Berdampingan dengan genosida dan etnosida, librisida punya akar yang sama yaitu ekstremisme dalam pengukuhan kekuasaan. Mengakar sejak dari jaman Babylonia dan akan terus terjadi selama inangnya (ekstremisme) masih ada, yaitu penggunaan kekuasaan yang abusif dan koersif.
Upaya sistematis dan terselubung, baik sengaja atau tidak sengaja, telah dilakukan oleh otoritas maupun korporat yang memonopoli distribusi dan reproduksi buku. Perpustakaan dapat menjadi kawan ataupun lawan dari upaya konservasi buku. Institusi agama tak luput, bilamana agennya abusive maka, librisida adalah opsi yang sulit untuk tidak dieksekusi.