Fajar, pianis andalan Simfoni Bintang, sangat berambisi mengadakan konser tunggal. Sayangnya, dari segi finansial sangat tidak mungkin. Karena itu dia merasa seperti mendapat durian jatuh ketika Elise, putri seorang konglomerat, jatuh cinta padanya. Mereka pun menikah: Elise yang mencintainya dengan sangat tulus, Fajar yang berharap mertuanya akan membiayai konsernya.
Namun skenario Tuhan berjalan ke arah lain. Setelah menikah, Fajar menemukan cinta sejatinya di orkestra tempatnya bekerja. Gadis belia itu, Kirana, datang dengan keluguannya yang memesona, dengan gesekan biolanya yang menjadikannya bintang simfoni sekelas Fajar dalam sekejap.
Fajar pun bimbang, dia ingin meninggalkan istrinya, melupakan konser yang sudah di ambang mata, demi mengejar cintanya pada Kirana. Namun Elise tahu dan tidak rela melepas suaminya. Dia bertekad mempertahankan rumah tangganya, walaupun berarti mengorbankan nyawanya sendiri....
Meiliana Kristanti Tansri lahir di Jambi, 14 Mei 1974. Beberapa karyanya telah memenangkan Sayembara Cerber Femina : Perahu Kertas (Juara I, 1997), Bunga Jambu (Juara II,1999), Kupu-Kupu (Juara II,2000), dan Belajar Terbang (Juara I, 2001)
"Do not pray to marry the one that you love, but to love the one that you marry." " — Spencer Kimball
novel ini bercerita tentang Seorang pianis muda bernama Fajar, yg menikahi seorang anak konglomerat, menikah bukan karena cinta, menikah untuk memenuhi ambisi pribadinya, agar mertuanya mau membiayai konsernya.
pernikahan tanpa cinta tetap saja sebuah pernikahan, ada komitmen yg mesti dijaga dan dijunjung tinggi, saya gak akan terlalu jauh membahas tentang pernikahan, karena saya belum pernah mengalaminya. Seseorang di asa lalu saya yg sekarang sudah menikah, pernah bilang "marriage is not always about love, it is about acceptance". Kalo tidak bisa cinta cobalah menerima apa adanya pasangan kita.
Fajar tokoh utama di novel ini tidak mencintai istrinya dan tidak bisa menerima istrinya apa adanya, padahal istrinya (Elise) sangat mencintai Fajar. malah Fajar menemukan cinta sejatinya di orkestra tempat dia bekerja. Kirana nama gadis itu yg bisa mendapatkan cinta Fajar. Fajar pun tergoda oleh keluguan Kirana yang mempesona dan menguaplah sudah komitmen yg dibuat pada waktu dia menikahi Elise. Cinta datang menghampiri Fajar disaat Fajar sudah menikah dengan Elise.
Elise, begitu besar cintanya terhadap Fajar, dia tidak rela melepas suaminya. Dia bertekad mempertahankan rumah tangganya bersama Fajar walaupun berarti mengorbankan nyawanya sendiri.
begitu banyak di dunia ini orang2 seperti Fajar dan Elise, orang seperti Fajar yg menikah tanpa cinta tapi demi ambisi pribadi, saya yakin orang seperti fajar ini suatu saat merasa 'kosong' di dalam dirinya dan butuh siraman cinta (aduh bahasa gw, njiji'i) dan sayangnya cinta tadi datang bukan kepada istri nya, tapi kepada orang lain dan orang di posisi Elise lah yg akhirnya tersakiti.
ah., mudah2an saya tidak termasuk kepada golongan Fajar dan Elise..
-kuningan 05022010 disaat hujan rintik2. seseorang yg sedang galau
nb : di novel ini juga saya jadi tahu ternyata ada biola bernama stradivarius yg harganya sangat mahal dan bernilai sejarah tinggi serta ada juga biola bernama Guarneri
Sudah lama sekali saya tidak membaca novel romantis yang menggunakan kata-kata baku sesuai EYD. Hahahaha.... Yah, harap maklum saja, terkadang novel-novel metropop memang tampil dalam kemasan penuh bahasa prokem, yang menjadi daya tarik pemikatnya (yang berhasil memikat saya). Maka, terasa sangat berat bagi saya menyusuri liku-liku terjal plot yang dibangun Meiliana dalam novelnya ini. Entahlah, bagi saya novel ini memang agak sedikit nyastra (dalam hal tata bahasa). Dan, agak berat pula isi kandungannya.
Membaca Konser, saya seperti membaca novel-novel karangan beberapa penulis angkatan lama, semisal Mira W., Marga T., ataupun Maria A. Sardjono. Sangat old fashioned. Namun, yang patut diacungi jempol adalah Meiliana menghadirkan konflik yang dekat sekali dengan keseharian. Jadi, meskipun melayang-layang dengan gaya dan tata bahasa langitan serta diksi yang mengagumkan, novel ini tetap membumi berkat konflik itu.
Membaca buku sekaligus berharap dapat membuat resensinya rasanya menjadi agak bertimpangan belakang ini, bagi saya. Dulu (sebelum gemar membuat resensi), saya menikmati membaca buku tanpa tendensi apapun. Saya baca karena saya suka. Kalaupun di akhir halaman, saya mencaci atau memuji (memberikan penilaian terhadap buku), itu murni sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan atau kegagalan penulis "memanjakan" imajinasi saya. Akan tetapi, belakangan saya mulai terkontaminasi dengan segala hal tentang "penghakiman" dari setiap buku yang saya baca bahkan sejak dari lembar pertamanya. Pilihan diksi, plot, karakter tokohnya, gaya bahasa, hingga editan-nya sudah saya korek-korek dan saya cari dimana letak salahnya dari awal saya membaca. Akumulasi dari semuanya, tak jarang saya enggan mengakui keunggulan-keunggulan nyata yang ada dalam buku tersebut. Menyedihkan sekali saya!
Termasuk pula ketika saya mulai membaca awal kisah racikan Meiliana yang berlatar panggung dunia seni musik klasik ini. Saya memulainya dengan, "Okay, apa yang tak benar dari novel ini?", dan karenanya saya tercekik rasa benci untuk menyadari bahwa novel ini bertabur keindahan. Saya sempat menghujat bahwa novel ini terlalu puitis, terlalu tinggi bahasa, terlalu ini, terlalu itu...dan terlalu lainnya. Padahal, pada kenyataannya secara sadar atau tidak saya sudah terseret begitu jauh dalam cerita novel ini. Dan, pada akhirnya saya dengan tulus (tanpa paksaan) mengangguk takzim dan memuji, "Ya, novel ini memang bagus (sekali)."
Secara jujur, saya sangat menikmati membaca novel ini. Dan, saya tak ragu untuk menganjurkan bagi siapapun yang belum membaca silakan segera membacanya.
Ceritanya sendiri tak jauh berbeda seperti halnya galian cerita pada novel-novel yang lainnya. Bukan tema baru memang, namun untung saja background dunia seni musik klasiknya cukup membantu mengemas cerita menjadi sedikit berbeda dibanding novel lain. Cinta terlarang. Cinta berjurang usia (tokoh perempuan digambarkan berumur 18 tahunan sedangkan tokoh laki-lakinya dideskripsikan 20 tahun lebih tua). Cinta terpaksa. Tragedi dibangun dari situasi yang serba berpagar, penulis seperti sedang mengajukan sebuah pertnayaan,"Apakah pagar larangan ini harus diterobos demi sebentuk cinta sejati?"
Meiliana berhasil mengocok emosi saya lewat kisah tragis-manisnya ini, meskipun tak sampai membuat saya tercekat dan menitikkan air mata. Tak kurang-kurang saya seolah terlibat dalam beragam konflik yang dibangunnya. Seolah saya menjadi salah satu tokoh di dalam novelnya itu. Meskipun hanya tokoh pinggiran yang bertugas menonton adegan demi adegan yang dimainkan dengan sempurna oleh para aktor-aktris utamanya. Menakjubkan. Namun demikian, pada saat-saat tertentu saya juga mendapati cerita yang dibuat Meiliana agak-agak terlalu sinetron, sedih berkepanjangan dan tangis-tangisan. Hmm, tapi masih lumrah dan berlalu mulus karena ditangani dengan tepat dan serius. Bukan sengaja dilebih-lebihkan.
Seperti ketika membaca novel apapun, saya juga berusaha menebak-nebak alur Konser ini. Sayang, beberapa kali tebakan saya meleset. Salah satu yang sangat jauh melenceng adalah tokoh Sastro, si pengagum barang-barang antik yang di paruh awal novel menyelamatkan Kirana (tokoh utama) namun juga "dikondisikan" (paling tidak saya menduganya begitu) sebagai tokoh yang patut dicurigai sebagai tokoh antagonis dalam novel ini. Nyatanya, tebakan saya meleset. Hal tersebut yang membuat saya makin menikmati sajian istimewa Meiliana dalam Konser megah rekaannya ini.
Oya, mengapa Konser menjadi benang merah sehingga diangkat menjadi judul novel ini? Sejauh yang saya tangkap, dari konser inilah kisah cinta terpaksa Fajar (tokoh utama) dengan Elise (tokoh pendamping perempuan) terjalin, selanjutnya konser itu mempertemukan Fajar dengan Kirana, meskipun berkat konsernya tersebut ia kehilangan Kirana yang ternyata mulai jatuh cinta pada Sastro. Lewat konser itu pula Fajar menyadari bahwa ketulusan cinta Elise seharusnya tidak ia sia-siakan. Mungkin saja kalau ia tidak terlambat menyadarinya, Fajar tak harus merelakan Elise dan calon putrinya pergi secepat itu.
Salut pula, untuk cetakan dan editan-nya, rasa-rasanya saya tidak menemukan ada kesalahan.
saya benar2 tidak habis pikir dengan orang2 yg rela meninggalkan istrinya demi wanita lain.. terutama jika sang istri sangat2 mencintainya.
bagaimana mungkin Fajar sangat mencintai Kirana yg hanya dikenalnya pada sebuah orkestra dibandingkan dengan Elise yg sudah bertahun-tahun menjadi istrinya.
ah, rupanya hati memang tak sejalan dengan otak..
3 bintang untuk ceritanya yg memiliki kekurangan asal usul, dan 1 bintang untuk endingnya yg tidak biasa..
Saya suka bahasanya - prosa yang sederhana. Karakternya yang cukup complicated. Plotnya yang terasa pas.
Saya hanya merasa pace-nya terlalu cepat, seperti di awal saat Kirana dan Fajar mencintai satu sama lain - fakta ini dijelaskan terlalu awal dan tanpa latar belakang yang jelas.
Overall ceritanya bagus, sempat bikin air mata jatuh, dan buruan segera dibaca deh! banyak nilai2 kehidupannya juga yg bisa kita ambil. ya meski sempat bingung cinta antara fajar dan kirana terlalu cepat terjalin /tapi mungkin dia love at first sight kali ya :p/ meski endingnya agak kurang memuaskan ^^
Jika kau percaya, cinta akan datang padamu bila saatnya tiba
Kirana, pemain biola andalan Simfoni Bintang dengan predikat "rising star". Seorang gadis yang baru saja beranjak dari masa remajanya. Masa-masa yang seharusnya penuh suka cita andai saja ayahnya masih bersamanya. Kehilangan ayah tercinta adalah suatu pukulan telak bagi keluarganya. Kehidupan mereka tidak akan pernah lagi sama. Kenyataan hidup telah mengajarinya banyak hal. Kirana "dipaksa" menjadi dewasa sebelum waktunya.
Kirana dan Fajar adalah sesama rekan kerja di Simfoni Bintang yang dipimpin oleh Adji. Keduanya terlibat dalam jalinan rasa yang mengikat pada hati masing-masing. Perlahan, Kirana telah jatuh cinta pada Fajar, sang pianis andalan Simfoni Bintang. Fajar sendiri telah menikah dengan Elise. Pernikahan yang berlangsung dalam kepura-puraan belaka. Fajar tidak pernah mencintai istrinya sekalipun Elise sangat mencintainya. Pernikahan yang dilangsungkan hanya untuk memenuhi ambisi ego pribadinya belaka. Demi sebuah konser tunggal yang kelak akan disponsori oleh Sudarto, ayah Elise.
Petaka itu dimulai ketika Kirana dan Fajar mulai terlibat dalam hubungan yang lebih intens. Tidak hanya sekedar rekan kerja belaka. Seringkali, bayangan tentang Kirana menyeruak dibenaknya. Fajar pun seakan tidak kuasa. Rasa simpati Fajar terhadap segala kejadian pahit yang menimpa Kirana berubah menjadi benih-benih cinta diantara semak belukar hatinya. Fajar menyadari bahwa ia mencintai Kirana namun belum sepenuhnya bisa terlepas dari jerat pernikahannya dengan Elise. Kirana pun demikian. Rasa cintanya yang kian membuncah itu harus berhadapan dengan jurang pemisah bernama pernikahan. Kirana tidak sanggup membayangkan bahwa dirinya akan terjebak diantara Fajar dan Elise.
Elise, belakangan mulai curiga dengan perubahan yang terjadi pada Fajar. Fajar terlihat sering muram dan mulai susah tidur. Elise menangkap sesuatu pada benak Fajar. Sesuatu yang melebihi insting nalar perempuannya untuk mengendus sesuatu dibalik sikap Fajar yang semakin dingin. Elise mulai berhadapan dengan berbagai asumsi dan prasangka. Elise kemudian mencoba untuk membuktikan semuanya. Tidak perlu waktu lama untuk menyadari yang terjadi pada Kirana dan Fajar. Elise telah mendapatkan jawaban atas segala kekhawatiran yang selalu melandanya.
Tensi konflik-konflik dalam cerita semakin meningkat ketika Lydia, sosok Ibu yang begitu dicintai Kirana jatuh sakit dan harus dirawat. Kirana berusaha untuk tetap tegar menghadapi vonis kanker yang diderita Ibunya. Disinilah Kirana mengalami berbagai ujian. Kirana sudah berhasil menjaga jarak dengan Fajar setelah Elise melabraknya dan menggores Stradivarius kesayangannya. Kirana menganggap dirinya telah cukup dewasa untuk menghadapi semua itu. Namun, ukuran kedewasaan tidak hanya diukur dari sejauh mana Kirana mampu menghadapi semua belenggu dihadapannya. Ada banyak hal lain yang masih membutuhkan jam terbang pengalaman. Dalam perjuangannya itu, Kirana mulai menerima kenyataan untuk merelakan Ibunda tercinta ke pangkuan Tuhan.
Perkenalannya dengan Sastro, kolektor barang antik, telah menyelamatkan Kirana dari jeratan lain yang mengintainya. Kirana merasa sangat merasa berterima kasih dan berhutang budi padanya. Sesuatu yang harus dibayar mahal. Kirana menerima pinangan Sastro, seorang kaya raya seumuran ayahnya yang masih membujang. Suatu awal bagi babak baru kehidupan Kirana. Ia memutuskan berhenti bermain musik setelah menikah.
Memasuki akhir cerita, semua konflik yang dibangun sejak awal hingga pertengahan cerita menemukan benang merahnya masing-masing. Fragmen-fragmen dalam adegan Elise yang mengalami pendarahan sehingga menyebabkan kematiannya dan bayi yang dikandungnya, pesan terakhir Elise yang menagih janji ayahnya, fakta bahwa ayah Elise sebagai biang keladi dibalik hancurnya bisnis keluarga Kirana, hingga kehamilan Kirana yang menimbulkan konflik baru dalam pernikahannya dengan Sastro.
Kehilangan Elise membuat Fajar semakin menyadari bahwa dirinya memang telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Fajar telah menyia-nyiakan cinta dan segenap pengorbanan Elise. Konser terakhir yang digelar pun bertajuk “Fur Elise” sama dengan judul sebuah nomor klasik. Fajar tampil sepenuh hati dalam konsernya itu demi membahagiakan Elise yang telah menantinya di alam lain. Konser itu pula yang akhirnya membawa penyelesaian bagi tautan perasaan Fajar dan Kirana. Sedang, Sastro mulai bisa menerima kenyataan pada konflik yang mereka alami dalam pernikahanyya bersama Kirana.
Catatan Seorang Kolumnis Dadakan
Awalnya, saya merasa bakal mendapat gambaran yang jelas tentang bagaimana sebuah konser atau resital piano berlangsung. Saya semakin yakin karena sampul depan buku ini memang menampilkan alat musik yang menjadikan Beethoven sebagai masetro, piano. Selama ini, yang ada dibenak saya tentang resital piano adalah konser Francis Lim di Amerika sana, yang saya baca dalam buku Traveler’s Tale.
Namun, keyakinan saya itu seketika berubah sebaliknya. Membaca sinopsis singkat di bagian belakang buku, rasanya ada sesuatu lain yang ditampilkan buku ini. Tidak melulu tentang musik. Sejenak, saya menangkap makna bahwa buku ini memberikan sesuatu yang lain. Masih tentang cinta dan konflik-konflik seputarnya, dan itu melibatkan orang ketiga.
Isu tentang perselingkuhan sudah ada lama sekali sejak pertama kali Tuhan menciptakan cinta dalam jalinan pernikahan. Perselingkuhan selalu menjadi isu yang menarik untuk diikuti. Selalu menarik untuk mengikuti cerita cinta yang tidak hanya milik dua orang anak manusia. Isu yang tidak akan pernah membuat bosan karena banyak variasi yang bisa dilakukan untuk tetap mencintai seseorang, sekalipun itu terlarang.
Konser lebih banyak bercita tentang konflik-konflik seputar pergulatan tokoh-tokohnya dengan kehidupan mereka masing-masing. Kirana, dengan segenap problematikanya yang mengharuskannya lebih dewasa dari orang dewasa. Fajar, yang harus mengakui sifat pengecut yang bersemayam dalam dirinya karena pernikahannya dengan Elise tidak pernah ditautkan oleh cinta sehingga mulai jatuh cinta pada sosok Kirana. Cerita yang berputar diantara tokoh-tokoh tersebut tidak lantas membuat buku ini kehilangan dimensi-dimensi lainnya. Latar cerita semakin menambahkan kesan yang kuat dalam membentuk imajinasi pembaca terhadap situasi-situasi yang dialami tokoh-tokoh cerita. Walaupun akhir cerita terkesan sedikit filmis dengan terkuaknya semua “rahasia”, semua itu tidak mengurangi kekuatan cerita yang berangkat dari ide yang sangat sederhana ini.
Yang patut dijadikan pelajaran dari buku ini adalah memaknai nilai-nilai keteguhan dan kesetiaan kaum perempuan. Keteguhan hati seorang perempuan ditampilkan dalam sosok Lydia dan Elise. Lydia, dalam perjuangannya membesarkan ketiga buah hatinya. Pun, ketika berjuang melawan penyakit kanker yang menimpanya. Elise, walaupun tampak rapuh dibalik sikap manjanya ternyata sangat mencintai Fajar. Elise rela berkorban apa saja demi cintanya itu. Elise telah membuktikan bahwa cinta memang membutuhkan pengorbanan, sekalipun nyawa taruhannya. Elise meninggalkan dunianya dengan membawa cintanya. Cintanya masih menggema di sanubari sehingga membuat Fajar merasa sangat bersalah.
Sungguh tidak mudah bagi kaum istri untuk menerima kenyataan bahwa suami mereka berselingkuh. Namun, penolakan itu sama pahitnya dengan menyadari apa yang telah terjadi lalu mencoba berdamai dengan segala kecurigaan dan prasangka yang terlanjur mengisi relung hati. Sehingga, apapun pilihan atasnya menjadikan perempuan sebagai sosok yang lebih dari sanggup untuk mengatasi semua itu.
Melalui cerita ini, Meiliana berhasil membangun imaji tentang kekuatan seorang perempuan dalam menghadapi segenap prahara dan badai konflik dalam rumah tangga. Kekuatan yang berasal dari fitrah yang saling melengkapi peran kaum perempuan. Baik itu dalam konteks relasional dengan dunia sekitar mereka maupun dengan perasaan mereka sendiri. Perasaan dan intuisi yang seringkali jadi lawan abadi dalam menemukan pelangi di akhir badai.
Terus terang saja, saat pertama kali menemukan novel ini di antara tumpukan novel2 new arrival, saya tidak jatuh cinta pada sinopsis yang ada di back cover. Sebaliknya, saya dibuat jatuh cinta oleh covernya yang sederhana: piano yang dipotret sebagian, tanpa satu tokoh manusia yang terpotret di sana, meskipun cerita ini tidak melulu tentang konser ataupun kehidupan seluruh anggota pemain orkestra. Sebelum saya memulai review, ijinkan saya memasang sinopsis yang ada di bagian belakang sampul:
Fajar, pianis andalan Simfoni Bintang, sangat berambisi mengadakan konser tunggal. Sayangnya, dari segi finansial sangat tidak mungkin. Karena itu dia merasa seperti mendapat durian jatuh ketika Elise, putri seorang kkonglomerat, jatuh cinta padanya. Mereka pun menikah: Elise yang mencintainya dengan sangat tulus, Fajar yang berharap mertuanya akan membiayai konsernya.
Namun skenario Tuhan berjalan ke arah lain. Setelah menikah, Fajar menemukan cinta sejatinya di orkestra tempatnya bekerja. Gadis belia itu, Kirana, datang dengan keluguannya yang memesona, dengan gesekan biolanya yang menjadikannya bintang simfoni sekelas Fajar dalam sekejap.
Fajar pun bimbang, dia ingin meninggalkan istrinya, melupakan konser yang sudah di ambang mata, demi mengejar cintanya pada Kirana. Namun Elise tahu dan tidak rela melepas suaminya. Dia bertekad mempertahankan rumah tangganya, walaupun berarti mengorbankan nyawanya sendiri…. *** Seandainya saya membaca sinopsis itu lima tahun yang lalu, jantung saya akan berdebar-debar dan dengan impulsif akan langsung mengambil novel yang masih mengusung tema abadi (tentang cinta) ini, tapi tidak. Mengandalkan intuisi, saya akhirnya memutuskan untuk mengambil novel ini dan memasukkannya ke dalam tas belanja.
Dan syukurlah, karya Tansri ini memang tidak mengecewakan saya. Awalnya, tentu saja seperti cerita dan film lainnya yang pernah saya tonton, cerita berjalan dengan lamban…umum dan mudah ditebak. Tapi beberapa kali intuisi saya terpatahkan oleh beberapa twist yang dibuat oleh Tansri—yang kebetulan saya suka. Bahwa perempuan tidak melulu hidup dengan romantismenya, bergantung pada debaran hatinya, tapi juga dengan logis. Keyakinan bahwa dia bisa memilih.
Mengenai karakter….jujur, saya tidak dibuat langsung jatuh hati dengan karakter karangan Tansri, sampai akhirnya saya membaca kedua kalinya dan menemukan indah alunan cerita yang disampaikan oleh keempat karakter. Cinta yang terlarang antara Fajar dan Kirana, api cemburu dan cinta yang dikobarkan Elise, serta kesepian Sastro.
Sebenarnya apa arti cinta? Apakah sebatas debaran dan hasrat? Sebatas rasa kepemilikan yang mewujud dalam cincin yang melingkar di jari manis? Benarkah cinta akan selalu selaras dan sejalan dengan kesetiaan?
"Konser" bercerita tentang Kirana, seorang gadis pemain biola yang merupakan bawang emas di kelompok orkestra Simfoni Bintang. Kehidupannya sedang dilanda cobaan. Ayahnya meninggal setelah harta mereka terkuras karena suatu kesalahan dan meninggal tidak lama sesudahnya, meninggalkan mereka dalam hidup yang berkekurangan.
Fajar adalah seorang pianis di Simfoni Bintang yang sedang mempersiapkan konser solonya. Pembiayaan datang dari keluarga istrinya yang kaya raya. Fajar yang menikahi istrinya demi harta, sebenarnya jatuh hati pada Kirana. Kirana pun sebenarnya memiliki perasaan yang sama pada Fajar.
Fajar yang siap untuk melepaskan mimpinya untuk melakukan konser solo mulai mendekati Kirana, tapi Elise, istri Fajar, mengetahui hal ini dan dia tidak rela melepaskan suaminya. Dia akan melakukan cara apa saja untuk mempertahankan Fajar, bahkan kalau nyawa taruhannya.
Salah satu buku hasil borong di Kompas Gramedia Fair Surabaya :D
Saya membeli buku ini dengan 2 alasan. Pertama, harganya murah (cuma 15 ribu) dan kedua, saya memang suka cerita yang melibatkan musik klasik seperti ini. Biasanya langsung nyari musik yang dibilang dalam buku :D
Ceritanya cukup bagus. Saya suka dengan cara penyelesaian masalahnya. Karakter yang muncul terlalu banyak menurut saya. Memang anggota orkestra ada banyak. Tapi, rasanya tidak perlu dimunculkan terlalu variatif. Tidak membuat cerita lebih menarik. Malah membuat bingung.
Percakapan yang digunakan terlalu ala buku teks Bahasa Indonesia. Rasanya terlalu formal bahkan untuk pembicaraan ibu dan anak. Seperti melihat drama-drama anak sekolahan yang bahasanya dibuat formal. Janggal.
Why did they fallin love with person that they should never fallin love with?
Bintang 4 dari aku.
1. Untuk Sinopsis yang mengecoh ;D Kalau kita baca sinopsis, pasti kita berpikir "waah tokoh utamanya laki-laki, si Fajar." Ternyata sudut pandang yang diambil bukan hanya sisi Fajar, tapi juga Kirana.
2. Untuk tokoh Kirana yang kuat di balik kerapuhannya :) Gadis belia yang punya bakat luar biasa. Pemain biola. Yang secara tidak sengaja jatuh cinta pada Fajar, lelaki 18 tahun lebih tua dari dia. Kirana kehilangan ayahnya yang meninggal karena kecelakaan beberapa tahun lalu. Bisa jadi sosok Fajar adalah sosok yang mirip dengan ayahnya, sehingga Kirana jatuh cinta padanya.
3. Untuk penyajian cerita mengenai konser. Musik klasik. Dan Alat-alatnya =))
Jujur saja, aku gak suka tokoh Fajar :P pengen cincang-cincang tuh manusia. Pengen lempar buku kalo baca bagian dia. huahaha
adegan paling merinding pas duet. :) terasa banget kayaknya tuh lagu dilantunin bersamaan piano dan biola. :D
Duh jadi pengen memiliki Antonio.... *buat pajangan doang* Di rumah ada 2 biola punya adik aku, sayangnya bukan Antonio. =)) jenisnya pun beda.... :P
DAN
Hei, aku gak butuh otak prima loh buat bisa mengerti isi konser dan musik klasik ini walau aku buta dengan beginian, bahkan belum pernah ke konser musik klasik :P
Yups, buku ini lumayan menguras tenaga untuk membacanya. Mungkin karena bahasa yang terkesan kaku yang digunakan, atau mungkin bahasa baku emang bikin capek, entahlah. Bukan bahasa sehari-hari yang kita pakai, jadi kita dipaksa membiasakan sisi formal kita bekerja *mulai ngomong ga jelas*
Menceritakan tentang bagaimana menyikapi dan mempertahankan cinta, atau juga memperjuangkannya setelah cinta itu ada. Agak lain sih, berhubung mayoritas buku lain menceritakan proses jatuh cinta itu seperti apa. Jadi, kalau kalian mencari manisnya jatuh cinta di sini, selamat kecewa, karena kalian tak akan menemukannya. Karena di awal cerita kita sudah dibawa pada dua orang yang telah saling jatuh cinta, tanpa sebab dan alasan yang bisa dijelaskan.
Endingnya menarik, agak jauh dari dugaan awal. Eksekusi yang bagus.
Mungkin, sebenarnya buku ini bagus. Atau memang bagus? Yang jelas, saya mengakui cara penulisan sang penulis di sini sangat sangat rapi.
Tapi entah apa yang membuat saya tidak bisa menikmatinya--entah bahasanya yang terlalu baku, kaku, atau terlampau nyastra. Atau memang ceritanya yang membosankan, entahlah. Yang jelas saya hanya bisa menyelesaikannya dengan banyak men-skip halaman demi halaman.
Mungkin kesalahan terletak pada diri saya. Karena, toh, nyatanya Ibu saya mampu menyelesaikan novel ini dengan lancar dan cepat. Padahal Ibu saya adalah tipe orang yang sudah berada dalam tahap malas membaca.
Jadi, ya, selera tetaplah selera ;p
Btw novel ini mau saya swap nih *hiks* gbye yaaaa. Semoga kamu mendapat lemari dan pembaca baru :')
Awal baca sih agak kurang nyaman juga sama banyaknya kalimat tentang musik yang sama sekali aku ngga tau *kalo gitu kenapa baca novel ini?!?!?!?!?1 #plak
Kenapa sih Fajar sama Kirana harus saling jatuh cinta secepat itu? Apa penyebabnya? Apalagi umur Fajar yang dua kali lipat dari umur Kirana.
Tapi mulai ke belakang mulai menikmati ceritanya.
Kak Meiliana merancang kisah dengan sangat apik. Walaupun bahasa terlalu baku tapi tetap sangat nikmat buat dibaca. Berhasil menguras emosi pembaca.
aku teringat saat membeli buku ini, hendak membayar komik dan ayah bertanya, "kamu nggak beli novel?" berarti aku boleh beli karena itu aku tidak melewatkan kesempatan itu. tiba-tiba mataku langsung tertuju pada novel ini. langsung saja aku beli setelah melihat review-nya. dan aku terkejut mengetahui bahwa ini adalah novel Indonesia. novel ini adalah novel pengarang Indonesia pertama yang kubeli. and I don't regret to bought this novel. (and I just have one day to finish it)
Setelah membaca buku ini, harapan saya pada saat membelinya kurang tercapai. Saya mengira buku ini dapat menggambarkan bagaimana suatu konser terjadi dengan konflik yang menarik dan proses penyelesaian konflik yang seru, tapi hanya berupa novel cinta dengan setingan kehidupan di orkestra. Namun demikian, buku ini masih saya apresiasi karena setingan cerita seperti ini masih termasuk jarang dimuat dalam novel.
Awalnya alur ceritanya, menjanjikan. Tapi endingnya kurang menggigit, jadi agak cemprang.
Kayaknya terlalu dipaksakan supaya "tokoh utama" Kirana terlalu buruk nasibnya, terlalu tabah menjalani hidupnya, padahal dia cantik, dan yahuud main biola. Supaya pembaca terseret iba setengah mati.
novel yang sangat bagus. Membaca buku ini membuat saya kembali mengingat novel-novel Indonesia lainnya karangan Mira W dan Marga T. Meiliana pintar melukiskan emosi dalam kisah ini. Selain itu, novel ini mampu menggambarkan pengetahuan Meiliana dalam hal musik klasik.
kayak gimanapun review untuk novel ini saya suka banget dengan jalinan cinta tokoh tokoh di dalamnya, menurut saya tidak ada yang berlebihan, ending cerita juga teramat real nggak dipaksakan, salute banget sama novel penuh kenangan ini.