F. Rahardi was a principal of elementary school for 5 years before he shifting his work as a writer. He starts to write poems, short stories, essays. One of his work Soempah WTS (1983) got much attention and publication since when he read it Taman Ismail Marzuki, Jakarta, he bring along whores with him.
Bibliography: * Soempah WTS (1983) * Catatan Harian Sang Koruptor (1985) * Silsilah Garong (1990) * Kentrung Itelile (1993) * Petani Berdasi (1994) and lyrical prose Migrasi Para Kampret (1993).
"Batas antara bodoh dan pintar sebenarnya juga sangat tipis. Sama tipisnya dengan batas antara kebaikan dan kejahatan, antara benci dan cinta, antara tertawa dan menangis."
Dengan riset yang dijelaskan oleh sang penulis di prakata, novel yang merupakan bentuk kritik terhadap Gereja ini mendeskripsikan dengan baik dan detail mengenai keadaan alam dan terutama kehidupan masyarakat di Lembata dari segi sosial dan politik. Salah satu konflik yang diangkat juga sebenarnya menarik; skandal yang terjadi di antara kaum berjubah. Tidak bisa dipungkiri memang bahwa Gereja pun punya 'daftar hitam' sendiri mengenai ini. Tapi sayangnya kayak...eksekusi karakternya kurang jos gitu. Huft. Kaya 'abu-abu', tapi 'abu-abu' yang membosankan :(
Selain itu, gaya penulisan awalnya sangat membingungkan. Kayak masih dalam bab yang sama bahkan tanpa pemisah/bagian yang sama, sudut pandang tokohnya bisa tiba-tiba berubah, bikin saya mikir "Loh, kok ini udah sudut pandangnya Pedro? Kan barusan banget Ola?" Kadang juga sudut pandangnya berubah dari sudut pandang orang ketiga jadi orang pertama, dan sebaliknya. Tanda bacanya suka ngebingungin atau bahkan hilang begitu saja dan saya sebagai pembaca jadi mikir "Lah ini kalimat langsung toh? Kukira masih pemikiran tokohnya." Tapi setelah sekitar setengah buku atau sepertiganya, saya mulai terbiasa sama gaya penulisan sang penulis.
Tema ceritanya sebenarnya cukup oke ya, cuma karena saya sebagai pembaca terlanjur tidak nyaman dengan gaya penulisan buku ini yang cukup membingungkan bagi saya + this kinda story isn't my cuppa tea (I think one still can tell something is okay although it's not their cuppa tea), jadi ya gitu deh✌🏼
Kritik sosial dalam setiap karya F. Rahardi selalu membuat saya tersenyum pahit. Ini adalah novel keduanya yang saya baca setelah Ritual Gunung Kemukus yang saya teliti di skripsi saya.
"Cinta hanyalah proses kimia dalam otak manusia."
Lembata menceritakan tokoh dari dua latar dan dua alam pikiran berbeda; Pedro, seorang pastor dan Luciola, seorang anak konglomerat. Keduanya bertemu di kampus Atma Jaya. Luciola yang dengan uangnya bisa mendapatkan segalanya, jatuh cinta pada Pedro. Ia berusaha keras untuk menarik perhatian Pedro dan ingin menikah dengannya. Sayangnya, Pedro tetap pada pendiriannya.
Lembata mengingatkan saya pada Da Vinci Code, tentang gugatan pada gereja. Bedanya, Lembata lebih menyoroti kemiskinan.
F. Rahardi menyajikan mimpi yang manis untuk Indonesia, menjadikan lahan-lahan yang disebut-sebut tandus, ternyata bisa menjadi pusat ekspor untuk dunia.
Ah, tapi tidak apa-apa bermimpi. Kalau tidak terwujud, ya setidaknya kita pernah punya mimpi dari negara agraris ini. *tersenyum pahit*
"Aku mau bekerja untuk kemanusiaan. Melalui gereja aku ingin bekerja untuk kemanusiaan." hlm. 256
Saya tidak tahu alasan karya ini menang KSK, karena ceritanya tergolong standar.
1. Tokoh dibangun secara hitam-putih dan dengan minim pengembangan 2. Sebenarnya hanya mengisahkan 2 buah konflik yang dilarut-larutkan sepanjang cerita 3. Bildungsroman tidak menyuguhkan hasil konkret (akhirnya Pedro tetaplah orang keras kepala tak menentu, sekadar untuk beli hp saja enggan tak beralasan) 4. Cerita dari peran pembantu kurang berguna bagi keseluruhan cerita, terkesan hanya ada untuk memperbanyak jumlah halaman cerita (arc Ola di Eropa bisa dihilangkan dan cerita tetap bisa berjalan tanpa masalah)
Keempat hal diatas menjadikan cerita ini membosankan bagi saya, padahal tema yang diangkat sebenarnya mantap untuk dibaca dan diperbincangkan khalayak ramai
This is one of the inspirational story for me, especially the setting of this story held in Larantuka, Flores, NTT. Thus, I don't want to criticize the author style, I just want to underlined the spirit of this story could felt by someone who already have a memories with Larantuka.
Sejumlah isu yang dihadirkan begitu kompleks dengan bahasa lokal yang kadang muncul semilir. Tampak sekali dialek yang digunakan bukanlah bahasa ibu si Penulis, tapi usaha yang bisa dipresentasikan, sekaligus memberi pengalaman fonetik dalam pembacaan.
Karya yang cukup berani dipararkan oleh F. Rahardi.. Sisi lain kehidupan biarawan.. Salut untuk keteguhan hati Pedro akan panggilan hidup membiara dan kekuatannya yang membawa perubahan!
"Cinta hanyalah proses kimia dalam otak manusia dan paling lama bertahan selama 4 tahun" Awalnya saya pun merasa (lebih tepatnya berharap)demikian tapi pengalaman membuat saya mengerti bahwa cinta yang tulus dan sejati tidaklah demikian adanya! pq,Z.