Bintang 2!
Alasanya? Karena ceritanya sinetron banget!
Will You Marry Me? Sesuai judulnya, novel ini bercerita tentang seorang cowok bernama Nathan yang tiba-tiba melamar seorang gadis bernama Selma.
Saya mulai dari Nathan, seorang cowok super cakep, tajir melintir, disegani, dihormati dan dipuja-puja oleh banyak orang terutama cewek dan bahkan dikatakan dia punya fans club! Tipe-tipe karakter cowok yang nggak mungkin ada di didunia nyata pokonya. Dia adalah laki-laki yang penuh kejutan, romantis namun juga penuh misteri.
Lalu Selma, seorang cewek yang biasa saja, yang tiba-tiba seperti kejatuhan durian runtuh mendapatkan pernyataan cinta sekaligus lamaran dari seorang pangeran berkuda putih yang tampan, kaya dan super duper perfect bernama Nathan.
Iren & Bagas, couple sekaligus sahabat Selma yang suka membantu Selma dan juga sangat menyayangi gadis itu hingga di tahap annoying.
Seperti yang saya bilang diatas tadi, novel ini alur ceritanya benar-benar sinetron sekali. Ada fiksi di dalam fiksi (?). Beberapa bagian serasa tidak masuk akal dan cenderung absurd.
Seperti :
- Pertama, jelas masalah sekolahnya! SMA Teitan, sekolah tempat dimana Nathan mengenyam pendidikan. Disitu dikatakan bahwa baik Selma, Iren dan Bagas tidak mengetahui dimana letak sekolah itu dan tidak pula pernah mendengar nama sekolah tersebut. NAMUN disatu sisi dikatakan bahwa SMA Teitan adalah sekolah paling elit dengan gedung super megah, halaman depannya dihiasi pelakat super besar, bertaraf internasional, dan sekolahnya kalangan borju.
Disini sudah terlihat ketimpangannya sebenarnya, masa sih sekolah se "WAH dan se "WOW" itu tidak ada yang tahu? Kan aneh. Apakah Selma, Iren dan Bagas se kuper itu??
- Kedua, sebenarnya bukan hanya sekolah sih, tapi sistem waktu di novel ini juga rancu. Ada beberapa bagian yang diceritakan seperti mereka baru pulang sekolah saat sore hari tapi kemudian dikatakan bahwa sang bunda sedang masak untuk makan siang?
- Ketiga, Nathan yang tiba-tiba saja datang, menyatakan cinta pada seorang gadis dan bahkan melamarnya! Tapi anehnya Selma seakan menerima kenyataan itu begitu saja, dia lupa bahwa Nathan adalah orang asing, orang yang baru pertama kali ditemuinya. Dan lebih tidak masuk akalnya lagi, ia langsung jadian dengan Nathan hanya karena Bunda?
Disini karakter Bunda juga tidak konsisten. Bunda yang digambarkan super protektif dan kolot terhadap anak gadisnya namun justru dengan mudahnya melepaskan Selma pada Nathan si orang asing tanpa merasa curiga sedikitpun.
- Keempat, kata-kata Nathan yang selalu mengajak Selma menikah dan memperkenalkan gadis itu pada teman-temanya sebagai calon istrinya membuat saya geleng-geleng kepala. Hey kalian kan masih berumur 16 dan 17 tahun! Bahkan cowok itu sudah merencanakan akan menikah 2 tahun lagi! Arghh. Nikah muda di usia belasan? Bagaimana dengan pendidikan? Bukan hanya Nathan sebenarnya yang membuat saya tidak habis pikir namun juga Natasya dan Selma! Kedua gadis itu ribut membahas tentang siapa yang lebih cocok menjadi istri Nathan. Astaga, mungkin mereka lupa bahwa mereka masih anak-anak.
- Kelima, tentang Natasya, seorang anak SMA yang dimaksudkan untuk menjadi tokoh antagonis di sini. Tapi maaf, bagi saya keantagonisan Natasya sedikit gagal karena menurut saya ia lebih pantas disebut sebagai orang yang sakit jiwa karena sangat terobsesi dengan Nathan. Bahkan gadis itu melakukan hal-lah yang tidak mungkin dilakukan seorang anak SMA. Mengolok-olok anak lain dengan suara menggelegar tanpa takut dihukum guru? Merundung dan membully secara terang-terangan? Menyebarkan gosip palsu? Dan yang paling tidak masuk akal merencanakan acara pertunangan palsu? WTF T.T
- Dan terakhir tentu saja kembali dengan masalah sekolah seperti keanehan pertama. Sekolah mana yang tidak mengeluarkan muridnya saat jelas-jelas mereka menjadi pencandu?!! Saya fikir seorang kepala sekolah tidak akan semudah itu membebaskan seorang anak pemakai narkoba hanya karena bujukan seorang gadis. Nggak habis pikir saya dengan setiap logika di novel ini. T.T
Arggh! Jujur saja saya membaca novel ini dengan jalur skip-skip alias loncat-loncat karena tidak tahan dengan jalan ceritanya yang membuat kepala pening.
Pesan saya untuk Nathan, lebih baik kamu fokus sekolah dulu deh. Jangan terburu-buru memikirkan untuk menikah. Kamu harus tahu bahwa setiap kata-kata gombalan yang kamu lontarkan pada Selma itu sangat norak wkwk dan lagi kamu jangan sekali-kali membalut luka seseorang dengan sapu tangan seperti di drama-drama, modal lah beli plaster minimal!
Lalu untuk Selma, tidak perlu ribut siapa yang lebih cocok jadi istri Nathan. Gaya bicaramu saja masih seperti anak-anak, menyebut namanya sendiri dalam berbicara. "Bunda.. Selma bla bla bla ya", "Kakak.. Selma bla bla bla", atau "Selma kan hanya bla bla bla". Sekolah dulu yang rajin, nanti Ayah kamu marah loh wkwkw