'Aku terbangun di tepi pantai. Matahari tampak ungu. Seperti saat pertama aku bertemu Kekasih. Tak hanya matahari yang terlihat sama. Semuanya tampak seperti kembali ke saat itu. Saat di mana aku tersenyum menggenggam tangannya. Aku mencoba berdiri. Namun tubuhku seperti melekat di pasir. Kurasakan sebuah benda di telapak tanganku. Ada secarik kertas di sana. Aku mendapati tulisan Kekasih tergores dengan tinta biru.'
Cerita-cerita dalam buku ini memiliki rasa seperti dongeng sebelum tidur. Ada kisah tentang perempuan yang mencintai seorang lelaki dari dunia berbeda, penari yang berubah menjadi marionette (boneka kayu), gamelan yang menyimpan banyak kenangan atas seorang ibu, dan kisah rumah hujan yang penuh keajaiban.
Mengambil gaya penuturan surealis, Dewi Ria Utari melibatkan juga idiom-idiom dari dunia tari, yang kerap menjadi sumber inspirasinya dalam menulis. Ilustrasi karya Lambok Hutabarat yang berkarakter kuat pun turut mempercantik buku ini.
Fransisca Dewi Ria Utari ini lahir di Jepara, 15 Agustus 1977. Usai menyelesaikan kuliahnya di jurusan Komunikasi Massa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret, Surakarta pada tahun 2000, ia mengawali karir jurnalistiknya antara lain di Detik Com, Koran Tempo, dan saat ini menjadi karyawan di harian Jurnal Nasional.
Hal yang saya suka kalo baca cerpen : cerita singkat, namun maknanya dalam.
Hal yang saya tidak suka kalo baca cerpen : saking dalemnya ampe kadang ga ngarti :p plus terkadang ceritanya walo pendek, serem pulak :(
Secara keseluruhan saya lebih suka kumpulan cerpen karangan Dewi Ria Utami ketimbang Ucu Agustin... Oia, satu lagi, cover Marionette ini bagus sekali, kadang saya berhenti baca cuma buat menikmati covernya aja *obsesi menari balet yang tidak kesampaian*
Mencari buku ini setelah terpilih sebagai nominee KLa, berharap isinya bagus karena sudah terpilih. Ternyata, bukan hanya covernya saja yang aku suka , kumcer ini juga menarik.
Berisi 13 cerpen karya Dewi Ria Utari yang sebelumnya pernah dimuat di beberapa harian nasional. Cerita-cerita yang ada ngga semua dapat secara jelas ku mengerti, tapi tetap saja terasa menarik untuk dibaca dan tentu saja unik.
Dewi Ria Utari mengemas cerita-cerita tentang ragam tarian dengan cukup memikat. Gaya bahasanya mengalir sekali. Namun dari 13 cerpen rasanya terjadi ketimpangan yang lumayan dalam. Ini cerpen-cerpen favorit saya: 1. Rumah Hujan 2. Aksara 3. Merah Pekat 4. Perbatasan 5. Topeng Nalar
saya tak sengaja menemukan buku ini di salah satu pameran buku dan tertarik oleh gambar covernya. Agaknya kali ini saya tidak tertipu oleh sebuah cover, karena isinya sama menarik dengan covernya.
Buku ini berisi 13 cerpen karya Dewi Ria Utari yang dimuat di berbagai koran nasional. Antara lain Kekasih, Malam Untukmu, Marionette, Rumah Hujan, Hari Kelima, Klise, Aksara, Gamelan, Mimpi Untuk Dresden, Sinai, Merah Pekat, Perbatasan, Topeng Nalar.
Kekasih menceritakan seorang wanita yang mempertahankan status sebuah hubungaan jarak jauh, hanya karena image.
Malam Untukmu menceritakan seorang wanita yang sangat mencintai pacarnya, hanya karena ia pacar ketiganya. Ia begitu terobsesi pada angka 3. Dan ketika si pacar hendak meninggalkannya, ia melakukan sebuah tindakan nekat. Hanya karena pria itu pacar ke-tiganya.
Marioette bercerita tentang seorang perempuan yang mencintai seorang lelaki dari dunia berbeda. Penulis mengambil karakter boneka kayu yang tidak mungkin tenggelam dan makhluk dari laut untuk menggambarkan kemustahilan bersatunya cinta mereka.
Rumah Hujan bercerita tentang seorang anak yang mengalami keajaiban-keajaiban kecil di sebuah rumah yang disebutnya sebagai rumah Hujan. RUmah itu adalah rumah dudhenya. Narpati, tokoh utama dalam cerita ini terus bertanya tentang hal-hal mustahil yang dapat dilakukan budenya seperti terbang melayang. Narpati belum menyadari kebenaran mengenai keluarganya, yang ternyata adalah keluarga peri.
Klise bercerita tentang pertemuan Sara dengan seorang pria muda yang mempunyai seorang putri kecil dan sedang mengurus perceraian dengan istrinya. Sara merasa kisah cintanya dengan pria itu sangat klise. Dan ending dari cerita ini sungguh tak terduga.
Gamelan bercerita tentang tokoh Aku yang belum jelas apa wujudnya (walaupun sudah bisa ditebak) Ia mengamati dan mengajari Arum, seorang gadis kecil, untuk bermain gamelan dan menari. Ternyata tokoh Aku adalah arwah ibu Arum.
Sedang perbatasan bercerita tetang dunia para waria. Dimana tidak ada batas yang jelas antara laki-laki dan perempuan.
Ide-ide yang disajikan dalam cerpen-cerpen yang ada di buku ini unik. Gaya yang surelis membuat pembaca bertanya-tanya, "sebenarnya siapa sih si tokoh ini? kok bisa begitu?" atau "apa sih maksudnya?". Meskipun ada beberapa cerpen yang tertebak garis cerita dan endingnya, saya sangat menikmati membaca buku ini. Bahasa yang digunakan penulis sangat beraroma sastra , tidak terlalu mudah, namun dapat dipahami. Belum lagi kejutan-kejutan dalam cerita yang kadang tidak bisa tertebak endingnya.
Yang asik dari membaca kumpulan cerpen ialah tak perlu berlama-lama untuk menyelesaikan sebuah buku. Sedang yang menarik tapi juga membuat sebal ialah rasa penasaran yang kadang tak terjawab karena pendeknya cerita.
Over all, saya suka buku ini: FIksi, Surealis, dan sarat akan sastra.(less)
'Kekasih Marionette' merupakan judul sebuah kumpulan cerita pendek karya Dewi Ria Utari, seorang jurnalis yang juga merupakan penulis fiksi dan penggiat kebudayaan, khususnya tari. Judul buku tersebut ternyata diambil dari dua judul cerpen yang ada di dalamnya, 'Kekasih' dan 'Marionette'. Secara umum, saya cukup menyukai beberapa kisahnya yang bernuansa realisme magis dan juga yang berlatar belakang budaya Jawa, terutama berkenaan dengan tarian. Karya cerita pendek yang paling saya sukai justru berada di halaman-halaman akhir buku, seperti 'Gamelan', 'Merah Pekat', 'Perbatasan', dan 'Topeng Nalar'. Keseluruhan kisah tersebut diceritakan dengan gaya realisme magis dan agak surealistik yang dipenuhi dengan pemaknaan kembali mengenai kehadiran dan kehilangan, kesetiaan dan pengkhianatan, serta kehidupan dan kematian. Kisah-kisah tersebut cukup bisa membawa saya merasakan emosi yang ingin dimunculkan oleh pengarang.
Namun ada beberapa cerita yang menurut saya kurang cocok untuk ditampilkan bersamaan dengan karya-karya tersebut di atas yang menurut saya telah senyawa dan sejiwa (apabila pengarang memang menghendaki kesesuaian tema pada kumpulan cerpennya ini). Cerita tersebut adalah 'Hari Kelima' dan 'Klise'. Seperti misalnya pada cerpen 'Hari Kelima'. Cerita ini memang didedikasikan untuk kawula remaja karena sebelumnya telah diterbitkan di majalah 'Spice', namun bagi saya cerpen ini memiliki 'cacat' yang cukup menganggu ketika membacanya. Contohnya saja, pada alur cerita tersebut, Karina seorang cewek gaul yang tajir, yang katanya ia telah 'boring ngabisin duit untuk belanja' tiba-tiba mampu menceritakan kisah cintanya yang kandas kepada Peru, seorang cewek tomboy berkulit eksotis yang tak begitu dikenalnya. Juga ada detail yang sedikit mengganggu, yaitu ketika perbincangan mereka diwarnai inkonsistensi penggunaan kata ganti yang berubah-ubah, kadang 'gue-elu', lalu tiba-tiba berpindah haluan menjadi 'aku-kamu'. Mungkin memang buku ini dicetak untuk merangkum keseluruhan cerita pendek yang pernah dibuat oleh Dewi Ria Utari, namun alangkah sayangnya beberapa cerpen seperti yang telah saya sebutkan di atas kurang cocok hingga terkesan 'merusak' cerpen lainnya yang sebenarnya bagus.
Baru baca 8 cerpen. Kekasih, Malam Untukmu, Marionette, Rumah Hujan, Hari Kelima, Klise, Aksara, Gamelan, Mimpi Untuk Dresden.
Endorsement utk buku ini lumayan menarik minat saya utk membacanya. Tema-tema surealis, bagus sbg nutrisi imajinasi saya. Namun, tak semuanya cerita bercitarasa seperti itu.
Hari Kelima: it's so chicklit. Rasanya tak cocok masuk dalam buku ini (apalagi dgn endorsement di halaman belakang yg demikian)
Klise: walaupun masuk harian Media Indonesia, saya seperti membaca cerpen dalam majalah wanita. Klise, endingnya pun, klise (twist yg klise). Sesuailah sama judulnya.
Well, untuk cerpen-cerpen lain yg tidak saya komentari, saya cukup puas. Ceritanya menarik. Endingnya bagus. Beberapa cerita memang menyuguhkan tema tari-tarian, pasti karena penulisnya memang menggeluti dunia itu.
Empat cerpen lainnya yg belum saya baca, akan mempengaruhi rating yg akan berikan nanti. Hehehe... We'll see!
22 Agustus: akhirnya, selesai sudah membaca semua cerpen. Hmm.. favorit saya... selain Hari Kelima dan Klise aja deh. Hehehe.. selebihnya, bagus. Ya, saya menikmatinya. :)
Udah lama ngga baca buku yang bener-bener gue nikmati. Sekarang ketemu buku ini.
Waktu pertama ngeliat, semacam ngga yakin buku ini bakalan bagus. Akhirnya minta pendapat di Geng Cempreng apakah buku ini patut untuk dibaca atau tidak. Soalnya nemunya juga di hamparan diskonan buku sepuluhribuan. Kemudian Ayu bilang buku itu bagus dan dia suka walaupun agak-agak absurd ceritanya.
Menyelesaikan buku ini dalam waktu kurang dari dua jam saja membuat gue merasa membaca bukunya ngga pake napas. *yakali baca buku satu setengah jam ngga pake napas ya?* Soalnya banyak banget kata-kata indah bertaburan aduuuuuhhhh x'3
Makin dibaca dan diresapi, makin meyakinkan bahwa memang cocok banget buku ini diberi judul Kekasih Marionette.
Kekasih itu, indah kan? Cahaya yang binarnya menghiasi mata kita hanya dengan melihat sosoknya bahkan dari kejauhan? Iya, kekasih itu indah. Dan buku ini memberi lagi debaran-debaran kecil di dalam dada, yang kembali meyakinkan bahwa mencintai itu indah. Dan bagaimana cara kita menjalani cinta itu adalah pilihan.
Beberapa kisah favorit saya di antara 12 kisah yang terangkum dalam buku ini adalah yang berjudul "Malam Untukmu" dan "Hari Kelima". That story made me suprised :0 Ending yang di luar dugaan menjadi salah satu daya tarik dalam kisah ini. Contohnya, dalam kisah "Hari Kelima". Sebenernya ceritanya itu biasa, tapi si penulisnya ( Mbak Dewi Ria Utari-nya ) mengemasnya dengan apik. Saya dibuatnya mengikuti alur dari cerita tersebut dan mendapati kata "lho" pada saat saya selesai membacanya. Ada lagi kisah yang membuat saya lebih "lho" lagi. Judulnya "Malam Untukmu". Mungkin saya akan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan "Kay" (tokoh utama)jika itu terjadi pada saya hehehe, walaupun agak sadis sih. 10 kisah lainnya, ada yang saya mengerti maksudnya dan ada yang tidak hahaha. Beberapa yang saya tidak mengerti adalah yang berjudul "aksara" dan "sinai". Hem, well mungkin aku akan mendapat jawabannya dari teman lain yang sudah membaca buku ini :)
Surealis dan masalah-masalah yang dihadapi oleh perempuan..adalah nafas cerita dalam kumpulan cerita pendek ini..tentang cerita cinta segitiga yang rumit dan diluar nalar..dan secara ajaib kita akan mengetahuinya diakhir cerita masing-masing kisahnya..ohh..sedikit mengejutkan! Ternyata akhirnya begini ya..seperti dalam cerita “Kekasih”, cerita dengan sentuhan cerita anak ABG dalam ”Hari Kelima”, cerita cinta terlarang dalam “Klise” dan cerita cinta yang mustahil dalam ”Mimpi untuk Dresden”. Ada juga kisah dengan latar belakang tari, seperti yang digeluti oleh Dewi Ria Utami..seperti kisah belerina dalam cerita “Maroinette”, dan kisah tentang penari tradisional Jawa(?) dalam kisah “Topeng Nalar” dan “Gamelan”. Dan tema cerita yang terakhir adalah kisah perempuan melewati batas..batas dunia realis dan khayalan, seperti dalam kisah “Perbatasan” dan “Merah Pekat”.
Saya pertama kali membaca karya Dewi Ria Utari di buku 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2009: Anugerah Sastra Pena Kencana, cerpen beliau berjudul Perbatasan dan saya sangat menyukainya. Aura surealitas memang sudah terendeus dalam kisah ini. Sayangnya saya belum menemukan buku kumpulan cerpen Dewi di mana pun (karena saya tidak membacanya saat dimuat di media massa). Sewaktu membeli buku Kekasih Marionette ini sebenarnya saya tertarik dengan judulnya dan juga covernya! Sama sekali saya tidak ingat tentang Dewi! Saya baru menyadarinya belakangan. Memang tidak semua cerpennya berkesan surealis (bukankah seorang penulis juga harus bereksperimen?) tapi Anda tidak akan menyesal membacanya.
sekarang tinggal cari kumpulan cerpen penulis Apel dan Pisau nih...
Bukunya dapat di jejeran buku diskonan dan covernya yang eye catchy langsung buat aku ambil aja, wong cuman 15ribu. Thanks God, it's a big discount for classy stories.
Cerita2 di dalamnya cukup berani dan memang banyak kejutan. Sesuai selera. Rumah Hujan menyediakan banyak misteri dan kelam. Gamelan itu walaupun bisa ketebak, bisa ngambil warna background berbeda dari cerita lain. Dan Klise...sesuai dengan judulnya. Hehe.. Dan paling juara kayaknya Perbatasan, hmm...gimana ya, judulnya aja perbatasan, tapi aku gak bisa ngikutin batasan imajinasi si mbak dewi. hehe
Ternyata Dewi Ria Utari ada buat buku 1 lagi. Pengen cari.
Dewi Ria Utari adalah salah satu cerpenis perempuan Indonesia yang saya sukai karyanya. Cerpen di genre surealis Dewi Ria Utari bagi saya amat menakjubkan sekaligus mengaggumkan. Terlebih pada cerpen-cerpen yang terhimpun dalam buku ini, bagi saya, buku ini adalah pencapaian karya fiksi Dewi Ria Utari yang terbesar.Kekasih Marionette dan 12 Kisah LainnyaDewi Ria Utari
Yang membuat saya tertarik dengan kumpulan cerpen ini, pertama: covernya menarik; kedua: Dilengkapi ilustrasi.
Dari keduabelas cerita pendek yang disuguhkan, empat diantaranya: Marionette, Aksara, Perbatasan, dan Topeng Nalar -lah yang saya suka.
Keseluruhan membaca karya Dewi Ria Utari tak perlu menggunakan nalar, cukup nikmati saja setiap rangkaian kata yang disuguhkan penulis. Setelah tuntas saya baca, satu lagi yang menarik, rata-rata tema yang diangkat mengenai seni tari. Masih sangat jarang penulis Indonesia yang mengangkat tema tersebut untuk tulisannya.
Sangat suka dgn kutipan kata2 didlm cerita : Mimpi untuk Dresden ( Dalam kehidupan manusia tidak akan bisa memperlihatkan kepasrahan dan ketelanjangan yang mutlak. Dalam keadaan mati, entah terpaksa atau tidak, manusia memperlihatkan pose-pose yang tidak akan bisa dilakukan kehidupan) Sarat akan makna sekali...
cerita2nya ok. Cerita2 yg jadi favorit saya adalah Hari Kelima,Klise, Aksara, dan Topeng Nalar. Sementara Kekasih dan Marionette agak membingungkan. Untuk Merah Pekat, cukup bagus, hanya saja saat ini saya bosan baca cerita vampir. jadi kurang menggigit :)
Buku ini berisi kumpulan cerita milik Dewi Ria Utari... Buat kamu yang doyan berfantasi, buku ini cocok banget buat kamu. Dengan dasar seni yang dimiliki penulis, dalam kisah-kisah yang terdapat di dalam buku ini kita juga disuguhi beberapa cerita yang berbau kesenian, terutama tari.
Beberapa kisah di dalam buku ini sudah pernah saya baca di Kompas dan saya lumayan suka cara berceritanya yang cenderung apa adanya. Saya justru lebih suka cerita-cerita yang pernah masuk Kompas dan dimasukkan dalam buku ini dibanding cerita-cerita lainnya.
Baca cerpen pertama, saya nggak suka rasanya aneh. Tapi ternyata makin lama cerpennya makin bagus, ternyata cerita di buku ini disusun sesuai tahun penciptaan, paling depan mulai tahun 2003. Jadi baca ceritanya seperti merasakan perkembangan si penulis menjadi penulis keren dari tahun ke tahun.
Akhirnya aku memutuskan memberi 4 bintang untuk buku ini. Nggak dipungkiri, semakin tebal halaman yg habis kubaca aku semakin menyukai cerita yang kubaca. Semakin sublim, semakin sureal, semakin tak tertebak maknanya.
Kekasih, pernah kutandakan ribuan kecupan di tubuhmu, juga di tubuhnya.
Himpunan cerpen yang tergabung dalam Kekasih Marionette mencari imajinasi yang terselip di balik cerita sederhana namun seringkali berujung kejutan di akhir kata.
Saya tertarik membaca buku ini karena cover dan judulnya. Awalnya saya pikir judulnnya adalah Kekasih Marionette, padahal 'Kekasih' dan 'Marionette' adalah dua cerita yang berbeda.