“Marmut kan gak tahu kalau itu taman” kata saya membela diri.
“Pemiliknya kan tahu” kata dia.
“Allah memang maha tahu”. Saya langsung suka pada momen dialog yang membahas ketuhanan seperti ini.
“Allah apa?” dia tanya.
“Sang Maha Pemilik?”.
“Apa? Bukan Allah!” katanya. “Yang beli marmutnya”.
“Oh”.
“Yang beli marmutnya kan tahu”.
”Seseorang yang sederhana, baik, dan pengertian. Tapi kadang-kadang orangnya rada aneh tapi unik. Kalau mau ngasih sesuatu suka lupa. Ngasih poster atau kaset sampai sekarang juga belim juga ngasih.” – Heru Khaerudin, Office Boy – P Project
”Si Bang Pidi orangnya per (fair/Red.). Gak mudah tersinggung, bisa mengambil hati orang, mudah banyak kalir (karir?Red.). Sama orang kecil disamakan. Saya salut dengan kepribadiannya.(Subhanallah/Red.).” --Ibu Marna, Pemilik Kios Rokok
“Bos Pidi seniman. Kalo ngomong ngaco karena seniman. Gak ngerti!” –Dayat, Bodyguard Penulis.
“Paling sukanya asin cumi sama sambal. Kalau sedang di rumah suka nyuruh anak-anak shalat. Waktu masih pacaran ke rumah bawanya bala-bala sama kerupuk, deh.” –Amih Nina, Ibu Mertua
”Kenapa jadi pada ngomentarin penulisnya, bukan bukunya.” –Rosi, Istri Penulis
Pidi Baiq adalah seorang seniman yang punya banyak kelebihan. Selain sebagai seorang musisi dan pencipta lagu, ia juga seorang penulis, ilustrator, pengajar dan komikus. Pidi Baiq mengaku imigran dari surga yang diselundupkan ke Bumi oleh ayahnya di Kamar Pengantin dan tegang.
Kemarin siang, ga ada jam ngajar, main ke perpus. Di kotak buku belakang mbak Lena sang pustakawati, ada buku ini. Hmm, daripada udah masuk perpus ga baca apa2 (koran yang jadi incaran sedang dibaca siswa kelas 5), saya ambil buku ini. Eh iya, dibaca dong. Ah, makin biasa aja ternyata.
Buat saya, kok Pidi Baiq makin kelihatan "tidak baik"nya, ya. Silakan cek, dari sekian cerita di buku ini, ada berapa kalikah dia cerita tidak iseng lalu bagi2 uang/makanan?
Saya kok maunya menganggap tokoh "saya" di serialnya Pidi Baiq tuh tokoh fiktif saja. Mungkin lucu, dan geregetan kalo ada seorang tokoh protagonis yang suka iseng, tapi senang pamer bagi2 duit. Paling kita jadi ngedumel pada si tokoh, ngedumel percuma karena si tokoh tidak merasa apa2... Biarkan aja, kan dia fiktif. Tapi kalo membayangin bahwa seorang Pidi Baiq-la yang begitu... wah... kan saya jadi terpancing suudzon pada pribadi ini. Padahal belum tentu juga saya lebih baik daripada Pidi Baiq.
Lalu, atas saran pembaca lain, dia nanti akan datang dan membaca review ini, terus dia terpancing bikin tulisan di blognya di multiply atau di manapun tentang seorang Bunga Mawar yang tidak dia kenal, tapi sudah suudzon padanya. Lalu tulisan itu segera diterbitkan sebagai bagian seri kumpulan tulisan cacatan kelima dengan judul "Drunken Mawar". Pas banget, yang suka mabok itu: Monster, Molen, Mama, Marmut, dan berikutnya Mawar.
Di buku terakhir ini cerita Surayah makin bikin perut sakit. Gila! haha ga ngerti kenapa keren banget.. Pelajaran-pelajaran kehidupan juga bisa diterima.
Kalau belum baca Drunken Monster, kayaknya saya bakal kaget dengan gaya bercandaan Pidi Baiq yang agak unik ini. Kadang dia bohong, kadang ngerjain orang, kadang bikin orang repot, kadang bikin orang memandang aneh; tetapi semuanya dilandasi dengan niat baik. Biasanya, Pidi akan memberikan uang dalam jumlah yg tidak sedikit, bisa juga orang yg dikerjain ditaktir apa gitu. Intinya, Pidi ingin berbuat baik tapi dengan caranya yg unik sehingga orang yg menerima tidak hanya ingat akan apa yang diberikan tetapi juga orang yang memberikan. Jikapun bukan, setidaknya inilah cara Pidi untuk menjadi lebih dekat dengan orang orang.
Menjalani hidup memang harus serius, tapi hidup tak selamanya harus serius melulu. Ada lewat ketidakseriusan itu justru kita sedang melakukan hal yg sejatinya serius pentingnya dalam hidup. Gimana gitu? Ya misalnya untuk menyapa kawan atau tetangga atau bahkan keluarga dekat yang tanpa kita sadari kita sudah lama tidak tertawa lepas bersama mereka.
Nggak tau ya, kok jadi garing gini? Apa guenya aja yang jadi terlalu serius buat baca atau gimana haha. Terkadang gue menemukan jokes yang dipaksakan. Kalau dibandingkan sama tiga buku Drunken lainnya, menurut gue buku ini yang paling tidak sukses membuat gue tertawa.
Walaupun demikian insight-nya lumayan banyak. Surayah yang sederhana bisa nyempilin semua itu di buku ini dengan kerendahhatian. Salut.
Karena penasaran jadi bacanya ga lama2. Alhamdulillah bisa selesai cepat dan alhamdulillah masih bisa ketawa baca ceritanya. Baca bukuPidi mungkin harus punya 'sense' of Sunda juga jd lebih bisa menghayati dan membayangkan tingkah polah para pelakunya..mungkin ...
Judul: Drunken Marmut Penulis: Pidi Baiq Penerbit: Pastel books Dimensi: 204 hlm, 19.5 cm, cetakan I Agustus 2009 ISBN: 978 602 0851 174
Buku ini memuat 17 kisah keseharian penulis yang luar biasa "gila" dan berani melakukan hal berbeda. Hal sederhana bahkan serius bisa dibawa santai dan jadi guyon cerdas ala pidi baiq. Lucu membayangkan kalau ini dibuat film. Berkali saya menggumam "Ini beneran dia lakukan? Kok ada ya makhluk kayak dia?" Hahaha
Misalnya saja keisengan mengajak bicara dan bercanda orang yang baru dikenal seperti di "Oh Pram", "Mencatat sate", "Linglung hansip", "Lari pagi Philipina", "Malaysia HUT RI", "Warnet Bugil", dan "Kereta terowong" (yang sampai mengeluarkan uang lebih banyak demi keisengan berfaedahnya). Niat awalnya mungkin bercanda, tapi keberanian menyapa, membuka percakapan dan menjalin silahturrahim penulis ini unik hingga menghasilkan cerita di atas, padahal polanya mirip semua.
Yang lebih lucu lagi, Bunda, istri dan keluarganya itu loh... sabar ya menghadapi jahilnya penulis haha. Seperti di cerita "Drunken marmut", "Binatang tipu", "Keliling awug", "Swara kamar", dan "Pengemis bunda".
Meski lucu, buku ini pun membuat saya agak #jleb di bagian "SMA berseragam" yang bercerita tentang gurunya di SMA. Mirip dengan salah satu tokoh guru di novel penulis lainnya: Dilan.
Well, secara keseluruhan isinya crunchy dan menghibur, bahasanya pun mudah dicerna. Cuma saja saya agak kurang suka dengan ilustrasi dan covernya (n__n)
Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.
"Di negara mana pun kita berada, hal terpenting adalah tetap memastikan diri untuk menjadi manusia yang keren. Manusia warga dunia yang melakukan perbuatan baik dan berguna bagi alam semesta. Semata-mata demi atas nama tuhanmu, bukan atas nama apa pun." (H.136)
"Kisah masa lalu itu indah. Atau dia indah karena sudah menjadi masa lalu. Sehingga apa yang kini tak kita anggap indah, kelak akan berangsur menjadi indah." (H.196)
Ini buku kedua dari Pidi Baiq setelah Dilan yang saya baca. Awalnya, mendengar karya beliau yang Drunken series begitu banyak mendapat pujian. Saya langsung mengategorikan buku ini ke genre komedi atau humor. Beberapa bagian membuat saya tertawa dan gak habis pikir sama jenis orang seperti Surayah. Gilak! Kok, ada ya, orang seperti ini di dunia?
Tujuh belas cerpen yang tersaji kebanyakan adalah kisah yang dialami Pidi Baiq. Jadi, bahasanya ringan dan mudah dicerna, meskipun mungkin bagi sebagian orang akan berpikir gaya bahasa yang digunakan berbeda dengan kaidah tata bahasa. Sedikit nyeleneh, tapi tetap bisa dinikmati.
Meskipun nyeleneh seperti yang saya bilang, atau mungkin ada yang berpendapat bahwa ceritanya cuma bualan. Namun, di balik itu ada banyak pesan moral yang ingin disampaikan. Sangat menghibur, tapi karena saya kurang mendapat kepuasan, jadi, saya beri 3 dari 5.
Allahu Akbar...!!! semua cerita yang ditulis pada serial drunken gak ada yang gak sukses bikin ngakak dan mikir. terimakasih surayah dan segala isi semesta telah menciptakan suatu kondisi yang patut diceritakan. . . bagiku, serial drunken ini adalah buku panduan untuk menjadi suami, ayah, masyarakat dan umat yg menyenangkan. bagi calon suami atau suami 'anyaran' diharuskan baca buku ini. terserah mau beli, minjem atau numpang baca di toko buku. disarankan sih beli ya.. biar yang ngalir ke penulisnya gak cuma barokahnya, royaltiya juga. . . aku rasa, genre humor adalah buku nasihat yg akan populer dimasa yg akan datang.
gak berekspektasi bakal selucu dan semenyenangkan ini baca buku dengan alur cerita sederhana nan absurd yang dikemas sanget ciamik sehingga masih bisa menyentuh imajinasi.
gabisa berhenti ketawa dari bab pengantar. wajib dibaca ketika stress dan mempertanyakan kehidupan (biar makin mempertanyakan lagi tapi gapapa kan sambil ketawa).
Drunken Marmut menyajikan cerita-cerita pendek dengan gaya bahasa khas Pidi Baiq, sederhana dan jenaka. Tapi kurang memorable, mungkin karna berupa cerpen dan saya sering nemu kejadian2 serupa atau malah mungkin saya sendiri yang mengalaminya, hehe.
Saya sangat mengagumi karya-karya buku belio termasuk seri Catatan Harian Pidi Baiq yang lainnya. Pembawaan humor yang khas dan sangat intelektual membuat apa yang nggak kepikiran sebelumnya jadi bikin saya kepikiran setelah membacanya. Gokil! Humor kelas atas begini mungutnya darimana, ya?
Lumayan bikin ngakak, mungkin karena penulisnya orang Bandung jadi cerita-cerita dan gaya ceritanya sangat dekat dengan keseharian. Modelan buku yang cocok dibaca kalau lagi kangen dengan Bandung. Tapi cocoknya untuk millenials sih wkwk kalau beda generasi mungkin sudah berbeda preferensi lagi.
I love his writing styles. the stories were so simple. very simple. probably too simple. the special thing is that was him & his surroundings are nearly as mad as him. hilarious
Saya membaca buku ini dalam rangka iseng. Biasalah, Dira, adik saya, sedang hobi sekali menyetel lagu The Panasdalam, bikin penasaran dengan karya dari sosok yang mengaku Imam Besar The Panasdalam Serikat ini : Pidi Baiq.
Dulu zaman SMA pernah membaca Drunken Monster, buku pertama dari seri Drunken ini. Karena gaya penulisannya yang sengaja menafikan kaidah, sempat merasa agak malas dan skeptis dalam membaca kelanjutannya.
Namun ternyata (untungnya) buku ini sudah lebih rapi daripada pendahulu pertamanya, tanpa meninggalkan gaya penulisan Pidi Baiq yang hobi melonjak ke sana ke mari. Bikin gemes dan geli sama pemikiran dan polah Surayah yang satu ini. Dari mulai kata pengantar sampai lampiran (macam proposal acara, hahaha) kocak semua. Jadi terpikir untuk mencari kembali seri-seri antara Drunken Monster dan Drunken Marmut. Saya bahkan baru follow twitter Pidi Baiq nih, setelah baca buku ini (ya terus kenapa, hahaha).
Saya biasanya ngga suka-suka amat baca buku humor tapi buku ini sukses bikin saya ketawa dalam dosis yang tepat. Lucu yang sederhana, tanpa perlu merendahkan diri penulisnya--suatu jenis humor yang tengah marak dan menjenuhkan akhir-akhir ini.
Buku yang asyik untuk dibaca sambil menunggu. Menunggu waktu makan siang. Menunggu giliran dipanggil dokter gigi. Menunggu jodoh. Terserahlah. Hahaha.
Bagian favorit : 1. Binatang Tipu. Interaksi Pidi Baiq dan istrinya adorably sweet sekali. 2. PSP The Panasdalam. Kocak, diselipi nilai-nilai idealisme yang khas mahasiswa. Dulu dan sekarang tidak jauh beda, meski kami tak sampai bikin republik segala. Nice!
Serial ke 3 dari buku Drunken-nya Pidi baik. berjudul drunken marmut karena didalamnya ada satu bab yang menceritakan perihal marmut. 2 ekor marmut yang dipelihara di taman depan rumah tapi gak diridhoi keberadaannya oleh si pemilik taman, Si Suribu orangnya. karena katanya di rumah sudah terlalu banyak hewan yang dipelihara ; ada ikan, ada anjing, ada kucing. dan sekarang ditambah dengan 2 ekor marmut ; membuat tatanan di taman menjadi mudah sekali diacak-acak. hingga akhirnya para marmut tersebut harus dibuang, namun sebelum dibuang, masih sempat-sempatnya Pidi dan anak-anaknya menyelenggarakan terlebih dahulu pembacaan puisi untuk mengantar kepergian marmut tersebut. Halaaah, ..aya-aya wae.
Tapi diantara 16 kisah yang ada dibuku ini, saya menyukai yang, ... di bagian akhir buku ini, yaitu tentang biaya pembuatan buku ini selama 3 minggu yang menghabiskan anggaran sebanyak Rp 1.012.000 dengan perincian yang detail hingga yang itu teh sudah ditambah 10% (Loe kira pajak, Pid! Haha). jadi kaya lihat proposal gitu jadinya.
Buku aneh. tapi bagus juga buat koleksi. kalo ternyata di dunia ini orang-orang gak selalu harus serius, ada juga orang yang malah anti-serius, dan anti mainstream. biar bervariasi juga rak buku yang isinya jangan buku-buku yang tebel, berat dan serius, maka menempatkan buku serial drunken di rak tersebut, seolah membaut dinamikanya tersendiri. oh iya, ini buku cetakan terbaru, edisi terbaru pula. tapi tidak ada label best seller di bagian covernya, sementara di bagian testimoni dari penulis disebutkan sebagai buku best seller. teu kaci ah, pid. euweuh buktina buku ieu best seller. Hahaha, ..
Saya sering tidak mengerti apa yang sebenarnya ada di dalam kepala Pidi Baiq, bisa jadi lebih dari separuh isinya adalah keusilan. Bocah-bocah disuruh menyanyi koer di kamar mandi; atau ketika Pidi mengajak pegawai baru “ciuman”; atau tukang sate yang harus berkomunikasi lewat kertas dengan Pidi; atau, atau yang lain sebagai bukti tingkat keusilan penulis yang sudah tinggi.
Uniknya. terkadang Pidi tidak sekadar usil tapi juga memiliki “sesuatu” lewat tingkahnya, Saya cukup takjub dengan aksi “bagi-bagi awug” yang dilakukannya bersama si mbok pedagang awug. Tidak hanya berniat meringankan si mbok dengan memborong jualannya, tapi juga bermurah hati berkeliling memberikan awug kepada supir angkot, tukang becak, kusir delman, dll. Bentuk kepedulian yang dibungkus dengan keisengan.
Satu lagi yang saya tangkap selama membaca Drunken Marmut ini adalah cara berpikir Pidi yang out of the box. Cara berpikir yang tidak terdikte membuat sosok Pidi dalam buku ini seperti orang yang sangat bebas dan ekspresif. Sebenarnya sebelum menekuni drunken marmut, saya pernah membaca drunken monster setahun yang lalu. Tapi saat itu saya tidak mengerti di mana menariknya buku pertama serial drunken. Baru setelah membaca Hanya Salju dan Pisau Batu, buku duet Pidi Baiq dengan Happy Salma, saya memahami ‘kekacauan’ pola tingkah bapak dua anak ini.
Yah, cukup sekianlah ripiunya, baca saja bukunya, pasti lebih seru :D
Buku yang ditulis oleh Pidi baiq ini menceritakan tentang kekonyolan dan keisengan yang sungguh diluar batas wajar seseorang. Ceritanya sulit di tebak, saya nggak tahu, sebenarnya apa saja sich, yang ada di otak penulis itu, mungkin karena banyaknya pengalaman konyol yang ada di hidupnya kali yaa’. Akan tetapi di balik keisengan penulis dalam menjahili siapapun tersebut (meskipun biasanya sang penulis lah yang kena imbas dari keisengannya tersebut), namun selalu ada nilai moral yang dapat dipetik. Buku tersebut dicetak dengan cover buku yang dominan biru, dengan banyak gambar seperti tulisan tangan. Begitu pula dengan yang ada di dalam buku tersebut,cukup banyak gambar yang sesuai dengan apa yang di ceritakan, jadi setelah kita selesai membaca beberapa lembar cerpen tersebut, kemudian di tambah dengan melihat gambar gambarnya, maka lengkaplah sudah imajinasi kita tentang cerita tersebut. Cerita dalam buku tersebut pun cukup universal, bisa di baca mulai dari anak anak, remaja, dewasa, sampai kakek kakek pun juga bisa, maklum lah dengan isi yang bertemakan tentang kekonyolan. Harga buku ini pun cukup terjangkau untuk masyarakat menengah ke bawah. Namun, kelemahan dari buku ini adalah adanya alur cerita yang membingungkan ditambah juga dengan adanya penggunaan bahasa bahasa daerah(Bandung) yang ada sedikit belum di artikan oleh sang penulis, akhirnya, jadi bingung deh saya mengartikannya.
Buku Drunken Series selalu menitip sebuah tanya setelah kita membacanya; 'sudahkah kita berfoya-foya dalam hidup? sudahkah kita bermain dengan total dengan segala yang kita miliki?"
Seperti biasa Pidi Baiq menulis kisah ajaib dari rutinitas sehari-hari. Pidi adalah raja di bidang kejailan.
Pidi Baiq memelihara 2 marmut bernama Galon dan Termos. Keduanya hidup dengan sejahtera di taman rumah Pidi Baiq. Di kemudian hari 2 marmut itu mengganggu tanaman dan membuat suribu jengkel. Suribu menyuruh Pidi untuk membuang kedua marmut tersebut. dibuatlah sebuah acara pembacaan puisi sebagai perpisahan dengan marmut. Timur, Bebe, Suribu, dan Odah bergantian membaca puisi sambil memegang lilin.
Pagi hari Pidi datang ke kantor P-Project. Kantor tersebut masih sepi, hanya ada Heru dan Pram di lantai 2. Pram orang baru di kantor P-Project. dengan jailnya Pidi Baiq mengajak "Pram, kita ciuman yuk!"
Tahun 1995, Pidi Baiq di lab lukis FSRD ITB mendirikan negara bernama The Panasdalam. Pidi kecewa dengan Pemerintahan Indonesia yang banyak mengekang dan tidak ada kebebasan. Kata Pidi, ini adalah satu-satunya negara yang presidennya hafal semua penduduknya.
Masih banyak cerita aneh dan unik di buku ini. Selain kita dibuat tertawa, kita juga diajak berpikir dan memaknai hidup. Ah, ternyata dalam kesederhanaan bisa kita kreasikan hidup yang lempeng ini jadi sesuatu yang istimewa.
Kumpulan cerita pendek yang saya rasa benar benar dialami si penulisnya, Pidi Baiq. Kisah yang menjadi judul utama buku ini, Drunken Marmut, berupa curhatan Pidi yang dipaksa sang istri (suribu) untuk membuang marmut peliharaannya. Marmut itu mengancam taman apik milik Suribu, jadi ya mau ga mau harus disingkirkan.
Ternyata pidi baiq itu agak sableng ya. Saya cukup menikmati beberapa cerita di buku ini, meski sebagian besar saya malah plonga plongo mikir di mana bagian lucunya. Tapi kan ini bukanlah buku humor, hanya memang kekonyolan pidi sesekali membuat pembacanya tertawa terbahak bahak.
Yang paling berkesan itu cerita terowongan. Entah itu si pidi bohongan berharap ajakannya diseriusin apa kaget karena ternyata ajakannya beneran diseriusin. Yah, untungnya dia nggak main suruh si abang becak pulang gitu setelah lewat terowongan.
Yang bikin ketawa kepingkal pingkal itu bagian Pidi dan pengemis. Syukurlah keluarga besar Pidi kayaknya tahu kalau pria ini usil sekali, meski kadang dia baik hati. Nah kalo yang ambigu plus ngga ngerti kek gimana maksudnya itu ada beberapa, salah satunya yang hut RI.
Yah, meski banyak yang bilang buku ini lucu, sayangnya saya bukan termasuk salah satunya.
Sepertinya ini berkaitan dengan perasaan hati saya.
1. Saya membacanya di malam hari, saat yang nggak bagus untuk baca buku komedi, apalagi sesudah menuntaskan 40 lbr Nyanyi Sunyi - Pramudya. Alhasil saya tidak ketawa baca buku ini, karena masih terpengaruh oleh buku PAT itu.
2. Selanjutnya saya baca malam hari lagi.. Sambil makan malam namun tidak bisa konsentrasi karena sambil diganggu oleh si kecil. Jadilah bacanya sepotong2, dan juga ada beberapa bagian sdh pernah saya baca di blog. Dulu sih terpingkal-pingkal, tapi sekarang biasa aja.
3. Biasanya buku Pidi Baiq selalu saya baca di perjalanan, entah kenapa kali ini tidak, karena saya terburu2 ingin membacanya, di tengah tumpukan to-read list di hari minggu malam, dan kejadiannya seperti no 1.
4. Jangan baca buku karena kejar setoran deh, supaya yang dibaca jadi banyak misalnya, jadinya tidak enjoy... Buku komedi jangan jadi pelarian buku serius, nanti akan kejadian seperti no 1.
Sebenarnya saya suka buku ini, karena saya suka yang ringan dan segar, tapi karena saya tidak ketawa seperti buku2 sebelumnya, yaa.. 2 bintang cukuplah, karena buku ini tdk bisa mengubah perasaan hati saya..
entah kenapa saya menyukai buku ini, saya memang suka cerita kocak, tapi ya ga suka-suka amat, tapi buku ini membawa sesuatu yang lain dari buku kocak yang pernah saya baca. di sini lebih banyak diceritakan tentang kejahilan aa' pidi, yang selalu aja ngerjain orang. bahkan keluarganya pun tak luput dari ulah isengnya.
tapi tak lupa pula, dibalik keisengan itu ada nilai moral yang bisa dipetik. yah meskipun di sini sering kali setelah berhasil ngerjain orang selalu ngasih sesuatu sebagai balasan (sesuatu berarti pemberian lho). artinya ni orang dermawan, dan salut aja ma orang kayak gitu. aku aja kadang butuh dorongan yang kuat buat nyumbang, eh ini udah ngerjain ngasih duit lagi. bahkan kadang ngerjainnya untuk sesuatu yang ga penting banget..hehe..kocak abis pokoknya.
mungkin yang kurang sih gaya penulisannya di sini sama sekali tidak terikat apapun. pokoknya nulis, EYD belakangan gitu kali ya. ya bahasanya mungkin bahasa orang ngobrol, ato orang komentar di jejaring sosial gitu, tak ada ikatan. bikin rileks sih sebenarnya.
yang paling utama ya pelajaran moralnya sih, dapet banget..^^
HAHAHAHA. Komentar pertama saya setelah membaca bab awal dalam buku ini. Semacam kombinasi yang menarik setelah membaca Catching Fire (yang berat) kemarin hingga mimpi buruk, kemudian membaca buku ringan yang menggelitik seperti ini.
Saya membaca buku ini ketika menjadi pengawas try out di salah satu acara kampus kemarin. Bukan punya saya, sih. Kepunyaan Dinda, teman seruangan saya yang berbaik hati meminjamkan. Dan (sepertinya) berhasil membuat saya jatuh hati. Bahkan berusaha menyelesaikannya cepat-cepat saking penasaranannya.
Salah satu cerita di Drunken Marmut ini tentang marmut-marmut peliharaan beliau, Bebe dan Timur (kedua anaknya) yang ternyata dilarang keras untuk dipelihara oleh Ibu Suri. Kemudian dibuatkan surat yang dibacakan di depan marmut-marmut itu. Lucu rasanya ketika membayangkan kejadian sebenarnya.
Lalu ada adegan Pidi Baiq yang iseng kepada orang lain. Tapi.. ternyata tujuannya baik. Ingin lebih dekat dengan orang lain atau membantu orang lain secara tidak langsung. Ah, sepertinya saya harus punya atau setidaknya membaca seri Drunken yang lainya. heheheeh
Jadi Pak Pidi Baiq, kok anda semacam bapak-suami-dosen yang kocak sekali ya?