Taufik Ismail was born in Bukittinggi West Sumatera on June 25, 1935. He was prominent Indonesian writer and made influence in Indonesian literature the post-Sukarno regime. He was one of pioneer Generation of '66. He was complated his education in FKHP University of Indonesia. Before active as a writer, he taught in Institut Pertanian Bogor. In 1964, he assigned Manifesto Kebudayaan and consequence stopped as a teacher by government. He compiled many of poems, the famous are Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Tirani dan Benteng, Tirani, Benteng, Buku Tamu Musim Perjuangan, Sajak Ladang Jagung, Kenalkan, Saya Hewan, Puisi-puisi Langit, Prahara Budaya : Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk, Ketika Kata Ketika Warna, Seulawah-Antologi Sastra Aceh. Bored with his serious style, in 1970 Taufik created his poems mixed with humor. Taufik has many of regards, such as Cultural Visit Award from Australia government (1977) and South East Asia Write Award from king of Thailand (1994).
Kepiawaian Taufiq Ismail sebagai sastrawan tidak membuatnya piawai sebagai penulis yang membahas tema sebesar komunisme. Bahkan tidak dalam alur penulisan.
Sangat wajar untuk mengambil posisi sebagai pihak yang menolak ideologi kiri, tapi argumentasi yang diangkatnya sangat tidak substansial, kalau bukannya betul-betul ngawur.
Taufiq Ismail nampak punya pemahaman yang sangat sederhana sekali tentang gerakan komunis. Marxisme, Stalinisme, Leninisme, dan Maoisme dia leburkan dalam satu nama: Marxisme-Stalinisme-Leninisme-Maoisme. Sama sekali tidak disinggung tentang, misalnya, di belantara Rusia, pergulatan Trotsky dengan Stalin, atau penyimpangan jalur Stalin dari pergolakan revolusi Lenin, atau bahkan, yang paling gampang dilihat, Socialism with Chinese characteristics-nya Mao. "Stalin itu 70% baik, 30% jahat," ucapan Mao yang sempat beken dulu.
Perihal adanya cabang-cabang ini sama sekali tidak diungkit-ungkit sedikit pun oleh Taufiq Ismail. Baginya, saat Taufiq Ismail berceramah dengan khusyu di bab-bab pertama akan kebengisan yang dihasilkan oleh rezim Stalin dan Mao di abad ke-20, definisi komunisme sudah tuntas diketok palu di situ saja. Taufiq Ismail tidak ambil pusing untuk membaca gagasan-gagasan yang diutarakan oleh Marx (di mana kutipan Das Kapital?) atau bahkan tulisan-tulisan kaum Bolshevik. Bagi Taufiq Ismail barangkali ideologi kiri hanya terbatas di tindakan Stalin dan Mao saja (dan dari situ semua bisa digeneralisasi yang sama) - asumsi sudah dibuat sebelum membaca data.
Lalu saya sungguh penasaran, dapat wangsit dari mana ketika Taufiq Ismail mengaitkan bahwa komunisme ini erat kaitannya dengan narkoba (lihat subjudul). "Komunisme adalah candu," kata Taufiq Ismail. Dengan sangat sembrono membalikkan ucapan Marx, Taufiq Ismail beranggapan bahwa komunisme itu memabukkan dan bisa membuat orang tergila-gila kepadanya, sehingga bisa-bisa taqlid buta.
Lebih-lebih Taufiq Ismail memaparkan bahwa ideologi komunisme bukan hanya metafor sebagai candu, tapi secara harafiah juga menyatakan ideologi ini mempromosikan penggunaan narkoba dan berperan dalam meningkatkan perdagangan narkoba di abad ke-20. Sebetulnya, meski tentu saja ideologi tidak bisa dibilang meningkatkan perdagangan narkoba (tapi orang bisa), kalau memang mau ditelusuri dengan serius, klaim Taufiq Ismail ini bisa jadi penelitian menarik yang melihat apa ada memang korelasi negara komunis dengan tingkat perdagangan narkoba. Sayangnya, seperti halnya hampir seluruh tulisan Taufiq Ismail dalam buku ini, klaim bombatis tersebut dinyatakan tanpa disertai data sedikit pun. Bahkan apakah betulan ada peningkatan perdagangan narkoba di abad ke-20 saja tidak dicantumkan datanya.
Singkat kata,
Kalau mau memahami komunisme seperti yang ada di imajinasi Taufiq Ismail, tidak perlu repot-repot membaca buku yang tebalnya hampir 450 halaman ini. Isinya tidak substansial, argumennya berantakan, bahkan penyusunan bab-nya tidak jelas.
Baca saja mading anak SMP - jauh lebih singkat, isinya kurang lebih sama, tidak buang-buang waktu!
Sejarah adalah sejarah. Masa lalu, situasi yang pernah terjadi sebelumnya. Siapa dan bagaimana sejarah diceritakan saja, bisa berbeda. Apalagi memahami kisah sejarah itu sendiri. Dan jangan kaget kalau jadi makin bingung dengan semakin banyak membaca sejarah. Ah, sudahlah. Gue cukup jadi pembaca saja. Bukan ahli sejarah yang bisa mengkaji serta punya argumen jelas untuk mengatakan A, B, atau C. Gue cukup tahu saja. Bukan untuk membenarkan atau menyalahkan. Tapi mengambil hikmah dari apa yang diceritakan kisah sejarah.
Buku ini terlalu mereduksi kompleksitas yang dia bawa, menyamakan narkoba dengan berbagai aliran politik yang dia kira tahu adalah kesesatan berpikir. Orang ini kemungkinan mengambil referensi dari Jung Chang dan Black Book of Communism. Mengapa isi bukunya justru ada untuk menakuti dan berbau pro-status quo, reaksioner, kontra-revolusioner, konservatif, ultranasionalisme, dan politik identitas tapi nol besar dalam analisis material, basis kelas, dan analisis struktural?
Taufik Ismail was born in Bukittinggi West Sumatera on June 25, 1935. He was prominent Indonesian writer and made influence in Indonesian literature the post-Sukarno regime. He was one of pioneer Generation of '66. He was complated his education in FKHP University of Indonesia. Before active as a writer, he taught in Institut Pertanian Bogor. In 1964, he assigned Manifesto Kebudayaan and consequence stopped as a teacher by government. He compiled many of poems, the famous are Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Tirani dan Benteng, Tirani, Benteng, Buku Tamu Musim Perjuangan, Sajak Ladang Jagung, Kenalkan, Saya Hewan, Puisi-puisi Langit, Prahara Budaya : Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk, Ketika Kata Ketika Warna, Seulawah-Antologi Sastra Aceh. Bored with his serious style, in 1970 Taufik created his poems mixed with humor. Taufik has many of regards, such as Cultural Visit Award from Australia government (1977) and South East Asia Write Award from king of Thailand (1994)