Jump to ratings and reviews
Rate this book

Halo, Aku Dalam Novel

Rate this book
Saya hanya ingin menjadi penulis. Tidak lebih dari itu. Saya tidak peduli orang mau bilang apa. Tidak peduli kepada orang lain adalah peraturan pertama dalam hidup saya, termasuk apa yang mereka katakan.

Tokoh utama dalam tulisan saya, yang jelas, dia tidak boleh cantik. Cih! Saya benci orang-orang cantik karena mereka biasanya tolol. Saya akan membuatnya sangat jelek. Jelek sekali. Tidak punya teman, sendirian. Mungkin, gagu.

Pram, seorang mahasiswa Indonesia yang tinggal di sebuah asrama di Oregon. Dia senang dengan kesendiriannya meski para mahasiswa lain menganggapnya aneh.

Pram senang sekali menulis, menciptakan tokoh-tokoh dalam tulisannya. Hingga suatu hari, tokoh-tokoh itu mulai menguasainya, masuk dalam kehidupan Pram. Hal-hal aneh terjadi dan tak satu pun orang percaya padanya.

Batas antara khayalan dan kenyataan perlahan-lahan menghilang. Apakah kau termasuk yang tidak percaya bahwa fiksi bisa menciptakan realitasnya sendiri?

302 pages, Mass Market Paperback

First published January 1, 2009

84 people want to read

About the author

Nuril Basri

11 books88 followers
Nuril is an Indonesian writer. He writes tragicomedy in form of autofiction, bildungsroman, and offbeat stories. His characters range from being very lonely, to queer and subtly eccentric. His works have been translated into English, French, and Malay.

Nuril was awarded a grant by the National Book Committee of Indonesia to complete a residency in the U.K. in 2017, then received a grant from Robert Bosch Foundation and The Literarisches Colloquium Berlin to conduct research for a novel in Germany. He is also the scholarship recipient to the AIR Litteratur program held by the Vastra Gotaland region to write his novel in Sweden in 2022

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
27 (18%)
4 stars
26 (18%)
3 stars
46 (32%)
2 stars
34 (23%)
1 star
10 (6%)
Displaying 1 - 30 of 39 reviews
Profile Image for Uci .
620 reviews123 followers
November 30, 2009
Sepertiga bagian pertama : Wah keren nih, gaya baru nih, tokohnya unik nih.

Sepertiga bagian kedua : Dududududu....ini mau dibawa ke mana ya, ceritanya apa ya, novel yg ditulis tokoh utamanya kok asal ya...

Sepertiga bagian ketiga : Akhirnya...selesai juga. Hmmm...apa ya yang gw baca barusan?
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books64 followers
February 6, 2010
Pramana dituntut oleh orang tuanya agar bersekolah di Amerika. Bukan karena ingin anak mereka pintar, cerdas dan sebagainya, tapi agar ada bahan omongan seru di arisan. ”Eh anak gue sekolah di Amrik, lho!” begitu mungkin anggapan orang tua Pram. Kasihan juga sebetulnya, karena dia anak tunggal, mau tidak mau ia harus menuruti kehendak orang tuanya. ”Saya datang ke Amerika hanya agar ibu saya berhenti mengoceh.” Hal.4.

Memang awalnya ogah bersekolah, Pram lalu memilih kota Corvallis, Oregon karena menurutnya kota tersebut lumayan sepi. Cukup sebal juga Pram jadinya karena ternyata di kota itu lumaya banyak mahasiswa asal Indonesia-nya.

Ditengah kebosanan, tiba-tiba muncul keinginannya untuk menulis. ”Saya tegaskan sekali lagi, saya hanya ingin menjadi seorang penulis. Orang-orang, kadang, tidak mengerti hal itu. Dan, setiap kali saya menjelaskan, mereka hanya akan menganggap saya gila,” Hal.2. Ditengah jadwal perkuliahan, Pram lebih banyak berteman dengan laptopnya. Bahkan ia tidak perduli kalau kegiatannya itu menganggu pendidikannya.

Pram lalu menciptakan sebuah tokoh yang ia beri nama HALO. Ya, nama tokoh rekaannya cukup singkat dan aneh, hanya H-a-l-o. Itu saja. Halo digambarkan sangat mengenaskan, ”Tulang-tulang ditubuhnya sangat menonjol, menirus dan menusuk kemana-mana. Dia seperti tengkorak yang hanya dapat berjalan dan bernapas,” Hal.6. Terus terang cerita Pram mengenai Helo ini sangat norak. Helo diceritakan minggat dari rumah, tersesat hingga ke danau ajaib, bertemu nenek sihir (yang ternyata produser film porno), terpaksa bersentuhan dengan tindakan kriminal, lalu tergabung di dalamnya, berkenalan dengan orang-orang aneh dan semacamnya.

Lalu, dunia nyata dan dunia imajinasinya bertabrakan. Mendadak tokoh-tokoh rekaannya muncul dalam kehidupan nyata. Terlebih ketika Pram ’membunuh’ satu tokoh rekaannya –Rio, sehingga tokoh rekaannya yang lain menghantuinya! Menuntutnya untuk menghidupkan kembali Rio. Sebuah cerita yang unik (walau tidak sepenuhnya baru formula ini).

Pram digambarkan sangat ketus, kasar dan mencintai Mike, seorang lelaki dari Taiwan. (Tapi, menurutku bukan karena dia gay, namun dari awal Pram memang digambarkan aneh). Beberapa temannya dari Indonesia juga kerap kesal kepadanya. Tapi, diantara semua tokoh yang ada di novel ini, aku paling suka Merry. Cewek enerjik dan periang yang juga sangat easy going.

Entah ini pujian atau cercaan, membaca Halo, Aku Dalam Novel ini seperti membaca novel terjemahan. Dan sedikit banyak ada kemiripan dengan novel rekaan Jostein Gaardner, Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng . (terlebih dengan menggunakan kata ”Saya” bukan ”Aku” dalam penggambaran tokohnya). Andai Nuril Basri membaca ulasan ini, ingin deh nanya ke dia, apakah dia pernah baca buku Jostein Gaardner tersebut. Hehe.

Di suatu sisi, aku salut dengan penggambaran novel ini. Luar biasa unik. Semakin norak cerita mengenai Halo, herannya aku semakin penasaran dengan kelanjutannya. Si Pram menyibukkan Halo agar mencari cara untuk menghidupkan Rio kembali, padahal dengan mengetikan satu kalimat ampuh saja, Rio bisa dibikin hidup kembali, misalnya ”Akhirnya, karena kesalahpahaman dan ternyata ada kepura-puraan, akhirnya Rio hidup kembali,” :P Aku sendiri bingung menilai novel ini, di suatu sisi aku sebel karena gak mendapatkan ”apa-apa” di suatu sisi lain, karena keanehannya, aku merasa menemukan sesuatu yang baru di sini. Eh gak baru-baru juga ding...

Terima kasih Nuril Basri karena telah membuatku bingung dan dilema hah hah hah.
Profile Image for Nilam.
6 reviews
January 28, 2011
pas baru pertama kali baca sinopsis cover, prasangka gw atas buku ini adalah, oh si tokoh cwenya adalah gw. jadi gw harus baca buku ini. jd gw beli.

pas di busway gw baca depannya, berasa kayak baca buku terjemahan. ini buku bahasanya terjemahan banget ygh. orangnya yg nulis mungkin kebanyakan baca buku asing atau buku asing terjemahan. trus sampe pertengahan bagian pertama, berasa banget itu dua cerita dijadiin satu. tapi enak bacanya soalnya proporsinya pas. pas lagi baca ttg pramana, gw kangen sama cerita tentang halo. pas lagi baca cerita halo, gw kangen sama cerita pramana.

gw suka pramana. karakternya bagus. dia semacam orang setres suka berhalusinasi. halo karakternya gk terlalu ditonjolkan, tpi dia jadi pengantar yg bagus buat mengkisahkan kehidupan teman2nya; rio, al, dll, yg antah berantah.

pas baca kisah halo, gw kebayang seting yg rada anime; dunianya yg gw bayangin itu kayak di film hunter x hunter. figur halo sendiri gw bayanginnya seperti lain di film selain (figur, bukan karakter). karena gw suka lain dan berasa mirip lain (lho!). dan untuk pramana, gw nemuin figur pramana gak di mana2, kecuali di penulisnya.

buat yg suka cerita nggak nggenah, bacalah buku ini. fantasinya bagus, gk kelewat fiktif. dan fiksinya bagus, karena masih 'mendarat di tanah'.

kisah ttg mike dan rio, somehow a little bit gay. tapi itu tipis banget. pas pertama baca, gw gabisa menganggap kalo itu gay. karena penggambaran hubungan antarlelaki di dalamnya itu lebih cenderung manis. nggak porno, dan yg berasa adalah justru hubungan pertemanan yg hangat antar para lelaki ini. hubungan yang mungkin jarang dimiliki banyak orang tapi dipenginin banyak orang. so believe me, this is not about gay story. just adventure.

kesimpulan: SUKA!! ayo ayo pada baca!
Profile Image for Nike Andaru.
1,644 reviews111 followers
April 30, 2011
Entah kenapa ya, saya ga dapet sesuatu yang menarik dalam buku ini.
Saya seorang pisces yang katanya suka berimajinasi, berkhayal. Tapi.... dari awal sampe hampir setengah dari buku ini cuma bikin saya bosen.

Seorang Pram, yang membuat cerita sesuai dengan keinginannya, akhirnya tokoh2 yang ada dalam ceritanya itu muncul dalam hidupnya. Batas antara kenyataan dan khayalan Pram pun seperti tidak ada bedanya.
Pram yang dingin, ngomong sama orang aja males, cepat sekali emosi, tidak punya jiwa sosial kalo saya bilang.

Sorry to say, saya ga suka cerita dalam buku ini.
Profile Image for Bagus.
478 reviews93 followers
May 25, 2021
Saya curiga Nuril Basri sedang kehabisan ide saat memutuskan untuk menulis novel ini. Mulanya dia menciptakan sosok Pramana, seorang remaja Indonesia yang tengah mengikuti perkuliahan Bahasa Inggris di Oregon State University di Corvallis, Oregon, Amerika Serikat. Latar tempatnya sangat ambisius. Pramana atau Pram mengaku dirinya terpaksa belajar di Amerika demi memenuhi tuntutan orangtuanya, walaupun sebenarnya yang ingin dilakukannya hanyalah menulis. Pram tak peduli dengan keseharian perkuliahannya ataupun orang-orang di sekitarnya yang menganggapnya aneh, ia hanya ingin menulis. Mungkin di sini Nuril Basri sedang memproyeksikan kehabisan idenya pada sosok Pram yang juga bingung hendak menulis apa.

Namanya Halo. Halo seperti halo pada bulan itu, dan Halo seperti saat kita sedang menyapa. Atau, Halo saat seperti kita memberi tahu keadaan kita, “Halo! Saya di sini!”, “Halo, siapa itu?”, “Ya, Halo!”. Nama yang bagus. Begitulah Pram mengawali novelnya, menciptakan karakter dengan nama yang tidak lazim: Halo. Terus terang, saya cukup terkesima dengan format unik novel ini. Sebuah novel dalam novel. Nuril Basri menceritakan keseharian Pram, namun di dalamnya Pram sendiri menceritakan kehidupan Halo. Tak banyak penulis yang berani menyentuh ranah tak terjamah ini. Dari kegusaran Pram yang kesulitan mengekspresikan idenya melalui tulisan, Nuril Basri seakan sedang curhat pada pembacanya tentang berbagai permasalahan yang mengganggu penulis: writer’s block, tak punya waktu menulis karena banyak tanggungan di keseharian, dikelilingi orang-orang yang tak paham apa maksud tulisan kita, dan lain-lain.

Gaya penulisan di novel ini sekilas mengingatkan saya pada novel debut Budi Darma, Olenka. Keduanya sama-sama berlatar tempat di Amerika, juga bercerita tentang seorang tokoh yang berhasrat menyalurkan jiwa seninya melalui tulisan. Namun protagonis Budi Darma, Fanton Drammond, adalah orang Amerika tulen yang digambarkan begitu serius mengkritisi suami Olenka yang bukan betul-betul penulis. Sementara Pram tak acuh sama sekali dengan cibiran orang-orang Indonesia di Corvallis yang menganggapnya aneh dan antisosial, ia terus menulis di sela-sela waktunya: di dalam kamarnya, saat menunggui cucian baju, di kafetaria kampus, di mana pun itu ia selalu membawa laptopnya dan terus mengetik. Tragedi dalam kehidupan Pram mulai bermula ketika ia membunuh salah satu karakter dalam novelnya, Rio, dalam tidurnya yang kemudian mengundang tokoh-tokoh dalam ceritanya Halo, Al, Carmen, untuk menghantuinya di kehidupan nyata.

Batasan fiksi dengan kenyataan, ini mungkin satu hal yang penting saat penulis tengah menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan. Novelis Jerman, Günter Grass, mendeskripsikan pengalaman kepenulisannya dengan perumpamaan kalau dirinya seakan didiktekan oleh sebuah suara saat ia tengah menuliskan The Tin Drum. Tokoh utama dalam tulisannya, Oskar Matzerath, terkadang tak merestui gagasan yang akan ditulisnya, dan pengalaman itu membuatnya mengubah beberapa bagian dari alur cerita mengikuti keinginan Oskar. Di sini, ada interaksi yang menyublimkan kenyataan dengan fiksi dalam proses kreatif Günter Grass. Sementara Olga Tokarczuk, penulis dari Polandia, menggambarkan proses kepenulisan dalam novel fragmennya Flights sebagai suatu psikosis, gangguan mental, yang dialami secara sadar. Sebab menulis adalah proses yang dilakukan dengan kesadaran, namun dengan berbagai bahan yang diramu oleh alam bawah sadar. Emosi Pram yang meluap-luap, juga halusinasi yang mendampingi prosesnya menuliskan kehidupan Halo sangat relevan dengan problematika yang umum dialami oleh penulis yang seakan ingin menuliskan seluruh gagasannya dalam waktu semalam, namun terbentur oleh tanggung jawab lain (dan juga tuntutan untuk tetap waras di dunia nyata).

Terus terang saya merasa campur aduk dengan novel ini. Di satu sisi, tema yang dibawakan sangat kreatif dengan alur yang tak bisa ditebak. Namun di sisi lain, gaya pembawaan bahasanya sangat blak-blakan dan menurut saya sulit untuk disebut indah. Namun memang kalau berkaca pada karakter Pram yang benci berbasa-basi dengan orang lain, mudah dimaklumi kenapa narasi novel ini ditulis dengan santai tanpa tedeng aling-aling. Kalau boleh jujur, membaca novel ini membuat saya merasa memiliki teman sesaat, perasaan yang sama seperti yang dirasakan oleh Pram saat menuliskan kisah Halo. Mungkin itu susahnya jadi penulis dengan kesendiriannya, sulit menemukan orang yang tepat di keseharian yang bisa diajak berbagi kegelisahan. Pada akhirnya, karakter-karakter rekaan itu yang jadi tempat curhatnya.
Profile Image for Amelie.
7 reviews1 follower
May 2, 2020
Akhirnya setelah 11 tahun saya kembali menemukan novel ini. Satu-satunya yang saya temukan di toko buku online. Saya sempat pula mencarinya bertahun-tahun di toko buku manapun. Tapi tidak juga ketemu, bahkan saya lupa judulnya. Sampai akhirnya ingat lagi di bulan April kemarin.

Saya berjumpa lagi dengan Halo, tokoh kesukaan saya dari novel yang dibuat oleh Pramana, mahasiswa Oregon Sate University asal Indonesia yang sering bertingkah aneh terhadap teman-temannya. Saya dibawa menyelami pikiran Pramana, juga bagaimana otaknya yang cerdas mampu membuat novel yang sangat menarik.

“Halo, aku dalam novel” adalah “novel dalam novel” paling menarik yang pernah saya baca. Dengan alur dan plot yang sama sekali tidak membingungkan membuat saya terus-terusan ingin membaca buku ini cepat-cepat.

Saya jadi ingat waktu dulu pertama membaca buku ini, 2009, saat saya duduk di kelas 6 sd. Pikiran saya masih belum muat untuk mengerti jalan pikiran Pramana, tapi saya tertarik karena cerita disajikan dengan latar yang sangat jelas—yang sebagian besar berada di OSU, Corvallis, dan beberapa ada di Portland. Saya jadi seperti ikut jalan-jalan.

Sedangkan ketika membacanya kembali 11 tahun kemudian, fokus saya lebih terpusat dalam sosok Pramana—juga absurditas-absurditas yang ada dalam novel ini. Dari bagaimana Nuril Basri mampu menggambarkan sosok tokoh dingin, menyebalkan namun memiliki sisi lain yang terduga sampai perasaan-perasaan tak kasat mata yang menyadarkan saya bahwa cinta bisa dimiliki siapapun di muka bumi ini. Terimakasih.
1 review
March 2, 2025
novel Halo, aku dalam novel adalah pemberian dari ayah saya. awalnya, saya membaca karena merasa bosan dan sudah tidak ada bacaan lagi. Awalnya, saya merasa novel ini agak menarik, menceritakan seorang mahasiswa di amerika dengan karakter cuek, jutek, nggak mau kenal orang lebih deket lah ya.

yang saya suka dari Pram, saya suka saat dia misuh-misuh dan kesel sendiri, entah kenapa baca pov dia lucu aja dan mulai mikir, ternyata orang yang kalo kita liat dia dari pov orang kedua itu ngeselin abis, ternyata dari pov dia atau pov orang ketiga yang tau gimana kehidupannya saya jadi suka.
Profile Image for normnialib.
100 reviews2 followers
March 1, 2022
Saya suka, tapi saya bingung. Cerita ini seperti mengalir dan terus mengalir saja. Lancar sekali sampai-sampai tidak terasa sudah berakhir. Sampai akhir pun saya merasa cerita ini masih mengalir dan akan terus seperti itu. Perasaan saya sekarang campur aduk. Saya juga jadi bingung yang mana yang nyata yang mana yang tidak. Lagipula kenapa saya pakai kata "saya" disini? Jangan-jangan saya sudah dipengaruhi novel ini.
Profile Image for Latree Manohara.
Author 5 books5 followers
October 6, 2010
di awal kelihatannya jelas awalan ceritanya. pemuda Pram sekolah di Amerika atas tuntutan orang tuanya yang kaya raya. jurusan yang dijalani tidak sesuai dengan hasrat Pram yang ingin jadi penulis. tapi Pram tetap saja berangkat demi memuaskan (bukan membahagiakan) orang tuanya.

sambil menjalani kuliahnya di negeri orang, Pram mulai menulis novel. di sini lah asiknya novel ini. cerita antara Pram sebagai Pram dituturkan berselang-seling beriringan dengan novel hasil tulisan Pram. kepribadian Pram yang tertutup dan cenderung acuh pada sekitarnya, retak di tokoh utama novelnya yang sengaja dia ciptakan jauh dari sempurna, Halo.

jadi begitulah cerita berjalan. Pram yang sempoyongan menghadapi kebosanannya menjalani kuliah dan teman-teman yang menyebalkan. hari-harinya menenteng lap top dan lebih sibuk menuli novelnya ketimbang peduli pada hal lain.

di dalam novel Halo menjalani kisah yang serba ajaib dan serba seketemunya. dari bekerja menjaga toko sampai terdampar di hutan, bertemu lalu berkawan dengan gerombolan perampok. tokoh-tokoh muncul seperti ciluk ba serba tiba-tiba. jalan cerita membelok ke sana kemari tidak karuan. setting tempat berpindah pindah melompat lompat.

terus terang aku bilang novel ini semrawut. jalan ceritanya nabrak nabrak. dan novel di dalam novel ini, lebih semrawut dan nabrak-nabrak lagi. ketika Pram kemudian dihantui tokoh-tokoh novelnya, aku berharap akan ada sesuatu di kelanjutannya. tapi tidak. bahkan ketika menjelang bagian akhir, yang kuharapkan ada kejutan, ternyata tidak juga. kebingungan Pram tentang nyata atau tidaknya orang-orang di sekelilingnya entah untuk apa. penjelasan atas pengakuan Pram tentang mengapa dia menutup diri, karena merasa suka menciptakan tokoh halusinasi? itu menarik. tapi tidak ada hal istimewa yang terjadi karena keunikan yang diderita Pram itu.

in the end, aku bisa mengerti apa yang coba disampaikan Nuril Basri. kenapa Pram menyebut Halo – aku dalam novel. karena Pram maupun Halo adalah jiwa yang merasa sendiri dan tidak bahagia, lalu mencari kebahagiaan dengan caranya sendiri-sendiri. well, kalau benar begitu, maka petualangan Halo lebih seru dari pencarian Pram yang berputar di sekitar kampus dan apartemen.

satu hal yang menarik adalah bagaimana Pram menulis novelnya sambil jalan. tidak peduli tokoh-tokoh hadir pating bedunduk. tidak peduli jalan cerita nabrak-nabrak. toh akhirnya jadi. perkara novel yang ditulis Pram itu bagus atau jelek, setidaknya Pram sudah mencoba mewujudkan obsesinya untuk menulis. dan mungkin, seandainya suatu saat aku menulis novel, aku akan mencoba metodenya yang tanpa bikin kerangka. tapi aku musti ekstra hati-hati supaya tidak nabrak-nabrak… :D

aku ingin bilang novel ini jelek. tapi jangan-jangan aku yang tidak bisa menilai mana novel jelek mana novel bagus. karena lukisan Affandi, yang bagiku jelek karena ajrut-ajrutan begitu, ternyata nilai seninya tinggi.
Profile Image for Utami.
163 reviews16 followers
July 3, 2011
Entah kenapa, menurut saya novel yang satu ini sampulnya sedikit berbeda dengan novel-novel terbitan GagasMedia. Warnanya terasa lebih suram. Saya tertarik membeli buku ini justru karena begitu saya membaca sinopsis di bagian belakang bukunya, saya tidak bisa menentukan kira-kira buku ini akan jadi seperti apa.

Buku ini berkisah tentang seorang mahasiswa perantauan, Pram, yang (terpaksa) kuliah di Oregon, USA, karena mengikuti keinginan orang tuanya. Pram bersikap dingin (bahkan cenderung galak) terhadap lingkungannya. Karena merasa tidak puas dengan segala sesuatu yang ada di sekitarnya, Pram lalu memutuskan untuk menulis novel. Menurutnya dengan menulis, dia bisa menciptakan karakter yang diinginkannya, dan mengatur nasib itu seperti yang dia mau. Lama kelamaan, Pram semakin tidak bisa membedakan mana kehidupan nyata, dan mana yang hanya sekedar sesuatu yang dia bayangkan sebagai bagian dari novelnya.

Karena bentuknya yang merupakan satu cerita dalam cerita, buku ini lama kelamaan jadi agak sedikit membingungkan. Di bab-bab awal, masih kelihatan jelas mana cerita tentang Pram, mana cerita yang ditulis oleh Pram. Tapi semakin ke belakang, saya jadi semakin menebak-nebak…ini khayalan si Pram, atau justru adalah kenyataan? Karakter Pram muncul dengan sangat kuat disini. Sampai-sampai karakter lain sepertinya hanya sekedar sempilan. Pram dengan meyakinkan ‘muncul’ sebagai orang yang sangat menyebalkan, penggerutu, skeptik, dan membenci segala sesuatu yang ada. Tapi dengan karakter seperti itu, justru cerita tentang Pram sendiri terasa agak flat. Saya malah lebih tertarik dengan cerita yang ditulis oleh Pram, daripada cerita tentang Pram sendiri.

Saya cenderung mengasosiasikan novel terbitan Gagas Media (apalagi oleh penulis Indonesia) dengan cerita roman yang menya-menye. Jujur saja, novel yang satu ini beda. Overall, cukup bagus sebagai suatu selingan.
Profile Image for Agoes.
512 reviews37 followers
September 13, 2009
Ini adalah buku yang menceritakan tentang seorang mahasiswa bernama Pram yang membuat sebuah novel. Tokoh utama novel itu bernama Halo, sama seperti saat kita menyapa seseorang. "Halo, nama saya Halo."

Pram berpendapat kalau tokoh utama dalam novelnya harus jelek, karena dia pikir perempuan yang cantik biasanya bodoh. Jadi dia sengaja menciptakan tokoh utama seperti Halo yang juling dan sumbing.

Perlahan-lahan, cerita di dalam novel tersebut mulai mempengaruhi Pram di kehidupan nyata...

Menurut pendapat saya, ini novel yang cukup baik. Apalagi BAB I-nya, menarik sekali. Meskipun demikian, saya menyayangkan kenapa tokoh di dalam novel Pram tidak dibahas lebih dalam lagi. Mungkin karena karakter Pram bukanlah novelis handal? (Novelnya bisa dibilang... jelek). Ada sedikit penurunan di bagian akhir novel, apalagi sejak kemunculan tokoh Sarah dan Ebra. Sebetulnya akan sangat menarik kalau kemunculan mereka dikaitkan dengan kehidupan Pram di dunia nyata.

Tokoh Pram juga kurang digali. Twist yang muncul di bagian akhir novel sempat bikin terkejut, tapi cuma sebentar saja. Saya sih sebetulnya tertarik sekali kalau dijelaskan lebih mendalam lagi tentang latar belakang si Pram.

Dari segi kualitas fisik, buku ini lumayan, gak terlalu mahal-mahal amat. Sayang kertasnya agak tipis, kertas covernya juga kurang bagus. Selain itu, fontnya juga kurang enak dibaca. Mungkin pihak penerbit lain kali bisa memilihkan font yang lebih enak untuk dibaca.

Secara keseluruhan, novel ini saya anggap layak untuk dibeli!
Profile Image for Natha.
780 reviews73 followers
February 6, 2012
Awalnya penasaran karena salah satu teman pernah mengatakan buku ini bagus. Tapi aku kesulitan menemukan buku ini di pasar.
Setelah mencari selama berbulan-bulan, melewati gunung, lintasi lembah, sungai mengalir indah ke samudra~ akhirnya menemukan buku ini juga.! Dan bersamaan dengan ditemukannya buku ini, teman yang lain merekomendasikan juga.
Artinya sudah dua orang yang rekomendasi, seharusnya buku ini bagus, bukan?

Tapi--*rolling eyes*--astaga. LoL Menyelesaikan buku ini saja sudah pencapaian besar, karena aku lebih banyak ketiduran dari pada baca. *gulingguling*

Aku tidak mengerti buku ini mau dibawa ke mana, tujuannya apa, klimaksnya di mana dan yang terutama, si tokoh utama sangat-sangat menyebalkan. Oh, bukan berarti aku tidak suka dengan buku yang tokoh utamanya bikin sebel, tapi Pram (si tokoh utama), mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Amerika ini sangat menyebalkan. Ia sangat sinis, cenderung penyuka sesama jenis, memandang apatis terhadap dunia, membenci lingkungannya dan bisa dibilang--punya dunia sendiri.
Hingga ketika ia menemukan kesenangan menulis, ia masuk ke dalam tulisan itu dan tokoh-tokohnya keluar dari tulisannya. Spooky? Nanti dulu, karena yang ada adalah mengerutkan dahi. Entah karena aku yang tidak sreg dengan ceritanya atau gaya penceritaannya.

Paling tidak, yang kurasakan sekarang setelah selesai membacanya adalah lega. Lega karena berhasil bertahan membaca sampai akhir. :p
*peace* :))
Profile Image for Winna.
Author 18 books1,967 followers
September 23, 2011
Baru selesai baca ini semalam, setelah lama novelnya bertengger di rak buku.

Membacanya mengingatkan saya akan Banana Yoshimoto, yang mellow, dengan karakter penyendiri yang sulit bergaul, imajinasi seluas samudera, mistis, penyihir, karakter unik, dan sebagainya. Buku ini bisa saja menjadi masterpiece yang jenius, karena pembaca dapat menelusuri jalan ceritanya dan merasakan berbagai emosi, yang dengan samar dijabarkan oleh sang penulis. Setidaknya, begitulah yang saya rasakan lewat buku-buku Yoshimoto. Sayangnya, tidak dalam buku ini.

Idenya menarik, cara berceritanya pun menarik. Hanya saja, saya kesulitan menyukai karakter-karakter di dalamnya. Saya tidak dapat bersimpati dengan Pram, dengan Merry, dengan Ardian, dengan Halo, dan saya kesulitan menemukan keinginan untuk membaca terus cerita mereka sampai akhir karenanya. Sempat saya begitu tidak menyukai dan tidak mengerti Pram. Apa yang membuatnya seperti itu? Pembaca hanya membaca omelan dan ocehannya, namun tidak mampu menilik jauh ke dalam hatinya untuk melihat apa penyebab dan yang dirasakannya sesungguhnya, yang membuat kita dapat mengerti dan mengidentifikasikan diri dengannya.

Karena itulah, walaupun saya melihat begitu banyak potensi dari buku ini, dan saya kagum pada cara dan gaya menulis sang penulis, saya tidak mampu benar-benar menikmati ceritanya.
Profile Image for Vera Maharani.
305 reviews78 followers
September 24, 2013
I'd say, this book has a lot of potential. A mentally unstable writer with antisocial tendency who writes characters that come alive and meddle with their writer's life. A compromising premise, right? Unfortunately, although the basic idea itself is unique and interesting, I can't say it was executed brilliantly.

The downside for me is the part of Halo's story. On the beginning, it's an interesting insight to Pram's (the writer) mind but toward the end it becomes increasingly nonsensical. I wish Nuril Basri would just write more about Pram and his struggle to have a grip to reality. Sure, he is apathetic and lonely but he could be more interesting as a character. Instead, Nuril Basri choose to write about Halo, pop up caricature characters out of nowhere, and conclude her story in the most deus-ex-machina-whatever-I-just-want-this-story-to-end way I've seen so far.

Also, about the cyanide rain. If it really is cyanide, then we have no hope for the future of men. There's so many thing wrong about the novel's logic (Halo's story, not this book as a whole). Pram's mental state while writing it is the perfect excuse for that, but for the actual reader, it's unsettling. Not a feel-good book and not exactly thought-encouraging either.

"Halo, novel saya pun akhirnya selesai. Halo, sampai jumpa."

Err...probably not, good riddance.
Profile Image for Annelis Brilian.
3 reviews
May 2, 2010
Pram, adalah seorang remaja Indonesia yang belajar di Oregon State University, Amerika. Pram yang sangat sarkastik dalam memandang hidup dan segala jenis pertemanan, nggak berniat buat bersosialisasi di lingkungan barunya. Dia memilih sendiri, dan menulis sebuah novel.
Bisa dibilang dengan membeli buku ini kita bisa mendapatkan dua cerita sekaligus, karena Pram menuliskan secara lengkap novel yang dibuatnya.

Dalam novel itu, Pram menceritakan petualangan Halo sebagai karakter utama –seorang gadis yang sangat kurus, dengan rambut kusam acak-acakan, serta belahan tidak biasa pada bibirnya. Halo sering merasa kesulitan buat berkomunikasi sama orang lain, karena minder sama kekurangannya.

Well, Pram emang tidak menyukai perempuan yang cantik secara fisik, karena menurut dia perempuan seperti itu rata-rata tolol. Yah, itulah salah satu sifat sarkastik Pram yang mungkin akan membuat kita kesal karena pemikirannya yang seenak jidat.

Cerita terus bergulir sampai akhirnya Pram bisa sedikit membuka dirinya ke teman-teman baru. Tapi masalah lain muncul! Pram yang membuat salah satu tokoh di novelnya mati, tiba-tiba diminta tanggung jawab sama karakter lainnya!

Ah ya, sekian spoilernya. banyak twist di sepertiga terakhir novel ini. menarik!
Profile Image for Natasha Adelina.
6 reviews
September 4, 2013
Jujur, baca novel ini, kata yang pertama kali terlontar adalah: "hah?!"

Bukan yang bernada kaget. Tapi yang bernada bingung.

Keseluruhan novel ini--secara nyata--dikendalikan oleh Pram. Namun, Pram dikendalikan oleh Halo dan teman-temannya--yang notabene tokoh rekaan Pram sendiri. Sementara itu, hidup Halo lebih rumit daripada yang mampu dicerna akal sehat. Hal ini membuat aku bertanya-tanya, "Pram itu kenapa, sih?" Lalu pindah ke pertanyaa, "Nuril Basri ini kenapa, sih?"

Kekurangan informasi tentang Pram memang membuatku tergelitik. Pasalnya, kita hanya bisa mengetahui segelintir saja kisah hidup Pram. Itupun berasal dari sudut pandang Pram yang sangat tertutup dan berpikir tidak seperti orang kebanyakan.

Tidak menyenangkan tumbuh bersama Pram, tidak menyenangkan tumbuh bersama Halo. Tapi kita senantiasa tumbuh dan belajar bersama keduanya. Pada akhirnya, meski tidak benar-benar memahami esensi cerita (dan masih dipenuhi tanda tanya akan apa yang terjadi pada mereka selanjutnya, terbitkah novel Halo itu?), kita bisa mengangkat topi untuk novel yang cukup menggugah ini.

Halo, aku dalam novel!
Profile Image for Michael.
41 reviews2 followers
January 31, 2013
nemu buku ini waktu lagi hunting buku di salah satu mall, awalnya teratrik banget dengan judul buku ini yang sangat tidak biasa kemudian membaca review belakanganya yang lumayan menarik langsung beli, buku ini sih keren ide dan konsep cerita yang cangat brilian cuman eksekusi yang agak sedikit kurang mengena saja. seperti di awal saya masih mengerti alur yang dimainkan lama kelamaan kok saya jadi bingung yah mungkin karena penulis kurang memberi batasan yang jelas mana yang menjadi kenyataan mana yang hanya sebuah khayalan pram. lalu terlalu banyak tokoh yang di buat oleh novel pram menurut saya ceritanya fokuskan hanya pada si HALO aja jadi ceritanya gak menyebar terus agak sedikit kesel sama karakter pram yang sumpah jutek abis kayak dia hanya bisa idup sendiri di dunia ini kali yah ckckckck tapi sebenernya ceritanya cukup bagus cuma eksekusi yang sedikit gagal dan ternyata bukul ini udah keluar 2009 dan saya baru baca sekarang hahahahah KEBIASAAN
Profile Image for Ninditya Nareswari.
17 reviews1 follower
September 20, 2013
novel ini kado dari vinny ketika aku ultah ke 17 tahun :D

pram- seorang mahasiswa yang belajar di amerika karena dipaksa oleh orang tuanya. Pram sendiri tipe orang yang selalu skeptis dengan apapun, selalu merasa bisa hidup sendiri-tidak butuh orang lain. Dia memulai menulis sambil dia kuliah disana. Dan dia menulis sesuka hatinya, hingga ia menciptakan tokoh halo.

konsep pertamanya cerita ini benernya bagus, gaya nulisnya juga aku suka. tapi sayang kenapa makin belakang makin datar, nggak ada sesuatu yang wow seperti yang aku kira pertama. ending seorang pram sendiri akhirnya dia kembali ke indonesia. Lalu endingnya halo juga rada geje, sudah keliling kesana kemari ujung-ujungnya juga kembali sama teman-temannya, nggak diceritain secara gamblang, rio itu sebenarnya hidup atau nggak.

meski begitu tapi menurut saya novel ini cukup layak untuk mendapat tiga bintang ;)
Profile Image for Lavira.
2 reviews
December 14, 2009
this book is incredible, it was able to 'anesthetize' me as a reader into the 'fantasy' that i never really liked. but now i like it. mmm i mean, i love it. saya suka dengan buku yang secara gamblang mengatakan ketidak-sukaan pengarang akan suatu hal, yang saya kutip dari novel ini adalah, "saya benci orang-orang canti karena mereka biasanya tolol".
dan yang lebih parahnya, sewaktu saya membaca referensinya, "saya hanya ingin menjadi seorang penulis. tidak lebih dari itu. saya tidak peduli orang mau bilang apa. tidak peduli kepada orang lain adalah peraturan pertama dalam hidup saya, termasuk apa yang mereka katakan", gw merasa bahwa ini adalah 'buku biography gw'.
Profile Image for Ayunda.
444 reviews29 followers
July 2, 2010
Dari summary terdengar menarik. Tapi, sampai di tengah-tengah jadi makin membosankan. Pram dan kegiatannya membosankan. Aku tidak suka dengannya yang sepertinya sangat jutek dan ngak pedulian. Aku juga ngak begitu suka Mike dan yang lainnya. Namun, ceritanya agak lebih menarik. Tadinya sudah putus asa dan ingin berhenti saja. Tapi memutuskan untuk lanjut.
Ceritanya biasa saja. Kurang banyak scene saat karakternya keluar. Dan terakhirnya, apa yang terjadi? Kenapa mereka ngak keluar lagi? Tapi, endingnya bagus juga. Akhirnya si Pram sadar. Aku paling suka persahabatan Halo dengan Rio, dan sang penulis bisa membuat kita menyukai Halo, dan Pram pada akhirnya.
Profile Image for Desya P..
7 reviews8 followers
March 17, 2011
Informasi yang dijabarkan pengarangnya perlahan tapi pasti, tidak semuanya dari tokoh utama (walau ia jadi fokusnya); dan yang membuat cerita ini menarik adalah konsep 'Teman Khayalan'. Obsesi terpendam, ambisi, yang malah berubah jadi bencana walau buat Pram, tokoh utama, sebenarnya adalah anugerah—tanpa disadari, karakter Pram cenderung Sue di awal cerita. Tapi pemaparan selanjutnya mulai menunjukkan bahwa Pram, normalnya, juga adalah manusia dengan perasaan.

I love the idea, alur ceritanya oke dari awal sampai pertengahan, namun endingnya buatku masih kurang 'menggigit' bahkan terkesan buru-buru—ngebuat penasaran :))
Profile Image for Eva.
7 reviews
October 26, 2012
sebenarnya sudah baca buku ini cukup lama. dalam satu sisi, gaya penceritaan si penulis terbilang fresh. cerita yang diangkat juga tergolong tidak biasa. buat saya sih cukup menghibur, apa lagi kalau dibandingkan dengan novel-novel seangkatannya.

sebenarnya buku ini potensinya cukup besar. sayang, banyak hal yang pengarang kurang berhasil gali cukup dalam. namun begitu, saya rasa penulis cukup berhasil mengajak pembaca (paling nggak saya sendiri) untuk ikut gila bersama si tokoh utama.
Profile Image for Devi Liandani.
32 reviews
April 1, 2015
Gak nyangka kuat baca novel ini sampai tamat :-D
Konsep ceritanya menarik, sih tapi eksekusinya kurang jleb. Cerita jadi berbelit-belit dan kadang aku bingung si Halo mau dibawa ke mana >.<

Tapi menjelang ending, aku sempat dibuat tercengang dan gak nyangka (dalam arti positif loh, ya) dengan apa yang terjadi.

1 bintang khusus untuk cover cantiknya, dan 2 bintang untuk cerita dan usaha penulis ^^
Profile Image for K. R..
Author 2 books11 followers
August 26, 2016
udah lama punya buku ini tapi belom pernah baca walaupun kakak-adik bilang bukunya lumayan, tapi entah kenapa dari dulu ga tertarik segera baca. akhirnya berhasil kelar baca juga walaupun diseling banyak baca buku yang lain. agak serem sih ini cerita dalam cerita yang ternyata terselubung cerita yang lain, cuma... ada rasa janggal sama endingnya. harusnya bisa lebih mencekam dan ga semi happy end yang nangung gitu mungkin lebih asik, hahaha, sakit!
Profile Image for Rob.
4 reviews
November 27, 2010
I thought it had an interesting premise, but it just didn't seem to go anywhere. Sure there was a bit of a twist, but it was only used for part of the book, and then seemed to peter out. I was waiting for an interesting climax, but nothing of note happened at the book's end either.
4 reviews
October 21, 2009
nggak menarik. sama sekali nggak bikin tertarik untuk ngelanjutin baca ke halaman-halaman berikutnya.
tokoh-tokohnya nggak jelas, alurnya artifisial, twistnya nggak kerasa sama skali.

PHONY.
Profile Image for Jason Abdul.
Author 1 book19 followers
January 24, 2010
Aku suka gaya berceritanya. Tapi banyak hal yg g penting dimasukin, kayak body guard onani...
I wished Pram-Mike gayish love story made more romantic.*lie*
4 reviews1 follower
January 24, 2010
Buku ini, karya Nuril Basri. Buku ini sangat mempermainkan emosi, dan sangat membuat penasaran jika tidak dibaca sampai selesai. Baca saja jika ingin tau lebih lengkapnya.
Profile Image for Muthia.
11 reviews
May 13, 2010
I like this book. The author of this book is very creative. and he's from small city,not from big city. I like it even I love it :)
Displaying 1 - 30 of 39 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.