Definisi hari buruk menurut Oryza--penyihir canggih level delapan.
Hari buruk adalah hari ketika rendang melarikan diri dari panci dan terlepas bebas. Cangkir menggigit tangan penyihir lelaki yang mati-matian dijodohkan dengannya. Roti asyik bernyanyi dalam bahasa Rusia dan bersalto di dalam lemari dapur. Kakak dan adiknya berubah menjadi abnormal.
Ini bukan hari biasa! Lalu apa yang harus Oryza lakukan?
Dimulailah petualangan gila-gilaan mencari penawar racun yang hanya bisa ditemukan di pulau terpencil milik suku penyihir primitif. Pulau yang tak pernah kelihatan di peta Indonesia. Pulau yang disihir hilang: Pulau Varaiya.
Clara Ng adalah pengarang sejumlah novel dewasa dan juga buku anak-anak. Ibu muda berbintang Leo ini lahir di Jakarta tahun 1973. Lulusan di Ohio State University jurusan Interpersonal Comunication ini tidak pernah bercita-cita jadi penulis, namun kini karya-karyanya mengalir tanpa henti. Novel-novel dewasa yang sudah diterbitkan adalah Indiana Chronicle: Blues, Indiana Chronicle: Lipstick, Indiana Chronicle: Bridesmaid, The (Un)Reality Show, dan Utukki: Sayap Para Dewa. Buku anak-anaknya yang sudah terbit adalah Seri Berbagi Cerita Berbagi Cinta.
Karena sebelumnya sudah membaca review-review yang tidak terlalu cemerlang, saya tidak punya ekspektasi apa-apa saat membaca buku ini. Santai sajaaa...dan sepertinya saya harus sering-sering begitu deh, jadi tidak bakal ada review yang isinya misuh-misuh kecuali bukunya memang sangat parah.
Terlepas dari isi buku ini, saya pribadi salut pada Clara Ng yang saya anggap pengarang serba bisa. Mulai dari kisah drama serius, fantasi (Utukki kan fantasi dong?), chicklit, sampai buku anak-anak bisa dia hasilkan.
Nah, mengenai Jampi-Jampi Varaiya, saya hanya bisa mengatakan ini buku yang dibuat dengan semangat kekonyolan luar biasa. Tokoh-tokohnya (biar dia penyihir tingkat tertinggi maupun penyihir rendahan) semuanya konyol. Ceritanya konyol, dialognya konyol, pemilihan namanya konyol, dan seterusnya. Yang jika dibaca dengan pikiran terbuka, lucu-lucu saja sebenarnya. Yang penting jangan dibaca dengan terlalu serius dan pakailah bagian otak yang kurang cerdas - kalau hal seperti itu memang ada.
Kalau mau disebutin bagian-bagian yang bikin cerita ini nggak masuk akal, bisa panjang banget. Jadi sebaiknya kita terima saja bahwa Clara Ng sedang bersenang-senang dan berkonyol-konyol ria saat mengarang kisah ini, mungkin untuk intermezzo sebelum dia membuat kisah-kisah serius lain.
Hei, pengarang sekali-kali juga boleh senang-senang kan? ^_~
Untuk yang ingin mencari bacaan ringan dan cepat, mungkin buku ini adalah jawabannya, walaupun jujur saya merasa rugi juga membelinya seharga 47.000 - 30%. Secara sepintas mungkin ini adalah bacaan yang tepat bagi saya, kehidupan tentang penyihir di dunia modern, campuran antara hidup sehari-hari with a spark of magic around us (trust me, I've read a lot post-deathly hallows harry potter fanfics *coughs*), semacam harry potter meets metropop - lengkap dengan apparition, muggles, animagus, tongkat sihir dsb dst - tapi ternyata oh ternyata jalan ceritanya benar-benar membuat saya kesal.
Cerita ini berfokus pada keluarga 'karbohidrat' Samudra dan tiga anaknya yang diberi nama sesuai nama latin tumbuhan mengandung karbohidrat, Zea (jagung), Oryza (padi), dan Solanum (kentang) - untungnya ga ada anak keempat :D can u imagine they name her Manihot Utilissima Raya? Anyway, cerita diawali dengan Solanum yang mencuri diam2 rempah-rempah dan teh varaiya dari toko seorang nenek sihir untuk Oryza. Rempah itu seharusnya bisa membuat Oryza (yang sangat payah dalam hal memasak) dapat membuat masakan apa pun menjadi enak. Apa mau dikata karena Oryza tidak membaca penggunaannya, rempah tersebut malah membuat rendang yang dia masak jadi makhluk jadi-jadian yang meneror penghuni kota (sepertinya, tapi hal itu tidak terlalu diekspos). Yang lebih parah lagi adalah teh varaiya (yang seharusnya mempunyai efek yang sama dengan rempah2nya) yang diminum oleh Solanum dan Zea (karena mengira ini hanya teh biasa). Ternyata segala macam varaiya2an itu bisa membuat manusia jadi mempunyai kekuatan lebih dalam beraktivitas (imagine drinking a big dose of extra joss - my favourite energi drink *iklan mode on*). Hanya saja seharusnya 1 lembar daun teh tersebut cukup untuk membuat seseorang begadang 2 hari; bayangkan apa yang terjadi ketika Zea dan Solanum meminum satu cangkir yang diseduh dari sejumput teh varaiya? Maka dimulailah petualangan Oryza mencari obat penangkal teh tersebut ke pulau varaiya.
Sepintas terlihat seru bukan? Malah ada yang bilang buku ini lucu banget, sampai ga bisa berenti karena kekocakannya yang tiada tara... olala saya pasti punya selera humor yang payah karena saya malah kesal dengan 'usaha' penulis untuk melucu yang serasa dipaksakan (trust me, ini sangat subjektif - I do have a terrible sense of humor, sampai harus nonton 2 episode 30Rock untuk melihat kelucuannya O_o). Tentu saja mengenai masalah humor itu lain lagi ada beberapa hal lain yang membuat saya tidak bisa memberi lebih dari 2 bintang. 1. di prolog ketika adegan Solanum sedang mencuri, kenapa dia berkata2 keras (tau kan adegan di sinetron waktu tokoh jahat sedang sendirian lalu dia ngomong sendiri tentang rencana2 jahatnya?) - I mean, kenapa ga bisa di dalam hati saja? Tokoh sinetron itu lebih masuk akal arena toh ceritanya dia sendirian, lha ini kan sedang dalam rangka mencuri?? 2. Oryza bukanlah tipe tokoh utama yang saya sukai. Sebenarnya apa sifat dasarnya? Tomboy nggak juga, malah Solanum lebih tomboy, cuek? pemarah? agak bego? selain pertengkarannya yang membabi buta dengan Xander (cowok yang dijodohkan dengannya sejak kecil) kayanya dia ga begitu berguna di cerita ini. Tapi of course karena dia tokoh utama, dua cowo keren dalam cerita ini semua jatuh cinta atau setidaknya naksir padanya (how shallow!) 3. tentang level penyihir. Konon, penyihir jarang sekali memiliki level di atas 5 (dari maksimal 9), tp hampir semua tokoh utama di cerita ini (yang tokohnya cantik2 dan ganteng2) levelnya di atas 7 semua (Of course) di mana cewe2 tokoh utama memiliki level 7 atau 8 (of course) dan cowo2nya yg keren2 (of course) berlevel 9 (of course). Besides, apa sih yang menjadi penentu level dari penyihir2 ini? Apa ada ujiannya semacam TOEFL? sehingga bisa dikatakan Xander dan Pax berlevel 9 sedangkan Solanum hanya 7? 4. Karakter yang terlalu cetek. Kenapa hampir semua cewek di novel ini naksir pada Xander? Ini adalah problem mendasar kebanyakan novel remaja cewek sih, yang selalu menempatkan alpha male jadi rebutan semua cewe, tp Pax kan seharusnya ga kalah cakep? 5. Istilah rakyat jelata untuk sebutan orang yang tidak bisa sihir (ini hanya masalah preferensi jadi mungkin tidak terlalu masalah) 6. Di bab2 awal digunakan istilah 'kekuatan super' instead of 'kekuatan magis' atau 'kekuatan sihir' hihi... jadi yang kebayang tv series Heroes deh. (tp lagi2 masalah preferensi aja) 7. Why Pax is always naked in front of Xander (on second thought, no complaints there)
Tentu saja review (yang dibuat benar2 karena iseng dan tanpa tujuan yang jelas) ini adalah pendapat saya saja. Silakan baca bukunya dan putuskan apakah it's your type of reading or not ;) cheers!
Akhirnya selesai jg...Tertarik membeli buku ini krn termasuk nominasi Khatulistiwa Literary Award 2010,kisah penyihir2 dari masa kini ini idenya bagus,cuma gimana yaaah..dibilang lucu ngga jg,agak bosan bacanya..akhirnya jd ditinggal2 membacanya..emang kudu baca review dulu baru beli buku..hmm
Apa yang terjadi kalau sihir benar-benar eksis di dunia ini? Dan apa yang akan terjadi seandainya orang-orang yang disebut penyihir hidup berdampingan dengan non-penyihir? Topik inilah yang diangkat oleh novelis Clara Ng dalam novel terbarunya, Jampi-jampi Varaiya, yang - sekali lagi - penuh dengan kehebohan ala sang novelis.
Di luar ekspektasi saya, justru Clara Ng yang lebih dulu merilis novel terbarunya dibandingkan Andrei Aksana. Saya sudah sampai jamuran dan lumutan menantikan terbitnya novel Andrei, Janda-janda Kosmopolitan, yang rencananya akan diterbitkan bulan November kemarin tapi sampai sekarang tak kunjung menampakkan diri di toko buku. Makanya, saya sangat excited ketika tahu Clara Ng akan merilis novel barunya. Dan ketika membaca sinopsis "Jampi-jampi Varaiya" ini, saya langsung tahu dengan cerita seperti apa saya akan berhadapan.
Tersebutlah sebuah dunia tempat penyihir dan non-penyihir hidup berdampingan. Kaum penyihir hidup eksis dalam semua bidang kehidupan, berbaur dengan orang-orang yang mereka sebut sebagai kaum jelata. Berbagai fasilitas tersedia untuk para penyihir, mulai dari buletin sampai situs belanja online... dan tentunya, sekolah sihir (er, kita nggak bicara soal Hogwarts kok). Para penyihir kebanyakan menutupi jati diri mereka yang sesungguhnya dari orang-orang biasa yang hidup di sekeliling mereka dengan berbagai alasan.
Kisah terpusat pada keluarga penyihir Raya yang tersohor sebagai keluarga penyihir namun lebih dikenal sebagai keluarga Karbohidrat karena menamai ketiga putrinya dengan nama-nama yang tidak lazim: Zea Mays Raya, Oryza Sativa Raya, dan Solanum Tuberosum Raya yang masing-masing berarti jagung, padi, dan kentang. Hmmm... kok ketiga nama itu pas dengan nama wanita ya? *digetok* Ketiganya memiliki sifat yang berbeda-beda. Zea bersifat keibuan dan bekerja sebagai dokter hewan; Oryza tomboi dan bekerja sebagai staf HRD di sebuah perusahaan; dan Sola punya sifat mata duitan dan bekerja di sebuah kantor akuntan/auditor. 10 tahun telah berlalu sejak meninggalnya ibu ketiga wanita tersebut dan kini Zea-lah yang menangani urusan rumah tangga di kediaman keluarga Raya. Ketiga penyihir wanita tersebut tinggal bersama ayah mereka, Samudra Raya (yang masih menganggap istrinya baru meninggal kemarin padahal 10 tahun telah berlalu... oh, this is so lebay!) dan seorang pemuda bernama Xander yang dijodohkan dengan Oryza. Xander adalah seorang penyihir level tinggi yang merupakan putra dari penyihir sahabat keluarga Raya. Ibunya dan ibu Oryza bersahabat sejak dulu dan keduanya ingin mendekatkan hubungan mereka dengan menikahkan Xander dengan salah satu putri keluarga Raya... dan pilihan jatuh pada Oryza. Sebagai seorang penyihir tingkat tinggi, salah satu kemampuan Xander adalah mengubah dirinya menjadi wanita. Hmmm... somehow this reminds me of something... wicked!! *nyengir-nyengir sendiri* Selain itu, masih ada satu lagi 'penghuni tidak resmi' di keluarga Raya, seekor kucing hitam bernama Dakocan. Kucing hitam ini datang dan pergi seenak hatinya dan merupakan kesayangan Oryza. Hanya saja, Oryza tidak pernah tahu kalau wujud Dakocan yang sesungguhnya adalah seorang penyihir pria bernama Pax yang mencintai Oryza dan siap melakukan apa saja demi Oryza. Hmmm... apakah deskripsi soal keluarga Raya ini sudah mengingatkan kita semua akan sesuatu? Kalau belum, ayo kita lanjutkan lagi deskripsi yang lebih mendetail lagi tentang karakter-karakter lain...
Meski dijodohkan dengan Oryza, hubungan Xander dan gadis tersebut tidak bisa dikatakan harmonis. Keduanya sering kali berselisih. Bukan hanya itu, Pax juga sering ikut terseret-seret (atau malah menyeret diri ke dalam kekacauan hubungan keduanya ya?) ke dalam perselisihan konyol mereka. Dua orang gadis penyihir lain, Strawberi yang membuka restoran bersama neneknya, Nenek Kelabu a.k.a. Nenek Gray (nama beken nih!) dan Aqua, seorang penyihir dari keluarga kaya-raya, juga ikut 'memeriahkan' hidup Oryza. Lalu, masih ada sepupu jauh Strawberi, Cyril, yang mencintai Strawberi dan ikut membantu di restoran Nasi Tim Bebek Nenek Gray.
Semua berasal dari keinginan Oryza yang begitu ingin memasak untuk keluarganya. Sebagai seorang penyihir, Oryza memiliki kelemahan besar yang... er, bisa dikatakan aneh. Sihirnya tidak efektif pada saat ia berhadapan dengan alat-alat masak di dapur. Dan lagi, kemampuan memasaknya... parah! Ia pernah menyebabkan dapur rumahnya meledak ketika ia mencoba untuk memasak dulu. Karena itulah, ia berusaha untuk mendapatkan bumbu dapur yang bisa membuat masakan buatannya menjadi enak. Tanpa disadari oleh Oryza, hidupnya akan bertambah gila karena keinginan tersebut.
Adik Oryza, Sola, mencuri bumbu yang disebut bumbu rempah-rempah Varaiya dan teh Varaiya dari dapur Nenek Gray dan kemudian menjual bumbu tersebut kepada Oryza. Dengan menggunakan bumbu tersebut, Oryza memasak rendang... yang justru berubah menjadi sesosok monster ungu. Seakan belum cukup gila, Zea dan Sola meminum teh Varaiya. Keduanya sontak menjadi aneh setelah meminum teh tersebut.
Hilangnya bumbu dan teh Varaiya memaksa Strawberi untuk mencurigai Aqua karena ia menemukan kelopak mawar berwarna biru kehijau-hijauan yang sengaja ditinggalkan oleh Sola di dapur Nenek Gray. Akan tetapi, Aqua berhasil membuktikan kalau bukan ia yang mencuri bumbu dan teh Varaiya. Kecurigaan mereka langsung beralih ke Oryza, satu-satunya penyihir yang mereka kenal yang punya kemampuan memasak nol besar.
Keanehan demi keanehan yang terjadi (salah satunya: Xander digigit oleh cangkir yang digunakan untuk meminum teh Varaiya!) memaksa Oryza dan Xander untuk menemui Nenek Gray. Di sana, mereka baru tahu kalau Sola bukannya membeli bumbu dan teh Varaiya dari Nenek Gray, melainkan mencurinya. Dan karena kecerobohan Oryza, ia memasukkan sebotol bumbu Varaiya ke dalam rendang masakannya sementara hanya dibutuhkan satu sendok kecil bumbu saja untuk sepanci besar masakan. Konon, satu sendok bumbu Varaiya cukup untuk masakan bagi 5000 orang! Rendang dan cangkir yang bisa menggigit akan kembali seperti semula dalam waktu 2 minggu sedangkan Zea dan Sola akan meninggal kalau mereka tidak dikembalikan seperti semula dalam jangka waktu yang sama.
Petualangan untuk menemukan 'penawar racun' pun dimulai. Mereka harus menemukan Tamerit yang dapat menetralisir pengaruh bumbu dan teh Varaiya. Satu-satunya tempat dimana Tamerit dapat ditemukan adalah sebuah pulau di Sumatera, Varaiya. Di pulau tersebut, tinggal suku penyihir primitif. Masalahnya, pulau tersebut tidak pernah terlihat di peta Indonesia. Sesuatu 'membentengi' pulau tersebut sehingga timbul kesan kalau pulau tersebut seakan-akan disihir hilang.
Bersama dengan ayahnya, Xander, dan Pax; Oryza memulai petualangannya untuk menemukan Tamerit. Dengan menyewa sebuah perahu, keempatnya berusaha untuk mencapai Pulau Varaiya. Kekacauan berlanjut bahkan di tengah laut. Seorang gadis bernama Nuna, yang merupakan anak perempuan satu-satunya sang pemilik perahu, jatuh hati pada Xander. Hanya begitu? Oh, tentu tidak. Di perahu tersebut, terdapat seekor kucing sihir bernama Mob Ibb yang bertugas untuk menangkapi tikus-tikus yang berkeliaran di kapal. Kehadiran Mob Ibb di kapal membuat Pax ketakutan karena ia pernah dikejar-kejar oleh seekor kucing jantan pada saat ia berwujud Dakocan. Xander juga dipaksa 'bertekuk lutut' oleh Mob Ibb setelah ia melihat sosok lainnya dari kucing putih gendut itu. Keduanya terpaksa berbagi ranjang di dalam ruang kabin yang sama yang memaksa Oryza dan Nuna untuk berpikir kalau keduanya punya hubungan yang... ehem, spesial. Yah, keduanya memang punya hubungan spesial sih... saling nyela tanpa henti, terutama Xander yang hobi nyela Pax yang senang berubah menjadi Dakocan untuk mendekati Oryza.
Perjalanan mereka tidaklah mulus karena Aqua dan Strawberi 'membuntuti' mereka dengan kapal pesiar milik Aqua. Setelah sempat menenggelamkan satu kapal pesiar milik Aqua dengan sihir, akhirnya keduanya berangkat untuk merebut Xander dari Oryza. Rencananya begitu: mereka akan menembakkan torpedo ke arah perahu yang ditumpangi Oryza dkk dan kemudian menyelamatkan Xander. Ehem, sejak kapan ya kapal pesiar dilengkapi sama torpedo? We're not talking about submarines here, right? *rolls eyes* Torpedo ditembakkan dan perahu tenggelam. Akan tetapi, masalah menghampiri Aqua dan Strawberi karena Mob Ibb datang untuk membalas dendam ke kapal pesiar Aqua. Kehebohan pun terjadi di kapal pesiar super mewah tersebut.
Di lain pihak, Oryza dan yang lainnya diselamatkan oleh seekor ikan hiu yang sensi ketika terapung-apung di tengah laut. Ternyata ikan hiu yang juga menolong Pax yang tenggelam tersebut adalah perubahan wujud sang kapten perahu. Mereka semua akhirnya tiba di Varaiya. Pencarian Tamerit pun dimulai di pulau yang dihiasi oleh lumut berwarna hijau kebiru-biruan. Dan sesuatu kesalahan sinting yang pernah dilakukan oleh Pax dan Dakocan membuat mereka terpaksa menjadi tawanan di Varaiya. Apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh Pax dan Dakocan di sana dulu? Lalu, berhasilkah mereka memperoleh Tamerit untuk menyelamatkan Zea dan Sola? Bagaimanakah kelanjutan hubungan Xander dan Oryza? Semuanya akan dijawab tuntas di buku setebal 320 halaman ini dan sekuelnya, Ramuan Drama Cinta. Yah, setidaknya untuk buku yang satu ini sih ceritanya ditutup dengan cara yang lumayan memuaskan.
Nah, sudah tahu kira-kira dari mana ide cerita "Jampi-jampi Varaiya" ini berasal? Kalau ada yang menjawab Ranma 1/2 karya Takahashi Rumiko, you really deserve a praise. Yup, obviously, ceritanya rada mengadaptasi "Ranma 1/2" lengkap dengan karakterisasinya. Kadar kegilaannya saja yang kurang. Kenapa saya bisa sampai pada kesimpulan ini? Yuk, ikuti bahasan per karakternya... Xander = Saotome Ranma (karena bisa berubah wujud menjadi wanita, termasuk penyihir level tinggi, dan ditunangkan dengan Oryza yang tomboi dan pemarah) Oryza = Tendou Akane (tomboi, pemarah, kuat, dan ditunangkan 'paksa' dengan Xander) Pax = Hibiki Ryoga (mencintai Oryza dan rela berubah menjadi kucing biar bisa dekat-dekat Oryza - bandingkan dengan Ryoga yang hobi berubah menjadi P-Chan untuk dekat-dekat Akane) Zea = Tendou Kasumi (kakak perempuan yang lembut, dicintai oleh seorang dokter yang merupakan dokter keluarga Raya) Sola = Tendou Nabiki (mata duitan dan bisa melakukan apa saja demi uang... persis dah Sola sama Nabiki) Strawberi = Shampoo (tergila-gila sama Xander dan menjalankan restorannya bersama sang nenek... bedanya, Shampoo tidak setulalit Strawberi biarpun noraknya mungkin setali tiga uang) Aqua = Kodachi (sama-sama suka Xander dan... he he he, mawar berwarna aqua-nya itu lho yang mengingatkan saya akan Kodachi) Nenek Gray = Cologne (neneknya Shampoo yang membuka restoran Nekohanten... eh, di sini mah Nasi Tim Bebek Nenek Gray ya) Cyril = Mousse (untung nggak rabun dan jago sihir juga... jadi benar-benar mirip Mousse dah kalau sudah begitu) Nuna = ??? (kepengennya menyamakan Nuna sama Saionji Ukyou tapi kok sepertinya kurang tepat ya?) Setidaknya itulah persamaan-persamaan karakterisasi dan kondisi yang berhasil saya dapatkan sampai saat ini, dan sepertinya memang nggak ada lagi kemiripan lainnya. Bagaimana? Terlalu banyak untuk disebut sebagai sebuah kebetulan kan? Yah, untungnya idenya adalah soal sihir dan bukannya soal martial-arts. *tidak akan bisa berkata apa-apa lagi kalau topiknya soal ilmu bela diri*
Dari sekian banyak pengarang Indonesia yang saya baca buku-bukunya, Clara Ng adalah salah satu novelis yang karya-karyanya banyak saya ikuti. Meski ide ceritanya suka aneh-aneh dan kadang suka bikin bingung habis baca (saya masih ingat bagaimana akhir dari The (Un)Reality Show bikin saya pusing tujuh keliling dan berharap kalau ending-nya nggak usah seperti itu, cukup bikin yang simpel tapi kocak saja seperti yang sudah terbangun dari awal cerita secara alamiah), saya tetap berusaha untuk menikmati tulisan-tulisannya sampai selesai. Saya nggak tahu pasti dari mana asal ide untuk novel terbarunya ini (yang sempat saya kira bergenre Metropop tapi ternyata nggak mengusung label Metropop), tapi karakterisasinya sungguh-sungguh mengingatkan saya akan "Ranma 1/2". Atau jangan-jangan malah dari Charmed ya? IMO, nggak sih... lebih berat ke "Ranma 1/2" lengkap dengan bumbu kesintingannya. Seperti biasa, Clara Ng memasukkan bumbu-bumbu humor yang lumayan kental ke dalam deskripsi suasana dan percakapan-percakapan antar karakternya. Bumbu-bumbu tersebut, jujur, sukses bikin saya nyengir-nyengir selama baca novel ini, terutama bagian percakapan antara Xander dengan Pax. Dan bagaimana mereka dikira sepasang kekasih karena kedekatan 'tidak lazim' antara mereka... oh my God, those parts are ridiculously funny. Dan cerita tentang ulah Pax dan Dakocan di Varaiya dulunya... ha ha ha, nggak disangkaaaaaaaaaa!! Lalu, penuturan Pax tentang phobia-nya terhadap kucing!! Ya Tuhannnnnnnnn!!
Dibandingkan dengan novel terbaik Clara Ng (menurut saya pribadi), Dimsum Terakhir, yang kental dengan nuansa budaya Cina dan karakterisasi yang jauh lebih kompleks, "Jampi-jampi Varaiya" adalah kisah yang ringan. Cocok dibaca karena menghibur dan tidak akan meninggalkan kita dengan segudang pertanyaan yang butuh pertanyaan di akhir cerita. Membacanya pun minus kening yang berkerut. Bukan yang terbaik tapi tetap menarik untuk diikuti. Hanya saja, saya merindukan cerita yang 'berat' seperti "Dimsum Terakhir" yang berani mengupas tentang kehidupan orang-orang keturunan Cina di Indonesia secara jujur lengkap dengan segala macam problemnya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Saya baru saja beli buku ini. Telat banget kali ya. Novel ini menurut saya seperti sitkom yang ditulis. Temanya biasa namun pengungkapannya unik. Komedi yang elegan. Meski ceritanya tidak menginjak bumi tapi bisa diterima. Hanya satu saja yang saya kurang sreg yaitu kadang peran Samudera sering hilang, keberadaannya di novel ini seperti dipaksakan. Meskipun dia tidak ikut petualangan itu pun tidak jadi masalah. Fungsi dia di petualangan itu pun tidak ada dan dia malah banyak diam baik secara dialog maupun narasi. Jadi saya sering kaget lho ternyata Samudera ini ada to. Yang bisa saya ambil dari novel ini pada dialog dan teknis penulisannya saja namun untuk konflik, plot, dan alurnya terlalu sangat biasa untuk seukuran Clara NG. Namun novel ini cukup menghibur.
Buku yang menghibur, tokoh-tokohnya konyol abis lengkap dengan bahasa yang ringan sukses membuat saya lepas dalam dunia imajinasi keluarga ini btw nama anak-anaknya lucu semua dari kentang, sampai padi dalam latin :D
recommended buat orang-orang yang ga ingin mikir ribet, yang ingin baca santai
Cukup bikin ngakak sih ceritanya 😂😂 Suka sama semua tokohnya dan tingkah laku mereka Penyihir yg diceritain di sini juga berasa kaya manusia biasa, mereka ga se-eksklusif itu deh Penggunaan bahasa untuk dialog antartokohnya juga santuy abis, berasa kaya anak gaul yg kebetulan bisa sihir gitu Bodor abis deh tokoh2nya 😂
pertama ngira ini cerita biasa, mungkin main dukun-dukunan. ternyata ini tentang keluarga penyihir yang tinggal di jakarta. asyik banget! jarang-jarang nemu urban fantasy yang masih terasa "normalnya" tapi tetep nunjukin ini tuh fantasi... does that make sense.
kocak banget ceritanya, walaupun ada beberapa jokes yang agak ganjal buatku but it was one enjoyable read. :)
Jampi-Jampi Varaiya adalah seri pertama dari tiga kisah petualangan Oryza sebagai penyihir canggih level delapan.
Bermula dari niatan Oryza untuk belajar memasak, ia membeli rempah-rempah ajaib dari adiknya, Solanum. Oryza percaya, ramuan itu bisa membuat masakannya mejadi super duper lezat. Soalnya selama ini diam-diam Oryza merasa tertekan juga dengan anggota keluarganya yang seperti disambar petir saat mengetahui bahwa ia akan memasak. Tetapi sih alasannya yang paling utama mungkin saja adalah membuatkan makanan spesial untuk Xander. Meskipun sama-sama belum mengakui saling naksir, Oryza sepertinya ingin Xander terkesan dengan masakannya.
Namun tak disangka, Solanum tidak mendapatkan rempah-rempah Varaiya itu dengan cara yang baik. Gadis yang cerdas dalam mengolah angka itu mencurinya dari nenek Gray, yang juga merupakan nenek dari musuh bebuyutan Oryza; Strawbery.
Oryza pun antuasias memasak dan menuang rempah-rempahnya dalam dosis yang besar, hingga membuat rendang yang tengah dimasaknya hidup dan melarikan diri dari panci! Tak hanya itu, makhluk jadi-jadian itu rupanya juga senang mengunyah apa saja yang ada di hadapannya. Masalah bertambah runyam saat Zea dan Solanum juga tak sengaja menyeduh teh Varaiya dalam dosis yang lumayan banyak. Selain cangkir minum mereka yang hidup dan berjalan-jalan sendiri, kedua kakak dan adik Oryza itu juga berubah perangainya. Mereka telah keracunan teh. Membuat sikap keduanya menjadi di luar kebiasaan dan mendadak sangat kejam. Lantas Oryza dan Xander meminta bantuan nenek Gray untuk memberikan penangkalnya. Tetapi sayangnya nenek itu tak memilikinya. Ia menyarankan Oryza untuk mencarinya sendiri di pulau Varaiya. Pulau yang bahkan tak terdapat dalam peta Indonesia! Dan petualangan Oryza pun dimulai!
*** Senang sekali membaca kisah Oryza lagi. Tetap seru, menghibur, dan keren lah pokoknya. Saya suka cara berceritanya yang mengalir lancar. Tak terduga dan seringkali berhasil meledakkan tawa saya. Selain nama-namanya, semua karakter di sini unik dan konyol. Termasuk para karakter antagonis yang anehnya justru membuat saya tidak suka sekaligus juga terhibur oleh tingkah mereka. Kisah petualangannya seru dan sedikit membuat penasaran. Juga ada twist di akhir cerita mengenai penawar racun Varaiya.
Bagian yang paling saya fovoritkan tentu saja Oryza-Xander momen yang pahit-pahit manis. Omongan mereka satu sama lain aja yang pahit, tetapi dalam hati mereka terdapat keinginan manis untuk melindungi dan menjaga satu sama lain.
Berikutnya adalah bromance antara Xander dan Pax. Meskipun hampir setiap bertemu, mereka selalu bertengkar heboh. Xander yang senewen karena sebenarnya ia cemburu melihat Pax yang sering berubah mejadi kucing bernama Dakocan untuk bisa tidur bareng Oryza, selalu saja menyindir dan berkomentar pedas pada Pax. Sementara Pax sendiri, selalu menyalahkan Xander yang memang sering mengatakan hal-hal yang menyakiti hati Oryza. Meski sebetulnya Pax juga cemburu lantaran menyadari bahwa Oryza begitu perhatian pada Xander. Namun di lain sisi, dalam kondisi tertentu, mereka juga bisa kompak dan saling menjaga. Terbukti sekali saat Xander menarik tangan Pax untuk kabur bersama dari serangan si kucing liar bernama Mobb Ibb. Serta momen di mana Pax meceritakan pengalaman-pengalamannya selama menjadi Dakocan yang selalu didengarkan oleh Xander. Meski sering sekali tanggapannya selalu membuat Pax merengut sebal.
Masih banyak sebetulnya hubungan-hubungan kompleks dan aneh yang lain, seperti Strawbery dan Aqua. Mereka bersahabat tetapi saling bersaing. Mereka bahkan tahu bahwa masing-masing naksir berat pada Xander. Yang jelas seru sekali deh. Dan sekarang saya lagi kepingin membaca seri terakhirnya. Meski menurut review, sebagian besar kisahnya adalah tentang Pax dan Nuna (siapa mereka? yuk baca sendiri! Haha), tetapi saya tetap ingin menjadi saksi Xander yang akhirnya ngelamar Oryza.
Oh ya, ending Jampi-Jampi Varaiya ini sedikit mengesalkan bagi saya (berkat kegengsian dari Oryza dan Xander!)haaaaa
Ide cerita dasarnya boleh dibilang ok lah, Clara lagi upbeat neh dengan ikut²an membawa aura magis sihir menyihir kedalam cerita barunya. Nice. Penggambaran ceritanya ok walopun yang diceritakan ini adalah dunia penyihir tapi seakan² adanya penyihir disekitar kita ini adalah hal yang realistis, meskipun nyampe ditengah² bab rada unrealistic en [sorry to said:] lebay juga sih ya di chapter terdampar ditengah lautnya itu. Tapi masih ok en fun untuk diikutin.
Tapi, entah karena editor dari JJV ini kurang jeli atau kritis kali yee...banyak sekali kekurangan² dan keganjilan² yang sedikit banyak ngebikin aku jadi rada 'males' en sedikit mengernyit buat ngelanjutin baca. Sejauh ini yang bisa aku temuin:
* Hal 33, yang bikin aku bingung sebenernya orang² dirumah Oryza tuh sudah tahu atau belum sih kalo tokoh Pax itu jelmaan kucing bernama Dakocan atau hanya Xander saja yang mengetahuinya? Karena diawal cerita cuma Xander yg tau rahasia itu, tetapi dipertengahan bab, penceritaan bergulir seakan² semua anggota keluarga sudah tau Dakocan adalah Pax. Then diakhir bab, berubah lagi hanya Xander yang tau *kebliyeng bo*
* Hal 59, gaya obrolan tokoh Xander dan tokoh Pax sungguh tidak konsisten antara pengucapan Aku dan Gue
* Hal 115, Oryza berkata penghuni rumahnya terdiri atas 4 cewek dan 8 cowok. Mari kita berhitung...pengasumsian Dadi kapasitas makannya sama dengan 3 cowok sedangkan Xander sama dengan 5 cowok. Benarr!!. Lalu kita hitung para ceweknya, ada Zea, ada Oryza dan ada Solanum, terakhir....errrr, errrr....siapa 1 orang cewek yang disebut???? *Dhuarr!*
* Hal 173, diceritakan tokoh Pax terkulai pingsan akibat shock dan tokoh Oryza menangkap tubuhnya. Hal 174, tokoh Oryza melepaskan Xander dan membiarkan lelaki itu telentang di dek. >>> Jadi yang pingsan siapa? Pax ato Xander?
* Hal 171, nama kapal yang ditumpangin Oryza cs menuju pulau Varaiya bisa berganti² dari Duyung tergoda menjadi duyung tergoyang. Jadi abis digoda trus digoyang, gitu? *apaan seehhh* :D
Lalu, aku kok rada geli dan risih ya dengan penulisan kata² "goblok" disini? Sepertinya terasa sangat kasar dan uneducated. I prefer to choose bodoh deh dibanding that G word.
Ciri khas penceritaan Clara Ng adalah unsur humornya yang diletakkan pas disetiap cerita, but i honestly have to say that i don't like Ng's humoric part in this story. Seperti contoh di hal 184, humornya garing, jayus dan...so?? Not funny. Beda dengan humor² yang ditampilkan dalam buku²nya sebelumnya (apa Clara dah keabisan stok ngelucu ya? :P )
Overall, masih bisa dimaklumin since it is Clara Ng, satu²nya novelis lokal (selaen Dee) yang buku²nya wajib aku beli. Can't wait to read the next chapter of Oryza's witch world, semoga seri Oryza's story ini bisa menyamai level sukses Indiana Chronicle yang tersohor itu.
Beristirahat sejenak dari pesona Middle Earth dengan membaca novel fantasi asli Indonesia. Ini novel pertama dari trilogi karya Clara Ng. Seenggaknya, nama besar Clara Ng cukup jadi jaminan kenapa harus baca novel ini. Seperti judulnya yang ada kata jampi-jampi, novel ini memang tentang penyihir. Jangan bayangkan penyihir berjubah kelabu yang sangat bijak, itu Gandalf. Atau penyihir pada umumnya—berhidung bengkok dan naik sapu terbang. Juga bukan sekolah modern dengan murid belajar sihir—itu Hogwart. Ini tentang kisah para penyihir yang lucu. Cerita berpusat di Oryza Sativa Raya, penyihir level delapan, yang sangat ingin bisa memasak. Dia menyuruh adiknya, Solanum Tuberosum Raya, mendapatkan ramuan Varaiya yang bisa membuatnya ahli memasak. Sola mencurinya dari restoran milik Nenek Gray dan Strawberry. Namun ternyata hasilnya malah kacau. Rendang bikinan Oryza kabur, roti sibuk menyanyi dengan bahasa Rusia, cangkir bisa berjalan dan menggigit Xander hingga berdarah, dan kakaknya Zea Mays, dan Sola jadi aneh. Untuk mengembalikan Zea dan Sola seperti semula, Oryza harus mencari Tamerit yang ada di Pulau Varaiya. Masalahnya Pulau Varaiya ini sangat susah ditemukan. Dibantu Xander, penyihir yang dijodohkan dengan Oryza, Pax, penyihir sahabat Xander yang diam-diam menyukai Oryza, dan ayahnya yang disapa Dadi, Oryza berangkat ke Pulau Varaiya bersama kapal Duyung Menggoda punya Pak Kapten dan putrinya Nuna. Sesampainya di sana, mereka malah harus mendapatkan masalah karena masa lalu Pax dan terlibat adu sihir dengan Tsungta, penguasa Varaiya sampai harus dipenjara. Novel ini sangat menghibur. Masing-masing tokoh terasa begitu komikal. Pertengkaran demi pertengkaran antara Xander dan Oryza sukses membuat gue tertawa. Belum lagi tingkah Pax yang rela berubah jadi kucing buluk jelek bernama Dakocan demi bisa dekat dengan Oryza. Perjalanan mereka ke Pulau Varaiya terasa sangat menghibur. Kelucuan juga timbul dari Strawberry dan Aqua—penyihir dari kelas ningrat—yang mencintai Xander. Mereka diam-diam mengikuti Xander dan berniat mencelakakan Oryza dan kapalnya lalu muncul sebagai pahlawan bagi Xander. Mereka yang suka salah menyebut nama masing-masing juga sukses bikin tertawa. Meski di beberapa tempat gue skimming, tetap nggak mengurangi kenikmatan membaca buku ini. Lumayanlah untuk merilekskan otak sehabis belajar sejarah Quendi bikinan Tolkien, hehehe. Clara Ng is one of my favourite. Dia nggak pernah mengecewakan gue. Dan Clara juga terkenal dengan penulis buku anak sehingga Jampi Jampi Varaiya di beberapa sisi terasa kekanak-kanakan. Lupakan Avada Kedavra atau tongkat sakti Gandalf karena sekarang saatnya menyihir dengan mantra Menyerang-Kecepatan-Tinggi-Seperti-Kilat-Guntur-Dan-Langit-Yang-Sakit-Perut. Once more, di buku satu ini gue belum memutuskan untuk naksir Xander atau Pax. Untuk suka sama Dakocan atau Mob ibb hihihi.
Baca metropop beginian enak, cepet kelar bacanya.. Tapi oh tetapi saya koq-not-in-to-this-book ya?
Ceritanya sih lumayan greget, menceritakan sekeluarga penyihir dengan nama yang bagus dan unik, Zea, Oryza dan Solanum. Saya suka nama Solanum *mungkin ga ya jadi nama anak saya nanti* Gara-gara salah memakai rempah rempah Varaiya terjadi keonaran besar yang berakibat petualangan Oryza (si tokoh utama) dengan Xender (jodoh Oryza), Pax (penyihir yang bisa jadi kucing bernama Dakocan), bapaknya anak-anak yang bernama Samudra Raya ke pulau Varaiya.
Bayangin rendang warna ungu, cangkir bertaring, pulau Varaiya yang mengingatkan saya akan Pandoranya James Cameron sih asyik, yang bikin saya ga terlalu suka buku ini karena banyak banget pertengkaran. Mungkin Clara Ng menjadikan pertengkaran Ory-Xander, Xander-Pax memperebutkan cinta Ory sebagai bumbu buku ini. Sama seperti rempah Varaiya kalau terlalu banyak jadi berbahaya, nah halnya dengan ribut ribut antar tokohnya. Dasarnya saya ini tukang ngayal kelas berat, nah jadinya waktu baca buku sambil bayangin pertengkaran yang hampir tak henti bikin capek :P Kesan yang sama saat saya baca Divortiare.
Untungnya bab terakhir lumayan menenangkan, endingnya juga pas. Jika dilihat-lihat Clara Ng punya beberapa karakter penulisan, Jampi-jampi Varaiya mirip dengan Indiana. Favorit saya tetep, Dimsum Terakhir.
cukup kaget waktu pertama membaca buku ini dan menemukan bahwa Clara Ng adalah otak dibalik semua ke'magic'an dalam buku ini. kenapa? tentu saja karena 2 buku Clara Ng yang sudah saya baca sebelumnya (Tea for Two, Malaikat Jatuh) benar2 berbeda karakternya dengan Jampi-Jampi Varaiya ini. Dimana dalam Tea for Two dan Malaikat Jatuh Clara Ng memilih tema yang lebih serius dibanding Jampi-Jampi Varaiya yang bergenre fantasi dan bernuansa komedi. Tapi saya suka! saya jatuh cinta! Jampi-Jampi Varaiya sukses membuat saya tertawa dan terhanyut dalam serunya petualangan yang dialami Oryza, Xander, Pax, Samudra, dll. Saya sangat menyukai bagaimana Clara Ng menciptakan karakter2 yang unik dan berhasil menggambarkan detil latar suasana cerita dengan sangat baik. saya sempat berkomentar di twitter saya: "selalu jatuh cinta sama buku2nya @clara_ng . Bagus bgt!! Kok bisa sih bkin buku genre bda2 gtu? Mauu bisa jg deh hihi" dan beberapa waktu kemudian clara ng me re-tweetnya: " miara tuyul =) RT @knangawngu: selalu jatuh cinta sama buku2nya @clara_ng . Bagus bgt!! Kok bisa sih bkin buku genre bda2 gtu? Mauu bisa jg deh hihi" jawaban yang sangat imaginatif hahaha
Gue termasuk penikmat setia karya-karya Clara Ng. Rasa-rasanya, hampir semua buku Clara Ng gue punya, termasuk buku anak-anaknya. Dan, rasa-rasanya juga, baru kali ini Clara Ng nulis buku yang (maunya) kocak – setelah Indiana Chronicles. Tapi, sejujurnya, gue lebih suka baca buku Clara Ng yang rada serius, kaya’ Dim Sum Terakhir atau Uttuki. Di sini banyak lelucon atau joke yang jadi garing, kaya’nya panggilan untuk Strawberi yang selalu disalah-salahi jadi ‘Nangka’, atau ‘Cempedak’ atau apalah – yang berlaku juga untuk Strawberi pas manggil Aqua, jadi ‘Milo’ atau ‘Pocari’. Karena berulang-ulang dan keseringan malah jadi ‘basi’.
Terus, petualang di Pulau Varaiya malah porsinya gak terlalu banyak. Hmmm.. mungkin karena yang difokuskan bukan di pulaunya, tapi di ‘jampi-jampi’-nya ya.
Tapi, cerita belum selesai sampai di sini. Masih ada lanjutan kisah tentang penyihir yang kocak-kocak ini di buku selanjutnya.
2,5 bintang - Betul kata Uci, novel ini komedi konyol yang harus dibaca dengan tujuan menghibur hati. Setelah beberapa halaman membaca adegan komedi yang hiperbolis, aku juga menyadari itu dan bertekad mengubah kerangka pikiran, dari bersiap membaca novel serius unggulan KLA menjadi membaca novel hiburan. Tapi, kok sulit sekali. Jenis humornya jenis yang membuatku harus membiasakan diri, seperti humor serial 30 Rock atau The Office, dan gawatnya aku ngga terbiasa-terbiasa. Label "KLA" itu terus terbayang-bayang dan membuat saya mengharapkan lebih. Suasana romantis yang diselipkan di antara komedi terasa kurang pas bagiku. Dan bahasa yang, entah kenapa, terbaca seperti bahasa terjemahan juga membuatku membaca dengan tersendat-sendat.
Oke, saya akan komentari dari nama tokoh dalam novel ini. Namanya uniiiik! (y) Zea mays, Oryza sativa, sampai dengan Solanum tuberosum. (catatan: itu adalah nama latin dari jagung, padi, dan kentang). Selain itu ide ceritanya unik, tentang dunia penyihir, ditambah lagi latarnya di Indonesia! :O
Di awal cerita, saya masih cukup terhibur dan terbawa alur. Namun di halaman terakhir, tepatnya setelah settingnya berada di Pulau Varaiya, kok rasanya ceritanya semakin membosankan saja, ya? Ditambah lagi pertengkaran antara Xander dan Pax terasa begitu kekanakan serta begitu tidak mengenal tempat dan situasi. Kesannya jadi begitu berlebihan dan garing. Clara Ng juga terasa mengadopsi beberapa bagian cerita Harry Potter...
Namun, saya tetap menyukai ide cerita ini yang agak berbeda dari novel-novel kebanyakan. Dan juga terutama saya puas untuk endingnya :)
Okeee, again, penyihir ala chicklit! So far aku suka dengan kekocakannya, dan para karakternya.
Tapi setelah full membaca sampai habis, rasanya tidak bisa memberi bintang lebih dari dua, karena sampai habis dibaca pun buku ini belum bisa memberikan lebih dari kelucuan dan hiburan karikatural. Much like nonton opera ekstravaganza transTV yang pengonsepan dan eksekusinya lebih berkelas, itu aja (mungkin mirip situasi ekstravaganza generasi pertama kali, ya).
Konsep dunia sihirnya sih cukup bagus. Cuma karena tingkah laku orang-orang di dalamnya digambarkan begitu karikatural, semuanya jadi terasa nggak 'matters' lagi... mau diolah logic-nya pun jadi gak relevan.
Yah, mungkin maksud pengarangnya juga cuma buat sekedar hiburan aja, kali. So, jangan salahkan pengarang :)
Lucu habis....! Benar-benar menghibur, apalagi setelah membaca buku yang rada susah dimengerti. Telat sih baca komen temen-temen di GRI
Asyik juga kalo punya ramuan yang bisa bikin makanan enak Minimal khan enggak perlu ahli masak asal thu resepnya, bikin masakan trus kasih deh tuh ramuan.
Tapi serem juga kalo ketemu cangkir yang asyik merendam di air panas atau rendang yang hobi jalan-jalan.Tokoh kucing yang bsia berubah menjadi manusia, mengingatkan pada sebuah film, aduh apa yah namanya. Hanya saja si kucing berubah menjadi tokoh yang jahat. Makanya guna membuat ia tidak bisa berubah menjadi orang, dilehernya dipasangkan sejenis pita.
Walau ada bumbu kisah percintaan, namun kelucuan yang ada serasa segar dan menghibur.
Oooh... sepertinya buku ini berusaha terlalu keras untuk jadi cerita lucu too much, jadi malah lebay jokenya garing abis, karena diulang-ulang jadinya lucunya sama sekali ga berasa, dan berisik pula ya ampuun ga bisa apa ada dialog yang ga pake berantem, tolol2an
padahal Indiana yang kocak itu dapet loh nuansa lucunya kenapa yang ini enggak yaa mungkin seperti pendapat gw sebelumnya pengarangnya kayanya ga terlalu cocok nulis genre fantasi gw juga ga terlalu cocok sama Uttuki tapi ini berasa lebih jelek lagi mungkin ini perasaan gw aja ya berasa ga cocok aja ada penyihir2 gitu di indonesia hahaha dukun mah iya kyahahaha
ya sudahlah sebenarnya sih dua bintang saja, tapi covernya cantik, gw tambahin 1 bintang lagi..
Not the kind of Clara Ng's book (Gerhana Kembar, Malaikat Jatuh, Tea For Two) I had read, but since my aim was to have anything serious this week--moreover with the situation I'm facing--so Jampi2 Varaiya is the kind of book that suit. Despite the many negative reviews, which luckily I didn't read before I finish the book, I still think that Jampi2 Varaiya is not that bad.
Yes, it contained old jokes...but this is fantasy book, where you need relax while reading it :)
I think this book is a comedy that's trying too hard. Eventually it goes over the top and then some... and well, by the end it became way too much. The attempt to be funny definitely should be toned down a little so the whole thing doesn't end up as being too slapstick and unable to be taken seriously at all. Pure comedy without heart just doesn't work. And strangely enough, this reads like someone who's more used to writing in English and had to translate it into Indonesian... something I recognize because I'm that kind of writer myself :)
aku tau buku ini sudah lamaaa, mungkin sekitar SMP waktu itu lagi ada diskon di teraskota tapi gak ku beli haha ujungnya ya yup beli di olshop lagi..
aku jarang baca novel dengan tema penyihir atau fantasi semacam itulah, tapi begitu baca ini wiiih seruu. dan yang harus kalian tau aku baca ini setelah Ramuan drama cinta. loh kenapa? ya aku belinya terpisah dan kebetulan aku beli yg keduanya dulu baru setelah itu yg ini tapi hebatnya tetep ngerti dan gak bikin bingung.
suka banget sama alur ceritanya yang gak ribet dan cocok buat yang mau baca novel sambil santai
Duh ampun-ampun dah buku ini. Menghibur abis. Dari awal gw nggak hentinya ngikik-ngikik bacanya. Gk usah mikir macem-macem saat baca buku ini. Kenapa begini, kenapa begitu. Ikuti saja imajinasimu, karena memang kekonyolan adalah inti buku ini. Melihat tingkah keluarga "karbohidrat", pertengkaran Oryza & Xander melebihi kucing & anjing, tingkah Pax yang konyol plus pertemanan Aqua & Strawberry yang sukses bikin gw ngakak. Bayangin mereka ada di real life pasti seru abis. Konyol!! Love it!
sebenernya rada ga ngerti ama cerita ini. krik krik Trus ga suka ama gaya bahasa. Gaya penceritaannya. Kok kayaknya penulis tuh bercerita ama diri sendiri yah bukan ama pembaca. Alias pas dibaca bingung setengah mati. Fokus ceritanya ke mana dan ke siapa. Ga suka juga ama penggunaan panggilan yang beda-beda tapi ga tepat sasaran. Kadang saya kadang aku...
Saya membeli buku ini tahun 2011 lalu. Dua seri sekaligus (Jampi-Jampi Varaiya dan Ramuan Drama Cinta). Dan sampai tahun 2013 ini, saya belum selesai membaca Jampi-jampi Varaiya. Entah kenapa. Padahal saya biasa menyelesaikan membaca satu buku dalam satu hari saja. Mungkin jika saya punya terlalu banyak waktu kosong, dan tidak punya buku lain untuk dibaca, saya akan menyelesaikan buku series ini.
I LOVE THIS BOOK! Baru pertama kali baca novel fantasi Indonesia yang kerasa Indonesia banget. Nggak ada unsur ambil latar di luar negeri, atau tokohnya orang asing, jadi benar-benar cerita fantasi yang Indonesia banget.
Menurutku juga, ide dari novel ini jenius! Dari awal sampai akhir aku menikmati sekali bacanya, gaya bahasanya menarik dan mudah dimengerti juga. Penjelasannya tentang penyihir juga masuk akal, I'm looking forward to read the sequel!
Lucu.... cukp bikin tersenyum-senyum dan males berhenti... hee lucu karena settingnya di Indonesia... karena jurusnya lucu2... karena ada dakocan yang imut... cerita umumnya tentang sepasang orang yang dijodohkan tapi merasa terhina karena merasa dianggap g mampu cari calon duami sendiri tapi ternyata mereka memang saling membutuhkan....ditengah berbagai cobaan yang mendera... hehehe
idenya seperti mengingat salah satu episode sitkom dimasa lalu. tentang keluarga penyihir. tetapi kurang asik dibacanya. mungkin perlu dibaca sekali lagi. ini bukan karena mba clara kehilangan kemampuannya bercerita...bukan...tetapi there something missing ajah. bukan soal alur tetapi aahhhh...sudahlah...dienjoy-in ajah...
Awal ceritanya memang menarik, tapi lama-lama kelamaan membosankan. Kurang greget dan selama membaca yang terbayangkan adalah percakapan a la sinetron ABG yang banyak adu mulutnya. Malah jadi pusing sendiri.
Beli buku ini karena tertarik dengan nama besar Clara Ng, tapi ternyata nama besar tidak selalu membuat semua hasil karyanya se-'wah' namanya.