saya tak sengaja menemukan buku ini di salah satu pameran buku dan tertarik oleh gambar covernya. Agaknya kali ini saya tidak tertipu oleh sebuah cover, karena isinya sama menarik dengan covernya.
Buku ini berisi 13 cerpen karya Dewi Ria Utari yang dimuat di berbagai koran nasional. Antara lain Kekasih, Malam Untukmu, Marionette, Rumah Hujan, Hari Kelima, Klise, Aksara, Gamelan, Mimpi Untuk Dresden, Sinai, Merah Pekat, Perbatasan, Topeng Nalar.
Kekasih menceritakan seorang wanita yang mempertahankan status sebuah hubungaan jarak jauh, hanya karena image.
Malam Untukmu menceritakan seorang wanita yang sangat mencintai pacarnya, hanya karena ia pacar ketiganya. Ia begitu terobsesi pada angka 3. Dan ketika si pacar hendak meninggalkannya, ia melakukan sebuah tindakan nekat. Hanya karena pria itu pacar ke-tiganya.
Marioette bercerita tentang seorang perempuan yang mencintai seorang lelaki dari dunia berbeda. Penulis mengambil karakter boneka kayu yang tidak mungkin tenggelam dan makhluk dari laut untuk menggambarkan kemustahilan bersatunya cinta mereka.
Rumah Hujan bercerita tentang seorang anak yang mengalami keajaiban-keajaiban kecil di sebuah rumah yang disebutnya sebagai rumah Hujan. RUmah itu adalah rumah dudhenya. Narpati, tokoh utama dalam cerita ini terus bertanya tentang hal-hal mustahil yang dapat dilakukan budenya seperti terbang melayang. Narpati belum menyadari kebenaran mengenai keluarganya, yang ternyata adalah keluarga peri.
Klise bercerita tentang pertemuan Sara dengan seorang pria muda yang mempunyai seorang putri kecil dan sedang mengurus perceraian dengan istrinya. Sara merasa kisah cintanya dengan pria itu sangat klise. Dan ending dari cerita ini sungguh tak terduga.
Gamelan bercerita tentang tokoh Aku yang belum jelas apa wujudnya (walaupun sudah bisa ditebak) Ia mengamati dan mengajari Arum, seorang gadis kecil, untuk bermain gamelan dan menari. Ternyata tokoh Aku adalah arwah ibu Arum.
Sedang perbatasan bercerita tetang dunia para waria. Dimana tidak ada batas yang jelas antara laki-laki dan perempuan.
Ide-ide yang disajikan dalam cerpen-cerpen yang ada di buku ini unik. Gaya yang surelis membuat pembaca bertanya-tanya, "sebenarnya siapa sih si tokoh ini? kok bisa begitu?" atau "apa sih maksudnya?". Meskipun ada beberapa cerpen yang tertebak garis cerita dan endingnya, saya sangat menikmati membaca buku ini. Bahasa yang digunakan penulis sangat beraroma sastra , tidak terlalu mudah, namun dapat dipahami. Belum lagi kejutan-kejutan dalam cerita yang kadang tidak bisa tertebak endingnya.
Yang asik dari membaca kumpulan cerpen ialah tak perlu berlama-lama untuk menyelesaikan sebuah buku. Sedang yang menarik tapi juga membuat sebal ialah rasa penasaran yang kadang tak terjawab karena pendeknya cerita.
Over all, saya suka buku ini: FIksi, Surealis, dan sarat akan sastra.(less)