Jump to ratings and reviews
Rate this book

The Boy Who Ate Stars

Rate this book
Having recently moved to a Paris apartment with her family, twelve-year-old Lucy meets her four-year-old, autistic neighbor, Matthew, and befriends him in her own understanding and special way.

107 pages, Hardcover

First published January 1, 2004

16 people are currently reading
311 people want to read

About the author

Kochka

102 books2 followers
Kochka vit dans la Sarthe. Auteure de romans, dont Le voyage de Fatimzahra chez Flammarion jeunesse. Elle s’est approprié avec brio ce conte des Mille et Une nuits, comme elle l’a déjà fait avec les Classiques Les Musiciens de Brême, Raiponce ou encore les albums Le joueur de flûte de Hamelin des frères Grimm, ainsi que Bambi de Felix Salten. Elle a également écrit Frères d’exil, roman illustré par Tom Haugomat.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
96 (18%)
4 stars
184 (36%)
3 stars
165 (32%)
2 stars
49 (9%)
1 star
12 (2%)
Displaying 1 - 30 of 116 reviews
Profile Image for Jimmy.
155 reviews
June 13, 2009
Anak siapa sih ini, rakus amat kok sampe menelan bintang segala...

Yessss..buku buat materi siaran (minggu depan) ini cukuplah tipis, tapi lebih baik segera diselesaikan, sampulnya aja sudah menggoda...aihhh...
====================================================================

Ketika Matthew masih bayi, dia suka menjerit-jerit dan berputar-putar dan berteriak. Tapi dia hanya menangis dua kali. Dan kedua peristiwa menangisnya Matthew terpatri dalam kenangan Marie.

Yang pertama, Matthew berumur enam bulan. Waktu itu, mereka belum mengenal Maougo. Matthew hendak tidur di bawah patung kura-kura, matanya terpaku pada cermin-cerminnya. Terdengar nyanyian dari radio. Tiba-tiba, sesuatu membuat Marie memandang putranya. Mata anak itu dipenuhi air mata.

“Aku mengangkatnya,” cerita Marie pada kami, “menangis dan basah, tapi tidak bersuara. Padahal tampaknya dia tidak lapar atau sakit. Dia tidak pernah menangis gara-gara lapar atau sakit…”

Pada saat itulah seorang teman Marie berkata, “Nyanyian itulah penyebabnya. Kau lihat kan, bagaimana dia mendengarkannya?” Dan memang benar, ketika nyanyian itu selesai, Matthew tenang lagi dan kembali memandangi kura-kuranya.

“Aku dulu mengira bayi hanya menangis kalau ingin makan atau ingin dipeluk,” Marie menambahkan. “Tapi Matthew menangis benar-benar karena emosi.”

Malam itu, untuk pertama kalinya, Marie menyadari putranya istimewa. Dia memiliki Raja Hati dalam keluarganya.

Kali kedua Matthew menangis, dia baru saja memecahkan botol kacanya. Marie menjajarkan semua botol lain untuk menunjukkan kepadanya bahwa itu tidak apa-apa. Dia bahkan turun dari flat-nya untuk membeli botol baru – persis seperti botok yang tadi pecah. Tapi sia-sia saja. Mata Matthew terus mencucurkan air mata. Baginya, benda-benda baru tidak akan bisa menggantikan benda-benda lama. Itu namanya cinta sejti. Anak itu bahkan begitu sedih, sampai-sampai dia melakukan mogok makan setelah berhenti menangis. Tidak ada suara dan tidak ada makanan lagi. Dia ingin mati demi solidaritas pada botoh yang pecah. Dua hari kemudian, dia pingsan gara-gara kelaparan. Akhirnya dia dibawa ke rumah sakit.


..............

Ketika berumur 11 tahun, saya pernah melihat seseorang yang “terkurung” di teras rumahnya berpagar besi yang sangat tinggi. Sebenarnya, lebih pantas disebut sebuah kerangkeng dari sebuah teras rumah. Tubuhnya besar, mungkin umurnya saat itu sudah 20-an tahun. Dia hampir tidak bisa berjalan, bicaranya pun tidak jelas, hanya berupa teriakan yang lebih mirip erangan. Ketika melihat orang-orang yang lewat dari depan rumahnya, dia hanya bisa tersenyum, tertawa kecil dan mencoba bersuara lewat erangannya. Keadaannya sungguh tidak terawat. Di “kerangkeng” itulah dia beraktifitas, mulai dari makan, minum, tidur, buang air besar dan kecil. Mungkin keluarganya tidak tahu bagaimana harus merawat dia, entahlah... Orang-orang mengatakan kalau dia itu gila, dan karena ketidaktahuan, saya pun setuju menganggap dia gila. Sampai akhirnya saya tahu kalau dia hanya seseorang yang memiliki “kebutuhan khusus”.

Sekian tahun kemudian, ketika akhirnya saya mendapatkan kesempatan mengajar di sebuah sekolah yang memungkinkan murid-murid yang berkebutuhan khusus (istimewa) untuk belajar bersama dengan murid-murid pada umumnya, dibenak saya sempat terbersit sebuah tanya keraguan,” Bagaimana saya harus “berhadapan” dengan anak-anak istimewa ini?” Tapi saya percaya, keberadaanku di suatu tempat bukan karena suatu kebetulan, tapi ada tujuannya. Dan, saya juga percaya, Tuhan tidak pernah salah “racik” dalam mencipta manusia. Dapat dipastikan, anak-anak istimewa itu bukanlah cipataan yang salah. So, the show must go on!

Minggu pertama, saya mengajar di kelas Mark (bukan nama sebenarnya), dia adalah salah satu dari anak-anak istimewa ini. Untuk beberapa saat, saya menerangkan materi pelajaran hari itu, dan saya melihat kalau Mark sama sekali tidak melihat ke arah saya. Dia hanya fokus memandang ke satu arah, dan yang pasti bukan ke saya. Saat itu, saya berpikir kalau dia sedang tidak tertarik dengan materi yang sedang saya ajarkan. Saya memintanya untuk memperhatikan saya, namun itu cuma berlangsung beberapa detik karena dia segera kembali memandang ke tempat lain. Dan, saat saya mengajak anak-anak kelas itu berdikusi, Mark hanya diam saja saat teman-temannya begitu bersemangat mengemukakan pendapatnya masing-masing. Saya mengira kalau tubuhnya memang ada di ruang kelas, tetapi pikirannya entah berada dimana. Saya berpikir lagi, bagaimana saya membantu anak ini. Namun, saat saya memberikan kuis serta workshop, dengan tulisan yang seadanya tapi masih bisa saya baca, Mark memberikan jawaban yang mengubah kekuatiran saya menjadi kekaguman. Dia memang tidak pernah melihat ke arah saya, tapi segenap perhatiannya tertuju kepada saya, dan materi yang saya berikan dapat dia terima dengan baik.

Berhadapan dengan anak-anak istimewa ini memang gampang-gampang susah. Tidak semua orang mampu, apalagi mau. Misalnya, Luke (nama samaran lagi nih) yang memang bisa saya ajak berkomunikasi lewat kata-kata, namun bagaimana pun juga, saya harus membedakan cara saya berkomunikasi dengan dia dan dengan anak-anak yang lain. John hampir saya dengan Mark, dia tidak pernah melakukan kontak mata dengan saya, kecuali saya memintanya untuk melihat ke mata saya. Dan, itupun hanya bisa bertahan beberapa detik, karena dia akan segera fokus memandang ke monitor komputer. Sejak itu saya sadar, ternyata layar monitor lebih enak dipandang dari wajah saya. Kurang ajar!!! Hehehe… Tapi hebatnya, dia selalu bisa menangkap materi yang saya ajarkan.

Anak-anak yang istimewa ini memang tidak selalu mempunyai kebutuhan yang sama, dan dibutuhkan orang-orang yang memang benar-benar perduli terhadap mereka. Tidak hanya rasa peduli, orang-orang ini harus mempunyai kesabaran tingkat tinggi. Sama seperti Marie, Lucy, Theo, dan Maougo, saya juga mengenal seseorang yang sudah lama bergelut dengan seorang anak istimewa ini, sebutlah namanya Ariana. Saya sering melihat, bagaimana Ariana sedemikian sabarnya mendampingi anak istimewa ini menjalani aktifitasnya sehari-hari, sampai akhirnya sang anak tidak lagi hanya terkungkung dalam dunianya sendiri, tapi malah bisa berinteraksi dengan orang lain. Dan kalau lagi bergosip dengan Ariana, banyak cerita lucu yang terjadi berhubungan dengan si anak istimewa ini.

Sebagian orang menyebut mereka orang-orang yang tidak berguna, namun saya menyebut mereka orang-orang yang hebat. Mereka juga orang-orang yang tulus dan jujur. Mereka mungkin akan terlihat tidak berguna ketika kita melihat mereka hanya dengan mata, karena mata kadang-kadang tidak sanggup menangkap apa yang penting. Tapi, cobalah melihat mereka dengan hati, dan kita akan menemukan betapa hebat dan istimewanya mereka.

Seperti yang dituliskan oleh Lucy…
Tadi malam, aku berdiri untuk menempelkan sebuah bintang di bawah tempat tidur mezaninku. Itu untuk Matthew, anak yang merupakan planet tersendiri. Supaya bisa mengenal planet itu, kau harus menyingkirkan berbagai aturan dan prasangka dan bahasa, dan melemparkan dirimu kepadanya tanpa rasa takut mengikuti perjalanan menembus angkasa luar. Kalau sudah besar nanti, aku ingin mengajar anak-anak austik. Matthew adalah pertempuranku sendiri dengan planet-planet!



Profile Image for Sweetdhee.
514 reviews115 followers
September 1, 2010
masih meledek orang yang asik dengan HP atau laptop sendirian dengan sebutan autis?

kalimat tersebut saya temukan dalam sebuah email yang menceritakan perjuangan seorang ibu dalam membesarkan anaknya yang autis. Entah cerita itu nyata atau tidak, tapi jelas sudah menggugah hati saya untuk berhati-hati menyebut kata autis.

Seorang teman juga mempunyai sepupu kecil yang autis yang pernah saya rasakan saat 'kejahilan'nya muncul.
*pegang-pegang pundak yang dicengkeram keras selama 15 menit.. auch!*

Tidak mudah, memang..
Sangat tidak mudah bahkan..

Melihat cerita keluarga Matthew -4 tahun- dari sudut pandang Lucy -12 tahun-, saya sungguh berharap semua keluarga mempunyai kesabaran yang sama. Dengan atau tanpa anak autis. Kesabaran yang menurut saya sungguh agung. Andai saya punya sedikit saja kesabaran Marie dan Maougo, saya pasti tidak akan begitu banyak membanting telepon, menyumpah serapah, menyepelekan orang, panik.. lho, kok jadi curhat? hehehe..

Lucy bertekad mengenal tetangga-tetangga di flatnya yang baru. Tapi menemukan Matthew mengacak-acak rambut Marie dan Maougo membuat Lucy merasa cukup. Mengenal Matthew berarti mengenal dunia unik. Bersama Theo(dora)- teman sekelasnya, juga Francois- anjing titipan, mereka menikmati dunia Matthew. Dunia dimana mereka bisa melihat Matthew menelan bintang.

Jadi, masih meledek memakai kata autis?

PS: iyah, desain sampulnya emang keren.. jadi ikuta ngepens sama Satya.. ehhehehe *lirik2 echa*

********************************
bagus, cuma ada satu yang janggal
nama Theo tiba-tiba muncul tanpa diperkenalkan hubungannya dengan Lucy itu apa..
udah bolak-balik halaman-halaman awal, ga nemu-nemu juga..
Profile Image for Hui Lin.
73 reviews
January 27, 2010
This book is about a story that's taking place in Paris. It's about Lucy's experiences with the 4 year old autistic Matthew, who lives in her apartment building. When Lucy's family move in, her goal was to all the neighbors, but when met Matthew, all her plans changed. Lucy found that Matthew is like no one she ever met before. After Matthew's mom explains to Lucy what autistic is she invited her to spend time with her Matthew to help him become more sociable. As Lucy spent more time with Matthew, she starts to understand his inner world, the way he communicate and think. At the end of the book, Lucy said she wants to teach autistic children when she grow up, she found them very different, they live in their "own planet" and she really curious about what they are really thinking inside. This is the fourth book that I had read about people that have some kind of mental problems, and I found that they are pretty interesting, because from these books, I also learn a little about what peopel that's different from us really thinks inside.
Profile Image for Dini.
409 reviews11 followers
October 21, 2008
Buku ini berkisah tentang Lucy, anak perempuan berumur dua belas tahun di Paris, yang mendapat pengalaman baru setelah mengenal seorang anak autis berusia empat tahun bernama Matthew. Tidak seperti orang pada umumnya yang melihat autisme sebagai suatu kekurangan atau keterbelakangan, Lucy dan temannya, Theodora, menganggap tingkah laku Matthew unik dan istimewa. Bukannya tidak bisa berkomunikasi dan terpisah dari realitas, di mata anak-anak yang polos itu Matthew memiliki kontak yang amat kuat dengan realitas dan benda-benda, hingga Lucy berkesimpulan Matthew adalah makhluk luar angkasa.

Sayangnya selain perspektif berbeda terhadap anak berkebutuhan khusus, saya tidak mendapat sesuatu yang "lain" dari buku ini. Mungkin karena kisahnya begitu singkat sehingga terasa tidak dikembangkan secara maksimal. Misalnya bagaimana awal mulanya Mauogo, pengasuh Matthew yang tidak pernah berbicara pada orang lain, bisa berkomunikasi dengan Matthew dengan caranya sendiri? Apa pula korelasi antara kisah Matthew dengan Francois, si anjing pemalu milik teman ibu Lucy? Petualangan Lucy dan Theo dalam "menyelami" dunia Matthew seperti dikatakan di sampul belakang buku pun menurut saya tidak begitu dalam, tidak banyak hal yang terjadi pada mereka. Apakah karena ditujukan untuk semua umur, maka jalan ceritanya cenderung sederhana? Bila dibandingkan dengan The Curious Incident of the Dog in the Night-Time yang sama-sama membahas isu anak berkebutuhan khusus, saya merasa buku ini biasa saja. Meski demikian sang pengarang tetap patut diacungi jempol untuk temanya yang mengusung toleransi dan simpati terhadap sesama manusia.
Profile Image for Bunga Mawar.
1,356 reviews43 followers
September 5, 2008
Inilah buku yang mungkin bisa disebut sebagai buku pegangan "pengenalan penderita autistik bagi pemula" :) Dengan mengambil sudut pandang anak-anak yang polos dan bahasa sederhana, orang yang tidak dekat dengan dunia autistik bisa mencoba memahami keterbatasan (atau justru keluasan) dunia penderitanya.

Lucy menjadi narator buku ini, anak sekolah berusia 12 tahun yang bersama orangtuanya pindah ke apartemen baru di Paris, Perancis. Di apartemen itu ada Matthew, bocah empat tahun yang menderita autistik. Perilaku Matthew yang suka mengusik-usik rambut orang lain mengusik Lucy. Setelah mendapat penjelasan dari Marie, ibu Matthew, Lucy dan sahabatnya Theo berusaha membuka dunia lebih luas bagi Matthew. Usaha ini melibatkan pula Francois, anjing kecil pemalu milik pasangan kenalan orangtua Lucy.

Tanpa penjelasan banyak tentang Lucy, gadis kecil ini jadi agak-agak mirip dengan Anastasia Krupnik, bocah Amerika dalam serial karangan Lois Lowry yang terbiasa mengambil langkah sendiri bila menghadapi hal baru. Dia suka beradu pendapat dengan orangtuanya, dan suka membuat catatan peristiwa yang dijalaninya. Ciri Lucy lainnya (yang juga ada pada Anastasia): bertindak dulu, resiko belakangan.

Hal yang terasa lebih mendesak saya rasakan saat membaca buku ini: a feeling that something was lost.

Ini perasaan yang sama ketika tahun 2001 lalu saya langsung membaca dua edisi Le Petit Prince-nya St. Exupery. Yang satu adalah edisi bahasa Perancis yang diterbitkan Gallimard (dan di bagian belakangnya ada trivia yang menarik banget). Satunya adalah terbitan Pustaka Jaya yang diedit oleh almarhum Wing Kardjo, kalau tidak salah terbit tahun 1984. Saya langsung menyukai dua-duanya, artinya memang terbitan PJ itu diterjemahkan langsung dari karya St. Ex en Francais. Belum lagi kita tahu kualitas Pak Wing, terutama dari nilai sastra beliau.

Lalu sebuah penerbit lain kemudian menerjemahkan kembali si Pangeran Cilik ini, kalau tidak salah Penerbit Jendela, demikian pula Gramedia. Di dua buku inilah perasaan "something lost" muncul. Saya tidak merasa bahwa sesi pertemuan sang Pangeran dengan rubah merupakan pertemuan yang mengharubiru (bagian favorit saya!). Ternyata, lepas dari kualitas penerjemahan, dua edisi ini diterjemahkan bukan dari bahasa asli. Yah, inilah resiko penerjemahan ganda.

Demikian juga saat membaca karya penulis kelahiran Libanon ini. Karya asli berbahasa Perancis diterjemahkan ke bahasa Inggris, lalu dialihkan lagi ke bahasa Indonesia. Tak bisa dimungkiri pasti banyak yang hilang, terutama masalah "rasa" yang seperti tidak "sesedap" aslinya. Saya bisa menangkap kalau ini buku yang baik, tapi memberi lebih dari 3 bintang tidak mungkin karena saya tidak menangkap emosi dari edisi ini.

Walau belum tentu juga kalau saya membaca buku edisi Perancisnya, bintangnya bisa bertambah :)
3 reviews
Read
September 9, 2012
The Boy Who Ate Stars is a well-written novel about 12 year old Lucy who promised herself that she’d get to know all her neighbours after moving into a new apartment with her parents. However, her zeal for this objective is short lived when she meets Marie and her autistic son Matthew, a 4 year old like no other, who by her own definition of autism is withdrawn “into an interior world resulting from such a strong contact with reality that people can become objects”. This subsequently leads Lucy on a task to understand Matthew better as well as discovering the world from his perspective.

The Boy Who Ate Stars is not like other books aimed at children as it revolves around the development of a child with learning difficulties. Having said that, even though the novel is well written and defines unfamiliar words such as ‘era’ and ‘sympathy’ along the way, the book will be better understood with the assistance of an adult due to the sensitivity of the subject, a point which is clearly illustrated during the early stages of the story when Lucy asks 3 different adults, her parents and teacher, about what autism is and how they also struggle in finding the right words to describe it to a young child.

Although the topic of the story might be quite difficult for young children to comprehend, it teaches them the importance of respecting and understanding individuals who are considered “different”. Like Lucy, it may even encourage them to interact and assist children with learning difficulties, be it in school or within their own neighbourhood. Furthermore, the novel educates a wide range of people from all age groups about an issue which is often untouched in society. Personally I knew very little about Autism, but this moving tale of friendship and trust gave me a better understanding into the mind of an autistic person as well as explaining their erratic behaviour.
Profile Image for Lisa Vegan.
2,913 reviews1,316 followers
July 29, 2009
I have such mixed feeling about this book. It bothered me because it made a fairy tale out of autism, which is a heartache for so many. However, it was well written (I can’t speak for the translation) and poetic, and I do believe it “got” autism right.

I particularly love the sub-plot about the dog.

I love that the girl narrator mentioned Joseph Kessel’s book The Lion, a book I loved (although not as much as the movie, a rare occurrence for me) and is a sort of fairy tale itself.

I was simultaneously irritated and enchanted by this story.

I do think that it might be a good book for children who do not understand autism, especially if they know any other children who are diagnosed with autism.
Profile Image for Roos.
391 reviews
October 30, 2008
Thanks to Dian, dah mau swap buku ini.

Update 10 September 2008:
Terlepas dari terjemahannya yang sedikt membingungkan...Buku ini Bagus. Bagus dalam arti mengajarkan bagaimana ber-Simpati dan ber-Komunikasi dengan manusia entah itu yang normal dengan satu bahasa, normal dengan beda bahasa, anak Autis dan Binatang.

Bercerita mengenai Lucy, yang baru pindah ke flat baru dan mempunyai cita-cita untuk mengumpulkan semua bendera negara asal tetangga-tetangga barunya...ternyata rencananya kurang berhasil sejak terdengar suara berisik di lantai atas flatnya. Yup, itu adalah suara Matthew tetangga di Flat atas yang ternyata adalah Anak Autis. Dari rasa penasarannya mengenai Autis dan tingkah laku Matthew, Lucy mulai mengadakan penelitian mengenai apakah Autis itu...
Di bantu temannya Theo dan seekor anjing rumah yang berbulu halus Francois...penelitian dimulai.

Dari pengenalan dan pengamatan terhadap Matthew, Lucy menyimpulkan bahwa: Autisme adalah penarikan yang tidak biasa ke dalam dunia batin akibat kontak yang begitu kuat dengan realitas, sehingga manusia bisa menjadi benda.

Hebat khan anak seumur Lucy ( 12 th ) sudah bisa menyimpulkan keadaan Temannya yang Autis seperti itu, pake menggabungkan interaksi antara Matthew dan Francois, terus ada Balthazar yang berusaha memahami Matthew dengan musik drum dan tamanya...

Simpati: adalah suatu kencenderungan naluriah yang membawa dua orang untuk mendekat satu sama lain. Ikut tenggelam dalam kegembiraan dan kesedihan, perasaan yang menunjukkan kebaikan hati. Yah si Lucy terhadap Matthew.

Komunikasi: menyampaikan, mengungkapkan, berbagi.
Yang hebat dari buku ini mengenai komunikasi yang terjadi antara Matthew yang Autis dengan Marie-ibunya, Maougo-pengasuh yang tidak satu bahasa, Lucy-tetangganya, Francois si Anjing dan Balthazar-dengan musiknya. Dari situ sudah menimbulkan saling pengertian yang dalam diantaranya. Dari bahasa tubuh.

Dan seperti kata Lucy: Kau hanya bisa melihat dengan hatimu, sebab matamu tidak sanggup menangkap apa yang penting. Sepertinya kesimpulan akhir dari penelitian Lucy dan Theo mengenai Matthew, Keren banget. Meskipun mereka memerlukan Perjuangan, Kepercayaan dan Keberanian.

Two Thumbs Up!!!!



Profile Image for Miss Kodok.
220 reviews18 followers
October 30, 2009
Buku yang bercerita tentang autisme selalu menarik buat saya. Bukan karena kebetulan sehari-hari saya bergelut dengan dunia ini, tetapi bagi saya pribadi, para penyandang autis (autistik) adalah manusia-manusia yang sangat unik dan menarik.

Banyak orang yang melihat autisik sebagai mahluk 'aneh' yang membuat mereka enggan untuk berdekatan. Bahkan tak jarang ada yang mencemoohkan dan mengolok-olok mereka, hal yang teramat sangat membuat saya marah dan sangat sedih.

Autisme: adalah penarikan diri patologis ke dalam dunia batin yang mengakibatkan hilangnya kontak dengan realitas dan ketidakmampuan berkomunikasi dengan orang lain.

Jadi autistik bukanlah sesuatu yang menakutkan. Tuhan menciptakan mereka (tentu bukan tanpa maksud) sedikit berbeda dengan kita, yang bagi beberapa orang disebut sebagai 'kekurangan', tetapi bagi saya adalah suatu 'keistimewaan'. Mereka boleh saja lebih menikmati dunia mereka sendiri sehingga tidak mempedulikan sekeliling mereka, tetapi mereka adalah orang-orang yang selalu jujur terhadap naluri mereka sendiri.

"Kau hanya memahami hal-hal yang bisa kau jinakkan"
"Apa yang harus kulakukan untuk menjinakkanmu?"
Kesabaran.... (hlm. 84)


Ya... Kesabaran !! Hanya itu kata kuncinya. Untuk bisa memahami dan bersahabat dengan para penyandang autis bukanlah hal sulit (walau tidak bisa dibilang mudah). Kita hanya perlu mencoba untuk memasuki dunia mereka, berada di sana, merasakannya dan menikmatinya. Kita kemudian akan menemukan kebahagiaan tersendiri bersama mereka dan rasa syukur yang tiada habisnya karena Tuhan telah memberikan kita kesempatan untuk berada dekat dengan mereka. Kesabaran akan menumbuhkan pemahaman yang mendalam terhadap mereka... memang butuh waktu... tetapi bukankah kasih sayang membutuhkan waktu untuk tumbuh dan bersemi ?

Saya sangat kagum pada tokoh utama cerita ini, Lucy dan Theo sahabatnya. Mereka, dengan kejujuran sudut pandang kanak-kanak mereka, tidak menganggap Matthew sebagai seseorang yang harus dihindari. Mereka justru sangat tertarik kepada Matthew, berteman dan memahami Matthew dengan segala kejujuran dan keunikannya. Dengan cara bertutur yang sederhana, kita dibawa ke dalam suatu dunia yang berbeda dari yang pernah kita alami di dunia nyata.

Simaklah apa yang mereka temukan dari persahabatan mereka dengan Matthew:
Kau hanya bisa melihat dengan hatimu,
sebab matamu tidak sanggup menangkap apa yang penting.(hlm.84)

Suatu hari dia akan berubah menjadi orang biasa. Dan itu bukan hanya dalam berkomunikasi, tapi dalam pembauran total. Dia akan menjadi lebih baik ketimbang kita. (hlmn.62)


Saya percaya, para penyandang autis suatu hari akan berubah menjadi orang biasa. Dan mereka akan menjadi lebih baik dari kita.

Notes:
For my beloved 'kids'... Kevin & Kenneth. I Love You just the way you are.... and thanks to Yuna for borrowing me this book.



Profile Image for Alvina.
732 reviews119 followers
August 11, 2011
Ini kisah tentang seorang gadis berusia 12 tahun bernama Lucy dengan temannya bernama Theo, bersama anjing kenalannya bernama Francois dan anak istimewa bernama Matthew. Kisah ini dimulai di Paris, di flat No. 11 di Rue Merlin, rumah Lucy. Ia dan keluarganya baru saja pindah ke flat tersebut, dan ia berencana berkenalan dengan seluruh tetangganya. Sebuah rencana yang fantastik telah disusunnya sampai suatu hari, ia bertemu Matthew.

Lucy memutuskan pergi ke lantai atas flatnya setelah semalam terdengar ada keributan kecil di sana. Di flat di lantai lima, sebuah gambar anak dengan telinga yang besar seperti telinga Gajah dan dua tangan yang besar seperti sayap ditempel di depan pintu. Lucy membunyikan bel dan seorang wanita membukakan pintu sambil tersenyum ramah. Di belakangnya terlihat seorang anak laki-laki tampan tiba tiba melesat melompat naik ke atas tubuhnya. Ia menggerakkan jari-jarinya di atas kepala Lucy, memainkan rambut Lucy. Wanita yang tadi membukakan pintu datang, menarik tubuh anak laki-laki itu dan menggantikan kepalanya untuk dipermainkan bocah itu, sebagai ganti kepala Lucy. Sebentar kemudian, Lucy berpamitan pulang, ia masih tidak paham apa yang terjadi dengan anak laki-laki itu.

Keesokannya Lucy bertemu lagi dengan Marie, wanita yang membukakan pintu di flat atas semalam, dari Marie ia mengetahui anak laki-laki itu adalah putranya yang bernama Matthew. Dia Autistik. Semenjak itu Lucy yang begitu penasaran akan arti autistik mulai mencari makna kata tersebut, sayangnya ia tidak puas dengan makna dari kamus yang diberitahukan Ayahnya. Maka ia mendekati Matthew, Lucy tahu anak laki-laki itu istimewa sejak pertama kali mereka berjumpa.

Perjalanan Lucy tidak hanya mencoba mengenal dan membantu Matthew bersosialisasi, seekor anjing milik kenalan orang tuanya, Francois nama anjing itu, juga masuk dalam agenda Lucy. Lucy harus menjadikan anjing itu sebagai anjing sebenarnya, menyalak dan bertingkah laku seperti anjing pada umumnya. Maka Lucy melakukannya bersama sama, ia membantu Matthew, mengajarkan Francois dan mengisi hari-hari dengan catatan catatan pengalamannya. Dari sini ia menemukan pengertian baru mengenai autistik, pengertian yang sama sekali berbeda dengan dalam kamus yang dulu pernah dibacanya.

Buku ini terdiri dari 10 bab, halamannya yang tipis dan huruf yang besar benar-benar memanjakan saya sebagai pembaca. Tidak butuh waktu sehari untuk membacanya. Lucy menceritakan pengalamannya secara sederhana, sehingga mudah mengikuti irama alurnya yang cepat. Banyak pengertian baru yang ditambahkan karena cara melihatnya dari segi pandang anak kecil. Meski begitu, banyak pesan moral yang disampaikan di buku ini, baik tersirat ataupun tersurat.

Salah satu contohnya :

”Kau hanya bisa melihat dengan hatimu, sebab matamu tidak sanggup menangkap apa yang penting”, Hal. 84

Buku yang sederhana namun kaya!! 4 dari 5 bintang untuk buku ini : )

Profile Image for Dian.
64 reviews8 followers
September 2, 2008
Kisah yang asik dan menyentuh. Dimulai ketika Lucy dan kedua orangtuanya harus pindah apartemen dan bertemu dengan Matthew, seorang anak yang menderita autis. Meski Lucy tak mengerti apa penyakit autis itu, dia tetap keukeuh berteman dengan Matthew yang ternyata menyenangkan.
Lucy pun terhanyut dalam persahabatan yang nyentrik ini, walaupun harus merelakan rambutnya untuk Matthew. Tapi Matthew bukan anak yang destruktif, jadi Lucy dan Theo merasa seneng2 aja tuh.

Matthew sangat dekat dengan pengasuhnya, Mougo. Dia seorang Russian, jadi ga pernah ngomong. soalnya dia ga bisa bahasa Prancis. (*meski Lucy akhirnya terpaksa suatu kali berkomunikasi dengannya, mereka pake bahasa Tarzan*). Tapi disitulah kedekatannya dengan Matthew, bukan komunikasi verbal yang mendekatkan mereka. Tapi bahasa mata dan hati. menyentuh.

Marie ini ibunya Matthew, ibu yang manis dan ramah menurut Lucy. Aku suka sama rumah Marie, rumahnya dipenuhi dengan permadani2 indah. sekali lagi bahasa nonverbal melalui permadani.

Balthazar lah yang mengajarkan Matthew bahasa musik. Dia kakeknya Theo. Balthazar ngajarin Matthew gimana caranya pukulin kendang. dan tau ga? Matthew seneng banget, secara anak autis itu kan sebenernya pinter, jadi Matthew ga ada kesulitan ngikutin tabuhannya Balthazar sesulit apapun.

Francois itu anjing adopsi milik pasangan Marotte, yang menurut Lucy kehilangan naluri kebinatangannya. Lucy punya ide bagus untuk mengembalikannya. Lucy pengen Francois jadi serigala, bisa ujan2an, bisa melolong, bisa menyalak, bisa kencing di pintu (*yang ini papanya Lucy mencak2*), dan bisa ngajarin Matthew bahasa anjing. (*yang ini aku ga ngeh, tapi Francois seakan2 begitu mengerti akan kondisi Matthew*). suatu hari Francois ngambek sama Lucy, dia ngabur dari rumahnya Balthazar. Orang2 kelabakan, Balthazar apalagi. Secara dia yang dititipin Lucy buat ngejagain Francois. Lucy juga kelabakan, secara dia yang dititipin pasangan Marotte en mereka mau ngambil anjingnya ntar malem. pusing kan. Balthazar melongo, dan Lucy pun melesat ke rumah Marie. sambil ujan2an Matthew langsung menuntun Lucy, Theo dan Mougo ke tempat bermain mereka. di kuburan (*hiii*). Dengan kendangnya yang rancak banan itu Matthew berusaha memanggil Francois. dan mereka melihat Francois dengan gagahnya menghalangi sinar bulan. Benar2 lucu, Francois belaga kayak serigala.
Disinilah Lucy melihat mata Matthew penuh bintang seakan2 dia menelan semua bintang yang ada di angkasa pada malam itu. ih, indahnya.

Mereka pulang dengan gembira, mereka semua bersahabat, dan ga ada yang seindah selain persahabatan meski dengan orang yang paling nyentrik sekalipun.

Kisah yang secuil, seiprit itu bisa membuatku termehek2. it makes me feel blue. dan satu hal yang aku pelajari, anak autis itu ga ngerti bahasa verbal.
Profile Image for DuniaFriskaIndah.
86 reviews9 followers
January 27, 2010
Oke mari kita mulai lagi.

Buku ini cukup menarik dengan cover animasi seorang anak laki-laki dan seekor anjing sedang memandang langit yang dipenuhi bintang-bintang. Bahkan tangan si anak sepertinya hendak meraih bintang tersebut. Berhubungan bangat dengan judulnya The Boy Who Ate Starts

Di awal buku, ada 5 kalimat yang menjadi resume buku ini.

Sinopsis singkatnya seperti ini. Ada seorang anak yang bernama Lucy. Lucy adalah gadis kecil berumur 12 tahun yang cukup cerewet dan kreatif. Tapi aku setuju kalau melihat Lucy adalah anak yang bijak.

Di awal kepindahan mereka ke flat baru, Lucy berjanji pada dirinya sendiri untuk mengenal semua anak dari flat bawah sampai ke flat atas. Kemudian dia akan mengumpulkan semua bendera asal semua kenalannya. Tapi rencananya tersebut berhenti semenjak Lucy mengenal Matthew.

Matthew adalah seorang anak berumur 4 tahun yang ternyata menderita penyakit autis. Seorang Lucy tentu saja tidak tau apa itu autis. Ketika dia bertanya ke ayahnya, ayahnya memberikan pengertian autisme dari kamus langsung. Hal tersebut menambah kebingungan bagi Lucy. Bahkan karena keingintauan tersebut akhirnya dia membuat pengertian autisme dengan pengertian dirinya sendiri.:D

Akhirnya Lucy memberanikan diri untuk bertanya kepada ibu Matthew apa itu autis. Tawaran tersebut disetujui oleh Marie (ibu Matthew) dengan syarat Lucy harus makan malam di flat Matthew. Itulah awal dari persahabatan mereka.

Setelah mengenal Matthew, dunia Lucy menjadi beralih ke Matthew. Dia ingin membantu anak itu dengan caranya sendiri. Dengan bantuan Francois dan Theo akhirnya terjalinlah persahabatan antara mereka.

Buku ini cukup menarik. Terlepas dari bahasanya yang sedikit 'aneh' dan terjemahannya membingungkan. Untungnya buku ini hanya novel anak-anak, seandainya buku ini adalah buku novel yang 'berat', aku akan berhenti di pertengahan atau membaca sekilas saja.
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books63 followers
February 18, 2010
Lucy (12 tahun) yang tinggal di sebuah flat di Rue Merlin, Paris, kedatangan tetangga baru, sepasang suami istri dengan seorang anak bernama Matthew. Tingkah laku Matthew aneh, dia seolah-olah tidak menghiraukan orang-orang di sekitarnya. Matthew seperti memiliki ’dunia’nya sendiri.

Ternyata Matthew mengidap autis. Lucy tidak tahu autis itu apa. Walaupun bertanya ke orang-orang, Lucy tak menemukan jawaban yang membuatnya mengerti. Hingga pada akhirnya ia bertanya langsung kepada Marie –ibunya Matthew, itupun setelah memberanikan diri. Dan beginilah Marie menjelaskan keadaan Matthew kepada Lucy ”hidup di dunia berarti memandang satu sama lain, dengan cara yang sama seperti bumi bergerak mengelilingi matahari. Begitulah cara kerja tata surya. Tapi otang autistik itu seperti planet tersendiri yang kebetulan saja mendarat di sini, dan bukannya memandang para penghuni bumi lainnya sementara dia bergerak di sekeliling mereka, dia berpusar di dalam dirinya sendiri...” Hal.39.

Begitulah pada akhirnya interaksi Lucy dan Matthew terjadi. Lucy berusaha untuk memasuki ’planet’ ciptaan Matthew, dengan cara : musik! Ya mereka bisa berkomunikasi dengan musik.

Ide dasar buku ini cukup baik sebetulnya. Namun segalanya serba nanggung. Penggambaran tokohnya nanggung, interaksi dan dialog-dialognya nanggung, hal-hal yang menyentuh hatinya juga nanggung. Kendala terbesarku membaca buku ini adalah bahasanya yang ribet. Sangat ribet untuk ukuranku, bahkan lebih ribet dari buku terjemahan berat semacam Dunia Sophie atau To Kill a Mockingbird. (ntah apa karena akunya aja yang kurang ’setrum’ hehe). Juga, aku tidak tahu apakah ini karena penerjemahnya kurang lihai atau memang bahasa aslinya sudah kacau. Ntahlah, pada intinya aku tidak bisa menikmati buku ini.
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
August 9, 2014
Sebuah buku tentang gejala autisme, dikisahkan dari sudut pandang anak berusia 12 tahun sehingga sangat jauh dari yang namanya justifikasi, tuduhan tak berdasar, atau pandangan sebelah mata. Ada satu keajaiban yang hanya dimiliki anak kecil: kemampuan untuk memandang segala sesuatu di dunia ini (termasuk hal-hal yg bagi orang dewasa adalah masalah) sebagai arena bermain. Lucy membuktikannya. Dia mampu menerima Matthew yang autis dengan cara yang lebih bijak ketimbang orang-orang dewasa. Sebuah buku yang tipis namun amat kaya. Sangat membuka pandangan kita tentang anak-anak autis.
Profile Image for Alfa.
203 reviews8 followers
March 5, 2016
Membaca buku ini lagi masih seseru seperti saat pertama kali membacanya. Gaya bahasanya ringan dan sederhana mudah untuk diikuti oleh siapapun, mungkin memang karna buku ini juga ditujukan untuk anak-anak sehingga ketika membaca kita tidak dituntut banyak berfikir.

Petualangan Lucy dan Matthew yang sebenarnya biasa, namun menjadi tidak biasa karna kondisi Matthew yang 'unik'. Unik yang seperti apa? baca saja bukunya :)
Profile Image for Nilam Suri.
Author 2 books141 followers
September 16, 2008
Cerita yang manis, dari sudut pandang anak 12 tahun yang somehow sangat menyegarkan. Tapi untuk bisa mendapat makna dan keistimewaan dari buku ini, sepertinya saya harus membacanya berulang kali.
Profile Image for Ordinary Dahlia.
284 reviews
February 13, 2009
G ngira ini buku untuk anak-anak tapi ternyata bukan. Tohoh lucy terbilang sangat pintar untuk anak seumurannya, dia menarik kesimpulan-kesimpulan yang mencengangkan mengenai autisme.
Profile Image for Uci .
617 reviews123 followers
December 31, 2012
Mungkin kita tidak boleh berkata-kata supaya bisa memahami kesunyian, seperti orang buta yang melihat dengan tangan mereka

Profile Image for Anne.
21 reviews
October 9, 2020
Buku yang mengisahkan seorang anak bernama Lucy (12 tahun) yang ingin mengenal seluruh tetangganya. Ia kemudian bertemu Matthew (4 tahun), seorang anak laki-laki dengan autisme. Lucy tertarik untuk mengetahui tentang autisme dan akhirnya mengalami petualangan yang seru bersama Matthew serta tokoh-tokoh lain dalam kisah ini.

Buku ini saya beli sudah lama sekali, ketika saya masih SD. Waktu itu saya belum terlalu paham tentang autisme. Namun semakin saya dewasa dan karena saya juga mengambil kuliah psikologi, saya jadi tahu bagaimana anak-anak 'istimewa', seperti Matthew ini. Di dalam buku ini, diceritakan bagaimana cara Matthew berkomunikasi, bagaimana dia menerjemahkan kata-kata yang mungkin bagi kita itu terdengar aneh, dll.

Ya memang kurang panjang ceritanya karena hanya disajikan 104 halaman. Tapi setidaknya untuk orang awam, buku ini sangat membantu untuk mengetahui bagaimana anak-anak autistik itu.
Profile Image for Loran Tambunan.
10 reviews
January 24, 2018
I love children--and loving them even more because this book taught me how special are children with autism. Every child is special and unique! As the scripture says, on Matt 19:14; But Jesus said, Suffer little children, and forbid them not, to come unto me: for of such is the kingdom of heaven.

Buku ini sederhana dan tipis. Tapi tidak berarti kontennya demikian. Buku ini bercerita mengenai seorang anak yang menderita autisme dan keseharian hidupnya. Penulis membuat saya tersentuh dengan hal-hal kecil dan simpel dari interaksi antar tokoh ceritanya. Buku ini telah berhasil membuat saya semakin mencintai anak-anak karena pemaparan cerita yang sangat santai, mudah dipahami namun cukup mendalam.

Bintang tiga saya pilih karena buku ini saya baca saat saya masih SMP, dan sebenarnya lupa betapa bagus--atau tidaknya--buku ini secara keseluruhan. Tapi, kalau suka banget sama anak-anak, saya rasa ini buku yang cukup bagus!
October 5, 2025
This book was nice to read but confusing at the same time. I loved the fact that it had a description for certain words used in the book and explained the meaning of them. I liked they way the author had Marie's character interpret what she thought autism was when talking about herson, Matthew. 'Autistic people are like small independent planets that have landed here by chance, and instead of looking at the other earthlings as they move around them, they spin inside themselves. So they become their own planetary systems, and reaching them is as difficult as getting on a merry-go-round when it's already moving'. Also, the details around Matthew's logic of understanding were interesting, too. When Marie explained that he referred to himself as you and others as I. The whole idea of the book, however, was lost on me, and I was a little disappointed that I didn't get it.
Profile Image for Monique.
9 reviews
December 30, 2025
A good quick read! It’s about a girl named Lucy from Paris who wants to befriend her new neighbors. Her plan is put to a halt when she meets her neighbor Matthew who is a four year old autistic boy. Lucy wants to know what that means and her family is no help so she works with Matthew’s Mom to both learn about what it means to be autistic and help bring Matthew out of his bubble. While they go out she is also training her new dog. She notices how both are in their own worlds and don’t follow normal society rules that her parents have set. As the book continues time moves forward and she soon develops a strong desire to continue teaching those with autism when she grows up. She also wants the dictionary term for autism to change as it acts as if those who are autistic have no way to communicate. This is so not true.
Profile Image for Silvia Ledda.
3 reviews1 follower
June 26, 2025
Un libro meraviglioso che con una delicatezza poetica arriva a spiegare dei concetti dell'autismo che un qualsiasi testo accademico faticherebbe a figurare.
Un libro che parla ai bambini di ogni neurotipo ma in grado di toccare gli adulti autistici che da bambini si sono sentiti perduti, incompresi e distaccati dal contesto sociale.

Comprendere l'esperienza emozionale ed empatica di una persona autistica è complesso. Sembra tutto più grande di tutto quello che una persona può sperare di concepire. In questa storia, Kochka riesce a darci un piccolo assaggio della superficialità del mondo esterno e della ricchezza del mondo interiore del protagonista, regalandoci un viaggio emozionale ricco di amore, coraggio e speranza che si muove <3

Ps. 88 pagine lette tutto d'un fiato
Profile Image for Lisa Isabella.
Author 7 books14 followers
February 28, 2019
Tidak banyak novel di dunia ini yang mengusung tema autisme dari sudut pandang seorang anak kecil, dan novel ini melakukannya! Kapan pun dan di mana pun, sebuah ketulusan pasti berbuah kebaikan. Inilah salah satu pesan moral dari novel luar biasa ini. Cocok dibaca semua kalangan!

Rating Book: ★★★★★ (5/5)
Profile Image for Celia.
57 reviews
March 28, 2018
Such a lovely book. 105 pages altogether in this great book! I'm a bookworm! Great and quite realistic and brill book for reading! Great! Lovely book but I need another fab book to read too. I'm looking forward to look for another book.
Profile Image for Sarah Hackworth.
53 reviews1 follower
December 31, 2019
I had to put this book down multiple times to keep from crying. as the aunt of an autistic boy the same age as Matthew, this story hit me so much harder because it is so accurate to the experience I've had.
the star deduction is only because I felt like other characters were underdeveloped
Displaying 1 - 30 of 116 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.