Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kemarau

Rate this book
Kemarau panjang melanda sebuah kampung. Tanah jadi retak dan sawah pun jadi kering kerontang. Orang kampung pun mulai resah dan gelisah.

Sebetulnya ada sebuah danau dekat kampung itu. Akan tetapi, orang kampung ternyata lebih suka pergi ke dukun. "Dan setelah tak juga keramat dukun itu memberi hasil, barulah mereka ingat pada Tuhan. Mereka pergilah setiap malam ke mesjid mengadakan ratib, mengadakan sembahyang kaul meminta hujan. Tapi hujan tak kunjung turun juga."

Hanya Sutan Duano yang berbuat lain. "Pada ketika bendar-bendar tak mengalirkan air lagi, sawah-sawah sudah mulai kering dan matahari masih terus bersinar dengan maraknya tanpa gangguan awan sebondong pun, diambilnya sekerat bambu. Lalu disandangnya di kedua ujung bambu. Dan dua belek minyak tanah digantungkannya di kedua ujung bambu itu. Diambilnya air ke danau dan ditumpahkannya ke sawahnya." Akan tetapi, apakah orang kampung mengikuti perbuatan Sutan Duano itu? Jawabannya Anda temukan dalam novel Kemarau karangan A.A. Navis - pengarang cerpen yang kesohor Robohnya Surau Kami - ini.

118 pages, Paperback

First published January 1, 1957

37 people are currently reading
422 people want to read

About the author

A.A. Navis

31 books96 followers
Ali Akbar Navis was a journalist and potential writer. He was a full time writer for Sripo and writes so many stories.

His famous books was “Robohnya Surau Kami” which became a monumental work for Indonesian literature. His last work is "Simarandang" a social-culture journal which been published on April 2003.

A.A. Navis passed away at age 79.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
98 (36%)
4 stars
119 (44%)
3 stars
39 (14%)
2 stars
8 (2%)
1 star
5 (1%)
Displaying 1 - 30 of 55 reviews
Profile Image for Wirotomo Nofamilyname.
380 reviews52 followers
February 15, 2015
Buku ke-13 yang dibaca pada tahun 2015.

Saat membaca buku ini saya merasa pernah membaca sebagian cerita ini, tapi dengan beberapa perbedaan, terutama di akhir cerita. Setelah saya cek ternyata novel ini adalah pengembangan dari cerpen "Datangnya dan Perginya" (DdP) di kumcer "Robohnya Surau Kami" (RSK). Mengingat RSK terbit pertama kali tahun 1955, dan novel ini terbit setahun kemudian, bisa jadi AA Navis memutuskan bahwa cerpen DdP dapat dikembangkan menjadi sebuah novel.

Novel Kemarau seperti biasa menyampaikan pandangan Navis sebagaimana jelas terlihat pada cerpen RSK bahwa hidup bukan hanya duduk diam dan hanya berdoa pada Allah tapi juga berikhtiar/bekerja di jalan Allah. Manusia tidak wajib berhasil (itu putusan Allah) tapi wajib berusaha (karena hal inilah yang mendapat pahala dari Allah).

Pada novel ini terlihat usaha Sutan Duano berusaha mengatasi kemarau yang terjadi di kampungnya yang mengancam panen padinya. Dengan berjuang mengambil air dari danau untuk menyiram sawahnya. Sedangkan warga lainnya "hanya" mengadakan doa bersama memohon kepada Tuhan agar turun hujan.
Dalam nasihatnya Sutan Duano bilang: "... Tuhan telah memberikan kemarau yang panjang. Tapi Tuhan juga telah memberikan kita air sedanau penuh. Maka kita tak boleh menyia-nyiakan pemberian Tuhan..."

Saya memberi bintang 5 karena AA Navis menceritakan konflik yang terjadi antara Sutan Duano dan warga kampung, tidak ada hitam putih, tapi hanya perbedaan cara pandang. Walau tentu saja selalu ada kepentingan masing-masing yang bicara. Terus terang saat saya pertama membaca, saya berpikir paling-paling ini novel yang penuh petuah standar. Tapi saya harus mengakui bahwa AA Navis piawai sekali merancang konflik dalam cerita dan menyampaikan pesan yang ingin dia sampaikan.

Satu-satunya hal yang saya tidak suka di Novel ini adalah bagian Penutup nya yang hanya 1 halaman itu. Kalau hanya untuk sekadar bikin happy ending dan penjelasan akhir cerita menurut saya itu sangat tidak perlu dan malah mengganggu akhir cerita yang sudah klimaks itu saat Sutan Duano dan mantan istrinya, Iyah, telah "sepakat untuk tidak sepakat" tapi keduanya dengan alasan yang masuk akal.
Namun mungkin atas permintaan penerbit, bagian penutup ini mungkin disediakan untuk para pembaca pesimis yang butuh penjelasan yang detil untuk akhir cerita yang happy ending. :-)

Tapi tentu saja novel ini tetap saya beri bintang 5 untuk cerita yang memukau, muatan lokalnya, dan pesan yang disampaikannya.

Gituuu.... :-)
Profile Image for Evan Dewangga.
303 reviews37 followers
September 21, 2019
Luar biasa, sejak awal saya sudah kepincut dengan premis ceritanya, mengenai revolusi mental di desa yang sangat sulit, tau sendiri budaya kita sukanya nyinyirin orang. Dengan gaya bahasa yang khas Minang, cerita sederhana penuh fitnah ini benar-benar menggambarkan tipikal masyarakat kita yang masih kolot dan malas dalam berpikir. "Sutan Duano" yang ditemukan di hidup masyarakat Indonesia sebenarnya mungkin lebih naas dibanding dalam novel ini.

Buku ini merupakan cerminan betapa busuknya cara masyarakat kita menghadapi masalah, seakan dengan berdoa saja selesai masalah. Kepolosan Acin (generasi penerus) apabila dididik dalam mindset "desa" seperti ini, hanya akan jadi generasi muda yang sama terbelakangnya, tak ada progress dalam pemikiran bermasyarakat. Tamparan keras untuk pendidik dan warga Indonesia pada umumnya. Ahh ditambah plot twist dari novel ini, wow, dahsyat sekali. Top lah A.A. Navis!!
Profile Image for Dhilaah.
69 reviews9 followers
March 18, 2021
Sutan Duano, seorang perantau yg lama tinggal sendiri di surau kampung terus menerus mengangkut air danau u/ mengairi sawahnya yg kering karena dilanda kemarau panjang. Tidak ingin para petani lain berputus asa & malas2an di waktu kemarau, Sutan Duano berusaha mengajak orng2 untuk mengikuti caranya. Tp, bukannya diikuti, Sutan Duano dianggap aneh dan jdi bahan obrolan masy.

A.A Navis menyentil sikap masyarakat yg keliru dimana hanya mementingkan ibadah ritual tanpa dibarengi ikhtiar sungguh2. Sangat menikmati ceritanya karena konflik khas orng Indonesia. Tp sayang akhir cerita spt dipaksakan happy ending.
Profile Image for Ipeh Alena.
543 reviews21 followers
November 2, 2018
Membaca novel ini, membuat saya belajar tentang banyak hal. Dari Sutan Dungano, saya belajar dari kehidupannya, tentang bagaimana bentuk dari hijrah itu. Sosok yang berusaha memperbaiki hidupnya dan meninggalkan kehidupan lamanya yang penuh keburukan. Dari Sutan Dungano, saya belajar tentang apa itu ikhtiar. Bagaimana menjadi orang yang selalu berpikir dan menjadikan Siangnya bermanfaat dalam urusan dunia dan akhirat. Dari Sutan Dungano, saya belajar tentang prinsip hidup dan bagaimana mempertahankannya. Sesulit apapun mempertahankan prinsip, tapi jika itu tetap dipegang teguh, tentunya akan mendatangkan kebaikan. Apalagi jika prinsip itu sejalan dengan kebaikan. Dari Sutan Dungano, saya belajar bagaimana mempercayai bahwa segala sesuatu yang buruk ataupun baik, semuanya adalah kehendakNya.

Dan, semua ini dibahas melalui kisah dari cerita yang diangkat dari sebuah daerah di Makassar. Daerah yang masyarakatnya tengah digembleng oleh Sutan Dungano dengan cara-cara yang demikian berani. Dari novel ini pula, pembelajaran kehidupan tampak menyenangkan dan jauh dari kesan menggurui.
Profile Image for Agoes.
511 reviews36 followers
May 25, 2019
Ternyata novel ini terhubung dengan cerita pendek "Datangnya dan Perginya", karya penulis yang sama. Lumayan terkejut juga saat membaca perubahan suasana dan tema di bab tersebut.
Profile Image for Mardyana Ulva.
75 reviews3 followers
May 30, 2021
AA Navis ini memang paling ngeselin kalau menyindir orang-orang dalam cerita karangannya. Di novel "Kemarau" ini misalnya, dia menyindir mereka yang selamatan tapi malah orang-orang kenyang yang diundang datang, bukan kaum papa yang lebih butuh disantuni. Begitu juga soal kebiasaan mereka bergunjing, yang menurutnya adalah 'takdir'. Katanya, mulut manusia bukan semata untuk makan saja, juga untuk bicara. Untuk makan kita ada hingganya, yakni sampai kenyang. Tapi untuk bicara manusia tak akan ada puasnya.

Kemalasan buat berusaha juga disindir banget di sini. Ceritanya, saat kemarau melanda, warga desa nggak mau mengangkuti air danau yang melimpah ruah untuk mengairi sawah mereka. Mereka malah pergi ke dukun, mengadakan ratib, dan sembahyang minta hujan.

Makanya suatu waktu Sutan Duano ngomong gini ke Acin si bocah:

"Meminta yang bukan-bukan, Tuhan akan marah pula. Yang boleh kita minta kepada Tuhan hanyalah agar jerih payah kita berbuah. Meminta tanpa usaha, hanya murka Tuhan-lah yang akan kita terima."

Tapi kemarau dalam cerita ini juga berlangsung di kehidupan Sutan Duano. Sayang, dalam 'kemarau' kehidupannya itu, menyirami sawah dengan air danau tak membuahkan hasil seperti yang diharapkannya.
Profile Image for Rifqi Salafi.
19 reviews
August 6, 2025
Novel ini menegaskan progresivitas pemikiran A.A. Navis yang tertuang dalam karya-karyanya. Dengan tokoh Sutan Duano, ia mengkritik pemikiran-pemikiran fatalis yang banyak tersebar di kalangan masyarakat umum. Ia juga lantang menyerukan keberpihakan agama pada kaum marginal.

Plot twist dalam novel ini juga menarik untuk diikuti. Navis bisa menjebak pembaca yang mengira bahwa plot yang diikutinya adalah plot biasa, ternyata berujung plot yang penuh konflik yang pelik.

Namun, di sisi lain, Navis juga tampak terburu-buru dalam bercerita sehingga banyak memberikan lubang dalam jalan cerita.
Profile Image for Gede Suprayoga.
176 reviews6 followers
October 2, 2018
Novel ini mengandung misi. Ia mengajak pembaca untuk tidak berpangku tangan menerima takdir yang diberikan begitu saja. Dalam menghadapi hidup, hanya perjuangannya yang kelas menentukan hasil akhir.

Sutan Duano adalah tokoh protagonis dengan karakter yang berlawanan dari sebagian besar warga desanya. Sutan Duano adalah seorang pekerja kerja. Ia memiliki karakter yang diceritakan sebagai: mampu mengamalkan ajaran agama: tolong-menolong, menghindari riba, dan berbelas kasihan. Satu hal lainnya yang membuatnya berbeda, ia tidak menerima hidup apa adanya. Sutan Duano lebih berminat untuk mengubah yang dianggap takdir oleh orang lain, meskipun kesulitan ia harus hadapi.

Peristiwa kemarau di desanya membawanya pada peran sentral dalam merubah karakter orang-orang di sekitarnya. Sutan Duano menyirami sawahnya untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Ia memilih untuk melakukan hal tersebut, daripada duduk di warung kopi dan bermain kartu seperti kebanyakan. Perjumpaannya dengan Acin, anak seorang janda, mengingatkan masa lalunya yang mengubah hidupnya sebagai orang dengan karakter saat ini.

Sebagai sebuah karya dengan misi, novel ini merupakan sindiran dan juga refleksi kehidupan. Sebagai sindiran, Sutan Duano tidak segan-segan mengkritik orang-orang "bertakwa" karena pekerjannya berdoa saja namun sesungguhnya tidak mengikuti perintah-Nya untuk bekerja keras, membantu orang kesusahan, maupun iri dengki atas keberhasilan orang lain. Kedua, sebagai refleksi kehidupan, novel ini mengingatkan kita pada mitologi Yunani yang sarat makna, Sisifus. Manusia, seperti hanya Sisifus yang dihukum untuk mendorong bola besar tanpa henti menuju puncak bukit, akan selalu dipengaruhi oleh kegagalan yang membuatnya berada di bawah. Namun, ia harus berjuang terus agar tidak senantiasa berada dalam posisi yang kurang baik. Sutan Duano, yang telah mengenyam asam garam dunia menyadari perjuangan tersebut.

Berbeda dengan mitologi Sisifus yang direfleksikan kembali oleh Albert Camus, A.A. Navis tidak mengajak pembaca menjadi apatis dan mengambil pandangan nihilisme. Bagaimana pun pahitnya kehidupan, perbuatan baik akan dihargai baik dan keburukan akan mendatangkan kesengsaraan. Dengan prinsip demikian, manusia menentukan takdir yang dipilihnya.

Pada bagian penutup buku, Sutan Duano diberitakan hidup berbahagia karena jalan lurus yang dipilihnya. Akhiran ini agak mengganjal bagi saya, terlalu padat dan tidak ada detil yang membuat pembaca menyimak dengan serius solusi yang diberikan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Claudia.
47 reviews6 followers
August 2, 2023
Buku A. A. Navis keduaku, setelah kumcer Robohnya Surau Kami yang banyak direkomendasikan. Berikut review ala-alanya~

Buku ini garis besarnya menceritakan tentang perjuangan seorang bapak tua yang tinggal di sebuah desa (yang meski tak dijelaskan secara eksplisit, tapi gue yakin di Sumatera Barat) bertahan hidup di tengah kemarau panjang.

Saat kemarau, sawah menjadi mati, dan tak ada yang dilakukan oleh orang desa selain pasrah dan hanya berdoa bahkan meminta bantuan dukun agar diturunkan hujan? Lalu, turunkah hujan? Tentu tidak.

Hanya bapak tua bernama Sutan Duano-lah yang terus berikhtiar dengan menyiram sawahnya menggunakan air danau. Ia, yang juga dianggap Guru karena kerap mengajarkan nilai-nilai agama di desa, ingin memengaruhi pikiran warga desa, agar mengikuti jejaknya menyiram sawah.

Ia ingin mengubah mental warga desa, yang tak hanya pasrah berdoa dan percaya pada yang gaib, tapi juga berusaha melakukan langkah2 nyata.

Sanggupkah Sutan Duano memengaruhi dan mengajak warga desa untuk ikut jejaknya?

Dari dua karya yang telah kubaca, jelas A. A. Navis selalu menyelipkan sindiran terhadap kehidupan beragama. Boleh dikatakan, A. A. Navis seperti tak suka dengan orang yang mengaku “beragama” tapi hanya mengamalkannya dengan berdoa dan beribadah.

Padahal ikhtiar juga merupakan salah satu ajaran Tuhan, dan sebab itulah manusia diberi akal. Beberapa kali A. A. Navis juga menyentil “tradisi-tradisi” yang seolah berkedok agama, tapi tak ada manfaatnya.

Misalnya saja acara-acara “selametan” yang mana kerap kali digelar hanya untuk memberi makan orang yang mampu atau dalam novel ini “sudah kenyang”, bukan memberi makan pada mereka yang masih “lapar”.

⚠️Spoiler⚠️
Ada sedikit plot twist di akhir cerita, tapi, jika kamu sudah pernah membaca kumcer Robohnya Surau Kami, akhir cerita novel Kemarau HAMPIR serupa dengan salah satu cerpen di dalam RSK, tapi, dibuat dengan penyelesaian yang berbeda. 👀

Akhir kata, novel Kemarau sangat layak dibaca, terutama bagi kita yang mungkin masih sering khilaf dan menjadi orang munafik dalam beragama.

Kemarau - A. A. Navis
⭐⭐⭐⭐
Profile Image for Yuniar Ardhist.
146 reviews18 followers
June 15, 2022


Meski bukan karya yang paling saya suka dari tulisan A.A. Navis, tapi beliau adalah salah satu penulis Indonesia favorit saya.

Karyanya adalah warisan bagi sastra Indonesia, sehingga saya tidak ingin dalam konteks semacam mengkritisi isinya. Lebih pada ingin menikmati nuansa sastra klasik yang abadi ini.

Di samping keinginan penulis menyampaikan pesan dalam bentuk sindiran untuk menggugat pemikiran yang menjangkiti perasaan masyarakat lamat-lamat sebagai peristiwa sosial, rasanya A.A. Navis pun bisa menjadi kakek atau guru yang bertutur dengan sederhana dan halus kepada cucunya.

Banyak petuah yang menjadi semacam cara pulang bagi jiwa-jiwa yang penuh, penat, dan membutuhkan ketenangan. Beliau mengajak untuk menggali lagi, memaknai lagi, dan akhirnya mampu memahami lagi dengan lebih arif. Kuat sekali pesan spiritualitas yang dibenamkan dalam cerita.

“Kemarau” di sini sebagai latar, musim. Di sisi lain, bisa juga berarti kekosongan batin, kekeringan (jiwa), berkelindan dalam keterasingan dari seorang tua Sutan Duano. Mengiringi usaha pertobatannya, ia menemukan banyak sekali tantangan. Kemarau, adalah ketentuan Tuhan. Maknailah dengan kesabaran dan ikhtiar. Mungkin begitu maksudnya.

Jika pun ada yang perlu dikritik, adalah penerbitnya. Buku ini seperti diterbitkan tanpa ada proses editing. Slide 8-10 membuktikannya. “Kemarau” adalah novel, tapi ditulis dengan sangat jelas sebagai kumpulan cerpen. Terdapat pula kata-kata yang dituliskan dalam ejaan asing, serta banyak kalimat-kalimat tanpa spasi. Saya sempat mencari informasi editornya, tapi tidak disertakan di keterangan buku bagian depan.

Sebagai pembaca, dan penggemar A.A. Navis, saya tersinggung. Saya membayar untuk mendapatkan kualitas buku yang tidak diteliti dengan baik. Ditambah ini karya penulis yang seharusnya dihormati, tapi Anda memperlakukannya tidak lebih dari barang cetakan semata. Sampul boleh saja diganti beribu kali banyaknya, tapi bertanggung jawablah pada isinya.
Profile Image for Wanderbook.
125 reviews40 followers
January 28, 2021
Wow, buku fiksi pertama yang saya baca di tahun 2021. Padahal ada banyak buku yang belum dibaca, tapi entah kenapa baca buku ini satu bab saja tak ingin berhenti menyelesaikannya sampai tamat.

Dari gaya bercerita dan latarnya, kita bisa tahu penulis adalah orang yang paham betul budaya Minang, berlatar di Sumatra Barat tahun-tahun setelah kemerdekaan dimana semua orang mulai mencari penghidupan yang terlihat 'gemintang' di Kota, Sutan Duano justru menghabiskan waktunya menyendiri sambil terus bekerja keras dan mendekatkan diri pada Tuhan di sebuah kampung.

Sejalannya waktu, ia mendulang 'kesuksesan' dari kerja kerasnya di Kampung, memiliki sendiri ladang dan aset yang dimiliki petani besar, dihormati semua orang karena senang membantu, menghapuskan sisten ijon dan membentuk koperasi agar warga miskin bisa berhutang tanpa kena bunga.

Konflik berawal ketika kemarau datang di kampung, Sutan Duano mengajak warga tetap mengairi sawah dengan cara mencari air ke danau. Tapi warga yang merasa hal tersebut 'aneh', tak suka juga bergotong royong mengairi semua sawah, ingin hanya mengairi sawahnya saja, enggan berusaha, alih-alih mereka memilih ritual pendatang hujan dan berdoa minta hujan.

Buku ini banyak berisi kritik kondisi sosial dan budaya warga di kampung tersebut saat itu, juga kritik atas praktek 'beragama' yang salah kaprah menurut penulis. Kisah tentang bagaimana sebuah kabar bisa menyebar dengan cepat di desa dikisahkan dengan baik dan gaya bercerita yang amat apik. Saya membaca buku ini dua hari saja, karena bukunya memang tipis. Tapi sungguh banyak refleksi kehidupan yang bisa diambil dari buku ini.

Bacaan baik lainnya di awal 2021.
Profile Image for Alfaridzi.
109 reviews3 followers
September 19, 2022
Novel ini menceritakan tentang lelaki bernama Sutan Duano yang tiba-tiba hadir di tengah masyarakat di suatu desa dan dia berusaha mengubah pola pikir masyarakat yang membeku. Disaat kemarau panjang melanda desa, mereka hanya pasrah dan berdoa, tetapi tidak dibarengi dengan usaha. Hal ini lah yang berusaha Sutan Duano tangani. Namun lewat usaha ini pula, berbagai hal dan ujian lainnya silih berganti datang menimpa Sutan Duano dan penduduk desa.

Ini adalah buku pertama karya A.A. Navis yang aku baca dan aku langsung suka. Terlihat jelas lewat gayanya bercerita, beliau ini berasal dari tanah Minangkabau. Lewat tutur bahasanya yang kental dengan unsur melayu-minang, membuat novel tipis ini berhasil memantikku agar terus membacanya.

Aku suka dengan kelihaian penulis dalam mengkritisi berbagai fenomena sosial yang ada di masyarakat, terutama tanah Minang. Lewat novelnya ini, penulis banyak memberikan cercaan santun terhadap praktek beragama yang acap kali disalah artikan oleh masyarakat, serta mereka yang masih memiliki pemikiran kolot, bebal, terlalu pasrah dengan keadaan, mudah putus asa dan tidak mau berusaha.

Disisi lain, lewat tulisannya ini, penulis banyak menyelipkan berbagai pesan menyentuh yang memuat nilai-nilai kehidupan. Penulis seolah berdakwah. Tidak dengan berdiri di atas mimbar agar terlihat banyak orang, tapi lewat untaian kata yang bisa membawa pembaca ke jalan Tuhan.

Secara keseluruhan aku sangat suka dengan novel ini. Cerita di dalamnya membuatku jatuh hati dan penasaran ingin membaca karya lainnya dari penulis. Aku pun sangat suka dengan plot twist diakhir cerita yang tidak terduga dan membuatku kaget bukan main. HIGHLY RECOMMENDED !!! ⭐5/5
Profile Image for ⚘.
41 reviews2 followers
July 23, 2024
4/5 ✨

"Meminta kepada Tuhan sudah sepatutnya. Memang kepada Tuhanlah kita meminta. Akan tetapi, meminta yang bukan-bukan, Tuhan akan marah pula. Yang boleh kita minta kepada Tuhan hanyalah agar jerih payah kita berbuah.Tapi meminta tanpa usaha, hanya murka Tuhan-lah yang akan kita terima."

Sastra klasik Indonesia yang iseng aku liat di RuangBukuKominfo cuma karena cover kuningnya menarik, baca blurb-nya juga menarik. Awal baca masih biasa aja, waktu masuk topik yang ada di blurb yaitu kemarau berkepanjangan melanda kampung, rasanya plot sangat menjanjikan, apalagi mengikuti karakter Sutan Duano dalam upayanya mengubah pemikiran orang-orang kampung untuk bisa hidup lebih baik dan menjadi pribadi yang menjunjung tinggi agama rasanya hangat di hati.

Selama baca aku jadi mikir, ada nggak ya orang kayak Sutan Duano di dunia nyata. Selalu membantu orang bahkan sampai permasalahan rumah tangga, masalah inti keluarga pun juga semua orang minta bantuan beliau, percaya kalau semua masalah bisa diselesaikan beliau. Sampai dipoin semua orang mengagungkan beliau, padahal Sutan Duano nggak mau "disembah" karena semua ini atas kehendak Tuhan.

Selama baca juga, aku penasaran banget latar belakang Sutan Duano sampai ada di kampung itu gimana? Akhirnya ada penjelasan tentang titik balik Sutan Duano menjadi pribadi kayak gitu. Yang bikin nggak nyangka itu sekitar 20 halaman terakhir ada plot twist dikit yang bikin aku 😮.

Aku menyarankan untuk baca buku ini karena tipis, nggak ada 120 lembar dan bisa sekali baca. Banyak pesan yang bisa diambil, bahkan baca buku ini jadi mengingatkan aku buat selalu berbaik sangka sama Tuhan!
Profile Image for Salwa Isheeqa.
10 reviews1 follower
February 27, 2021
Buku pertama karya A. A. Navis yang saya baca. Mulanya saya ingin membeli buku lain, namun Bunda menyarankan saya untuk membeli buku ini. Saya mengira buku "Kemarau" akan monoton seperti buku klasik yang lainnya. Maka dari itu saya hanya membaca 12 halaman pertama sesudah membelinya.

Rasa penasaran akan perjalanan Sutan Duano menggerakkan hati saya untuk membaca kembali buku ini. Saya mengalami kesulitan untuk memahami apa yang coba A. A. Navis sampaikan lewat "Kemarau" mungkin dikarena bahasa yang cukup berat dan baku.

Konflik di dalamnya begitu menyayat hati. Ada perjuangan, kehilangan dan rasa menyesal. Si tokoh utama, Sutan Duano melewati peperangan batin dengan penduduk kampung. Ia harus mengubah pandangan setiap kepala di kampung itu. Saya suka melihat Sutan Duano sedang memperlihatkan sifat keras kepalanya.

"Meminta kepada Tuhan sudah sepatutnya. Memang kepada Tuhan-lah kita meminta. Akan tetapi meminta yang bukan-bukan, Tuhan akan marah pula. Yang boleh kita minta kepada Tuhan hanyalah agar jerih payah kita berbuah. Tapi meminta tanpa usaha, hanya murka Tuhan-lah yang akan kita terima." Sutan Duano mengingatkan pada pembacanya agar mengimbangi do'a dengan usaha. Dia lelaki pekerja keras, dan itu alasan mengapa saya menjadikan Sutan Duano sebagai salah satu tokoh yang patut diidolakan.

Tapi ada satu kekurangan dibuku "Kemarau" yaitu akhir cerita yang terkesan dipaksakan. Padahal saya menaruh harapan jika akhir cerita akan terlihat jerih payah Sutan Duano selama ini. Tak apa, yang terpenting Sutan Duano hidup bahagia dengan Gudam, Acin dan Amah.
Profile Image for Hanifah Rahmania.
62 reviews2 followers
December 10, 2025
​Sutan Duano datang ke kampung menjadi telaga bagi warga karena tak ada satupun warga yang tak pernah menerima bantuannya. Ia meninggalkan kota dan dosa masa lalu, mencari ketenangan di desa, serta membawa satu tujuan khusus: mengubah pola pikir masyarakat desa yang malas. Masyarakat desa salah kaprah dalam beragama; hanya berdo'a tanpa berusaha, hanya melakukan ibadah 'ritual' tanpa bekerja keras.
​Tokoh Acin, Gadum, serta Masri, dan Iyah, menambah pelik kisah hidupnya.

Buku terbitan tahun 1957 masih terasa relevan dan page turner, menyajikan dialog-dialog filosofis yang tajam:

​"Mengairi sawah yang kering di musim kemarau, bukan dengan membentak langit. Tetapi mengambil air yang telah disediakan Tuhan sedanau banyaknya."

​"Tuhan tidak akan mengubah aturan yang telah ditetapkan sejak dahulu. Nah, pada waktu malam itu semua gelap. Apa kita minta supaya matahari muncul di langit malam?"
"Tidak pak, kita pasang lampu."
"Jadi, kita usahakan sendiri cahaya itu bukan?"

"Kita meminta kepada Tuhan, agar jerih payah kita berbuah (bukan meminta tanpa usaha)
Jika meminta tanpa berusaha, hanya murka Tuhan-lah yang akan kita terima."

​Bagaimana akhir perjuangan Sutan Duano? Saya tidak akan memberikan spoiler. Novel ini wajib dibaca bagi siapa pun yang merindukan kritik sosial bernas berbalut narasi pedesaan.
Profile Image for Self..
52 reviews5 followers
January 18, 2023
Okay, buku ini sangat sesuai dengan ekspektasi ku. Seperti karya-karya lainnya, penulis memberikan kritik sosial kepada masyarakat. Dalam cerita ini menyentil masyarakat yang pemalas dan tidak mau berusaha hingga cara bermasyarakat yang sering disalahpahami.

Contohnya itu pas Sutan Duano yang tidak pernah mau menghadiri undangan tetangga yang mengadakan selamatan/kendurian yang malah mengundang mereka para orang besar alih-alih para fakir miskin, janda, anak yatim yang kesehariannya belum berkecukupan untuk 'makan enak'. Malah seringkali yang punya hajat rela meminjam dana untuk mengadakan selamatan tersebut.

"Mengairi sawah sudah kering, bukan dengan membentak langit. Tapi mengambil air yang telah disediakan tuhan sedanau sebanyak-banyaknya." (Hal. 25)

Kisah masa lalu Sutan Duano sebelum tinggal di desa itu tak kalah menjadi bumbu dalam buku ini. Gaya hidup sebelumnya hingga perjalanan panjang Sutan Duano sebelum titik balik pertaubatan. Plot twist pas endingnya juga berhasil memberikan kejutan.

Btw, sebenarnya aku bingung, aku mikir 'Kemarau' ini tuh novel, tapi di bagian depan ditulis dengan sangat jelas kumpulan cerpen. Terus beberapa kata yang ditulis dalam ejaan asing, terus ada kalimat yang nggak ada spasinya ini di halaman 149
Profile Image for Ratri Bethari.
4 reviews
March 12, 2021
Nggak sengaja milih novel ini untuk tugas Hermenutika di kampus. Kebetulan, materi kita tentang absurditas novel. Jadi novel ini saya bedah dalam kerangka absurditas hermeneutika.

Pertama liat novel ini, kok dikit sekali halamannya? Sedangkan dilihat dari sinopsisnya saja, sangat padat dan sudah bisa membayangkan bagaimana cerita ini akan begitu kompleks. Tapi, pas dibaca, wah, kok bisa sesingkat ini? Hampir setengah bagian dari novel ini berisi narasi penulis mengenai suasana alam di Minang. Takjub sekaligus heran.

Konflik dan gaya bahasa yang digunakan, ngingetin saya akan novel-novel lama macam ziarah, dsb. Mungkin karena pakai bahasa melayu-minang campur bahasa Indonesia.

Overall novel ini keren, ringan buat dibaca, dan berhasil bikin saya jengkel dengan cara berpikir masyarakat desa hehehe ((:
Profile Image for Nur Rokhmani.
255 reviews6 followers
March 4, 2021
Woilllaaaaa...
Dapet racun dari base, trus diteruskan di grup mini ghibah buku. Setelah baca blurbnya langsung gas download di gramedia digital. Baca dalam kurun waktu kurang dari 3x24 jam.
Di bagian belakang buku, ada keterangan U+17. Ya, buku ini perlu dibaca oleh kalangan remaja akhir menuju dewasa muda. Karena ceritanya kompleks. Tentang kehidupan yang kadang gak sesuai harapan. Dan jalan yang perlu kita pilih terbentang, tinggal kita aja yg mau pilih jalan yang mana.
Di buku ini, Sutan Duano mengajarkan bagaimana bekerja keras dapat mengubah nasib, disamping harus menguatkan pemahaman ttg agama. Sutan Duano jg mengajarkan tentang kesadaran bertaubat dan kepercayaan bahwa taubat yang benar akan mengubah arah hidup kita. Jadi lebih berhasil, manfaat, dan berkah—dikelilingi kebaikan yang gak putus.
Benar-benar banyak pesan kehidupan yang bisa didapat dari membaca buku ini. Tentang prinsip, ketakwaan, kejujuran, kerja keras, dan cinta.
Profile Image for Sabrina.
46 reviews2 followers
August 28, 2025
Buku bagus.

Saya baca buku ini dalam waktu setengah hari saat di perpusnas kemarin. Menceritakan tentang Sutan Duano yang tinggal bersama dengan warga yang memiliki kesalahan berfikir dan sikap tidak mau berusaha. Saya suka alur cerita yang dibawakan didalam buku ini dan betul betul menikmatinya bahkan saat awal membaca buku ini.

Pembelajaran yang saya petik didalam buku ini adalah yang pertama ketika kita melakukan suatu hal secara konsisten maka akan maka hal tersebut dapat dipastikan akan menjadi hal yang besar. Kedua betapa menyusahkannya tinggal dilingkungan yang memiliki pola pikir yang sempit, sehingga pemikiran yang salah dapat berterima dalam lingkungan tersebut sedangkan pemikiran benar dianggap sebagai pemikiran yang salah.
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
August 13, 2018
Sekitar 80% isi buku ini aku suka sekali, bintang 5 lah pokoknya. Dari karakterisasi Sutan Duano dan tokoh2 lain hingga konflik yang terbangun dengan apiknya. Juga sindiran-sindiran bapak pengarang pada pembaca yang terasa halus namun menohok.

NAMUUUUN... mengapa oh mengapa bagian akhirnya aneh teuing. Klimaks yang dipaksakan, ending tergesa-gesa dan penutup yang tiba-tiba. Jika memang ada keterbatasan halaman, seindahnya jangan memaksa menambah konflik baru antara tokoh2nya, berat pula ini masalahnya, incest lho, sudah punya anak 2 pula. Masak yg kayak gini terus diselesaikan dalam penutup yg cuma setengah halaman??!?

Gak jadi keren lah, bintangnya dikurangi 2.
Profile Image for Riatmi Ami.
72 reviews1 follower
February 28, 2022
Paling kentara adalah kritik sosial diantaranya ttg pentingnya kerja keras, tokoh utama ingin menunjukkan bahwa sebagian takdir perlu dijemput dengan ikhtiar yang sungguh sungguh. Perjuangan dalam usaha merubah mental masyarakat sedang dia sendiri punya bayang bayang masa lalu.. Dakwah yang tidak hanya dengan kata-kata, tetapi terjun langsung berusaha menyelesaikan persoalan yang masyarakat.

Dalam masalah percintaan sang tokoh, ada salah satu dialog nya yang menarik perhatian saya : "Kalau kau hanya menyukaiku tetapi tidak menghargai dan menyukai prinsipku, kita tidak akan bahagia dalam pernikahan"

🙂
Profile Image for Yolanda Suciati.
79 reviews1 follower
November 4, 2018
Tokoh Sutan Duano mengajarkan nilai-nilai agama yang sederhana, namun tidak terkesan menggurui. Kerasnya hati yang dimilikinya menyadarkan saya sebagai pembaca bahwa "memang sulit berbuat dan bersikap diri di jalanNya yang lurus, mungkin malah akan menyulitkan diri untuk beberapa saat, tapi memang semua akan dibalas kebaikanNya yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya." Banyak pengingat-pengingat yang bagus untuk diresapi dan direnungi. Karya A.A Navis pertama yang saya baca, dan saya senang dengan caranya bercerita❤️
Profile Image for Me.
3 reviews
January 24, 2019
The book is classic and interesting. Many things to comprehend in society are well written in this book. The characters are strong, the conflicts are very close to the reality, and the climax is unpredictable and I really can feel the raising in emotion until it reaches the top.
But....
I would prefer to let the story stopped when the family meets on the bloody floor rather than give some closing story in a very short epilog like it is written in the book. I felt like, "meh".. the epilog screws my positive feeling to this book.
Profile Image for Heru Prasetio.
210 reviews2 followers
June 20, 2020
"Sebagai sebuah karya dengan misi, novel ini merupakan sindiran dan juga refleksi kehidupan. Sindirian terhadap umat yang hanya bisa berdoa, tanpa diiringi usaha dan tawakal. Ada juga sentilan akan praktik keagamanan yang sebenarnya tidak perlu dilakukan alias mubazir. Diceritakan juga perihal refleksi kehidupan, di mana tokoh utama dalam novel ini berusaha memperbaiki kutukan masa lampau dengan tobat sebenar tobat tanpa pesimis akan hasil. Intinya, kemarau bukan sekadar musim, tapi juga jiwa yang perlu dibasahi."
Profile Image for Risma.
218 reviews
January 14, 2021
Akhirnya membaca karya A.A Navis sebagai buku pertama di tahun 2021. Buku ini pas di hati untuk cara bercerita dengan konflik yang bermain pada ego manusia dan apa yang disebut takdir juga "pasrah pada Yang Kuasa." Drama pergumulan sosial dan apa yang baik dan benar. Buku ini membawa istilah "someday we have to choose between what is easy or what is right" ke dalam prosa yang apik. Saya selalu suka novel lama karena latar yang sangat Indonesia dan nilai moral yang bermain dalam tiap interaksi. Yep, tahun ini dibuka dengan buku bagus~~
Profile Image for Marina.
2,036 reviews359 followers
July 22, 2018
** Books 102 - 2018 **

3,5 dari 5 bintang!

Entah kenapa lebih suka sama buku ini sama yang Jodoh. Mungkin karena ceritanya tentang orang yang pernah hidup di kota dan memilih tinggal dan didesa ternyata apa yang dia lakukan untuk penduduk desa belum sepadan dan betapa sesungguhnya menyindir jiwa orang indonesia yang pemalas dan hanya berpangku tangan menunggu hasil

Terimakasih Gramedia Digital Premium!
84 reviews1 follower
July 23, 2018
Sutan Duano, Sutan Caniago, Rajo Bodi, Acin, Gudam...
Saat membaca buku ini entah mengapa nama-nama itu familiar. Rupanya dulu waktu SMA kelas 2, di pelajaran Bahasa Indonesia ada naskah drama yang dibuat berdasarkan novel Kemarau, dan jujur saja saya sama sekali tidak ingat cerita drama tersebut dan ini kali pertama saya membaca Novel Kemarau.

Alur ceritanya lambat dengan "plot twist" yang sama sekali tidak kukira ada di karya sastra lama.
68 reviews2 followers
August 11, 2021
Tentang pertobatan dengan cara yang dibenarkan oleh-Nya. Tentang bekerja keras untuk menuai hasil dan tak hanya mengharap kasih Tuhan tanpa upaya. Pesan berat yang disampaikan secara ringan melalui nasihat dan perangai Sutan Duano. Tulisan AA Navis ini membuat saya merenung bagaimana menjadi hamba Tuhan yang benar. Apakah saya bisa seikhlas dan sesabar Sutan Duano tanpa harus melalui beratnya hidup seperti dia?
Profile Image for Andina Firdaus.
32 reviews
September 27, 2025
Baca novel lama begini selalu nemu kosa kata yang jarang atau bahkan enggak pernah aku temukan di novel-novel sekarang. Sedikit-sedikit buka KBBI :' sekaya itu bahasa kita, belum lagi bahasa minang yang sedikit sedikit juga muncul dalam cerita ini.

Walaupun ini cerita lama, rasanya masih relate dengan zaman sekarang. Berat sekali jadi Sutan Duano yang hidup dalam pertaubatan, ternyata dapat ujian dengan hidup di kampung yang orang-orangnya demikian kurang.
Profile Image for Yurika .
78 reviews
September 17, 2025
Bagus banget. Intinya, mengubah mindset dan tradisi yang sudah mengakar dalam masyarakat memang ga semudah itu. Dan tantangan untuk mempertahankan prinsip hidup di jalan yg benar memang berat, ada aja cobaannya.

Yg aku agak ga ngerti, katanya ibunya Masri itu meninggal tapi kok....? menurutku, bagian akhirnya kayak terburu-buru banget ditutup. Dan harus banget happy ending gitu?

Displaying 1 - 30 of 55 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.