Jump to ratings and reviews
Rate this book

Mohammad Hatta: Memoir

Rate this book
Buku berjudul Memoir ini ditulis sendiri oleh Bung Hatta. Terbit pertama kali pada tahun 1979, setahun menjelang wafatnya pada 1980. Isinya merupakan kisah perjalanan hidup beliau sejak masa kanak-kanak hingga tahun 1949 saat berakhirnya Agresi Militer Belanda yang kedua dan penyerahan kedaulatan. Buku otobiografi Bung Hatta ini diterbitkan kembali oleh penerbit Kompas pada 2011 dengan judul Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi yang dibagi menjadi tiga jilid.

598 pages, Paperback

Published January 1, 1982

25 people are currently reading
407 people want to read

About the author

Mohammad Hatta

84 books182 followers

Latar Belakang dan Pendidikan
Dr.(H.C.) Drs. H. Mohammad Hatta (populer sebagai Bung Hatta, lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 12 Agustus 1902 – wafat di Jakarta, 14 Maret 1980 pada umur 77 tahun) adalah pejuang, negarawan, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama. Ia mundur dari jabatan wakil presiden pada tahun 1956, karena berselisih dengan Presiden Soekarno. Hatta dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Bandar udara internasional Jakarta menggunakan namanya sebagai penghormatan terhadap jasanya sebagai salah seorang proklamator kemerdekaan Indonesia.

Nama yang diberikan oleh orang tuanya ketika dilahirkan adalah Muhammad Athar. Anak perempuannya bernama Meutia Hatta menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta.

Perjuangan
Saat berusia 15 tahun, Hatta merintis karir sebagai aktivis organisasi, sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond (JSB) Cabang Padang. Di kota ini Hatta mulai menimbun pengetahuan perihal perkembangan masyarakat dan politik, salah satunya lewat membaca berbagai koran, bukan saja koran terbitan Padang tetapi juga Batavia. Lewat itulah Hatta mengenal pemikiran Tjokroaminoto dalam surat kabar Utusan Hindia, dan Agus Salim dalam Neratja.

Kesadaran politik Hatta makin berkembang karena kebiasaannya menghadiri ceramah-ceramah atau pertemuan-pertemuan politik. Salah seorang tokoh politik yang menjadi idola Hatta ketika itu ialah Abdul Moeis. “Aku kagum melihat cara Abdul Moeis berpidato, aku asyik mendengarkan suaranya yang merdu setengah parau, terpesona oleh ayun katanya. Sampai saat itu aku belum pernah mendengarkan pidato yang begitu hebat menarik perhatian dan membakar semangat,” aku Hatta dalam Memoir-nya. Itulah Abdul Moeis: pengarang roman Salah Asuhan; aktivis partai Sarekat Islam; anggota Volksraad; dan pegiat dalam majalah Hindia Sarekat, koran Kaoem Moeda, Neratja, Hindia Baroe, serta Utusan Melayu dan Peroebahan.

Pada usia 17 tahun, Hatta lulus dari sekolah tingkat menengah (MULO). Lantas ia bertolak ke Batavia untuk melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School. Di sini, Hatta mulai aktif menulis. Karangannya dimuat dalam majalah Jong Sumatera, “Namaku Hindania!” begitulah judulnya. Berkisah perihal janda cantik dan kaya yang terbujuk kawin lagi. Setelah ditinggal mati suaminya, Brahmana dari Hindustan, datanglah musafir dari Barat bernama Wolandia, yang kemudian meminangnya. “Tapi Wolandia terlalu miskin sehingga lebih mencintai hartaku daripada diriku dan menyia-nyiakan anak-anakku,” rutuk Hatta lewat Hindania.

Pemuda Hatta makin tajam pemikirannya karena diasah dengan beragam bacaan, pengalaman sebagai Bendahara JSB Pusat, perbincangan dengan tokoh-tokoh pergerakan asal Minangkabau yang mukim di Batavia, serta diskusi dengan temannya sesama anggota JSB: Bahder Djohan. Saban Sabtu, ia dan Bahder Djohan punya kebiasaan keliling kota. Selama berkeliling kota, mereka bertukar pikiran tentang berbagai hal mengenai tanah air. Pokok soal yang kerap pula mereka perbincangkan ialah perihal memajukan bahasa Melayu. Untuk itu, menurut Bahder Djohan perlu diadakan suatu majalah. Majalah dalam rencana Bahder Djohan itupun sudah ia beri nama Malaya. Antara mereka berdua sempat ada pembagian pekerjaan. Bahder Djohan akan mengutamakan perhatiannya pada persiapan redaksi majalah, sedangkan Hatta pada soal organisasi dan pembiayaan penerbitan. Namun, “Karena berbagai hal cita-cita kami itu tak dapat diteruskan,” kenang Hatta lagi dalam Memoir-nya.

Selama menjabat Bendahara JSB Pusat, Hatta menjalin kerjasama dengan percetakan surat kabar Neratja. Hubungan itu terus berlanjut meski Hatta berada di Rotterdam, ia dipercaya sebagai koresponden. Suatu ketika pada medio tahun 1922, terjadi peristiwa yang mengemparkan Eropa, Turki yang dipandang sebagai kerajaan yang sedang runtuh (the sick man of Europe) memukul mundur

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
78 (48%)
4 stars
49 (30%)
3 stars
27 (16%)
2 stars
2 (1%)
1 star
5 (3%)
Displaying 1 - 10 of 10 reviews
Profile Image for Ahmad Fuadi.
Author 22 books1,430 followers
February 17, 2011
Dulu pernah baca waktu kecil, sekarang membaca lagi. Sejak halaman awal sudah disuguhkan "tungku" dan "bumbu" apa yang memasak kepribadian seorang Hatta. Sufi, Minang, pendidikan Barat ala Belanda, surau, keluarga pedagang ditambah keluarga pemuka agama, bahasa Belanda, Inggris, Perancis, Arab, semangat anti Belanda, semangat Islam yang maju, calon mahasiswa Al-Alzhar yang ditakdirkan ke Belanda. A rare breed.
Profile Image for Hidayatullah Ibrahim.
128 reviews2 followers
May 1, 2019
Buku pahlawan nasional para pendiri bangsa (founding father) Republik Indonesia, Muhammad Hatta merupakan sosok bersahaja dan sederhana dalam setiap pemikiran dan tindakan dalam meluruskan cita-cita bangsanya, kita semua patut mencerminkan sikap beliau
Profile Image for nans.
10 reviews
June 5, 2022
I finished this book in one sitting :D Maybe I'm just too in love with him.
16 reviews1 follower
March 16, 2008
menakjubkan..
dari memoirs ini kita seolah diajak untuk masuk dalam kehidupan seorang sosok negarawan yang sederhana dan bersahaja, bekerja penuh pengabdian untuk negara dan bangsanya.
mulai dari kehidupan masa kecil, ketika sekolah dan berjuang di dalam negeri maupun ketika sekolah di luar negeri, ketika dipenjara dan diasingkan, ketika memimpin dan ketika meletakkan jabatan yang diemban..
namun sayang pada buku ini hanya dimuat memoirs beliau sampai pada agresi militer belanda II, tidak memuat memoirs beliau setelah itu sampai pada akhir hayatnya..
Profile Image for Ajengp.
58 reviews7 followers
October 21, 2013
dulu nemu buku ini di perpustakaan sekolah. Satu-satunya buku bagus yang bisa ditemuin di rak perpus. Menggambarkan idealisme Moh. Hatta, kedisiplinannya, kehidupan sehari-harinya. Karena baca buku ini,sampai sekarang hanya beliau satu-satunya tokoh nasional yang benar-benar saya kagumi.
Displaying 1 - 10 of 10 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.