Anak-anak yang ada di (dekat) Hiroshima sewaktu bom atom jatuh menceritakan pengalaman mereka dengan bahasa khas yang sederhana namun kebijakan yang melebihi usia mereka. Penjabaran tentang apa yang mereka lihat dan kehilangan yang mereka alami membuat ngilu, lebih baik kalau dibaca pelan-pelan supaya nggak kehilangan empati.
Bisa dibilang isi cerita masing-masing anak banyak miripnya. Berpotensi terasa repetitif, tapi hal itu cuma menegaskan bahwa akibat bom atom memang sesuram itu. Nonton Oppenheimer, lanjut baca ini. Now you have both side of the stories dan bisa merasakan betapa jahatnya bom atom.
“Aku menemukan abu Ibu dalam kotak itu. Pemandangan itu membuatku merasa seakan tenggelam ke dasar lautan. Kakakku juga menghembuskan nafas terakhirnya sekitar pukul 00.30 malam itu.”
Kejadiannya berlangsung pagi hari, ketika kebanyakan aktivitas anak-anak berada di luar rumah. Sebagian sedang bermain, sebagian sedang sarapan, dan lainnya sedang bersekolah. Tiba-tiba datang sinar yang menyilaukan dari langit, seperti bola api yang sangat besar.
“Kami Anak-Anak Bom Atom” berisi 29 kisah sejati yang ditulis anak-anak berusia 5-12 tahun, yang menjadi saksi kekejian perang di Hiroshima, Jepang. Berbeda dengan gambar sampul yang terkesan lucu dan imut, buku ini justru menuturkan bagaimana kesedihan, kegetiran, dan kekejaman hidup yang harus mereka jalani, dengan sederhana.
Judul ini mengingatkan saya dengan buku dari Astrid Lindgren, Kami Anak-Anak Bullerbyn, yang berkisah tentang keceriaan 6 bocah, Lisa, Anna, Britta, Lasse, Bosse dan Olle di di desa kecil yang hanya terdiri dari tiga pondok, tetapi tak pernah sepi dengan keceriaan dan canda tawa. Keceriaan dan keisengan yang pasti membuat pembaca tersenyum kecil atas tingkah mereka.
Namun, sangat berbeda dengan cerita seru anak-anak Bullerbyn, buku ini menyajikan kumpulan cerita dari anak-anak korban bom atom. Keceriaan yang terhapus, kesunyian canda tawa, minimnya ukiran senyum, tergambar pada cerita yang dituturkan siswa SD hingga SMU ini.
…hari yang menakutkan dan menyedihkan bagiku yang tidak akan pernah akan kulupakan. [hal.42:]
6 Agustus 1945, perang dunia II mencapai puncaknya ketika diluncurkan bom atom oleh tentara sekutu ke Hirosima. Bom yang seketika menaklukkan dan membuat sang kaisar bertekuk lutut dan mengumumkan bahwa Jepang kalah perang.
Perang! Selalu ada cerita sedih yang menyertainya. Perang telah menghancurkan kehidupan manusia yang tak tergantikan dengan begitu kejam. Perang menyisakan traumatik, kepedihan yang terlihat dari bagaimana mereka melukiskan gunungan mayat, korban-korban luka bakar yang melolongkan air…air…air!, bagaimana ketika mereka harus melihat ayah atau ibu, bahkan keduanya, harus terenggut, ataupun saat menyaksikan satu per satu keluarganya dikremasi. Mata-mata bening yang terpaksa harus menelan segala kepedihan yang terjadi di luar kemauan mereka.
Berkaitan dengan itu semua dan gencarnya isu perdebatan senjata nuklir, buku ini memiliki misi untuk menyampaikan pesan perdamaian yang sangat perlu dipahami oleh anak-anak maupun masyarakat luas. Betapa pihak yang paling terluka oleh perang adalah rakyat sipil, tak terkecuali anak-anak.
…aku berdoa agar semua negara di dunia menjadi teman yang ceria dan rukun. [hal 44:]
Benar-benar mengharukan. Hiks. Untung kumpulan cerita ini sudah disederhanakan,soalnya memang banyak cerita yang sama, terlebih di awalnya, ketika mereka menceritakan ledakan bom atom.