Krich edits 22 essays by Albert Camus, D.H. Lawrence, Sigmund Freud, Theodor Reik, etc. "A handbook of love the for the student, the scholar, and the general practitioner."
Buku yang punya beberapa makna pribadi kepada saya: buku terakhir yang dibeli dari toko buku dekat tempat saya tinggal (yang sekarang tutup permanen), diterjemahkan oleh senior kuliah saya, dan diterbitkan oleh tempat saya pernah magang dulu. Masih ingat saat pertama kali ke kantor penerbit tersebut dan langsung lihat buku ini, yang judul serta desain sampulnya langsung menggelitik rasa penasaran saya, hehe tapi baru dibeli dan dibaca 12 tahun kemudian.
Isinya sendiri berupa kumpulan 22 tulisan tentang berapa kali kuharus katakan CINTA. Topik yang paling populer dipikirkan dan dibicarakan, tapi yang memikirkan dan membicarakan tetap nggak paham-paham pada akhirnya. Bisa dibilang, para penulis yang ditampilkan di sini bermaksud menyingkap tabir misteri di balik konsep cinta itu sendiri, antara lain dengan menganalisisnya dari sudut pandang ilmiah, memberinya definisi dan klasifikasi, mengkaji tujuan nyatanya bagi masyarakat, dll.
Karena semua penulis di sini orang Eropa/Amerika, latar budaya dan sejarah soal pembahasan cintanya hampir murni dari Barat. Pendekatan ilmiah dan filosofis yang terhadap cinta memang menarik, walau bahasa beberapa tulisan di sini terlalu mengawang atau bergantung pada konteks waktu dan situasi pada masanya. Editor atau pengumpul tulisan di sini juga tidak 'memayungi' tulisan-tulisan di sini atau membingkai temanya dengan lebih kuat, selain hanya mengelompokkan mereka ke tiga bab besar ('jalan cinta', 'makna cinta', 'kekuatan cinta'). Banyak tulisan yang juga hanya dicomot sebagian atau merupakan satu bab dari buku penulisnya, sehingga berpotensi tidak merepresentasikan pemikiran mereka secara holistik.
Dengan segala kekurangan struktural itu, masih banyak bagian atau nukilan menarik. Bagian awal tentang 'jalan cinta' lumayan banyak memberi saya pengetahuan baru tentang praktik cinta/seks/berumah tangga di masyarakat tertentu yang jauh di luar konvensi modern yang berlaku sekarang; dan bagaimana sejarahnya konsep cinta itu berevolusi seiring perkembangan zaman secara radikal. Beberapa tulisan memuat pemikiran menarik yang membuat saya ingin merenunginya lebih mendalam; seperti Theodor Reik yang bereaksi kontra terhadap teori psikoanalisis Sigmund Freud dengan berargumen bahwa cinta dan seks itu dua hal yang sangat terpisah; Margaret Mead, yang menganalisis berbagai kebudayaan dan memetakan bagaimana kecemburuan berakar di manusia; dan Pitirim Sorokin, yang menekankan sinergi antara eros dan agape.
Banyak pernyataan yang kurang relevan dengan zaman sekarang atau perkembangan masyarakat modern, tetapi walaupun saya tidak selalu setuju dengan apa yang mereka katakan, cukup menarik untuk membaca berbagai sudut pandang dari bapak ibu cendekiawan termasyhur ini. Sedikit banyak, bisa meyakinkan saya kalau cinta bukan hanya untuk dirasa, tapi juga bisa dimaknai lebih dalam, ditafsirkan tidak melulu dengan kata-kata indah nan puitis, serta terus direkonstruksi seiring makin banyak hal baru yang kita mengerti (dan tidak mengerti) tentang manusia.
Menarik. Huraian mengenai perihal cinta dan seks dari perspektif yg pelbagai melalui 22 penulis yg terdiri dari ahli falsafah, doktor , penulis, ahli psikologi terkemuka. Cuma sayang, kesemua karya datang dari warga eropah dan keseluruhan isi buku ini adalah terperangkap dgn cinta yg intipatinya keeropah-eropahan.
Cinta dan seks perlu diperbahas dengan lebih meluas melangkaui sempadan benua. Asia, afrika, eskimo, amerika latin wajar mengungkapkan cinta dari dimensi mereka.
Cinta tidak seharusnya terhad dari lingkungan freudian semata. Atau gagasan greek purba sekitar kisah eros dan aphrodite. Atau dari kutipan dari agape dari nalar agama kristian. Cinta seharusnya mencakrawala.