Jump to ratings and reviews
Rate this book

Dadaisme

Rate this book
Novel dengan judul yang sebenarnya tak berkaitan langsung dengan sebuah aliran seni lukis ini seperti membentangkan serpihan-serpihan kritik atas kultur etnik, perselingkuhan, halusinasi, dunia surealis dan peristiwa tragis.

264 pages, Paperback

First published April 1, 2004

5 people are currently reading
255 people want to read

About the author

Dewi Sartika

7 books5 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
41 (23%)
4 stars
52 (29%)
3 stars
58 (33%)
2 stars
20 (11%)
1 star
3 (1%)
Displaying 1 - 30 of 40 reviews
Profile Image for Rio Johan.
Author 25 books123 followers
June 19, 2013
Aku bukan orang yang betul-betul paham aliran dadaisme; bukan pelaku aliran tersebut, bukan penggiat, bukan pula pengamat; aku cuma tahu sekali lewat saja, sepintas-sepintas, seutil-util. Memang, sekilas novel Dadaisme ini punya kekacauan yang serupa dengan yang bisa didapatkan dari karya-karya dari aliran dadaisme—yang kurang lebih merupakan upaya untuk mendobrak kungkungan seni borjuis (terutama seni lukis).

Tetapi, setelah kurenungkan lebih dalam lagi, rasa-rasanya kok ya kekacauan-kekacauan dalam novel Dadaisme ya tidak se-dada sebagaiamana mestinya—atau setidak-tidaknya: menurutku, kurang mendekati kesan-kesan yang kudapat dari karya-karya dadaisme.

Ketika aku melihat karya dadaisme ada kesan vanguard atau avant-garde yang tercetak jelas dalam kekacauannya: dalam satu bingkai bisa saja ada potongan muka Marilyn Monroe, disampingnya Adolf Hitler sedang berkoar, lalu kepala lokomotif, kuda, roda gigi, kepulan asap industri, badan telanjang tanpa muka, dsb, dsb; ada juga yang cuma pispot tapi bentuknya aneh sekali, avant-garde!; ada lagi lukisan Monalisa yang mukanya sudah diubah jadi sesuatu yang antah berantah. Dan, kesan avant-garde itu nyaris absent dari novel Dadaisme. Satu-satunya yang avant-garde dari novel ini ialah kehadiran malaikat bersayap satu itu.

Apakah istilah dadaisme diusung karena muatan perlawanannya terhadap pakem sastra yang diamini? Kukira kurang tepat juga. Virginia Woolf pernah menulis novel dengan banyak sudut pandang begini (walau tidak sebanyak ini, dan tidak satu babak satu orang begini—tapi toh tidak terlalu signifikan perbedaannya, kukira). Ayu Utami juga pernah lewat Saman. Di film pun model begini sudah cukup banyak contohnya: ada Gomorrah-nya Matteo Garrone, atau Gosford Park-nya Robert Altman juga bisa dijadikan contoh. Apa yang semacam itu juga bisa disebut dadaisme? (Dan, andaikata novel ini divisualisasikan dalam media film pun, kukira, kekacauannya tidak akan betul-betul terasa dadais).

Sebetulnya mau memberi 3/5 bintang, tetapi aku tidak menikmati cara tuturnya, kurang dada gitu! Jadi, 2/5 pantaslah, menurutku.
Profile Image for Saptorini.
Author 5 books12 followers
August 29, 2010
Aliran Dadaisme muncul saat berkecamuknya perang dunia I, dibulan Februari 1916, dimana saat itu keadaan dalam rongrongan perang. Nama Dada begitu saja diambil dari sebuah kamus Jerman-Perancis yang kebetulan berarti ‘kuda mainan’. Sinisme dan ketiadaan ilusi adalah ciri khas Dada, yang diekspresikan dalam bentuk main-main, mistis ataupun sesuatu yang menimbulkan kejutan.
( Soedarso, 1990: 99).
Begitulah makna dadaisme yang aku ubek-ubek lewat Mbah Google.
Awalnya membeli buku ini karena menjadi pemenang lomba novel DKJ. Apalagi Gramed yang sedang bazar buku murahngasih harga buku ini 10 rebu saja. Ya sudah bungkuuus!
Sampai di rumah aku buka karena penasaran dengan judulnya. O lala... bingung juga baca buku seperti ini. Surealis. Teringat betapa aku pusing dulu sewaktu baca bukunya Budi Darma. Stop dulu lah, lain kali saja bacanya.
Akhirnya dengan segenap kekuatan (lebay) aku baca. Alhamdulillah bisa selesai dua hari.
Awalnya dikisahkan tentang seorang anak yang bisa melihat malaikat yang bernama Michail. Malaikat bersayap hitam. Sepertinya si anak mengalami gangguan psikologis.
Pada bab enam, barulah aku mendapatkan cerita yang bisa kupahami. Tentang Yusna yg melarikan diri sehari sebelum pernikahannya dengan Rendy. Akhirnya Isabella (adiknya) menggantikannya demi menjaga nama baik keluarga. Pernikahan tanpa cinta.
Untunglah mereka akhirnya saling mencintai. tetapi Isa tetap tak bisa melupakan pacar lamanya, Asril. Setelah bertahun-tahun akhirnya mereka bertemu, dan selingkuh.
Sementara itu, Asril sendiri sebenarnya sudah punya dua istri. dr Aleda (psikolog yg menangani kasus Nedena) dan Tresna. Dua istrinya ini sama-sama memiliki masalahnya. Aleda mandul (sebenarnya ia dulu pernah memiliki anak tapi entah di mana sekarang. Anak ini hasil hubungan dengan kakak kandungnya). Nah Tresna sendiri ternyata selingkuh, dan dua anaknya Labai yang autis dan Yossy yang juga mengalami gangguan mental (akhirnya ia meninggal) adalah anak hasil selingkuhan.
Siapakah Nedena? Mengapa ia sangat mirip Isabela?
Pada bab belakangan, muncul nama Jing dan Ken, dua lelaki dewasa. Jing sedang mencari dr Aleda. Siapa dia?
Kesimpulan saya adalah novel ini bercerita tentang kesemrawutan tingkah manusia sehingga melahirkan anak-anak yang mengalami gangguan mental, seperti Labai, Yossy, Nedena, juga Rianto yang mati setelah dua kali percobaan bunuh diri.
Novel yang rumit, tetapi justru membuat saya penasaran.
Profile Image for Asri Wuni.
48 reviews7 followers
October 24, 2011
Michail, malaikat kecil bersayap satu dengan hitam sebagai warnanya. Dia selalu menemani manusia-manusia yang bertemu dengan ruang hampa yang kelam dalam jiwanya. Menemani manusia yang memiliki trauma mendalam dengan masa lalunya. Menemani manusia yang di lubuk hatinya yang terdalam, menginginkan kematian.

Adalah Nedena, Aleda, Flo, Jing, dan lain sebagainya, tokoh-tokoh yang senantiasa eksis dari cerita ke cerita lainnya dalam buku ini. Seakan-akan mereka semualah tokoh utama dalam "Dadaisme" ini.

Dalam seni, dadaisme adalah suatu aliran seni anti-estetika, aliran seni yang anti-seni. Dengan adanya tokoh Michail, si malaikat hitam bersayap satu. Ditambah carut marutnya tokoh pertokoh yang begitu banyak, seakan-akan berlomba-lomba menjadi tokoh utama. Ditambah lagi dengan digambarkannya kehidupan-kehidupan dengan sisi-sisi miring karakter manusia. Mungkin itulah yang disebut 'dadaisme' sendiri. Tanpa perlu menggambarkan sosok malaikat yang cantik dengan sayap berwarna putih. Tanpa perlu adanya penokohan utama yang menjadi fokus cerita dalam novel ini. Tanpa perlu menggambarkan keindahan-keindahan hidup. Itulah dadaisme, gambaran muram keindahan yang begitu jauh dari gambaran keindahan.

Andaikan Michail benar ada, bisakah dia menemui manusia-manusia sinting di luar sana?
Profile Image for Mumtaza Rizky Iswanda.
113 reviews2 followers
December 10, 2019
Cerita ini terlalu mengeksploitasi perasaan manusia untuk memberikannya kesan "grandeur", padahal sebenarnya dinamika (kelahiran dan penyelesaian) permasalahan secara umum tergolong dangkal
Profile Image for Haefa Azhar.
82 reviews
January 27, 2025
Novel surealis pertama yang kubaca dan membuatku jatuh cinta kepadanya.

Tolak ukurnya adalah aku membaca ini ketika kuliah dan aku mengerti konteks makna yang ingin disampaikan dengan cerita yang mengaburkan antara khayalan dan realita. Atau jangan-jangan apa yang dialami oleh pemeran utama memang nyata adanya? Bukan novel yang bosan atau bikin kepala pusing saat kubaca. Malah arus ceritanya yang terasa nyata secara perasaan menyeretku untuk mengenal siapa mereka semua dan mengapa semua ini bisa terjadi. Novel ini menjadi pemicu aku menyukai novel-novel karya Ziggy Z.
Profile Image for Farrahnanda.
Author 10 books21 followers
September 27, 2016
Namatin ini sembari nunggu Maria kencan sama brondong di Paragon wq
seperempat terakhir berasa keteteran banget. Jing dan Ken ketuker sekitar dua kali. gaya tulisan berasa anjlok dan terasa banget tergesa-gesa pokoknya. entah kenapa endingnya mesti gantung diri. entah kenapa. oh. duniya. I hate this kind of ending. apalagi cuma biar cerita dramatis. homoseksualitasnya juga ujug-ujug datang heu
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
October 19, 2013
Di awal-awal aku suka anak menggambar langit dengan warna-warni. Bertemu Mikhail, ketemu dokter Aleda. Tetapi setelah masuk tokoh Isabella mulai nggak segreget awalnya. Aku suka gaya 'acak-acakan' novel ini.
35 reviews1 follower
December 4, 2019
Novel ini secara umum lebih mengarah kepada tema psikologis, mistik dan filsafat. Penggarapan novel ini dibuat menjadi beberapa fragmen/bab. Ada dua puluh dua fragmen,termasuk epilog dalam novel ini. Penggarapan setiap fragmen pun sangat unik. Novel ini digarap dengan alur yang kronologis. Namun setiap fragmen tidak selalu bersambung dengan fragmen yang ada di depannya, namun menjadi seperti mozaik-mozaik yang mesti dikaitkan antara fragmen satu dengan fragmen lainnya. Penggunaan sudut pandang setiap fragmen pun selalu berbeda-beda. Hal ini mewajibkan pembaca untuk lebih teliti dan konsentrasi untuk memahami kronologi cerita dalam novel ini. Mungkin pembaca akan kesulitan ketika menentukan siapa tokoh utama dalam novel tersebut. Begitu banyak tokoh dalam novel ini. Semua tokoh dalam novel ini seolah-olah berdiri sendiri dalam setiap fragmen, namun jika dirunut dengan kronologis, semua tokoh dalam novel ini mempunyai keterkaitan. Inilah gaya kepengarangan Dewi Sartika dalam Dadaisme. Nilai filsafat cukup kental menjelang akhir dari novel ini. Hal ini bisa ditangkap dari makna perkataan dari tokoh yang bernama Jing. Hidup dan mati adalah sebuah pilihan. Jika seseorang ingin hidup maka ia mempunyai semangat untuk hidup. Jika ia memilih mati, itu juga bukan sebuah kesalahan untuknya, karena menurut Jing, hidup dan mati adalah sebuah pilihan. Bahasa dalam novel ini mudah untuk dimengerti. Bahasanya tidak menggunakan bahasa-bahasa yang rumit seperti novel-novel sastra serius lainnya. Akan tetapi novel ini juga mempunyai kelemahan yakni penceritaan watak tokoh yang kurang mendetail. Pembaca belum begitu mengenali sisi dalam tokoh pertama, namun kemudian tokoh pertama itu hilang dan digantikan dengan tokoh baru, begitu seterusnya. Jadi dramatisasi tokoh kurang bisa dinikmati.
20 reviews1 follower
November 11, 2019
Novel ini mencritakan pemenang sayembara Dewan Kesenian Jakarta tahun 2003 ini digarap dengan tema yang unik. Tidak ibarat novel-novel pemenang lainnya yang biasa menggaungkan tema gender, Koreksi sosial, percintaan, keluarga dan lainnya. Novel ini secara umum lebih mengarah kepada tema psikologis, gaib dan filsafat. Walau demikian, bukan berarti novel ini tdak mengulas gender, keluarga, Koreksi sosial atau pun percintaan. Tema-tema tersebut masih tetap di bahas dalam novel ini, namun penggarapannya tidak secara mendalam, spesialuntuk sebagai bumbu dan bingkai cerita. Bahasa dalam novel ini simpel untuk dimengerti. Bahasanya tidak memakai bahasa-bahasa yang rumit ibarat novel-novel sastra fokus lainnya. Akan tetapi novel ini juga memiliki kelemahan yakni penceritaan susila tokoh yang kurang mendetail. Novel ini terlalu serius pada penggarapan yang “kebetulan” sehingga penceritaan tokohnya kurang mendalam. Pembaca belum begitu mengenali sisi dalam tokoh pertama, namun kemudian tokoh pertama itu hilang dan digantikan dengan tokoh baru, begitu seterusnya. Makara dramatisasi tokoh kurang sanggup dinikmati. Nilai filsafat cukup kental menjelang final dari novel ini. Hal ini sanggup ditangkap dari makna perkataan dari tokoh yang berjulukan Jing. Hidup dan mati ialah sebuah pilihan. Jika seseorang ingin hidup maka ia memiliki semangat untuk hidup. Jika ia menentukan mati, itu juga bukan sebuah kesalahan untuknya, alasannya ialah berdasarkan Jing, hidup dan mati ialah sebuah pilihan.
23 reviews
November 11, 2019
Novel Dadaisme menjandi pemenang sayembara Dewan Kesenian Jakarta tahun 2003 ini digarap dengan tema yang unik. Tidak ibarat novel-novel pemenang lainnya yang biasa menggaungkan tema gender, Koreksi sosial, percintaan, keluarga dan lainnya. Novel ini secara umum lebih mengarah kepada tema psikologis, gaib dan filsafat. Walau demikian, bukan berarti novel ini tdak mengulas gender, keluarga, Koreksi sosial atau pun percintaan. Tema-tema tersebut masih tetap di bahas dalam novel ini, namun penggarapannya tidak secara mendalam, spesialuntuk sebagai bumbu dan bingkai cerita. Bahasa dalam novel ini simpel untuk dimengerti. Bahasanya tidak memakai bahasa-bahasa yang rumit ibarat novel-novel sastra fokus lainnya. Akan tetapi novel ini juga memiliki kelemahan yakni penceritaan susila tokoh yang kurang mendetail. Novel ini terlalu serius pada penggarapan yang “kebetulan” sehingga penceritaan tokohnya kurang mendalam. Pembaca belum begitu mengenali sisi dalam tokoh pertama, namun kemudian tokoh pertama itu hilang dan digantikan dengan tokoh baru, begitu seterusnya. Makara dramatisasi tokoh kurang sanggup dinikmati. Nilai filsafat cukup kental menjelang final dari novel ini. Hal ini sanggup ditangkap dari makna perkataan dari tokoh yang berjulukan Jing. Hidup dan mati ialah sebuah pilihan. Jika seseorang ingin hidup maka ia memiliki semangat untuk hidup. Jika ia menentukan mati, itu juga bukan sebuah kesalahan untuknya, alasannya ialah berdasarkan Jing, hidup dan mati ialah sebuah pilihan.
19 reviews1 follower
Read
November 19, 2019
Novel Dadaisme karya Dewi sartika ini terbit pada tahun 2004, maka novel ini termasuk periode 2000-an. Novel ini menceritakan tentang halusinasi seseorang yang mengalami kesepian dan kesedihan dan akhirnya menciptakan teman imajinasi dari halusinasinya.
Dalam novel periode 2000-an terdapat beberapa karakteristik, diantaranya yang pertama adalah tema yang diangkat menyangkut seluruh aspek kehidupan. Dalam novel ini, selain mengandung aspek sosial, aspek psikis juga menjadi pokok permasalahn. Sehingga tidak seperti novel-novel pada periode atau angkatan sebelumnya, novel periode 2000-an mencakup aspek yang lebih luas dengan permasalahan yang lebih rumit.
Karakteristik kedua adalah adanay perluasan wawasan estetik baru atau perluasan yang telah ada. Dari sudut pandang tema, tema yang diambil oleh Dewi Sartika dalam Novel Dadaisme ini cukup pelik karena tokoh-tokoh yang didalamnya begitu banyak dan seakan-akan berdiri sendiri meski sebenarnya tokoh utama adalah Michail. Tema yang seperti ini belum ada atau jarang ditemukan dalam periode-periode sebelumnya.
Karakteristik yang ketiga adalah bahasa yang digunakan merupakan Bahasa Indonesia sehari-hari. Dalam Novel Dadaisme karya Dewi Sartika ini menggunakan Bahasa Indonesia yang ringan dan mudah dipahami karena sudah masuk era milenial. Tetapi dalam beberapa bagian terdapat Bahasa Daerah Minang yang mungkin kurang dipahami oleh sebagian orang.
Profile Image for Riska Widia.
18 reviews1 follower
November 8, 2019
Dewi Sartika lahir di Minangkabau. namun, dalam karyanya ini Dewi Sartika berbeda dengan pengarang-pengarang lain yang berasal dari Minangkabau, biasanya para pengarang akan menciptakan cerita sesuai dengan latar belakang mereka. Mungkin hal ini dikarenakan latar belakang dari Dewi Sartika sendiri yang lahir di Minangkabau namun besar di Cirebon. Kehidupan perantauan membuat Dewi Sartika banyak menemukan hal-hal yang berhubungan dengan pluralisme. Dunia rantau Dewi Sartika membuatkan akrab dengan pluralisme akan budaya yang global. Dadaisme cukup mahir dalam menjelaskan semua fenomena itu. Seperti merangkai kembali perjalanan sejarah perkembangan nalar manusia. Dalam melihat sistem sosial yang berkembang dengan cara demikian, tokoh Aleda dan Magnos dapat dijadikan penanda. Mereka berdua warga gereja, anak-anak Allah menurut kepercayaan agamanya yang menjadi pendurhaka. Menjalani hubungan sedarah yang terlarang. Mereka berdua masuk ke dunia scholastik, mempertanyakan keputusan-keputusan Tuhan dan merasa Tuhan sudah berlaku tak adil pada mereka dan memutuskan untuk meninggalkan Tuhan.
1 review
April 3, 2023
Dadaisme disini adalah tentang eksistensi. Bahwa setiap orang ingin selalu di anggap ada.
Menurutku tokoh utamanya adalah Michail. Malaikat kecil bersayap satu dengan warna hitam, sehitam arang dan mata berwarna ungu. Meskipun di mulai dengan Nedena, tapi Michail lah yang terus menjadi tokoh utama dan penyambung dari setiap cerita. Nedena membuka cerita dengan sangat menarik. Seorang anak yang suka menggambar langit dengan warna selain biru. Ia juga yang membuka cerita tentang Michail, malaikat imajiner hasil halusinasi Nedena akibat trauma yang berat dan tidak memiliki teman untuk melewati masa-masa terberatnya.

Nedena juga menjadi pembuka konflik-konflik lanjutan yang terikat dengan dia.

Kasus dalam Dadaisme adalah kasus yang banyak kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Tentang kasus perselingkuhan, inses, perjodohan, sisi gelap kehidupan. Yang terjadi entah karena alasan apapun. Manusia dengan sisi terang di dalam sisi gelapnya.

"Hitam itu agung, putih itu sahaja "- Michail.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Fara.
14 reviews
December 5, 2019
Gambaran novel diceritakan Dewi Sartika secara realitas. Memang yang paling menarik dan khas dari novel Dadaisme adalah keterkaitan antar tokoh dan juga peristiwanya. Cara Sartika menggambarkan aliran dadaisme dan juga psikologi sangat baik dengan gaya bahasa yang baik pula walaupun ia penulis yang masih muda. Dalam sebuah novel tentu terdapat amanat yang disampaikan oleh penulis baik secara tersirat maupun tertulis. Adapun amanat yang dapat saya tangkap dari novel ini lebih tertuju kepada para orang tua untuk tidak mendidik anaknya dengan kekerasan agar anak yang didik tidak tumbuh dengan kejiwaan yang menyimpang. Bagaimanapun juga, kasih sayang orang tua sangat dibutuhkan dalam proses perkembangan seorang anak.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Heru Prasetio.
210 reviews2 followers
September 28, 2020
Novel Dadaisme menjadi pemenang sayembara Dewan Kesenian Jakarta tahun 2003

"Novel ini alurnya acak-acakan tapi ceritanya blak-blakan dan lebih mengarah kepada tema gaib, surealis, psikologis, dan filsafat. Bersiaplah untuk merasakan sesaknya dada karena ada banyak kebetulan yang dibenturkan, melalui kekerasan dalam suasana jiwa yang garang, aneh dan gersang. Meremang dan gamblang. Bila tokoh yang satu mati, maka tokoh berikutnya jadi target sasaran dan mendekati ending barulah kita paham."
Profile Image for Just Avis.
131 reviews2 followers
March 29, 2021
Baiklah, sampai novel ini habis kulahap, barulah aku nggeh apa itu DADAISME, itupun dari hasil google. Aliran yang sulit dipahami, begitu arti sederhananya. Seperti itu pula novel ini tidak dapat dibaca sekali duduk. Sulit dipahami, bahkan sulit ditebak endingnya. Jalinan orang ke orang menguak masa lalu, sangat tidak dapat diduga. Ini sepertinya novel "berat" yang kusantap di awal 2021, hehehe. SUPEEEER SALUT sama mb Dewi yang sampai akhir menjaga kerahasiaan cerita dengan sangat baik.
12 reviews
December 6, 2019
Membaca buku ini serasa berlari.
Banyak sekali karakter yang ditampilkan tanpa ada perkenalan.
Pembaca diajak untuk berimajinasi, berpikir di luar nalar akan tetapi tidak ada alur cerita yang konkrit.
Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya, siapa sebenarnya Michail?
Profile Image for Della.
Author 2 books13 followers
May 18, 2011

Adalah Nedena, bocah usia 10 tahun yang sangat suka menggambar langit. Tapi langitnya selalu berwarna selain biru. Oleh gurunya, Nedena disarankan menemui teman si guru ini, seorang psikiater di kota bernama dr. Aleda. Kenapa psikiater? Karena selain tidak mewarnai biru pada langit, Nedena juga menolak untuk bicara. Padahal ia bisa. Tapi ia tak mau. Ia hanya mau bicara dengan Michail, bocah berpakaian abu-abu dan bersayap sebelah berwarna hitam. Itu pun hanya bicara dalam hati.

Sementara itu, Yossy, seorang anak perempuan lain di kota, juga sangat suka menggambar dan warna biru adalah warna yang paling sering ia gunakan.

Semua tokoh dalam novel ini berhubungan, beberapa di antaranya juga mampu melihat Michail.

Itulah sebabnya saya suka karya-karya Pemenang Sayembara Novel DKJ ini, sebab pasti memiliki tiga syarat ini:

1. Sudut pandangnya menarik

2. Nuansa lokalnya kental

3. Endingnya mengejutkan


Walaupun alur dalam Dadaisme agak membingungkan. Bila dalam Tanah Tabu, Pemenang I Sayembara Novel DKJ 2008, tokoh 'diaan' dan 'akuan' yang digunakan konsisten mengacu pada orang yang sama, dalam Dadaisme ada dua 'kamu', dua 'dia', dua 'aku' dan dua 'saya', sehingga butuh waktu untuk dapat 'masuk' ke dalam cerita. Misalnya, 'kamu' pada Bab 5 mengacu pada Tresna, ibu Yossy. Sehingga saat ada 'kamu' lagi pada Bab 12, saya langsung berasumsi ini pasti Tresna. Tapi sejalan dengan berlalunya cerita, saya tahu itu bukan Tresna.

Begitu juga 'saya' pada Bab 3, mengacu pada dr. Aleda sehingga saat ada 'saya' di dalam Bab 8, saya langsung mengaitkannya dengan dr. Aleda. Apalagi inti ceritanya adalah tentang seorang perempuan yang sedih dan kesepian karena akan ditinggal menikah oleh sahabat perempuan satu-satunya. Tapi kok terus si 'saya' ini meninggal di akhir cerita? Jadi ini bukan dr. Aleda, dong. Terpaksa saya merekonstruksi lagi cerita yang sudah terjalin dalam benak saya.

Kesan saya setelah membaca novel ini: capek.

Mungkin karena penulisnya terinspirasi dengan aliran dadaisme yang saya kurang jelas juga sih apa, bisa coba baca di http://sanggarnuun.or.id/kajian/2011/... yang review-nya jauh lebih bagus daripada saya ^_^

Tapi seperti dua novel Pemenang I yang telah saya miliki (Saman dan Tanah Tabu, novel ini juga meninggalkan bekas yang dalam di hati saya. Dalam. Banget. Khas pemenang novel DKJ, lah ^_^
Kalau kamu suka surealisme, kamu pasti akan suka novel ini ;)
Profile Image for Intan Pertiwi.
2 reviews1 follower
September 9, 2013
Identitas Buku :
Judul Buku : Dadaisme
Penulis : Dewi Sartika
Cetakan Pertama : April 2004
Penerbit : Mahatari

ketika sebuah tulisan menjadi
wajah seraut kanak-kanak di masa lampau
dan hidup dalam hati setiap manusia
untuk meloncat pada masa yang lain
mereka lupa bahwa kanak-kanak
adalah asal yang selalu menempati ruang
di dalam jiwa yang diagungkan sebagai kedewasaan.
(Dadaisme, DS)

Pendapat tentang isi buku :
Pada mulanya saya membaca novel ini, ada sekelebat kesan yang disandingkan pada alur pertama bahwa cerita ini mengembalikan saya pada ingatan masa kanak-kanak. Beberapa tokoh anak-anak sebagai kunci masalah, yang pada akhirnya saya tahu, mereka menggemari seni melukis dan lainnya memiliki gangguan psikologi juga bisa melihat bahkan berkomunikasi dengan sesosok makhluk bersayap satu berjubah hitam yang mereka panggil Michail.
Membaca Dadaisme seperti membuat silsilah tokoh dalam pikiran saya (pembaca) karena kekacauan penokohan yang akhirnya saya tahu bahwa semua orang saling berkaitan, membuat sebuah ikatan dan benang merah antar masalah yang hadir.
Dadaisme adalah buku selanjutnya yang pernah saya baca, yang memiliki kekuatan penokohan setelah buku karya Budi Darma berjudul Orang-Orang Bloomington berhasil mencuri ketertarikan saya dalam mengidentifikasi penokohan sebuah cerita.
Pada akhirnya kita sadar, alur yang digambarkan dalam Dadaisme ini sangatlah dekat dengan kehidupan kita. Peristiwa semisal perselingkuhan, poligami, kecacatan fisik, gangguan psikologi, gangguan seksual dan lainnya hadir dengan kemasan yang menarik dan membuat pembaca harus bersikeras memikirkan serta mengaitkan peristiwa apa yang sebelumnya terjadi dan telah dibaca pada halaman sebelumnya, dengan peristiwa yang terjadi pada halaman yang sedang dibacanya. []
Profile Image for fara.
284 reviews43 followers
August 19, 2022
Saya mengenal novel ini ketika duduk di bangku kelas 12 SMA. Dadaisme menceritakan tokoh-tokoh yang unik, dengan benang merah perselingkuhan dan anak-anak yang lahir darinya. Tiap tokohnya mempunyai konflik yang sedemikian rumit, namun mereka mempunyai cara sendiri untuk menyelesaikan permasalahannya masing-masing, misalnya dengan mengakhiri hidup orang lain atau dengan bunuh diri. Kekacauan tokoh dan alur dalam novel ini pada hakikatnya merupakan gambaran manusia masa kini, yakni tentang orang-orang yang sibuk menghadapi berbagai masalah tanpa sempat mendalami masing-masing masalahnya.

Bahasa dalam novel ini mudah untuk dimengerti. Bahasanya nggak menggunakan bahasa-bahasa yang rumit seperti novel-novel sastra serius lainnya. Dewi Sartika sangat berani dalam menuangkan ide dan pemikiran-pemikirannya karena pada dasarnya novel ini menceritakan seorang anak kecil dan halusinasinya tentang malaikat yang selalu datang saat seseorang merasa bingung ataupun sedih—hal yang cukup abstrak ini membuat Dadaisme bisa dikategorikan sebagai novel beraliran surealisme. Malaikat datang dan menjawab semua pertanyaan mengenai penyebab kesedihan anak itu. Tema psikologi, metafisik, dan filsafat yang dominan pada Dadaisme membawa novel ini keluar menjadi pemenang sayembara menulis Dewan Kesenian Jakarta tahun 2003. Selain itu, Dadaisme juga memuat tema percintaan, keluarga, dan kritik sosial.

Sayangnya, saya nggak menemukan korelasi antara judul (aliran Dadaisme) dengan keseluruhan isi novelnya.
Profile Image for Darnia.
769 reviews113 followers
March 30, 2015
Buku ini hasil rekomendasi mbak Mide karena gw pernah komplen tentang banyaknya tokoh yg muncul dan saling terkait di sini. Bener sih....tokohnya banyak! Beberapa kali kudu buka halaman sebelumnya, tokoh ini sama tokoh itu hubungannya apa, ketemu di mana, de es be. Masalah yg harus dihadapi tokoh-tokoh kita juga beragam, namun temanya satu: kesedihan. Sedih yg kelam dan gelap. Bisa karena kehilangan, perselingkuhan, aib, homoseksual hingga incest.

Penghubung kisah satu dengan lainnya adalah sesosok malaikat dalam wujud bocah laki-laki (?) berambut hitam, berjubah putih keabu-abuan dan memiliki sebuah sayap berwarna hitam legam bernama Michail (Michael+Mikail? CMIIW ya). Menurut buku ini, jika Michail ini muncul, maka ada sesuatu yg menyedihkan yg sedang kita hadapi, bahkan gak jarang berakhir dengan kematian. Brilian sekali cara Dewi Sartika menuturkan tokoh-tokohnya lewat bab dewi bab hingga di akhirnya menjadi satu kesatuan kisah.

Buku yg menarik untuk disimak, meski pas bab Ken dan Jing, pengarang suka ketuker-tuker dalam penyebutan tokohnya, jadi gw suka lost.
Profile Image for Yuu Sasih.
Author 6 books46 followers
January 31, 2015
3,5 bintang.

Mungkin akan lebih tepat kalau cerita ini dibilang kumpulan cerita--bukan cerpen--yang disatukan dengan beberapa jalinan benang merah, setting besar cerita. Inti kisah ini sepertinya adalah si Michail, malaikat bersayap hitam yang cuma sebelah. Pertama dia bersama seorang anak yang anti menggambar dengan warna biru, Nadena. Dari anak itu, rangkaian kejadian terus bersambung seperti sumbu petasan yang disulut menyambung hingga kisah kembali berakhir di Nadena.

Secara kasat mata, agak susah tertarik pada buku ini. Kisahnya biasa saja, dengan gaya penceritaan yang juga sudah banyak dipakai. Tapi ketika kembali disesuaikan dengan judulnya, Dadaisme, saya rasa cerita ini sudah cukup berhasil menyampaikan maksudnya, walau kontennya masih lebih terasa seperti "ilmu keras" yang dingin dan diksinya kurang melibatkan emosi--yang mana jadi membuat ceritanya terkesan hambar dan tidak "involving" pembaca kalau tidak memahami makna kisahnya. Secara konten, cocok lah jadi pemenang DKJ.
Profile Image for Taufiq Ramadhan.
49 reviews5 followers
January 10, 2012
fiksi kelam!
gambaran masyarakat jaman sekarang tergambar secara realistis (dan sadis) di buku ini. mulai dari perjodohan adat, aib keluarga, pengorbanan, perselingkuhan, poligami, inces, cinta sesama jenis tergambar di buku ini. Alurnya random, penokohan yang kacau, dan sudut pandang yang berbeda ditiap bagiannya membuat saya 'terpaksa' membaca dulu baru bisa memahami.
Keputus-asaan, luka, cinta yang 'terlarang', penderitaan digambarkan dg sosok imajinatif berupa sesosok malaikat hitam kecil bermata ungu bersayap satu yang selalu hadir disetiap kematian.
Awalnya saya ragu untuk meneruskan membaca novel ini, karena sangat acak, tapi setelah sampai di tengah, perlahan mulai paham hubungan antara masing2 tokoh. Rumit. Bisa dibilang saya juga berdarah-darah membaca novel berdarah ini.
Tokoh2 di novel ini sangat amat mengagungkan cinta, sampai2 melakukan apapun demi cintanya.. Penasaran? silakan baca. *tapi jangan dibaca malam2.. :)
Profile Image for Mandewi.
575 reviews10 followers
August 10, 2015
Dari berbagai sumber, aliran Dadaisme sering kali mengeluarkan ide – ide, celaan, dan kemarahan yang dituangkan dalam seni. Ciri khas Dadaisme (yang rada nyambung dengan isi novel ini) adalah menolak setiap kode moral, sosial, maupun estetik.

Kalau memang pengertian di atas yang dimaksud penulis, maka judul novel ini cocok dengan isinya. Dalam novel Dadaisme tidak ada keindahan. Isinya adalah gambaran hal-hal buruk di masyarakat, mostly, pembunuhan dan ketidaksetiaan.

Tapi secara penulisan, Dadaisme agak mbingungi. Tidak ada satu konflik utama yang diangkat melainkan kumpulan dari berbagai isu dan masing-masing tokohnya saling terkait, baik secara langsung maupun tidak. Jadi, beberapa bab bisa dianggap sebagai cerpen lepas.

Permasalahan-permasalahan yang diangkat, bagus. Tapi eksekusinya kurang oke menurut saya.

3,5 bintang aja.
Profile Image for Ririn.
739 reviews4 followers
March 18, 2010
seingetku covernya bukan ini.
buku ini merupakan campur aduk beberapa cerita yang pada akhirnya terhubung oleh suatu benang merah. rasa surealis and dadais sangat kental sampai2 bingung mengaitkan artinya - tapi bukankah itu yang indah dari sebuah surealisme?

hal yang mengganggu hanyalah penggunaan beberapa kata dan kalimat yang kurang terpadu padan dengan baik sehingga kadang membuat dahi mengernyit. tp karena ini adalah hasil sayembara jadi mungkin keorisinilan karya (tanpa banyak diutik2 lagi) yang dipertahankan *shrugs*
Profile Image for Lucky.
Author 3 books6 followers
March 12, 2014
Dadaisme--terlepas dari yang disebut-sebut sebagai sebuah aliran seni lukis-- merupakan novel yang kaya akan perenungan; pertanyaan kembali akan makna hidup, rasa takut akan mati, dan segala masalah yang dihadapi manusia secara universal.

Kekhasan novel ini memang terletak pada plot, sudut pandang dan gaya penceritaan atau penulisan narasi, serta keterkaitan antartokoh dan peristiwa-peristiwa di dalamnya. Jika dikaji lebih lanjut, tentu naratologi adalah teori yang tepat; story dan discourse.


Profile Image for Muhammad Rajab Al-mukarrom.
Author 1 book28 followers
January 3, 2026
Mengejutkan! Sama sekali enggak punya bayangan Dewi Sartika menulis novel ini dengan cara begini. Pas baca cuma bisa dibuat geming & ganjil dengan kisah serta gaya penulisannya. Dadaisme ini mengingatkan beberapa novel lain, yang lahir setelahnya, yang punya sedikit kesamaan sepertinya, bisa dibilang: Jukstaposisi, Semusim dan Semusim Lagi, Di Tanah Lada, hingga Semua Ikan di Langit. Senang rasanya novel-novel seperti ini masih dapat “tempat” di kesustraan Indonesia lewat ajang Sayembara Novel DKJ.
Profile Image for Irene Angelina.
24 reviews2 followers
September 9, 2012
"Hitam itu agung, putih itu sahaja."~

Dengan iming-iming sebagai juara DKJ, novel sastra ini menarik perhatian saya sebagai penggemar karya sastra Indonesia. Secara keseluruhan, novel ini memiliki setting yang kelam, dimana Michail, malaikat hitam bersayap sebelah sebagai pusatnya. Cukup mengesankan, namun sejujurnya alur cerita yang terlalu rumit dan tokoh yang terlalu banyak agak melelahkan pembaca.
4 reviews
May 19, 2010
Tema dan isi cerita Dadaisme bukan sepenuhnya hal baru. Akan tetapi, penyajian cerita yang seperti potongan puzzle terserak dan fantasi tentang malaikat kecil bermata ungu membuat Dadaisme menjadi bacaan yang menarik.
Displaying 1 - 30 of 40 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.