Jump to ratings and reviews
Rate this book

Epitaph

Rate this book
Tragis! Memainkan emosi pembaca. Membuat kita mereka-reka: mana fiksi dan mana fakta.

Gerson Poyk, sastrawan dan wartawa senior.

* * *

Hidup terdiri dari banyak kisah. Anggapan hidup adalah realitas jadi bias, karena setiap hari terhampar di hadapan kita kisah-kisah manusia luar biasa yang seolah fiksi, mampu menerobos batas akal manusia. Seperti halnya “Epitaph”; menyodorkan antara realitas dan fiksi. Membaca “Epitaph” kita bertanya-tanya, apakah ini berdasarkan realitas ataukah fiksi. Bahkan di akhir cerita, justru kita memiliki fantasi sendiri, jangan-jangan tulisan di batu nisan itu adalah diri kita!

Gola Gong, pengarang, pemimpin redaksi rumahdunia.net

* * *

Epitaph adalah novel yang mengemas dunia jurnalistik dan film, ditulis dengan semangat menggabungkan antara suspens dan romantik. Sedap.

Kurnia Effendi, penulis memoar “Hee Ah Lee: The Four Fingered Pianist”.

* * *

Mengalir dengan kisah dan data yang cukup kuat. Novel Epitaph menyajikan kisah berbingkai dan pecahan alur yang indah di tiap babnya untuk membangun utuh fenomena yang lebih pelik; hegemoni negara.

Semata-mata bukan buruknya sistem penerbangan kita, bukan juga lembaga pemerintahan yang mendistorsi kenyataan demi tujuan bersifat material, novel bagian awal dari trilogi ini secara “cair” mengisahkan problem yang lebih rumit bila dijelaskan dengan fakta oleh para ilmuwan, jurnalis atau pun politisi.


Sihar Ramses Simatupang, finalis 10 besar Khatulistiwa Literary Award (2009) untuk kategori sastra.

* * *

Epitaph mengolah tema cinta dengan gaya ungkap yang menarik untuk direnungkan. Ada banyak pertanyaan filosofis yang diselipkan dalam benak para tokohnya, yang membuat kita bertanya-tanya dengan sesungguh hati, misal apa itu cinta dan dicintai, atau apa itu cinta dan mencintai? Epitaph tidak hanya bercerita atau berkisah lewat tokoh-tokoh yang dihidupkannya, akan tetapi juga ia tengah menggugat kesadaran kita agar kembali memahami dengan sesungguh hati tentang apa itu cinta dan dicintai dalam pengertian seluas-luasnya.


Soni Farid Maulana, finalis 5 besar Khatulistiwa Literary Award (2006, 2007) dan finalis 10 besar (2009) untuk kategori puisi.

* * *

Apa yang ada dalam benak kita seandainya kekasih kita, pasangan hidup kita, anak kita, atau orangtua kita hilang dan tak tahu berada di mana? Siapa yang mesti disalahkan? Siapa yang mesti bertanggung jawab? Dan siapa yang mesti mencari yang bertanggung jawab?

Novel Epitaph bercerita tentang secuil sejarah dunia perfilman di Indonesia yang dibalut dengan sebuah kejadian pelik berupa hilang dan jatuhnya helikopter di daerah Gunung Sibayak, Sumatera Utara, yang dinaiki oleh kru film dari sebuah Production House Jakarta ketika sedang melakukan pengambilan gambar dari udara.

Kru film yang terdiri dari dua mahasiswa IKJ (Institut Kesenian Jakarta) serta seorang wartawan yang menjadi sutradara menggunakan sebuah helikopter milik TNI Angkatan Darat. Persoalan terjadi ketika helikopter tersebut putus kontak dan hilang secara mendadak saat mulai terbang dari Bandara Polonia Medan. TNI AD lantas tidak mengakui kepada pers bahwa helikopter tersebut membawa serta kru film. Mereka memang mengakui bahwa helikopternya hilang, namun tidak berisi penumpang, melainkan semata pilot dan kopilot anggota TNI AD.

TNI AD menyisir lereng-lereng Gunung Sibayak, berpatokan pada jadwal rutin terbang mereka. Sementara tim SAR swasta melakukan penyisiran Gunung Sibayak, berpatokan pada denah kru film mengambil gambar dari udara. TNI AD tetap bersikeras: helikopternya tidak berisi penumpang. Tim SAR swasta tidak bisa melawan. Media massa menunggu peran. Dan dunia film Indonesia pun geger.

Hingga sebulan masa pencarian, helikopter tetap tidak ditemukan. Tim SAR swasta memutuskan untuk menghentikan pencarian. Pencarian dianggap selesai. Helikopter dinyatakan hilang. Persoalan dianggap mengambang. Adakah hidup semata penungguan?

366 pages, Paperback

First published January 1, 2009

21 people want to read

About the author

Daniel Mahendra

25 books24 followers
Daniel Mahendra–renowned as DM – is an Indonesian author.

His works are including short stories, novels, poems, essays, journalistic works, biographies, self-improvements, how-tos, travel narratives, movie scripts as well. About 30 of his works had been published.

DM was working as a journalist for several tabloids, newspapers, and magazines before he decided to join with some publishers as an editor. Among his editing are Pramoedya Ananta Toer’s works.

DM was a founder of Pramoedya Institute, Malka Publisher, and Malka Bookstore.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (4%)
4 stars
6 (27%)
3 stars
11 (50%)
2 stars
4 (18%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 12 of 12 reviews
Profile Image for lita.
440 reviews67 followers
March 21, 2010
I’m tired, Lita. Please wake me up before the dinner time.
Kalimat itu diucapkan Jay – begitu dia biasa dipanggil - saat pamit untuk tidur. Tapi siapa sangka, itulah kalimat terakhir yang ia ucapkan. Jay, tunangan saya itu, tertidur dan tidak pernah bangun lagi. Ia pergi di sore itu, di hari tepat dua tahun kami bertunangan, tepat di hari ulang tahun saya, dan tepat dua minggu sebelum kami menikah.

Kenangan akan Jay yang wafat enam tahun lalu masih terus membekas di benak saya. Kenangan yang terus memanggil saya untuk datang ke Yogya, di mana saya bisa membaca tulisan-tulisan tangannya di kertas-kertas yang berserakan di atas meja kerjanya, yang masih belum sanggup untuk saya singkirkan. Di rumah itu, yang Jay beli beberapa bulan sebelum ia wafat, masih tergeletak catatan-catatan kecil yang biasa ia selipkan di mana-mana untuk mengungkapkan perasaannya pada saya. Jay memang pelit bicara. Melalui kertas-kertas itu saya bisa memahami apa yang ia rasa dan ia pikirkan. Seperti pesan terakhir yang ia taruh di spot kecil, tempat favorit saya di rumah itu: I will go for couple days, my dear. Just take your time to have your own adventures….

Tapi, buat saya, hidup berjalan terus. Dua tahun setelah Jay wafat, saya sudah berani lagi untuk membuka hati saya untuk orang lain, yang kemudian datang silih berganti. Meski pun sampai sekarang, saya masih bisa melihat tawa Jay yang khas kemana pun saya pergi.

Inilah kali pertama saya mengumbar cerita sampai sebanyak ini tentang Jay, dan cukuplah sampai di sini.

Saya kembali teringat pada Jay setelah membaca novel ini. Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya saya bila kejadian yang menimpa Haikal terjadi pada saya.

Haikal, penulis dan wartawan, kehilangan kekasih hatinya yang hilang bersama helikopter yang ia tumpangi di belantara hutan Sumatera Utara. Laras Sarasvati, nama kekasih Haikal, hilang bersama ketiga rekannya, saat ia mengerjakan proyek pembuatan sebuah film dokumenter. Tak cukup sampai di situ, keengganan pihak militer mengungkap hilangnya helikopter mereka yang ditumpangi Laras dan rekannya membuat jenazah korban tidak diketemukan.

Hubungan Laras dan Haikal agaknya menjadi inti cerita novel yang ditulis Daniel Mahendra ini. Bagaimana keduanya bertemu, bagaimana keduanya menjalani hubungan mereka dan cara mereka untuk saling mengisi, disajikan secara sederhana sarat penuh makna. Kisahnya tidak sesederhana kisah cinta biasa. Ada banyak nilai filosofis yang disajikan penulis dalam buku ini.

Sebagai penulis, saya pikir Daniel Mahendra merasa terbebani untuk menyodorkan banyak fakta pada pembaca tulisannya. Tengok saja bagian yang menceritakan latar belakang alasan mengapa Laras memilih jurusan sinematografi. Daniel Mahendra sampai merasa perlu menghambur-hamburkan 10 halaman untuk menjelaskannya. Meski memuat informasi tentang tokoh-tokoh yang berhasil di dunia perfilman, pengumbaran pengetahuan itu terasa memuakkan. Beban ini yang saya pikir membuat Daniel melupakan plot, yang membuat saya tergagap-gagap bila cerita tentang Laras tiba-tiba berpindah ke cerita tentang Haikal.

Di luar itu, Daniel Mahendra berhasil menuliskan ceritanya dengan segenap rasa. Kalimat-kalimat yang ia tuliskan terasa ‘kencang bunyi’nya, membuat saya sempat terhenti beberapa kali untuk merenungi kalimat-kalimat tersebut. Misalnya ini: Hidup adalah penungguan. Tapi, kita maknai prosesnya”. Dan ini: Masa lalumu akan selalu ada bersamamu, tapi semakin banyak kau membebaskan diri dari fakta-fakta dan lebih memusatkan diri pada emosi-emosi, kau akan lebih menyadari bahwa di masa kini selalu ada ruang seluas padang rumput, menunggu untuk diisi dengan lebih banyak cinta dan lebih banyak kegembiraan hidup.(lits)
Profile Image for Aveline Agrippina.
Author 3 books69 followers
July 15, 2010
Pernah merasakan kehilangan? Saya pernah. Kehilangan bukanlah hal yang mudah ditaklukkan apalagi dengan kedatangannya yang begitu mendadak.

Telepon pagi itu benar-benar mengejutkan saya. Tak ada firasat apa pun yang dapat meyakinkan bahwa memang benar beliau sudah tiada. Empat tahun saya menjadi anak angkatnya secara tidak langsung. Saya dan beliau mengasihinya sebagai anak dan ayah. Walaupun beliau bukanlah ayah biologis saya, saya merasakan cintanya sebagai anaknya sendiri.

Pagi itu, saya hendak berangkat ke sekolah. Saya baru saja bangun dari tempat tidur dan bergegas mandi. Namun telepon genggam saya tiba-tiba bunyi. Saya angkat dan benar-benar tersontak kaget. Lelaki yang setiap pagi mengantarkan dan menjemput saya ke sekolah telah tiada. Ya, beliau pergi. Padahal saya yang sering tertawa dan berbincang dengannya sepanjang perjalanan melihatnya kemarin dalam keadaan sehat walafiat. Kemarin itu pula beliau yang mengantarkan saya menuju sekolah.

Hari itu juga, saya benar-benar merasakan kehilangan yang teramat sangat. Saya kehilangan seorang panutan dan sosok seorang ayah yang lain. Beliau mengajarkan saya banyak hal terutama dalam hidup.

"Hidup itu singkat seperti lilin, meleleh dan mati akhirnya."

Saya masih ingat kata-katanya beberapa bulan sebelum kepergiannya. Saya belum percaya beliau sudah tiada begitu saja. Saya tidak percaya beliau memiliki penyakit jantung. Beliau tidak pernah bercerita apa pun kepada saya. Setiap kali saya hendak bercerita tentangnya, saya merasa begitu sesak.

Mungkin begitu juga dengan apa yang dialami oleh Daniel Mahendra (DM). Kehilangan seorang kakak secara mendadak dan parahnya helikopter yang kakaknya dan kru film tumpangi hilang dan tidak diketemukan. Sampai suatu ketika, helikopter tesebut diketemukan dan prosedur pengambilan jenazah yang begitu menyakitkan pihak keluarga.

Mengambil sudut pandang Laras, DM bercerita mengenai peristiwa demi peristiwa. Dibalut dengan cerita romantis antara Haikal dan Laras yang saling mencintai, Laras yang harus pergi ke Medan untuk pengambilan gambar film dokumenter, dan cerita masa lalu Haikal dan Laras.

Cerita dibuka dengan pertemuan Haikal dan Langi, sahabat Haikal yang adalah seorang penulis. Haikal memberikan setumpuk catatan yang harus dibaca oleh Langi untuk menuliskan novel pesanan Haikal. Awalnya Langi menolak, tetapi gencaran dari Haikal membuat Langi pada akhirnya memutuskan untuk membacanya.

Cerita berlanjut kepada jatuhnya pesawat Laras di Gunung Sibayak. Dua kru dan dua orang pilot TNI AD tewas begitu saja. Laras yang setengah mati mulai menceritakan keadaan yang sesungguhnya terjadi atas mereka. Pendeskripsian dari DM yang begitu kuat membuat cerita ini semakin bernyawa dan menggebu-gebu dalam memainkan emosi pembaca.

Sayangnya, ini semua tidaklah berlangsung lama. Flash back cerita ini membuat goyang jalan cerita yang ada. Cerita mendayu-dayu dan bertempo lambat. Menjadi memaksa pembaca untuk didongengkan sejarah perfilman yang sebenarnya mayoritas orang Indonesia sudah tahu. Ditambah pula dengan catatan kaki yang sebenarnya adalah kosakata umum membuat cerita menjadi malas.

Sebenarnya kalau dilihat lebih jeli, dua cerpen yang disisipkan DM dalam cerita seperti pemaksaan agar novel terlihat lebih tebal. Juga dengan sejarah perfilman yang panjangnya tidak diperlukan sampai sebanyak itu. Rasanya, membacanya melewati beberapa halaman bahkan dua sampai tiga bab kita tetap bisa mengikuti alur ceritanya.

Sesungguhnya cerita dua insan muda yang jatuh cinta ini nikmat untuk diikuti jika beberapa bagian cerita yang dipaksa harus ada di dalam novel ini terhapuskan. DM sudah bercerita seperti apa yang harus dilakukan. Tidak perlu ditambahkan cerita-cerita apa lagi yang semakin menyimpangkan jalan cerita.

DM yang kita ketahui sebagai seorang Pramuis (sebutan saya untuk mereka yang mencintai Pramoedya), memiliki gaya menulis yang nyaris menyamai Pramoedya.

Tetapi DM tetaplah DM, tak dapat disamakan dengan Pramoedya. Dia akan memiliki ciri khasnya sendiri dalam menulis. Seperti banyaknya kalimat yang berbau filosofis seperti "Kau boleh saya merasa kesepian, namun setelah kau ungkapkan kesepian itu, itu bukan lagi kesepian namanya. Seperti halnya rahasia, jika ia telah lagi diceritakan, ia tak lagi pantas disebut rahasia." (hal. 291 - Sibayak).

Esensi-esensi yang ada cukup memuaskan dahaga pembaca akan rasa penasaran hendak menjadi apa riwayat Laras pasca heikopter itu ditemukan, apa yang terjadi dengan Haikal setelah mengetahui bahwa Laras harus diperlakukan seperti itu untuk mengembalikannya kepada pihak keluarga dan sayangnya cerita yang harusnya menguras air mata menjadi datar. Sangat datar.
Profile Image for Indri Juwono.
Author 2 books307 followers
February 2, 2012
#2011-57

Surat yang tak kunjung usai,

Dan,
Sudah banyak yang memperingatkan bahwa novel ini adalah memoar kematian, yang menceritakan kenangan-kenangan akan ditinggalkan seseorang yang amat disayangi. Tapi tetap saja terbit rasa ingin tahuku, karena kematian selalu menimpulkan tanya kenapa, dan pengungkapan misteri di baliknya. Bukan satu perkara mudah untuk menggambarkan kisah di balik jatuhnya helikopter dan hilang berbulan-bulan, jika tidak pernah berada dalam situasi yang mirip. Dan misteri bisa terpecahkan atau tidak terpecahkan. Memoar kehilangan seseorang yang dikasihi dalam kecelakaan helikopter, yang peristiwanya pun dihilangkan oleh yang berkepentingan.

Dan,
Membaca kisah cinta Laras dan Haikal, alih-alih terharu, aku tertawa, melihat karakter Laras yang begitu hidup, bersemangat dan selalu ceria. Haikal, penulis sok cuek dengan gayanya yang cool, sudah pasti diidamkan oleh tipe perempuan seperti Laras, yang bisa menenangkan ambisinya yang meledak-ledak. Pasangan yang sepertinya akan cocok mengisi satu sama lain. Cara berkenalan antar mereka yang biasa saja namun berkesan. Aku seperti berada di sana menyaksikan mereka berkenalan.
"Hei, kamu bahkan belum tahu siapa namaku!" seruku kesal.
Ia berhenti, menoleh kemudian tersenyum :
"Laras Sarasvati!"


Dan,
Aku banyak tergagap-gagap ketika membaca buku ini, menerka-nerka siapa yang sedang bercerita dalam bab ini. Kadang Laras, kadang Haikal, kadang Langi, yang porsinya sedikit. Mungkin banyak karya yang dituliskan lebih dari satu tokoh 'aku', dengan beberapa orang penutur kisah, namun aku sering merasa hilang di dalamnya, bingung apakah penceritaan dalam helaan nafas Langi atau catatan Laras yang hidup dalam penggambaran dialog tokoh-tokohnya. Laras hidup bagai cerita dalam lembaran buku harian, atau udara yang melayang menceritakan tentang kisah hidupnya, ambisi dan mimpi-mimpinya. Lalu aku berpikir, apa yang kau lakukan Langi? Apa yang membuatmu harus ada di sana? Cinta Haikal dan kemampuannya menulis membuat ia seharusnya bisa menjadi penutur utama, dengan emosi dalam dirinya yang tergambar lewat kenangan akan diri Laras. Haikallah orang yang tepat untuk menceritakan ini, bukan Langi, yang tidak kenal, tidak memiliki keterkaitan emosi apa pun dengan keduanya, hanya sebagai pembaca catatan Laras. Tindak Haikal yang hanya sebagai pengantar catatan, dan menelepon hanya untuk mengingatkan Langi, menjadikan karakternya datar, tak lebih seperti bayang-bayang, padahal ia adalah tokoh utama di sini, tokoh yang banyak dihidupkan lewat tulisan-tulisan Laras. Mungkin Haikal bukan tipe orang yang bisa curhat berjam-jam pada Langi, dia akan memendam erat-erat kenangannya. Tapi aku yang membaca, merasa seandainya Haikal yang menulis cerita ini, emosi duka yang terjadi akan lebih kuat, seperti mendengarkan cerita dari orangnya langsung, bukan Langi sebagai penutur kedua.

Dan,
Mungkin seperti pembaca lainnya, aku terganggu dengan catatan kaki yang banyak menjelaskan singkatan-singkatan yang sebenarnya sudah umum di masyarakat. Aku juga terganggu dengan sejarah perfilman yang diceritakan amat panjang. Seharusnya bisa dipersingkat.
Pun juga dengan cerpen yang diselipkan di dalam cerita. Apa ini? Layout cerpen ini menghilangkan garis besar kisah yang hendak kau ceritakan. Seandainya cerpen ini diletakkan dalam bab sendiri, atau dicetak dalam garis miring, mungkin akan membuat pembaca sepertiku tidak kehilangan fokusnya. Ya, mungkin cerpen ini menguatkan karakter Haikal yang cenderung tampak kuat dan tangguh di luar, namun di dalam hati punya hal-hal yang dipendam yang tidak dibaginya ke orang lain, namun cukup mengusik pikirannya. Karakter khas pejalan, pendaki gunung. Ya, aku banyak mengenal karakter itu di sekitarku, lelaki yang tenang, melakukan perjalanan tanpa banyak omong, memilah mana yang perlu atau tidak perlu dibahas, dan bisa mencurahkan isi pikirannya yang berkecamuk dalam tulisan. Mungkin karena itu kamu merasa perlu menyisipkan cerpen di dalam cerita ini, tidak hanya sekedar menunjukkan bahwa Haikal adalah seorang penulis.
Tetapi, apabila kamu memutuskan untuk tidak menuliskan cerpen ini, mungkin akan lebih fokus. Karakter Haikal yang pemikir tampak di saat kunjungannya ke rupah bapak tua di tepi pantai itu, ketika di sana ia dipertanyakan kesepian.
“Kebahagiaan itu bukan dicari, tapi diciptakan.”
“Kau boleh saja merasa kesepian, namun setelah kau ungkapkan kesepian itu, itu bukan kesepian lagi namanya. Seperti halnya rahasia, jika ia telah lagi diceritakan, ia tak lagi pantas disebut rahasia.”


Dan,
Benar, buku ini membangkitkan kenangan akan kematian orang yang amat kita sayang. Ketika sehari-hari bertegur sapa, lalu tiba-tiba tak ada. Apalagi menjadi orang yang terakhir melihatnya dalam keadaan hidup. Rasanya seperti aku terlempar lagi ke lorong waktu 23 tahun yang lalu, ketika kehilangan satu-satunya adik perempuanku. Dan membuat kami meninggalkan kota Bandung dengan duka, dan baru bertahun-tahun kemudian kembali untuk bertinggal lagi. Jembatan dalam sampul bukumu mengingatkanku pada jembatan di Cikutra, yang kulewati setiap aku mengunjungi makamnya.

Dan,
Pegunungan itu, selalu memberikan rasa debar ketika melintas di atasnya. Gerakan naik turun pesawat, dan guncangan-guncangan kecil yang terjadi memberi tanda kita untuk berdoa memohon keselamatan. Membaca lembar-lembar yang mengisahkan pencarian Laras diceritakan dengan rinci dan detail, membuat aku membayangkan lembah tersembunyi yang tidak tersapu oleh tim SAR. Deretan pegunungan yang membentang di sisi barat Sumatera hingga Sumatera Utara, hembusan turbulensi udara yang amat mungkin karena kontur pegunungan dan perbedaan tekanan. Pencarian untuk memberikan penghormatan terakhir dan selayaknya pada mereka.

Dan,
Membaca novel ini, awalnya seperti membaca sebuah monumen kesedihan sebuah kematian, namun lama kelamaan ternyata ini adalah monumen kehidupan, kenangan seorang Laras, seorang gadis yang amat teguh dengan cita-cita, yang tidak pernah beralih sedikitpun. Yang tahu ke mana ia harus melompat, ke mana kakinya harus didaratkan. Menyusun semua langkah yang diambilnya, dengan segala resikonya. Seorang gadis dengan gairahnya yang menggebu-gebu di tengah lesunya perfilman, masih memiliki impian bahwa keadaan akan berubah. Lepas dari stereotipe cita-cita anak kecil. Seseorang yang punya keyakinan akan impiannya. Dan tahu bagaimana mewujudkan mimpinya.

Dan,
Mungkin ceritaku akan lain apabila aku bertemu Haikal terlebih dahulu daripada denganmu. Mungkin akan lebih banyak kukorek tentang sosok melankolis kolerik ini. Atau cerita tentang Laras kekasihnya. Namun waktu mengatakan lain. Aku bertemu denganmu lebih dulu daripada Haikal. Sehingga kita memang tidak bercerita soal laki-laki ini, tetapi tentang hal-hal lain di luar sana. Tapi aku mengaku, Dan. Aku jatuh cinta pada Haikal.

***

setelah merayu setahun penuh, akhirnya aku mendapatkan buku ini dari penulisnya. buat agenda tutup tahun 2011.

buat Indri Juwono,
terima kasih untuk persahabatan yang manis!

Daniel Mahendra
Bandung, 24 Desember
Malam Natal 2011
Profile Image for Syafruddin.
10 reviews17 followers
November 24, 2009
Novel Epitaph bercerita tentang secuil sejarah dunia perfilman di Indonesia yang dibalut dengan sebuah kejadian pelik berupa hilang dan jatuhnya helikopter di daerah Gunung Sibayak, Sumatera Utara, yang dinaiki oleh kru film dari sebuah Production House Jakarta ketika sedang melakukan pengambilan gambar dari udara.
Kru film yang terdiri dari dua mahasiswa IKJ (Institut Kesenian Jakarta) —Laras Saraswati dan Tedi, serta seorang wartawan yang menjadi sutradara (Birhi Lantang) menyewa sebuah helikopter milik TNI Angkatan Darat. Yang menjadi persoalan adalah: ketika helikopter tersebut putus kontak komunikasi dan hilang secara mendadak saat ketika baru saja mulai terbang dari bandara Polonia Medan, pihak TNI Angkatan Darat lantas tidak mengakui kepada pers bahwa helikopter miliknya yang hilang tersebut membawa serta kru film. Mereka memang mengakui bahwa helikopternya hilang, namun tidak berisi penumpang, melainkan semata pilot dan co-pilot anggota TNI Angkatan Darat.
Dari sini lah semua kejadian ini bermula. Ketika pasukan Angkatan Darat dan tim SAR serta gabungan pecinta alam dari berbagai kampus di Indonesia melakukan menyisiran di lereng Gunung Sibayak, pihak TNI Angkatan Darat tetap bersikeras mengatakan pada media bahwa kru film yang juga diberitakan hilang pada waktu yang bersamaan tidak ada hubungannya dengan hilangnya helikopter milik TNI Angkatan Darat. Bisa dipahami, tak mungkin pihak TNI Angkatan Darat mengakui pada publik bahwa inventaris negara semacam helikopter disewakan secara diam-diam kepada sipil.
Hingga sebulan masa pencarian sejak hilang atau jatuhnya helikopter tersebut, tim kemanusiaan yang terdiri dari pecinta alam dan pasukan TNI Angkatan Darat memutuskan untuk menghentikan pencarian. Dengan pertimbangan: tak mungkin manusia bisa survive hidup di dalam hutan/jurang dalam kurun waktu lebih dari sebulan. Sehingga pencarian dianggap selesai, dan helikopter dinyatakan hilang.

Dua tahun kemudian, beberapa orang pemburu atau penduduk pedalaman secara tidak sengaja menemukan reruntuhan helikopter yang sudah hancur di sebuah jurang yang dalam di kaki Gunung Sibayak. Di sana juga ditemukan tulang-belulang yang berserakan, peralatan kamera yang sudah hancur, serta beberapa perlengkapan. Setelah dilaporkan pada aparat desa setempat, dan dilanjutkan ke pihak kepolisian serta militer terdekat, diputuskan untuk menyelediki reruntuhan helikopter tersebut serta melakukan evakuasi.
Dengan cepat penemuian itu tercium oleh media, baik cetak maupun elektronik. Berbagai media mulai menurunkan berita telah ditemukannya reruntuhan helikopter milik TNI Angkatan Darat berisi lima penumpang yang tewas, terdiri dari pilot, co-pilot, serta tiga orang yang dari identitasnya (KTP, SIM, kartu mahiswa, dll, yang tampak sudah usang dan mulai lapuk) dapat diketahui bahwa tiga orang tersebut adalah kru film yang sempat diberitakan turut hilang.
Para keluarga korban pun dihubungi. Pihak Production House, Institute Kesenian Jakarta, dan beberapa lembaga yang terkait mulai membuka kembali kasus ini serta mulai mengusahakan untuk mendapatkan serta memunglangkan tulang belulang korban.
Baru saja proses tersebut akan dilakukan, tiba-tiba pihak TNI Angkatan Darat membuat pernyataan pada media bahwa adalah betul telah ditemukan kembali reruntuhan helikopter milik TNI Angkatan Darat yang sempat diberitakan hilang sekitar dua tahun lalu, namun tidak berisiri kru film seperti yang diberitakan.
Hal ini membuat persoalan baru karena TNI Angkatan Darat tidak mengakui adanya kru film tersebut. Lantas di mana tulang belulang serta kerangka ketiga korban lainnya berada dan disembunyikan? Di situlah konflik utama terjadi.
Novel Epitaph berangkat dari cara bertutur yang realis. Disisipi bumbu percintaan antara Laras Saraswati (mahasiswa IKJ) dengan kekasihnya, Haikal. Dalam perawiannya, novel Epitaph bermula ketika Haikal mendatangi kawannya yang seorang penulis, Langi, untuk dibuatkan novel tentang kejadian tersebut. Langi ogah-ogahan karena ia merasa bukan tipikal penulis yang bisa dipesan.
Dalam proses ogah-ogahannya itu, Langi penasaran dengan setumpuk data dan catatan harian yang disodorkan Haikal, karena setiap hari Haikal terus menelpon Langi untuk dibuatkan novel. Berangkat dari penasaran, akhirnya Langi mencoba membaca setumpuk data atas apa yang sudah disodorkan Haikal. Ketika Langi membaca catatan harian tersebut, maka itulah novel Epitaph sesungguhnya. Intiya: novel Epitaph pada dasarnya adalah kegiatan Langi membaca catatan harian yang disodorkan Haikal.
Novel Epitaph menggunakan cara bertutur yang ketat dan kompleks. Pertama yang bercerita adalah Langi, dengan mengunakan aku sebagai kata ganti orang pertama sebagai si pencerita. Begitu Langi membaca catatan harian, maka aku sebagai kata ganti orang pertama sebagai si pencerita berpindah bukan lagi Langi, melainkan Laras Saraswati. Begitu helikopter yang ditumpangi Laras jatuh, aku sebagai kata ganti orang pertama sebagai si pencerita berpindah pada Haikal. Hingga Langi selesai membaca catatan harian tersebut, aku sebagai kata ganti orang pertama sebagai si pencerita kembali lagi seperti semula yaitu: dari Haikal ke Langi. Sehingga, saat orang membaca Epitaph, Langi seolah-olah betul-betul tidak ada dalam cerita. Maka ketika selesai membaca, orang baru diingatkan kembali: bahwa semua itu pada hakekatnya hanyalah kegiatan Langi yang sedang membaca.
Novel Epitaph dibuat dengan menggunakan data yang sangat akurat, riset puluhan media, serta geografis untuk ketepatan data. Hingga di bagian akhir novel ini, Haikal masih belum mendapatkan jawaban dari Langi apakah ia bersedia membuat novel dari catatan yang Haikal sodorkan.

Konsep Trilogi
Konsep awal dari seluruh rangkaian cerita ini adalah dibuat dalam bentuk trilogi, dengan nama Trilogi Epitaph atau Epitaph Trilogy. Di mana pada bagian satu (Epitaph) bercerita tentang apa yang dipaparkan di atas. Lantas bagian dua (Epigraf) bercerita bahwa pada akhirnya Langi sanggup membuat novel dari kejadian tersebut. Namun begitu terbit, ia mendapat masalah dari pihak-pihak yang merasa terancam kedudukannya karena kejadian tersebut diangkat ke dalam novel. Konflik berpindah bukan saja pada kejadian seputar musibah jatuhnya helikopter lagi, tapi sudah pada novel yang ditulis oleh Langi.
Kemudian pada bagian ketiga (Epilog), rupanya 12 tahun kemudian ditemukan lagi reruntuhan helikopter di mana masih berserakan tulang belulang manusia di dalamnya, ditandai dengan kartu pers milik Birhi Lantang, serta satu lempeng kalung dog tag milik Laras Sarasawati dengan nama Laras Saraswati. Dengan ditemukannya penemuan baru tersebut, semua pihak terhenyak. Seluruh media elektronik dan media cetak nasional di Indonesia menurunkan beritanya dan kembali mengangkat kasus usang itu kembali. Jadi yang ditemukan dan dievakuasi 12 tahun lalu itu apa?

Catatan:
Arti dari Epitaph sendiri adalah 1) tulisan singkat pada batu nisan untuk mengenang orang yang dimakamkan di sana; 2) pernyataan singkat pada sebuah monumen. Kata epitaph sebetulnya sudah ada dalam bahasa Indonesia, yaitu: “epitaf”. Namun semata pertimbangan diksi, penulis lebih cenderung menggunakan kata dalam bahasa Inggris, Epitaph karena terdengar lebih sweet dan memiliki kandungan yang lebih misterius.

Sementara arti epigraf: 1) prasasti; 2) kalimat atau bagian kalimat pada bagian awal karya sastra yang menggambarkan tema.
Profile Image for Evi Yuniati.
38 reviews18 followers
February 24, 2022
Siapa yang pernah merasakan kehilangan orang yang dicintai atau dikasihi? Baik itu orang tua, sahabat, saudara, suami/istri, pacar. Apa yang dirasakan saat kehilangan orang yang dikasihi? Pertanyaan seperti ini tidaklah perlu dipertanyakan. Pasti rasa sedih, kehilangan yang dirasakan.

Aku pernah merasakan kehilangan. Kehilangan seorang ibu yang begitu aku kasihi. Penyakit kencing manis sudah merenggut beliau dari sisiku. Saat itu rasa hancur, sedih kurasakan saat aku diminta melihat posisi beliau saat hendak dimasukkan ke peti mati. Aku lemas, menangis meraung raung karena, ibu yang begitu ku kasihi tidak lagi tidur di ranjang kamarnya.

Itulah gambaran rasa sedih kehilangan orang yang dikasihi/dicintai. Epitaph, buku yang ditulis oleh Daniel Mahendra (akun twitternya @penganyamkata) ingin menggambarkan rasa kehilangan itu.

Kisah seorang pemuda, Haikal yang ditinggal mati kekasihnya, Laras dalam kecelakaan helikopter di Sibayak. Bagaimana menyikapi rasa kehilangan yang dirasakan Haikal dan keluarga Laras adalah sama yang dirasakan kebanyakan orang.

Penantian kepastian berita yang ditunggu berbulan-bulan bahkan sampai 2 tahun akhinya terjawab sampai ditemukannya bangkai helikopter dan penumpangnya yang sudah tinggal tulang belulang.

Walaupun cerita ini fiksi, tapi gambaran akan rasa kehilangan itu membuat emosi pembaca terlibat. Perbedaan antara fiksi atau kenyataan terbaca ketika ada catatan-catatan berita dari beberapa media yang memuat kecelakaan helikopter itu.

Ilustrasi buku ini juga seperti melambangkan kedukaan, memoar dibaliknya (gambar jembatan seperti di tengah hutan dengan pohon dikiri kanan serta tanaman perdu, juga warna gambar yang hijau suram).

Dialog antara Haikal dan bapak penjual buah tentang arti menunggu membuatku terkesan. "banyak orang bosan melewati penungguan itu. Bagiku disitulah seninya hidup. Ada harapan yang terus menyala. Itu yang terkadang tak semua orang mau memahami, bahwa menunggu adalah suatu kenikmatan tersendiri. Suatu seni tersendiri..." menarik bukan?

Menurut aku, intisari dari buku ini adalah belajar ikhlas menerima kehilangan orang yang dicintai/dikasihi dan biarkan memoar indah tetap terpatri di hati dan batu nisan mereka.
Profile Image for Truly.
2,764 reviews13 followers
February 19, 2010
Epitaph adalah tulisan singkat pada batu nisan untuk mengenang orang yang dikubur di dalamnya.

Secuil kalimat yang membuatku tertarik pada buku ini. Plus rokomendasi seorang teman yang menyatakan novel ini adalah novel misteri, ada kisah nyatanya, ada horor pokokenya diramu dengan ok. Cukup menggoda

Namun begitu dibaca, terus terang saya sempat jadi bingung. Kok untuk menceritakan kenapa sang tokoh wanita memilih jurusan IKJ serta kesukaan terhadap film membutuhkan sekitar 10 halaman. Saya teringat belum membaca cover belakang, setelah membacanya ssya baru menyadari hubungannya.

Sejujurnya saya hampir behenti untuk membacanya. Bukan kesalahan penulis. Hanya saja gambaran bagaimana situasi, kondisi dan perasaan Haikal serta keluarga Laras saat mendengar kecelakaan heli, nyaris serupa dengan yang saya alami.

Sebenarnya saya ingin menghibahkan buku ini, karena hal-hal tersebut membuat saya seakan menengok ke masa lalu. Cuma... sebagian sisi egois saya masih menahan buku ini. Jadi gimana nanti sajalah.



Profile Image for NRifa.
10 reviews
May 10, 2011
Novel yang mengangkat kejadian nyata atas tragedi gunung Simbayak, hilangnya helikopter yang disewa milik angkatan darat saat pembuatan film dokumenter mahasiswa IKJ. Alur ceritanya membuat bulu kuduk berdiri namun menghanyutkan. Detail informasi lokasi dan tempat yang disebutkan didalamnya memberikan pengetahuan pada kita dengan jelas, setidaknya membawa kita merasa berada di daerah tersebut.(*meski cari cari catatan kaki aga ribet :D)

Juga beberapa daerah Jawa Timur yang disebutkan dalam novel tersebut, serasa pulang kampung, karena kebetulan saya berasal dari sana, seperti reuni :)

Rawian cerita yang indah, berasal dari cerita nyata yang dikemas sedemikian rupa sehingga terbentuk menjadi sebuah novel yang menurutku tidak kalah dengan penulis Senior. Menurutku cukup berat. Jujur saja, ada keinginan untuk membacanya lagi, tapi teringat saat membacanya kita hanyut pada alur cerita, dan tokoh tokoh didalamnya, membuat saya menundanya, ya.. nanti dibaca lagi kalau kangen aja ;)

Semoga uraian saya ini cukup membuat teman penasaran ya.., tapi swear serem x_x



Profile Image for Nura.
1,057 reviews30 followers
June 28, 2010
Huaaa… sebel, sebel, sebel... typo-nya bikin gak nyaman baca. Editor memang manusia tapi kalo sebanyak itu ‘kan.... Blom lagi catatan kaki yang gak penting-penting dan gak perlu-perlu amat. Mengganggu deh... ditambah lagi bahasanya yang nanggung... antara mau kasual atau baku. Ini yang paling nggak konsisten menurut gw ...Karena kami yakin, pada dasarnya media tahu. Sangat tau.... (hlm. 324) sepele tapi bikin ilfil.

Satu bintang buat isu yang diangkat dalam buku ini. Satu bintang buat foto cover yang kereeeeen... sebenarnya itu alasan pertama waktu ngeliat mba lita minjemin buku ini ke harun. thanks mba truly bukunya...

gw bukan orang yg bisa menunjukkan empati dengan berkata-kata, gak juga mau sok mengerti perasaan orang yang ditinggalkan karena blom pernah merasakan. jadi gw hanya bisa berucap turut berduka cita.
20 reviews1 follower
Read
June 11, 2012
Hmm pertama menarik buku ini dari perpustakaan. Hal yang terlintas dipikiran saya adalah ini pasti tentang kematian. dan saya benar. Ini adalah buku tentang kematian. Tapi bahwa ini bukan kematian biasa bukan juga sebuah kejadian pembunuhan dan cerita horor berujung kematian. Ini adalah kisah tentang bagaimana seseorang sebelum dia mati. ini kisah hidupnya sebelum dia meninggal.

Adalah sebuah kasus jatuhnya pesawat pada tahun 1994 di pegunungan Sibayak Medan. walaupun kisah ini tidak murni fakta. seperti bagaimana kronologis sebenarnya dilihat dari sisi korban. tapi penulis saya rasa cukup mampu membawa perasaan pembaca. Setidaknya saya akhirnya membaca buku ini.

Semoga penulisnya bisa menyelesaikan cerita novel ini. yang saya baca-baca ingin dijadikan trilogi.
Profile Image for Rifai  Sumaila.
12 reviews4 followers
February 6, 2011
Awalnya terlalu bertele-tele, tapi di akhir cerita buku ini berhasil membuat saya larut dalam ceritanya, tragis dan cukup mengaharukan... hingga berhasil membuat sosok "Laras" terngiang dalam pikiran...
Profile Image for Novian Anggis.
13 reviews4 followers
March 19, 2010
mengalir. misterius, fragmen2 yang dirangkum sebuah cerita yang pilu. Bahasanya mudah
Profile Image for Fia Yuna.
32 reviews3 followers
November 25, 2016
Terlalu banya lembaran berisi penjelasan gak penting. Pergerakan cerita terlalu lamban dan buat jenuh membacanya.
Displaying 1 - 12 of 12 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.