Jump to ratings and reviews
Rate this book

Garuda 5: Utusan Iblis

Rate this book
"Ketika Pakulangit menghujam tanah,
Cahayanya menerangi seisi lembah,
Ketika cincin api tampak di angkasa,
Bersiaplah Dunia menelan petaka!"

Sebuah tembang hadir dalam mimpi aneh yang dialami sejumlah remaja tanggung, salah satunya Jaka. Si ketua OSIS SMA Raya -- sebuah sekolah swasta yang nggak terlalu ngetop di Jakarta -- itu tak tahu apa yang menimpanya. Ia tiba-tiba bisa bersilat membela teman-temannya dalam sebuah tawuran pelajar. Ia dihadapkan pada petunjuk-petunjuk "kebetulan" yang mengarahkannya pada satu peristiwa mengerikan.

Tembang itu ternyata mengabarkan turunnya utusan iblis dari Neraka.

Apa yang harus dilakukan Jaka? Mampukah ia mengumpulkan para keturunan Pendekar Garuda satu demi satu? Sanggupkah cowok SMA itu menghadapi buasnya dunia persilatan sesungguhnya?

702 pages, Paperback

First published January 1, 2009

Loading...
Loading...

About the author

F.A. Purawan

3 books21 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
15 (31%)
4 stars
17 (36%)
3 stars
9 (19%)
2 stars
4 (8%)
1 star
2 (4%)
Displaying 1 - 15 of 15 reviews
Profile Image for Truly.
2,802 reviews13 followers
April 17, 2010
" Dengarkan aku Pendekar Garuda. Aku bersumpah! Enam ratus enam puluh enam tahun lagi saat kedatangan berikutnya, akan kulaksanakan niatku bersekutu dengan utusan iblis! Kalian tak akan mampu ! Ha ha ha "

Para Pendekar Garuda tertegun mendengar sumpah yang keluar dari mulut Ki Sangeti. Kepala yang sudah putus di tebas ajian Toya Bhatara Guru, senjata andalan Sentika, ternyata masih bisa mengeluarkan sumpahnya.

“Sayang sekali….. kalian tak akan cukup umur untuk menyaksiannya sendiri!” Kanjeng Ratu Suromenjani penguasa dunia lelembut berkata sambil membawa kepala Ki Sangeti pergi menjauh.

Ketika Pakulangit menghujam tanah,
Cahayanya menerangi seisilembah,
Ketika cincin api tampak di angkasa
Bersiaplah Dunia menelan petaka


Sentika, Anggraini, Widura, Dyah Pramestita serta Rangga tidak pernah mengira jika tembang yang selama ini sering mereka lafalkan adalah benar-benar pertanda mengenai datangnya utusan iblis. Setiap Enam ratus enam puluh enam tahun sekali utusan iblis akan datang ke bumi. Tugas mereka sebagai Pasukan Garuda-5 adalah menghalangi kedatangan utusan iblis ke muka bumi.

Beberapa ratus tahun kemudian.............
Jaka, Rani dan Bun tiga orang remaja biasa sering mendapat mimpi yang nyaris sama. Tidak ada yang saling mengetahui bahwa mereka memiliki mimpi yang senada hingga beberapa kejadian membuat mereka mau tak mau membicarakan mimpi-mimpi itu.

Mereka ternyata adalah titisan dari Para Pendekar Garuda! Mereka sepakat,ada pesan tersembunyi yang tersimpan dalam mimpi. Setiap pesan pasti memiliki dua sisi, yaitu pemberi dan apa tujuan bagi penerima. Mereka harus bersusah payah memahami arti pesan melalui mimpi yang selama ini mereka terima.

Sambil berusaha memahami arti mimpi, kehidupan mereka sehari-hari tetaplah berjalan sebagaimana biasanya. Jaka dan Rani sibuk di kegiatan OSIS SMA Raya sementara Bun,asyik membantu orang tuanya di kantin sekolah. Disamping itu, mereka juga harus berusaha mencari 2 orang titisan lagi. Mereka berpacu dengan waktu kemunculan utusan iblis.

Acara Jambore Akbar SMA Raya membuat mereka harus berurusan dengan banyak hal di luar nalar. Mereka ternyata mendirikan kemah ditempat dahulu utusan iblis nyaris berhasil turun ke bumi. Berbagai keanehan mewarnai suasana Jambore Akbar SMA Raya. Mereka juga harus berurusan dengan aneka makhluk aneh dari dunia lelembut, dari alam nyata mereka harus berurusan dengan teman-teman yang bertingkah seenaknya dan tak ketinggalan kisah cinta dari dua dunia.

Beberapa saat setelah 666 tahun.................
Saat 4 orang anggota Padepokan GRI mengunjunginya, Tukang Cerita bersabda, " Jika kalian mampu melewati bab-bab awal yang memang sedikit berat, maka sisanya seluruh cerita akan mengalir dengan cepat!"

Empat orang yang duduk manis dihadapannya hanya bisa saling melirik sambil menganggukan kepala. Tangan mereka serentak membalik-balikan halaman buku secara acak. Ketebalan buku (699 halaman) merupakan hal yang patut diperhitungkan jika ingin membaca buku Garuda-5: Utusan Iblis

Melihat wajah-wajah yang memancarkan rasa bimbang, beliau segera berkata, “ Anak berusia 8 tahun saja bisa membaca buku ini selama 2 hari " Tambah beliau seakan menantang kemampuan mencerna dan kecepatan membaca buku mereka.

Satu orang langsung berteriak, “ Aku nyerah…!” Dua orang menjawab, “ Buku ini harus menunggu giliran, masih banyak yang harus dibaca” Sisanya merasa tertantang dibadingkan dengan anak 8 tahun! Yang merasa tertantang itulah yang membuat repiu….^_^

Seperti saat membaca cerita fantasi yang lain, saya selalu membiarkan alam pikiran saya bergerak liar, menebak jalan pikiran sang penulis serta berandai-andai.

Kehadiran titisan Kanjeng Ratu Suromenjani bisa saya tebak dengan cepat. Saat salah satu tokoh muncul untuk pertama kali, saya langsung menebak ini pastilah titisan Kanjeng Ratu Suromenjani Kebiasaan sok tahu saya kadang terbukti benar, kebetulan di buku ini terbukti benar juga.

Penulis sepertinya sengaja membiarkan saya menebak dengan mudah untuk urusan titisan Kanjeng Ratu Suromenjani. Sementara untuk titisan Ki Sangeti dan 2 anak keturunan Pasukan Garuda, benar-benar mengecohkan saya! Semula saya pikir titisan mereka berdua adalah si tokoh pelengkap cerita saja. Ternyata salah! Seseorang yang saya kira adalah pimpinan ternyata hanya sekedar pimpinan, namun bukan yang memiliki ilmu tertinggi diantara mereka berlima.

Di dalam buku ini juga terselip humor-humor segar yang menenangkan syaraf tegang setelah mengikuti pertarungan aneka jurus. Humor segar tersebut juga bisa didapati dalam bentuk catatan kaki. Tentunya selain banyolan jenaka ala anak SMA

Selain memang benar, sesuai petuah Sang Tukang Cerita, bab-bab awal membuat saya harus menekan selambat mungkin kecepatan membaca saya. Maksudnya agar bisa SANGAT memahami cerita yang ada di awal-awal buku. Selanjutnya, saya bisa kembali Kecepatan membaca saja.

Ternyata “Petunjuk” itu bener-benar bermanfaat. Setelah memahami, maksudnya teramat sangat memahami bab awal yang menjadi latar belakang cerita, bab-bab selanjutnya kian seru! Keasyikan saya membaca serta membayangkan aneka adegan laga mengingatkan sensasi yang sama saat kecil. Dahulu selain buku Kho Ping Ho, aneka film laga Mandarin dalam sekian kaset video sering menemani saat luang saya. Kalau buku ini jadi film…….

Sekedar usulan, mengingat buku ini diselesaikan dalam jangka waktu belasan tahun, mungkin istilah SMA bisa diganti dengan SMU agar lebih sesuai dengan jaman sekarang.

Sayang jika buku ini belum dikenal luas di masyarakat karena kurangnya promosi dari pihak penerbit. Saya jadi merasa tertantang untuk membuatkan semacam marketing plan untuk memperkenalkan buku ini lebih lanjut.

Tapa mencari inspirasi dulu ah……!
*Melirik tumpukan buku yang belum di repiu*
Profile Image for Luz Balthasaar.
87 reviews69 followers
February 16, 2010


Pada masa Garuda 5 masih berupa draft, aku punya masalah membaca cerita ini karena beberapa hal. 1) Cara penceritaan yang kurang halus, seperti dialog yang kadang-kadang kelihatan seperti copas buku referensi yang dikasih kutip, 2) Tangan para pengarang yang kelihatan ngebelokin plot (tapi tangan pengarang ini juga memiliki sisi baik sebetulnya) dan 3) prosanya yang asli boros kata. 4) suasana yang nanggung, nggak jadoel tapi nggak juga hare gene.

Setelah jadi buku, aku bisa melihat masalah #3 berkurang, tetapi tidak seluruhnya. Jadi alhasil ngebacanya masih susah. Masalah #1 juga masih ada. Masalah #2 dan #4... hmm... nope. Belum juga.

Tapi campur tangan pengarang rupanya juga bisa menghasilkan humur-humor breaking the fourth wall yang bikin aku senyam-senyum. Bentuknya berupa berbagai footnote nyeleneh yang memberi kesan si pengarang sedang mengomentari ceritanya sendiri secara soto(y). Ada bagian-bagian yang preachy, tapi nggak segitu banyaknya, apalagi karena ditambah cara pandang pengarang terhadap religi yang toleran dan bahkan... humoris. ^^ Buku ini memiliki salah satu guyonan blunder religius paling lucu yang kutahu ada di buku-buku karya pengarang Indonesia.

Lalu masalah #4, pengarang berusaha membuat setting cerita hari gini dengan memasukkan beberapa referensi kultural, seperti ringtone SMS dangdut, tapi ini nggak cukup untuk membuat suasana cerita terasa hari gini karena nama tokoh, nama sekolah, dan tingkah lakunya somehow terasa ketinggalan jaman. Namun, kalau mau dianggap cerita ini terjadi di jaman jadul juga, referensi-referensi hari gini itu jadi mengganggu suasana.

Yah, segitu ajalah dulu ya Suhu. Aku tunggu G-5-2 yah, hehehe.
Profile Image for Heru Zainurma.
11 reviews5 followers
September 25, 2013
Okey ... saya sudah lama membereskan buku ini, dan baru sekarang sempat menuliskan reviewnya. Jujur saya tak menyangka kalau buku yang tebalnya hampir 700 halaman ini ternyata memang bisa saya baca habis dalam waktu dua hari! Waw!

Langsung saja, dari sampulnya ... menarik, tapi kurang representatif. Kesan pertama saya, siluet itu adalah anak skater. Ternyata bukan, tentunya. Kenapa juga cuman satu, padahal pendekar Garudanya ada lima? Namun jika mengesampingkan siluet itu, desain keseluruhan sungguh apik dengan paduan unsur dekoratif yang menawan. Bolehlah saya acungi satu setengah jempol untuk itu.

Kemudian kita masuk ke cerita. Dimulai dengan prolog tiga bab, dengan setting klasik dunia persilatan, saat kelima pendekar Garuda berhasil mencegah turunnya Utusan Iblis, serta memukul mundur Ki Sangeti dan Ratu Lelembut yang menginginkan sesuatuh dari si Utusan Iblis.

Barulah kita akan masuk ke masa kini, berselang 666 tahun kemudian. Agak aneh rasanya menggunakan angka itu karena mitosnya beda. Dari awal ditekankan kalau para pendekar Garuda itu muslim, dari doa yang mereka baca. Tetapi simbol 666--the number of beast--itu apa? Asalnya dari bibel, tapi telah digunakan secara luas sebagai simbol persetanan di dunia nyata, termasuk literatur populer. Makanya, kesannya si penulis asal pinjam saja, karena simbolnya sudah terlanjur terkenal. Well, sayang sekali, menurut saya. Padahal, sekalipun tahunnya diganti menjadi 700 atau berapapun, tidak akan banyak berbeda. Toh, itu hanya tahun.

Setelah masuk pada masa yang ini, kita akan berkenalan dengan Jaka si anak Jakarta, ketua OSIS SMA Raya, yang ternyata memimpikan kejadian prolog itu. Hell, ternyata Jaka adalah keturunan/titisan dari pemimpin satria Garuda di masa lalu--Sentika! Itulah yang membuatnya tiba-tiba menjadi kuat dan jago kelahi, sewaktu tak bisa menghindari serbuan musuh bebuyutan SMA Raya, yaitu STM Rukun.

Yap, salah satu tema yang diangkat dalam novel ini adalah tawuran pelajar, sebuah potret realita (sebagian) pelajar di Indonesia. Memang tersirat, tetapi maksud pengarang mengangkat tema ini mungkin sebagai kritik kalau sebenarnya tawuran itu buruk, alih-alih memopulerkannya.

Yang unik adalah bahasa narasi yang menjadi sangat berubah jika dibandingkan dengan waktu prolog. Di sini, gaya bercerita si pengarang bisa menjadi sangat santai, bahkan terkadang naratornya tidak netral. Malah ada bagian narasi yang seolah berinteraksi dengan tokoh-tokoh di cerita. Breaking the 4th wall?? Yah ... semua itu tak masalah buat saya. Toh, mendukung suasana cerita, dan membuatnya menarik sehingga pembaca tak bosan mengikuti. Menurut saya.

Selanjutnya, setelah Jaka berhasil mengetahui identitas keduanya dengan menafsir mimpi, dia memulai pencarian anggota satria Garuda yang lain.

Singkat cerita, konflik dimulai saat rombongan SMA Raya berkemah di tempat yang jauh di pedalaman, yang ternyata merupakan tempat pertarungan pendekar Garuda di masa lalu. Keanehan mulai muncul, berikut dengan tanda-tanda turunnya sang Utusan Iblis. Jaka, si pemuda, akan mengalami dilema antara persahabatan, cinta monyet, krisis kepercayaan, dan tekanan akan kewajiban sebagai pendekar.
---
---
---
Karakter-karakter yang muncul di novel ini cukup menarik, digarap dengan apik. Meskipun mungkin masih terpaku pada konsep stereotip lima jagoan (mirip Power Ranger?). Ada si pemimpin, si besar, si pendiam, si lincah, dan si alim.

Pertarungan digambarkan dengan mendetail, karena memang sejatinya ini adalah kisah silat (dengan bumbu kesakitan tenaga dalam). Nama-nama jurusnya cukup apik, begitu pula dengan formasi barisan lima pendekar garuda.

Selain itu, latar ceritanya cukup asik karena terjadi di masa kini. Meskipun saya agak kuchiwa karena klimaksnya harus mengambil panggung di pedalaman. Andai saja pertarungan itu terjadi di Kota, pastinya bakal lebih dahsyat dan heboh! Meskipun saya sadari kalau itu mungkin akan menjadi sangat sulit ...
--
--
--
Oke, yang akan Anda dapatkan dari novel ini adalah cerita dengan gaya campur aduk, klasik-gaul. Ada jagad persilatan di mana siluman tak lagi berdiam di alam mereka. Ada kehidupan remaja SMA, lengkap dengan keluguan dan kekhilafan mereka. Ada "saving the world". Ada sedikit "chekov gun", saat Jaka mengulangi apa yang dikatakan Sentika pada pertarungan melawan Ki Sangeti. Semuanya terkumpul dalam satu novel yang cukup tebal.

Saya sendiri cukup puas menikmati novel ini, sekalipun twistnya tidak begitu sulit ditebak. Hanya saja, epilognya agak singkat, menurut saya.

Selebihnya, silahkan Anda nikmati sendiri, kalau kebetulan Anda menemukan buku ini di taman bacaan. Sebab sekarang, sepertinya sulit untuk menemui satu jilid pun di toko buku. Saya bahkan harus memesan langsung ke si pengarang.

Overall, saya kasih final verdict 3,75 dari 5. Mungkin ini memang selera saya, terlepas segala kekurangannya.
Profile Image for Hasan Irsyad.
Author 3 books3 followers
September 14, 2013
Novel ini keluar 2009, 2013 saya baru baca. Agal relat memang.

Awalnya karena sudah mendapat gambaran bahwa novel ini novel silat, saya pikir bahasanya akan menggunakan bahawa 'sopan santu, semiformal, dan kejawa-jawaan macam novel terbitan tiga kelana yang lain seperti Gajah Mada atau Penangsang. Pas baca bagian prolog sepertinya akan begitu. Tapi begita sampai di Bab 1, alih alih begitu, bahasanya seperti bahasa ala kaskus atau forum maya lainnya. Gak jelek sih, apa lagi ternyata isinya banyak memuat kisah ttng kehidupan SMA. Bisa bikin ketawa-ketiwi sendiri malah.

Plot cerita ini mengambil tempat dan waktu ketika anak2 SMA Raya berkemah. Tapi, penyebutan tempat kemah yang tidak jelas menandakan kurangnya riset yang dilakukan oleh penulis. Meskipun novel ini Low Fantasi, alangkah baiknya seandainya setting yang memang mengambil dunia nyata, dicarikan tempat yang memang nyata-nyata ada. Bukan hanya menyebutkan ditengah hutan di jawa tengah, tapi tidak jelas hutan apa bahkan masuk kota/kabupaten apa.

Mengenai Jaka, Bun, Ratih, dan Rani yang ternyata adalah keturunan pendekar garuda, sebenarnya sudah ketebak semuanya dari awal. Juga tentang Prasti dan Robby yang ternyata adalah musuh yang menyelinap. Tapi meski ketebak tidak terlalu masalah juga, karena penulis bisa mengalirkan cerita tentang terbukanya satu-demi satu identitas mereka dengan apik. Yang tidak habis pikir adalah kenapa keturunan pendekar garuda yang satunya lagi, malah jadi Jo. Waktu baca bagian prolog, kesan yang timbul di pemahaman saya tentang pribadi Rangga adalah kalem dan pendiam. Lha kok titisannya malah jadi JO? Mungkin Jo memang tidak banyak omong, tapi dia jelas banyak tingkah.

Pada bagian ketika para keturunan pendekar garuda sudah menjadi sakti, rasa-rasanya penulis terlalu banyak emngunakan kata 'ajaib', 'entah bagaimana', dan sejenisnya. Itu menimbulkan kesan bahwa penulis malas menjelaskan apa-apa yang seharusnya patut di jelaskan. 'Sakti ya sakti aja, gak tau kenapa bisa sakti' 'terbang ya terbang aja, gak tau gimana bisa terbang'. Bagian itu rasa-rasanya bertolak belakang dengan bagian awal (prolog) ketika penulis sukses menjelaskan bagaimana detail tentang utusan iblis, apa tujuan Iblis menciptakan makhluk itu, mengapa Tuhan bisa membiarkan itu terjadi, mengapa tidak ada di kitab suci, dan sebagainya. Mungkin sebaiknay kata-kata 'ajab' dan 'entah bagaimana' itu tidak dipakai.

Bagian Epilog mungkin menjadi bagian paling surprize buat saya. Saya pikir kisah antara Jaka dan Ratih akan berlangsung seperti roman-roman picisan. Dekat, berantem dikit, baikan, jadian, bahagia selamanya. Tapi rupanay penulis memberikan akhir menggantung, itu menjadi ending menarik bagi saya.

Cukup segini celoteh saya. Mohon diambil posotifnya saja. Mungkin agak kurang ajar cara saya mereview, jadi mohon maaf kalao ada beberapa hal yang menyakitkan hati.
Profile Image for F.A. Purawan.
Author 3 books21 followers
December 8, 2009
Ini rating yang sangat tidak obyektif, sebab ini buku yang saya karang sendiri, hehehe. Tapi sewajarnya saya berikan rating segini, sebab menurut saya buku saya tidak sama dengan rata-rata, walaupun mungkin bukan nilai bintang 5. Semoga berkenan. FA Purawan
Profile Image for Ardani Subagio.
Author 2 books41 followers
August 31, 2012
Oke, udah lumayan lama buku ini aku tahan review-nya.

Garuda 5. Buku lumayan tebal yang ditulis sama seorang Om Sotoy yang udah lumayan terkenal di jagad pereviewan fikfan Indonesia (Ehm, ehm)

Tentunya karena ditulis sama Om Sotoy, aku jadi berharap akan betapa sotoy kerennya buku ini nantinya. Apakah buku ini memenuhi harapan? Lihat aja di bawah.

Garuda 5 dimulai dengan sebuah prolog yang naudzubilah panjangnya. Prolog-nya sendiri memakan tiga bab, yang berisi kisah yang terjadi jauh di masa lalu yang menjadi mimpi dari para tokoh utama. Jadi bisa dianggap seperti sebuah flashback. Ditambah dengan satu lagi flashback dalam mimpi. Flashback-ception?

Mungkin, tapi ga bikin bagian prolog ini jadi mbosenin. Gerakan2 kung funya juga menarik dan keren diliat sewaktu para pendekar Garuda pake jurus meringankan tubuh. Cuman yang agak bikin swt itu waktu mereka membaca ulang kitab. Keliatan kaya dialog yang dipaksakan supaya pembaca tahu isi kitabnya.

Setelah itu para jagoan masa lalu kita melanjutkan tugas pergi menuju sebuah lembah untuk mencegah turunnya utusan iblis. Begitu mereka sampai di sana, ternyata bukan hanya mereka yang mengetahui tentang utusan iblis. Di sana juga ada Ki Sangeti, musuh bebuyutan pendekar Garuda, bersama dua belas muridnya. Ditambah Kanjeng Ratu Suromenjani, ratu dari bangsa siluman. Lengkap sudah lawan bebuyutan berkumpul.

Di sini adegan pendekar Garuda membatalkan rapalan Dua Belas Malaikat Pencabut Nyawa bisa dibilang keren. Apalagi melihat special effect cincin api itu juga membakar para Malaikat Pencabut Nyawa yang menyambut sang utusan iblis. Sekali tepuk dua lalat, deh.

Di adegan setelah ini, aku merasa sedikit aneh. Para pendekar Garuda awalnya datang ke lembah ini untuk mencegah kedatangan utusan iblis. Mereka berhasil mencegah kedatangan utusan iblis, sekaligus mengetahui keberadaan musuh bebuyutan mereka dan juga membunuh dua belas MPN (capek nyebut nama lengkapnya). Ini menurutku udah mission well done banget deh. Sentika dkk udah menyelesaikan tugas dari pendekar gila lebih bagus dari yang diharapkan.

Kalo misalnya aku jadi salah satu pendekar Garuda ini, aku bakal bilang sama Sentika kalo pekerjaan kita sudah selesai. Utusan iblis gagal datang ke dunia. Sekarang waktunya pergi, cari warung teh, dan bersantai sejenak setelah tugas berat.

Jadi, aku ga ngerti kenapa Sentika dkk harus turun lembah dan nantang Ki sangeti sama Kanjeng Ratu itu. Iya sih, mereka emang punya dendam sama Ki Sangeti, tapi aku ga ngerti kenapa mereka harus balas dendam sekarang. Mereka bisa aja ngelawan Ki sangeti lain kali, sewaktu Ki Sangeti ga lagi berdua sama ratu lelembut. Mereka bisa aja nyari Ki Sangeti dan ngelawan dia lain kali, dan lagipula tugas utama mereka sudah selesai. Ga ada alasan buat nyari perkara lagi sama Ki Sangeti.

"Tapi, Kang Dani," salah seorang pembaca berkata. "Bagian prolog tanpa adegan berantem habis-habisan itu nggak seru. Nggak menarik. Ntar kalo banyak pembaca protes terus minta adegan berantem super seru di bagian awal, gimana? Lagian, adegan berantem berikutnya kan masih lama."

Pendekar Garuda keenam itu pun manggut-manggut. "Hmm, bener juga. Baiklah. Ayo kita kasih pertunjukan yang keren ke pembaca. Biarpun kita bisa ngelawan Ki Sangeti lain kali dan kalo dia kalah hari ini Ki Sangeti bisa marah besar dan ngasih kutukan ke anak-cucu kita yang bakal ngerepotin mereka nantinya. Yang penting pembaca puas!"

Dan terjadilah aksi....

Maaf, sebentar.

*Cuci tangan dulu habis nulis nama sendiri Kang Dani*

Oke, review berlanjut. Setelah kedatangan utusan iblis digagalkan, para Pendekar Garuda menghadapi Ki Sangeti yang dibantu sang ratu lelembut. Di sini, adegan pertarungan ditampilkan memang keren. Terutama aksi formasi pendekar Garuda waktu menghadapi si ratu Suromenjani. Tempo cuma sedikit berkurang waktu ada penjelasan "job description" masing-masing pendekar Garuda dalam formasi mereka, tapi itu bukan masalah besar kok. Ini salah satu dari dua adegan battle paling keren dalam buku ini. (satu lagi adegan tepat di akhir bagian pertama. Selain itu, adegan battlenya kerasa... biasa aja)

Dan setelah prolog yang luiar biasa panjang itu, akhirnya cerita mulai menyentuh kehidupan sang tokoh utama. Jaka, ketua OSIS yang sudah beberapa bulan mendapat mimpi aneh tentang para pendekar Garuda. Tempo sedikit melambat dalam upaya untuk memperkenalkan para karakter di buku ini. And this is where Garuda 5 got its first bad mark.

I suck at remembering people's names. Especially if they sound so similar to each other and there are nothing distinguishable about the character who bears that name. Dan di bagian awal ini, juga di beberapa bagian di bagian satu yang agak jauh ke dalam buku tapi masih bisa disebut awal, ada banyak banget perkenalan karakter yang mereka cuma disebut nama. Nama dan posisi jabatan, sebenarnya, tapi kita semua (paling nggak aku) tidak mengingat orang dengan jabatan mereka. Kita mengingat mereka dari ciri wajah dan sifat mereka. Dan kalau aku dibanjiri sekian banyak nama karakter tanpa ada penjelasan yang jelas, aku bakal lupa sama karakter itu di halaman berikutnya.

Dan terjadilah, hujan karakter ini sering bikin aku bingung tiap kali karakter yang udah diknealin muncul lagi. Aku sempet bingung yang kecil imut itu Ratih, atau Rani. Dan banyak nama2 lain yang aku ga sempet inget, apalagi masih ada banyak karakter baru yang dikenalin di tengah cerita nantinya.

Dan semakin cerita bertambah jauh, kecepatanku membaca buku ini semakin lama semakin lambat. Bukan cuma masalah nama, dua hal lain yang sangat menggangguku sewaktu membaca adalah 1) Narator iseng dan 2) Dialog yang terasa campur aduk.

Kenapa naratornya aku sebut narator iseng? Karena dia suka datang tak dijemput, pulang tak diantar mendadak muncul di tengah cerita dengan komentar-komentar gaje yang bikin si narator iseng ini bertingkah seperti karakter tambahan. Kadang-kadang muncul dan mengomentari sesuatu dalam cerita, padahal si narator ini tidak pernah diperkenalkan lebih dulu kepada pembaca siapa dia sebenarnya?

Belum lagi karena si narator ini suka mendadak komentar pakai footnote ala trilogi Bartimaeus. Kalo di Bartimaeus aku bisa menerima dan enjoy aja dengan semua footnote Bartimaeus, karena aku tahu itu Barty yang ngomong. Di buku ini, aku ga tau siapa yang ngomong semua lelucon dan komentar di footnote karena dia mendadak dateng trus pergi gitu aja.

Kalau misalnya narator iseng ini diganti dengan inner thought salah satu karakter, cukup satu aja, aku bisa menerima komentar gajenya yang mendadak muncul. Tapi kalo ga, yaa dia kerasa mengganggu banget. Rasanya kayak lagi asik nonton bioskop, terus temen di samping kita ngasih komentar soal jalan ceritanya. Ga asik, ga asik.

Lalu, dialog. Ini salah satu hal yang bikin aku "kelempar" dari ceritanya. Dialog, pada dasarnya harus terasa natural bagi orang yang mengatakannya. Karena para tokoh utama dalam novel ini adalah anak SMA, aku mengharapkan, dan bisa menerima, kalo dialog mereka banyak yang ga pake EYD. Mirip2 dengan dialog di teenlit2 yang emang isi ceritanya mayuoritas anak SMA.

Tapi, selain dialog ala anak SMA yang ga nurut pakem EYD itu, dialog para karakter ini juga terkadang diisi dengan kata-kata baku yang kayanya ga dipake sama anak SMA kalo lagi ngomong sama temennya. Belum lagi kalo kalimat baku dan ga baku itu ada dalam tanda kutip dialog yang sama, bukannya lancar dialognya malah kerasa kaya dialog drama. Terasa kaku dan seakan sudah dihafalkan sebelumnya.

And to cut the review short, let's get on to the second biggest problem I had with this book. One that reduces my enjoyment of reading to little pieces and forces me to skip the whole book right down to the ending. Head hopping.

Head hopping adalah kejadian sewaktu POV karakter dari satu adegan mendadak berubah dari satu tokoh ke tokoh lain. Misalnya di satu adegan kita sedang membaca pikiran dan pendapat Jaka atas sesuatu, lalu tiba-tiba dalam adegan yang sama kita juga membaca pikiran dari Ratih. This is head hopping, and I don't find it enjoyable.

Kenapa? Karena aku akan kehilangan fokus dari karakter utama yang sedang menjadi mata bagi para pembaca di adegan itu. Kalau mata bagi pembaca ini berganti setiap beberapa paragraf, fokus bagi pembaca juga akan terus berganti sebanyak itu. Ini masalah yang juga kutemui di buku Mampus Bakalan Datang, tapi berhubung buku itu tipis jadi tidak sampai bikin aku ilfil.

Nah, berhubung Garuda 5 ini nyaris setebal buku Harry Potter, head hopping ke berbagai karakter dalam satu adegan ini bikin aku geregetan setengah mati. Apalagi kalo ada head hopping di tengah adegan battle. Grraahh!!! Bikin battle-nya jadi super lamban!

Ngomong2 soal battle terlalu lamban ini, kayanya ga cuma gara2 banyaknya head hopping deh. Mungkin masalahnya juga karena penulis terlalu detail menulis adegan battle-nya. Bukannya detail itu ga boleh, tapi coba bayangin kalo jurus "tendangan tanpa bayangan"-nya Wong Fei Hung mendadak dipause, trus diputar ulang dalam gerak lambat cuma supaya kita bisa ngeliat bayangan dari "tendangan tanpa bayangan"?

Soo boring and unnecessary. Tanpa melihat detail-nya sekalipun, pembaca sudah bisa membayangkan sendiri adegan battle super keren dan super cepat ala film2 kung fu. Menambahkan detail terlalu banyak buatku malah bikin battle jadi super lambat dan sekaligus mengurangi kekerenan adegan silatnya itu sendiri.

So, that's it. Aku sengaja ga mbahas soal cerita karena aku bacanya memang banyak ngeskip bab dan paragraf, jadi mungkin ada beberapa plot hole buatku yang sudah dijelasin di bab yang aku skip. Adegan silat di buku ini emang keren, tapi keberadaan narator iseng itu bener2 ngerusak pengalaman membaca.
Profile Image for Manikmaya.
99 reviews40 followers
September 9, 2012
Novel Garuda-5 adalah satu dari sedikit novel fantasi anak bangsa yang menggunakan setting dan budaya lokal Indonesia (dalam hal ini budaya-budaya Pulau Jawa - lebih tepatnya budaya silat).

Novel ini dibuka dengan sebuah prolog yang full battle, jujur saja konfliknya langsung tinggi tapi samar(namun itu juga yang membuat saya terpacu untuk terus membaca buku ini). Inti utama dari buku ini adalah pada prolognya. Sebagai seseorang yang suka 'iseng' mempelajari soal mitos-mitos orang sakti dan pendekar silat (walau sama sekali ga berbakat -_-), novel ini menunjukkan kembali pada saya mengenai aneka bentuk ilmu silat yang sudah hilang ditelan masa seperti Bayu Bajra (ilmu meringankan tubuh dan melenting di atas pepohonan yang digunakan oleh Sentika dkk.), Tinju Seribu Pendekar (milik Rani), Tarian Pedang (milik Rani), jurus-jurus pantrem (milik Pramesti), dan pukulan-pukulan maut silat tangan kosong (milik Rangga).

Dari sisi cerita utamanya, novel ini mengambil sebuah setting yang sangat berbeda. Alih-alih mengambil setting SMA populer dengan reputasi bagus, SMA Raya adalah SMA 'Pinggiran' dan terkenal karena sering tawuran. Oke, ada satu hal lucu di sini... di mana lawan utama tawuran SMA Raya adalah sebuah STM (yang seharusnya sekarang disebut SMK) yang bernama STM Rukun. Oke... 'Rukun' dari Hongkong? Hobinya berantem gitu?

Kita beralih ke awal mula konflik, yakni sebuah jambore anak-anak SMA Raya di sebuah lembah di Jawa Tengah. Oke! Deskripsi tempat kemahnya, model tendanya, kondisi hutannya sangat-sangat detail. Wooo!!! Seharusnya penulis-penulis lainnya bisa gambarin kondisi hutan sedetail ini dong! Biar wanawisata mulai dilirik oleh anak-anak muda (oke... ini agak terpengaruh promosinya Departemen Kehutanan).



Akhir ceritanya memang kurang seru, tapi masuk akal. Menunjukkan pada kita tentang aneka rupa kepribadian jiwa-jiwa muda. Dalam hal ini kita ditunjukkan akan Jaka yang sulit untuk bangkit dan sadar akan kekeliruan yang ia buat dibandingkan dengan kawan-kawannya. Bagaimana kita lihat seorang pemimpin Pendekar Garuda dijatuhkan dengan keras oleh seorang wanita dan sulit untuk bangun kembali. Alih-alih ia menanggapi cinta seseorang yang sedari dulu mencintainya dengan tulus, ia malah menutup diri dan memilih menjauh dari gadis yang tulus mencitainya itu-membiarkan alam pikirannya terus mengenang akan kebersamaannya dengan wanita dari pihak musuh.

Profile Image for Dewi Kirana.
Author 2 books20 followers
March 15, 2012
Sewaktu menerima kiriman buku ini, sejujurnya aku belum bermaksud untuk langsung membacanya. Yang pertama karena jumlah halamannya yang terhitung banyak, yang pastinya akan makan waktu yang nggak sedikit, dan konsentrasi yang juga nggak sedikit, untuk menyelami buku ini. Plus, sewaktu menerima buku ini, statusku sedang “transit” sementara di rumah Jakarta, harus menemui teman-teman, harus ikutan beberapa acara, sebelum akhirnya harus balik ke Balikpapan hanya dalam jangka waktu dua hari saja. Dengan agenda yang cukup ribet seperti itu, aku memutuskan untuk menunda membaca buku ini.

Namun karena nggak tahu mesti ngapain sambil nunggu janjian dengan seorang teman jam 10 pagi, akhirnya aku menyerah dan mulai membaca bab-bab awal buku ini, dengan maksud iseng, ngisi waktu, nggak serius, dan sekedar pengen tahu gimana awalan buku ini.

Dengan sangat terkejut aku mendapati diriku (nyaris) tidak dapat berhenti membaca buku ini. Kalau nggak inget-inget mesti ketemu temen, udah nggak akan berhenti deh bacanya.

Baca selengkapnya di blogku :)
Profile Image for Hobby.
1,062 reviews2 followers
December 31, 2013
Actual Rate : 3.5 of 5

Mmmm... asli agak bingung mau beri rating 3 atau 4, jadinya ambil jalan tengah 3.5 deh (^_^)
Ide kisah ini menarik, sebagaimana kisah silat yang menjadi bacaan kegemaranku semasa kanak-kanak hingga remaja (sekarang aslinya masih suka, cuman sulit menemukan bacaan yang "pas' dengan seleraku, seperti karya Kho Ping Hoo atau R.A. Kosasih. Dengan memadukan unsur etnis dan petualangan, ditambah bumbu ala sci-fi dengan penitisan di abad ke-20, jujur dalam membaca kisah ini, emosi serta mood-ku mengalami posisi 'naik-turun' berulang-ulang.
Dibuka dengan adegan yang mengundang rasa penasaran (sudah terbayangkan adegan pertarungan ala srial drama 'Saur Sepuh') eh, mendadak kisahnya diputus dengan kegagalan di pihak antagonis, dan ancaman untuk menuntut balas di kemudian hari (entah kapan). Masih (sedikit) shock dengan perubahan dan pemindahan seting secara mendadak, pembaca dibawa ke masa modern, abad ke-20, dimana kisah dibuka akan adegan 'pertarungan' antar siswa-siswa SMA di Jakarta hal ini sepertinya merupakan kenangan ‘masa remaja’ sang penulis ya :D xixixi)ketika saat adegan pertarungan hendak dimulai, muncul sebuah fenomena aneh pada salah satu siswa sekolah.

more about this book, just check my review at here :
( still in progress )
Profile Image for Pra .
220 reviews185 followers
sudah-punya-tapi-belum-dibaca
May 12, 2010
akan dibaca seusai Pacar Merah Indonesia
Profile Image for Shiki.
215 reviews34 followers
August 31, 2014
好みによっちゃは上出来とも言えるけど、オレには「まぁまぁ」かな?
キャラ多すぎて覚えるのが大変。
物語事体はしっかりしてて書き方も丁寧だからあんまり文句言わない。
Displaying 1 - 15 of 15 reviews