang 5. badan saya remuk2 setelah membacanya. betul2 membekas...
Okeey. Jadi beginilah buku ini berakhir. Setelah dipusingkan oleh segala macan persoalan, perasaan, eksploitasi seluas-luas mengenai perempuan, cinta, luka, air mata. Penulis menggiring pembaca ke satu perasaan : keinginan untuk terbang.
Dan saya memiliki satu alasan untuk belajar terbang. Yuuk, mencari gedung tinggi ~
Saya suka konsep, layout dan kovernya! Isinya pun menakjubkan :) banyak cerpen kelas berat yang dituliskan dengan indah, dan saat membacanya selalu terpikir.. wah, sangat sastra.
I don't know, I just get that vibe from her words.
Berisi kumpulan cerita kelam yang mindblowing. Sebagian besar memiliki tema tentang darah, pembunuhan, ataupun perselingkuhan. Beberapa cerita cukup mudah untuk dimengerti, tapi ada juga yang sulit untuk mengetahui apa maksud dari isi cerita tersebut.
Sejauh ini salah satu cerita yang saya suka adalah 'Mata'. Karena memiliki tema yang berbeda dari cerita lainnya, unik, atau sekedar sebagai penyegaran sejenak untuk meneruskan kisah-kisah kelam selanjutnya.
.... Ketepatan itu mengerikan. Betapa waktu telah menjadi sebuah energi potensial luar biasa yang mengatur hidup manusia-manusia dalam kecepatan yang tertata dan terukur. Juga menghentakan mereka dari satu tempat ke tempat lain. Detik demi detik. Terus menerus. Jadi satu aliran yang tak terputus. .... (dikutip dari cerpen Mata)
Betapa jeli dan benarnya, Avianti Armand menangkap realita dalam kehidupan urban yang amat jelas sekaligus tidak disadari oleh kebanyakan dari kita.
Sebuah prosa dalam puisi, sebuah puisi dalam prosa. Goenawan Mohamad menulis dalam endorsement-nya, "..narasinya merupakan perjalanan yang tak dikendalikan alur, melainkan oleh impuls yang membuat puisi lahir". Dalam banyak cerpen-cerpen dalam buku ini, alur cerita dapat sangat absurd sehingga sangat memungkinkan interpretasi yang bercabang. Tapi itulah keajaiban cerpen-cerpen dalam buku ini, apapun interpretasi kita terhadap cerita dan tidak terlalu penting apakah kita mengerti seluruh alur cerita atau tidak, keindahan dari seluruh kata-kata dan cerita tetap sangat terasa. Seperti puisi. Amazing..
Seperti dalam cerita 'Tak Ada yang Lebih Tepat Berada di Sini Selain Kamu', alur cerita melompat-lompat dari tempat yang satu ke tempat yang lain, dari satu tokoh ke tokoh yang lain tanpa kronologis waktu yang jelas. Tetapi tanpa harus mengerti alur cerita, gua masih bisa merasakan keindahan dalam cerita itu. Avianti seakan ingin mengatakan bahwa cinta itu merupakan suatu kekuatan di luar manusia yang akan mencari jalannya sendiri untuk bersatu.
Design buku ini juga amat unik, cerpen 'Cahaya' ditulis dengan latar belakang hitam dan huruf berwarna putih untuk menambah kekelaman emosi tokoh cerita itu. Cerpen 'Negeri Para Peri' ditulis dengan kabur seakan ingin bicara bahwa kadang hidup itu memang sulit dimengerti atau memang tidak dapat dimengerti.
Mungkin gua kan membaca lagi buku ini sekali lagi suatu hari nanti, dan pada saat gua memahami seluruh maksud si pengarang (maafkan kebodohan gua dalam hal ini), gua akan menambahkan satu bintang lagi.
Gua ragu akan ada lagi karya yang seperti ini lagi, bahkan untuk seorang Avianti Armand sekali pun.
Buku ini bagus. Sayang, saya malah nggak baca bagian cerita yang judulnya Negeri Para Peri, karena bagian itu, di buku saya cetakannya tak terbaca. Hurufnya bergaris-garis, seperti diprint dengan tinta yang hampir habis. Itu cuma masalah teknis, sih. Dibandingkan dengan isi ceritanya, kekecewaan karena halaman yang rusak itu cukup tergantikan.
Isinya cukup menggelitik nalar. Cerita diawali dengan cerpen berjudul Ayah. Lau berlanjut ke berbagai cerita lain, yang rata-rata berkisah tentang hubungan-hubungan yang absurd dan tak biasa. Pola-pola yang digunakan di cerpen-cerpen sebelumnya membuat saya terus menduga-duga apa yang akan muncul di setiap bagian dari cerita yang sedang dituturkan dengan gaya sureal ini.
Saya cukup suka dengan cerita yang berjudul Cahaya. Di bagian cerita ini, kertas berwarna hitam dan tulisannya putih. Membuat konsep klimaks yang dirancang buku ini bisa sampai ke pembacanya. Didukung juga dengan ilustrasi yang mengiringinya, jepretan foto hitam-putih atau skesta-skestanya.
Covernya menarik karena tidak main banyak warna. Jadi stand out di antara buku-buku lain yang ramai warna.
Soal pemilihan diksinya, ada beberapa metafor yang sudah agak usang dan sering didengar dari cerita-cerita di buku lainnya. Namun buku ini berhasil mengusung gaya naratif yang gemuk dan lipatan, ada makna di balik setiap pemilihan kata yang diambil. Sempalan-sempalan katanya dipilih untuk mengantarkan imaji pembacanya pada ruang-ruang yang kadang sulit dijelajahi dalam realitas. Kadang batas nyata dan tidak dibuat kabur, tapi ini yang membuat saya terus bertahan membaca kisah-kisah cerpennya sampai habis.
Buku ini saya dapatkan. Free karena pengarangnya membagikan pdf gratis di blognya.
Tampilan fisik Kesan misterius didapatkan dengan memandang tampilan fisik novel ini. Minimalis gambar di sampul novel.sampul buku yang sederhana tapi menarik. Avanti juga kreatif seperti membuat halaman yang terlihat seperti bekas gambar anak kecil, latar hitam warna huruf putih
Isi buku dan ide cerita penulis berhasil menerjemahkan yang terbatas menjadi tidak terbatas. Tidak seperti agama dan filsafat. Meski memang menenangkan tetapi terbatas.Hampir semua cerita dalam buku ini berlatar tentang manusia dan keputusan. Berbagai hidup yang gelap ada di sini. Namun disaji secara prosa liris yang indah meski sendu. Bersiaplah untuk tidak merasa bahagia selama dan selesai membaca. Kesedihan yang terus-menerus ternyata memberi tekanan kepada pikiran saat membaca. Tapi saya tidak mengabaikan kalimat. Rahasia ditemukan di awal, di tengah atau di akhir cerita. Beberapa ceritanya kuat namun lebih banyak yang membingungka
Adanya sesuatu yang bisa diambil Dari novel ini Betapa jeli dan benarnya, Avianti Armand menangkap realita dalam kehidupan urban yang amat jelas sekaligus tidak disadari oleh kebanyakan dari kita.
Kenyamanan kumpulan cerpen ini berhasil membuat saya tidak tenang sehabis membacanya. Meski saya sebenarnya tidak terlalu nyaman dengan gaya bercerita yang puitis seperti ini
Reading level dewasa
Rating 4 bintang
Tampilan fisik + Kenyamanan - Isi buku + Ada pesan/isi cerita + Gaya bahasa +
Negeri Para Peri merupakan buku yang sangat menarik, meminjam komentar dari Goenawan Mohammad, bahwa narasinya merupakan perjalanan yang tidak dikendalikan oleh alur, melainkan oleh impuls yang membuat puisi lahir.
Avanti Armand, agaknya menganut gaya tulisan yang surealis, membuat pembaca perlu mengulang-ulang beberapa bagian cerita. Buku ini dibuka oleh cerpen Ayah yang bisa dipahami siapa tokoh kamu yang dicintai oleh tokoh aku, setelah pembaca selesai membacanya.
Salah satu cerpen yang menarik adalah Mata, saat sang tokoh aku menemukan seorang laki-laki yang bisa melihat, bukan hanya menatap, namun ternyata laki-laki itu benar-benar tidak bisa melihat.
Permainan kata dari Avianti membentuk kalimat yang tidak hanya luas dari segi maknanya, namun juga dalam, seperti dalam cerpen Aku Telah Mengenal Dia. Benci, cinta dan trauma mengisi cerpen ini hingga pembaca dapat terlarut dalam perasaan yang dialami tokoh aku.
Beberapa cerpen cukup mendebarkan, semisal Cahaya. Seni dibalut kekerasan dan darah tercetak dalam cerpen ini. Endingnya pun terasa mengagetkan.
Agaknya Manneke Budiman benar, kumpulan cerpen ini merupakan kumpulan cerpen tergelap dengan tebaran ungkapan liris yang menjadi ciri khas sang penulis.
For those who do suffer from unquenchable thirst for dark stories, I dare you. I double dare you to read this.
...Through which I came to know that darkness deserves more solidified depiction than mere 'being absence of light'. For it creeps, it clutches, it entwines you within it.
It lives. It actually lives. Within the very part of you that you used to perceive as sanctuary: the very back of your head.
And you'll start to reconsider whether is it really light that possesses natural inclination to expose one's true self, or does light actually hide it. For it's only by the feeling of either security (from being sighted) or consternation, one would be tempted to disclose his/her most violent proclivity.
And those feelings could only be effectively induced by vibes of darkness.
"Kita tidak akan pernah merasa kehilangan. Tapi aku sudah kehilanganmu sejak pertama kali mengenalmu."
Ini adalah kumpulan cerpen keempat yang saya baca di 2014. Kumpulan cerpen ini dibuka dengan cerita berjudul "Ayah" yang sesuai dengan dugaan saya bahwa judul dan ceritanya memang berhubungan (ada kalanya judul dan cerita seolah tak saling terkait). Kemudian disusul cerita-cerita lain dengan tema yang beragam. Tidak semua cerita yang ada bisa saya nikmati. Ada beberapa yang membuat dahi saya berkerut, mata saya berputar, dan bahu yang bergidik ngeri campur jijik. Tapi, ada beberapa cerita yang membuat saya larut di dalamnya, cerita dengan tipikal yang saya sukai; bittersweet.
"Kamu menggelayut pada lengannya seperti gadis kecil. Kalian berdiri bersisian dalam gelap dan terang yang bergantian mengisi ruang."
The stories are patronising and somewhat dreamy. The good thing about them is they lead you to the dark side. But the way it's told are more like chaotic ramble that has no sense of order, that feels like abstract painting which you don't know whether it is a good painting.
The ramblings feel too vague that I couldn't picture the story very well—they are blurry, like bad photographs.
There are a lot of surprise tactics and twists. But not only that, there are also many other tricks applied to make the stories work. But somehow I feel like just reading the tricks, not the stories.
I would say the book is pleasant enough, like gentle wind. But just like wind, it's fleeting, unseen and empty. You'd forget it as soon as it passed.
saya lupa dimana saya menemukan buku ini. tapi hal itu tidak menjadi masalah ketika saya mulai membacanya.
gelap. satu kesan yang paling kuat ketika buku ini selesai saya baca. dan saya tidak menyangka itu kegelapan itu lahir dari buku yang memiliki cover dan judul buku semanis ini. kegelapan itu dihadirkan dengan bahasa seringan novel teenlit. membuat saya tidak menyadari telah sampai pada halaman terakhir buku karena pikiran saya terlalu asik merangkai imajinasi dari cerita-cerita yang ada di buku ini.
saya tidak tahu persis bagaimana mendeskripsikannya. cerita-cerita yang ada di dalam buku ini tidak hanya mengalir menghanyutkan. mereka hidup. mereka seperti membangun plot sendiri. seperti bukan cerita yang terlahir dari akal pikiran manusia.
Gelap banget kisah-kisahnya. Paling suka Pada Suatu Hari Ada Ibu dan Radian sama Cahaya. Nggak semua gampang dicerna, tapi total satu tema: gelap. Gelap yg nyata hingga luberan dari mimpi. Diksi-diksinya agak ngingetin gw sama Rahasia Selma: Kumpulan Cerita-nya Linda Christianty, sama-sama bikin gw agak garuk-garuk kepala heheheh
Btw, terima kasih buat Mba Avianti Armand yg sudah berbaik hati 'membagikan' eBook ini secara gratis di laman blognya :)
Gaya bahasanya menarik, mengoyak kaidah bahasa yang ada. Cerita-ceritanya surreal dan gelap, selalu bertemakan manusia dan keputusasaan. Keputusasaan, mungkin itu kekuatan utama Avianti Armand dalam menuliskan kisahnya. Sebuah awal yang buruk untuk memulai minggu dengan membaca buku ini. Beberapa ceritanya kuat namun lebih banyak yang membingungkan, mungkin karena saya membacanya sambil lewat sehingga seringkali hanya menorehkan rasa pusing di kepala.