Buku ini menjadi istimewa bukan saja lantaran paling luas menguraikan sejarah film periode 1900–1950, tetapi juga ditulis oleh Misbach Yusa Biran yang sohor sebagai “ensiklopedi berjalan” film Indonesia. Ia bukan saja hadir sebagai cendekiawan pengamat dan pencatat sejarah perfilman Indonesia yang ketil, tetapi juga “saksi hidup” dan orang yang tahu “apa yang terjadi” dengan dunia film Indonesia. Ia siap dengan berbagai literatur yang dikerahkannya dari Sinamatek Indonesia yang didirikannya. Namun teristimewa dan terutama sekali buku ini banyak didasarkan wawancara ekslusif dengan para pelaku sejarah. Termasuk dengan orang Opera Stamboel, seperti penyanyi/pemain paling top Tan Tjeng Bok, T.D. Tio jr pimpinan Miss Riboet Orion, pemain peran jin Hasan Tomik, staf Dardanella Rempo Urip, perintis orang Cina bikin film Joshua dan Othniel Wong, sutradara salahsatu film bicara pertama Bachtiar Effendi, sutradara produser paling besar The Teng Chun serta sutradara paling produktif Tan Tjoei Hock. Berlatarbelakang itulah buku ini menjadi karya yang tak sekadar mampu mengungkapkan liku-liku latarbelakang yang belum pernah ditulis orang sebelumnya. Lebih jauh adalah memberikan pemahaman konkrit dan pemikiran yang inspiratif mengenai dunia film Indonesia. Apalagi disampaikan dengan gaya narasi sastera.
Misbach Yusa Biran (lahir di Rangkasbitung, Lebak, Banten, 11 September 1933 – meninggal di Tangerang Selatan, Banten, 11 April 2012) adalah sutradara film, penulis skenario film, drama, cerpen, kolumnis, sastrawan, serta pelopor dokumentasi film Indonesia.
Terpukau sama risetnya yang gila-gilaan. Tuturnya menyenangkan, seperti sedang didongengi, namun selalu berlandaskan arsip. Memang karena skopnya luas buku ini belum menukik ke suatu kesimpulan atau teori, tapi lebih dari cukup untuk titik berangkat mempelajari sejarah film yg nyatanya masih bolong-bolong ini sampai sekarang. Sayang sekali untuk membaca buku ini aku terpaksa beli bajakan di shopee karena Komunitas Bambu belum mencetak lagi.
Banyak beberapa hal penting yang dimuat di sini, dari bagaimana film itu sendiri berkembang di Indonesia dari zaman hindia belanda hingga pasca kemerdekaan, bagaimana aktor-aktor lahir dan menjadi legenda hingga hubungannya dengan politik kala itu.
Bahkan ternyata Indonesia sendiri sudah antusias dengan hadirnya film pertama di Dunia, meskipun yang hanya bisa menyaksikannya hanyalah kaum bangsawan dan bangsawan belanda saja.
Terimakasih juga untuk The teng chun, wong’s brother, A. Balink, G. Krugers & Karli yang sudah mati-matian membuat industri film maju di kala itu.
a cross between a memoir and a bildungsroman of the nascent indonesian film industry. lots of anecdotes and historical trivia (like how old bioskoop owners used to splice together all the censored reels and show them before the main features, they were crowd favorites!). also explained how it was possible for usmar ismail to make such great movies so soon after independence! (the japanese created a film/propaganda school where usmar learned his chops.)