Setelah menunggu selama bertahun-tahun, akhirnya Novel Giganto, Primata Purba di Jantung Borneo, terbit juga. Penerbitnya Edelweiss, Lini penerbitan Iiman. Novel ini adalah novel fiksi ilmiah berlatar belakang palaentologi.
Kisahnya tentang ekspedisi pencarian untuk melacak keberadaan seorang peneliti orangutan yang hilang di rimba Kalimantan. Ternyata mereka harus berhadapan dengan makluk legenda purba yang menghantui rimba borneo selama ribuan tahun. Kini tim pencari itu bukan hanya harus menemukan sang peneliti, tetapi juga menyelamatkan diri dari serangan makluk raksasa misterius dari masa lalu.
Membaca Giganto, saya seperti terbawa kembali ke 'Congo' nya Michael Crichton, situasi dan misterinya. Hutan Borneo biarpun semakin banyak bolongnya oleh logging tetap menyediakan suatu misteri di dalamnya. Langit yang 'sungup' oleh hawa mistis, membuat hutan menjadi semakin kelam.
Beberapa tokohnya membuat saya bertanya-tanya. Seperti misalnya Dr. Tran itu. Maklum, saya jarang bertemu expat peneliti yg bekerja di Indonesia selain orang Amerika atau Eropa . Tetapi semakin dibaca, semakin mengingatkan saya pada suatu kunjungan ke rumah seseorang di Thailand. Bapak ini menempati lantai dua sebuah rumah bersama keluarganya. Begitu masuk ke rumahnya, kulit ular pyton sepanjang 10 meter terpampang sepanjang tangga. Dinding rumahnya dipenuhi tengkorak-tengkorak hewan. Lemari kacanya berisi tengkorak sabertooth tiger yang sudah punah. Pojok kamarnya terdapat tengkorak si wooly mammoth. Tak ada satupun ruang yang tak berisi tengkorak dari masa lalu, bahkan hingga ke kamar mandi. Bapak ini tak enggan mengejar koleksinya ke pedalaman Laos, Kamboja, dan Vietnam. Bahkan rela menanti si empunya wafat, dan kembali datang lagi mendekati putra si empunya tengkorak untuk melengkapi koleksinya.
Pengalaman Koen tampaknya banyak sekali memperkaya buku ini, menjelaskan kekayaan hutan Borneo. Apalagi dilengkapi pula dengan ilustrasi yang menarik (siapa yang gambar ya? Koen sendirikah?) Koen sepertinya menjawab ide nakal saya yang kadang malah ingin membuat mitos, hanya untuk menghindari hutan dari gangguan-gangguan manusia. Julag tak ingin ditemukan, tapi bagaimana dengan satwa lain yang ada? Mampukah kita melindungi mereka?
Great job Koen! Ada beberapa kesalahan pengetikan plus misalnya Pithecanthropus yang tertulis Pitecanthropus tanpa dimiringkan.
Baca bareng bulan ini dan biar makin menjiwai pas Jelajah Giganto-nya.
*********************************************
Jarang ada novel Indonesia yang menceritakan tentang kehidupan Peneliti Indonesia. Sempat bikin gw berpikir begini kah kehidupan dari para peneliti? Yang terkadang karena kecintaan dengan dunianya, bisa membuat diri mereka sendiri melupakan kehidupannya demi melindungi temuannya.
Secara tema, Giganto ini termasuk tema yang populer. Pencarian sesuatu yang bisa membuat orang sekitarnya menjadi "hitam" dan "putih". Siapa yang jahat? siapa yang baik? bisa dengan mudah kita temukan. Walaupun tetap harus membaca sampai akhir untuk membuktikan pemikiran yang terlintas.
Yang bikin gw tertarik adalah informasi secara ilmiah mengenai hewan-hewan di buku ini yang tanpa disadari disisipi oleh penulisnya tanpa terkesan seperti membaca buku ilmiah serta ilustrasinya yang memperkuat cerita. Dan, gw menjelajahi hutan Kalimantan dari sudut pandang yang berbeda, sehingga buat gw berpikir Kalimantan memang kaya dalam alam dan budaya.
NB: Setelah melihat video hutan kalimantan dari Mas Koen saat jelajah kemarin, semua lokasi dalam buku ini tergambar sudah. Hutan, Pohon yang memayungi, sungai yang beliuk seperti ular, air terjun, gua dan arus deras. Bagaimana kalau nanti jelajah Gigantonya langsung ke Kalimantan hehehehehe
Setelah bergelut dengan susah payah mencuri waktu buat membaca, akhirnya selesai juga (meskipun udah terlambat krn keduluan sama acara "Jelajah Giganto"nya).
Udah banyak yang bikin ripiuna, jadi bingung mau mulai dari mana.
Waktu pertama kali liat buku ini, jujur aja, sama sekali enggak tertarik sama judulnya yang aneh banget di telinga. Giganto gitu, kok kyk nama orang Jawa ya. Tapi setelah beberapa kali buka gudrids dan melihat tulisan lain setelah tulisan Giganto yg gede2 itu, jadi mulai mikir2... buku apaan sih nih.
Setelah membaca buku ini jelas enggak mengecewakan. Kita diajak berpetualang di hutan Kalimantan (Hm... jadi kangen kampung halaman). Benar2 bisa membayangkan situasi di pedalaman sana krn memang pernah punya pengalaman menyelusuri sungai2 di pedalaman Borneo sana dengan menggunakan perahu tempel. Tapi kalo ngebayangin ketemu Giganto-nya. Hiiiii... enggak ah, sereeeem. Ketemu siamang di alam liar aja bikin takut setengah mati.
Tapi sayangnya kok Mas Koen enggak membuat tokoh Gigantonya jadi sedikit misterius gitu. Misalnya jangan diceritain dari awal, jadi pas di bab2 terakhir kita baru tau kalo tyt batutut itu sebenarnya Giganto. Tapi ya... ini khan bukan cerita misteri, jadi sah2 aja mau dibuat begitu (lagian terserah penulisnya ngkale...!).
Yang pasti buku ini asyik banget. Menambah pengetahuan kita tentang beberapa jenis primata yang sebelumnya sama sekali enggak pernah kita tahu. Baca buku ini juga jadi ngebayangin pelem Indiana Jones (waktu ngeraba2 lukisan tangan di goa itu lho).
Buat yang suka berpetualang... baca dech, enggak bakalan nyesel kok.
Buka hal 217 dan silahkan ngaca!! Maka kau boleh pilih seberapa mirip dirimu..
Susur sungai, masuk hutan, berjuang di riam, memasuki goa, lewat kolam bawah tanah, sampai berada di balik air terjun, membayangkan bagaimana kita dalam situasi seperti itu, seperti dibawa dalam film ala Jurrasic Park, Anakonda, atau film2 petualangan pencarian harta karun. Gaya bercerita mengalir dan Hollywood banget. (Aku rasa mas Koen pasti menonton film-film ini juga). Aku belum pernah baca Michael Crichton sih, jadi nggak bisa ngebandingin juga, tapi istilah-istilah yang dipakai di buku ini cukup umum, jadi pembaca kebanyakan mudah mengerti. Apa Mas Koen mengikuti selera pasar?? Nggak tahu juga sih..
Saya seperti mendapatkan pengetahuan tentang primata ini dari seorang pendongeng ulung. Dengan memakai ilmuwan-ilmuwan peneliti untuk menuturkan, bahasa sederhana yang tidak menggurui, menjelaskan tentang kealamian hutan hujan tropis ini dan situasi yang ditemui di dalamnya, lengkap dengan lintah dan pacetnya. Bagi yang suka berpetualang, tentu akan bisa membayangkan membuka jalan dan melintasi sesemakan.
Bagian favorit saya adalah bagian perjalanan Ruhai, yang menjelaskan kealamian Hutan terlarang. Bunga-bunga jahe yang kuncup muncul merah menyala seperti obor yang menyala di antara tanah hutan yang temaram. Cabang-cabang pohon besar menyembunyikan anggrek yang berkilauan di antara ketiaknya dan anggrek tanah mengintip malu-malu dari balik akar pohon raksasah.284. Penggambaran yang membuat jiwa petualang saya bangkit dan ingin menjelajah kesana dan berjingkat diantara kanopi pohon. Dan saya masih penasaran dengan teknik tree climbing (h.9) yang memungkinkannya bergelayutan dengan tali prusik di atas pepohonan raksasa sambil menggunakan teropong dan kameranya di saat bersamaan.
Buku ini cocok dibaca segala usia, dapat juga bagian-bagiannya didongengkan kepada anak-anak. Gaya penulisannya mengingatkan saya pada Dwianto Setiawan, Bung Smas, Arswendo, pada waktu saya SD dulu. 3 ½ bintang untuk ceritanya, tambah ½ untuk petualangannya.
Alam adalah tempat belajar tentang kehidupan. Dimana terbuka semua sifat baik, tulus, jahat, iri, egois, dendam. Jangan pernah melawan alam. Kompromi dengannya. Atau alam akan melawan.
Sekelompok orang yang terdiri dari peneliti, ilmuwan, pemburu profesional dan beberapa penduduk lokal masuk kedalam jantung hutan di Kalimantan (tidak disebutkan di bagian Kalimantan yang mana) dalam rangka mencari seorang peneliti dan bocah setempat yang hilang serta Giganto, kera raksasa purba yang dianggap telah punah tapi menjadi mitos dari komunitas lokal. Tujuan ekspedisi tercapai, kemudian yang jahat kena hukuman dan yang baik selamat (gak nyangka kalau novel ini ceritanya berdarah-darah)
Pada bagian ditemukannya goa berisi lukisan-lukisan manusia pra sejarah di dindingnya, mengingatkan saya sewaktu study tour jaman SMA ke goa sejenis minus air terjun. Situs-situs purbakala di Goa Leang Leang di Maros dan Sumpang Bitta di Pangkep Sulawesi Selatan, pada dinding-dindingnya juga terdapat lukisan-lukisan tangan dan binatang mirip dalam novel ini. Di situs ini juga ditemukan mata tombak/pisau dari batu, sisa2 kulit kerang, gerabah (semuanya sudah di museum kan) jadi kemungkinan goa-goa ini dulunya dihuni oleh manusia. Menurut pak guru mereka hidup kurang lebih 5000 tahun yang lampau.
Pertanyaan yang muncul di benak saya sejak saat itu adalah bagaimana manusia-manusia prasejarah itu bisa hidup disana, mengingat letak goa-goa itu tinggi di perbukitan karst, khususnya Sumpang Bitta yang konon anak tangganya ada 1000 untuk sampai ke mulut goa (yang jelas saya berhenti menghitung dipertengahan jalan dan muntah ketika hampir sampai dimulut goa). Dan pertanyaan kedua adalah apakah saya keturunan dari manusia-manusia goa itu ?? :D
Buku ini membuat saya jadi mengetahui beberapa jenis primata yang ada. Gambar dibeberapa halaman, memperkaya pengetahuan saya, tanpa saya merasa digurui.Menegangkan sampai akhir! Apalagi kalimat yang dicetak miring di akhir bab, seakan mempertegas situasi atau pikiran seseorang saat itu. Kita akan merasa berada disana, seakan mengikuti petualangan Chaudry, Ruhai, Edward, Ruth dan Martin tanpa perlu basah-basah tekena badai atau mengarungi sungai.
Membaca buku Mas Koen yang ini, mengingatkan saya pada salah satu cergam favorit saya, Tintin di Tibet. Kalau pada Tintin di Tibet, ceritanya berputar pada usaha Tintin, Kapten Haddock, dan Snonwy menyelamatkan sahabatnya Chang yang dikabarkan hilang dipegunungan Himalaya.
Tokoh Erwin Danu yang tidak mempercayai adanya Gigantopithecus Blacki mengingatkan pada tokoh Kapten Haddock yang tidak mempercayai keberadaan Yeti manusia salju. Tokoh Ruhai yang bersahabat dengan Giganto irip dengan Chang yang diselamatkan oleh Yeti.
Menarik, seru... Memperoleh pengetahuan tambahan tentang "homo" tanpa harus mengerutkan dahi, malah asik.
Bagian yang "menonjok" ialah percakapan antara Ruth dan Erwin di halaman 329: "Apakah aku kelihatan seperti pecundang, Ruth?" "Mengapa laki-laki selalu takut kelihatan lemah?" "Aku tak tahu. Itu pertanyaan bagus. Mungkin itu tertanam dalam alam bawah sadar kami. Akan kupikirkan lagi."
Hilangnya seorang bocah bernama Ruhai di Hutan Larangan menjadi alasan yang menguatkan Chaudry Teja untuk melibatkan Erwin Danu dalam ekspedisi bersama timnya. Tujuan utama Chaudry ke Hutan Larangan adalah untuk menemukan Dr. Yudha Komara yang hilang selama enam tahun terakhir di hutan tersebut. Namun di balik itu semua, ada sebuah ambisi untuk mencari jejak lain: seekor Gigantopithecus, primata purba setinggi 3 m yang konon sudah punah ratusan ribuan tahun yang lalu tetapi masih lestari di pedalaman hutan Kalimantan.
Hutan Larangan adalah hutan keramat bagi warga Sekayan. Mereka tak peduli ada atau tidaknya Gganto di hutan tersebut. Yang mereka tahu, di dalam hutan yang tak terjamah itu terdapat batutut, mahkluk mengerikan yang telah menewaskan beberapa warga mereka dengan sangat mengenaskan. Kalaupun selamat, mereka akan mengalami gangguan kejiwaan akibat trauma terhadap batutut tersebut.
Erwin, seorang peneliti orang utan di Hutan Sekayan, yang awalnya enggan terlibat dalam urusan Chaudry, akhirnya pergi bersama ke Hutan Larangan. Ada dua tim besar: tim Erwin yang terdiri atas ERwin, Ruja (ayah Ruhai), Eram (warga Sekayan), dan beberapa warga Sekayan lainnya. Sedangkan tim Chaudry meliputi Chaudry, Martin, Tran, Ruth, dan beberapa "pembantu" lapangan dalam timnya.
Saat mereka menemukan kapal Ruhai yang koyak, Martin justru hilang dalam rimbanya hutan. Tim akhirnya terbagi dua, antara mencari Ruhai dan Martin. Dalam pencarian tersebut, muncul kejanggalan-kejanggalan serta penemuan tak terduga. Benarkah Dr. Komara masih hidup? Apakah di Hutan Terlarang benar-benar masih terdapat Giganto yang keberadaannya selalu diyakini Tran? Lalu, akankah Ruhai dan Martin dapat ditemukan Erwin dkk?
Rasanya sudah lama sekali saya tak menyentuh buku bergenre petualangan semacam ini. Temanya yang terasa begitu dekat dengan kehidupan saya saat di kampus dulu menjadi sisi menarik tersendiri. Rasanya diri ini ikut terlibat dalam ekspedisi ke Hutan Terlarang tersebut. Emosi erasa terpacu bersama kejutan yang setahap demi setahap dimunculkan dalam novel ini.
Salut dengan deskripsi sang penulis dalam menggambarkan setiap detil hutan, meliputi suasana, lansekap, hingga karakter hewan dan tetumbuhan di dalamnya. Lihatlah penggambaran penulis dalam satu paragraf berikut:
“Sekarang Julag menurunkan badannya, bertumpu pada keempat kakinya seperti yang dilakukan orangutan saat berjalan. Ruhai mendekatinya dengan perlahan. Belum pernah ia sedekat ini dengan binatang yang ditakutinya ini, kecuali saat tidur. Ia bahkan belum pernah menyaksikan wajah Julag sedekat ini. Kini ia bisa menyaksikan semuanya. Wajah kera itu kehitaman dengan dua gelambir di kedua pipinya. Moncongnya panjang dan besar dengan lubang hidung yang mirip celah yang panjang. Ia bisa menyaksikan mulut yang bsar. Mulut itu bisa saja menelannya dengan mudah jika Julag mau. Tapi ia yakin Julag tak akan melakukannya. Dari balik bibirnya yang tipis, Ruhai bisa melihat lidah yang kemerahan dan gigi-giginya yang sangat besar. Wajah Julag dikelilingi rambut-rambut panjang mirip jenggot berwarna coklat tua kemerahan. Kepalanya dihiasi daging yang mirip gundukan kecil di atas kepalanya, membuat kepalanya nampak seperti kerucut.” -hal. 200-201
Buku ini bukan hanya membahas tentang ilmu sains: primatologi, paleontologi, dan evolusi. Tapi juga tentang pesan-pesan penting terkait kelestarian hutan dan makhluk-makhluk di dalamnya. Membaca buku ini juga membuat saya begitu penasaran dengan sosok penulis. Melihat kepiawaiannya dalam bercerita dengan tema khusus ini, membuat saya ingin tahu latar belakang sang penulsi. Apakah background-nya berkaitan dengan linkungan atau hanya mengandalkan studi literatur semata? Sayangnya, saya tak menemukan satu barispun biodata penulis di dalam buku ini.
bab 1: wow... deskripsi yang detail, cukup meyakinkan...
bab 2: ok nih
bab 3: hmmmmm
bab 4: lha.. kok? [image error]
bab 5: euhh... kok jadi ginih? [image error]
bab 6: yah.. sayang...
saia terpesona dengan bagian bab pertamanya, tapi pas bab-bab berikutnya.... [image error]
selain banyak typo (misal di buku kan ada header-nya, utk halaman ganjil headernya memakai judul tiap bab, halaman genap nama pengarang. tapi di bab satu, judul bab adalah "Ruhai" sesuai judul di daftar isi, tapi headernya malah "Julag". ada 4 bab lagi yg headernya keliru spt ini. coba tebak :D ; penulisan nama "Pitecanthropus" yg seharusnya gak dimiringkan; dan typo-typo lainnya) juga saia merasa banyak hal-hal "janggal". misal, ada satu tokoh yang ketakutan sampai dia tak bisa berkata-kata hanya bisa berbisik, tapi di paragraf berikutnya ditulis kalo karena teriakan si tokoh itu, maka yg lainnya ikut terbangun. lha? mungkin ini contoh sepele, tapi banyak kejanggalan "besar" lainnya yang dirasa cukup mengganggu
Terlepas dari itu semua, karya ini patut diapresiasi. tak banyak novel p[etualangan-sains-thriller buatan lokal. palagi yang cukup bagus seperti ini, meski saia masih merasa kalo buku ini seperti campuran cerita film Congo - Anaconda: Hunt for Blood Orchid - Instinct - Where The Wild Things Are, setidaknya beberapa adegan rada-rada mirip.
eniwey, great job Mas Koen! lanjutkan! :D
eh, saia iseng bikin quiz Giganto. jika udah pada baca, bisa mencoba. nih :
terlepas dari editorial yg g gitu mulus (bahasa na sering ngeganggu klo pas lagi asik" na melaju bersama cerita, tiba" mentok di bahasa or prmilihan kata yg kurang pas), panggilan pak or dok or dr. yg g konsisten... hebat memang klo ilmuan dah benar" ilmuan maka ketenaran bukan lagi soal, cukup melindungi apa yg diyakini na dalam usaha pelestarian dari apa yang dia cari. salut buat dokter komara na dari segi cerita sendiri, ini tipe cerita yg bisa di-ending-in ma pembaca na. serasa ga perlu baca semua na rhe dah tau kq cerita na kaya mana, ga da sesuatu yg ditunggu" selama ngebaca buku ini. sampai selesai pun ga da sesuatu yg mjd alasan biar rhe mo nyelesain buku ini. satu yg ditunggu adl... bakal ada gambar apa lagi. ya... sedikit ilustrasi yg ada di sana membantu rhe buat terus melaju dari halaman ke halaman buku ini. selain itu... hanya nuansa hutan kalimantan yg mnarik utk dtelusur.
1. Ga selamanya belajar ttg biologi, ilmu pengetahuan alam dan sejarah itu membosankan. Ternyata mas Koen dgn cerdasnya mampu mengangkat ketiga materi tersebut ke dalam rangkaian kisah fiksi dan tanpa disadari setelah selesai membaca buku ini selain terhibur dgn kisahnya kitapun menambah pengetahuan ttg ketiga bidang tadi;
2. Persahabatan itu bisa dijalin dengan siapa saja. Hati yang tulus dan rasa kasih merupakan landasan utamanya. Dalam novel ini diwakili dengan sosok Ruhai, seorang bocah yang berhati tulus dan seekor binatang purba raksasa yang hidup di jantung Borneo.
Percaya, ketika anda selesai membaca buku ini pasti anda setuju dengan endorse yang diberikan Andrea Hirata terhadap buku tulisan Koen Setyawan ini yaitu : CERDAS....
Mencoba membaca ulang, dan tidak bisa melanjutkan. Entah kenapa beberapa penulis lokal suka banget bikin tokoh utama mereka serba bisa dan paling jago dari semua karakternya. Aku dapet kesan tokoh utama di sini juga begitu, dan aku jadi makin males baca.
Selain itu, teknik flashback di tengah2 dialog itu bikin jengkel. Lagi asik2nya dialog, kok tau2 ada penjelasan nan luar biasa panjang tentang prestasi akademis seseorang?
Padahal secara teknis penulisan ga terlalu banyak masalah. Tanda baca oke, typo juga ga sering ketemu. Cuma beberapa masalah lain bikin aku ga betah baca.
Being trained in biology, and brought up in Kalimantan, I really cheered for the book’s theme: finding gigantic primates living in a secluded forest of Kalimantan. Gear up for an adventure (rather) close to home, folks!
I just wish the character of Erwin Danu is more developed. I think he’s supposed to be the main character, but even Professor Nguyen and Chaundry have more colours and interesting sides than Erwin has.
Buku ini bercerita tentang seorang peneliti yang sedang mencari binatang purba yang sudah lama punah yaitu giganto.Giganto sudah punah sejak 100.000 ribu tahun yang lalu.IA percaya bahwa giganto masih hidup dan sekarang giganto itu berada di jantung borneo tepatnya di kalimantan.Apakah peneliti ini akan menemukan giganto atau dia yang dibunuh oleh makhluk buas tersebut.Untuk kelanjutan kisahnya baca aja bukunya.
Sayangnya cerita yang dibangun sudah bisa ditebak dari awal, jadi nggak ada twist-nya. Baca sampai belakang juga cuma untuk mengkonfirmasi yang sudah ketahuan dari awal.
Nilai plusnya dari gambar beberapa spesies binatang yang ada di belantara Kalimantan, sayang cuma ada sedikit. Tapi kalau banyak, nanti bukan novel lagi, malah jadi ensiklopedi fauna :D
aku suka banget baca buku ini. isi dari buku ini nggak hanya menggambarkan tentang petualangan di jantung borneo saja, namun juga isinya berisi tentang ilmu-ilmu yang ada di hutan. serasanya kalau baca buku ini nggak cuma seakan-akan imajinasi kita diajak untuk ikut berpetualang, namun juga sekaligus belajar mengenai istilah-istilah baru juga. sukses buat Koen Setiawan aku tunggu karya barunya lagi :)
Buku yang menarik. Jarang ada buku Indonesia dengan tema seperti ini. Penjabaran settingnya menarik, penjabaran tentang binatang2 di dalamnya juga menarik. Hanya sayang ceritanya terasa kurang klimaks dan endingnya sedikit mengecewakan. Erwin sebagai tokoh utamanya juga terasa redup kalau dibandingkan tokoh pendukung seperti Tran atau Ruhai.
Empat bintang u/ tema, penjabaran setting, dan cover bukunya :)
Ceritanya cukup menarik dan seru...namun bagian awalnya terlampau lambat dan pengembangan karakternya pun terasa abu2 (yg jahat tidak terasa seperti orang jahat)...
Tapi...tetap angkat topi buat penulis untuk observasi hutan Kalimantan yang luar biasa detail dan kesediaan berbagi pengetahuan mengenai primata di Kalimantan... Salute...
novelnya keren,, memadukan antara mitos dan ilmiah, serta cerita dan ilmu pengetahuan. membaca cerita ini seakan akan kita terhisap dalam buku ini dan berpetualang bersama Dr. erwin dan kawan kawannya menjelajahi alam pedalaman Kalimantan.
mungkin ini hanyalah cerita fiksi,, tapi siapa tau,, di pedalaman Kalimantan yang sesungguhnya ada Giganto sungguhan. (siapa tau) hohoho
Buku tentang ekspedisi mencari jejak mahluk prasejarah di belantara Hutan Larangan didaerah Borneo, KalTim. Baca buku ini jd inget film Kingkong...ngebayangin sosok Giganto sama sprt Kingkong. Tp apa bener Giganto=Kingkong yach???
Penjelajahan ke Hutan Larangan di rimba Kalimantan oleh satu tim dengan tujuan mencari seorang ilmuwan dan seorang anak kecil yang hilang di dalam belantara rimba, tapi sebetulnya masing-masing anggota tim mempunyai kepentingan yang berbeda..
seru ceritanya, bisa nambah wawasan tentang manusia purba...yang pasti, suka dengan ide ceritanya yang lain daripada yang lain, bikin nuansa lain di antara tumpukan buku yang dikoleksi. Tetapi satu yang bikin gak sreg, BANYAK typo
Giganto, karena buku ini aku jadi kepengen jadi peneliti. ga cuman baca aja, penulis juga ngajak kita buat belajar. bahkan tanpa pergi kesana pun aku bisa membayangkan diriku disana berpetualang mencari giganto. penulis sangat hebat dalam bercerita. keren sekali, Kecap!
Well selanjutnya,... belum bisa banyak komen karena masih OTW baca. Tempo cerita di depan agak lambat, kurasa. Tapi detail alam dan teknisnya oke banget.