Pernah nonton "Beauty & the Briefcase"-nya Hilary Duff (yang juga adaptasi dari novel "Diary of a Working Girl" karya Daniella Brodsky)? Um, "Bachelorette #1" bisa dibilang mempunyai plot yang setipe. Tentang seorang penulis artikel yang tiba-tiba saja ditugaskan untuk memata-matai obyek sasarannya, tapi bedanya Sarah Divine dalam "Bachelorette #1" terkesan lebih labil ketimbang tokoh Lane Daniels yang memang berperangai gegabah sesuai dengan umurnya. Selain itu, "Beauty & the Briefcase" juga, mematok sasarannya hanya kepada seorang laki-laki, sedangkan "Bachelorette #1" tak ayal membaurkan target tulisannya ke dalam lika-liku perasaan perempuan dewasa, terutama bagi mereka yang merasa putus asa dalam meraih cinta.
Ada beberapa hal menarik yang dapat disimak dalam "Bachelorette #1", kendati plot yang ditututrkan Jennifer O'Connell terlihat sangat klise dan dapat terbaca hingga ke lembar akhir. Konfliknya tidak begitu menonjol, ada sedikit permainan melodrama antar wanita, seperti yang sering dipertontonkan TV show ala barat, American Next To Model, bisa menjadi contohnya. Hingga menjurus kepada beberapa hal yang melibatkan perselingkuhan dan perasaan bersalah menjadi seorang ibu. Sarah Divine bukan salah satu tokoh terbaik, tapi perannya sebagai narator cerita ya, bisa dianggap lumayan, kendati di beberapa part, mungkin pembaca sempat dibuat tidak percaya dengan kekuatan aktingnya yang agak dibuat-buat.
Sedari awal, "Bachelorette #1" memang tidak berniat membuat ceritanya menjadi banyak siku. Konfliknya hanya satu, yaitu tentang reality show bernama The Stag, yang memiliki misi seperti pemilihan "bachelor" pada umumnya, tapi kali ini dibalik, yaitu seorang bujang bernama Chris alias Si Stag, yang sangat kaya raya, akan memilih pasangan hidupnya. Berdirilah 24 hen (istilah buat kandidiat perempuan yang bakal dipilih oleh Stag) di tengah Ritz-Carlton, tempat TV show itu berlangsung. Sarah sudah dipersiapkan sebelumnya, berdandan layaknya seorang wanita berumur 20-an dengan pakaian trendy, pun sederet fasilitas kelas satu.
Kejanggalan memang sudah terasa, terutama saat Sarah yang sesungguhnya berumur 34 tahun, bisa dengan sebegitu mudahnya lolos seleksi dan lebih dekat kepada si Stag. Segalanya terasa magis, mungkin, dan sangat accidentally. Ini yang membuat agak kurang nyaman, terutama perangai Sarah yang terkadang tidak mencerimkan sikapnya, padahal di bagian epilog cerita, ia terasa sangat keibuan, dengan Katie di sampingnya. Juga Jack, si suami bego. Kalau Sarah bisa dianggap sedikit labil, Jack lebih tepatnya sangat-sangat labil lantaran terlalu percaya kepada sang istri, mengizinkannya berpelesir dalam reality show yang jelas-jelas bisa menjadi biang pemecah rumah tangga mereka. Nah, jadi jika ingin disimpulkan, sesungguhnya faktor pengganggu di cerita ini bisa saja seorang Jack.
Di samping Jack, Chris sebagai seorang Stag juga agak kurang menyenangkan. Sefamili dengan Sarah, kemungkinan, kerap berceloteh besar tapi sedikit aksi. Ada momen-momen yang ganjil sebenarnya saat Stag yang sudah menguar sinyal-sinyal ketertarikan kepada Sarah, malah melakukan tarik-ulur, tapi ya, bisa jadi ini yang menjadi daya tarik novel ini agar tetap menarik dan menuai rasa penasaran pembacanya.
Kalau diungkap secara keseluruhan, "Bachelorette #1" merupakan kisah sederhana ala chicklit yang disajikan sangat klise, tapi tetap menarik saat dibaca lantaran pemerannya yang mirip serial barat, bisa saling tikam, saling mengkhianati, juga bisa saling adu. Asyik deh pokoknya.