"Itulah pesannya. Matilah sebelum kau mati. Hanya dengan melupakan keindahan sangkar burung dan rasa manisanlah aku bisa temukan jalan pulang."
Melalui buku ini, Rumi memberikan kita kearifan yang dalam dan universal. Lewat celoteh burung kakaktua misalnya, seperti dikutip di atas, Rumi menunjukkan kepada kita tentang tujuan hidup. "Matilah sebelum kau mati", mengingatkan bahwa kita terlahir untuk mati. Kematian akan datang menjemput sekalipun kita berusaha kabur darinya hingga ujung langit atau sembunyi di benteng besar dan tinggi.
Demikianlah, Rumi mengingatkan kita tentang hakikat hidup melalui kakaktua. Di samping kisah tentang kakaktua, ada banyak kisah menawan lainnya yang akan memberi kita banyak hikmah. Dilengkapi dengan lukisan dari seorang pelukis wanita muda dari tradisi lukisan miniatur Indo-Pakistan, cerita Rumi dihadirkan kembali sehingga lebih mudah dibaca.
Dr Abdul Rahman Azzam is a graduate of Oxford University where he completed his BA and PhD in history. He is the author of RUMI AND THE KINGDOM OF JOY (Muhammadi Trust, 2000) and in 2007 Longman published his biography of Saladin to critical acclaim. The Edinburgh Evening News called it ‘a comprehensive survey not just of the man, but of the age in which he lived’, the FT Weekend described it as ‘absorbing’ and The Irish News praised the book as ‘timely and well-written'. SALADIN was a bestseller when published in Arabic and was selected in Jordan as one of the top one hundred books on Islam. THE OTHER EXILE, about the St Helena Island hermit, Fernão Lopes, a real-life Robinson Crusoe, was published in May 2017, and he is working on THE RETURN OF SEBASTIAN.
Jikalau engkau tengah mencari, carilah kami dengan riang, karena kami tinggal dikerajaan kebahagiaan.
Pada tahun 1219 (jadul banget) Faridudin Attar seorang penyair mistik besar yang menulis buku "Conference of the Birds/Musyawarah Para Burung" diperkenalkan kepada seorang bocah berusia 12 bernama Maulana Jalaludin Rumi dan meramalkan bahwa kelak Rumi akan segera "menyalakan api di hati para pecinta mistik", dan memang demikianlah adanya. Rumi sendiri sangat mengagumi Attar sepanjang hidupnya dan kerap berkata bahwa Attar "sudah melintasi tujuh kota Cinta, sementara aku masih berdiri di pojok sebuah jalan sempit."
Buku ini berisi sebagian kisah2 yang ditulis dalam tradisi sufi yang diambil dari karya besar Rumi, Matsnawi-i Ma'nawi yang terdiri atas 25.000 kuplet dalam bahasa Turki, Urdu, Bengali dan Sindhu. Bisa dibilang buku ini hanya sebagai "pengantar" saja ato icip2 sebelum menjajal kisah2 lainnya secara lebih lengkap. Yah garis besarnya mungkin buku Matsnawi ini kumpulan cerita berbentuk legenda, fabel maupun parabel yang memiliki kearifan yang sifatnya universal.
Kisah2 yang memang menarik seperti kisah terkenal seperti burung kakatua yang kepalanya jadi botak setelah dipentung tuannya gara2 menumpahkan sebotol minyak wangi yang kemudian dengan jitu "menipu" tuannya dengan berpura-pura mati setelah mendapat pesan dari sesama burung kakatua yang ditemui tuannya. Dan sebelum sang kakatua pergi meninggalkan tuannya yang masih terbengong-bengong dia sempat berkata. "Selama bertahun-tahun aku tinggal di sangkar yang indah ini. Dan aku mengira kebahagiaan adalah seiris manisan. Tapi jauh dilubuk hatiku aku tahu bahwa aku tidak dilahirkan ke dunia hanya untuk makan manisan. Matilah sebelum engkau mati. Hanya dengan melupakan keindahan sangkar burung dan rasa manisan lah aku bisa temukan jalan pulang."
Sebuah tafsiran atau katakanlah sebuah "aplikasi sederhana" versi seekor burung kakatua mengenai "Matilah kamu sebelum mati" seperti yang pernah disabdakan Rasulullah.
kisah lain seperti Nabi Sulaiman dan malaikat Izrail yang kebingungan karena dia ditugaskan mencabut nyawa di Hindustan sementara orang yang harus dicabut nyawanya justru sedang berada disebuah rumah di Palestina. cerita menarik lainnya seperti kisah dua pemburu beruang yang diberi nasihat bijak oleh seekor beruang yang tidak bahagia. "Jangan engkau jual kulit beruang sebelum kau memburu beruangnya" atau kisah lucu tentang seorang mahsiswa filsafat yang mencoba mengaplikasikan ilmu filsafat yang dipelajarinya untuk memakan buah-buahan secara gratis disebuah kebun. Ketika sang penjaga kebun memintanya turun dan berhenti memakan buah seenaknya di kebun orang, sang mahasiswa berkilah, "Ini kebun milik Tuhan dan aku memakan buah-buahan milik Tuhan yang di berikan oleh-Nya. Setelah berpikir sejenak sang penjaga kebun menjawab, "Baiklah kalau begitu." dan membiarkan sang mahasiswa memakan buah-buahan dengan penuh kemenangan. Sekitar satu jam kemudian sang mahasisawa merasa kenyang dan memutuskan untuk turun. Begitu turun dari pohon dia langsung dipentung oleh sebatang tongkat dan diburu oleh sang penjaga. "Apa yang kau lakukan?" jerit sang mahasiswa sambil memegangi kepalanya yang sepertinya mulai benjol kena pentung. Sang penjaga kebun lantas menjawab, "Ini tongkat milik Tuhan, dan aku memukulimu dengan tongkat milik Tuhan yang diberikan oleh-Nya." Hahahaha... Dan masih banyak cerita-cerita menarik lainnya.
Catatan buat penerbit hal 185-192 kebalik tuh! gemana seh? jadi serasa baca Al Quran dari kanan ke kiri.
Dengan mengakui kemiskinannya sendiri, seseorang mengakui dengan syukur hadiah dari Tuhannya dan dengan menerima ketebatasannya, seseorang mengakui rakhmat Tuhan yang tak berbatas
ESF mencoba menari dan ber Whirling Dervish ria bersama Rumi sampe pusing sendiri
Tak banyak yang mengetahui sejarah Nod’s Limbs, kota kecil tempat Edgar dan Ellen tinggal. Bertahun – tahun berlalu ketika seorang lelaki bernama Nod untuk pertama kalinya membangun sebuah pabrik lilin. Puluhan orang berdatangan untuk bekerja di pabrik miliknya. Entah berapa lama yang dibutuhkan sehingga pabrik milik Nod menjadi penyedia lilin tervesar di wilayah tersebut. berita kesuksesannya mendatangkan lebih banyak pendatang. Satu demi satu pekerja memilih tinggal dibanding bolak balik ke daerah asal mereka. Sehingga munculah pemukiman di tepian Sungai Deras yang akhirnya berubah menjadi kota kecil Nod’s Limbs.
Walau dianggap memiliki jasa besar dalam sejarah kota kecil tersebut, tak sedikitpun Mr Nod berniat untuk menjadi mengurus kota tersebut. Karena yang ada dipikirannya hanya satu, bagaimana memperluas dan mengembangkan pabrik lilin miliknya. Sehingga penduduk memutuskan untuk memilih Thadeus Knightleigh, pemiliki kedai yang pintar bergaul sebagai walikotaa., yang nampaknya dijadikan sebagai warisan keluarga. Hingga tak heran jika saat ini walikota yang menjabat masih keturunan Knightleigh, yang juga tak lain adalah Ayah Stephanie, musuh bebuyutan Ellen sejak TK.
Walaupun kecil, Nod’s Limbs memiliki beberapa tempat yang cukup menarik untuk dikunjungi. Itu semua karena dari tahun ke tahun para Walikot Knightleigh tidak pernah berhenti mengadakan pembangunan. Tahun ini pun walikota telah merencanakan sesuatu untuk membuat Nod’s Limbs dan tentu saja dirinya dikenal oleh dunia luar.
Sebelum mengumumkan rencananya ke semua wara kota, Walikota Knightleigh bersama kedua anaknya, Stephanie dan Miles, mengunjungi lokasi yang akan diubahnya menjadi tempat yang lebih menarik. Mengejutkan! Tempat yang mereka pilih adalah tempat pembuangan sampah yang berada tak jauh dari kediaman Edgar dan Ellen.
Tentu saja hal ini membuat Edgar dan Ellen menjadi sedikit gusar dan bertanya-tanya apa yang akan mereka lakukan dengan Kuburan Perkakas. Tempat Pembuangan sampah sangat berarti bagi kedua anak kembar. Di sana mereka bisa memperoleh semua perangkat yang mereka butuhkan dalam menjalankan misi Schadenfreude yang berarti “kesenangan datang dari penderitaan orang lain”.
Keesokan harinya, bertepatan dengan berkumpulnya seluruh warga kota di Balai Kota, Edgar dan Ellen menyusup ke dalam kantor Walikota. Tak butuh waktu lama untuk mendapatkan apa yang mereka cari. Lembaran demi lembaran yang berisi rencana sang walikota tak satu pun yang mereka lewatkan. Tempat Pembuangan Sampah atau Kuburan Perkakas mereka akan segera direkonstruksi menjadi Hotel Knightleigh. Beberapa orang – orang penting dari luar juga akan diundang ke Nod’s Limbs. Mereka nantinya akan membantu sang walikota untuk menjalankan rencananya. Parade besar – besaran juga akan diadakan untuk membuat semua orang penting tersebut terkesan. Termasuk mengunjungi tempat – tempat bersejarah Nod’s Limb. Yang diakui kepada seluruh warga kota sebagai usaha untuk memajukan pariwisata Nod’s Limbs
Berang! Itulah yang dirasakan oleh Edgar dan Ellen. Karena tak hanya akan kehilangan Kuburan Perkakas namun mereka juga akan kehilangan Berenice, tanaman pemakan serangga kesayangan Ellen. Sehingga tak ada cara lain kecuali menggagalkan semua rencana sang walikota. Kedua kembar beracun kembali beraksi dengan rencana gila mereka.
Buku kedua dari serial Edgar & Ellen ini tak kalah menarik dengan buku pertama mereka The Rare Beast. Jauh lebih seru malah. Ilustrasi yang keren juga turut melengkapinya membuat saya ingin membaca kisah – kisah mereka berikutnya. Dari buku kedua ini juga makin banyak hal yang baru yang terungkap tentang Edgar dan Ellen.
Yang mengherankan buku ini tetap terdapat beberapa endorsement yang jumlahnya malah bertambah banyak dibandingkan buku pertama. Semua edorsement menurut saya tidak perlu lagi ditampilkan. Karena saya yakin orang – orang yang telah mengetahui keberadaan kembar beracun di buku pertama tidak akan melewatkan seri – seri mereka berikutnya. Kecuali mata mereka memang tak dapat melihat sesuatu yang sangat menarik dari ceritanya. Setidaknya keyakinan saya beralasan. Baik Rare Beast maupun Tourist Trap yang saya dapatkan merupakan buku cetakan ke II. Ya mungkin saja, Penerbit Matahati pasti punya alasan kuat dibalik pencantuman semua endorsement tersebut.
Walau demikian semua endorsement yang mengambil jatah resensi singkat buku itu tidak mengurangi asyiknya buku yang satu ini. bahkan rasanya tak sabar untuk melahap buku berikutnya.
Buku yang luarbiasa. Ceritanya sederhana tapi maknanya dalam. Saya sangat iri pada Rumi. Dia bisa menulis cerita yang tajam sekali hikmahnya, menembus jantung kesadaran.
Saya sangat suka cerita tentang Kakaktua dan pemilik toko parfum. Si Kakaktua akhirnya berakting pura-pura mati dalam sangkar. si pemilik toko parfum membuka sangkar si burung, kemudian si burung itu terbang dengan sangat cepat keluar sangkar
“matilah sebelum kamu mati. supaya kamu tersadar bahwa kebahagiaan bukan sekedar manisan. Kamu perlu melupakan indahnya sangkar untuk bisa pergi dengan hati yang tenang ke alam bebas” Kata si burung.
lalu, cerita wajir Nabi Sulaiman dengan malaikat Izrail begitu menggetarkan. Kematian tak bisa kita hindari. Takdir akan selalu datang dengan cara yang tak terduga. Sebarapa keras mengelak, kerasnya kematian dan takdir tak akan bisa tersaingi.
Cerita dua orang pemburu yang terlalu banyak mimpi. Mereka hendak berburu beruang untuk mereka ambil kulitnya kemudian mereka jual. Mereka berhari-hari berhayal akan menjadi kaya dan membeli banyak barang setelah menjual kulit dan bulu beruang yang langka. Ketika mereka tertidur di kemah, seekor beruang besar menghampiri mereka dan meraung keras. Salah satu pemburu memanjat pohon untuk kabur, sedangkan temannya yang lain tak bisa berdiri.
Beruang itu datang menghampiri si pemburu lalu berbisik.
“jangan pernah menjual kulit beruang sebelum kamu memburu beruangnya”
Kampreeeetttt.. dalem banget cuy!
Dan masih banyak lagi cerita-cerita pendek yang keren di buku ini. Jalaludin Rumi luarbiasaaah!
Jujur, gw sendiri sebenernya nggak pernah punya niat membeli buku-buku Sufisme. Tapi, kalo gw tengok-tengok, koleksi buku Sufisme gw kok ya nggak sedikit (selain ini, ada "And the Sky is Not the Limit" karya Amatullah Amstrong, trus ada "Master of the Jinn" karya Irving Karchmar, dan lain-lain). Membaca buku-buku Sufisme buat gw pribadi, sanggup memberikan ketenangan tersendiri (kayak baca bukunya Coelho yang "The Warrior of The Light : A Manual").
Buku ini berisi kumpulan Matsnawi atau karya-karya Jalaluddin Rumi (plus pengarangnya memberikan sedikit biografi spiritual Rumi), yang berisi kisah-kisah fiksi yang inspiratif dan kadang tentang fabel. Di akhir masing-masing cerita, akan ada korelasi antara cerita dan bagaimana implementasinya terhadap kehidupan Ketuhanan.
Misalnya dalam cerita "Bayi di Atas Atap" adalah salah satu jawaban atas pertanyaan sang murid, "Kenapa Nabi diambil dari kalangan manusia, bukan malaikat?".Atau dalam kisah "Sang Guru dan si Beruang" adalah ilustrasi Rumi tentang "Cinta Tuhan dan cinta kita terhadap-Nya". Dan masih banyak kisah lagi yang terangkum dalam 7 bab yang lain.
Ini bukan buku yang jelek, membosankan dan berisi doktrin. Namun, buku ini mengajak kita mencari Sang Pencipta dengan cara yang bisa kita lakukan sehari-hari, dengan pemahaman yang tidak akan membuat kita stres. Cocok deh buat yang pingin self-helping :)
"Salah satu cara menikmati kehidupan adalah dengan mempelajari kematian" [Mevlana Jalaluddin Rumi]
Salah satu cara memahami sesuatu nasihat atau pengajaran dari seseorang adalah dengan mengikuti kisah atau cerita yang mempunyai pelbagai karakter, akhlak dan tujuan. Dan cara yang terbaik untuk mengikuti sesebuah cerita itu selalunya diisi dengan karakter haiwan yang penuh variasi. Bagi saya, manusia sebenarnya juga mempunyai karakter haiwan dalam setiap diri mereka...lebih mudah kita menggambarkan perlakuan seseorang manusia itu apabila haiwan dimasukkan dalam cerita itu. Setiap kisah yang diceritakan dalam setiap bab disudahi dengan nasihat dan pengajaran. Walhal kisah-kisah ini bukanlah cerita-cerita rakyat ataupun dongeng...cuma sekadar dikarang untuk menyampaikan sesuatu nasihat itu.
SubhanAllah, sungguh mendalam setiap nasihat yang diberikan. Ada juga nasihat yang saya belum lagi mafhum akannya.
Nggak kayak kavernya yang serius, isinya saaangat asyik, benar-benar dongeng yang menghanyutkan, dengan ilustrasi-ilustrasi full colour yang keren bak lukisan kuno. Setiap dongeng terasa "baru" dan menyengat pemikiran karena kebenaran dan kejujurannya. Sepertinya harus direpublish nih hehehe.
This time, the twins' mischief serves a more noble purpose; they want to save the junkyard from being demolished by the governor. It's actually more fun than the first book, and I feel a bit sorry for Edgar and Ellen.