Pandangan Arlin terhadap piano berubah sejak Dora—adiknya—mengajaknya nonton konser Brunhilde Zimmermann, pianis terkenal asal Jerman di Sabuga. Saat itu, alunan permainan piano dari Aldo—teman sekelas Arlin di sekolah—yang menjadi guest pianist di acara tersebut tanpa sengaja ‘menyihir’ Arlin.
Sejak perkenalan itulah, hubungan Arlin dan Aldo semakin erat dan berbuah persahabatan. Meski Aldo adalah anak yang susah ditebak, namun satu hal yang bisa dipastikan oleh Arlin, ia seorang pekerja keras sejati. Aldo rela mengorbankan apa saja demi sesuatu yang disukainya.
Meski sudah setahun mereka menjadi sepasang sahabat, tapi banyak hal yang belum diketahui Arlin tentang Aldo. Termasuk tentang Liora, cewek kalem yang belakangan baru diketahui adalah mantannya Aldo.
Keberadaan Liora ternyata jauh dari bayangan Arlin. Liora bukan hanya sekadar mantan yang mudah dilupakan begitu saja. Tetapi, Liora adalah cewek yang selalu ada di hati Aldo. Meski Aldo sering kali menolak keberadaan rasa cintanya terhadap Liora, namun sorot mata Aldo tidak bisa berbohong.
Hal inilah yang menjadi awal kegundahan Arlin terhadap Aldo dan tentunya Liora. Cewek ini berhasil mendapatkan perhatian istimewa dari Aldo. Arlin merasa terusik dengan hadirnya Liora. Tidak hanya itu, Arlin juga merasa tidak bisa lagi berduaan dengan Aldo. Selalu saja ada Liora di antara mereka, meski keberadaan Liora hanya sebatas dalam hati Aldo.
Kisah persahabatan Arlin dan Aldo seketika berubah menjadi sebuah dilema. Arlin merasa ikatan yang ada di antara Aldo dan Liora begitu kuat. Sesuatu yang menyatukan mereka tak akan menghilangkan cinta di antara mereka. Sanggupkah Arlin melewati ikatan di antara Aldo dan Liora?
Baca kisahnya dalam novel Moonlight Waltz karya Fenny Wong yang diterbitkan oleh GagasMedia. Novel ini tidak sekadar menceritakan kisah cinta antara Arlin, Aldo, dan Liora saja. Lebih dari itu, novel ini berisi tentang ambisi dan keyakinan seorang remaja untuk menemukan dan meraih apa yang sebenarnya ia impikan. Meski banyak hal yang menjadi penghalang, namun kegigihan dan keyakinan akan membuahkan hasil yang diinginkan.
"Moonlight Waltz" bercerita tentang Arlin, seorang gadis SMA, yang bertemu dengan Aldo, teman sekelasnya yang sering dianggap kurang gaul, pada suatu konser musik klasik. Di acara itu, Arlin melihat Aldo memainkan piano dengan piawai, serta menemukan kenyataan bahwa Aldo sebenarnya seorang child prodigy di bidang musik.
Sejak pertemuan mereka di konser itu, Arlin menjadi sahabat Aldo dan pelan-pelan mulai menaruh perasaan pada cowok itu. Tapi, Aldo ternyata sudah punya cewek lain yang dia suka. Namanya Liora, teman sekolah mereka sekaligus seorang gadis dengan talenta vokal yang mengagumkan.
Di satu sisi, Arlin ingin Aldo menjadi orang yang paling istimewa dalam hidupnya, tapi di sisi lain, dia tahu bahwa Aldo hanya akan bahagia bila bersama Liora.
Ini buku ketiga penulisnya yang kubaca, tapi secara waktu penerbitan, buku ini adalah buku pertama karya penulisnya, alias novel debutnya Fenny Wong. Dan hal ini memang cukup terasa. Gaya penulisannya beda banget. Di sini sangat terasa gaya penulisan remaja ala teenli-nya, sementara di dua buku lainnya, penulisannya terasa lebih matang.
Saya suka dengan tema besar yang diangkat. Bukan cuma soal percintaan, tapi juga soal tujuan hidup. Di sini Arlin juga bertanya-tanya dan berusaha mencari tahu apa tujuan hidupnya? Apa yang sebenarnya ingin dia kejar?
Karakter-karakternya cukup menarik. Aldo adalah tokoh utama pria yang sifat negatifnya justru lebih terasa dibanding sifat positifnya. Melihat caranya menjalin hubungan dengan Arlin kadang saya pengin ngejitak dia.
Yang kurang saya suka dari novel ini adalah cara penyelesaian masalahnya. Masalah Aldo selesai dengan terlalu mudah. Saya bahkan bertanya-tanya, kalau memang hati orang yang menentang Aldo bisa berubah semudah itu, kenapa konfliknya malah bisa jadi panjang dan dramatis begitu, ya?
Saya juga kurang suka dengan perubahan yang dialami Arlin. Kesannya terlalu tiba-tiba dan menimbulkan pertanyaan, apakah bidang yang dia kejar memang semudah itu untuk terkejar? Secara dia mulainya telat banget. Kesannya malah menggampangkan bidang yang dia kejar.
Secara keseluruhan, saya cukup suka dengan ceritanya. Akhir ceritanya kurang memuaskan. Dua setengah bintang dengan pembulatan ke atas.
Buku ini ringan, mudah dibaca, dan sarat dengan nilai yang ingin ditanamkan si penulis. Lumayan, tapi bisa jauh lebih baik lagi. Karena menurutku, cerita dalam buku ini mudah ditebak, alurnya terlalu cepat, dan banyak situasi yang cenderung maksa.
Masalah utamaku adalah dengan penokohan di buku ini. Kenapa pengarangnya membuat tokoh cowok kayak Aldo? Si tokoh utama cowok itu, sifatnya sulit kuterima. Minder sama Liora pacarnya yang punya masa depan super cerah, terus memutuskan pacarnya dengan alasan kalau pacaran masih nomor dua dibandingkan piano? Setelah itu, jadian sebentar lagi dengan Liora, hanya untuk berkata, “Pergi ke Paris. Cari cowok baik-baik dan lupain gue.” Dia berkata itu, karena dia ditentang mamanya main piano, dan ingin bersikap sok ksatria dengan melepas Liora?
Dan, sebelum melepas Liora, Aldo berkata, “Gue udah jadian dengan Arlin,” dengan sengaja agar Liora mau pisah. Tambahan, setelah mereka berdua pergi meningglkan Liora, Aldo ngomong begini pada Arlin, “Lo selalu suka sama gue, kan? Walaupun gue selalu sama Liora, lo selalu nunggu gue, kan?” Setelahnya, mereka pacaran!
Aldo adalah cowok yang sangat egois, dengan harga diri setinggi langit yang membuatnya menolak dikalahkan ceweknya. Hobinya adalah kabur dari masalah. Yang membuatku kesal, dia tahu kekurangannya itu tapi menolak mengubahnya.
Tokoh lain yang aku sangat enggak mengerti adalah Liora. Di surat-suratnya bagian akhir, dia terus-terusan bilang cinta dan kangen pada Aldo. Tapi di suratnya yang ketiga, dia menulis: I love you Do, tapi jangan korbankan Arlin demiku. Kumohon. Err... kalau mau bersikap malaikat gitu ya jangan bilang cinta terus-terusan dong. Buatku itu hipokrit.
Niat baca buku ini terutama karena ada pianonya, tapi sayang musik di buku ini cuma bumbu, beberapa kali saja disebutin judul partiturnya pas Aldo mau main atau di bagian awal buku. Moonlight Waltz is just not my cup of tea, but who knows, you might end up loving this book? :)
Aku pengen banget kasih buku ini empat bintang. Soalnya gaya penceritaannya lancar, enak diikutin, bahasa gaul yang dipakai juga real tapi nggak bikin mata kayak dicolok bacanya (kayaknya penulis nulis cerita ini emang pas masih SMU hahahahah). Dan ngebaca ini bikin aku nostalgila masa-masa galau pas SMU dulu walaupun bikin aku ngerasa udah tua banget. Biarin ah. Umur boleh nambah tapi hati selalu 17 wekekekek
Sayangnya kesan menyenangkan yang kudapat di separuh awal cerita hilang di separuh akhir. Tapi aku nggak bisa nunjuk satu bagian pasti yang membuatku ilfil begitu. Mungkin karena karakterisasi Aldo yang menurutku plin plan banget (apa kayak gini ya karakterisasi cowok SMU? Rasanya nggak juga deh). Dan juga akhir ceritanya
Dan entah kenapa, aku merasa Arlin nggak dapet apa-apa sampai akhir cerita. Emang benar dia dapet pelajaran penting, dia jadi tahu apa artinya memperjuangkan sesuatu yang benar-benar ia sukai dan inginkan. Tapi entah kenapa pesan itu nggak terlalu kelihatan buatku. Aldo juga nggak kelihatan belajar apa-apa dari semua pengalaman itu. Emang bener penulis udah menyampaikan kalau Aldo juga berubah di akhir cerita, tapi tetep aja, rasanya kok penyampaiannya kurang kuat ya buatku?
Entahlah, mungkin aku cuma kelewat kecewa sama akhir ceritanya yang nggak sesuai harapanku :P
Akhir kata, buku ini sebenernya bagus banget. Bukan tipikal cerita teenlit biasa (jiahh gaya amat, padahal sendirinya hampir nggak pernah baca teenlit :P ) Salut sama penulis yang udah bisa bikin buku sebagus ini sewaktu dia masih SMU (mudah-mudahan nggak salah :D )
Novel ke-2 penulis yang kubaca setelah Hanami, novel yang tidak membutuhkan waktu yang lama, hanya beberapa jam saja, novel setebal 200'an halaman ney kuselesaikan.
Novel ini menceritakan tentang kisah Arlin, gadis SMA yang tomboy dan tergabung sebagai anggota klub basket, yang tidak menyukai musik klasik. Hingga suatu hari, Arlin berkat rayuan adiknya, Dora yang sudah terlanjur membeli 2 tiket konser Brunhilde Zimmermann, pianis terkenal yang sangat dia sukai, ikut menonton konser musik tersebut.
Awalnya Arlin hanya sekedar menemani Dora, tapi hanya sepersekian menit, Arlin pun berubah pikiran, Arlin begitu terpukau dengan alunan dan permainan piano Aldo, sang pianis muda dan pembuka konser musik tersebut. Dan ternyata Aldo adalah teman sekolahnya, walau mereka tidak cukup dekat.
Pertemuan dikonser tersebut, malah membuat Arlin dan Aldo semakin dekat dan akhirnya bersahabat. Dan itu semua malah menumbuhkan sesuatu yang lain dihati Arlin, Arlin tidak hanya menganggap Aldo sebagai sahabat, tapi Arlin punya perasaan khusus terhadap cowok itu. Sedangkan Aldo, hanyalah cowok yang tidak tegas dan agak labil, tidak bisa menentukan pilihannya, walau dia tahu siapa yang dia cintainya sesungguhnya.
Kehadiran Liora malah makin membuat Arlin cemburu, apalagi Arlin tahu Aldo dan Liora sangat dekat dan pernah berpacaran. Aldo dan Liora bagaikan pasangan yang serasi, yang cowoknya pianis berbakat, yg ceweknya penyanyi yang berbakat. Dan mereka jika digabungkan, bisa membuat duet yang sangat "indah".
Walau Aldo cukup berbakat sebagai pianis, ternyata Aldo belum mendapatkan restu dari ibunya, ibunya ingin Aldo menjadi seorang dokter yang dianggap lebih menjanjikan dari segi masa depan.
Bagaimanakah kisah Arlin, Aldo dan Liora? Sanggupkah Aldo membuat ibunya mendukung impiannya sebagai pianis?
Ya, novel ini klise banget, dan benar-benar ringan, andai penulis bisa lebih mengeksplor lagi mengenai piano, musik klasik dan chemistry diantara para tokoh, novel ini akan jauh lebih menarik.
Cocok dibaca sebagai novel ringan dan "teenlit" banget ^^
gw agak kecewa karena gw pikir setting umur tokoh2nya udah kerja, ternyata masih sma..
buat gw yang udah lewat masa teen, ini jadi sesuatu yang tidak sesuai perkiraan gw
ceritanya ga jelek, klasik, persahabatan cowo-cewe dimana si cowo koq bebal, ga sadar2 ama perasaan si cewe dan malah suka sama cewe lain
tapi agak aneh karakternya.. si liora yang tampak menyebalkan tapi kadang tulus (kalo udah nyebelin sih nyebelin aja, asa bertentangan sifatnya), aldo yang udah terluka harga dirinya karena cewe yang dia sukain lebih hebat (woy, ini anak sma.. emang udah sampe segitu ya pemikiran rata2 anak sma sekarang?)
dan arlin yang sok2 ngaku ga suka padahal iya (dan herannya ga pernah digambarin dengan jelas bahwa si arlin tuh emang udah sadar lama dia suka aldo)
sifat2 childish dari tiap2 tokoh keliatan sih (yang menunjukkan bahwa mereka memang masih remaja), tapi kalo ending-nya dibuat aldo tetep jadi sama liora dan arlin yang tetep sendiri.. koq rasanya malah aneh? tokoh2nya masih muda koq, masih banyak kemungkinan yang akan terjadi.. dan biarpun satu di perancis, satu di jerman, ga menutup kemungkinan bahwa in the end, they won't be together..
akan lebih baik kalo ending-nya dibuat lebih menggantung lagi..
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sampai pada momen-momen tertentu, aku bisa relate dengan kisah yang diceritakan di buku ini... :D
Tapi kalau dikaitkan dengan masa-masa sekolah dulu (kesannya udah lama gitu... padahal... iya, wkwkwk!) apa yang terjadi di antara para tokoh di dalam cerita ini rasanya agak-agak terlalu "sopan". Hmm... tapi mungkin karena mereka sekolah di Bandung ya dan bukan di Jakarta seperti yang ada dalam bayanganku...? (emang ngaruh?!) *dijitak*
Ya sudahlah... *mijit2 kepala* Pada intinya, menurutku ceritanya oke. Endingnya juga. Namun, penokohan untuk Aldo dan Liora terasa agak kurang jelas buatku. Mungkin niatnya penulis memang gitu? Toh masa-masa SMA memang masa-masa pencarian jati diri yang membingungkan, bukan...? (sotoy lagi)
Jadi keseluruhan, enggak ada sesuatu yang sampai wah sekali.
Meskipun! Penulisannya termasuk sangat rapi (memang khas Wong kayaknya). Beberapa hal dalam penulisan kerasa memang dipikirkan dengan matang. Layout-nya juga mantap, dan bagian-bagian yang ada judul-istilah tempo musiknya juga buatku menarik banget. ;)
Karya pertama Fenny, tapi yang keempat aku baca setelah Hanami, Lapis Lazuli dan Fleur huehehehe pertama, karena Hanami adalah 'anak' nya Fenny yang pertama kali aku temukan, dan kedua, karena waktu dicari, Moonlight Waltz ini udah sold out dimana-mana dan nggak dicetak lagi, akhirnya Lapis Lazuli dan Fleur yang aku lahap duluan :)) beruntungnya, Fenny masih punya stock buku ini dan aku akhirnya dapet yang edisi tanda tangan yay!! ^^ and i'm done with it for about 1,5 hour? maybe.
karena ini adalah karya debut-nya Fenny yang pertama, jadi kalau dibandingin sama karya selanjutnya agak kurang satu bintang ya. tapi cerita ini unik, ketika cerita cinta lain menempatkan si tokoh utama sebagai yang berbahagia dan mendapatkan cintanya di akhir cerita, moonlight waltz justru membuat Arlin (tokoh utamanya) menjadi sosok yang 'rela berkorban' untuk melepaskan cintanya sendiri.
sedikit keganggu sama nama adiknya Arlin, Dora. reminds me of.. yah, if you know what i mean. tapi selalu deh, suka sama karya-karya Fenny ^^
Sebaris kalimat itulah yang dulu menarik saya untuk membeli buku ini. Ditambah lagi dengan quote "Melupakan orang yang disayangi sama sulitnya dengan mengingat seseorang yang tak pernah ditemui." Jadilah saya pergi ke kasir dan beli buku ini. Malamnya, langsung namatin nih buku. Walaupun saya baca udah lama banget, tapi saya masih inget betul ceritanya, karena sering saya ulang-ulang. Arlin yang--saya rasa--sampai kapanpun akan tetap mencintai Aldo benar-benar merefleksikan keadaan saya waktu itu. *ups*
Konflik demi konflik yang disusun begitu rapi. Di balut dengan suasana remaja, kita jadi bisa merasakan pahit, manis, dan getirnya cinta Arlin. Buat saya, novel ini ngga cuma sekedar kisah Arlin, dengan Aldo dan piano-nya. Tapi ini juga kisah hidup saya. #cieeee~
Gimana mulainya ya? Pertama, aku harus bilang bahwa buku ini mempunyai "potensi" untuk menjadi buku yang bagus, karena sepertinya si penulis tahu banyak tentang piano dan sejenisnya.
Tetapi, sepertinya kurang dikembangkan dengan baik. hal yang membuatku kurang menyukai novel ini, antara lain: - karakter Aldo yang (secara pribadi) tidak kusukai. Mungkin ini masalah selera, tetapi aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya. Aldo terkesan kurang berpendirian dan tidak jelas. - plot yang agak mondar-mandir, si Aldo yang ke Liora, terus ke Arlin, Liora lagi, dst..
Cukup mengejutkan karena aku pikir Aldo akan jadian dengan Arlin - karena biasanya teenLit2 kan gitu ya, si Liora kayak pengganggu aja. Mudah-mudahan karya berikutnya lebih baik lagi. :)
"Suatu saat, suatu cinta yang lain…” Melupakan orang yang disayangi sama sulitnya dengan mengingat seseorang yang tak pernah ditemui.
Kata-kata di atas merupakan rangkaian kata yang indah dan dalam menurutku. Moonlight Waltz merupakan novel remaja yang hebat karena mengusung tema cinta dan mimpi. Jujur saja aku paling senang dengan kata mimpi. Karena aku pribadi sangat percaya dengan kekuatan mimpi.
sumpah novelnya keren abissss.. gua ya, barun di ceritain ceritanya sama temen gua aja tiba tiba air mata netes sendiri.. soalnya ceritanya itu deket banget dah kayak kehidupan nyata gua sekarang.. eh pas baca ampe abis malah makin netes air matanya huhuuhuuhuhuuhhu :'( tapi sumpah ini keren banget kok :D (
Alurnya cepet jadinya gak berasa. Ada beberapa adegan yang dirasa kecepetan atau mungkin karena memangnya saya yang bacanya abis bangun tidur :p Gak gitu berasa chemistry-nya Aldo-Liora ataupun Aldo-Arlin. Suka dengan judul bab-babnya yang diambil dari nama tempo dalam seni musik :D
now playing : henry - i would. hahahaha, it not easy for friend turn love :) overall kisahnya bikin nafas sesek deh, menurut gue ini sad ending tapi kalo dipikir2 ini happy ending juga. pada akhirnya, kita harus jujur dan rela melepaskan. emang sih egois itu selalu ada tapi..ya tapi.. kadang kenyataan emang gk sama kayak novel :P
When I was writing this book, I really wanted to show the other teenagers that ambition is playing a vital part in our future.... Finding our real passion is our challenge. We shouldn't use the motto 'go with the flow' for everything in our life, should we? :)
Sebenarnya buku ini punya potensi yang tinggi buat jadi buku yang kereeeeen. Sayang karakterisasinya memang masih kurang dan memang plotnya.. ehem, agak gimana gitu.. Maksa, mungkin. Tapi overall, cukup ringan kok, dan bisa jadi buku waktu senggang.