Jump to ratings and reviews
Rate this book

島はぼくらと

Rate this book
1

Paperback Bunko

First published June 5, 2013

13 people are currently reading
213 people want to read

About the author

Mizuki Tsujimura

90 books818 followers
Associated Names:
* Mizuki Tsujimura
* 辻村深月 (Japanese)

Tsujimura is an award-winning novelist, she is best known for her mystery and children novels. She studied at Chiba University and won the Naoki Prize in 2012 for Kagi no nai Yume wo Miru (I Saw a Dream Without a Key), and in 2018 she won the Japan Booksellers' Award for her novel Kagami no Kojo (Lonely Castle in the Mirror).

Japanese name 辻村 深月

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
23 (18%)
4 stars
53 (43%)
3 stars
37 (30%)
2 stars
8 (6%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 29 of 29 reviews
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,441 reviews73 followers
January 6, 2020
Kover biru langit dan biru lautnya yang tampak begitu mendamaikan hati... dan ada tulisan "Pemenang Naoki Prize 2012" di kover (meski ditulis sangat kecil) langsung membuatku tertarik dan mengadopsi buku ini dari rak Gramedia.

Aku sendiri masih galau karena pingin nulis soal kehidupan anak kecil di pesisir Okinawa, jadi begitu tahu seting cerita novel ini ada di pulau kecil, aku berharap dapat insight (meski tampaknya kondisi geografisnya Okinawa dan Kepulauan Laut Seto itu beda banget?).

***

Di awal membaca buku ini terasa sangat lambaaaaaaaat... Cerita yang ditampilkan memang benar-benar cerita kehidupan sehari-hari yang sangat sehari-hari. Dengan konflik-konflik sehari-hari yang mungkin sama membosankannya dengan kehidupan sehari-hari kita semua (WOY).

Salah satu reviewer di Goodreads ini (Aravena) menulis bahwa kalau biasanya novel lain itu pakai metode character-driven kalau nggak plot-driven, buku ini pakai metode yang nggak biasa: place-setting-driven!

Deskripsi tempat dan suasananya memang sangat detail dan realistis sampai ke detail-detail terkecil. Tapi deskripsi tempat dan suasana kelewat detail ini sering bikin nggak fokus sama adegan yang sedang dijalankan oleh para karakter utamanya. Karena baru saja si karakter berjalan dan sampai di "panggung utama" lalu menjalankan sedikit dialog atau adegan, tiba-tiba saja narasi beralih ke menjelaskan entah sekumpulan anak kecil di latar belakang, sejarah dan sosiologi Saejima, dan hal-hal lain. Butuh beberapa kali bagiku untuk membaca satu halaman agar benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi. Dan kadang aku tetap nggak terlalu mengerti atau bahkan udah kadung lupa dengan informasi sebelumnya.

***

Sudah begitu secara ajaib aku merasa seperti mendengar dan merasakan hembusan angin laut sepoi-sepoi wuss-wuss-wuss begitu mencapai pertengahan novel. BENERAN. Alhasil ngantuklah aku. Begitu bangun aku akhirnya lebih memilih membaca buku lain dengan tempo cerita yang lebih cepat. Interaksi para karakternya juga sangat datar. Membaca novel ini aku jadi paham betapa pentingnya unsur humor dalam dialog. Sedekat apa pun para karakternya digambarkan karena sudah berteman sejak kecil, aku tidak bisa merasakan emosi dan keintiman itu karena dialog-dialognya nyaris tanpa humor. Mungkin baru di adegan terakhir antara Kinuka dan Arata yang akhirnya memberikan sentuhan humor menyentak.

Jadi kenapa bintangnya malah empat? Artinya buku ini kan bagus banget? Iya emang. Begitu aku memaksa diri untuk melanjutkan buku ini sampai ke halaman seratus lebih, baru muncul semangat untuk menyelesaikan membaca hingga kata "tamat". Banyak kejutan-kejutan tak terduga di bagian terakhir setiap cerita. Buku ini terdiri dari empat bab utama. Dan tiap bab terdiri dari beberapa babak (bisa sampai 11 babak). Nah, di setiap akhir babnya itu ada semacam "punch line" atau "twist" yang meski sederhana cukup untuk bikin aku bereaksi, "EEEEEEH???"

Aku jadi berpikir bahwa para juri Naoki Prize di tahun 2012 itu pasti sangat jeli dan sabar karena bisa sampai memilih naskah yang pesona-pesonanya baru muncul di pertengahan cerita ini sebagai pemenang.

***

Di awal buku kita mungkin akan bingung karena begitu banyak karakter yang diperkenalkan dengan karakteristik yang sama datarnya. Keunikan kisah hidup tiap karakter datar tersebut baru dikuak perlahan-lahan begitu cerita sudah berjalan semakin jauh. Aku sendiri baru semangat membaca bukunya lagi setelah Fukiko Tabata dikuak latar belakang kehidupannya yang ironis sebagai atlet renang peraih medali perak di Olimpiade. Bagaimana ia kabur dari kampung halamannya karena tertekan oleh popularitasnya sendiri, juga karena ia akhirnya berstatus sebagai seorang single mother tanpa status pernikahan. Pulau Sae memang dipromosikan sebagai Pulau Ibu Tunggal. Tempat orang-orang bisa kabur dari masa lalu dan memulai hidup baru yang sederhana dan minim konflik. Begitulah, gaya cerita di buku ini seolah menekankan bahwa orang-orang di sekitar kita yang tampaknya paling biasa dan datar sekalipun bisa jadi punya kisah hidup yang kompleks. Sayang hubungan antara Fukiko dan Motoki tidak terlalu disorot. Padahal berpotensi banget untuk adegan romance-comedy, at least sesuatu yang bisa bikin mataku lebih bertahan untuk melek lah, hahaha.

Dalam novel ini ada cerita soal keberadaan naskah legendaris yang terus disebut secara berulang sejak bab pertama dan akhirnya baru dikuak faktanya di akhir. Benar-benar nggak terduga. Orang Jepang itu beneran udah terbiasa memikirkan hal detail sampai hal-hal terkecil, yak (kalau dari The Book of Ikigai sih kayaknya emang karakter umumnya seperti itu).

Masalah "paling gawat" yang terasa di novel ini adalah ketika Kepala Desa menghalangi berdirinya rumah sakit dan dipanggilnya dokter ke pulau gara-gara alasan politis. Kok pola masalahnya familiar, yak? Kayak terjadi di mana gitu. Kepentingan politik di atas kepentingan rakyat. Bwahahahah. Tapi nggak ada yang benar-benar jahat dalam novel ini, (umm... kecuali mungkin tokoh Haiji Kirisaki, tapi juga nggak digambarkan kelewat evil gitu). Orang-orang yang kontra dengan kepala desa pun bisa memaafkan beliau dengan mengatakan, "Bagaimana pun dia sudah banyak berjasa bagi pulau."

***

Satu lagi bagian favoritku adalah bagaimana pemerintah pun melakukan program revitalisasi desa secara serius sampai bekerja sama dengan kalangan profesional dari perusahaan swasta. Elemen cerita yang sama aku dapati di novel SILENCE karya Akiyoshi Rikako terbitan Penerbit Haru. Bagaimana para penduduk desa suatu kepulauan terpencil bahu-membahu untuk mempromosikan pulau mereka dan membuat berbagai macam terobosan demi meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Suatu semangat yang patut diadopsi di negara manapun. Indonesia sendiri adalah negara kepulauan, kan. Kuharap bakal muncul kisah-kisah dengan tema serupa dari tangan penulis lokal.

Satu-satunya karya culture pop yang membahas soal revitalisasi desa yang aku tahu adalah film Shy Shy Cat garapan Monty Tiwa. Meskipun bagian revitalisasinya sendiri hanya jadi latar belakang penambah kekayaan budaya dalam cerita, tapi itu pilihan elemen yang sangat menarik.


***

Bagian paling seru dari novel ini adalah pada bab 4 (meski adegan pembukanya juga sama datarnya dengan bab-bab sebelumnya) ketika nenek Kinuka meninggal. Sang nenek ternyata meninggalkan sebuah bingkisan untuk sahabatnya yang sudah lama pindah dari pulau. Maka bertualanglah kuartet Arata, Genki, Akari, dan Kinuka ke Tokyo, kabur di sela-sela program pementasan drama demi bisa mencari alamat sahabat sang nenek. Tak disangka ternyata hal inilah yang membawa mereka pada fakta tersembunyi soal keberadaan naskah legendaris yang misterius, juga membawa Arata pada kesadaran akan bakatnya sendiri (setelah ia bertemu dengan penulis naskah terkenal bernama Tamaki Akabane)


Meski akhirnya bisa menikmati buku ini, masih ada beberapa slot kosong di kepalaku yang tak bisa menangkap elemen cerita di buku ini secara keseluruhan. Terutama bagian dari sosiologi dan hubungan antarkarakternya. Karena itulah bintangnya "cuma" empat. Tapi insyaallah aku akan membaca ulang buku ini agar lebih bisa memahami ceritanya secara keseluruhan.

Benar-benar pengalaman membaca yang unik. Yang jadi pertanyaan bagiku sekarang adalah... kenapa kok yang diterjemahkan yang dapat penghargaan Naoki Prize 2012? Apa novel-novel peraih penghargaan Naoki Prize yang lebih baru juga akan diterjemahkah? Dan kapan yah ada yang menerjemahkan karya Wataya Risa? Dia peraih Akutagawa Prize termuda hingga saat ini kalau nggak salah (pernah dapat Naoki Prize juga mungkin. Ntar kucek lagi). Aku berharap akan semakin banyak naskah sastra Jepang peraih penghargaan bergengsi yang bakal diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Karena beneran story-telling sastrawan Jepang itu unik banget!


*kapan yha bisa ke sana buat belajar creative writing langsung dari para master di sana? Ehehehehehehehe...
Profile Image for Aravena.
677 reviews36 followers
May 27, 2018
Sometimes I wonder if I miss my home...
Then I don't know why, I'm not scared anymore
On the next move, you can be anywhere
There must be a reason why we are here.


(Rie Fu - 'Singapore')

Kisah tentang hubungan manusia dengan tempat tinggalnya, dikemas dengan gaya slice-of-life ala Jepang yang bersahaja dan semi-episodik.

Pertama-tama, saya rasa ilustrasi sampul dan sinopsis buku ini (agak) menipu: walau protagonisnya adalah keempat anak muda, gaya pembawaannya bukan seperti novel remaja pada umumnya. Hubungan antar mereka pun bukanlah fokus utama. Mereka lebih berperan sebagai pengamat & 'pemeran pembantu' dari berbagai konflik yang terjadi, yang mayoritas berfokus pada orang-orang dewasa di sekitar mereka. Dari kejadian-kejadian tersebut, baru ada makna yang mereka petik untuk diri masing-masing.

Kalau ada penulis yang memulai dari plotnya dulu (plot-driven) atau karakternya dulu (character-driven), novel ini jelas tipe yang dimulai dari latarnya dulu (setting-driven). Dalam hal ini, Pulau Sae: sebuah fondasi yang sistem kependudukan, ekonomi dan budayanya digambarkan begitu rinci, sebelum kemudian berbagai sub-plot dan tema dibangun di atasnya. Calon anak rantau, pendatang dari kota, pekerja sosial, dan berbagai golongan masyarakat lokal seperti ibu-ibu wirausaha dan bapak-bapak nelayan pun menjadi tokoh-tokoh yang merupakan hasil dari konstruksi tersebut.

Hampir semua pertanyaan yang muncul di buku ini kental dengan unsur sosiologi. Apa yang mendorong orang untuk menetap, pergi, atau kembali? Apa yang menyebabkan seseorang meninggalkan keluarga dan kehidupan lamanya untuk mulai dari awal di tempat baru? Bagaimana suatu komunitas insular menjalin hubungan dengan pihak luar? Aspek-aspek lainnya yang disinggung meliputi kesetaraan gender, pembangunan keswadayaan masyarakat, peremajaan tradisi lokal, dan politik daerah. Dengan semua tema penting yang erat kaitannya dengan isu dunia nyata tersebut, tidak heran novel ini memenangkan penghargaan di negaranya.

Sebenarnya saya ingin memberi tambahan bintang, tapi tak bisa dipungkiri kalau rasanya masih ada yang 'kurang' dari segi plot dan karakternya (tentunya ini murni penilaian subjektif saya). Tidak semua sub-plot efektif, seperti soal 'naskah legendaris' yang... idenya menarik, tapi pada akhirnya kurang mengena. Interaksi antar karakter juga cenderung datar, kurang ada sentuhan humor sehari-hari yang lebih kuat. Terakhir, walau pergantian sudut pandangnya apik dan klimaksnya cukup menyentuh, penokohan kuartet protagonis remajanya harusnya bisa digali lebih mendalam.

Mungkin karena faktor kehidupan & bidang pekerjaan yang kadang bersinggungan dengan hal-hal yang diangkat di sini, novel ini tetap menarik buat saya dan kelak akan saya baca ulang. Novel-novel Jepang memang sering menimbulkan kesan bahwa..... walau beda negara, tapi sangat relatable. Pada dasarnya Indonesia juga negara kepulauan, jadi banyak hal-hal dalam Pulau Sae yang juga berlaku di sini. Aspek-aspek budaya yang spesifik memang jadi milik sendiri-sendiri, tapi 'pencarian akan rumah dan tujuan hidup' adalah hal universal yang niscaya dimiliki setiap insan manusia.
Profile Image for Nadia (captnheweade).
187 reviews11 followers
September 2, 2019
Inti ceritanya tidak jelas.
Terlalu banyak karakter yang dimunculkan sehingga membuat aku bingung tujuan mereka itu sebenarnya untuk apa.
Cara penulisannya juga bertele-tele dan membuat bosan :(
Profile Image for Mizuki.
3,379 reviews1,405 followers
July 11, 2016
I enjoyed a handful of books by this author, but just not this one.

I guess the problems are on me instead of on the book, I am not very interested in the daily affairs of the residents on a small island. In theory, slice-of-life novel sets on a small island community can do great and Ms. Tsujimura had written a book which also takes place in a small village before and I use to fully enjoy this other book. However, this time around I found all of the characters uninteresting and the situations they face dull as hell. So I have to give it one star.
Profile Image for Utha.
824 reviews402 followers
August 3, 2020
Kalau baca sinopsisnya, bakalan mengira bakalan kayak novel young adult bertema persahabatan. Akari, Kinuka, Genki, dan Arata adalah remaja yang tinggal di Pulau Sae, pulau terpencil di tengah Laut Seto. Mereka harus naik kapal feri tiap kali mau sekolah di pulau utama. Bahkan waktu mereka terbatas di sekolah, yang mana nggak bisa ikut ekskul full time!

Tapi... ternyata novel ini lebih menceritakan tentang slice of life masyarakat di Pulau Sae. Tentang penduduk lokal, juga penduduk luar yang disebut masyarakat I-Turn.
Profile Image for Lelita P..
632 reviews59 followers
February 8, 2024
Butuh waktu lamaaaaaaaaaa banget untuk namatin ini.

Bagus kok, cuma karena ini karya lama Tsujimura-sensei, jadi mungkin belum sematang Kastel Terpencil di Dalam Cermin atau True Mothers ya, yang dua-duanya saya kasih lima bintang. Buku ini khas sastra Jepang banget yang alurnya lambat, basically slice of life, dengan misteri di sana-sini yang pada akhirnya terjawab. Kalo nggak biasa baca novel Jepang yang model begini, mungkin nggak akan tahan.

Tapi bukunya ngasih banyak banget insight seputar kehidupan di pulau kecil di Jepang dengan segala dinamikanya. Paling suka sih bagaimana "penduduk asli" vs "pendatang" karena yaa ternyata di mana-mana sama saja.

Beberapa quote favorit:

"Kalau kau ingin terus melakukan hal-hal yang disukai, sebaiknya banyak-banyak juga mengerjakan yang tidak disukai." (halaman 329)


Ia menyesal mengapa harus lahir sebagai perempuan. Benar yang dikatakan nenek Akari: para perempuan lah yang lebih banyak menyesali perpisahan dibandingkan laki-laki. (halaman 338)


Sejak memutuskan tinggal di pulau, Kinuka tahu sepanjang hidupnya ia akan terus menanggapi salam "Aku pergi dulu" dari orang lain dengan "Selamat jalan".
Ternyata bukan hanya itu.
Suatu saat, aku ingin mengucapkan ini pada orang lain.
"Selamat datang!" (halaman 348)
Profile Image for Romey Linda.
23 reviews2 followers
February 15, 2018
Awalnya baca buku ini sangat membosankan.. Sedikit bingung juga dengan bahasanya (mungkin karena terjemahan kali ya). Tapi, mulai bab 3 ceritanya mulai seru dan petualangannya pun dimulai.
Profile Image for Liqai.
21 reviews9 followers
November 15, 2020
It's just not my cup of tea.

Waktu nemu buku ini di Gramedia, aku tertarik banget sama blurb-nya. Langsung ngebayangin cerita tentang drama persahabatan antara Akari, Genki, Kinuka, dan Arata. Mungkin setipe sama anime Sakurasou no Pet na Kanojo. Karena aku suka banget sama anime itu, yaudah deh kubeli.

Begitu baca, openingnya cukup menarik sih, nyeritain mereka yang pulang dari daratan utama naik kapal, dan Arata yang terlambat gara-gara kegiatan ekskul---walaupun cuma ikut sebentar. Di bagian itu juga sedikit dibahas sedikit drama-drama romantis ala-ala anak SMA gitu, oke gak ada masalah.

Tapi begitu muncul tokoh baru yang nanyain tentang naskah legendaris, dari Sakurasou langsung kebalik jadi Hyouka. Oh, mungkin dibanding drama, novel ini lebih banyak nyeritain misteri kali ya, pikirku.

Dan waktu aku baca terus, ternyata juga gak tentang misteri-misteri amat. Ujung-ujungnya serba nanggung.

Novel ini punya empat bab, di setiap bab bisa dibilang konfliknya beda-beda, dan konfliknya itu bukan milik si tokoh utama. Menurutku, tokoh utama kita ini cuma jadi pemeran pembantu di setiap konflik.

Di pertengahan, aku sempet berhenti baca saking bosennya. Tapi akhirnya tetep kubaca karena menanti bagian di blurb. Dan ternyata, bagian blurb itu cuma ada di bab empat, bab terakhir. Menurutku cuma bab empat itu yang cukup seru dibaca, karena FINALLY tokoh-tokoh utama kita mengambil perannya!

But in the other hands, menurut pendapatku konklusi di bab empat juga sama nanggungnya, kurang nendang aja gitu. Tiba-tiba aja gitu ada benih-benih cinta antara Arata dan Kinuka yang gak dibangun sebelumnya, jadi kesannya agak maksa. Sementara, hubungan Akari sama Genki yang sempet dibangun sebelum-sebelumnya justru gak dibahas sama sekali di bagian ending. Kan jadi nanggung lagi.

Yang aku tulis di atas cuma opini ya, seandainya kalian tertarik sama kehidupan masyarakat di pulau kecil, bukan tentang drama persahabatan anak SMA, bisa banget baca buku ini. Selamat membaca!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Kintanoth.
52 reviews
February 16, 2024
This novel is suitable for readers who like books without heavy conflict. The conflict actually tells about daily problems in Sae Island. So, for me, the conflict is similar to what you face every day in your neighborhood.

I appreciate the way the writer resolves the conflict. Mizuki Tsujimura does not portray the world in simple black-and-white terms. She does not suggest that evil characters will inevitably face karma, as in this case with Haiji Kirisaki. Despite claiming Arata's work, he faces no retaliation by the end of the story. Interestingly, Arata himself seems unfazed by others claiming credit for his work.

Similarly, when Akari’s mother and Yoshino had a dispute with the village head over a television program, both of them chose to comply with the village head's will and resumed working as usual afterward. However, this experience caused Akari's perspective on the village head to completely change. Yet again, despite the harm caused to many people in the village by his actions, the village head does not face any consequences.

So, I believe the takeaway from this story is not about the punishment of evil characters, but rather the theme of self-acceptance regarding events in one's life. In addition to the resolution of conflicts, I appreciate the portrayal of teenage romance in the narrative. The author avoids imposing relationships on her characters, allowing the love stories to unfold naturally. For instance, Akari and Genki have harbored feelings for each other since childhood without either being aware of the other's affection. Similarly, there's a subtle romance between Arata and Kinuka, where Kinuka understands her feelings well, but Arata struggles to comprehend his own emotions towards her.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Riri.
434 reviews28 followers
July 31, 2022
I'll be honest, the majority of the book is more like a 3.5⭐ read. It's by no means bad. It's just… not quite what the blurb says it is. The blurb makes it sound like it's a story focused on four teenagers living in a remote island, spending their last summer in high school before they have to decide whether they would stay in the island or leave. That makes it sound like it'd be centered around the four main characters, right? But it's not.

The main character of this story is actually the island itself, and the blurb wasn't kidding when it says Akari, Kinuka, Genki, and Arata would observe the decisions of those who come and leave the island. That's seriously all they do until the very end: observing others. The book covers a lot of issues and deals with a lot of characters like a true slice of life story, ranging from the life of single mothers to village politics, which makes the overall tone heavier and less teenage-like. Even their school life receives very little portion compared to their days in the island. Again, it's not bad. It's just not what you think it may be.

That being said, the ending is beautiful and it's the reason why I'm rating this 4⭐. When you're a teenager and have to stay in the island knowing all of your friends are leaving, you'll definitely have a lot of worries about being apart from the people you grew up with. This issue gets resolved in a really nice way in the end, wrapping up the story on a heartwarming note. That alone deserves some extra points.
Profile Image for Lovina Wijaya.
80 reviews
June 26, 2020
Novel ini menceritakan tentang 4 sahabat dari sebuah pulau kecil di Laut Seto, Jepang, yaitu Pulau Saejima. Mereka adalah Genki, Arata, Akari, dan Kinuka. Mereka selalu bersama sejak kecil, namun saat mereka kelas 3 SMA.... Anak-anak pulau itu harus memutuskan untuk tetap tinggal di pulau atau pergi.


Mizuki-sensei menulis Pulau Sae dengan alur yang sangat lambat untuk memfokuskan para pembaca tentang interaksi antara penduduk pulau serta konflik yang dialami masing-masing tokoh. Setiap babnya pun menggambarkan konflik dari keempat anak pulau tersebut. Misalnya pada bab yang memfokuskan tentang cerita Genki, permasalahan yang disajikan adalah Genki yang bertemu dengan suami baru ibunya, juga tentang Genki yang memutuskan untuk mengikuti jejak karir ibunya. Dari situlah pembaca dapat memahami isi hati dan perasaan para tokoh utama.


Alur yang sangat lambat ini kadang-kadang membuat saya bosan sampai-sampai gampang ketiduran. Meski begitu, cara Mizuki-sensei menggambarkan konflik yang dialami anak-anak pulau itu sangat pas dan terasa sampai ke hati.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books333 followers
March 12, 2018
Tidak buruk, sejatinya. Namun, mungkin ini bukan jenis bacaan buku saya. Bukan karena tokohnya adalah anak-anak SMA. Bukan, jelas bukan itu. Tetapi kepingan-kepingan kisah di Pulau Sae ini menurut saya masih kurang dalam. Bahkan saya tidak diberi penjelasan berarti bagaimana nasih naskah 'palsu' yang kemudian menjadi pemenang lomba naskah drama di bagian awal.

Di awal, saya membayangkan novel ini akan setenang film-film Jepang, dan memang demikian. Kita disuguhkan fenomena sosial dan masyarakat Pulau Sae yang mempunyai pilihan hidup I-Turn. Saya mengartikannya, orang yang mulai tidak percaya dengan dunia modern, butuh sendiri, dan butuh suasana untuk mendamaikan pikiran. Pulau Sae menjadi pilihan.

Tapi setelah bab pertama, saya merasa kisah yang saya harapkan mendadak kehilangan arah. Heeehee.
Meskipun demikian, sejatinya kisah empat sahabat dalam Pulau Sae ini menarik untuk diangkat drama Jepang. menurut saya ini potensial menjadi drama Jepang atau minimal film. Menarik soale, kehidupan di Pulau Sae.
Profile Image for Tyas.
Author 38 books87 followers
February 12, 2023
Saya sebenarmya telat mengetahui ada buku Tsujimura-sensei yang pernah terbit di sini sebelum Kastel Terpencil. Untunglah masih menemukan eksemplar bekas dalam kondisi baik. Ceritanya sekilas bakal datar saja ya... Tidak ada kejadian bombastis, tidak ada hal magis, selain mungkin sejumlah kebetulan atau 'serendipity' yang rasanya agak kebanyakan. Namun, justru bagi saya, sulit menulis cerita semacam ini: yang berlatar desa di sebuah pulau berfasilitas tidak lengkap, di mana kehidupan berjalan jauh dari hiruk-pikuk kota. Akan tetapi di balik ketenangan itu ada berbagai konflik, masalah, dan pergulatan batin sebagai akibat depopulasi dan repopulasi daerah pedesaan seperti Pulau Sae. Mengangkat gelegak di bawah permukaan itu ke atas dengan gaya yang wajar dan tidak sensasionalis, lengkap dengan benang merah yang menguntai cerita dari awal sampai akhir, bukan perkara mudah. Seandainya penyuntingan terhadap terjemahan buku ini lebih rapi, pasti akan semakin enak dibaca.
Profile Image for anna.
15 reviews1 follower
January 2, 2024
Aku awalnya tertarik sama blurb di belakangnya. Singkatnya buku ini bercerita tentang empat anak pulau Sae. Alih-alih menyoroti anak-anak ini, buku ini justru menceritakan kehidupan dan dinamika di pulau Sae lewat pov keempat anak itu tadi.

(+) Ringan pol. Ceritanya mengalir aja gitu.
(+) Penggambaran latar suasananya kece parah. Hidup banget cuy. Berasa vibes pantai sama lautnya.
(+) Tokohnya punya latar belakang unik dan unpredictable.
(+) Endingnya heartwarming. Bikin senyum-senyum sendiri.

(-) Slow pace. Lambat banget helpp😭
(-) Harus cermat karena alurnya maju mundur (campuran) dan lompat-lompat.
(-) Aku pribadi dari awal sampai ⅔ buku masih bingung "ini sebenernya ceritanya mau dibawa kemana sih?". Sampai akhirnya aku ngeh kalau cerita ini memang nggak melulu fokus ke empat tokoh anak SMA yang ada di blurb.
36 reviews
January 27, 2021
Bercerita tentang persahabatan remaja & kisah penduduk di Pulau Sae. Sebenarnya konflik yang terjadi cukup kompleks karena saling berhubungan satu sama lain namun terselesaikan dengan baik dan terasa ringan saat dibaca. Setiap orang memiliki alasan & cerita yang unik dan berakhir bahagia.

Ada banyak hal yang manis & hangat di cerita ini, khas Jepang sekali. Jika ada adaptasi drama/anime/film aku ingin menonton. Serius sebagus itu 💕

Banyak info juga tentang kehidupan pulau kecil di Jepang yang disajikan dengan rapi.

🌟 4.5

#pulausae #mizukitsujimura

www.instagram.com/reviewbytsuki
Profile Image for BaiLing.
1,010 reviews
February 9, 2024
故事的背景是瀨戶內海一個小島,是那種高���生得坐船去本島念書的小離島。這次的故事內容沒有太多「隱情」,主題是「故鄉」的概念──土生土長的本島人和後來移入的I-TURN之間的衝突和協調。曾是游泳明星但後來成為年輕的未婚媽媽;世代都是醫生但自己卻在當住院醫師時喪失了自信而成了逃兵的醫生;一心一意要改善島上居民生活,而為成立島上特產公司奔走的村長;面臨大學考試卻決定繼續留在島上的女孩。親情、友情,愛情,有的來了就走,有得來了就再也不走。

很適合NHK早晨15分鐘長齣連續劇的主題。沒有任何壞人,只有溫馨、感人、愛。

作者說她是因為偶而知道「區域活化設計師」這工作,才產生了這樣的故事。從小說的人物,似乎這工作的性質是針對人口外移的小島或鄉村,如何找到可以振興經濟的地方特色,如何引進外來投資和人口,如何行銷等等。看來有點像台灣社區總體營造的觀念,只是台灣是由政府主導發包,日本似乎是由私人公司來發揮。

讀著讀著會想到多年前一次開會,遇到大學畢業後就再也沒見過面的同學。懷舊暢談一番後,趕著回馬祖的同學說她要去買麥當勞,「因為兒子每次看電視廣告都想要得不得了,我們島上沒有啊!」

即使因為故事的生活圈和自己毫無重疊,但因曾有個類似的真實人物現身說法過,想像力規規矩矩地馳騁在一片光明中,竟跑出了個念頭──

退休後,是不是也到個那樣的島去放逐或尋找自我呢?


1 review
March 12, 2022
Saya suka sekali dengan buku dengan jalan cerita seperti ini. Menurut saya, ini masuk ke dalam genre slice of life. Saat membaca, hati terasa sejuk (maaf agak lebay) dan saya sangat menikmati membaca novel ini.

Latar tempatnya berada disebuah pulau kecil yang sangat ramah dengan ibu tunggal dan ibu muda, dengan orang-orang yang ramah, tapi tidak jauh dari konflik. Saya seperti terbawa ke dalam ceritanya. Saya sangat merekomendasikan buku ini buat pembaca yang suka dengan cerita slice of life.
Profile Image for Suci.
154 reviews5 followers
January 19, 2019
I expect so much from this novel since I love the Japanese authors when it comes to the writing style. There are lots of problems in this 'Sae Island' and the resolutions are rather quick and boring. I can see that it tries to imply the fast-pace of human life, but no it doesn't get me emotional.
That's it.
Profile Image for FlySirius.
125 reviews5 followers
June 30, 2021
Putting aside a little mistake in the printing, its quite a nice story.. i wish we get a little after story of genki and akari though..
Profile Image for Julia.
549 reviews27 followers
November 4, 2023
It's a typical Japanese 青春 novel and I just didn't get along with it. 0 interest in any of the characters or what was happening.
Profile Image for bookswormie.
135 reviews7 followers
July 2, 2024
Novelnya slow paced bangetttt. Tapi aku suka sama penggambaran pulau sae nya yg brasa adem banget. Kalo versi drakornya mirip-mirip welcome to samdalri versi bocah dan minus romance aj kali yaaa
Profile Image for zaraa.
8 reviews
September 8, 2024
I think it's worth reading, it's very refreshing to read it. I hope the author writes a second book
Profile Image for Rafins.NotPresent.
18 reviews
August 16, 2024
Not too good, kinda bored while reading this, can be better. I was hoping for an overwhelmingly dramatic ending which this book doesn't have.
Profile Image for Hibooklover.
146 reviews4 followers
September 22, 2021
Bukan tipikal buku yang bisa dibaca tergesa-gesa, untuk memahami masing-masing karakter di buku, bacanya mesti lagi santai, semacam menghabiskan waktu akhir pekan bersama buku, seperti ini yang saya lakukan, meskipun saya sudah membelinya beberapa bulan lalu, tapi saya menunggu momen waktu santai, biar bisa menikmati isi buku ini. 😀
Selengkapnya:

https://hibooklover.wordpress.com/202...
Profile Image for kristalriz.
51 reviews1 follower
June 19, 2018
Cerita tentang kehidupan sehari-hari masyarakat di Pulau Sae ini terasa ringan namun juga berkesan. Konflik yang terjadi juga tidak terlalu rumit.
Awalnya aku mengharapkan novel ini akan lebih condong ke tema friendship, tapi ternyata bukan. Fokus ceritanya lebih ke masyarakat di Pulau Sae itu sendiri. Persahabatan Akari-Kinuka-Genki-Arata tidak diceritakan secara mendalam.
Meski begitu, akhir cerita dibuat dengan begitu manis dan memuaskan.
Profile Image for ツバキ.
542 reviews37 followers
December 6, 2018
終於看完 辻村深月《島與我們同在》,非常好看。
故事描述的是島上四個一起長大的孩子們,在沒有醫院也沒有高中的島上,每天都搭著渡輪上下學,這樣感情好的四個人面對畢業後離開這個小島,各奔東西的未來,懷抱著不同的想法。應該算小島上的青春小說吧(?)

除此之外也描寫了島上生活,以及離島與本島間的情結,如果是離島還是偏遠地區的居民看了一定會更能夠體會書中描寫的島上居民的感情吧。我個人還蠻喜歡島上人際關係與派系的描寫,也對於「區域活化設計師」這個職業的存在感到震驚,總之是非常有趣的書。

還有雖然粉紅色有點描寫不足,但是這部分的描寫我也很喜歡,如果可以把剩下的粉紅色都在最後的尾聲一次補足的話,我一定會更開心的。

啊,話說這本書裡面竟然出現了赤羽環。赤羽環是作者另一套書《慢活莊的神明》裡的主要角色。
Displaying 1 - 29 of 29 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.