Novel ini adalah novel Nh. Dini yang pertama kali aku baca. Walaupun tebal, 500 halaman, tapi tetap enak dibaca. Memang, ada beberapa bagian rasanya membosankan karena terlalu banyak narasi, tetapi semakin lama makin enak dibaca. Alur novel ini maju, tetapi flashback (?), yang dimulai dari kehidupan Mur di masa kecil dan mengarah ke alur maju ke masa sekarang. Di bagian awal novel sangat menarik dan menggugah minat pembaca, tetapi di bagian tengah rasanya cukup membosankan karena seperti membaca diary seseorang yang terkadang permasalahanya ‘itu-itu’ saja. Ketika sudah 250-an halaman, rasanya ingin menamatkan cepat-cepat. Anehnya, ketika sudah mencapai di halaman akhir, rasanya, “Loh, sudah selesai? Jangan selesai dulu dong!”
Novel ini berlatarbelakang kehidupan 1980an, tetapi apa yang ada di novel ini masih sangat relate dengan kehidupan sekarang. Misalnya, di novel ini rupanya agak menyorot kehidupan ‘perempuan’ yang di bawah tingkat daripada laki-laki. Misalnya perempuan yang sudah menikah harus menghargai suami, mencari nafkah, melayani suami, memasak, dan urusan dapur. Sedangkan sang suami hanya bekerja sama. Nah, kasus ini masih sangat relate di kehidupan sekarang. Jadi, walaupun mengisahkan latar 1980-an, tapi tidak kuno. Gaya bercerita Nh. Dini juga enak dibaca dan novel ini seperti membaca diary teman yang mengisahkan masa hidupnya.
Novel ini mengisahkan kehidupan Mur dari masa anak-anak hingga masa dewasa (berumur kira-kira 40-50an). Mur adalah anak dari seorang tentara. Suatu ketika, Mur menikah dengan X yang ternyata adalah bekas PK1. Masalah utama yang disorot adalah kehidupan Mur selepas suaminya ditangkap akibat terlibat PK1.
Secara garis besar, novel ini mengisahkan kehidupan Mur dalam menghadapi berbagai masalah yang menimpa dirinya:
1. Dimulai dari rumah tangganya yang 'gonjang ganjing' akibat dia dijodohkan oleh orangtuanya. Sedangkan dia di awal sudah berperasaan 'tidak cocok', tetapi tetap dipaksakan. Kelak, suami Mur ternyata memiliki kepribadian yang sangat berbeda ketika mereka berpacaran: sangat mendikte Mur. Terlebih, ternyata mantan suami Mur adalah seorang PK1.
”Belum menjadi istrinya saja dia sudah mau mendiktekan keinginannya. Nanti bagaimana nasibku kalau sudah kawin?”
”Apakah kamu mencintainya? Cukup besar cinta itu sehingga kepribadianmu rela lebur menjadi kepribadian suamimu?”
”Hidup sehari-hari dengan orang yang sama, kalau tidak didasari pengertian dan cinta kasih, tidak akan mungkin nyaman bagi kedua pihak."
2. Kesulitan Mur saat suaminya ditangkap sebagai PK1. Dari kesulitan ekonomi, penangkapan mantan suami yang membawa pengaruh bagi namanya, karirnya, dan apapun seakan dipersulit.
"Bagiku sendiri, suamiku telah berkhianat kepadaku, anak-anakku, bahkan orangtuaku yang dulu menerima lamarannya. Masalah kelakuannya yang bagaimana terhadap negara, itu soal lain lagi. Pokoknya, sementara itu, korban terdekat dan langsung adalah keluarganya."
3. Kesulitan Mur terkait ekonomi: ketika harga semakin naik, tetapi gaji suaminya tidak naik pula. Juga kesulitan Mur saat menghidupi anak-anaknya sembari ia bekerja selepas suaminya ditahan bertahun-tahun. Sedangkan Mur tidak bekerja (menjadi guru) karena harus mengurus anak-anaknya.
"Kesimpulan dari itu semua, meskipun aku tidak menyesali perkawinanku, yang paling menekan dalam hidupku berumah tangga ialah kenyataan bahwa aku tidak mempunyai penghasilan sendiri."
4. Kisah Mur dan sahabat-sahabatnya sampai salah satu sahabatnya meninggal dunia. Dari kisah ini ternyata menjadi titik mengapa novel ini dinamakan Jalan Bandungan. Yaitu rumah Mur yang diberikan oleh Ganik di Jalan Bandungan.
5. Kesulitan Mur menghadapi suaminya (yang mantan PK1) yang banyak berbeda prinsip dengannya. Suaminya sangat otoriter dan sangat tertutup. Saya yang membacanya berasa tidak tahan juga.
6. Highlight jika novel ini menyorot perbedaan kehidupan lelaki dan perempuan.
"Ah, alasannya ada saja kalau memang mau menunjukkan kekuasaan. Ini memang negara lelaki. ... Pendek kata, segala alasan dianggap baik kalau memang lelaki tidak percaya bahwa kita kaum perempuan juga bisa berpikir mana yang baik mana yang tidak, mana yang selamat mana yang membahayakan. Kita dikira seperti anak-anak saja, masih terus harus dikekep, dikerudungi. Ini tidak boleh, itu dilarang."
"Tapi dalam sikap di rumah dan perbuatan di tempat tidur, istri-istri itu menjadi budak. Hanya kesenangan dan kepuasan lelaki atau suami yang dipentingkan. Jarang suami-suami yang menaruh perhatian apakah istri atau pasangan mereka benar-benar bahagia dalam cumbuan asmara."
7. Mengisahkan kisah saat Mur menjalin pernikahan dengan adik bekas suaminya. Dan akhirnya berpisah karena perbedaan prinsip.
"Kami berpisah, namun kami tidak bercerai. Terlalu banyak kejadian dan pengalaman yang telah kami jalani bersama-sama. Masa kebersamaan yang padat itu tidak akan mudah menguap begitu saja dari kenangan."
Kelebihan novel ini adalah mengisahkan dengan detail dampak kehidupan seorang yang 'diduga PK1' terhadap istri, keluarga, dan anak-anak. Membaca kisah Mur seperti melihat ketabahan dan kegigihannya. Ia yang mampu bangkit hingga dapat bersekolah di luar negeri adalah suatu hal yang hebat. Ia mampu bangkit dari keterpurukan. Namun, novel ini sangat tebal dan seperti membaca diary teman: terkadang persoalan yang dijelaskan kurang 'greget', agak datar, dan agak membosankan.
Kutipan favorit:
"Bagaimanapun juga, rasa hormat harus dimulai dari diri kami lebih dahulu jika kami ingin disegani orang."
"Puas-puaskan kesenanganmu bergaul dan berkumpul dengan kawan-kawanmu. Kelak kalau sudah kawin, akan kaulihat sendiri semua berubah."
"Bapak kami dulu seringkali bilang, rasa humor dapat menolong manusia melewati saat-saat pedih dan kehidupan yang sukar. Humor itu seimbang dengan keimanan layaknya, begitu kata Bapak."
"Liburan yang paling murah adalah pulang."
"Bisa saja, kan? Tidak perlu punya pacar untuk hidup bahagia seperti aku. Seperti kau juga. Apakah kau punya pacar?"
"Karena kecerdasan dan kesarjanaan sebagai bukti keintelekan menjadi hampa jika tidak dikuatkan oleh amal keimanan dan kemanusiaan."
"Semua orang berubah. Aku tahu, karena itu memang perkembangan jiwa yang dipengaruhi pengalaman serta lingkungan."