Jump to ratings and reviews
Rate this book

Pink Project

Rate this book
Puti Ranin berang sekali ketika Sangga Lazuardi menyerangnya di ruang publik, di koran. Sangga mengejeknya sebagai katak dalam tempurung yang mencoba berceloteh tentang dunia! karena berani memberi penilaian terhadap lukisan tanpa pengetahuan yang memadai.

Bah! Dia memang awam dalam soal seni, seni lukis khususnya, tapi apakah itu berarti dia tidak boleh mengapresiasi sebuah karya? Dan baginya, lukisan Pring menyentuh kalbunya. Sangga Lazuardi sangat pongah. Kesombongan lelaki itu membuat Puti mati-matian membela dan mengagumi Pring, pelukis yang dicela Sangga.

Namun yang tidak dimengertinya... Sangga Lazuardi selalu muncul dalam setiap langkah hidupnya.... Bagai siluman, Sangga selalu muncul di mana pun dirinya berada. Apa yang diinginkan lelaki yang telah menghinanya habis-habisan itu?

264 pages, Paperback

First published January 1, 2009

17 people are currently reading
290 people want to read

About the author

Retni S.B.

14 books105 followers
Lahir di Cirebon pada 22 Maret, suka sekali membaca buku. Tetapi dari sekian banyak buku yang dibacanya, buku-buku resep masakan dan kuelah yang paling membuatnya seolah kesetrum. Retni memang hobi masak, apalagi memasak untuk keluarga kecilnya yang telah membuatnya merasa menjadi perempuan istimewa.

Alumnus Komunikasi Fisipol UGM ini sempat menjadi copywriter dan account executive selama beberapa tahun di perusahaan periklanan di Jakarta.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
107 (18%)
4 stars
197 (33%)
3 stars
209 (35%)
2 stars
54 (9%)
1 star
14 (2%)
Displaying 1 - 30 of 102 reviews
Profile Image for ijul (yuliyono).
815 reviews971 followers
March 30, 2010
Skenario Cinta yang Rumit

Gelenyar semangat membuat resensi berpendar begitu hebat ketika saya “menemukan” karya terbaru mbak Retni SB ini, berjudul Pink Project terbitan Gramedia ini. Warna cover-nya yang didominasi girly pink (pas ama judulnya sih) sangat mengintimidasi saya. Dalam arti kurang bagus. Yah, apalagi kalau bukan soal gender. Novel ini jadi terlihat “cantik” dan makin tidak klop jika dipegang-baca oleh laki-laki. Apa boleh buat, saya cuek saja. Tak acuh dengan pandangan orang. Biarlah saya dipikir macam-macam. Yang penting saya tidak seperti yang mereka pikirkan, yang penting kan saya happy dan puas bisa menikmati lagi karya mbak yang sudah saya sukai gaya mendongengnya sejak novel Metropop perdananya, Metamorfosa Oase, menggondol titel juara kedua Lomba Penulisan Metropop yang diselenggarakan Gramedia beberapa tahun silam.

Seingat saya, novel ini menjadi novel keempat Mbak Retni dalam jajaran karya metropopnya, setelah Metamorfosa Oase, Cinta Paket Hemat, dan His Wedding Organizer. Rata-rata saya memang terpesona dengan gaya penulisan mbak yang satu ini, meskipun saya agak kurang klik dengan Cinta Paket Hemat. Bahkan, saya sudah tak ingat lagi, novel kedua beliau itu bercerita tentang apa (perlu dibaca ulang nih!).

Sedang untuk Pink Project, novel ini menjadi salah satu contoh novel yang punya “daya-sedot” yang tinggi. Bagi saya pribadi, dalam membaca selalu menggunakan ukuran daya sedot. Yang dimaksud daya sedot di sini adalah seberapa kuat daya tarik sebuah buku untuk membuat si pembaca tetap terpaku untuk terus membacanya hingga si pembaca tidak sanggup untuk meletakkan buku itu sebelum merampungkannya. Dalam skala saya hanya ada tiga ukuran. Level tinggi, sedang, dan rendah. Level tinggi artinya saya akan membaca buku tersebut secara non-stop, hanya disela kegiatan wajib (ibadah, makan, mandi, kerja). Level sedang artinya jam membaca saya masih bisa disela bahkan oleh kegiatan sekunder yang sebenarnya bisa saya tunda, namun buku tetap habis saya baca tidak dalam jangka waktu lama. Sedangkan level rendah artinya dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk merampungkannya atau dalam artian saya sering macet atau jam membaca saya malah saya ubah menjadi jam untuk kegiatan lain. Dan... untuk novel ini saya masukkan ke dalam kategori berdaya sedot tinggi.

Entah, saya yang telah terpesona dengan gaya mendongeng mbak Retni atau karena faktor lain, yang jelas saya begitu lahap menghabiskan lembar demi lembar novel renyah ini. Saya sampai bingung bagian mana yang perlu saya kritisi (sebates peran gua sebagai pembaca awam). Semua-semuanya sudah pas. Cukup. Tidak kurang. Tidak lebih. Diksi, gaya bahasa, plot, dan cara mendongeng telah sesuai dengan selera saya. Saya justru lupa, apakah dari sejak mula mbak Retni memang begini piawai membuat sebuah cerita deskriptif, ya? Cara beliau menggambarkan sesuatu, terutama setting tempat, cukup detail namun tidak berlebihan. Apalagi bagi saya yang cenderung mencoba selalu melebur dalam setiap cerita fiksi. Saya benar-benar merasa berada di lokasi yang digambarkan olehnya. Sangat menghanyutkan. Ditambah dengan background dunia seni lukis yang manjadi penghubung tiap-tiap aktor rekaan-nya cukup memberikan wawasan kesenian bagi saya yang sangat buta sekali soal dunia seni lukis.

Dan, astaga, akhirnya saya harus mengucapkan kata salut bagi tim penerbitan novel ini. Meskipun terlena oleh gurihnya rangkaian cerita yang ditawarkan mbak Retni, saya tak jadi lupa untuk mendeteksi kesalahan cetak dalam novel ini. Dan…almost perfecto!, rasanya saya tak menemukan adanya kesalahan cetak di sini (bahkan font-nya aja gua suka, eye-catching banged), kecuali sebuah kalimat yang membuah dahi berkerut. Saya sih beranggapan salah ketik, atau karena persepsi saya yang salah ya? Berikut saya cuplikan, kalimat yang menurut saya agak janggal:

Halaman 176, alenia 7:
Kubalas rengkuhan Pring. Mendekapnya erat.…………………
………………………… bahwa aku pun ingin membagi kasihku padanya. Juga tanpa sarat.



Nah, sarat di paragraf tersebut seharusnya syarat (hal-hal yang harus dipenuhi agar…), atau memang sarat (yang berarti penuh). Entahlah, kalau saya pribadi menganggap itu salah kata. Lebih tepat kalau itu adalah kata syarat, disesuaikan dengan konteks kalimat sebelumnya. Soalnya kalau yang dimaksudkan adalah kata ‘sarat’ yang berarti penuh, harusnya kata sarat diikuti kata lain, semisal sarat keindahan, sarat makna. Ini hanya analisa awam saya belaka. Anyway, hanya itu saja kejanggalan yang saya temukan, dan tentu, sama sekali tidak menganggu sedikit pun kenikmatan saya untuk ‘menggigiti’ novel ini sampai habis.

Keindahan lain dari novel ini adalah penciptaan karakter-karakternya yang kuat, meski saya sempat juga merasakan kegoyahan pada karakter Ina, namun dengan sedikit penjelasan (meskipun tidak secara langsung) saya bisa memahami mengapa karakter tersebut dibuat demikian. Novel ini juga membuat saya jumpalitan untuk menebak-nebak kelokan demi kelokan plot yang coba disusun oleh mbak Retni. Meskipun tebakan besar saya, soal si aktris akan jadian dengan aktor yang mana, sesuai, namun mbak Retni pandai menciptakan cabang-cabang plot sehingga sukses mengayun-ayunkan emosi saya. Sungguh keterlaluan…yang memuaskan saya.

Masak sih gak ada minusnya? Bagi saya, hmm…, sulit menemukan titik lemah novel ini. Saya s-a-n-g-a-t menyukainya dan gagal mendaftar kekurangannya, di samping satu-satunya kalimat janggal dan tebakan besar saya yang ternyata benar. Mungkin soal tema. Yah, temanya memang tema klasik-klise yang sudah sangat sering digarap yaitu tema cinta yang “bertengkar-tengkar dulu, bermesra-mesra kemudian.” Tapi, percayalah, mbak Retni menyuguhkan racikan bumbu yang sangat sedap untuk mengolah tema klasik-klise itu menjadi sebuah jalinan cerita yang apik. I LOVE IT. GREAT job, once again, mbak Retni.
Profile Image for nurmawati.
527 reviews91 followers
October 29, 2025

jarang loh gw baca novel indo en suka banget...makanya si pink project ini gw kasih nilai perfect ( buat ukuran novel lokal loh ^^ )
trus co nya oke banget....namanya aja 'sangga'...keren kan ? hohoho...
wajib baca bagi yuang suka lokal or yang sekedar pengen coba2...^^
Profile Image for Indah Threez Lestari.
13.5k reviews270 followers
August 3, 2016
883 - 2013

#Program BUBU

Pertama kali dibeli dan dibaca pada tanggal 13 Maret 2011.

===========================================================

301st - 2011

Sudah lama nggak terpikat roman dalam negeri. Novel ini dapat membuatku membacanya dengan intens sekali duduk, sambil tersenyum-senyum, tertawa malah, plus diselingi menitikkan air mata.

Padahal aku tidak berencana memiliki dan membaca novel ini, hanya harganya yang murmer di KGF 2011 kemarin yang membuatku membelinya dengan senang hati. Well, mungkin aku akan mencoba mencari dan membaca novel lain karya pengarang yang sama.
Profile Image for Ifnur Hikmah.
Author 5 books13 followers
July 23, 2013
“Makasih,Puti, untuk segalanya.”
“Makasih, Pring, untuk misterimu.”
I like Retni SB and I love her writing. Gue pertama kenal Retni bukan dari novel pertamanya, melainkan di novel keempatnya, Dimi Is Married. Meski endingnya lebay, gue suka dengan cara penceritaannya. Begitu juga dengan My Partner. Namun, setelah mencari tahu tentang Retni, gue ketemu satu judul, Pink Project. Dari review yang gue baca, lebih banyak yang menyukai novel ini ketimbang dua novel yang pernah gue baca. Jadi, novel ini masuk wishlist gue. Secara novel lama, dapetinnya susah. Untung aja ada bazaar buku di mall deket kantor jadi bisa beli dengan diskon 40% hehehe *nyengir kuda*.
Pink Project diceritakan dari sudut pandang Puti Ranin. Pemilik toko buku yang awam soal lukisan mengirimkan review personal dia tentang pameran lukisan yang baru saja dia datangi ke sebuah koran. Nama pelukisnya Pring. Ternyata, review itu mengundang balasan dari kritikus ternama, Sangga Lazuardy *namanya macho*. Balasan bernada sinis dan mendiskreditkan kredibilitas Puti membuat Puti meradang. Dia nggak terima dan cari cara buat ketemu. Ternyata, Sangga itu memang pintar dan ganteng *me likey*. Setelahnya, Puti jadi sering bertemu Sangga tiba-tiba dan hasilnya selalu menyebalkan sampai-sampai Puti selalu memaki Sangga dengan sebutan Kampret. Kehadiran Sangga bukan hanya berakibat pada Puti, juga pada sahabatnya, Ina. Ketika Sangga dan Ina membuatnya semakin pusing, Puti pun berkesempatan berkenalan dengan Pring, pelukis itu. Merasa memiliki kesamaan nasib karena dihina Sangga, Puti pun melampiaskan kekesalannya dengan curhat sama Pring. Tapi ternyata….
Ah, sampai di sana aja ya, hehehe.
Sejak pertama baca Dimi Is Married, gue suka dengan penceritaan Retni yang lugas dan mengalir. Membalik tiap halaman itu candu. Gue jadi gemes sendiri karena kepikiran, ini Retni maunya apa sih? Banyak pertanyaan bermunculan sehingga jadi nggak sabar buat membalik halamannya.
Dilihat dari nama-nama tokohnya—Puti Ranin, Sangga Lazuardy, Pring—kesan sastranya kental banget ya. Gaya penceritaannya juga sedikit nyastra—beda banget sama Dimi. Tapi enak dinikmati. Apalagi kesan seninya kental banget. Diiringi semilir angin malam dan musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono yang dibawakan oleh Ari Malibu dan Reda Gaudiamo, novel ini jadi sangat menarik. *tsaahhh*
Membaca novel dengan tokoh yang terkait seni selalu membangkitkan kesenangan gue. Novel ini juga begitu. Lebih tepatnya, menyoroti seni lukis. Gue bisa merasakan kesamaan nasib dengan Puti yang cengo mendatangi pameran lukisan dan cuma bisa mengangguk-angguk pura-pura mengerti dengerin omongan pelaku seni yang njilimet. Gue nggak ngerti lukisan, nggak ngerti teknik, nggak ngerti aliran-alirannya, nggak bisa ngelukis juga, tapi ketika melihat lukisan, gue cuma bisa memberi komentar personal yang lebih terbawa ke perasaan. Seperti Puti.
I love Sangga. Kenapa sih cowok ganteng bermulut pedas yang stok kata-kata pembangkit emosinya banyak ini selalu bikin klepek-klepek? Retni pernah menghadirkan sosok Garda (di Dimi Is Married) yang bikin gue terpesona. Simon Marganda dan Samuel Hardi (dua-duanya rekaannya Windry Ramadhina) juga bikin gue tertarik. Kali ini, Sangga juga. Ditambah dengan rambut ikal sebahu dan senyumnya yang manis. Juga dia yang serba bisa. Mengambil kuliah arsitektur dan seni rupa sekaligus, melukis, pemilik galeri, kritikus lukisan, dan petani tembakau? Nggak nyambung memang dan terlalu too good to be true. Tapi gue suka. Oh, sikap sinisnya itu yang bikin gue sangat sangat sangat menyukai Sangga.
Di awal, gue menyebut nama Pring. Siapakah Pring? Bisa dibilang, Pring ini ‘biang kerok’ semua masalah. Nggak ada lukisan Pring, nggak bakal deh Puti ketemu Sangga. Pring ini juga nggak kalah ngegemesinnya dibanding Sangga meski kebanyakan sosoknya hadir lewat dunia maya dan telepon. Awalnya gue sempat menebak Pring ini tokoh fiktif. Macam-macam tebakan seperti Pring ini sebenarnya Sangga, Pring saudara Sangga, Pring sahabat Sangga, macam-macam. Tebakan gue selalu salah sampai gue capek dan berhenti menebak-nebak. Just let it flow. Dan part Pring ini sukses bikin gue banjir air mata.
Selain mereka bertiga yang ngegemesin, ada juga sosok Ina, sahabat sekaligus partner bisnis Puti. Gue nggak suka sama Ina. Cewek paling bego yang pernah gue kenal. Nggak mau nulis panjang-panjang soal dia juga. Sebel soalnya. Baca aja dan lo bakal ngerti sebego apa si Ina ini. She is a lucky bastard.
Membaca novel ini ibarat naik rollercoaster. Awalnya geli karena kemarahan Puti, trus gemes sama sikap Puti-Sangga, lalu rasanya pengen nonjok Ina, eh tiba-tiba penasaran sama Pring, diikuti penasaran siapa Sangga sebenarnya. Lalu Retni dengan teganya membuat gue menangis bersimbah air mata *lebay*. Untunglah, diakhiri dengan manis. Sedikit lebay tapi untunglah nggak selebay Dimi Is Married.
Membaca novel ini, ada tiga hal yang ingin gue lakukan. Satu: mengunjungi galeri seni. Udah lama nggak ngebego mengunjungi spot-spot seni ini. Terakhir saat kuliah, ketika iseng suka terdampar di Salihara. Jadi kangen lagi. Kedua, mengunjungi Yogya. Part Puti liburan ke Yogya sukses bikin gue garuk-garuk dinding karena kepengin pergi ke Yogya. Benar kata Kla Project, kota itu susah dilupakan. Sekali ke sana, akan selalu merasa terpanggil untuk ke Yogya. Seperti kata Imo, adik Puti, Yogya itu deket sama Jakarta, tinggal naik kereta, tapi buat ngunjunginnya susah banget. Kalah sama turis bule yang rela bayar mahal-mahal buat lihat Malioboro. Di mata gue, Yogya adalah kota seni. I love that city so much *siap nenteng ransel ke yogya. Siapa tahu dapat guide kayak Sangga, hihihi*. Ketiga, gue pengin kayak Ina dan Puti yang punya bisnis sendiri. Udah gitu bisnisnya toko buku. Aaaakkkk, itu kan salah satu impian gue.
Seperti halnya Puti, ada satu pertanyaan yang mengganjal bagi gue. Ceritanya Sangga ini pelukis, kritikus juga, pemilik galeri juga. Ketiga hal itu kan kontradiktif banget. Pelukis memegang idealisme. Pemilik galeri mikirnya materi terus. Sedang kritikus tukang kritik yang harus objektif. Gimana dia bisa objektif menilai lukisannya atau lukisan yang ada di galerinya? Gue memang awam soal beginian, tapi bisa nggak sih seseorang berperan seperti ini? *serius nanya*
Intinya, gue puas baca buku ini. Tiga jam langsung ludes tapi ketika membaca halaman terakhir jadi nggak rela buku ini tamat. Mood gue juga kayak rollercoaster. Awalnya semangat karena terus penasaran sama Pring dan Sangga. Ketika masalah Pring kelar, mood gue sedikit menciut, terutama ketika menjelang akhir. Sudah ketebak seperti apa endingnya. Mungkin karena gue merasa inti buku ini adalah Pring-Sangga-Puti, jadi ketika salah satu aspek tiada, gregetnya sedikit berkurang. Overall, gue suka. Nggak salah memang menjadikan Mbak retni sebagai salah satu penulis idola gue.
Oh ya, ngomong-ngomong soal kesalahan, ada satu kesalahan fatal di novel ini. Kalau dibaca sekilas nggak bakal ngeh tapi karena otak gue saat baca lagi mau diajak mikir, maka detail kecil ini nggak terlewat. Di awal, Galeri Wolu dibilang bertempat di Kelapa Gading. Selang satu halaman, lokasinya pindah ke Cipete. Lha? Piye iki? Memang kecil sih tapi menurut gue ini fatal banget. Kok ya editornya juga kelewat? Tapi, tetep aja ini nggak mengurangi keasyikan baca buku ini.
Two thumbs up for Retni.
Profile Image for Yacita Aditya.
230 reviews2 followers
May 23, 2019
Sukaaa bangets dengan cerita ini!
Suatu saat serius, ada kalanya saling hujat lantas benci setengah mati, tetiba lucu2an lalu kangen2an trus sedih2an, dan ujung2nya saling cinta. Kesimpulannya, cerita ini romantis dengan caranya sendiri!
.
.
Berkisah tentang niat tulus Sangga mengenalkan atau lebih tepatnya menghidupkan kembali rasa akan cinta sejati pada sahabatnya, Pring. Melalui skenario mak comblang yg tak lazim, rencana tersebut berjalan mulus meski berhadapan dgn peristiwa2 tak mengenakkan yg meremukkan persahabatan Puti dengan Ina. Tapi kebahagiaan tersebut hanya berlangsung sekejap mata. Peristiwa menyedihkan memupus cinta Puti yg baru tumbuh. Dan project selanjutnya bergulir. Kali ini skenario sekali seumur hidup yg tak mungkin terelakkan
.
.
Pertama membuka bagian awal cerita ini, saya langsung "klik" dengan sentakan emosi Puti akan kritikan Sangga pada artikelnya. "Hmm ... sepertinya ada sesuatu ni di antara mereka," gitu pikir saya. Tapiiiiii "sesuatu" yg diharap2in itu ga nongol2 sepanjang cerita. Akhirnya pasrah aja ngikutin alur cerita, Mbak Retni
.
.
Biasanya ni bila harapan tak sesuai dgn jalannya cerita, saya bakal ga mood lagi ngelanjutin bacaan. Nyatanya, di Pink Project ini malah engga. Saya turut larut dalam paparan cerita dan emosi yg melingkupi setiap tokoh. Berasa natural aja gitu. Jadi saat Puti dan Sangga nelangsa gegara kehilangan sahabat, saya pun turut merasakannya
.
.
Selain alur sederhana dan bahasa yg membumi, karakter tokohnya (baik utama maupun non utama) alami. Ga ada kesan dipaksakan supaya terlihat keren atau sok imut. Klo abege kampus ya kayak Imo. Klo setengah seniman ya kayak Leo. Bahkan seniman penuh misteri pun ya seperti Pring
.
.
Yg menariknya lagi saya sempat terkecoh akan sosok Pring. Meski di pertengahan cerita udh dijelasin hubungan Pring dan Sangga, tetap aja saya ngiranya Pring itu Sangga atau kembarannya Sangga atau parahnya lagi, Sangga itu alter ego-nya Pring. Ngarep banget sesuai prediksi ini mah! Hahaha
.
.
Terakhir, saya sukaaa dengan cara penulis mengakhiri cerita ini. Penuh cinta!! Sebab ga perlu adegan menye2 mengumbar romantis sana-sini, feel dicintai dan mencintai yg terjadi antara Sangga dan Puti tersampaikan dengan baik. Bikin melting!!
Profile Image for Laras.
202 reviews10 followers
July 18, 2018
Cukup kecewa, karena buku ini jauh di bawah harapan. Saya tidak suka gaya penulisannya. Terkesan mentah dan seperti tulisan remaja yang baru mencoba menulis. Karakternya juga tidak ada yang menarik. Semua tokoh terasa sama, tidak ada perbedaan karakter antara tokoh- tokoh utamanya, dan penokohannya juga tidak terasa hidup. Yang paling mengecewakan adalah karakter Pring. Di awal sebelum mulai berinteraksi dengan Puti, Pring seperti ditetapkan untuk menjadi karakter misterius. Saya sudah membayangkan Pring sebagai orang yang serius, dengan bahan pembicaraan dan gaya bahasa yang tipikal untuk tokoh-tokoh semacam itu. Tetapi ternyata cara berbicaranya tak jauh berbeda dengan Puti, atau Ina, atau Leo. Tak ada pembicaraan yang menarik juga yang keluar dari mulutnya yang menggambarkan kedalaman pikirannya. Sangga juga sama. Sifatnya yang dimunculkan di awal malah kontradiktif dengan caranya berinteraksi dengan tokoh-tokoh lain kemudian, dan sekali lagi Sangga terasa sama saja dengan yang lainnya, tak ada pengkarakteran istimewa untuknya. Sedangkan Puti, lama-lama ia terasa menyebalkan karena hampir selalu marah, kesal, atau berprasangka. Belum lagi gaya narasinya yang aneh, yang ditaburi kalimat-kalimat yang sepertinya ingin puitis dan romantis, tapi jadinya malah cringy abis.

Bagian terakhir malah menampilkan potensi mengerikan akan sifat Sangga sebenarnya. Red flag melambai, tapi tampaknya hal yang dikatakan dan dilakukannya malah dianggap sebagai gesture romantis.
Profile Image for Erika Reieru.
124 reviews15 followers
November 28, 2022
Aku suka banget sama tokoh Sangga Lazuardi. Penulis berhasil membuat hati pembaca ikut terbawa suasana di cerita novel ini. Bahasanya pun gokill haha enak buat dibaca.
Tapi sayang banget, tokoh Pring itu kesannya cuma sebagai tempelan, supaya tokoh Sangga dan Puti ada kaitannya dan bisa ketemu berulangkali. Adegan Pring dan Puti saat seminggu Pring ngadain pameran lukisan tunggalnya pun, cuma dideskripsikan dengan beberapa paragraf aja. Lalu Pring pun menghilang. -_-
Soal penyakit yang ada pada Pring pun, kesannya cuma sebagai cara tokoh Pring mati cepet dan gak akan mengganggu hubungan Puti dan Sangga. Penyakitnya pun gak jelas, kurasa penulis juga harus bisa mendalami pada setiap bagian dari novelnya, termasuk mendalami penyakit salah satu tokohnya. Ah pokoknya sayang banget, ada beberapa adegan yang kurang dipaparkan, jadi tidak seperti tempelan aja. Tapi overall aku suka sama background ceritanya sendiri, apalagi background dari Sangga Lazuardi yang seorang kritikus lukisan. >_<
Well, seenggaknya aku sebagai pembaca bisa menikmati ceritanya dan ikut membaur di dalamnya. Aku kasih bintang 3,5. Good job mbak Retni ;)
Anyway, ini novel pertama mbak Retni yang saya baca. Hehe
Profile Image for Ana  Fitriana.
160 reviews32 followers
August 14, 2017
"Makasih, Puti, untuk segalanya."
"Makasih, Puti, untuk misterimu."

Dan makasih untuk kak Retni SB untuk menulis Pink Project dg begitu bagus. Meski udh punya bayangan cinta Puti berakhir ke siapa, tapi perjalanannya utk sampai ke abang Sangga nggak bisa ditebak ya (iyesss ini spoiler). Aku kira setelah pertemuan Puti-Pring yg buat aku, pertemuan itu manis, menyentuh, romantis (ahaayy!!) cerita ke belakangnya paling konflik cinta threesome eh segitiga maksudnya 😝😝. Mana tauuuu tyt begitu cara kak retni "mengusir" Pring. Tapi, yah begitulah... meski ini aku ndak relaaa, tapi kalo tyt Puti bahagia dipelukan bang Sangga yg tenyata gercep banget booo' langsung ngelamar!! (iyesss, spoiler again). Gitu dong, bang... kek bang Sangga gitu yang menyerang langsung ke titik yg tepat. 😂
Profile Image for Alexandra.
261 reviews12 followers
September 24, 2017
Skenario yang dirancang Sangga, untuk mendekatkan Puti, kepada sahabatnya yang seorang pelukis, Pring. Tentunya skenario yang tidak berjalan mulus, saat dirinya juga mulai menyukai Puti. Dia juga telah melukai hati Puti karena membawanya ke skenario yang hanya bertahan sementara.

Pengen lebih banyak cerita tentang Sangga, apalagi tentang pekerjaannya yang seabrek yang seolah tidak terekspos, juga interaksi antara Sangga dan Puti tentunya.
Profile Image for Riez Chiwi.
163 reviews
July 6, 2023
Suka banget sama karya karya nya mba Retni. Yang ini bikin ngakak guling guling. Awalnya...

Di pertengahan malah ikut patah hati bareng Puti. Sama-sama nggak ngerti apa maksud dari menghilangnya Pring. Tapi pas tau alasannya malah jadi nangis. Sakit banget woy.

Dan tentang si kampret. Begitu banyak kata untuk dia. Pas acara lamaran bener-bener bikin shock. Dia mau ngelamar atau mau ngajak berantem. Endingnya suka. Suka banget malah.
Profile Image for Tyas Pramudita Viandari.
12 reviews
October 9, 2017
Ini buku kedua mbak Retni S.B yang aku baca setelah my partner. Setelah kasih 4 bintang di my partner untuk pink project aku kasih 3 bintang aja. Why? Ada yg sedikit janggal menurutku, kenapa si puti bisa tiba-tiba cinta sama sangga? Kayaknya gak ada scene yg bener-bener bisa buat tokoh utama jatuh cinta, hanya karna kata ina "Sangga Jatuh hati padamu" trus jadi cinta? Aneh sih,
46 reviews2 followers
January 3, 2019
Beberapa hal yang saya suka dari novel ini:
1. Karakter Puti yang kuat dan pandai mengatur emosi (kecuali kalo sama Sama mungkin)
2. Bahasa yang lugas, cerdas, dan mengalir. Tapi tidak kehilangan humornya
3. Ya suka aja plotnya hehehe
Yang agak bikin ganjal, akhir permusuhan dan awal hubungan Puti-Sangga seperti diburu-buru.
Profile Image for nasya.
828 reviews
June 26, 2023
pertama, aku kurang suka dengan covernya, kurang menarik dan menurutku tidak menggambarkan isi bukunya. terus apa ya, aku bingung gimana nulisnya, cuma ketika aku baca ini tuh merasa kayak susunan alurnya belum rapi, kayak yang serba tiba2, ada beberapa bagian yang bikin mengernyit karena bingung
Profile Image for Tsabita.
49 reviews
August 26, 2012
Buku ini adalah salah satu dari buku lama yang udah kepengen banget gue baca, dan kemaren adalah momennya. Sendirian sambil berdiri-jongkok-nyender-berdiri lagi dipinggir rak buku Gramedja Matraman dari masih sepi sampe rame mana waktu kemaren Gramedia sempet gangguan listrik nyala-padam-nyala-padam. Tapi tetep gue beresin itu novel ampe tuntas.
Puti Ranin seorang entrepreneur berumur 27 tahun sudah lama menjomblo. Ketika itu dia menghadiri pameran lukisan, hobi lama yang sudah lama dia tinggalkan, melukis. Dia sangat terpesona dengan lukisan Pring, seorang pelukis berumur 32 tahun yang jarang sekali tampil di depan publik kecuali lukisannya. Sebuah lukisan yang menampakkan sosok pria kesepian yang begitu detail, penuh dengan emosi. Puti yakin kalau pria itu adalah sosok Pring yang begitu kesepian.
Sepulang dari pameran, Puti menulis artikel tentang pameran lukisan itu dan khusus menceritakan mengenai lukisan Pring. Puti begitu memuji lukisan Pring lewat mata amatirannya. Sampai satu minggu kemudian, Puti yang hobi membaca kolom opini kritik lukisan. Disana terdapat kritik pedas dari Sangga, seorang kritikus lukis yang multitalent. Sangga mengejeknya sebagai katak dalam tempurung yang mencoba berceloteh tentang dunia! karena berani memberi penilaian terhadap lukisan tanpa pengetahuan yang memadai. Semenjak itu Puti mulai melancarkan aksi benci dan juteknya pada Sangga, padahal bertatap muka atau sekadar melihat wajah Sangga saja Puti belum pernah. Karena kejadian ini pula Puti mulai menghadiri lagi pameran lukisan, untuk meningkatkan pemahamannya tentang lukisan dan yang paling penting pameran lukisan itu menhadirkan Sangga sebagai kritikus lukisan.
Sesuai tebakan ditempat ini Puti nggak sengaja kenalan dengan Sangga yang juga teman Leo, teman kenalan waktu mereka menyaksikan talk show lukisan (menurut Puti). Puti beralasan bahwa dia ada kerjaan untuk menghindari obrolan lanjut dengan Sangga. Over all, Retni menyajikan kekesalan Puti lebih banyak dengan kata-kata selain sudut pandang orang pertama juga. Menurut gue ceritanya bagus dan kocak, tapi karena banyak perbincangan yang lebih ke ngejek atau candaan, gue justru ngerasa buku ini banyak yang bisa dilewatinnya. Kecuali, loe emang mau baca penuturan ributnya Puti dan Sangga. Jujur aja gue lama-lama bosen dengan candaannya, terlalu banyak kata-kata yang rada kasarnya hahaha.... kalo sekrang dipikir2 lagi wajar siih, siapa sih yang nggak bakal kesel kalo ada yang ngehina dan merancang skenario jika akhirnya cuman nyakitin kita doang, saat kita udah jatuh cinta tapi kemudian kita harus ditinggal, selamanya...
Puti mencari info mengenai Pring lewat internet dan berhasil menemukan email dia. Dari sanalah Puti dan Pring mulai dekat, Puti banyak menceritakan kekesalannya dengan Sangga dan Ina (sahabatnya) yang tiba2 mutusin tunangannya hanya karena Sangga kampret.
Ina si sosok sahabat yang juga konflik lain dari cerita ini, adalah orang yang serius dan hanya memikirkan pekerjaan. Punya kebahagiaan yang nggak dimiliki Puti yaitu tunangan yang OK banget, yaitu Nikko. Puti sempat sekali mengajak Ina ke pameran lukisan yang disana secara tak sengaja Ina bertemu dan berkenalan dengan Sangga yang waktu itu sedang bacot-bacotan dengan Puti. Dari situlah Ina berlaku aneh, sering menghilang dan jadi lebih centil bahkan tega mutusin Nikko, nggak mutusin dengan kasar siih tapi kan tetep aja kesannya si Ina ini nggak bersyukur banget udah ngedapetin Nikko yang setia dan peduli dengan masa depan mereka. Putusnya Ina dan Nikko menjadi alasan tambahan bagi Puti untuk membenci Sangga. Puti mengecap Sangga sebagai playboy yang suka mempermainkan hati wanita.
Puti curhat semua itu pada Pring. Kemudian Pring menawarkan Puti untuk datang ke studionya di Jogja. Sayang waktu Puti ke Jogja Pring malah sedang di Ubud, dan lucunya waktu di bandara Puti dan adiknya (ikut ke Jogja) malah ketemu Sangga yang juga mau ke Jogja. Kalo udah kayak gini pastilah si Sangga bakalan terus ngekorin si Puti dan ketebak kalo dia akan selalu ada disamping Puti. Menurut gue agak nggak masuk akal siih, tapi ini karena kita nggak tau alasannya... semua bakalan jadi jelas dan mengarukan waktu gue baca dari halaman ke halaman karena nggak semembosankan yang gue pikir. Yang disayangkan adalah penggunaan kata2 mbak Retni yang rada kasar untuk dialog Puti dan alasan Sangga selalu ada disamping Puti. Itu yang diluar dugaan.
Gue juga cukup kaget karena pada awalnya feeling gue bilang kalo Pring itu Sangga. Tapi ternyata Pring dan Sangga itu orang yang berbeda meskipun yap mereka saling kenal.
Alasan Sangga selalu ada dikehidupan Puti juga unik. Apalagi pas mau endingnya. Gue cengar-cengir nggak jelas didepan rak buku Gramed baca dialog marah-marahnya Sangga, karena baru kali itu dia marah-marah ala cewek (nggak bersedia disela dan langsung nutup telpon setelah selesai ngomong).
Inti dari novel ini adalah “jangan berburuk sangka” seperti Ina dan Puti yang ribut dan hampir putus tali persahabatannya hanya karena cowok. Cuman rada “wow” aja siih sama dialog mereka. Si Puti asli tempramen banget hahaha.
Nggak rugilah berpose jongkok-diri-jongkok-diri 3 jam di Gramedia :)
9 reviews
May 21, 2017
Salah satu novel favorit saya. Ceritanya simpel dan unik.
Profile Image for Dian Maya.
194 reviews12 followers
March 8, 2018
Terlalu banyak kebetulan di dalamnya. Tapi cara bertutur si penulis yang segar, bikin jadi betah untuk melahap habis. Lumayanlah untuk menjadi hiburan di tengah padatnya kepenatan kerjaan.
Profile Image for Emma Rahmah.
14 reviews
March 13, 2018
3.5/5

Bagus banget sih. The only downside is 1/3 ato 1/4 akhir alurnya terasa tergesa-gesa padahal awal awal terkontrol dengan sangat baik.
Profile Image for Aya Murning.
162 reviews22 followers
April 27, 2013
4 stars. I really like it!

buku ini membuat saya menebak-nebak dari awal. sebenernya tebakan saya benar, saat saya sudah mendapat conclution-nya. hanya saja, tebakan "perjalanan" yg bakal ada di buku ini ternyata tidak sesuai dengan bayangan saya. ini yang menariknya! saya seperti dibuat terombang-ambing karena cerita yang disuguhkan lembar demi lembar.

berikut ini adalah tebakan-tebakan saya selama progress membaca:



saya tau endingnya akan seperti apa, hanya saja plot yg disuguhkan tidaklah mudah ditebak. saya jadi semakin terpacu untuk membalik lembar selanjutnya dan menyelesaikan ceritanya. over all, saya sangat suka. Termasuk macam2 kalimat dan julukan yg digunakan si author untuk Puti saat Puti mengumpat kesal pada seseorang. Lucu sekali. ceritanya juga tidak bertele-tele. semuanya to the point. rangkaian kalimatnya indah, kata2 yg digunakan pas sekali untuk perumpamaan sesuatu.

Tulisan ini... terlalu indah untuk diabaikan. Mbak Retni SB, aku suka sekali tulisanmu dan aku jadi semakin penasaran dengan "My Partner" ;)
Profile Image for Fiary.
244 reviews16 followers
May 5, 2011
Cerita metropop ini gak melulu bernada mellow, ada unsur humor dan kocaknya, terutama kalo udah pas bagian Imo, adiknya Puti.

Puti Ranin dibuat kesel oleh pria bernama Sangga Lazuardy, hanya karena Puti memberi review / ulasan mengenai karya pelukis muda bernama Pring. Sangga dengan seenaknya ngasih komen balik lagi terhadap ulasan Puti dengan menganggap Puti seorang yang ngga punya kemampuan / kapasitas dalam memberi penilaian karya lukis.

Sejak itu timbul rasa tidak suka Puti terhadap Sangga yang menurutnya sangat arogan. Sayangnya ketidaksukaan Puti terlalu tampak sehingga bikin penasaran Ina, sahabatnya. Dan dalam satu kunjungan ke pameran seni lukis, Puti & Ina ketemu dengan Sangga. Ina, yang selama ini lempeng-lempeng aja, dan sudah bertunangan dengan Niko, malahan jadi berpaling ke Sangga. Puti tak berdaya dengan perubahan sikap Ina dan itu semakin membuatnya benci terhadap Sangga.

Sementara itu, Puti tambah kagum dengan lukisan Pring. Kekagumannya dicurahkan melalui blog, dan akhirnya blognya itu dibaca juga oleh Pring. Terjadilah persahabatan antara Puti & Pring di dunia maya. Bahkan Puti diundang Pring untuk datang ke sanggar seninya di Yogya.
Tapi anehnya, Sangga selalu ada di setiap langkah Puti. Apa sih maunya Sangga ini! Sikap Puti yang ketus dan jutek tidak menghalangi langkah Sangga untuk ada didekatnya.

Oo...rupanya Pring dan Sangga merupakan sabahat. Dan selama ini Sangga berusaha untuk mendekatkan Pring dengan Puti. Bahkan ternyata kritikan Sangga terhadap ulasan Puti itu memang sengaja. Karena Sangga ingin, Pring mendapatkan seseorang yang tulus. Setelah tahu keadaan yang sebenarnya, Puti semakin kagum terhadap Pring dan dia mulai merasakan ada bunga-bunga yang bermekaran di hatinya. Pertemuannya dengan Pring, membuat Puti yakin bahwa dia mulai jatuh cinta terhadap Pring. Rupanya gayung bersambut, Pring juga menyukai Puti, tetapi dia tidak ingin membelenggu Puti dengan cintanya.

Pernyataan dan sikap Pring membingungkan Puti. Sebab setalah pertemuan itu, Pring semakin sulit dihubungi dan akhirnya Ina membawa kabar yang membuat harapan-harapan Puti terhadap Pring pupus. Puti telah ditinggalkan Pring untuk selamanya.... Sangga dan Puti, adalah dua orang yang kehilangan Pring....namun hidup harus berlanjut.

Hari hari berlalu, bulan demi bulan berjalan dan Puti semakin tenggelam dengan kegiatannya mengelola toko buku. Hubungannya dengan Ina yang sempat renggang gara-gara Sangga telah pulih kembali, malahan Ina udah balikan lagi ama Niko yang kemudain berlanjut ke pelaminan.

Perlahan Puti mulai menata diri lagi. Pring telah menjadi kenangan. Sangga bisa memahami kepedihan Puti, dan berusaha mulai mendekati Puti. Bahkan Ina sempat bilang bahwa Sangga jatuh hati padanya. Deg! Apa iya Sangga jatuh hati ? Puti juga mulai merasakan getar dan keinginan bertemu Sangga. Tapi anehnya setiap ketemu Sangga, sikap Puti selalu ketus malahan membuat kesal Sangga.

Mungkinkah Puti dan Sangga bisa bersama ?
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
November 6, 2012
Novel ini termasuk novel lama yang baru kubaca, dan aku semakin suka dengan gaya bercerita sang penulis. Novel ini termasuk novel ringan, dengan ending yang bisa ketebak, tapi alur dan gaya penceritaan yang mengalir dan penuh kejutan membuat novel ini tidak membosankan. Hanya cukup beberapa jam saja untuk menghabiskan novel ini ^^

Novel ini tentang Puti Ranin, yang mendadak sangat...sangat...sangat...membenci seseorang bernama Sangga Lazuardy, seorang kritikus senirupa yang membalas artikel yang pernah ditulis sebelumnya tentang Lukisan Pring, seorang pelukis baru yang baru-baru ini sempat dikunjungin pameran lukisannya. Hal ini membuat Puti berang, apalagi dikatakan bahwa dia hanyalah orang awam yang tidak mengerti apa-apa tentang seni lukis namun sudah mengomentari bahwa sebuah lukisan itu bagus atau gak. Puti hanya menuangkan apa yang dia rasakan saja, sebagai orang awam, bukan seorang kritikus seni.

Puti pun menjadi penasaran, seperti apakah sosok Sangga, yang akhirnya mendapatkan stigma negatif di hati dan pikirannya. Akhirnya dia pun bertemu Sangga, dan ini makin membuat dia tidak suka dengan sosok Sangga, yang menurut dia sombong, sok hebat, sok pintar dan sok segala-galanya. Kejadian demi kejadian makin membuat Puti makin tidak menyukai Sangga, namun dia tidak pernah tahu bahwa ada misi terselubung Sangga didalamnya. Hal positifnya adalah Puti menjadi lebih dekat dengan si pelukis, Pring yang walau belum pernah bertemu sebelumnya, namun Puti jatuh cinta dan terpukau dengan lukisan Pring yang selalu menyiratkan pesan mendalam. Dan Puti pun mulai jatuh cinta beneran dengan sosok Pring yang misterius. Tapi Puti tidak pernah bisa melepaskan diri dari sosok Sangga, karena Sangga seakan-akan berada begitu dekat dengannya, dan ternyata Sangga pun begitu dekat dengan Pring.

Overall, aku suka dengan novel ini ^^ membaca novel ini sanggup membuatku betah membacanya berjam-jam dan cukup membuat perasaan campur aduk, dari bahagia, tersenyum, tertawa-tawa dan sedih disaat bersamaan ^^
Profile Image for inas.
392 reviews37 followers
November 18, 2016
Ini buku Retni S. B. yang kedua kali kubaca. Dari awal, udah ada feeling kalo eksekusi idenya bagus. Pace-nya cepet. Kalimatnya ngalir. Tiap penjelasan tentang lukisan, pameran, dan segala macem tetep kerasa cepet dan nggak menggurui. Dialog-dialognya juga lincah, bikin plot moving forward.

Karakterisasi tiap tokoh konsisten banget. Kemajuan hubungan mereka juga termasuk cepet, tapi masuk akal dan gampang diingat. Aku suka konsep yang bisa disuguhin dengan masuk akal #lha.

Ina juga ambil peran yang penting banget. Kalo dia marah-marah, rasanya ikut ruwet dan geregetan juga. Penyelesaian masalahnya juga luwes, meski sebenernya aku pengin lebih banyak eksposur hubungannya sama Niko (yhaa tapi jadi meleber ke mana-mana dan maksa kayaknya, kalo dibikin gitu, wkwkwk).

Misterinya Pring juga terjaga banget sampe akhir. Imajinasiku cukup liar tiap kali informasi baru tentang dia muncul. Uuuuu, pas , aku agak lengah dan nggak menyadari maksudnya. Ternyata foreshadowing yang ditaruh deket klimaks itu sesuatu.

Keseluruhan adegannya juga oke. Pake konsep expect the unexpected. Ada aja hal aneh dan di luar kenormalan yang bikin Puti (atau Ina) mikir macem-macem. Udah ngerasa, "eh pasti bakalan so sweet kyaaaa", ternyata asumsinya udah mencar duluan ke galaksi sebelah. xP Itu yang bikin seru. Jarang banget nemu yang kayak gini.

Ending-nya juga pas. Deskripsi panca indranya di bab akhir nyampe. (LOL!) Pokoknya makin gemes aja sama kelakuan tokoh-tokoh di dalemnya. Bertanya-tanya apa Imo punya cerita sendiri, hehehe.

Cuma, ada beberapa typo sama preposisi yang kayaknya ilang, tapi lupa di mana. Agak nyayangin ini sih, soalnya elemen-elemen lain udah bagus. Layak didukung dari segi tata bahasa juga (padahal salahnya cuma dikit, tapi yha... gitu lah.)
Profile Image for Dian Putu.
232 reviews9 followers
March 21, 2014
Puti Ranin, cewek yang dongkol setengah mati gara-gara artikelnya yang dimuat di surat kabar yang berisi tentang kekaguman Puti terhadap lukisan karya Pring ─ mendapatkan artikel balasan dari kritikus seni bernama Sangga Lazuardi.
“Dalam artikel itu penulis jelas-jelas menyebut bahwa Puti Ranin adalah seorang tanpa pengetahuan memadai tapi berani memberi penilaian. Plus embel-embel tak sopan seperti kalimat katak dalam tempurung yang mencoba berceloteh tentang dunia!” Hlm. 5

Kedongkolannya lah yang akhirnya membuat dia menghadiri sebuah Talk Show yang salah satu pembicaranya adalah Sangga Lazuardi. Puti benar-benar penasaran seperti apa tampang cowok sombong, otoriter, eksklusifistis, anarkis itu. Dan, di sanalah mereka pertama kali berkenalan. Namun, Sangga belum menyadari bahwa Puti yang baru saja berjabat tangan dengannya adalah Puti yang dia hina di surat kabar. Dan di pertemuan kedua, Puti akhirnya terang-terangan memperlihatkan sikap tak senangnya pada Sangga.
Bukannya Sangga merasa bersalah, dia malah sangat senang, karena rencananya berhasil. Yep, artikel balasan Sangga beberapa waktu lalu itu memang dimaksudkan untuk memancing Puti Ranin keluar. Sehingga, Sangga bisa tahu seperti apa sosok pengagum Pring, sobatnya.
Setelah itu, Pink Project dimulai. Maksudnya, Sangga ingin menjodohkan Puti Raning dengan Pring. Dia ingin sahabatnya ini merasakan sebuah cinta yang tulus. Namun, perlahan Sangga menyadari bahwa dia punya perasaan spesial untuk Puti.
Bagaimana ini? Padahal niat awalnya Sangga ingin Puti bersama Pring. Apakah dia tega merebut wanita yang sudah membuat sahabatnya itu jatuh cinta? Atau Sangga akhirnya mengalah dan melupakan Puti Ranin?

Baca selengkapnya >> http://dianputu26.blogspot.com/2014/0...
Profile Image for Alya N.
306 reviews12 followers
November 23, 2014
Ternyata ini belum gua rate.

Puti, cewek yang walaupun nggak ngerti-ngerti amat tentang karya seni, namun memiliki ketertarikan atas lukisan, terutama lukisan karya Pring, pelukis muda nan masih hijau. Atas dasar ketertarikan itulah Puti memutuskan untuk mengirimkan sebuah review berisi pujiannya untuk lukisan Pring ke salah satu media cetak. Namun, alih-alih mendapat balasan pujian atau apa, Puti justru balas dikritik oleh Sangga Lazuardy, kritikus seni kawakan.

Puti berang. Karena suatu acara, bertemulah accidentally Puti dan Sangga. Mana Sangga sok-sok akrab dengan Ina, sahabat Puti, pula. Makin benci aja Puti thdp Sangga.

Tapi Sangga sebenarnya siapa sih? Kok kayaknya dia tahu banget tentang Pring, pelukis favorit Puti? Mereka saling kenal?

***

Cerita yang disuguhkan tergolong ringan. Baik ide cerita maupun pengeksekusiannya. Diksi teteeep, nyastra abis, trademark tulisannya Retni Sb lah. Tapi sayang, masih belum bisa mengalahkan karya Retni Sb yang lain, My Partner [heran juga kenapa My Partner bisa segitu adorable-nya]. Tapi kalau dibandingkan dengan His Wedding Organizer sih ini terhitung lebih baik. Mungkin karena fokus cerita Pink Project ini agak bleberan alias nggak fokus pada satu titik.

Tapi saking ringannya, novel ini nggak berbekas. Salah satu alasan pendukung gua bilang kayakgitu adalah karena nggak ada satupun karakter dari buku ini yang leave some paths in my brain alias standar-standar aja. Nggak ada yang khas banget dari Sangga, Puti, Pring ataupun siapa lagi.

Tapi itu nggak mengurangi rasa cinta gue terhadap karya-karyanya Retni Sb kok. Buktinya semua bukunya tetep gue beli dan berjejer manis di rak. Tinggal Dimi is Married yang belum dapet, anyone?
Profile Image for Ridha U. Rizky.
4 reviews
March 31, 2014
Ini novel Retni S.B. pertama yang aku baca, dan sukses bikin aku cantumin beliau sebagai salah satu penulis favoritku.
Walauun cuma dapet nyewa, tapi novel ini bener-bener bikin aku terbawa.
Awalnya sifat Puti Ranin yang dikit2 meledak gara2 si Sangga Lazuardi yang udah terang2an hina dia di media massa bikin aku eneg. Emosian banget.
Tapi semenjak ada Pring, pelukis yang mati-matian dibela Puti muncul, sifat Puti sedikit melunak dan mulai bisa aku nikmati. Sosok Pring ga cuma ngebius Puti, tapi termasuk aku!
Aku suka banget cara Pring nunjukin rasa sayangnya, dan adegan di bandara itu... God, I got melted.
Setelah Pring pergi dan Sangga masuk ke kehidupan Puti pun aku masih terbayang-bayang sosok Pring, kuat banget soalnya. Bahkan aku bisa ngerasain kharismanya dia kayak gimana.
Tapi yah, sedikit demi sedikit mulai terkikislah rasa kagumku sama Pring, sama kayak Puti yang mulai nerima kehadiran Sangga. Dan cara Sangga untuk dapetin Puti di bagian akhir novel ini bener-bener bikin aku kaget. Nekat asil nih cowok!
Silahkan baca sendiri deh kalo penasaran sama kejudesan Puti, keganasan Sangga, dan kelembutan Pring.
Novel ini bener-bener bagus!
Bahasa ngalir, ga berat, dan seperti ga nyangka aja udah ngabisin banyak halaman. Mbak Retni bukan kayak maksa kita baca, tapi dia kayak bercerita pake mulutnya sendiri.
Walaupun metropop, tapi ga ada tuh merek2 branded yang nyusup di sana. Pokoknya ringaaannn dan enak banget novel ini buat dibaca sambil santai.
Profile Image for Ida Mawadah.
46 reviews10 followers
December 16, 2013
bilang saja saya telat baca buku ini, dan baru beli ketika ada book fest...so nggak ada kata telat lah untuk baca.
saya selalu suka karya Retni, apa yang diangkat selalu berbeda, nggak hanya terkungkung in one world. Saya akan membahas secara singkat mengenai jalan cerita novel ini. semuanya bercerita tentang seorang Puti ranin, yang punya hobi baru untuk pergi mengunjungi segala pameran lukisan, bukan tanpa alasan, tetapi karena dia mengagumi karya-karya seorang pelukis, yang bernama "Pring" , dan bisa di taksir, apa hanya sebatas lukisannya yang dikagumi?.
Memang detail cerita tak berpusat antara Puti dengan Pring, justru antara Puti dengan Sangga. Who is sangga? dia adalah pengamat seni, yang yah....ternyata punya banyak profesi dibalik profesi (silahkan baca sendiri) hehe. Meskipun terselip sebuah kesedihan dalam novel ini, well setidaknya happy ending. Hubungan Puti dan sangga tak pernah akur dari awal sejak komentar pedas sangga akan artikel yang ditulis Puti, dan foila.....semuanya berawal dari sana. Dan sejak Puti memutuskan untuk menjadikan Sangga the most unwanted person, justru dia malah sering ,muncul dan membuat kondisi di sekitar Puti semakin rumit, sebel kan Dan sayangnya segalanya itu sudah well planned ternyata. Sungguh menurut saya Sangga itu bisa dikatakan misterius, tapi sebenarnya he is so gentle.Humm, nggak rugi sih baca ini, lumayan sweet ending

Profile Image for Riri.
2 reviews
May 30, 2014
Ini novel pertama Retni S.B yang aku baca dan berhasil bikin aku jatuh cinta sama novelnya dan penasaran pengen baca novel yang lainnya. Pertama kali ngliat kurang sreg bgt sama judulnya dan covernya yang full dengan judul "Pink Project" nya itu tapi suka sama cover yang bunganya.

Pertamanya sih sempet ngira kalo Sangga dan Pring itu orang yang sama krn begitu misteriusnya Pring. Tapi ternyata tebakan aku ngga benar. Ada beberapa part yang aku suka saat pertama kali Puti ketemu dengan Pring seolah seperti orang yang udah kenal lama dan saling merindukan,nyesek bgt pas part perpisahannya di bandara ngga tau kenapa berasa bgt kalo emang saat itu benar-benar perpisahan mereka dan ngga bakal ketemu lagi dan ternyata emang benar tapi ngga suka saat Pring meninggal dan perasaan Puti itu kurang emosional bgt pendeskripsiannya. Dan part yang paling aku suka itu saat Sangga nglamar Puti, ngga tau kenapa aku malah ngrasa kalo itu romantis bgt.. hahahha

Over all suka bgt sama novel ini walaupun sampe skrg masih bertanya2 kenapa ya judulnya Pink Project?
Apa cinta itu selalu identik dengan warna pink???
Profile Image for Aida Radar.
48 reviews1 follower
November 20, 2014
Dari cover dan membaca review singkat di back cover, saya sudah menduga ini bukan novel serius. Serius dalam artian tidak perlu membuat jidat berkerut untuk memahami sebuah kalimat. Jadinya, hanya butuh setengah malam bagi saya menyelesaikannya. Saya sengaja membelinya agar menyeimbangkan textbooks di rak buku dan di isi kepala. *gaya* hehe... (tapi memang ngomong begini seriusan)

Tuntas membaca kisah Sangga dan Puti ini Mei tahun lalu. Semalam tiba-tiba ingin membacanya lagi sampai tamat, dengan hanya berfokus pada bagian-bagian yang saya inginkan saja. *dasar* qeqeqe

Mbak Retni ini pandai sekali menyenangkan pembaca dengan andai-andai tentang takdir yang manis milik dua tokoh utama di sini. Pertama kali selesai membaca, saya dengan sinis bilang "ya iyalah takdirnya bagus begitu, kan hanya novel, hanya dalam khayalan." Namun pada pembacaan semalam, saya tidak sinis lagi. Daripada tak menemukan cerita yang menyenangkan ini di dunia nyata, mending berbahagia saja dengan cerita-cerita dari dunia khayal, seperti Pink Project ini. hihihi... :P
Displaying 1 - 30 of 102 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.