Jump to ratings and reviews
Rate this book

The Four Fingered Pianist

Rate this book

277 pages, Hardcover

First published February 1, 2008

2 people are currently reading
24 people want to read

About the author

Kurnia Effendi

44 books12 followers
Kurnia Effendi, lahir di Tegal, 20 Oktober 1960. Ia menulis cerpen dan puisi untuk publik pertama kali tahun 1978, melalui majalah Gadis, Aktuil dan surat kabar Sinar Harapan, ketika masih sekolah di STM Pembangunan Semarang. Sepanjang tahun 80-an aktif mengikuti pelbagai sayembara fiksi dan puisi. Sejak itu berbagai penghargaan telah diraihnya. Ia merupakan penulis nasional yang sangat produktif. Karyanya, cerpen maupun novelet yang tak terbilang jumlahnya telah dipublikasikan oleh berbagai penerbit nasional.

Bersama Donatus A. Nugroho (penulis asal Solo), Dharmawati Tst. (penulis asal Jakarta), Aan Almaidah Anwar (penulis asal Bogor), Ryana Mustamin dan Rahmat Taufik RT. (penulis asal Watampone), ia salah satu cerpenis paling gemilang di eranya karena kerap memenangi LCCR (Lomba Cipta Cerpen Remaja) Anita Cemerlang, yang kala itu menjadi barometer kehandalan seorang pengarang remaja.

Kegiatan menulis dimulai di Semarang, dengan tema-tema remaja. Berlanjut di Bandung, dan akhirnya merasa matang di Jakarta, dengan memasuki wilayah sastra yang ‘serius’. Lulusan Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, tahun 1991 ini ketika masih kuliah aktif di Grup Apresiasi Sastra ITB (GAS-ITB). Tahun 1986, ia menjadi Presiden GAS, setelah Nirwan Dewanto (1984) dan M. Fadjroel Rahman (1985). Semasa mahasiswa tergabung dalam Grup Apresiasi Sastra ITB itu dan bergaul dengan Forum Sastra Bandung. Selama itu, karya-karyanya dipublikasikan berbagai media massa baik lokal maupun nasional. Di Jakarta bergabung dengan Komunitas Sastra Indonesia sejak tahun 1996 hingga sekarang.

Puisinya bisa ditemukan dalam berbagai antologi, yakni Pesta Sastra Indonesia (Kelompok Sepuluh, Bandung, Juli 1985), Sajak Delapan Kota (Kompak, Pontianak, 1986), Malam 1000 Bulan (Forum Sastra Bandung, 1990 dan 1992), Potret Pariwisata dalam Puisi (Pustaka Komindo, 1991), Perjalanan (Sanggar Minum Kopi Denpasar, 1992), Gender (Sanggar Minum Kopi Denpasar, 1994), Bonzai’s Morning (Denpasar, 1996), Dari Negeri Poci III (Yayasan Tiara Jakarta, 1996), Trotoar (Roda-roda Budaya Tangerang, 1996), Mimbar Penyair Abad 21 (Dewan Kesenian Jakarta, 1996), Antologi Puisi Indonesia (Komunitas Sastra Indonesia, 1997), Jakarta dalam Puisi Indonesia Mutakhir (Dinas Kebudayaan Provinsi DKI, 2000), Gelak Esai & Ombak Sajak Anno 2001 (Penerbit Kompas, Juni 2001), Puisi Tak Pernah Pergi (Penerbit Kompas, Juli 2003), Bisikan Kata, Teriakan Kota (DKJ dan Bentang, Desember 2003), Mahaduka Aceh (Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, 2005), Antologi puisi tunggal bertajuk “Kartunama Putih” (Penerbit Biduk, Bandung, 1997).

Buku antologi cerpen, novel, dan kumpulan esai yang telah terbit, yakni Senapan Cinta (Penerbit KataKita, Jakarta, April 2004), Bercinta di Bawah Bulan (Penerbit Metafor Publishing, Mei 2004), Aura Negeri Cinta (Lingkar Pena Publishing House, Juli 2005), Kincir Api (Gramedia Pustaka Utama, Agustus 2005), Selembut Lumut Gunung (Cipta Sekawan Media, Januari 2006), Burung Kolibri Merah Dadu (C Publishing, Februari 2007), Interlude-Jeda (Lembaga Pemerhati Kebijakan Publik, September 2007).
Sedangkan cerpen-cerpen yang lain berserak dalam pelbagai antologi bersama, antara lain 20 Tahun Cinta (Senayan Abadi Publishing, Juli 2003), Wajah di Balik Jendala (Lazuardi Publishing, 2003), Kota yang Bernama dan Tak Bernama (DKJ dan Bentang, Desember 2003), Addicted 2U (Lingkar Pena Publishing House, 2005), Jl. Asmaradana (Penerbit Buku Kompas, 2005), Ripin (Penerbit Buku Kompas, 2007).

Pada November 1996, ia diundang oleh Dewan Kesenian Jakarta sebagai penyair untuk acara “Mimbar Penyair Abad 21”. Pada Juli 2003, diundang Teater Utan Kayu untuk membaca cerpen dalam “Panggung Prosa Indonesia Mutakhir”. Pada akhir tahun 2003, kembali diundang DKJ untuk membaca cerpen dalam “Temu Sastra Kota”. Sehari-hari ia bekerja pada perusahaan otomotif Suzuki Mobil.
(http://takashinreisa.blogspot.com/201...)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
12 (24%)
4 stars
15 (30%)
3 stars
19 (38%)
2 stars
4 (8%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 12 of 12 reviews
Profile Image for Helvry Sinaga.
103 reviews31 followers
October 7, 2011
Saya mengira buku ini adalah buku tentang musik karena melihat judulnya The Four Fingered Pianist. Saya juga mengira di dalamnya akan dibahas tentang karya-karya para pemusik yang dimainkan oleh pianis. Ternyata dugaan saya tidak sepenuhnya benar. Buku ini lebih menceritakan bagaimana keras dan sulitnya hidup. Kenyataan hidup seringkali begitu kejam tanpa pernah berkompromi.

Hee Ah Lee dan ibunya, Woo Kap Sun adalah tokoh sentral buku ini. Hee Ah Lee yang terkenal dengan pianis 4 jari (The Four Fingered Pianist) terlahir di dunia pada 9 Juli 1985 di Pusan, Korea Selatan. He Ah Lee adalah putri yang dinanti-nantikan oleh Woo Kap Sun dan Wun Bong Lee dalam 7 tahun perkawinan mereka. Profesi Woo Kap Sun sebagai perawat itulah yang mempertemukan dirinya dengan Wun Bong Lee, dimana saat pecang perang Korea, Wun Bong Lee yang bekerja sebagai tentara, terluka dan dirawat oleh Woo Kap Sun. Bahtera perkawinan mereka benar-benar diuji. Sebagai seorang suami, Wun Bong Lee tidak dapat bekerja selayaknya kepala rumah tangga. Akibat sakitnya, Bong Lee mengalami kelumpuhan yang menyebabkan ia hanya berbaring di tempat tidur. Woo Kap Sun terus bekerja sebagai perawat. Seperti umumnya perawat, ada jadwal bertugas pagi-siang-malam. Seringkali Kap Sun mengalami pusing jika bertugas malam, karena itu ia meminum obat pereda rasa sakit kepala. Ia tidak menyadari bahwa telah ada janin di rahimnya, dan ia masih mengonsumsi obat sakit kepala. Dokter dan keluarga besar telah menyarankan agar menggugurkan janin itu, sebab telah terdeteksi bahwa Kap Sun akan melahirkan bayi yang cacat. Namun ia tetap mempertahankan bayinya.


Bayi berwajah bulan tersebut diberi nama Hee Ah Lee. Hee berarti sukacita atau kegembiraan, dan Ah adalah tunas pohon yang terus tumbuh. Lee adalah nama keluarga. Harapannya, sukacita akan terus bertumbuh seperti tunas pohon. Itulah keyakinan sang Ibu, meski mendapat tekanan dari pihak keluarga agar Hee Ah Lee dirawat di negara lain yang lebih canggih peralatannya, Woo Kap Sun tetap berkeyakinan ia akan mampu membesarkan Hee Ah Lee.

Hee Ah Lee terlahir dengan kondisi fisik yang tidak sempurna. Tangan dan kakinya mengalami pertumbuhan yang tidak normal. Bentuk tangan dan kakinya seperti capit kepiting. Jadi, jumlah jarinya hanya berjumlah delapan. Kelainan bentuk tangan dan kaki itu disebut lobster claw syndrome. (LCS) LCS atau Split hand/foot malformation (SHFM)adalah sebuah keanehan dimana jari tengah tidak mampu berkembang dengan baik. Kejadian seperti ini sangat jarang, terjadi 6 kasus dalam 10.000 kelahiran. Pada dasarnya, penyebabnya adalah kelainan gen, dimana dalam kromosom yang berisikan gen DLX5 dan DLX6 tidak mampu mengontrol pertumbuhan bagian tubuh tertentu. Kasus yang terkenal penyandang LCS adalah Stile Family. Beberapa generasi keluarga ini menyandang LCS, namun kisah sedih mewarnai keluarga ini. Grady Stiles menembak calon menantunya, dan Grady sendiri dibunuh oleh anak tirinya karena melakukan kekerasan di keluarganya.

Bagi orang penyandang LCS hidup dengan kekurangan fisik tersebut tidaklah mudah. Tantangan terbesar justru datang dari orang-orang terdekat. Bree Walker, seorang penyiar, berhasil menyembunyikan tangannya dari kamera selama 20 tahun ketika bertugas siaran di Southern California Cast. Ketika kecil saudaranya mengejeknya dengan mengatakan pada Walker bahwa satu-satunya pekerjaanya adalah di karnaval menjadi tontonan aneh.

Kata kunci kesungguhan Hee Ah Lee dalam menaklukkan keunikannya adalah kasih dan ketekunan. Kasih yang luar biasa besar memancar tak henti dari ibunya, sementara dengan ketekunan berlatih piano ia bisa memainkan karya-karya sulit seperti Fantasie Impromptu karya Frederic Chopin. Awalnya. bermain piano adalah terapi bagi Hee Ah Lee. Bermain piano dimaksudkan untuk melatih otot-otot motorik Lee, kemudian ibunya memutuskan untuk memberi latihan serius pada Ah Lee.

Bukan hal yang gampang bagi ibunya untuk mengenalkan piano kepada Ah Lee. Ibunya pernah merasa bersalah karena terlalu memaksakan putrinya belajar piano, sementara Ah Lee tidak menikmati jam-jam latihan tersebut. Selama empat tahun setelah terakhir naik pentas, praktis piano di rumah mereka tak pernah lagi terdengar dentingannya. Sampai suatu ketika kedatangan seorang wartawan ke kediaman mereka untuk meliput Ah Lee. Oleh sebuah siraman cahaya untuk menaikkan kualitas foto, dari sanalah kembali semangat berlatih Ah Lee kembali muncul.

"Dari situlah, saya benar-benar tahu bahwa Hee Ah lebih suka naik pentas ketimbang latihan" kata sang ibu.

Pengakuan dan penghargaan. Barangkali itu semacam minuman segar di kala dahaga, atau curahan hujan di kala kering kerontang. Tidak terhitung berapa volume air mata yang telah tertumpah, berapa kali Woo Kap Sun memarahi putrinya, tak terhitung berapa banyak Woo Kap Sun memeluk putrinya memberi semangat, tidak terkatakan lagi berapa banyak doa dipanjatkan. Tetapi satu titik dimana semua kesukaran hidup seolah menjadi sirna melihat ada keindahan di balik semuanya itu. Satu hal yang membuat Woo Kap Sun berbahagia adalah melihat semua kerja keras dan usahanya membuahkan sesuatu bertumbuh seperti tunas pohon dengan gembira.

Kembali pada pertanyaan mendasar, mengapa musik terutama lewat alat musik piano bisa sebagai alat terapi? Dari sebuah artikel, dapat diketahui hal-hal sebagai berikut:

1. Timbre (warna suara), rhythm (irama) dan berbagai variasi harmonis yang banyak dengan jangkauan nada piano adalah elemen untuk menghasilkan respons terhadap terapi mulai dari bayi prematur hingga orang dewasa.
2. Hasil penelitian sebuah studi menunjukkan bahwa bayi prematur yang berat badannya masih kurang setelah didengarkan Brahm's Lullaby dan the Moonlight Sonata berdampak pada meningkatnya nafsu makan dan tidur mereka yang akhirnya menambah berat badan mereka.
3. Penelitian Robin (1997) menunjukkan bahwa sebuah aransemen piano yang baik dapat menciptakan lingkungan musik yang kondusif bagi anak, sehingga tercipta kreativitas dan kapasitas intelektual.
4. Pekerjaan menghafal partitur dan belajar bagian-bagian musik bertujuan agar menikmati bagaimana indahnya sebuah musik.
5. Terlibat langsung dalam musik agar dapat menikmati musik dengan bermakna.
6. Para penyandang Alzheimer memberikan resposn pada lagu yang terdiri dari iringan
musik (piano) dan pola tertentu pada aktivitas bernyanyi alih-alih lagu yang monoton.

Inilah keajaiban musik. Musik dengan segala keindahannya telah tersedia. Mulai dari sebagai terapi, membangkitkan semangat, menyampaikan pesan, ucapan syukur, doa, musik menjadi penghubung antara manusia dengan keindahan. Kita kagum pada aransemen musik-musik indah, pada pemain musik hebat, pada kerja keras Hee Ah Lee serta Woo Kap Sun, namun terlebih pada Sang Keindahan itu sendiri.

@hws05102011

Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,441 reviews73 followers
July 3, 2023
Dari dulu aku penasaran dengan kisah pianis berjari empat ini dan akhirnya aku bisa membaca kisahnya, alhamdulillah.

Hee Ah lahir pada tanggal 9 Juli 1985 dengan operasi Caesar karena air ketubannya pecah terlalu dini. Ibunya, Woo Kap Sun adalah seorang perawat yang jatuh cinta pada seorang tentara yang banyak berjasa kepada negara. Tentara ini kemudian terluka pada urat saraf tulang belakangnya sehingga lumpuh. Ibu Hee Ah yang merawat tentara itu. Mereka jatuh cinta dan dengan mengesampingkan berbagai kesulitan yang jelas membayang di depan mata, keduanya tetap menikah.

Karena Wun Bong Lee, nama lelaki itu, dinilai banyak memberikan jasa pada negara, pemerintah menyewakan tempat untuk mengadakan pernikahan. Kurang lebih 700 orang hadir untuk menyaksikan pernikahan itu. Para wartawan datang untuk menulis kisah-kisah mereka yang kemudian dimuat di koran-koran Korea Selatan.

Selama hamil Hee Ah, ibunya sering sakit kepala dan mual karena sering kebagian shift kerja dari malam sampai pagi. Agar pekerjaannya tidak terganggu, ibunya selalu minum obat dan ternyata itulah penyebab Hee Ah lahir dengan kondisi fisik tak sempurna. Ibunya tak tahu bahwa ia sedang mengandung sehingga ia terus saja minum obat. Sebenarnya para dokter sudah menyarankan agar Hee Ah digugurkan saja karena sudah jelas ia akan terlahir cacat. Saat itu usia kehamilannya sudah enam bulan. Tapi ibunya tak mau. Hee Ah hanya memiliki empat jari, masing-masing dua jari di kedua tangannya. Kondisi ini disebut dengan ectrodactyly atau lobster claw syndrome. Kedua kakinya juga hanya sebatas lutut. Nama Hee Ah berarti kegembiraan yang terus tumbuh seperti tunas pohon.

Di usia empat tahun, Hee Ah baru bisa memegang benda-benda tertentu dengan satu tangan. Tulang-tulang jemarinya begitu lemah. Karena itulah saat Hee Ah berusia tujuh tahun, Woo Kap Sun mencoba melakukan terapi sendiri dengan piano kecil di rumah. Tujuannya adalah untuk memperkuat tangan dan jemari Hee Ah.

Ibunya lalu memesan pedal khusus dari Jepang agar Hee Ah bisa bermain dengan lebih baik. Awal belajar piano, Hee Ah kesulitan karena dia tidak menguasai hitung-hitungan. Karena jarinya cuma empat, agaknya ia kesulitan menghitung angka lebih dari empat. Namun, pada perkembangannya, meski tetap kesulitan menghitung, Hee Ah mampu menghapal banyak notasi lagu.

Akhirnya Woo Kap Sun membuat Hee Ah belajar piano dengan lebih serius. Hee Ah belajar piano setiap hari selama sepuluh jam. Lagu pertama yang dipelajari dan bisa dimainkan oleh Hee Ah adalah lagu anak Korea berjudul Nabiya Nabiya, yang berarti kupu-kupu. Butuh tiga tahun belajar bagi Hee Ah untuk bisa memainkan lagu itu dengan lancar. Prestasi pertama yang diraih Hee Ah adalah menjadi Juara Pertama dalam Kontes Musik Pelajar Nasional Tahun 1992.

Sejak itu Hee Ah berkali-kali memenangkan kontes. Presiden Korea, Kim Dae Jong, bahkan memberinya penghargaan atas keberhasilannya mengatasi kesulitan fisik.

Ibunya lalu diuji lagi dengan kematian suaminya pada 12 Juni 2000. Sebelum meninggal, suaminya menulis surat sepanjang 100 halaman pada kertas A4. Dalam surat itu ia menuliskan riwayat hidupnya dan meninggalkan banyak pesan untuk putrinya. Tadinya ayahnya ingin memberikan Hee Ah untuk diadopsi oleh sebuah keluarga di Kanada. Itu karena keluarga itu lebih memiliki akses pada fasilitas untuk merawat anak cacat. Dia juga sempat malu pada kondisi putrinya sehingga melarang Hee Ah keluar rumah. Keluarganya tidak respek pada kondisi badan Hee Ah. Dia khawatir Hee Ah akan diejek oleh orang lain.

Ketika Hee Ah kesal karena terus dipaksa ibunya untuk main piano, ayahnya lah yang jadi tempat pelariannya. Perlahan ayahnya tak lagi malu pada kondisi Hee Ah setelah melihat kegigihan putrinya.

Namun, Hee Ah ternyata pernah mengalami masa-masa gelap yang membuatnya nyaris berhenti main piano selamanya. Hal itu terjadi pada saat ia berusia tiga belas tahun, di tahun 1988. Saat itu Hee Ah sering konser bersama musisi dan penyanyi lain sehingga ia harus menyesuaikan diri dengan mereka. Lama-lama ia protes karena tak bisa melakukan penampilan sekehendak hatinya.

Ibu Hee Ah pernah menghentikan jadwal konser Hee Ah karena putrinya mengeluh kondisinya sedang buruk. Tangannya juga sakit karena terus dipaksa latihan keras. Bukannya beristirahat, Hee Ah malah bermain ponsel, mengirim pesan untuk cowoknya, juga bermain game dan internet. Dia juga tidak latihan lagu untuk konser melainkan memainkan lagu-lagu cinta. Ibunya jadi sering mengomelinya.

Lalu suatu ketika teman sekelasnya, entah sengaja atau tidak, melemparkan tong sampah ke arah Hee Ah. Akibatnya pembuluh darah di kepala Hee Ah ada yang pecah hingga mengeluarkan darah. Setelah peristiwa traumatis itu, Hee Ah tak mau lagi bermain piano. Setiap melihat piano ia tak bisa bernapas dan kepalanya langsung sakit. Setiap guru lesnya datang, Hee Ah menjerit-jerit dan tak mau berlatih. Ibunya akhirnya pasrah. Hee Ah tak main piano selama hampir setahun.

Namun, datanglah seorang wartawan untuk mewawancarai Hee Ah. Sang wartawan merasa kehilangan dengan vakumnya penampilan Hee Ah. "Tidak Ada Lagu Seindah Ini Lagi", demikian headline berita yang ditulis wartawan. Berita itu memancing wartawan televisi yang kemudian ikut meliput situasi Hee Ah. Saat diwawancara, Hee Ah jadi teringat sensasi yang dirasakannya ketika tampil: bahagia. Hee Ah pun ingin kembali main piano. Rupanya Hee Ah lebih suka tampil daripada latihan. Tapi mana bisa langsung tampil tanpa latihan, kan? Maka Hee Ah pun memulai lagi rutinitasnya.

Buku ini sangat inspiratif. Betapa seseorang yang penuh kekurangan bisa menonjolkan potensi kelebihannya secara maksimal jika didukung oleh lingkungan yang tepat. Adegan yang paling berkesan bagiku adalah ketika Hee Ah diwawancarai pihak penguji saat mau masuk universitas. Hee Ah disuruh menjawab soal hitungan sederhana dan dia tak mampu menjawab dengan benar. Tapi dia sanggup memukai para penguji dengan permainan pianonya. Hee Ah pun akhirnya lulus ujian dan bisa kuliah.
Profile Image for ijul (yuliyono).
815 reviews971 followers
January 11, 2025
5 bintang untuk semua buku nonfiksi

buku pembuka tahun 2025 yang memberi tambahan semangat untuk terus beraktivitas, berkreasi, dan menjalani hidup dengan penuh kesyukuran.
Profile Image for Endah.
285 reviews157 followers
July 27, 2009
Untuk kedua kalinya Hee Ah Lee datang ke Indonesia. Yang pertama, tahun lalu, demi kepentingan konser tunggalnya di Jakarta, sedangkan yang berikutnya adalah untuk promosi buku memoar–ah..lebih tepat sebetulnya sketsa kehidupan–nya yang ditulis oleh cerpenis kita, Kurnia Effendi.

Kehidupan Hee Ah Lee memang sangat menarik untuk ditulis dan kemudian dibaca oleh banyak orang. Bagaimana tidak? Gadis kelahiran 22 tahun silam ini laksana sebuah keajaiban yang diturunkan Tuhan ke dunia. Gadis mungil yang terlahir cacat ini sukses menjadi seorang pianis handal hanya dengan menggunakan 4 biji jemarinya.

Ya, Hee Ah Lee dilahirkan dalam kondisi fisik yang tak sempurna : jari-jari tangannya masing-masing hanya ada dua serupa capit pada hewan kepiting. Oleh karena itu, kelainan yang disandangnya ini populer dengan istilah lobster claw syndrome (sindrom capit lobster (ectrodactyly), yakni kelainan bentuk yang langka dari tangan atau kaki, saat bagian tengahnya tidak ada, dan terdapat celah di tempat metakarpal jari seharusnya berada. Belahan ini menyebabkan tangan/kaki memiliki penampilan seperti capit pada kepiting/lobster/udang galah (hlm 23)

Kondisi seperti ini diwarisi sejak lahir, pada taraf tertentu dapat disembuhkan melalui metode bedah. Pernah tercatat bedah sukses yang dilakukan oleh Dr. Joseph Upton terhadap pasien Samantha dan Stephanie Wojciechowics. Bedah mikro itu dilakukan ketika kedua bersaudara ini berumur 2 tahun. Upton berhasil membuat sebuah ibu jari mungil untuk tangan mereka, diambil dari ibu jari kaki. Kasus Hee Ah Lee termasuk langka: 1 berbanding 10.000 kelahiran.

Hee Ah sangat beruntung sebab memiliki Woo Kap Sun sebagai ibu. Woo adalah ibu yang tabah dan kuat. Dahulu, ia bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit. Di rumah sakit ini ia berjumpa dan jatuh cinta pada seorang pria yang menjadi pasiennya. Pria itu, Wun Bong Lee, kelak menjadi ayah Hee Ah Lee.

Setelah lama menanti, akhirnya pada tahun kedelapan pernikahan mereka, Woo Kap Sun hamil. Selama menjalani kehamilannya ini, Woo banyak mengonsumsi obat-obatan untuk sakit kepala yang sering menyerang dan membuatnya tidak tahan. Barangkali hal ini turut juga menjadi penyebab kecacatan yang diderita Hee Ah lee.

Selanjutnya, buku ini menuturkan perjalanan karier Hee Ah Lee sebagai pianis berjari empat yang penuh suka dan duka. Dengan ketabahan yang mengagumkan, Hee Ah Lee beserta ibunya sanggup mengalahkan segala kekurangan fisik yang pada banyak orang mungkin adalah hambatan. Mereka berdua saling bahu membahu dalam cinta mewujudkan kehidupan yang lebih baik, terutama bagi Hee Ah Lee. Hanya berkat ketabahan, kemauan, dan latihan yang keras serta disiplin semua itu bisa dicapai. Harus diakui apa yang sudah dialami dan diperjuangkan oleh Hee Ah adalah sebuah kisah yang inspiratif dan hendaknya bisa memotivasi banyak orang di dunia, terutama kita yang dikarunia fisik dan mental normal.

Kisah yang dikemas dalam buku berukuran mungil ini disampaikan dengan bahasa yang ringan–sangat ringan malah sehingga rasanya kita seperti tengah membaca cerita anak-anak–ini cukup menarik diikuti dan bermanfaat, terutama bagi para ibu yang memiliki anak-anak dengan kelainan khusus. Menurut penulisnya, Kurnia Effendi, ia memang sengaja memakai gaya penulisan demikian agar buku tersebut bisa dinikmati segala lapisan usia, dari anak-anak hingga orang tua.

Namun, entah karena bahannya terbatas atau alasan lain, di beberapa bagian terdapat pengulangan-pengulangan. Keterbatasan bahan itu lebih kentara lagi dengan tampilnya halaman-halaman yang berisi kutipan dari bab yang bersangkutan. Siasat yang terbukti jitu–saya pernah menemukannya juga di buku Paranoid (Patrick Suskind) terbitan Dastan (2007)–untuk mendongkrak jumlah halaman buku selain pemuatan foto-foto dan ilustrasi. Mungkin lantaran itu, Kurnia Effendi lebih suka menyebut karyanya ini sebagai sebuah sketsa ketimbang memoar atau apalagi biografi.

Akan tetapi, terlepas dari itu, kisah yang termuat di dalamnya sungguh amat mengharukan dan menginspirasi; mengetuk kesadaran kita untuk tidak lupa bersyukur atas semua kesempurnaan yang telah diberikan Tuhan. Hee Ah Lee yang selalu tersenyum dalam menjalani hidupnya, seharusnya membuat kita merasa malu untuk bermalas-malasan atau mengeluhkan hal-hal sepele. Sebab, seperti kata Mary Dunbar yang tulisannya dipetik dalam buku ini, bahwa setiap manusia diberi anugerah dalam cara yang unik dan penting. Menemukan cahaya istimewa kita masing-masing adalah hak eksklusif dan petualangan yang harus kita jalani.

Untuk setiap pembelian buku ini, ada bonus sekeping VCD berisi film seputar keseharian Hee Ah Lee berdurasi 12 menit.***
Profile Image for Dona.
20 reviews2 followers
September 15, 2010
Aku juga kurang tahu pasti berapa jari minimal yang dibutuhkan pada saat bermain piano, tapi aku rasa, 4 jari belum cukup. Namun bagi Hee Ah Lee, seorang gadis asal Korea Selatan yang terlahir sebagai penderita down syndrome, memiliki kaki sebatas lutut dan hanya memiliki 4 jari, itu sudah cukup.

Ibunyalah, Woo Kap Sun, yang pertama kali memperkenalkannya piano sebagai terapi, dengan tujuan awal hanya agar otot-otot jari Hee Ah bisa kuat. Ternyata terapi itu mengubah hidupnya di kemudian hari. Ibunya mulai mengajarinya memainkan lagu-lagu sederhana. Tidak mudah memang, dengan keterbatasannya, Hee Ah butuh waktu beberapa tahun bahkan untuk mempelajari lagu sederhana. Karena semakin hari, permainan Hee Ah semakin bagus, ibunya pun mencarikannya seorang pelatih piano. Namun Hee Ah kembali mengalami kesulitan pada saat membaca partitur, belum lagi keempat jarinya yang kelelahan ketika berlatih. *Aku saja sampai sekarang ga bisa baca not balok :|

Dengan sabar ibunya selalu menyemangati Hee Ah. Beliau sadar, semua itu tidak mudah bagi Hee Ah. Namun ketika Hee Ah mulai malas-malasan, ibunya juga tidak lantas memanjakan anak gadisnya itu, tapi menegurnya dengan tegas. Beliau tidak ingin Hee Ah terlalu bergantung padanya..*yah begitulah ibu-ibu kalau sudah marah,,xixixi. Ada juga saat-saat dimana Hee Ah jenuh latihan, walaupun sudah diingatkan, Hee Ah tetap tidak mau latihan, hingga akhirnya ibunya menyerah. Dia tidak mau terlalu memaksakan kehendaknya pada Hee Ah.
Ternyata setelah setahun vakum, para penggemarnya mulai merindukan Hee Ah, dan dia pun kembali ceria, kembali berlatih dengan semangat. Nada-nada yang sulit dia pelajari dengan sungguh-sungguh hingga berjam-jam. Berada di panggung yang penuh cahaya dan bertemu dengan para fansnya merupakan hal yang paling disenanginya. Dengan senyumannya yang tulus, dia semakin digemari dan semakin banyak konser yang harus diikutinya.

Hal mengharukan, ketika membayangkan Hee Ah menulis dan membacakan ibunya puisi buatannya sendiri. Aku yang bukan ibunya saja terharu dan senang, apalagi ibunya yang saat itu ada disana. Alangkah bangganya beliau karena tetap mempertahankan Hee Ah waktu kecil, walaupun keluarganya menyarankan agar dia dititipkan di panti asuhan saja.

Semuanya terbayar sudah. Hee Ahh semakin hari semakin mandiri. Walaupun tidak begitu mahir dalam berhitung, dia bisa masuk universitas, dan tetap bermain musik. Melalui Hee Ah, kita melihat keterbatasan bukan jalan buntu tapi bisa jadi sebuah keajaiban. Merasa tidak sempurna itu manusiawi, berdoalah, karena kita diciptakan seperti sekarang karena suatu alasan. Tetaplah semangat!! ^_^
Profile Image for Bahtiarbaihaqi.
4 reviews5 followers
Read
December 1, 2008
Ini cerita tentang gadis yang terlahir hanya dengan empat jari dan kaki sebatas lutut bernama Hee Ah Lee dari Korea Selatan, tetapi dia kemudian malah mahir memainkan piano dari karya Mozart hingga Chopin. Kesuksesan Hee Ah ini berkat kasih sayang ibunya yang luar biasa sehingga sang anak yang juga memiliki keterbatasan mental ini mampu berprestasi melampaui orang normal.
Dari paparan sketsa-sketsa cerita tentang kehidupan Hee Ah yang dituliskan dengan bagus oleh Kurnia Effendi ini, cukuplah bagi kita untuk senantiasa ikhlas alias tetap mampu bersyukur dan bersabar. Ya, bersyukur dan bersabarlah meski setiap diri kita memiliki keterbatasan. Sebab, ada kalanya lantaran kita terbatas, dunia bahkan jadi lebih pas untuk kita nikmati. Semisal kita punya badan kecil, jangan keburu disesali. Kan justru irit kain kalau mau bikin baju. Atau kita jadi lebih leluasa dan mudah menerobos kerumunan orang jika kita harus buru-buru sampai di tujuan. Atau jika kita punya keterbatasan yang sifatnya universal: sama dimiliki oleh manusia mana pun. Misalnya, sebagai manusia, penglihatan kita tidak mampu berperan seperti mikroskop, pendengaran pun tak sepeka radar pendeteksi suara. Namun, bukankah dengan demikian kita jadi tak ngeri jika harus menggeletak di mana saja lantaran sekian bakteri atau makhluk renik lain lolos dari jangkauan mata kita? Begitu pula kuping kita jadi nyaman lantaran tak jadi bising oleh segenap suara apa saja dari yang paling keras sampai yang paling lirih dari degup organ-organ tubuh kita?
Buat kita yang kadang masih abai atas hal ini, jadikan narasi kehidupan anak-anak seperti Hee Ah ini sebagai peringatan, pengingat, pelecut, cambuk atau bisa pula sebagai tamparan atas diri kita. Diri yang mudah mengaduh saat kulit sekadar tergores atau buru-buru mengeluh kala problem bikin nalar keruh, padahal peluh upaya belum lagi luruh dari pori-pori tubuh. Tak ada lagi alasan untuk sebuah kemalasan, ketidakberdayaan yang ujung-ujungnya menimpakan keterbatasan dan keadaan yang buruk sebagai biang keladi. Tak ada alasan lagi bagi kita untuk merasa sebagai orang yang termalang di dunia.


Profile Image for Chi.
73 reviews3 followers
March 17, 2013
KIsah yang mengharukan tentang perjuangan melawan keterbatasan. Dimana peran seorang ibu sangatlah nyata dan besar, memompa semangat Ah Lee untuk terus memainkan denting piano. Melodi sempurna yang mengalun dari sebuah ketidak sempurnaan. Nyaris dipisahkan dari sang ibu, untuk dibawa ke Kanada, namun jalan hidup menakdirkan Ah Lee tumbuh dan besar di Korea Selatan, melewati suka, duka dan cinta. Buku ini membuat kita bercermin, apa yang mampu kita lakukan dengan fisik yang lengkap? Sementara Ah Lee, gadis dengan empat jari (sindrom kepiting) mampu menghipnotis dunia dengan kepolosannya, apa adanya ia.

3dari 5 bintang untuk kisah yang menginspirasi ini :)
Profile Image for Nike Andaru.
1,643 reviews111 followers
February 12, 2011
Oh, satu lagi buku yang saya beli dengan harga hanya 15rb saja :D

Kisah Hee Ah Lee membawa kita untuk selalu bersyukur dengan semua yang telah diberikan Tuhan pada kita. Dengan 4 jari saja Hee Ah mampu menjadi pianis ternama dan tak luput dari peran besar sang Ibu.
38 reviews4 followers
December 22, 2008
Betapa kita yang "sempurna" terlalu sering melihat kekurangan diri dan kurang bersyukur (banyak mengeluh). Buku ini membuatku jadi lebih banyak bersyukur.
Profile Image for Irawan Senda.
Author 2 books15 followers
November 7, 2010
Buku ini memiliki keindahan bahasa yang luar biasa, setiap halaman kaya perenungan dan makna. Saya suka buku ini....
Displaying 1 - 12 of 12 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.