Jump to ratings and reviews
Rate this book

Rumah Pohon Kesemek

Rate this book
Di belakang rumah Fumie dan Yoichi berdirilah sebuah pohon kesemek besar. Pohonnya memukau, besarnya selebar rentangan lengan anak-anak. Pohon itu menemani keseharian keluarga Fumie dan Yoichi, menyaksikan setiap kegembiraan juga kesedihan mereka.

64 pages, Paperback

First published January 1, 1944

2 people are currently reading
206 people want to read

About the author

Sakae Tsuboi

33 books10 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
41 (17%)
4 stars
127 (53%)
3 stars
67 (28%)
2 stars
3 (1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 66 reviews
Profile Image for Utha.
824 reviews399 followers
December 17, 2022
Cerita keluarga yang hangat. Aku suka tema yang kayak begini! Langsung cari Dua Belas Pasang Mata yang bukunya selalu teronggok di rak buku ah!

Omong-omong, selain masalah teknis ISBN "yang belum ada di kover", kayaknya isi cerita belum di-proofread sampai final, ya?
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book265 followers
March 10, 2024
Rumah Pohon Kesemek adalah kumpulan cerpen tentang sebuah keluarga yang memiliki pohon kesemek di halaman rumah mereka. Keluarga ini terdiri atas Kakek, Nenek, Ayah, Ibu, Fumie dan Yoichi. Lalu ada juga Paman dan Bibi Santaro.

Paman Santaro senang makan buah kesemek, tapi tidak punya pohonnya. Oleh karena itu, dia selalu meminta pada Yoichi untuk membawakannya buah kesemek. Suatu hari desa mereka kekurangan air. Kakek lalu menyediakan lahan di rumahnya untuk digali menjadi sumur. Airnya melimpah, tetapi pohon kesemek jadi tidak berbuah. Itu karena Kakek menaruh batu-batu di akar pohon kesemek.

Pohon kesemek ini menjadi saksi perjalanan hidup sebuah keluarga. Ada yang meninggal, ada yang lahir, ada yang datang dan ada yg dibawa pergi. Sebuah buku yang hangat.
Btw, membaca buku ini saya jadi membayangkan memakan buah kesemek.
Profile Image for Ridho Febriansa.
90 reviews1 follower
December 26, 2022
Rumah Pohon Kesemek, di akhir disampaikan bahwa ini memang cerita anak-anak.
Jumlah halamannya pun sedikit, sehingga cocok untuk bacaan selingan di tengah membaca buku-buku lain yang jumlah halamannya cukup banyak.

Rumah Pohon Kesemek berkisah mengenai 2 anak, kakak dan adik, beserta keluarga mereka dan pohon kesemek.

Ceritanya cukup lucu, menghibur, cukup sedih juga, dan cukup membahagiakan.
Namun agak sedikit kaget saja karena endingnya ternyata memang cukup "singkat" sehingga tidak sesuai dengan ekspetasi saya sebagai seorang pembaca.

Lalu tulisan pada halaman ilustrasi awalnya agak sedikit membingungkan, namun lama-kelamaan jadi terbiasa juga.

Berharap kedepannya bisa banyak membaca buku-buku seperti ini, dikoleksi pribadi secara fisik, sehingga orang-orang banyak yang tertarik untuk meluangkan sedikit waktu untuk membaca buku-buku ini.
Profile Image for raafi.
927 reviews449 followers
December 25, 2022
Saya melihat buku ini "diampu" dengan baik dan hati-hati. Kalau melihat isi teksnya, buku ini mungkin tidak sampai 50 halaman. Ceritanya pun sederhana. Namun, adanya ilustrasi dengan layout ciamik serta beberapa catatan akhir yang menambah wawasan seputar Jepang menjadikan buku ini sungguh spesial.

Tak lupa pemilihan "para pekerja" termasuk penerjemah, ilustrator, dan penyunting buku ini sudah punya nama yang cukup populer, menjadikan buku ini terangkat dengan baik. Belajar banyak dari penerbitan buku ini!
Profile Image for Sintia Astarina.
Author 5 books359 followers
December 31, 2022
Di Jepang, musim gugur adalah musimnya buah kesemek. Buah ini diasosiasikan dengan keberuntungan dan umur panjang, serta kesehatan dan kesuksesan di tahun baru.

Buah yang rasanya manis ini pun turut jadi saksi perjalanan keluarga Fumie dan Yoichi dari generasi ke generasi dalam Rumah Pohon Kesemek.

Tsuboi Sakae menawarkan 4 penggalan cerita yang dari kulitnya terasa sederhana, tapi isinya sarat makna. Pembaca diajak berkenalan dengan Kakek yang begitu sayang dengan pohon kesemeknya, Paman Santaro yang jail, dan tentu saja kakak-adik Fumie & Yoichi yang menggemaskan.

Salah satu adegan yang kusukai adalah ketika Fumie & Yoichi berbisik-bisik kala menantikan kelahiran adik mereka. Mendadak flashback ke masa kecil, deh. Dulu pas nungguin adikku lahir, apa yang kulakuin/pikirin, ya? Sampai detik ini aku cuma inget hari pertamaku sebagai kakak. Aku di rumah sakit untuk jenguk Mama dan adik bayi. 🥺❤️

Omong-omong, ilustrasi dalam Rumah Pohon Kesemek ini nggak kalah menggemaskan, lho. Rasanya bisa membangkitkan kembali jiwa kanak-kanak pada orang dewasa.

Namun, ada halaman-halaman ilustrasi tertentu yang teks gambarnya diambil dari paragraf utama (dengan font style berbeda), yang menurutku pribadi agak mengganggu pengalaman membaca. Mungkin karena aku harus membacanya secara berulang kali, ya? Terkait tata letak, @penerbitmai pasti punya alasannya sendiri.

Sempat baca di Goodreads, temuan saltik (yang kebanyakan kelebihan spasi) cukup membikin pembaca risi. Tapi tenang aja, katanya akan diperbaiki di cetakan selanjutnya.

Hal spesial lainnya: ada trivia dan catatan penerbit di “Ruang Teh” bisa kasih pembaca wawasan baru soal Jepang. Sukaaa!
Profile Image for Lelita P..
629 reviews60 followers
December 18, 2022
Dulu banget pas masih kecil, buku favorit saya adalah cerita anak desa berjudul "Fathi dari Desa Jenggawah". Ceritanya bener-bener slice of life tentang kehidupan anak desa (Fathi) itu. Rasanya menyenangkan bacanya, bikin hangat dan sayang sama tokoh-tokohnya. Nah, buku Rumah Pohon Kesemek ini juga memberikan perasaan seperti itu. Seandainya buku ini terdiri dari 100 bab tapi ceritanya "gitu-gitu doang"--cuma keseharian Fumie, Yoichi, Ibu, Nenek, Paman dan Bibi Santaro, serta si kembar Hideo dan Shinnosuke di rumah mereka yang di halamannya ada pohon kesemek--saya tetep mau banget baca.

Ilustrasinya menggemaskan sekali! Cocok sama adegannya. Duh, saya membayangkan kalau saya masih kecil, pasti buku ini juga menjadi salah satu buku cerita anak favorit saya yang bakal sering saya baca ulang-ulang. Menyenangkan, menghangatkan, dan menjadi jendela akan kehidupan di desa di Jepang pada masa setelah perang.

Saya juga suka bagian "Ruang Teh" yang disajikan penerbit di bagian akhir buku. Sangat mengapresiasi effort penerbit untuk menyesuaikan terjemahannya dengan konteks yang lebih kekinian, dan memberitahukan hal tersebut di belakang bukunya untuk menjadi informasi tambahan bagi pembaca santai atau pembaca yang lebih serius (mis: mahasiswa SasJep yang mau menjadikan buku ini topik penelitian skripsi). Syukurlah, dengan adanya kebijaksanaan penerbit tersebut, buku ini jadi lebih kids-friendly.

Satu-satunya yang bikin saya agak mengernyit adalah beberapa typo, khususnya adanya spasi sebelum titik. Saya menemukan cukup banyak yang seperti itu di buku ini, lumayan bikin risi. Terus di awal-awal pun, halaman 7 dan 9 tepatnya, ada paragraf yang menyebutkan nama "Yoichi" sebagai "Yoshio". Karena masih awal-awal, saya sempat bingung bacanya, "Nih anak sebenernya bernama Yoichi atau Yoshio, sih?". Untungnya ke belakangnya udah konsisten jadi Yoichi.

Secara umum ini buku yang bagus sekali buat pelepas stres, apalagi buat orang dewasa. Gambar-gambarnya juga bisa diwarnai (seperti yang dilakukan Ambu-san).
Profile Image for athiathi.
367 reviews
August 13, 2024
Siapa setuju kalau cerita tentang keluarga pasti punya kekuatan ajaib yang membuat kita jadi teringat dan rindu akan masa kecil? Itulah yang kurasakan selama membaca Rumah Pohon Kesemek. Poin plus dari buku ini menurutku adalah adanya budaya Jepang yang terselipkan dengan apik.

Aku suka dengan bagaimana semua anggota keluarga di buku ini punya porsi kisahnya masing-masing. Kakek, Nenek, Ibu, Ayah, Paman, Bibi, Fumie, Yochi, dan kedua adik kembarnya.

Aku paling suka bagian ketika sang kakek bermain bersama cucunya. Mengingatkanku pada kakekku tersayang.

Terjemahannya mengalir, aku sama sekali nggak kesulitan buat memahami narasinya. Suasana yang dibangun penulis, tersalurkan dengan baik. Aku tambah suka sama buku ini karena di dalamnya bertabur ilustrasi gemas!! 🐤

Dari buku ini aku belajar bahwa:
🌳jangan lelah untuk berbuat baik
🌳setiap peristiwa terjadi karena suatu alasan
🌳apa yang kita tuai adalah apa yang kita tabur
🌳menjaga dan menyayangi apa yang menjadi milik kita
🌳kegembiraan & kesedihan itu hal yang berdampingan
🌳setiap orang punya waktu dan masanya sendiri-sendiri
🌳tiada yang lebih indah dari hidup dalam kebersamaan
🌳keluarga adalah harta yang begitu berharga

Buku ini begitu ringan, sehingga bisa dijadikan pilihan apabila ingin membaca buku tipis dan selesai dalam sekali duduk, sekaligus bisa menyelamatkan diri keluar dari reading slump. JADI TUNGGU APALAGI, AYO BACA RUMAH POHON KESEMEK JUGA!! 🐣💛
Profile Image for Puty.
Author 8 books1,381 followers
Read
December 18, 2022
Berhubung saya yang mengilustrasikan buku ini dan cukup merasa 'attached', jadi saya nggak ikutan kasih rating deh 😂

Secara umum, buku ini bercerita tentang keluarga Jepang tahun 1940an akhir, dengan karakter utama dua orang anak, kakak beradik bernama Fumie & Yoichi. Keluarga mereka tinggal di rumah dengan pohon kesemek di halaman belakang yang menemani perjalanan keluarga mereka dari generasi ke generasi.

Terbagi dalam 4 bab, ceritanya boleh dibilang sederhana, dengan dinamika keluarga yang wajar namun menghangatkan hati. Bukunya tipis dan cocok untuk anak, orang dewasa, atau dibaca bersama-sama.
Profile Image for Filli.
154 reviews40 followers
January 4, 2023
Cerita keluarga yang menghangatkan hati 💜💜🥲
Profile Image for aynsrtn.
489 reviews14 followers
October 23, 2024
Bukunya tipis banget. Bisa dibaca dalam sekali duduk. Ilustrasinya cantik banget khas Penerbit Mai. Meskipun buku ini buku anak-anak, tetapi ketika dibaca oleh orang dewasa heartwarming banget. Nyess ke hati. Interaksi kakak-beradik Fumie-Yoichi pun gemas banget.
Profile Image for Rei.
366 reviews40 followers
January 3, 2023
Rumah Pohon Kesemek sebetulnya bercerita tentang sebuah keluarga yang memiliki sebatang pohon kesemek di halaman rumah mereka. Pohon ini sangat subur walau usianya sudah bergenerasi-generasi, dan tentu saja menjadi saksi kehidupan keluarga tersebut.

Sebagai cerita anak dan diceritakan melalui sudut pandang anak-anak, Rumah Pohon Kesemek dituturkan dengan sangat sederhana, kalimat-kalimatnya ringkas. Bagian terakhir saat kelahiran sepasang bayi kembar membuatku meringis, tetapi yah, memang pada masa itu mungkin itu praktik yang lazim (setahuku, di Indonesia sampai saat ini pun masih jadi hal yang dipandang biasa).

Daya tarik utamanya tentu karena buku ini dilengkapi dengan ilustrasi yang cantik dan menggemaskan dan adanya catatan dari penerbit di bagian belakang untuk menjelaskan beberapa bagian buku.
Profile Image for Stella_bee.
496 reviews15 followers
January 4, 2023
Bacaan kedua.. Masih j lit😄 kali ini genre anak2 dengan tema family/slice of life
Bacaan ringan yang menghibur juga menyegarkan, selesai dalam sekali duduk karena memang setipis itu bukunya🤭
Oh ya buku ini dilengkapi ilustrasi yang sungguh menggemaskan!!
Profile Image for Ririn.
733 reviews4 followers
January 21, 2023
Kisah yang hangat tentang keluarga kecil yang tinggal di sebuah rumah dengan pohon kesemek di halamannya. Ceritanya simple dan lurus2 saja tanpa konflik jadi terasa ringan.

Typo-nya lumayan seperti kurang huruf atau kelebihan spasi, padahal bukunya tipis :')
Profile Image for Aulia Mia.
55 reviews12 followers
July 30, 2023
Rumah Pohon Kesemek mengingatkanku dengan novel Dua Belas Pasang Mata, dengan penulis yang sama Tsuboi Sakae, novel Rumah Pohon Kesemek juga menghadirkan anak-anak sebagai tokoh sentralnya, menceritakan kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang pada masa lalu, yang meski sederhana tapi tetap menghangatkan hati.. dan sekali-sekali menunjukkan sisi gelap budaya Jepang.
Profile Image for Muhammad Edwin.
447 reviews16 followers
June 16, 2025
Slice of life yang menggambarkan kepolosan anak. Bagus, tapi kurang panjang aja ceritanya. Jadi penasaran dengan bagian cerita tentang ayahnya yang di hilangkan karena menyinggung soal perang..
Profile Image for Faisal Chairul.
267 reviews17 followers
February 8, 2023
Buku yang ditujukan untuk anak-anak ini bercerita tentang sebuah keluarga yang terdiri dari kakak-beradik (Fumie dan Yoichi) bersama ibu, kakek, nenek, dan paman (Santaro) yang tinggal di sebuah rumah yang ditanami pohon kesemek di halaman rumahnya. Sementara tokoh 'ayah' hanya disinggung dalam dialog antar tokoh di atas karena diceritakan bahwa ia bekerja sebagai pelaut.

Interaksi tokoh kakak-beradik Fumie dan Yoichi dengan sang kakek, paman, dan ibu mereka menjadi pusat cerita di dalam novel ini. Interaksi dengan sang kakek lebih banyak berkaitan dengan pohon kesemek, yang sang kakek rawat dengan sepenuh hati. Cerita untuk menggambarkan interaksi dengan sang paman mulai dikembangkan, tidak hanya berkaitan dengan pohon kesemek (buah kesemek), tetapi juga berlanjut setelah kelahiran adik kembar mereka. Sementara interaksi dengan sang ibu lebih banyak diceritakan setelah kelahiran sang adik kembar (Hideo dan Shinnosuke). Ceritanya lumayan heartwarming untuk dibaca oleh atau dibacakan kepada anak-anak.

Ada beberapa hal yang membuat penasaran. Pertama, kenapa terdapat perbedaan penyebutan tahun penerbitan antara di halaman depan dengan catatan "Ruang Teh" (お茶の間) di bagian belakang? Rasa penasaran ini sudah terjawab, setelah saya menelusuri cuitan mas @konstantin0609, editor Penerbit Mai, penerbit yang menerbitkan novel ini. Ternyata, novel ini dalam bahasa aslinya, Jepang, diterbitkan dua kali, yaitu pada tahun 1944 (saat Perang Dunia ke-II) dan 1949 (empat tahun setelah Perang Dunia ke-II), dengan judul yang berbeda dan jumlah bab yang berkurang.

Kedua, kenapa sosok ayah digambarkan hanya sebagai tokoh yang pasif, seseorang yang bekerja di laut? Rasa penasaran ini juga sudah terjawab dengan merujuk pada cuitan mas @konstantin0609 yang sama. Dilansir dari naskah digital terbitan tahun 1944 koleksi 'National Diet Library', terdapat satu bab yang dihilangkan dalam terbitan tahun 1949 yang menceritakan tentang sosok ayah tersebut yang berprofesi sebagai seorang pelaut. Walaupun begitu, belum ada yang tahu alasan dibalik penghapusan satu bab di edisi terbitan 1949.



Saya mengapresiasi bagian "Ruang Teh" (お茶の間) di bagian belakang untuk mengakomodasi catatan tentang perubahan-perubahan hasil terjemahan apa saja yang berbeda dengan bahasa aslinya. Perubahan ini berkaitan dengan penyesuaian dengan anak-anak sebagai target utama buku ini namun tetap mengakomodasi teman-teman sastra Jepang yang ingin menjadikan karya ini sebagai bahan penelitian mereka.

[Catatan untuk editor]: Dari empat poin yang disebutkan terkait perbedaan antara naskah asli dengan naskah terjemahan saya menemukan kekeliruan minor berupa kesalahan pengetikan kalau poin tentang perkara gender seharusnya disebut ada di 'bab tiga' bukan 'bab dua'.
Profile Image for Citra Rizcha Maya.
Author 5 books23 followers
January 9, 2023
𝑪𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂 𝑻𝒆𝒅𝒖𝒉 𝒅𝒊 𝑩𝒂𝒘𝒂𝒉 𝑷𝒐𝒉𝒐𝒏 𝑲𝒆𝒔𝒆𝒎𝒆𝒌

𝐈𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐁𝐮𝐤𝐮:
Judul: Rumah Pohon Kesemek (Kaki No Ki No Aru Ie)
Penulis: Tsuboi Sakae
Penerjemah: Asri Pratiwi Wulandari
Pemeriksa Bahasa: Ribeka Ota
Penyunting: Reda Gaudiamo
Ilustrator: Puty Puar
Penerbit: Mai
Rating: ⭐⭐⭐⭐

𝐖𝐚𝐫𝐚:
Di belakang rumah Fumie dan Yoichi berdirilah sebuah pohon kesemek besar. Pohonnya memukau, besarnya selebar lengan anak-anak. Pohon itu menemani keseharian keluarga Fumie dan Yoichi, menyaksikan setiap kegembiraan juga kesedihan mereka.

𝐔𝐥𝐚𝐬𝐚𝐧:

Ada saat yang tepat untuk segala hal. Pada 31 Desember 2016, saya membeli buku Tsuboi Sakae yang berjudul Dua Belas Pasang Mata, saya terpesona dengan sampulnya yang indah. Karena buku itu saya rasa istimewa, saya harus membacanya di waktu khusus di tempat yang bagus. 24 September 2017 saya berniat membaca di Puncak Mantar, ternyata tak sempat sampai keesokannya buku itu hilang dari pandangan dan genggaman saya.

Hingga pekan lalu, saya melihat sampul kuning cerah dengan sepasang kakak beradik di bawah pohon, nama penulis yang sama. Tak berpikir panjang, saya harus memilikinya. Sore tadi buku ini tiba, di akhir hari yang lelah saya memaksakan diri membaca. Tak ingin kehilangannya lagi, dan ya saya jatuh cinta dengan cara bercerita Tsuboi Sakae, yang sederhana, manis, dan menghangatkan hati.

Bercerita tentang sebuah keluarga dan keseharian mereka yang dinaungi pohon kesemek yang menjadi bagian penting dari kehidupan mereka. Ada suka ada duka, begitulah kehidupan, bukan? Tapi mereka melaluinya dengan kesederhaan dan tanpa drama. Cerita ini indah apa adanya. Tokoh-tokohnya terasa nyata, Fumie dan Yoichi yang membuat pembaca merindukan masa kecilnya, Kakek yang berdedikasi, Paman Santaro yang jail tapi kebaikannya meluluhkan hati, serta si kembar Hideo dan Shinnosuke yang begitu mudah disayangi. Dilengkapi ilustrasi menggemaskan Puty Puar, sehingga buku ini juga bisa dinikmati oleh pembaca balita, dengan kreativitas menceritakan gambarnya kepada mereka oleh pembaca dewasa. Paket lengkap buat saya yang bisa bersama-sama menikmati buku ini dengan putra saya, Idea.

Bahasanya ringan dengan terjemahannya yang luwes. Sehingga ketika membaca, rasanya mengalir begitu saja dan ikut terbawa suasana cerita. Menariknya ada ruang teh yang berisi catatan kecil di akhir buku yang membuat pembaca mendapat informasi menarik. Buku ini memang ditujukan untuk pembaca anak tetapi orang dewasa akan sangat menikmatinya juga. Ceritanya ringkas saja, sekali duduk juga bisa menamatkannya, tapi perasaan yang menghinggapi hati pembaca, saya yakin akan membekas lebih lama. Direkomendasikan untuk pembaca pemula, pencinta buku anak, pencinta sastra Jepang atau mereka yang ingin membaca buku ringan tapi sarat makna.
Profile Image for Sulhan Habibi.
805 reviews62 followers
August 19, 2023
Selesai baca, langsung ngebatin, “Aku suka buku ini. Suka banget. Aku suka ceritanya. Banyakin dong buku kayak gini.”

Kurang lebih inilah pendapatku terkait buku ini. Tipis sih. 60-an halaman. Namun, puas banget sama ceritanya. Sederhana tapi menyentuh. Terutama banget sih karena baca buku ini mengingatkan masa kecil di daerah pedesaan yang damai, ada pohonnya. Suka metik buah di halaman. Belum ada teknologi canggih. Paling bermain di halaman. Main dengan tetangga. Jadi, buku ini mengingatkan akan “GOOD OLD DAYS” itu.

Ceritanya bisa dibilang sederhana. Tentang Funke dan Yoichi yang punya pohon kesemek di rumahnya. Yang tumbuh sejak kakek mereka kecil (bahkan jauh sebelum itu). Pohon yang disayang. Tentunya akan ada suatu peristiwa yang bisa dibilang sedih dan menyentuh.

Kalau mau dipikir dengan mendalam, ada tema kehilangan di buku ini. Ada juga tentang kondisi ibu yang baru melahirkan itu tidak mudah, dan juga masalah adopsi anak. Kalau kita yang dewasa mungkin berpikir tema ini cukup berat untuk anak kecil (mengingat buku ini adalah buku anak-anak). Namun, dari pengalaman dan pengamatanku, anak kecil bisa kok menerima kisah ini. Mereka bisa mencerna maksudnya walaupun bukan sesuatu yang mengharuskan mereka untuk berpikir berat. Aku mengingat beberapa cerita yang aku baca waktu kecil. Bisa menerima dan paham ceritanya. Namun, begitu dewasa penerimaan dan pemahaman kita akan suatu hal ternyata lebih mendalam lagi dan lebih memahami ternyata maksud sebenarnya ada hal yang memang kita pahami wakru dewasa (agak belibet ya pembahasanku. Semoga kalian paham deh maksudnya 🤣)

Intinya aku suka banget buku ini. Suka ilustrasinya. Suka covernya, baik warna maupun gambarnya.

Pengen sih ada cerita lainnya ditambah (dalam artian satu buku beberapa cerita). Namun, kalau gitu nanti covernya nggak bisa banyak dong ya. Jadi mikir ya gini aja cukup sih. Saru cerita walaupun tipis nggak apa. Hehehe.

Yang bikin buku tambah menarik, ada penjelasan di akhir buku dan penyesuaian yang dilakukan agar buku ini lebih ramah buat anak2. GOOD JOB 👍
Profile Image for Meiliana Kan.
242 reviews52 followers
December 12, 2023
Actual rating 4.5 ⭐

Buku yang bisa dibaca dalam sekali duduk ini bercerita tentang sebuah keluarga yang terdiri dari Kakek, Ayah, Ibu, kakak-adik Fumie dan Yoichi, serta Paman dan Bibi Santaro. Cerita mereka yang digambarkan dengan sederhana sekaligus detail membuatku bisa ikut menikmati hari-hari mereka. Aku ikut tersenyum "melihat" tingkat Yoichi yang dengan senang hati bolak balik mengantarkan buah kesemek ke rumah Paman Santaro; ikut merasa senang ketika Fumie dan Yoichi punya adik baru, yang tak hanya satu tapi dua sekaligus; juga ikut merasa geli sekaligus terharu dengan perkembangan Yoichi yang protektif sekali kepada adik kembarnya tapi kemudian bisa rela memberikan salah satu adiknya untuk diangkat anak oleh paman dan bibinya atas pertimbangannya sendiri. Pohon Kesemek yang tumbuh kokoh di belakang rumah Fumie dan Yoichi menjadi saksi bisu atas suka dan duka yang dilewati oleh keluarga itu, maka judul buku ini adalah Rumah Pohon Kesemek.

Secara keseluruhan, aku suka dengan gaya penceritaan buku ini. Belum lagi ilustrasi-ilustrasi gemas yang digambar oleh Kak Puty Puar yang membuat vibes buku ini terasa lebih ceria sekaligus hangat.

Di belakang buku, ada catatan dari penerbit yang mengatakan bahwa mereka sempat menyeseuaikan beberapa kata yang menurut mereka terasa kasar atau mengandung kekerasan (yang kemungkinan terjadi karena pada masa itu, hal-hal yang mengandung kekerasan masih dianggap wajar) dan mereka juga melampirkan before-afternya sehingga aku bisa melihat buku ini dalam versi kalimat-kalimat aslinya (tapi dalam bentuk terjemahan). Tapi, kurasa keputusan penerbit untuk mengubah beberapa kata menjadi lebih halus sudah tepat karena membuat vibes buku ini lebih enak dibaca oleh anak-anak.
Profile Image for Fikriah Azhari.
362 reviews144 followers
January 29, 2024
“Katanya, waktu Kakek masih kecil, kakeknya Kakek-lah yang mencangkok dan menanamnya, jadi mungkin Kakek menganggap pohon keemek itu seperti saudara sendiri.”

“Nenek, tidak apa-apa kalau kembar? Orang-orang tidak akan menertawakan?”


Kalian ada nggak, buku yang pengen kalian baca kalau punya kesempatan untuk kembali jadi anak-anak?

Selama baca buku ini, perasaanku jadi ringan banget, beban yang tadinya ada, lepas entah ke mana selagi menyaksikan tingkah polos dalam keseharian kakak-beradik Fumie dan Yoichi. Sampai-sampai aku mikir, kalau dikasih kesempatan untuk kembali jadi anak-anak dan ditanya pengen baca buku apa, maka Rumah Pohon Kesemek ini adalah jawaban yang akan kuberikan.

Sebenarnya cerita dalam buku ini sederhana. Tentang satu keluarga yang di belakang rumahnya punya pohon kesemek besar dan berbuah setiap tahunnya. Dari situlah kita kemudian diajak menyadari seberarti apa sih pohon kesemek ini? Meskipun sebenarnya pohon kesemek ini bukan fokus utama sepanjang buku, tapi di akhir cerita kita kembali disadarkan mengenai keberadaan pohon kesemek di antara keluarga Fumie dan Yoichi yang sudah "menyaksikan" banyaknya peristiwa.

Buku ini tipis banget! Bahkan kurang dari 100 halaman. Isinya dilengkapi ilustrasi dari Kak Puty Puar yang semakin membuat hatiku menghangat dan rasanya ikut menjadi bagian keluarga Fumie dan Yoichi. Aku pengen deh read aloud buku ini buat anak-anak. Pasti seru banget! Sambil di beberapa bagian kasih liat mereka ilustrasi di dalamnya.

Pada bagian belakang buku, ada catatan dari Penerbit terkait latar belakang cerita ini dan penyesuaian yang mereka lakukan pada proses terjemahan di beberapa bagian yang sangat aku apresiasi. Sayangnya, ada beberapa kesalahan pengetikan dalam buku ini. Semoga bisa diperbaiki di cetakan selanjutnya.
Profile Image for Tyas.
Author 38 books87 followers
December 17, 2022
Buku tipis dan sederhana, bisa selesai dibaca dalam satu kali duduk. Meskipun berkisah tentang keseharian anak-anak, buku ini tidak ragu menyentuh hal-hal yang lebih "suram" dalam kehidupan, termasuk kematian yang digambarkan sebagai hal wajar.

Sejumlah catatan saya:

- Sering sekali ada jarak terselip antara huruf terakhir kata dan titik atau koma, membuat tampilan buku agak berantakan.

- Kutipan dari teks utama yang dijadikan teks gambar seharusnya dicetak dalam huruf dan ukuran yang lebih berbeda lagi daripada teks utama. Karena keduanya terlalu mirip, awalnya saya kecele menyangka teks gambar adalah bagian dari teks utama. Cukup mengganggu flow membaca.

- Bagian-bagian yang disensor kok bagi saya "non-issue", lebih karena semangat menggebu orang dewasa zaman sekarang untuk kelewat melindungi anak dari hal sensitif. (Apa pula "celaka" dianggap lebih halus daripada "berengsek"? Padahal "celaka" itu juga kasar dan keras.) Lebih mengherankan lagi penjabaran tentang teks asli dan bagian yang diubah ditempatkan di akhir buku ini, mudah diakses anak yang sudah bisa membaca buku sendiri. Lalu apa gunanya bila anak yang hendak dilindungi itu ternyata tetap bisa membaca teks aslinya? Mungkin lain kali, bila tetap masih mau main sensor, harus dipikirkan cara untuk memberi tahu pembaca bahwa ada bagian yang disensor, namun pembahasan lengkap bisa dilihat di, misalnya, situs web.

Bagaimana pun juga saya senang Penerbit Mai kembali memperkaya khazanah bacaan kita dengan buku-buku terjemahan dari bahasa Jepang. Buku-buku selanjutnya dinanti!
Profile Image for Wardah.
926 reviews171 followers
September 1, 2024
Definisi sebenarnya dari cerita sederhana dan hangat.

Berkisah tentang Fumie dan Yoichi yang punya pohon kesemek di belakang rumah. Iya, literally sesuai judulnya.

Bukunya sendiri tipis, cuma 63 halaman. Tapi ada beberapa cerita di sini. Dan semua cerita ditulis memang buat pembaca anak. Sederhana, dengan kalimat simple, alur yang gak membingungkan, dan dipenuhi hal-hal khas anak kecil.

Meski demikian, sebenarnya bukunya itu punya isu-isu yang juga bisa direnungkan ((terlebih kalau dibaca sama anak, bisa buat diskusi bareng)). Kayak:
- Hubungan saudara, dengan Paman Sentaro yang suka banget minta kesemek (juga senang membantu)
- Hubungan kakek dan anak dan cucu dan dengan pohon kesemek di rumah (apalagi ceritanya berakhir begitu :')
- Kehamilan dan kondisi ibu setelah melahirkan, juga gimana cara keluarga bisa meringankan beban ibu
- Masalah infertilitas

Yang aku suka lagi, bukunya ditutup dengan penjelasan perubahan yang dalam buku supaya sesuai zaman. Bikin aku belajar banyak hal dari penerbitan buku ini. Dan terlepas dari hal-hal yang diubah itu, sebenarnya buku ini sendiri ditulis dengan sangat baik dan cocok buat jadi contoh.

Hubungan keluarga yang harmonis, saling bantu antar saudara, kehangatan kakak-adik, berbagi kebahagiaan, penyikapan kehamilan dan infertilitas. Buat cerita ditulis tahun 1949, Rumah Pohon Kesemek ini gak judging atas isu-isu sensitif dan menunjukkan kehidupan yang harmonis banget.

Dilengkapi sama ilustrasi super gemas, membaca Rumah Pohon Kesemek sangat menyenangkan!
Profile Image for Nadia.
43 reviews12 followers
December 21, 2022
Bukunya tipis. Beli versi cetakan kesatu yang bahkan masih dalam proses mengajuan ISBN.

Ada beberapa kali salah penulisan nama tokoh. Katanya bakal diperbaiki dicetakan ke 2. Emang terkesan agak berantakan sih bukunya.
Kalau cetakan pertama versi Indonesia mungkin ★★★☆☆ (lumayan banyak yang bisa dijadikan topik perkuliahan
Kalau cerita sendiri ★★★★☆

Pas tahu penerbit Mai memutuskan untuk ngeluarin terjemahan Sastra Anak Jepang, aku putusin buat beli langsung (engga PO), karena ngerasa wajib jadiin 2 buku baru penerbit Mai jadi referensi buat ngajar kuliah sastra anak nanti.

Untuk covernya, simple banget. Buatku hawa "klasik"nya kerasa banget.
Untuk terjemahannya, karena selama baca terjemahan penebit Mai biasanya sambil dengerin Audiobook terjemahannya bagus, jadi kali ini aku putuskan ga sambil dengerin audiobooknya. Eh tapi ternyata ada semacam "ketidaksetiaan" sama naskah aslinya. Ini bisa jadi poin buat ngajar nantinya. Hahaha. Terima kasih sudah dikasih semacam "Ocha no Ma" di akhir bagian.

Terima kasih sekali ada gambar di bukunya. Ilustrasi (gambar) di buku bisa dipakai buat bahan aku "storytelling" ke anakku. Jadi sambil memperlihatkan gambar aku bisa "storytelling". Seneng banget.

Yang agak sedikit kurang nyaman,
di buku yang aku beli, belum ada ISBN-nya. xixixi. Masih progres.
Lalu penempatan ilustrasinya masih masih agak kurang pas dengan narasinya.

Tapi overall, ada buku ini akan kugunakan sebagai materi pembelajaran sastra anak.
Mulai dari strategi penerbit Mai dalam menerjemahkan, mem-packing buku ini
Lalu ideologi dalam cerita
Kondisi masyarakat Jepang pasca perang dunia,
dll
Profile Image for Yuni F.
14 reviews
January 9, 2023
Singkat padat habis sekali duduk tapi membawa kita nostalgia ke masa kecil, membayangkan rumah yang dulu saya tempati, dari saya kecil hingga SMA, teristimewa saya dilahirkan di rumah tersebut sama seperti Hideo dan Shinnosuke adik kembar dari Fumie dan Yoichi. Meskipun tidak ada pohon kesemek di halaman rumah, tetapi ada pohon belimbing, jambu air dan sawo, meski si sawo tidak pernah berbuah(aneh).
Menarik nya ada cerita anak yang kebanyakan makan buah kesemek hingga desentri, hihihi…
pohon kesemek yang menjadi saksi kehidupan keluarga Yoichi dari jaman kakek buyut nya.
Buah kesemek yang semakin tua semakin memberikan manfaat kepada sekitarnya, sampai ada cerita kambing yang dimanfaatkan susu nya hadiah dari Paman untuk adik kembar Yoichi pun menerima manfaat si pohon kesemek.
Cerita keluarga dari yang hangat hingga yang dingin, menyaksikan tawa dan haru keluarga.
Kata - katanya sederhana, bahkan anak SD saya yakin bisa mengerti membaca buku ini.
Tokoh tokoh nya meski diceritakan dalam kisah yang sederhana tetapi menggelitik seperti lekat dengan kita, seperti tokoh paman yang usil kepada keponakan nya.
Profile Image for Itsmidnightblue.
46 reviews
January 11, 2023
Rumah Pohon Kesemek by Tsuboi Sakae

Cerita dari buku ini sederhana, tapi berhasil bikin saya senyum-senyum karena kehangatan dan perilaku lucu Yoichi dan Fumie. Isi bukunya menceritakan tentang keseharian yang terjadi di rumah mereka dengan adanya pohon kesemek yang sudah tumbuh dari zaman Kakek mereka masih kecil.

Di dalam bukunya ada ilustrasi yang gemes banget. Untuk jumlah halamannya sendiri hanya ada 63 halaman dan terdiri dari 4 bab, jadi bisa banget dibaca dalam sekali duduk. Buku ini juga cocok untuk dibaca oleh semua umur.

Buku ini ternyata diterbitkan dua kali dalam bahasa aslinya, pertama pada tahun 1944, dan kedua tahun 1949. Terdapat perubahan juga pada bagian judul dan jumlah bab dalam bukunya.

(Sumber: twitter.com/konstantin0609…)

Meskipun buku ini tipis, tapi banyak hikmah dan pembelajaran yang bisa dipetik dari ceritanya.

Hal lain lagi yang buat saya suka dengan buku ini adalah adanya catatan dari penerbit untuk membandingkan terjemahan naskah aslinya dan yang sudah diubah (yang saat ini sudah dicetak).

Saya kasih 4.5/5⭐️ untuk buku ini karena cerita, ilustrasi, catatan penerbit, dan terjemahan yang oke banget.👍
Profile Image for Allgaemsilver.
73 reviews
November 13, 2023
Buku ini mengisahkan tentang kehidupan keluarga Fumie dan Yoichi yg tak bisa lepas dari pohon kesemek.
Kisah yg singkat dan hangat. Lucu, sedih, dan haru semua bercampur menjadi satu dalam buku tipis ini.
Ilustrasi yg gemas hasil goresan mbak Puty sangat memanjakan mata. Ceritanya segemas dan seteduh covernya ❤️

Ketika Yoichi tidak mau "memberikan" salah satu adik kembarnya, aku merasakan emosi yg cukup dalam. Meskipun dikisahkan melalui sudut pandang anak2, tapi justru rasanya jujur sekali.
Sebenarnya aku sedikit kecewa dengan keputusan akhir Yoichi yg memperbolehkan paman untuk mengambil salah satu adik kembarnya. Di situ dikatakan kurang lebih begini "mereka berdua sama, jadi klo satu diberikan juga tak apa"
Rasanya seperti kok mudah sekali perpindahan anak dari satu keluarga ke keluarga yg lain. Tapi ya memang kenyataannya begitu. Jaman dulu bukan sesuatu yg tabu untuk memberikan satu anak kepada kerabat yg belum dikaruniai anak. Entah ini menjadi kenyataan pahit atau manis.

Tapi secara keseluruhan, aku suka buku ini. Buku ini sedikit mengingatkanku pada buku Na Willa karya mbak Reda. Karakter anak2 yg polos memang selalu menarik untuk diikuti
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for  l i t  sun.
38 reviews9 followers
December 18, 2022
📌 thread reading progress on twitter.com/sunlittlesea & full review on instagram.com/sunbetweenbooks! 🍑✨

tapii ini heartwarming sekalii, tokoh utamanya anak-anak dan lingkungan keluarganyaa. bisa dibayangin nuansa pedesaan dan kekeluargaannya. ilustrasinya juga lucu-lucuu jadi membangun suasana anak-anak sekali. baca buku ini berasa balik ke perpustakaan esde buat baca buku anak yang lawas dan tipis. dalam penyuntingan juga ada penyesuaian bahasa dan narasii dan menurutku ini ga mengurangi esensii, ga merubah apa yang mau disampaikan, pas ✨

📌 note.
cuma ada ketidaksesuaian aja gituu di depan tahun penerbitannya 1944 tapii di belakang 1949, mungkin luputt ✍️ buku yang kuterima juga isbn nya masih prosess. tapi inii isokaii. aku senangg bukunya dari cover sampai isinyaa gemas dan hangattt ♥️🍑🌳🏞️
Profile Image for Daisy.
53 reviews16 followers
December 31, 2022
Aku lupa kalau aku juga punya buku Tsuboi sensei yang lain berjudul 12 Pasang Mata. Benar-benar pilihan buku yang bagus untuk dibaca sebelum akhir tahun. Membaca ini membuatku nostalgia, teringat dengan buku-buku penerbit lama saat aku membacanya di sudut ruangan kecil yang dijadikan perpustakaan di sekolahku dulu. Perpustakaan itu dibuat secara dadakan karena sifatnya sementara, sedangkan membangun gedung baru untuk sebuah perpustakaan di sekolah dasar saat itu agak sulit karena terhalang dana. Yah, saat itu baru mulai tahun 2000. Banyak buku yang sepertinya adalah buku yang diselamatkan dari gudang karena hampir dibuang. Dan beberapa buku-buku itu memiliki vibes yang sama dengan buku ini.
Displaying 1 - 30 of 66 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.