*📖 Review Buku 📖*
📗 *Judul :* _Penembak Misterius_
🖊️ *Penulis :* Seno Gumira Ajidarma
🎀 *Penerbit :* Galangpress
📆 *Tahun terbit :* 2007
📚 *Tebal :* 214 halaman
🧕 *Reviewer :* Fionna Christabella
💫💫💫💫💫💫💫💫💫💫💫
Sesuai dengan judul buku ini, SGA sekali lagi meneropong fakta lewat fiksi. Kali ini isu yang diangkat adalah Petrus alias fenomena Pembunuh Misterius yang pernah menjadi pembicaraan di media massa tidak hanya karena isu tersebut menarik tetapi juga menyeret nama - nama petinggi negeri ini terutama nama - nama petinggi militer. Di dalam buku ini, SGA membagi tulisannya tentang Petrus menjadi tiga judul (trilogi) yaitu "Keroncong Pembunuhan," "Bunyi Hujan di Atas Genting," dan "Grhhh!". Selain itu masih terdapat 12 kisah lain yg terangkum dalam buku ini, antara lain: Sarman, Becak Terakhir di Dunia (atawa Rambo), Melati dalam Pot, Dua Anak Kecil, Tragedi Asih Istrinya Sukab, Seorang Wanita di Halte Bis, Semangkin (d/h Semakin). Tujuh cerita diatas terangkum dalam satu tema "Cerita Untuk Alina." Tema selanjutnya yaitu "Bayi Siapa Menangis di Semak - semak?" yang berisi tiga cerpen yaitu Srengenge, Manusia Gundu, Helikopter, Loket dan Bayi siapa Menangis di Semak - semak. Di bagian akhir buku ini pun disertakan Dokumen tentang kasus Petrus yang pernah diulas oleh seorang sejarawan, Budiawan.
Sebagai sentral dari pembahasan buku ini, isu Petrus memuat nafas inti dari keseluruhan cerita, ironi dari fakta - fakta yang tak bisa dipungkiri pernah terjadi dan berulang kali terjadi. Isu Petrus menjadi bukti bahwa kekerasan seringkali berkedok kemanusiaan, yang diperkuat dengan adagium "demi melindungi yang tidak bersalah" sehingga pembunuhan orang yang tidak bersalah menjadi permakluman. Apalagi jika orang - orang tersebut sudah menyandang label "sampah masyarakat," - pengangguran, pecandu miras dan togel, serta bertatto - kesalahan mereka hanya karena mereka tidak diterima di tempat mereka dibesarkan. Ditambah pula, isu Petrus didukung dan dilakukan oleh aparat militer, merahnya darah korban yang tak bersalah tak lagi berarti.
Lalu dimanakah nurani? Ups, sebuah pertanyaan retoris yang tak bisa mudah dijawab karena "...baik yang membunuh maupun yang dibunuh sebenarnya sama - sama merupakan korban dari sebuah sistem yang hanya mengenal dua kata: "Ini perintah!" (hal. 203). Jika jalan kemanusiaan telah ditelan oleh kekuasaan maka sastralah yang bicara, demikian yang pernah digaungkan oleh SGA sendiri. "Bahwa suatu sistem kekuasaan yang mendehumanisasikan manusia perlu, harus dan bisa diperbaiki." Sebuah ikhtiar yang ditempuh sepanjang perjalanan hidup manusia.