Buat Pelita, hidup ini bagaikan kepingan penuh warna. Di matanya Efraim-lah pemberi warna hidupnya. Namun karena Efraim juga, Pelita terperangkap dalam warna abu-abu: remuk hati berkepanjangan. Lalu dia bertemu dengan pengamen cantik di Santa Monica, Amerika. Konon, orang-orang memanggil gadis itu dengan julukan Bidadari Santa Monica.
Pelita terpesona pada sang bidadari. Mendatanginya setiap hari, mendengarkan lantunan lagu dan petikan harpanya dalam derai airmata, sambil tak henti-henti mengaguminya.
Lalu, pada hari yang ketujuh...
"Pelita!" dengan fasih, bule jelita itu menyebut namanya. "That`s your name right?"
Pelita terkesima. Tak mengerti bagaimana mungkin bidadari cantik itu mengetahui namanya. Nama yang bahkan terasa asing saat diucapkan lidah bule seperti pengamen itu. Tapi tak hanya itu...
"See you later, Little Shine...," bahkan gadis cantik yang tak mungkin bisa bahasa Indonesia itu menyebutkan arti dari namanya.
Pelita pun mulai mereka-reka, siapa gadis bermata biru itu sebenarnya? Mengapa bidadari itu begitu tertarik pada masa lalunya? Dan... apa sebenarnya hubungan pengamen cantik itu dengan the love of her life, Efraim? -- * * * --
Bagi yang suka sad ending silahkan dibaca... Sempet kejer nangis pas part warna hitam, apalagi ketika Pelita dengan pilu memanggil-manggil nama Efraim....*di part ini aku kasih seribu jempol buat authornya nyata banget narasinya serasa aku juga ikutan manggil-manggil nama Efraim* Sempet juga banting-banting bukunya masa sih cowok sesempurna Efraim bisa punya nasib kaya gitu?! *banting bukunya lagi* Itu gak adil. Baytheway kalo novel ini gak sad ending aku gak ragu ngasih bintang lima muehehehehe . Berhubung authornya udah bikin aku mewek jadi aku kurangin bintangnya deh *sangat obyektif* *oke lupakan*
Tapi sebelumnya, ada beberapa hal yang tadinya bikin aku berpikir kalau novel ini perlu kukasih 4 bintang saja. Tapi, semakin mencapai ending, akhirnya aku menemukan kelayakan 5 bintang untuk novel ini.
Btw, ini CONTAIN SPOILER ya ;)
Alasan-alasan ketidaklayakan 5 bintang itu sebelumnya adalah: 1. Aku masih menemukan typo dan kalimat tidak efektif yang lumayan banyak. 2. Di awal cerita kurang addicting (just my opinion) 3. Cerita ini akan lebih 'wow-jleb' jika tidak diramu dalam bentuk flashback 4. Kematian Efraim harusnya tidak 'sesederhana' itu ;p
But, well, well, weeeeeeeell, saat akhirnya mencapai bab terakhir, aku sudah memutuskan buku ini layak diberi 5 bintang! Karena pada akhirnya aku bisa menolerir alasan-alasan itu.
Penoleriran: 1. Well, sepertinya semua novel memang susah 'selamat' dari typo dan kalimat-kalimat tidak efektif itu. Apalagi ini terbitan lama. Jadi, aku bisa menolerir. 2. Mungkin memang karena alurnya yang berjalan agak lambat di awal, jadi aku belum bisa merasa 'addicted'. Tapi akhirnya di bab-bab ke sananya aku enjoy kok! 3. Ini ... tadinya aku merasa kalau cerita ini harusnya tidak diramu dalam bentuk flashback. Karena dari flashback itu kita sudah tahu akan terjadi apa-apa antara Pelita dan Efraim di akhir kisah mereka. Tapiiiiiiii, kalau tidak diceritakan dalam bentuk flashback, tentu saja ide 'bertemu bidadari santa monica' itu tidak bisa dibuat :) akhirnya dibentuklah cerita flashback di mana Pelita menceritakan semua kisahnya pada Bidadari itu. Yang akhirnya menambah apik twist di endingnya. 4. Dan yang terakhir, seharusnya kematian Efraim tidak sesederhana itu. Jujur, aku mengharapkan kalau kematiannya ini menyangkut sesuatu yang shocking dan bertahap atau karena alasan yang memang sudah takdirnya dia meninggal. Tapiiii lagiiii, yaaaa mungkin karena ini bukan satu-satunya twist yang mengejutkan di cerita ini, jadi dibuat sederhana pun tidak apa-apa :) toh, aku sudah puas dengan satu lagi twist tentang siapa bidadari santa monica itu :)
Pas tahu bener-bener langsung merinding pokoknya!
Secara subyektif, aku memang memandang novel sad ending itu lebih bagus dan mengena. Entah kenapa. Tapi, ya, selama ini sad ending berhasil mendominasi rate favorit 5 bintang yang kupunya!
Ksh komen untuk nvl ini asli bingung. Idenya bagus, endingnya g ketebak, pas kita tahu siapa sbnre Bidadari Santa Monica itu kita bnr2 dpt a big surprise. Ngakak abiz baca cerita ini, dr awal smpe mndekati akhir. enjoy bgt. tp akhir dr kisah cintanya asli bikin jengkel. Aku jd nggak ngerti apa yg mau disampein penulisnya. klo dia pgn ksh kita pelajaran u/ ttp survive stlh kehilangan org yg dicintai, maka kita jd pembaca, g dpt semangat itu. aku yg baca jd drop sedrop2nya. dr lucu-sedih-trs mati. g bisa ngangkat semangatku. klo aku juga prnh kehilangan org yg kucintai dan bc nvl ini, bknnya bangkit malah tmbh desperate. sayang banget, penulisnya kyknya lbh milih mendramatisir cerita spy pembaca menangis tp nggak concern ke moral of the story-nya. sayaaaang banget, bikin kecewa.
ceritanya bagus, meskipun efraimnya meninggal dan gak jadi happy ending. tapi agak ngebingungin juga sih tentang si bidadari itu siapa gak dijelasin banget. pas pelitanya ditinggal itu sedih banget, bikin kita bener bener ngerasain penderitaan pelita. keren banget ceritanya, ampe sekarang masih terngiang- ngiang ceritanya
Ini salah satu novel favorit saya banget. Dibaca berkali-kali ga bikin bosen. Ceritanya bagus banget dan menarik. Langsung jatuh cinta sama novel dan pengarangnya. Ceritanya tidak tertebak sama sekali. Novel ini super sedih dan bikin pembaca nya menangis karena ikut merasakan kesedihan, feel dan soul dari novel ini dapet banget. Baca nya bikin perasaan kita campur aduk, antara sedih, bahagia, lucu, gemas, penasaran, geregetan, dll. Alur nya yang maju mundur sama sekali ga bikin bingung, justru bikin saya jadi penasaran dan ga berhenti baca sampai selesai. Karakter tokoh nya kuat dan terbangun dengan baik. Chemistry dari kedua tokohnya bagus banget. Dari benci jadi cinta kedua tokohnya bikin gemas dan lucu. Romantis dan geregetan banget sama kisah cinta keduanya. Masalah yang ada di novel ini ga cuma satu tapi ada beberapa yang utama, saling nyambung dan jelas jadi ga terasa aneh. Puncak konfilknya pun benar-benar bikin hati kita ikutan sedih dan bisa terjadi sama siapa saja. Novel ini sad ending dan ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dan ngajarin kita buat bisa move on meski kita kehilangan orang yang kita cintai, life must go on. Cerita di novel ini juga penuh misteri, tentang bidadari santa monica yang tiba-tiba hadir. Memang tidak dapat dipahami dan tidak dapat dijelaskan, serta tidak masuk akal, namun dilihat dari sisi lainnya menurut saya idenya sangat cemerlang dan apik sekali. Well buat kalian yang penasaran langsung saja baca novel ini, karena saya sangat merekomendasikannya, novelnya sangat bagus dan juga sedih. Ga nyesel bacanya. Sekian review saya semoga bisa bermanfaat.
Butuh waktu lama menyelesaikan buku ini, saya dihinggapi bosan di awal baca, rasanya maju mundur untuk menyelesaikannya, yeah tapi akhirnya kelar juga.
Bener bosen bener di awal, rasanya ceritanya terasa panjang padahal harusnya bisa gak sepanjang itu sih. Cerita cinta Pelita dan Efraim yang berakhir sedih, gak ngerti juga kenapa endingnya mesti kayak gitu. Ah, rasanya memang kurang.
buku ini menarik, karena ada beberapa konflik yang memang tersaji. endingnya juga cukup plot twist, cuma sebenernya masih bingung sama konsep lamaran di kolam renang sih...
Buatku, khas dari setiap karya Alexandra Leirissa adalah ceritanya yang cukup simpel, dramatis ala sinetron, dan narasinya yang terkesan heboh. Bidadari Santa Monica pun begitu. Ringan, tapi jenis ringan yang nggak annoying, justru bikin pembacanya suka ikut senyam-senyum sendiri dan penasaran akan kelanjutan ceritanya. Adalah Pelita, yang bertemu dengan seorang pengamen jalanan yang sangat memesona di Santa Monica, Amerika, saat sedang melakukan kunjungan kerja hingga Pelita menyebutnya 'Bidadari Santa Monica'. Pengamen kecil ini benar-benar punya daya tarik yang kuat, namun nggak bisa Pelita jelaskan apa sebabnya, ia hanya tau bahwa dirinya benar-benar tertarik sama si Bidadari.
Tak dianyana, waktu lagi naik pesawat balik menuju Indonesia, si Bidadari ini duduk persis di sebelah Pelita! Kaget, pasti. Setelah berbasa-basi singkat, si Bidadari menanyakan tentang warna favorit Pelita, yang harusnya simpel bagi kebanyakan orang, tapi ternyata berbuah panjang ketika ditanyakan pada tokoh utama kita ini.
"Kamu nggak suka warna pink?" "Sekarang nggak." "Berarti dulu suka?" "Lalu kamu suka warna apa?" "Abu-abu." ....... "Kamu memendam luka, ya?"
Yak, tebakan si Bidadari tepat sasaran. Setelah dibujuk, meluncurlah cerita dari mulut Pelita tentang Efraim, seseorang yang ia temui saat kerja dulu. Diceritakan bahwa Efraim ini cowok yang sangat ganteng, wangi, dan menarik. Ia masih muda, tapi sudah sukses mengelola bisnisnya. Nah, Pelita dapat kesempatan untuk meliput tentang bisnis milik Efraim. Nggak butuh waktu lama, Pelita jatuh cinta mati-matian sama laki-laki ini. Masalahnya cuma satu, yaitu, ada rumor yang mengatakan bahwa Efraim adalah pacar Pak Ian, bos di majalah tempat Pelita kerja........ Nah lho!
Cerita mengalir dengan asyik dari awal hingga akhir. Ada beberapa bagian yang rasanya 'duh, drama banget deh' atau 'heboh amat sih' tapi mungkin karena aku udah pernah baca karya-karya Alexandra sebelumnya (dan suka banget sama dua buku itu), hal ini nggak terlalu jadi masalah buatku pribadi. Kadang kelakuan Pelita di cerita ini bikin gemes sendiri, deh. Sampai-sampai aku mikir 'Ini cewek sebenernya bolot apa gimana sih?' Tapi yah, kalau nggak gitu nggak jadi seru kali ya :)) Dari awal udah di'foreshadow'-in (dikasih petunjuk) tentang peristiwa yang akan terjadi menjelang akhir cerita, jadi aku nggak begitu kaget waktu sampai di bagian ITU, meskipun tetap sempet kecewa dikit :| Oh ya, aku juga suka gimana buku ini sempat menyinggung tentang isu LGBT (gay, lebih tepatnya), meskipun hal itu bukan fokus utama Bidadari Santa Monica.
Dari segi teknis, ada beberapa hal yang aku tandai, contohnya adalah tulisan tersegal-segal (halaman 227). Nggak tau persis yang mana yang benar, tapi seingatku yang lebih umum digunakan adalah 'sengal' bukan 'segal' (duileh, Tirta). Juga kata excited yang harusnya ditulis 'exciting' ("It's so exciting!") ((halaman 152)). Ini grammar aja, sih. Hehe. Satu hal lain yang aku perhatikan juga disini, adalah bagian yang nggak seimbang antara awal dan akhir cerita. Hampir setengah dari Bidadari Santa Monica menceritakan tentang hubungan Pelita-Efraim di masa-masa deket tapi belum jadian, dengan segala drama dan kehebohannya, tapi setengah bagian buku berikutnya, di bagian senang-senang, porsinya dikit banget, kemudian langsung masuk bagian klimaks yang diikuti dengan resolusi yang (buatku) terlalu singkat pula. Jadinya, setengah buku pertama terkesan lambat alurnya, sementara setengah buku kedua justru kecepetan, seolah-olah penulis diburu-buru untuk mengakhiri cerita. Padahal konflik udah dibangun dengan baik dan lama.
Tapi pada akhirnya, menurutku Bidadari Santa Monica tetap sebuah buku yang bagus dan cukup menarik, cocok buat yang suka cerita Metropop yang mengandung banyak drama-drama. Beberapa pembaca lain mungkin bakalan males sama kesan dramatisnya, tapi buat yang udah pernah baca karya-karya Alexandra Leirissa sebelumnya, Bidadari Santa Monica ini nggak mengecewakan kok buat dibaca. :)
Yunadi, Alexandra Leirissa. 2009. Bidadari santa Monica. Jakarta; Gramedia Pelita dan Efraim, nama yang bagus ya.. pasti yang ngarang orang kristen, habis nama-nama tokoh dinovel yang di pake di novel ini lumanyan banyak yang dari alkitab, contoh, nama mantan pacarnya Pelita, Yehuda. Well, novel ini memiliki sad ending, sedih banget, karna akhirnya Efraim, meninggal karna ditusuk sama preman, saat Pelita dan Efraim sedang bertengkar. Berawal dari mama nya Efraim yang nggak setuju Efraim memilih Pelita. Mama Efraim seorang yang mencintai seni salah satunya yaitu seni lukis. Pelita juga pintar melukis, dan satu buah lukisan Pelita tertampang di kamarnya Efraim, karna mama Efraim tidak tau lukisan yang terpajang dikamar Efraim dibuat oleh Pelita. Maka saat pertemuan itu mama Efraim menyanjung lukisan tersebut, namun setelah tau, yang membuat adalah Pelita, mama Efraim meminta Pelita untuk membuatkan lukisan sabagai hadiah ulang tahun mama Efraim yang akan diadakan 2 minggu lagi, dan lukisan tersebut akan ditunjukka pada 500 orang tamu dan yang paling bikin Pelita keder, lukisannya akan bersanding dengan lukisan yang dibuat oleh seorang pelukis internasional yang terkenal. Umph, boleh dibilang mama Efraim sangat terang-terangan menunjukka sikap tidak sukanya dan pikir Pelita saat ulang tahun mamanya Efraim adalah saat-saat dimana Pelita akan dipermalukan lagi. Karna berdebat, datang atau tidak kepestanya mama Efraim akhirnya mereka bertengkar dijalan dan menyebabkan hal naas itu terjadi. Menurutku ceritanya rada aneh gimana gitu, saat Pelita sedang melanjutkan hidup, Pelita ditugaskan oleh bosnya Pak Ian, seorang gay, yang pada cerita-cerita sebelumnya adalah teman akrab Efraim dan Pak Ian ternyata menyukai Efraim. Dan setting pertemuan di novel ini banyak dikisahkan di kantor Pak Ian. Lanjut, saat sedang melakukan liputan, Pelita sangat terkagum dengan pemain harpa atau pengamen pinggiran yang ada disanta Monica, rambutnya merah panjang terurai dan matanya hijau kebiru-biruan dan pengamen ini dijulukin Bidadari Santa Monica, Pelita baru kesana, dan dalam 7 hari liputan, Bidadari Santa Monica itu tau namanya,. Coba siapa yang tidak terkejut, mereka tidak pernah bertemu, berkenalan dan Pelita hanya melihat pengamen cewek tersbut dari kejauhan. Eh..saat pulang ke Indonesia, Bidadari Santa Monica itu pun ada dipesawat yang ditumpangi Pelita dan duduk disebelah Pelita. Ya, akhirnya secara flash back, bercerita tentang Efraim. Sesampai di Jakarta, Bidadari santa Monica itu memberikan sebuah cat lukis warna biru, dan ini mengagetkan Pelita karna Efraim terbunuh sepulang dari Pelita dan Efraim membeli cat lukis warna biru. Lalu sesampainya di rumah kos Pelita, Pelita langsung mencari lukisan yang belum jadi, lukisan yang batal untuk diberikan kemamanya Efraim. Dan Pelita sangat terkejut, ternyata, Bidadari Santa Monica itu persis seperti apa yang di lukis oleh Pelita. Tau benang merahnya? Di novel sempat di tuliskan, dialog Efraim, yang menunjukkan jika Efraim meninggal, Efraim akan mengirimkan seorang malaikat untuk menjaga Pelita. Dan detik itu juga, Pelita sadar Efraim melakukannya dan ia tidak sendiri. Nah, Pelita yang masih porak poranda akibat kematian Efraim bangkit kembali. Dan hal yang aku suka di Novel ini adalah, pengarang memberikan kata-kata indah mengenai warna yang sesuai dengan perasaan atau suasana, bagaimana pengarang menjelaskan saat bertemu dengan Efraim, warna kuning, karna itu baju yang di pake Efraim, warna Magenta, Ungu, Biru, bahkan Hitam saat dukacita kepergian Efraim, abu-abu, saat duka sudah terlalu dalam dan ujung dari sebuah warna abu-abu adalah putih, saat Pelita siap untuk memasuki hidupnya yang baru, putih kembali....
Judul: Bidadari Santa Monica Penulis: Alexandra Leirissa Yunadi Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Halaman: 368 halaman Terbitan: Agustus 2009
Buat Pelita, hidup ini bagaikan kepingan penuh warna. Di matanya Efraim-lah pemberi warna hidupnya. Namun karena Efraim juga, Pelita terperangkap dalam warna abu-abu: remuk hati berkepanjangan. Lalu dia bertemu dengan pengamen cantik di Santa Monica, Amerika. Konon, orang-orang memanggil gadis itu dengan julukan Bidadari Santa Monica.
Pelita terpesona pada sang bidadari. Mendatanginya setiap hari, mendengarkan lantunan lagu dan petikan harpanya dalam derai airmata, sambil tak henti-henti mengaguminya.
Lalu, pada hari yang ketujuh...
"Pelita!" dengan fasih, bule jelita itu menyebut namanya. "That`s your name right?"
Pelita terkesima. Tak mengerti bagaimana mungkin bidadari cantik itu mengetahui namanya. Nama yang bahkan terasa asing saat diucapkan lidah bule seperti pengamen itu. Tapi tak hanya itu...
"See you later, Little Shine...," bahkan gadis cantik yang tak mungkin bisa bahasa Indonesia itu menyebutkan arti dari namanya.
Pelita pun mulai mereka-reka, siapa gadis bermata biru itu sebenarnya? Mengapa bidadari itu begitu tertarik pada masa lalunya? Dan... apa sebenarnya hubungan pengamen cantik itu dengan the love of her life, Efraim?
Review
Pertama saya harus bilang bahwa ada "perselisihan" kecil antara blurb dan isi novel. Di blurb tertulis, "See you later, Little Shine...," sementara dalam novel tertulis, "See you later, Little Light!" Nah lo?
Kedua, saya akan bilang bahwa saya kecewa dengan novel ini. Hasil akhirnya jauh di bawah harapan saya.
Sebelumnya saya pernah baca novel "Dua Pasang Mata" karya si penulis dan saya suka banget sama novel itu. Ulasannya bisa dibaca di sini. Makanya waktu cek GR dan melihat bahwa si pengarang punya novel selain "Dua Pasang Mata", buku ini langsung masuk daftar 'to-read' saya. Pucuk dicinta ulam tiba, saya nemu buku ini sekitar sebulan kemudian.
Bagian depan novel ini sebenarnya menarik yah. Misteri soal si Bidadari Santa Monica juga sempat bikin penasaran. Awalnya pas dia bilang kalau dia kenal salah seorang teman Pelita, saya sudah punya bayangan siapa sih, tapi kan tetap masih menjadi tanda tanya, jadi saya tetap penasaran.
Cerita bergulir mundur dalam kilas balik Pelita. Bagian awal kilas balik ini juga masih oke. Pelita bekerja sebagai ilustrator di sebuah majalah, karena suatu hal akhirnya dia merangkap sebagai reporter, lalu lewat salah satu pekerjaannya, dia berkenalan dengan Efraim. Meningat bagaimana balutan romansa dan interaksi antar tokoh yang penulis jalin di DPM, saya punya harapan besar soal Pelita dan Efraim, tapi ternyata...
Hubungan Pelita dan Efraim termasuk biasa aja buat saya. Cewek dari kalangan ekonomi biasa, ketemu cowok super kaya, si cowok jatuh cinta pada pandangan pertama, ngejar-ngejar si cewek dan menghujaninya dengan berbagai hadiah mahal, salah paham, saling membereskan kesalahpahaman, lalu ya... jadian. Masalah kesalahpahamannya juga terasa sedikit komikal buat saya, jadinya ya, saya tidak terlalu menganggap serius keseluruhan novel seperti yang saya lakukan pada DPM.
Akhir ceritanya? Hmm... saya sama sekali tidak merasa terharu. Beda banget dengan yang saya rasakan di DPM. Mungkin karena di sini "akhirnya" lebih bersifat kebetulan, sementara di DPM sifatnya pilihan (pilihan yang sangat berat pula).
Secara keseluruhan 2 bintang buat saya. Just another romance novel for me.
EFRAIM EFRAIM EFRAIM!!!! *kerasa banget di hati gue pas Pelita manggi-manggil nama Efraim ini* #nangis
Telat ya baca ini? Iya.. Nyesel kenapa gk dari dulu beli ini novel. Nemu ini novel juga di bursa buku gitu *beruntung gitu sih*
Well,belum apa-apa kenapa gue masih pengen nangis lagi ya?
Awal mulanya seorang cewek bernama Pelita yang mendapatkan tugas kantor untuk mewawancarai artis tapi salah orang, yang diwawancarai seorang pengusaha muda bernama Efraim. Kebetulan bos Pelita ini teman semasa kecil Efraim. Jadilah Efraim mengadakan kerja sama dengan kantornya dan meminta Pelita untuk yang mengerjakannya. Jadi otomatis Pelita dan Efraim ini sering bertemu.. Akhirnya mereka pun semakin dekat dan dekat, tapi Pelita sempat mengira kalau Efraim ini gay. Ternyata yang gay itu bosnya sendiri dan Efraim tidak. Lalu mereka pacaran. Nah lalu apakah bahagia? Tidak..
Mamanya Efraim tidak menyetujui hubungan mereka,karena dia mau Efraim bersanding dengan seorang cewek yang sederajat dengan mereka.. Pelita, yang hobinya juga melukis pun ditantang mama Efraim untuk membuat lukisan yang akan dia pamerkan di depan 500 orang pada hari ulang tahunnya..
Pelita sempat stress berat juga,berkali-kali dia ingin memutuskan untuk tidak memberikan lukisan itu karena dia takut dipermalukan. Sampai akhirnya kejadian naas itu terjadi.. Saat mereka berdua di mobil dan tiba-tiba Pelita melarikan diri, lalu dia bertabrakan dengan seorang preman. Dan ya preman ini mau menodong Pelita, tapi Efraim lalu membela, sampai akhirnya Efraim tertusuk pisau preman itu. Efraim lalu dilarikan ke rumah sakit.hanya saja nyawanya gk tertolong lagi. Iya dia tewas dengan cara yang bikin siapa pun nyesek setengah mati..
Intinya seperti itu. Sedih dan nyesek banget. Gue sempet gk terima kenapa Efraim dibikin meninggalnya kya gitu. Sumpah sampe sekarang gue masih pengen nangis aja. Bahkan di lembar terakhir pun gue masih dibikin nangis, dan masih terus nangis. Bahkan bikin review ini pun mata gue berkaca-kaca *oke sory kalo lebay,tapi ini bener* Ini cara mati yang bikin nyesek, kalo gk kecelakaan, dibunuh, atau ditusuk seperti ini? Lebih baik gue baca salah 1 tokoh yang meninggal karena punya penyakit deh.. Apa penulisnya juga nangis ya pas nulis ini? Karena gue sebagai pembaca aja nangis gegerungan dan nyesek banget nget nget :’(
Alur ceritanya menarik, lancar dan gk bosenin.. Ada beberapa adegan yang bikin senyam senyum sendiri juga. For all gue suka sama novel ini, walau endingnya bikin nyesek setengah mati ya..
Satu hal yang gue suka, Pelita dan Efraim tunangan. Dan cara Efraim ngelamar Pelita ini beneran sweet banget.. Efraim bikin kejutan untuk Pelita, Pelita sendiri gk tau kalau dia mau dilamar.. Ah dilamarnya pun di dalem kolam renang.. Aduuhh jadi kebayang-bayang gitu wei -___-
Yauda mungkin segitu dulu ya, nyeseknya gk ilang-ilang ini sungguh -__- Bye muggles ^^
(Dulu Efraim sempat bilang ke Pelita, kalau dia ninggalin Pelita, dia akan mengirimkan malaikat untuk menjaga Pelita supaya baik-baik saja.. Dan Efraim membuktikannya, ya seorang Bidadari Santa Monica itu) *nangis lagi*
“Kalau aku sampai harus meninggalkan kamu, aku pasti mengirimkan malaikat untuk menjaga dan memastikan kamu baik-baik saja.” – Efraim – hlm. 250
Pelita, seorang ilustrator sebuah majalah. Namun belakangan, dia mendapat tambahan beban pekerjaan, yaitu menjadi reporter. Dia bertemu dengan seorang paling tampan yang pernah dia lihat – saat di lokasi syuting untuk mewawancarai artis muda bernama Arlita. Cowok itu dikira Pelita sebagai artis cowok yang ingin dia wawancarai – sebagai ganti mewawancarai Arlita. Ternyata, cowok itu adalah pemilik vila tempat syuting. Jelas Pelita malu sekali. Padahal, dia sudah terlanjur menanyakan beberapa pertanyaan. Sehingga, dia langsung kabur tanpa peduli dengan cowok bernama Efraim yang tadi berhasil mempesonanya, saat dia menyadari, dia salah sasaran. Tak disangka, beberapa hari kemudian, Efraim muncul di kantor Pelita. Dia datang untuk menemui atasan Pelita, Pak Ian. Ternyata, Efraim adalah teman kecil Pak Ian. Dan ternyata lagi, Efraim sedang membuat kerjasama dengan majalah tempat Pelita bekerja untuk melakukan peliputan tentang tokonya yang menyediakan berbagai produk branded impor. Dan, Pelitalah yang mendapatkan tugas meliputnya. Great! Dari sanalah mereka mulai dekat. Pelita yang sejak awal sudah tergila-gila dengan Efram semakin tak bisa menahan perasaannya. Padahal, dia tak ingin jatuh cinta semakin dalam pada Efraim, tapi Efraim membuatnya terus-terusan menjadi ge’er. “…akhir-akhir ini aku memang sedang sangat menginginkan sesuatu… Tapi aku nggak akan mencoba-coba membeli apa yang aku inginkan itu dengan uang.” – Efraim – hlm. 93
Saat dia melayang dengan segala perhatian Efraim, Pelita menemukan sebuah kenyataan pahit. Efraim gay. Dia kekasih Pak Ian. Benarkah? Apakah cinta Pelita benar-benar harus pupus sebelum berkembang? Lalu apa hubungan Pelita dengan si Malaikat Santa Monica? “Sok tahu kamu, Lit. kata siapa yang meninggalkan nggak pernah mikirin yang ditinggalkan lagi? Memangnya kamu pernah bertanya langsung?” – Efraim – hlm. 250
Banyak sekali yang harus dijawab. Banyak sekali misteri dan tantangan yang harus dilalui Pelita dan Efraim untuk menyatukan cinta mereka.
Biasanya gw ga pernah mau baca metropop, kecuali author nya favorit gw, ya tapi karena ini pinjem di perpustakaan ya gpp lah mengisi kekosongan dengan membaca. Hehe..
Bidadari Santa Monica. Hmm... jujur, pertama kali liat buku ini teronggok di lemari buku dan baca sinopsis nya gw ga tertarik buat baca. Tapi gw langsung cari buku ini di goodreads ternyata ratting nya lumayan bagus. Karena gw percaya bgt sama review temen2 goodreads *ceilaah* akhirnya gw memutuskan buat pinjem.
Dari awal baca gw suka, cara penulis menyampaikan cerita sangat detail dan mengalir tapi yang ga gw suka there're too much coincidence in this story. Dan menurut gw banyak kejadian yg mudah ditebak. Entah krn gw kebanyakan baca conan atau memang gampang ditebak -_-
dari pertengahan buku ini dan dari cara penulis cerita gw udah tau kalo akhirnya Efraim meninggal. Buat gw gampang ditebak. Tapi kalo soal bidadari Santa Monica itu sebenernya siapa gw ga bisa tebak. ending nya bagus dan kata2 nya bisa bikin sedih gitu, tapi gw ga nangis ya -_-
Alexandra Leirissa Yunadi akan jadi author fav gw yg baru :)
bagus sih, tapiiiii *you know there will alway but when there is 'sih' :D*
bagusnya dulu deh ya, di awal cerita mulai suka sama tokoh si efraim, he is too good to be true banget, contoh sosok yang bener2 bikin cewek melting, dengan semua perhatian dan cara2nya dia buat ngejar cinta si pelita ini sih yang aku suka. suka juga sama puisi? atau apalah namanya disetiap awal bab yang menjabarkan warna warna lewat puisi dan juga gambarin isi babnya. sukaaa banget sama puisi. dan ini bagian buku ini yang paling aku suka. i really really love it. gak sukanya sih sama endingnya yang sad ending. yeah i know not every story is happy ending, tapi ya gimana, pengennya sih ya endingnya sesuai harapanku yang happy ending gitu. meski justru sad ending ini yang jarang dan bener2 keliatan nyata, tapi ini kan emang novel yang fiksi gitu jadi wajarlah pengennya happy ending :D
Sebenarnya sudah lama sekali lihat novel ini di gramedia tapi baru memilkinya ditahun ini. Dan aku sangat MENYESAL BARU MEMIMILIKNYA SEKARANG!!!
Efraim... Efraim... Efraim Aku bisa rasakan suara Pelita saat mengucapkan itu, really!
Cinta yang mendalam, mungkin aku sudah terlalu terseret kisah dalam novel ini...
Lakukanlah yang terbaik dan semaksimal mungkin walau itu butuh pengorbanan, demi orang kamu cintai, setidaknya mencintai kamu. Itu sedikit banyak yang bisa aku tangkap dari novel ini.
Btw, pengen bangeeeeet punya suami seperti Efraim!!!
Ohya, banyak yang bertanya2, bidadari santa monica itu siapa? Aku yakin, dia itu malaikat yang dijanjikan Efraim untuk Pelita sebagai bukti "Yang meninggalkan tak akan pernah berhenti memikirkan yang ditinggalkan." :')
Aku baru baca dan mungkin itu sangat sangat telat bangeeeeeet aku liat di perpustakaan lia, baca nama pengarangnya kok kayaknya sering denger gataunya ini penulis dua pasang mata. Akhirnya aku beli mumpung di gramedia masih ada itupun di bazar buku. Aku jatuh cinta bgt sm sosok efraim.............. Tipe cowo yang selalu nenangin, selalu ada buat pelita. How lucky her! Aku juga suka bgt sm pendeskripsian warna, dari pelita dengan hidup berwarna kuning hingga abu-abu. Hidup yang tadi berwarna seakan sempurna punya segalanya tapi tibatiba hilang dalam sekejap. Akhir yg agak tragis sbnrnya, kenapa efraim hrs meninggal dgn cara ditusuk dan pelita pun akhirnya menjadi pribadi yg mungkin bisa dibilang rapuh :-( tapi suka bgt :D
Berawal dari cover dan sinopsis belakang itupun karena novel ini ada di OS yg sama dengan Rahasia Bintang jadi sekalian deh dibeli ^^
Dan akhirnya tenggelamlah aku dalam ceritanya !! suka banget sama tokoh Efraim disini <3 *mupeng pengen punya pacar seperti ini juga>< ralat! suami deh:$*
dari awal membaca novel ini masih belum 'ngeh' alur yg dipakai flashback, karena pelita menceritakan cerita cintanya dengan efraim ke pada bidadari santa monica *intinya dia pengamen kecil yg sangat cantik* melalui perjalanan pulangnya ke indonesia.
Endingnya malah benar-benar gak ketebak. Begitu pula dengan si bidadari siapa sih dia? masih penasaran><
pertamanya agak kecewa karena sudut pandang ceritanya dari orang pertama alias aku (lebih suka cerita dengan sudut pandang orang ke-3) tapi ternyataaaaaa begitu baca nyampe tengah-tengah ternyata tidak mempengaruhiku untuk menikmati cerita novel ini. Malah semakin mendalami cerita dari sudut pandang si Pelita ini. Penulis sukses membuat ketar-ketir saat membaca novel ini, dari masalah gay, kebingungan Pelita atas perasaan Efraim, Mentari yang nyebelin, ibu Efraim, dan endingnyaaaaa.... nggak nyangka endingnya bakalan gitu... :(
pas awal cerita agak bingung peran si bidadari tuh apa ya, eh ternyata... :D
Ini ceritanya bagus banget. Kak Alexandra Leirissa Yunadi kalo bikin cerita emang bagus sih ya, berawal dari Dua Pasang Mata dan Dua Belas Pendar Bintang, dan dua duanya bagus. Akhirnya aku memutuskan buat membaca yang ini juga.
Cerita tentang Pelita yang patah hati karena Efraim-love of her life-meninggal. Lalu ia bertemu Bidadari Santa Monica, bersamanya terus, mendengarkan lagunya, dll. Lalu ternyata di akhir, ada kejutan yang baru ia sadari. Seingetku ceritanya gitu, karena udah lama banget bacanya hehe.
Bagus sih, i cried a little when i read it. Recommended!
baca halaman-halaman awal buku ini bikin aku bingung, aku yg salah beli buku ato buku ini emang tentang lesbian y? eh pas di tengah buku malah jadi kepikiran jangan2 ini buku tentang kisah cinta seorang gay yg pgn jadi normal.. dan ternyataa... buku ini tentang.. baca sendiri lah ya,hehe..
ceritanya emg khas metropop bgt sih ya, cuma endingnya itu yg ga ky metropop2 lainnya, makanya aku kasih bintang 4 buat buku ini. salut deh
Fuck! You know what? Aku nangis 2 kali dan tersedu-sedu. Fuck!
Awalnya sih pengen ngasih 4 bintang karena cara hilang nyawanya si 'Greek God' Efraim ini konyol banget, gara-gara cat biru yg oh-so-not-important banget. Tp ternyata dibalik konyolnya itu bisa buat aku surprise sampai nangis yang kedua kalinya (yang pertama jelas karena isi sms Efraim dong!). So i have to say that Alexandra, You did a great job. I meant it.
Sebenernya buku ini bagus, kalo aja pemeran utamanya nggak setolol itu. Gue gemes banget asli. Bikin nggak simpatik, ditambah lagi, sad ending. Dan tokoh utama pria-nya TERLALU keren dan agak to good to be true.
Anyway, yang keren adalah twist tentang Bidadari-nya ini, walaupun agak ketebak sih di awal.
Jalan ceritanya bikin penasaran, endingnya 'pas', dan aku suka sama perumpaan warna di buku ini. Sayang tokoh utamanya bukan seseorang yang aku sukai. Entah kenapa aku merasa sifat Pelita sangat kekanak-kanakan sampai aku harus mengecek untuk memastikan bahwa ini Metropop dan bukan Teenlit.
Penulis berhasil bikin saya mental break down. Sumpah!! Saya ga bisa move on dari novel ini saking sedihnya. Ini membuktikan bahwa penulis berhasil meramu cerita yang mengobok2 perasaan pembacanya. Bahkan sampai sekarang saya masih sering bertanya-tanya, "Kenapaaaa???" Saya masih ga rela soalnya :p
Seru membayangkan pertentangan batin Jelita antara tetap suka atau tidak dengan Efraim, dengan perkiraan Jelita kalo Efraim itu seorang gay. Nama tokoh prianya unik sekali, Efraim. Novel yg cukup seru.
Ngga nangis baca buku ini, endingnya udah ketebak, dan si tokoh cewenya keliatan agak bego, ketahuan dari banyaknya dia berdialog dengan diri sendiri.. tapi lumayan lah..