Seandainya ini mimpi buruk, Karina ingin cepat-cepat bangun dan tak ingin mengingatnya lagi....
Tapi kenyataan memilih berlaku kejam kepadanya. Dua garis di testpack yang kini berada di tangannya adalah jawaban tegas: Karina hamil. Dan satu-satunya yang terpikirkan adalah mencari bapak anak ini dan meminta pertanggungjawaban.
Karina tidak berharap dinikahi Daniel. Dia ingin laki-laki itu mengurusinya selama masa kehamilan. Dengan senang hati, dia menyerahkan bayi itu ke tangan Daniel-sesederhana itu.
Namun, berada bersama Daniel membuatnya melihat laki-laki itu dari sisi lain. Sisi lembut dan penuh perlindungan. Sisi yang membuat dadanya berdesir. Perasaan yang mengenalkan Karina pada... cinta. Mungkinkah ini pertanda mimpi buruknya kelak akan berakhir bahagia?
Tadinya gw mau kasih 1 bintang tp gw naikin deh jadi 2, kenapa? 1. Karena bukunya gratisan jadi ga mencak2 dan merasa bersalah (thanks to ijuuull) 2. Covernya bagus...
sisanya??yah gitu deh... ide ceritanya sih lumayan (walopun udah ketebak tp oke lah) cuma sayang, ide aja kalo ngga diterusin ke gaya bertutur plus plot yang oke, hasilnya??yah gitu..
satu yg gw perhatiin, kesannya si penulis pengen banget ngegambarin ni novel kaya film2 drama romantis luar.. tinggal di penthouse, mobil keluaran terbaru, sampe jalan2 pake helikopter (kok kaya BBF aja sih??pas si Gu Jun Pyo ngajakin Geum Jan Di jalan2??tp masih mending BBF kemana-mana, at least ada lee min ho nya gituh..hahaha) jadi nanggung dan rada2 ga mungkin aja mengingat setting di indonesia (well, gw tau ada beberapa org yg tajir mampus di sini tp keknya ga segitunya deh) jadi.. yah ngga ada gregetnya..dataaarr yg bikin gw heran, ternyata udah cetakan ke 4! Wew ,lumayan juga ternyata, atau mungkin terbius sama covernya yah??
Terpaksa saya harus menyatakan bahwa hampir seperempat bagian awal (dan masih terdapat pada beberapa bagian lain di sepanjang plot) novel ini berkutat pada umbaran hawa nafsu para tokohnya semata. Bagaimana tidak, setelah bercerita soal proses one-night stand yang berujung hamilnya si aktris utama (jadi ingat film Knocked Up!), penulis (dua orang!) justru melulu menggambarkan bagaimana gelenyar-gelenyar nafsu aktor-aktrisnya ketika mereka bertemu, saling memandang, berdekatan, dan sebagainya. Parahnya, itu diceritakan dalam berbagai situasi. Dalam berbagai kesempatan.
Bukannya wajar??? Wajar-wajar saja sebenarnya. Dua puluh persen dari penilaian saya mengarahkan saya untuk maklum. Keyakinan saya itu dilandasi kesadaran bahwa kedua tokoh baru bertemu dan berkenalan. Penulis menekankan bahwa kedekatan keduanya tidak melibatkan hati (perasaan). Penulis juga dengan semangat sekali mendeskripsikan bagaimana pergulatan batin kedua tokoh yang terjebak dalam situasi ‘terlarang’ itu. Perang batin inilah yang lambat laun melembutkan keduanya. Menerbitkan binar kasih, sayang, hingga cinta pada hati masing-masing. Tak ayal, dalam setiap kesempatan keduanya saling melempar kekaguman perasaan. Namun, sayang sekali, penulis hanya mengumbar kekaguman mereka dari kesempurnaan fisik belaka. Betapa tampannya si aktor, blablablabla….betapa keindahan bibir si aktris dan blablablabla….. mungkin untuk sekali-dua tidak masalah. Semua jadi nggak asyik ketika hal tersebut diulas lagi, lagi, dan lagi. Bosan!
Sebenarnya, gaya mendongeng kedua penulis, yang cukup nge-blend (saya tidak bisa menduga mana yang adalah tulisan Dahlian dan mana yang tulisan Gielda, saya memang belum mengenal karakter tulisan masing-masing karena tidak pernah membaca karya solo mereka), cukup bisa mengalirkan kisah novel ini. Diksinya pas, meskipun sebagian besar isinya sebagaimana yang saya sebutkan tadi. Luapan berahi syahwat. Emosinya terasa dan teraba. Adegan per adegannya cukup hidup. Lancar sekali alur ceritanya.
Hmm, saya agak malas membahas tema, karena dari waktu ke waktu tidak ada lagi tema baru yang diangkat oleh para penulis. Termasuk dalam novel ini. Hamil di luar nikah. Perkawinan yang dipaksakan. Benci lalu cinta. Orang ketiga yang adalah cinta masa lalu. Duh! Saya sih akhirnya hanya bisa berlapang dada saja mengingat saya sendiri juga tidak tahu tema langka apa lagi yang bisa diangkat dan terlihat orisinil. Oleh karena itu, saya tidak akan membahas soal tema novel ini.
Kalau temanya sudah, katakanlah, basi maka saya berharap penulis bisa mengolahnya menjadi tampak baru dan segar. Dan, syukurlah, kedua penulis berhasil mengemas tema oldies itu menjadi tidak membosankan. Yeah, setidaknya saya akhirnya selesai juga membacanya hingga tuntas.
Catatan saya yang lain adalah sebuah pertanyaan yaitu, “apakah sekarang ini hampir seluruh perempuan Indonesia sudah tersihir drama seri Korea?” Oh, GOD! Rasanya sudah banyak penulis yang “mimpi” bercerita soal Korea (ingat Summer in Seoul-nya Ilana Tan atau Marrying AIDS-nya Lia Andria? Atau juga My Seoul Escape-nya Sophie Febriyanti). Baby Proposal ini memang tidak bercerita soal Korea atau tokohnya yang tergila-gila seri Korea, namun mengapa adegan menjelang klimaksnya justru mengingatkan saya pada seri Hotelier???. Maka, makin tak orisinil-lah novel ini. Belum lagi segala rupa keromantisan yang coba ditampilkan kedua penulis malah membuat saya agak muak. Yikes! Lebay, banget… this is so 2009 not 19whatever… apa gua yang nggak romantis, ya???? Tapi sumpah, gua bilang romantisnya berlebihan!!!
Pada akhirnya, impresi saya tertuju pada kolaborasi yang cukup nge-blend dari dua penulis ini. Saya berharap, jika nanti masih ingin membuat lagi karya duet, kedua penulis bisa mengangkat tema yang tak biasa, dan kalau bisa, segala menye-menye (yang dimaksudkan untuk romantis) agak dikurangi. Hey, don’t judge, this book is for women! Mungkin saja buku ini memang dimaksudkan untuk perempuan (kalau memang iya, mending dilabeli saja sekalian, for women only), tapi tidakkah seorang penulis bangga jikalau bukunya tidak hanya “dikotakkan” pada satu kategori saja?? Apakah penulis tidak bangga jika bukunya bisa diterima semua golongan?? Bukankah semakin luas pembaca, tiras buku yang terjual juga semakin banyak?? Kalau tidak bangga, ya…berarti saya memang salah pilih bacaan.
Siapa sih yang nggak mau bertemu dengan Prince Charming? Saya pikir, semua perempuan yang menyukai fairy tale (seperti saya contohnya) pasti bermimpi untuk menemukan seorang pangeran berkuda putih yang akan menjemput ke istana. Woow! Sooo wonderful, right?
Di dalam novel Baby Proposal karya Dahlian dan Gielda Latifa, saya juga menemukan sosok pangeran impian bernama Daniel. Novel ini dibuka dengan cukup baik oleh kedua penulis (saya nggak tahu mana tulisan Gielda, mana tulisan Dahlian) sampai adegan one night stand antara kedua tokoh utama. Kalau membaca beberapa review yang mengatakan adegan ini mirip dengan beberapa film, buat saya no problem. Nggak ada ide yang murni dari seorang penulis, kan? (Helooo, readers, kita hidup di abad 21!) Jadi, saya melihat bagaimana mengembangkan tema itu menjadi sesuatu yang baru dan berbeda.
Bagaimana kedua tokoh bisa dekat, melempar kekaguman, hingga jatuh cinta, diramu cukup baik. Adegan akhir yang awalnya membuat ragu, tapi melegakan. Hanya beberapa hal yang dirasa kurang, tapi nggak memengaruhi saya dalam menikmati cerita. :)
Aq suka ide ceritanya, and cerita ini dibuka dengan baik. Gaya penceritaannya juga menarik, overal, cerita ini bisa benar-benar bagus kalau saja diolah dengan lebih baik. Bagian yang kurang kusuka di sini adalah bagian pengejaran Daniel ke restoran Karina. Menurutku agak lebay. Toh Daniel nggak perlu donk teriak-teriak di depan restoran dan hotel berbintang buat ngejar-ngejar si Karina. Gimana? Pembangunan karakter si Daniel yang udah susah payah di jaga langsung ngedrop gitu. Kan si Daniel bisa aja cari jalan yang lebih mudah, misalnya ngekorin si Karina pas si dianya pulang. Apa aja deh, yang penting lebih gentleman, lebih cool. ^^ Pendalaman emosinya juga masih kurang. Tapi aku selalu suka gaya cerita seperti ini, makanya moga2 ke depannya lebih bagus. Satu lagi, aku suka gaya bahasanya. Dan kalau dibilang buku ini terlalu dewasa, atau pun mengumbar nafsu dan segalanya. ah, berlebihan. Agak-agak lebay katanya? Gpp donk, namanya imajinasi. Dan genre romance mengizinkan penulisnya untuk menjadi sedikit terlalu romantis. When u pick a romance book to read, u cant except less than that. Itu udah jadi bumbu yang bisa bikin ceritanya lebih sizzling. Dan bikin cerita lokal kita lebih berkembang. And, happy ending? Harus donk, kalau nggak bukan romance namanya, mungkin bisa dikategorikan jadi genre yang lain, hehe. Good job for both of the authors.
Novel ini diawali dengan tokoh Karina yang terkejut karena mendapati dirinya hamil, setelah one night stand dengan seorang pria yang dikenalnya di Lombok, Daniel. Karina dan Daniel membuat kesepakatan di atas kertas mengenai anak dalam kandungan Karina. Tetapi ketika Karina terpaksa kehilangan bayinya, mulailah kisah cinta mereka bersemi.
Membaca novel ini serasa membaca novel-novel roman ala Harlequin. Pria digambarkan begitu menawan, tampan, dengan bodi ala dewa Yunani, belum lagi kekayaannya yang melimpah. Sementara Karina digambarkan gadis biasa yang memiliki body sempurna (setidaknya di mata Daniel).
Selain Karina dan Daniel, tentunya ada tokoh lain. Dewi, misalnya. Dia adalah teman Karina yang diajaknya ke Lombok. Pada pertengahan cerita, Karina selalu "bersembunyi" dari Daniel di rumah Dewi. Tapi anehnya, Dewi tidak sekalipun muncul lagi pada bab selanjutnya, kecuali saat berada di lombok. Itupun berakhir dengan keadaan mabuk berat.
Untung bagi saya, buku ini saya pinjam. Setidaknya saya tidak menyesal karena pernah memutuskan untuk tidak membeli buku ini :)
Males banget bikin review. Untung aja novel ini dikasih gratis, kalo nggak saya bakal meratapi uang saya yang terbuang. Lagi. Bintang 1 bagi saya berarti novel ini harus segera dienyahkan dari rak buku. Tapi yang ini nggak boleh, karena pemberian orang.
Cuma mau mengomentari sikap plinplan si Karina. Awalnya berlagak banget nggak mau ada hubungan apa-apa, eh pas si Daniel dideketin mantan, dia langsung kalang-kabut. Formula kayak gini wajib y? Bukannya nggak suka, tapi penulis menyampaikannya dengan cara yang nggak menarik simpati.
Lalu satu lagi, terpajangnya TIGA nama editor di novel ini, sedangkan EYD dan tanda bacanya masih banyak yang berantakan. Komen saya akhir-akhir ini terhadap novel Gagas temanya ini mulu. Jadi bosan sendiri.
Masih ada satu novel Dahlian lagi di rak. Promises Promises, yang kata sebagian orang adalah karya terbaiknya. Mari kita lihat.
Sebenernya bakal ngasi bintang 4 kalo Kania tidak keguguran. Tema ceritanya aku suka bangeeet. Ikatan yang terpaksa, hingga akhirnya menumbuhkan rasa cinta itu so sweet banget. Tapi sayang di tengah2 malah ada kejadian yg tak menyempurnakan novel ini.
Untuk bahasa sih sepertinya kedua penulis bukan spesialis romance ya.. Bahasanya terlalu padat. Awalnya sih aku ga mempermasalahkan bahasa mengingat tema ceritanya yg menurutku oke. Pantes aja 3 jam aja membabat buku ini, bukan karena penasaran sama ceritanya. Tapi karena sudah ketahuan akhir ceritanya.
Temanya biasa..uda sering diangkat di novel2 metropop dan semacamnya. Alur ceritanya lumayanlah,,mengalir lancar & lumayan tidak membosankan.
Tapi yang bikin rada keki,,typonya oh typo. kadang masih tercampur antara kalimat langsung & tak langsung. Ada juga beberapa pemenggalan kata yang mengurangi kenikmatan membaca,,misalnya nih: Karina dipenggal menjadi Kar-ina; akhirnya dipenggal jadi akh-irnya.
Secara keseluruhan mah buku ini lumayanlah untuk nemenin sabtu kelabu nan mendung :D
"Mengapa akhir-akhir ini nasib baik seolah memusuhinya? Pertama, ia akan memiliki anak dari perempuan yang tidak dicintainya. Kini, satu-satunya perempuan yang dicintainya akan menikah dengan lelaki lain." – halaman 56
Karina positif hamil. Ayah dari janinnya itu adalah Daniel, pria yang dia temui saat berlibur di Lombok. Daniel, yang baru ditinggalkan Celline, pacarnya, untuk menikah dengan pria lain, menantang Karina adu minum. Dalam keadaan mabuk, mereka pun tidur bersama. Karina sempat panik karena itu adalah pengalaman pertamanya. Daniel pun memberikan kartu namanya dan berjanji akan bertanggung jawab. Tetapi saat mereka bertemu lagi, Daniel malah menyuruh Karina mengugurkan janin itu. Clarissa, ibu Daniel, datang dan menyuruhnya menikahi Karina. Tetapi Karina tidak mau menikah. Pengalaman orangtuanya membuat dia enggan terikat dalam hubungan serius. Lalu Karina mengajukan perjanjian di mana Daniel akan mengurus dirinya sampai melahirkan dan hak asuhnya nanti akan jatuh ke tangan Daniel.
Semula Daniel merasa terpaksa saat harus mengantar Karina memeriksa kandungannya. Tetapi detak jantung calon anaknya mengubah pikirannya. Dia jadi sangat menjaga Karina dari makanan sampai pergi ke parent’s sharing bersama-sama. Karina tersentuh dengan perhatian Daniel itu. Namun, dia menemukan Celline ada di kantor Daniel, memintanya kembali. Reaksi Daniel menghancurkan segala harapan Karina. Dia lalu menghindari Daniel dengan segala cara.
--
Baby Proposal berhasil membuatku larut dalam kedekatan Karina dan Daniel yang ditengahi oleh kehadiran calon anak. Aku terlanjur suka dengan nama Daniel. Dia juga mengingatkanku pada Christian Grey, mulai dari ketegasannya tentang makanan, jalan-jalan menggunakan helikopter, punya seseorang dari masa lalu yang sulit dilupakan, dan banyak lagi. Drama yang terjadi di antara mereka memang agak klise, apalagi di tahun-tahun sekarang. Tetapi setiap perkembangan ceritanya menarik untuk terus dibaca. Setiap hal yang Karina dan Daniel lakukan penuh kecanggungan pasti bisa membuat siapapun geregetan sekaligus meleleh. Tidak mengherankan aku berhasil membaca habis ceritanya dalam waktu kurang dari 24 jam. Aku pokoknya terhibur. Ini bacaan yang cukup memuaskan.
Namun, itu tidak berarti aku tidak akan mengkritik beberapa bagian yang agak mengganggu selama proses membacanya. Pertama, gaya penulisannya sebenarnya sudah enak dibaca tapi cara pendeskripsiannya agak membosankan, tidak terperinci, dan banyak penggulangan kata sifat yang sama. Kata ‘dingin’ dipakai sampai tiga kali di paragraf yang sama dan semua untuk mendeskripsikan Daniel seorang. Kedua, banyak keganjilan ketika Karina dan Daniel menilai fisik satu sama lain. Mata mereka ‘lapar’ banget sampai terus-terusan terpesona dengan kelebihan fisik masing-masing. Mereka seperti tidak pernah tidur bersama sebelumnya. Ya, aku tahu mereka mabuk dan tidak bisa mengingat dengan jelas. Tapi tetap saja aneh. Apalagi saat Daniel bisa melihat bulu mata lentik Karina dari jarak yang cukup jauh.
alasan gua beli cuma gara2 nama tokoh cewenya sama sama nama gua, dan nama tokoh cowonya sama kaya kecengan dulu mahahahahahhahaa. kalau baca review dari belakang bukunya sih udah ketebak banget pasti ahirnya happy ending. bacanya selesai dalam waktu 5 jam-an (bukan jaman). ceritanya standard. cewenya naksir sama cowo yang dideskripsiin sebagai lelaki tampan nan tajir. mereka mabok. gini gitu. tekdung. cowonya mau tanggung jawab meskipun agak terpaksa karena dia masih cinta sama mantannya yang dijodohin sama cowo lain. seiring berjalannya waktu mereka saling naksir2an. jadian deh. tapi gua sih suka2 aja sama jalan cerita drama romantis kaya gini. cukup menghibur meskipun rasanya ada beberapa bagian yang rasanya kurang dapet gregetnya, jadi yang harusnya berkesan romantis jadi....yaa...ga dapet aja feelnya (atau gara2 guanya yang berasa geli karena nama tokoh utamanya sama banget kaya gua dan kecengan jaman dulu? sumpahhh rasanya geli mennnnn! haahhaha)
well, untuk buku roman penulis Indonesia buku ini penceritaannya mengalir (walaupun beberapa kalimat atau frase bikin merinding geli ^^). Temanya sih udah sering aku baca di buku roman lain, tapi paling suka waktu bagian klimaks waktu post-curetage, so sweet. Ditambah fragmen pengejaran dari tokoh daniel buku ini benar-benar memanjakan seleraku ^^
Trus kenapa bukan 5 bintang? see on p326, "Lelaki yang sangat mencintai dan menghormati ibunya, tidak akan memperlakukan istrinya dengan buruk, seperti yang dilakukan ayah Karina padanya." Begitulah ucapan ibunya yang terus terngiang di telinga Karina. Itu kok setengah-setengah antara kalimat tak langsung dan kalimat langsungnya? Bagaimana ini editornya sampai meloloskan typo seperti ini? Padahal editornya 3 orang kan, mas Ino?!
kalo saya, saya bakal ngiri banget sama si cewek yg di cerita ini. walaupun ketemuannya bukan dalam konteks "baik-baik" tapi kalo ternyata si cowoknya kayak begitu, wah siapa yg gak mau? konsep ceritanya bagus. sedih juga pas tau dia keguguran, padahal saya udah ngebayangin tu gimana lehudupan mereka selanjutnya klo si anak itu udah lahir. hanya saja, klo menurut saya, kayaknya terlalu "tinggi" karakter si daniel ini, jadi pas baca berasa lagi baca dongeng, hehe. trus gak banyak dialognya disini. mungkin cuma sekitar 35% dari novel ini yg berisi dialog antar tokohnya.
buku yang enak buat ngisi waktu, saya baca cuma dalam 3 hari aja sepulang kerja, abis baca buku ini jadi berpikir: " ada gak ya kejadian yg kaya gini di indonesia?
How do I put this? Dejavu? 🤔 Iyaa kaya pernah baca yang kaya gini.... jadi ceritanya....
Karina yang dapet tiket liburan hasil undian gratis ditipi bertemu Daniel di kapal yang bawa dia liburan. Daniel ada disana karena doi yang punya itu kapal dan ceritanya mau liburan bareng sama pacarnya yang memutuskan mengakhiri hubungan mereka. Daniel yang meskipun tampan bak dewa yunani tapi angkuh dan dingin itu sempat bikin Karin terkesima sekaligus kesel abis. Well, singkatnya mereka end up ONS gitu ya... dan setelah sekian minggu Karina sadar kalau dirinya hamil. Jeng jeng...
Karina akhirnya menelepon untuk ngajak Daniel ketemuan. Ya, Daniel emang ngasih kontaknya kalau-kalau hal seperti ini kejadian, eh dan ternyata beneran. Daniel yang awalnya menolak calon bayi itu akhirnya bikin kesepakatan sama Karina, well Karina cuma minta Daniel tanggung jawab sama si bayi dan bukan Karina yang berarti dia nggak perlu nikahin si Karina.
Daniel yang perhatian itu lama-lama bikin Karina jatuh cinta juga. Namun Karina tahu kalau perhatian Daniel cuma karena calon anak mereka. Agak drama sih sebenernya bagian saat Karina mergokin Celline di kantornya Daniel dan doi jealous berat dan akhirnya menghindari Daniel dengan berbagai cara. Kucing-kucingan ini berakhir saat Karina pendarahan berat dan terpaksa harus kehilangan bayinya.
Karina depresi berat tapi Daniel selalu ada disisinya. Karina bimbang kenapa pria itu masih ada disisinya meskipun calon bayi yang jadi penghubung keduanya sudah nggak ada lagi. Daniel bahkan ngajakin Karina tinggal bareng di penthouse nya biar Karina ada temen—Ina, helper Daniel—ya biar Karina cepet pulih aja gitu. Daniel juga bikin kejutan super wah saat Karina ulangtahun, ya berasa kaya si Ana yang disurprise in Mr. Grey aja nih, wkwk. Dinner romantis di Bandung naik heli dan dapet kalung berlian dari cowok—haha impian cewe banget rite? Karina yang hari itu kelihatan cantik banget bikin Daniel gelisah mulu. Puncaknya saat mereka balik ke penthouse Daniel setelah birthday dinner itu, Daniel nggak bisa lagi nahan diri dan mencium Karina. Semua hal yang udah Daniel lakukan hanya bikin Karina makin jatuh cinta aja. Si pengganggu itu kembali lagi, ya Celline dengan enaknya datang ke rumah Daniel dan ngajakin balik. Daniel yang kelewat kaget nggak bisa jawab apa-apa, saat itulah Karina yang akan bicara sama Karin malah memergoki keduanya. Well another drama yang bikin Karina hengkang dari rumah Daniel.
Karina memutus semua koneksi yang memungkinkan antara dirinya dan Daniel. Dia pindah kosan dan ganti nomor hape. Karina akhirnya kerja jadi assistant chef di salah satu hotel yang cukup fancy. Setelah berbulan-bulan mereka pisah, akhirnya ketemu juga saat Daniel mau business lunch sama partnernya. Lagi-lagi Karina menghindarinya. Daniel hanya ingin bicara dan menjelaskan semuanya, tapi Karina dan bahkan rekan kerjanya seperti nggak kasih izin Daniel buat melakukan itu. Bukan Daniel ya kalo pantang menyerah. Dateng tiap hari tanpa kenal lelah akhirnya membuahkan hasil, ya meskipun dengan koneksi hehe. Pertemuan pertama dengan Karina nggak berhasil, setelah berkali-kali bikin keributan dan end up Daniel melamar Karina di Kitchen dan disaksikan semua rekan kerja Karin tapi berakhir ditolak juga. Untungnya sih Karina dsadarkan temen-temennya kalo Daniel emang sayang banget sama dia. Malamnya sepulang kerja Daniel balik lagi dan sekali lagi ngelamar Karina dan kali ini akhirnya diterima. Happy yeah!!
Yah agak datar sebenernya konfliknya eh? Terus juga karakter di Daniel ini agak-agak kurang mengintimidasi gitu, wkwkw. So yeah, segini aja.
Hahahaha. Pas baca di awal, saya udah menduga bahwa buku ini ga cocok sama saya. It's only about lust. Dan bikin saya pusing bacanya karena kata-katanya kurang pas, dan pusing saya melihat beberapa kata diulang2 di beberapa bagian, seperti saat Karina hamil, Daniel selalu berkata Karina karina karina karina , please, please, makan, makan. Abis itu pas mreka pergi dinner untuk ultah Karina, karina selalu terpana, terpana dan terpana. Err. Saya akan lanjutkan review ini setelah selesai ok. Tapi beneran saya ga bisa nangkep chemistry apapun dari mereka berdua. Mungkin mereka menganggap lust = romance. Awalnya iya, tp ga ada chemistry yg dibangun dari awal. Dan walopun Karina udah menyatakan ketertarikannya sama Daniel, modelnya kayak manga romance gitu, yg full of bling bling dan keterpesonaan. Hwhw
Ok, selesai beneran kali ini. Saya menikmati kehidupan koki Karina, tapi sumpah, karakter mereka berubah 180 derajat abis arc II nya haha. Saya mau ngakak liat Daniel mengemis cinta. Menyedihkan banget. Trus apa yg terjadi sama Celline? Saya lompat2 sih bacanya, nanti buka lagi deh.
Ah ngga ada penyelesaian masalah antara Daniel dan Celline. Digantungin si Celline.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Tiga kata. SAYA MENYESAL BELI. Syukurlah hanya ebook ya, kalau ada fisiknya rasanya saya bakal kembang kempis lihat buku ini di rak saya. Kasar. Memang. Tapi sungguh menyadari saya mengorbankan uang karena kepincut cover, blurb, dan beberapa bab awal, lalu berakhir dengan memutuskan berhenti saat belum setengah bagian. Saya beneran kesal. Apalagi semua hal, semua poin penting di mata saya, semua amburadul.
Harlequin yang di'paksa', terlalu sering mengumbar ketertarikan fisik antar tokoh. Alurnya nggak jelas. Karakternya pun labil, yang kokoh jadi lembek, yang tekad malah baper. Sekali lagi, saya baca belum sampai setengah bagian novel. Apa kabar pas kelar, mungkin karakternya makin beraneka bentuknya. Karakternya juga terlalu cinderella characters. Si cowok kaya kelewatan tapi ceweknya biasa aja, hmm tapi di mata si cowok bodynya nggak biasa. Diksinya juga gak bagus, mungkin saya nggak berhati, tapi yang authornya pengen buat terharu malah buat saya 'meeeh'.
Btw, authornya 2! Editornya 3! Ini makin buat saya bertanya-tanya.