Marta Harnecker's interviews with Hugo Chavez began soon after one of the most dramatic moments of Chavez's presidency—the failed coup of April 2002, which ended with Chavez restored to power by a massive popular movement of protest and resistance. In the aftermath of the failed coup, Chavez talks to Harnecker about the formation of his political ideas, his aspirations for Venezuela, its domestic and international policies, problems of political organization, relations with social movements in other countries, and more, constantly relating these to concrete events and to strategies for change. The exchange between Harnecker and Chavez—sometimes reflective, sometimes anecdotal, always characterized by their passionate commitment to the struggles of the oppressed—brings to light the process of thought and action behind the public pronouncements and policies of state. The interviews are supplemented by extracts from Chavez’s most recent pronouncements on the ongoing transformation in Venezuela and Latin America, an analysis by Harnecker of the role of the military, and a chronology. Chavez has become a symbol of defiance of U.S. imperialism throughout Latin America. His importance for the future of the region makes this book essential reading.
Hugo Rafael Chávez Frías (28 July 1954 – 5 March 2013) was a Venezuelan statesman and former career military officer who became president of the Bolivarian Republic of Venezuela from 1999 until his death in 2013.
A good and interesting introduction to Hugo Chavez's life and the Bolivarian project, based on interviews conducted shortly after the failed 2002 coup. Most of the arguments were quite familiar, although I was interested in the frequency with which Chavez cited Mao, as well as theorists like Negri.
I was quite taken by this quote (p.55): "Some people point to me as the cause of all society's problems, others as if I am the benefactor, responsible for everything good, but I am neither the former nor the latter. I am but a man in particular circumstances, and the most beautiful part is that an individual human life is capable of contributing to the growth, the awakening of the collective strength. That is what matters!"
And, later on the same page, "we should not commit the mistake of taking power away from the people from whom our power derives."
Melihat cover buku ini, bisa saja orang akan langsung berkomentar: “Lho kok mirip Prabowo dengan Kabaret Kopassusnya?” Komentar ini entah apa maksudnya, tentu mengandung harapan, penilaian atau bahkan sinis: Tentara, dalam hal ini tentara Indonesia, bisakah berperan dalam demokratisasi dan kesejahteraan rakyat?
Hugo Chavez Frias yang menjadi cover buku ini memang seorang tentara dan akhir-akhir ini menjadi perhatian banyak orang, banyak kalangan. Sepak terjangnya pun selalu diikuti, terutama dalam menghadapi Amerika Serikat dan tak hentinya menyerukan dan menggalang persatuan bangsa-bangsa untuk menghadapi kekuatan neoliberalisme yang dimotori Amerika Serikat. Misalnya pembentukan ALBA, Alternatif Bolivarian untuk Amerika Latin, dengan anggota sementara: Kuba, Venezuela, Bolivia, Nicaragua dan Ekuador. Pernyataan-pernyataan pun Pidatonya yang menggugah dan memberanikan rakyat miskin pun sering dikutip seperti: “…bila kita hendak mengentaskan kemiskinan, kita harus memberikan kekuasaan pada si miskin, pengetahuan, tanah, kredit, teknologi dan organisasi. Itulah satu-satunya cara mengakhiri kemiskinan”.
Bagi sebagian aktivis sosial dan politik di Indonesia, Chavez menjadi inspirasi karena keberhasilannya menasionalisasi kekayaan minyak negaranya untuk misi-misi kesejahteraan rakyat dan keberhasilannya mendorong partisipasi rakyat dalam menentukan kebijakan publik. Keberhasilan ini juga ditunjukkan dengan besarnya dukungan rakyat terhadap Chavez setidaknya ketika terjadi kudeta kepada dirinya. Tanpa dukungan media televisi swasta dan sementara itu satu-satunya televisi pemerintah pun disabotase penyiarannya, Chavez dapat bertahan dari usaha kudeta yang dipimpin partai politik sayap kanan, asosiasi bisnis, beberapa perwira tinggi militer dan didukung Amerika Serikat pada tanggal 11 April 2002. Lingkaran Bolivariannya yang kebanyakan rakyat miskin kota sebagai basis utama pendukungnya dalam waktu 48 jam dapat bergerak ke istana dan menggagalkan kudeta.
Dengan dukungan kekuatan rakyat inilah, Chavez memberanikan diri untuk mendeklarasikan Sosialisme Abad 21, yang bercirikan humanisme, demokratik, dan solidaritas.
Marta Harnecker, penulis buku ini dalam kesempatan lain mengatakan: “Chavez tahu bahwa kita hanya dapat menciptakan masyarakat sosialis masa depan jika rakyat yang paling sederhana, yang paling miskin, yang paling tertindas, bisa terlibat dalam proses tersebut. Hal yang hebat dari Chavez bahwa ia adalah pemimpin yang mempromosikan organisasi kerakyatan, orang yang yakin bahwa kekuatan dalam proses ini adalah organisasi. Chavez selalu menyerukan, pembentukan lebih banyak organisasi dan penciptaan organisasi baru. Kadang, terlalu banyak. Ini adalah kreativitas yang memberi kesempatan semua orang untuk mengorganisasi diri. (Marta Harnecker: Eksperimen Kuasa Kerakyatan di Venezuela, dalam Global Justice Update, Tahun V, No 2 Februari 2007;34-36)
Dengan begitu kehadiran buku ini dalam terjemahan Indonesianya, patutlah disyukuri. Setidaknya, para aktivis sosial dan politik yang bercita-cita menyejahterakan rakyat dapat bercermin dari sepak terjang Chavez, bahkan Pemerintah SBY-JK yang saat ini juga menghadapi kendala yang sama: kemiskinan rakyat di tengah kelimpahan kekayaan alam.
Buku yang dibuat berdasarkan wawancara ini sepertinya mengingatkan kita pada percakapan Cindy Adams dengan Bung Karno, yang kemudian menghasilkan Autobiografi Bung Karno yang popular tersebut. Bedanya: Bung Karno ketika bertemu Cindy Adams sudah menjelang keruntuhannya, akibatnya revolusi Indonesia dari kaca mata Bung Karno sudah tak begitu tampak apinya sementara pertemuan Marta Harnecker dengan Chavez ini ketika Chavez berada dalam kekuasaan. Dengan demikian perspektif-perspektif revolusi, kendala dan hambatannya serta beberapa kemenangan dapat dijelaskan dan semuanya menunjukkan pada proses yang sedang berjalan: proyek sosialisme abad 21. Pembaca buku ini pun, sepertinya diharapkan untuk terlibat pada proses sejarah yang saat ini sedang berjalan dan bertransformasi di Venezuela dan Amerika Latin. Setidaknya menjadi saksi terhadap perubahan yang sedang berjalan ini.
Melalui wawancara dengan Marta Harnecker ini, Chavez juga dapat menunjukkan proses perubahan itu dengan baik, termasuk pahit getirnya dalam memimpin revolusi Venezuela.
“Kami berdebat secara mendalam mengenai arah yang akan diambil. Saat itu, terdapat cukup banyak kontradiksi; beberapa grup menolak jalur electoral, dan mereka meninggalkan gerakan. Mereka menuduh kami telah mengabaikan revolusi karena tidak melanjutkan perjuangan bersenjata tapi siapakah yang pernah berkata bahwa senjata menjamin arah revolusi? Sama seringnya, senjata telah menjadi alat kontra-revolusioner. Masih terdapat beberapa individu atau grup yang kritis terhadap proses pemilihan namun yang lainnya telah kembali bersama kami” (h. 58)
Buku wawancara ini juga memberikan gambaran tentang watak demokratik, kecerdasan dan kerendah-hatian Chavez sebagai pejuang revolusioner. Ia tampak tak pernah memendam rasa yang membuatnya dapat menjadi korban perasaan atau sakit hati di hadapan pejuang-pejuang lainnya. Situasi ini ditunjukkan ketika Marta menanyakan: Adakah dalam suatu masa dalam hidup Anda, Anda mengakui kepemimpinan orang lain di samping diri Anda sendiri?
Jawaban Chavez jelas:
“Ya, sebagai seorang tahanan, ketika kami tengah mempersiapkan pemberontakan militer yang kedua, muncul sebuah kelompok pimpinan militer lainnya. Saya ingat kami mengirim surat dan catatan dari penjara untuk persiapan pemberontakan kedua, yang kami harapkan terjadi pada Juni atau Juli, utamanya terdiri dari orang-orang dari angkatan darat. Kemudian di penjara, kami mendapat informasi lewat salah satu perwira tentara yang masih bebas, bahwa orang-orang dari angkatan laut dan angkatan udara juga tengah mempersiapkan gerakan lainnya. Mendapat kabar itu kami memutuskan untuk menghentikan gerakan kami. Dan saya adalah salah seorang yang mengirimkan pesan bahwa saya mengakui komando mereka yang berada di luar penjara itu: “Kami adalah tahanan, dengan keterbatasan yang banyak; kepemimpinan adalah yang berada di luar sana: Laksamana Gruber, Jenderal Visconti, Laksamana Cabrera Aguire dan Kolonel Virginio Castro. “Mereka membentuk sebuah komando politik militer. Waktu itu, sebagai contoh saya merekomendasikan agar mereka memasukkan Pablo Medina ke dalam komando politik itu dan mereka melakukannya. Situasi saat itu menunjukkan bahwa saya tidak bisa sebagai pemimpin.” (h.68-69)
Sebagai catatan penutup, buku ini memang setidaknya dapat memberikan gambaran untuk memahami revolusi Venezuela. Tapi, ini belum cukup. Dia baru membukakan pintu yang membuat kita dapat masuk ke pemahaman revolusi Venezuela yang lebih luas dan jelas. Judul buku ini mungkin yang tepat adalah Memahami Chavez: Chavez dengan revolusinya, para pendukungnya dan para inspiratornya: yang bergerak dari Simon Bolivar, Mao Zedong, Lenin …sampai Yesus Kristus.
Untuk memudahkan pembaca, buku ini juga dilengkapi indeks tokoh dan peristiwa penting.
این کتاب شامل مصاحبهی محقق و پژوهشگر معروف مارتا هارنکر با رئیس جمهور وقت ونزوئلا هوگو چاوز است. چاوز، آنطور که خود میگوید و هارنکر هم تایید میکند اهل پرحرفیست و به هر سوال آنقدر جوابهای طولانیای میدهد که هارنکر مجبور میشود به صورت متوالی صحبت او را قطع کند. چاوز در این کتاب در خصوص مسائل مختلفی صحبت میکند. از کودتای نظامی 1992 گرفته تا رقابت انتخاباتی سال 1999. از کودتای 2002 تا ضد کودتایی که او را به صندلی ریاست جمهوری بازگرداند. طی خواندن مصاحبههای چاوز، بر خلاف تبلیغات گستردهی رسانههای غالب، چند نکته به نظرم جالب آمد:
یک چاوز کمونیست نبود. ونزوئلا کشوری کمونیستی یا حتی سوسیالیستی نیست. چاوز به عدالتخواهی و ناسیونالیسم بولیواری و اتحاد کشورهای آمریکای لاتین جهت نیل به آرمان اتحاد و قدرت سیمون بولیوار باور داشت.
دو چاوز نسبت به مخالفانش بسیار نرمخو بوده است، تا آنجا که صدای اطرافیان و حامیان وفادارش هم درمیآید. او اکثر کسانی را که در کودتای 1999 دست داشتهاند بخشید و به تعداد زیادی از آنها دوباره سمتهای سیاسی و نظامی داد. رسیدگی به پروندهی کسانی که مقصر اصلی کودتا شناخته شدند کاملا عادلانه و بر مبنای شواهد و قرائن با طی مراحل قانونی صورت گرفت. این دادگاهها نه به صورت شتابزده، بلکه با حوصلهی بسیار در مدت زمان نه چندان کوتاهی به پروندهی این افراد رسیدگی کردند.
سه بر خلاف چیزی که رسانههای غربی و نوکران بیجیره و مواجب ایرانیشان میگویند، چاوز فردی دموکرات بود، با انتخابات به ریاست دولت رسید و در چهارچوبی کاملا دموکراتیک عمل میکرد. قانون اساسیای که مجلش موسسان او برای ونزوئلا تدوین کردند یکی از قانونمندترین و قویترین قوانین اساسی در آمریکای لاتین است که همواره به حقوق مدنی و شهروندی افراد توجه ویژه دارد.
چهار ایجاد نهضت بولیواری و به کارگیری ارتش در فرآیند بازسازی کشور پس از نابودی اقتصاد و بیتوجهی به توسعه و بهبود زیرساختها در اثر سلطهی نئولیبرالیسم بر ونزوئلا اقدامی مبتکرانه، مفید و ضروری بود. در نتیجهی این امر مدارس، مزارع، بیمارستانها، جادهها و خانههای بسیاری ساخته شد. همیاری بیچشمداشت فیدل کاسترو و ارسال رایگان تجهیزات پزشکی و پزشک کوبایی به ونزوئلا هم نکتهی جالب دیگری بود.
پنج عدم مقاومت در خصوص کودتا و جلوگیری از کشتار مردم توسط کودتاچیان نکتهی جالب دیگری بود. چاوز با 4 پیششرط ساده خود را تسلیم کودتاچیان کرد. کودتا به واسطهی حمایت گستردهی مردم و محاصرهی پادگانهای ارتش و حمایت بخشی از بدنهی ارتش بخصوص نیروی هوایی شکست خورد. پس از شکست کودتا خبری از کشتار و انتقام نبود. آرامش سریعا به کشور بازگشت. اکثر کشورهای دنیا هم کودتا را محکوم کردند
شش تشکیل کمیتههای بولیواری موضوعی بود که تا حدی من را به یاد انقلاب فرهنگی چین و تشکیل گروههای خودجوش سیاسی انداخت. هرچند بولیواریها مسلح نبودند و مخالفی را به قتل نرساندند و وظیفهی انها صرفا آموزش و تحکیم رابطهی کارگران و کشاورزان با دولت و حزب جمهوری پنجم بود.
An interesting and breezy set of interviews. I tend to stay away from reading/listening to the words of Great Leaders, but this was remarkably insightful and full of interesting details about Chavez's political life in the '80s and '90s, the thought process behind setting up various political parties and revolutionary cells, the transition into government, and the strategic thinking around how to set up decentralized and popular governance. Harnecker is a good interviewer too; a socialist and pro-Chavez, but still asking some cutting/critical questions about mis-steps, problems, etc.
Great little book for people who already have general knowledge about Venezuela and the Bolivarian Revolution, but want more insights and analysis from the big man himself.
Relatively short read but quite detail heavy, it does provide a good bit of detail on some of Chavez's ideas and policies as well as going into some detail about the 2002 coup attempt in the last chapter. I enjoyed this one but perhaps I should have started with a more general Chavez biography prior to this one.
This was a very interesting book and I definitely recommend it. Marta Harnecker, who is a leftist and is very knowledgeable about foreign policy and social movements and economics and trade in Latin America, interviews Hugo Chávez in depth. She asks him about the political party and the MAS and the lead up to taking power, as well as about successes and challenges while they have been in power. She asks him about his failures and shortcomings, and Chavez does admit to these; he seems to be a very frank person and he is critical of himself. The last chapter is about the attempted coup in 2002. One criticism I have is that Harnecker does not ask enough difficult questions. I am generally sympathetic to Chavez and the goals of the Chavez government, but for that reason we should be very critical of them. Secondly and less important, they do not talk about the translation in the book. It would've been nice to read some comments about it, and I like to hear about why a translator translates a word or phrase in a particular way, or why something is basically untranslatable.
Still don´t know how to feel; I have a sort of love/hate admiration of the guy, and far from giving me any conclusive feelings, they were just more complex than before. However, in light of the Syriza victory in Greece and the growth of left-wing movements in Southern Europe and the uprising in Ferguson, it gave me more appreciation for a process that so many, even its participants, were skeptical about. If there's one criticism I have of Chavez after reading this, it's not that he is too much of a firebrand, but in the words of my mentor, he's just Scandinavian-like Social Democrat with tough rhetoric. He made too many conciliations with the Venezuelan-right, and now in retrospect it seems to have bitten the process in the ass with the recent coup-attempt and the death of activists at the hands of guarimbas. Tspira in Greece and Iglesias in Spain should keep this in mind.
Aku baca terjemahan bahasa Indonesianya. Yang nerjemahin sobat ku soalnya hehehe siapa lagi kalo bukan Bapak Pius dan Ibu Tunggal cs... Katanya sih buku pertama yang diterjemahin ke bahasa Indonesia tentang Chavez, kalau kata Ayie masih ada yang lebih awal, kumpulan pidato Chavez, tapi cetaknya dikit dan nggak booming. Buku ini sudah beredar luas di kalangan aktivis, Budiman ngeborong untuk dijual ke cabang-cabang Repdem/PDIP. Bahkan Mabes Cilangkap pun mencermati kehadiran buku ini. Maklum, dengan latar belakang tentara, Chavez bisa jadi panutan di kalangan tentara reformis. Tapi SBY nggak akan mungkin sanggup mengikuti jejak Chavez.
Ran into this book at Left Bank Books in Seattle during a trip up north over the summer. Sounds quite interesting, seeing as the Chavez administration has been swift in implementing their many social and economic changes to Venezuela.
This is a great follow up to the documentary "The Revolution Will Not Be Televised". The best is it is in English and much is written in Spanish. Hugo Chavez is Wall Street banksters worst enemy!