Tema yang diangkat cukup berat dan serius, yakni sistem ekonomi Indonesia yang menganut neoliberalisme, namun disajikan secara ringan dengan banyak sekali pernyataan yang 'menggelitik', mulai soal kondisi negara hingga yang sedikit menyentil tokoh tertentu. Meski buku ini dominan berisi penggambaran Indonesia pada masa kepemimpinan Presiden SBY, namun kita akan cukup banyak menemui hal-hal yang masih relate dengan kondisi pada hari ini.
Mengupas neoliberalisme dan memaparkan permasalahan-permasalahan yang terjadi di Indonesia. Mencerahkan namun sekaligus membingungkan, mungkin nanti akan dibaca ulang atau mencari referensi lain agar memuaskan rasa ingin tahu pribadi.
Buku ini asik dibaca dan meski membicarakan soal serius dengan renyah, levelnya bukan hanya permukaan. Saya memandangnya seperti pemetaan dan upaya untuk mencari koneksi dari titik-titik peristiwa yang sudah kadung dianggap wajar oleh masyarakat umum yang taunya "tiap hari beban hidup mesti makin berat".
Dengan gaya bercerita sebagai wartawan yang akrab tapi tetap harus berjarak dengan peristiwa dan pelakunya, Dandhy menunjukan keberpihakan yang bukan sekedar memilih mana kawan atau lawan. Ada yang lebih penting dibaca daripada siapa meneken apa. Justru jalan yang sedang dan akan kita tempuh yang tengah dibentangkan oleh para politisi yang seolah-olah rival yang saling membanting itu yang perlu dikritisi. Bagaimana mereka ternyata punya andil masing-masing dalam mengobral negeri. Ujung-ujungnya kita harus ikut berpikir dan bukan sekedar turut berslogan "Indonesia is not for sale", karena transaksi telah dan tengah berlangsung.
Saya membaca buku ini versi Penerbit Jalan Baru, cetakan kedua, 2018. Di dalamnya sayang sekali terdapat beberapa kekurangan editing yang cukup mengganggu.
Membaca setelah selesai master tahun 2024, rasanya kumpulan esai ini menjadi bacaan yang barangkali cocok untuk permulaan memahami neoliberalise, meski ya dalam derajat yang ringan saja. Membaca cetakan keempat terbitan jalan baru tahun 2019 rasa rasanya kisah kisah yang hadir dari periode 2008 di buku ini agak terlalu jauh, apalagi bila pembaca awam dengan nama tokoh era itu. meski demikian lumayan juga kalau dijadikan bacaan untuk mengenang masa itu, tidak terlalu buruk meski gaya bahasa dhandy banyak bercandanya. saya cukup menikmati mungki karena pada era itu menyimak banyak kejadian via tv berita sehingga tidak terlalu asing dengan nama dan peristiwa. terkait refleski membacanya pada masa kali ini, saya jadi merasa mungkin saya masih menikmati gaya bacaan perkuliahan dibanding esai.
Tulisan Dandhy Dwi Laksono membuka gerbang pemikiran baru orang awam mengenai apa yang sebenarnya terjadi di indonesia saat ini. Mengkritisi bukan hanya kalangan atas terkait kebijakan kebijakan swastanisasi nya, namun juga kalangan bawah untuk tidak secara latah namun tak berilmu melabeli seseorang dengan label tertentu hanya karena label tersebut sedang hangat dan menjadi sorotan.
Buku ini memang mengangkat permasalahan yang terjadi di zamannya. Namun sampai dengan 2019 terbukti banyak permasalahan lama yang bahkan sampai saat ini bukannya teratasi dengan baik malah semakin blunder.
Buku yg ditulis tahun 2009 ini menjelaskan konsep2 ekonomi Neolib/Neoliberal yg dianut pemerintah Indonesia sejak era Orba hingga sekarang ini, dengan penjelasan yang ringan dan mudah dipahami, mulai dari urusan parkir bayar, toilet bayar, terminal bayangan sampe ke urusan yang lebih berat seperti Kebebasan pasar, Deregulasi, Pemangkasan pajak korporasi, Penghematan belanja sosial (pendidikan & kesehatan) dan Privatisasi BUMN oleh swasta. Makasih pak Dandhy! Bukunya masih sangat aktual dengan masa kini dan sangat mencerahkan di era melek tentang UU Omnibuslaw (6-8 Oct 2020).
Buku ini menarik bgt. Bermutu karena ada fakta, data, dan analisa. Satire keras dan berkelas kepada stakeholder negeri ini. Terlebih kebetulan gue yang kuliah di fakultas ekonomi membaca ini sangat relate, berasa kuliah 2 sks wkwkk. Membuka wawasan, memperkaya literasi, dan membangunkan alam berpikir kita dari tidur yang lelap. Highly recommended!
Buku tentang keadaan politik indonesia, walaupun latar cerita berada pada zaman pemerintahan SBY, tapi buku ini sangat relate dengan kondisi indonesia saat ini. Buku ini memang menjembatani antara dunia ide di bidang ekonomi dan pembaca awam. Ada kalanya dunia itu perlu benar-benar dihadirkan.
Dandhy menyingkap aspek-aspek neo-liberalisme di dalam keseharian kehidupan kita, dengan begitu lincah dan renyah. Buat saya, penjelasan semacam itu sangat membumi, mudah dipahami. Epic, Bung!
Dandy yang backgroundnya merupakan seorang wartawan dan pernah bekerja di SCTV dan RCTI ini memang jagonya mengetengahkan ide yang komplek dan pengalaman wartawannya selama ini kedalam bentuk buku yang mudah dipahami masyarakat banyak. Penulis buku Jurnalisme investigasi ini memang serasa tidak pernah kehabisan energi untuk menyampaikan ide-idenya ke masyarakat banyak.
Sebuah buku yang bagus, berisi banyak hal tentang persoalan persoalan sehari-hari yang dikaitkan dengan paham neoliberal yang akhir-akhir ini ramai. Didalamnya banyak berisi dialektika baik yang imajiner maupun yang benar-banar ada antara penulis dengan subjek yang diajak bicara. Kebanyakan subjek yang ada dalam buku ini adalah rakyat kecil. Sehingga tak dipungkiri sebenarnya buku ini mudah dicerna oleh awam. Akan tetapi karena saya bukan anak ekonomi. Maka ada beberapa istilah perbankan yang harus googling jika ingin mengetahui artinya lebih lanjut.
Berisi banyak hal terkait dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Dandy yang seorng wartawan berhasil mengkritisinya dengan sudut pandang orang awam. Termasuk penyalahgunaan dana BLBI yang terjadi berhasil dia jelaskan dengan baik.
Mungkin buku ini tepatnya merupakan unek-unek dandy untuk Indonesia yang lebih baik.
Pertama kali baca karya Dadhy Dwi Laksono, walaupun cuma dapat dalam bentuk PDF. Sebagai wartawan Dadhi menyajikan karyanya secara Kritis, Lugas, tajam, dan mengajak pembaca berpikir. Dengan sajian reportase indonesia for sale tidak lagi menggunakan bahasa njlimet, penyajian isi sesederhana mungkin dan dengan contoh-contoh yang sederhana pula untuk memahami Neoliberalisme. Dari buku ini pula saya belajar memahami perihal BBM dan perihal privatisasi.
Meskipun buku ini ditulis pada 2009 dan di masa Pemerintahan SBY, tetapi saya merasa pembahasannya masih tetap relevan sampai saat ini. Sebab, bagi saya yang bukan lulusan ilmu ekonomi atau politik di perguruan tinggi, memahami arti neoliberalisme yang dijelaskan di sini cukup membuat saya paham. Lebih lanjut, ulasan singkatnya saya tulis di sini: https://www.agungwicaks.com/2021/06/i...
Kajian kritis Jurnalisme yang menggugah dan menggugat. Bagi saya, buku ini menjadi salah satu rekomendasi primer untuk dibaca terutama bagi anak muda. Membaca buku ini bagaikan membaca Selamatkan Indonesia-nya Amien Rais dengan versi bahasa yang lebih renyah dan nyaman. Panjang dan berisi konten yang cukup berat namun tidak membosankan..
Seru. Frontal. Membuat saya menertawakan betapa lucu nya negeri ini. Bahasa yang dipergunakan sangat ringan sehingga mudah dimengerti. Namun sepertinya buku harus diupdate atau ada "Indonesia For Sale 2" karena ini kan masih zamannya 2009an hehehe. mantap👌