Jump to ratings and reviews
Rate this book

Larasati

Rate this book
LARASATI – sebuah roman revolusi semasa perjuangan bersenjata 1945-1950. Kisah tentang pemuda-pemuda Indonesia yang rela membaktikan jiwa raga demi proklamasi kemerdekaan, kisah-kisah tentang para pahlawan sejati dan pahlawan munafik, pertarungan di daerah republik dan daerah pendudukan Belanda – antara yang setia dan yang menyeberang, antara uang ORI dan uang Nica, dengan wanita sebagai tokoh utama – bintang film tenar yang dengan caranya sendiri memberikan diri dan segalanya untuk kemenangan revolusi. Potret revolusi semasa yang menghidupkan kembali sepenggal sejarah di tahun-tahun awal proklamasi kemerdekaan, sebuah potret jujur gaya Pramoedya tentang kebesaran dan kekerdilan, kekuatan dan kelemahan revolusi. Sebuah fiksi yang menghanyutkan kita seakan menghayati kembali suatu dokumentasi non fiksi Indonesia semasa romantika pertempuran berkecamuk di "jaman bersiap!"

180 pages, Paperback

First published April 2, 1960

125 people are currently reading
1547 people want to read

About the author

Pramoedya Ananta Toer

84 books3,107 followers
Pramoedya Ananta Toer was an Indonesian author of novels, short stories, essays, polemics, and histories of his homeland and its people. A well-regarded writer in the West, Pramoedya's outspoken and often politically charged writings faced censorship in his native land during the pre-reformation era. For opposing the policies of both founding president Sukarno, as well as those of its successor, the New Order regime of Suharto, he faced extrajudicial punishment. During the many years in which he suffered imprisonment and house arrest, he became a cause célèbre for advocates of freedom of expression and human rights.

Bibliography:
* Kranji-Bekasi Jatuh (1947)
* Perburuan (The Fugitive) (1950)
* Keluarga Gerilya (1950)
* Bukan Pasarmalam (1951)
* Cerita dari Blora (1952)
* Gulat di Jakarta (1953)
* Korupsi (Corruption) (1954)
* Midah - Si Manis Bergigi Emas (1954)
* Cerita Calon Arang (The King, the Witch, and the Priest) (1957)
* Hoakiau di Indonesia (1960)
* Panggil Aku Kartini Saja I & II (1962)
* The Buru Quartet
o Bumi Manusia (This Earth of Mankind) (1980)
o Anak Semua Bangsa (Child of All Nations) (1980)
o Jejak Langkah (Footsteps) (1985)
o Rumah Kaca (House of Glass) (1988)
* Gadis Pantai (The Girl from the Coast) (1982)
* Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (A Mute's Soliloquy) (1995)
* Arus Balik (1995)
* Arok Dedes (1999)
* Mangir (1999)
* Larasati (2000)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
444 (23%)
4 stars
630 (33%)
3 stars
667 (35%)
2 stars
109 (5%)
1 star
23 (1%)
Displaying 1 - 30 of 185 reviews
Profile Image for Helvry Sinaga.
103 reviews31 followers
April 26, 2011
Cover buku ini menarik. Warna cerah oranye dengan dengan covergirl seorang perempuan seperti wajah di Majalah Anita Cemerlang. Novel ini ditulis dalam suasana awal kemerdekaan Republik Indonesia, sekitar Tahun 1950. Pada masa itu, sedang masa peralihan antara kemerdekaan RI yang seutuhnya dan agresi militer Belanda yang masih tidak rela kehilangan Indonesia sebagai jajahan terbesarnya.

Instablitas politik dan keamanan menjadi isu penting. Tidak menjadi soal bagaimana para pemimpin negara bekerja sama untuk menggapai Indonesia yang utuh. Ini sebuah cerita dari segelintir jutaan rakyat Indonesia, yang mengabdikan dirinya pada sebuah kata: REVOLUSI. Revolusi adalah sebuah istilah yang digunakan oleh Soekarno untuk mencerahkan rakyat Indonesia dari kolonialisme dan feodalisme yang baru saja berakhir sengatnya. Ia mencita-citakan suatu perubahan pikiran dan tindakan yang bebas dari penindasan dan tekanan. Karakter inferior pada bangsa terjajah diubah dengan perubahan pemikiran, perubahan tingkah laku yang bersandar pada kekuatan Bangsa Indonesia sendiri. Pram, sebagai salah seorang yang mendukung Revolusioner, menggunakan kalimat-kalimat yang memompa semangat kaum muda Indonesia saat itu, untuk berubah, berubah cara pandang dan tingkah laku.

Pram mengambil Larasati sebagai tokoh utama novel ini untuk menggugah rasa nasionalisme. Ia tidak mengambil tokoh seorang militer, namun seorang seniwati. Mungkin ia beranggapan bahwa perjuangan pun tidak selalu lewat perjuangan fisik, tetapi lewat keahlian atau profesi unik masing-masing orang.

kalau mati, dengan berani; kalau hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.

Perjalanan pulang Ara dari Yogyakarta ke Jakarta, tidak sekedar pulang kembali ke rumah. Ia pulang dengan meninggalkan kenangan, serta bertemu dengan orang-orang yang semakin memantapkannya untuk ikut Republik. Sebagai pekerja seni yang profesinya menghibur tentara, ia punya jaringan pada tentara-tentara yang padanya ia dapat aman, terutama dengan tentara NICA. Pada saat itu, dibuat film-film propaganda sejarah oleh NICA, dengan bantuan akting Ara. Setelah ia memutuskan tidak bekerjasama lagi dengan tentara NICA, ternyata menuai masalah. Zona aman yang dekat dengan dirinya, ia tinggalkan dan ia merasa ia berjuang sendiri.

Pertemuan dengan seorang kakek di kereta api, seorang opsir, seorang pemuda yang memberi selendang padanya, membuat ia sangat menghargai kemerdekaan. Ia menentukan sikap dengan tidak bekerjsama lagi dengan pihak penjajah. Konsekwensinya, ia kehilangan penghasilan, ia kehilangan teman-teman dan karir yang masih cemerlang di usianya yang produktif.

Pertemuan dengan seorang muda di dekat rumahnya, membuat ia "teracuni." Pemuda-pemuda yang mendukung republik saat itu sedang gencar-gencarnya melakukan serangan pada pasukan kompeni. Ara akhirnya terlibat dengan peperangan secara fisik. Sebab, baginya, itulah risiko revolusi. Risiko pejuang yang bermimpi tanah air bebas. Apa yang dikatakan oleh pemuda yang bernama Martabat itu, dikala mereka berdua sedang bersembunyi dari sergapan pasukan musuh?


Suaramu gemetar. Kau tak punya rasa dendam? Kalau orang cintai tanah airnya dia mesti dendam pada musuh tanahairnya. Dia takkan takut. Kau benar-benar mau berjuang buat tanah airmu? (h.97)


selanjutnya, Martabat meyakinkan Ara bahwa setiap perjuangan tidak sia-sia, sebab perjuangan itu punya tujuan.


Kalau kau belum punya anak, kau akan mengerti lebih banyak apa kataku. Mengerti? Juga buat anakmu yang belum lahir kami lakukan perjuangan ini. (h.99)


Takut memilih. Takut pada pilihan. Percakapan antara Martabat dan Ara yang membahas masalah ketakutan. Martabat menanyakan apakah Ara masih takut? Takut pada malam? atau takut pada tentara? atau takut karena selama ini ia sering berada di tempat yang nyaman alih-alih di medan perang yang setiap saat dapat saja merenggut nyawanya. Kalimat yang diucapkan Martabat menunjukkan bahwa ia paham benar apa maksudnya berjuang. "...perjuangan selamanya mengalami menang dan kalah, silih berganti. Kalau kau menang, bersiaplah untuk kalah, dan kalau kau kalah, terima kekalahan tersebut dengan hati besar, dan rebutlah kemenangan."

Ara dengan perjuangannya sebagai seorang wanita menunjukkan dengan berani, bahwa ia tidak mau ikut dengan Jusman. Seorang keturunan Arab, yang kemudian mengajaknya hidup bersama namun tanpa ikatan pernikahan. Ara tidak bersedia bekerjasama dan sedikitpun ia tidak mau menjenguk Jusman ke rumah sakit. Ia menunjukkan kebenciannya dengan tetap berdiam di rumah. Kemudian diketahuilah bahwa Jusman pun adalah mata-mata NICA.


kalau mati, dengan berani; kalau hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.

Masih relevankah pesan 50 tahun yang lalu dengan kondisi bangsa kita saat ini? Apakah perilaku korupsi menunjukkan bahwa kita sebenarnya belum merdeka. Belum merdeka dari keterjajahan mental feodal dan tidak mau bekerja keras?


hanya angkatan tua yang mengajak korup, angkatan muda membuat revolusi. Pemuda sedang melahirkan sejarah.

Walau novel ini sudah beredar di negeri ini lebih dari 50 tahun yang lalu, namun pesannya pada generasi muda sekarang masih relevan. Yaitu perjuangan belum selesai, dan masih membutuhkan waktu panjang. Kemerdekaan masih cita-cita. Merdeka dari kebodohan, merdeka dari kemiskinan, merdeka dari penindasan, merdeka dari ketidakadilan, merdeka dari korupsi, dan masih banyak cita-cita merdeka lainnya. Untuk itu perlu punya prinsip keberanian. Berani membela harga diri, berani berpendapat, berani bertindak, dan berani membaca :)

Memaknai kembali perayaan Hari Kartini pada tanggal 21 April ini, pada Kompas Minggu, 24 April 2011, mengutip yang dikatakan oleh Lea Simanjuntak:
”Sekarang sudah banyak perempuan hebat, berpendidikan tinggi, punya jabatan tinggi, tetapi jangan lupa, perlu juga jadi perempuan yang berkepribadian, bertanggung jawab, dan bisa dipercaya,”

Selamat Hari Perempuan Indonesia. Indonesia yang berubah sebenarnya ada di tangan perempuan. Selamat kepada perempuan. Andalah pengubah Indonesia.

@hws25042011

Profile Image for Nenangs.
498 reviews
April 22, 2011
novel larasati bertutur tentang sulitnya hidup bagi rakyat pro kemerdekaan di masa-masa paska proklamasi – pendudukan (kembali) oleh Belanda – hingga KMB & pengakuan kedaulatan RIS oleh Belanda, bahkan bagi seorang aktris panggung & bintang film (merangkap pelacur?) seterkenal larasati.

diceritakan, larasati yang berpindah dari yogya (dikuasai Indonesia) ke jakarta (dikuasai Belanda) dengan tujuan untuk kembali bermain film dan mencari ibunya yang hidup terpisah setahun lamanya, mengalami perubahan hidup yang drastis. dia yang di yogya hidup layak berkecukupan, terpaksa hidup seadanya sesampainya di jakarta, bahkan sempat merasakan ikut dalam pertempuran kecil dan kelaparan beberapa hari akibat sikapnya yang bersimpati pada para pejuang kemerdekaan dan tidak mau bekerja sama untuk propaganda pihak belanda. hanya satu yang tidak berubah, hampir semua laki-laki yang berinteraksi dengannya menginginkan tubuhnya.

novel larasati yang relatif tipis ini merupakan perkenalan pertama saya dengan karya Pramoedya Ananta Toer. dalam novel ini saya merasakan bahwa PAT tidak hanya sekedar menulis novel “biasa”, melainkan menuliskan padangan/pendapat dan kritiknya terhadap kondisi sosial pada masa paska kemerdekaan. saya merasakan adanya sentimen kuat pram terhadap “kaum tua” yang memegang tampuk kekuasaan, duduk enak2 sebagai pimpinan, korup, tapi dapat nama, sementara “anak-anak muda” lah yang sebenarnya membuat sejarah, tapi terpaksa berjuang mati2an dan bergelimang dalam kesulitan. mungkin bisa dibandingkan dengan para rapper tahun2 80-90an yang menyuarakan ketidakadilan sosial lewat lagu2 mereka.

selain rasa sentimen yang cukup kental, saya juga merasakan kuatnya rasa nasionalisme PAT, cenderung agak radikal menurut saya, terpapar disana-sini sepanjang cerita. rasa nasionalisme pram ini tersirat sangat jelas dalam kutipannya sebagai pesan Ma’in, salah seorang pejuang yang sudah gugur, kepada anak-anak muda pejuang di lingkungannya, sbb: “Kalau mati, dengan berani; kalau hidup, hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada – itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.”. kutipan ini mungkin salah satu kutipan dari pram yang paling terkenal.

selain kedua hal (sentimen & nasionalisme) yang cukup kentara diatas, saya merasakan kurangnya penghargaan (atau pemahaman?) pram terhadap diplomasi politik. KMB, yang merupakan tonggak sejarah penting dalam kembalinya kedaulatan Indonesia, dalam novel ini terasa seolah tidak begitu penting. apa saya yang salah memahami? bisa jadi.

satu hal yang mungkin menjadi faktor kendala bagi saya adalah pola bahasa. saya tidak familiar dengan pola bahasa yang digunakan PAT dalam novel ini. susunan kata-kata dalam kalimat-kalimatnya agak aneh bagi saya, seperti terbolak-balik dari pola umum yang biasa saya kenali, sehingga terasa agak arkaik. tapi itu tidak berarti kalimat-kalimat tersebut jadi sangat tidak nyaman dibaca atau sangat sulit dipahami, toh seperti saya bilang di atas, ini pertama kalinya saya membaca karya PAT. seolah penikmat kuliner, inilah pertama kalinya saya mencicipi hidangan dari PAT, seorang koki yang sangat terkenal di dunia sastra indonesia. mungkin citarasa yang berbeda membuat saya belum bisa terlalu menikmatinya, atau memang tidak cocok saja.

yang penting lagi, dengan review yang dipanjang-panjangin ini mudah2an saya nggak masuk black list pembagian buku gratis dari bebebnya kang aki. :D
Profile Image for Aveline Agrippina.
Author 3 books69 followers
May 19, 2011
Revolusioner Larasati

Pramoedya. Tentulah hampir semua orang tahu siapa dia. Namanya menjulang di dalam dunia sastra Indonesia setelah Tetralogi Buru lahir dan namanya sempat terdaftar sebagai calon penerima Nobel Sastra. Satu-satunya orang Indonesia yang pernah dinominasikan di dalam penerima Nobel Sastra. Tetralogi Buru sendiri sudah diterjemahkan ke dalam berbagai macam bahasa.

Kali ini Pram bercerita tentang kehidupan Larasati. Larasati adalah seorang aktris yang hidup di Yogyakarta yang kemudian di dalam perjalanannya menuju Jakarta untuk kembali bermain film dan menemui ibunya yang ditinggalkannya setahun. Profesi Ara bukan hanya sebagai aktris, tetapi juga sebagai pelacur. Namun demikian, Ara bukanlah perempuan yang tidak peduli lagi dengan keberadaan negerinya. Kedatangannya di Jakarta pun disambut sebagai seorang NICA. Ori (Oeang Republik Indonesia) yang menyelamatkan dirinya dari tongkat kakek yang akan melayang kepadanya. Ara adalah seorang perempuan yang ingin berjuang untuk bangsanya meski ia bukan perempuan yang bersih. Itu dikatakannya sendiri:

"Bagaimana pun juga kotornya namaku aku akan tetap dapat berguna. Kotor?"

"Biar aku kotor, perjuangan tidak aku kotori. Revolusi pun tidak! Negara pun tidak! Rakyat apa lagi! Yang aku kotori hanya diriku sendiri. Bukan orang lain."

Bahkan lewat Ara, Pram mengkritik golongan tua yang begitu hina, korupsi, dan mementingkan diri sendiri.

"Hanya angkatan tua yang mengajak korup, angkatan muda membuat revolusi."

Lewat Ara pula, Pram menyatakan bahwa golongan muda adalah golongan yang seharusnya membuat pergerakan baru. Yang akan membentuk diri bangsa dengan lebih baik untuk masa depan. Pram ingin melihat Revolusi terjadi. Lewat Ara, Pram mengajarkan kita menjadi pejuang yang berani. Berani kalah ketika menang dan berani berbesar hati ketika sudah merasakan pahitnya kekalahan.

"Kalau kau menang, bersiaplah untuk kalah, terima kekalahan itu dengan hati besar, dan rebutlah kemenangan."

Dan menurut Pram, "Revolusi-dia adalah guru. Dia adalah penderitaan. Tetapi dia pun harapan."

Ciri khas Pram yang tak akan lepas adalah ceritanya selalu berputar soal perjuangan. Semangat nasionalisme yang selalu dikumandangkan lewat romannya membuat orang menjadi tergugah. Cinta akan tanah air tanpa harus menjadi seorang Belanda yang ia lapiskan dalam tokoh yang bernama Larasati, seorang pelacur, aktris, bahkan seorang istri yang membangkang kepada sang suami yang menjadi seorang idealis dan berusaha lahir sebagai seorang revolusioner.

Membaca Larasati hampir tak beda dengan membaca roman yang berasal dari Melayu Klasik. Meski dikemas dengan bahasa yang lebih sederhana, itu tidak bisa menghindari harus membaca berulang kali untuk dapat memahami kalimatnya. Untuk yang baru kali pertama membaca Pram atau lebih menyukai roman dengan kalimat yang lebih mudah dimengerti, mungkin akan terhenyak dengan kalimat yang berputar-putar dan mengerutkan dahi.

Poin yang saya anggap kurang adalah di dalam cerita Larasati ini, Pram hampir tidak pernah 'mementaskan' sang Ara sebagai seorang aktris. Malah lebih cenderung sebagai seorang pejuang wanita. Kurang tampak di dalam penokohan Ara sebagai aktris dan pelacur. Lebih banyak kata-kata yang menjelaskan kalau Ara adalah seorang aktris, bukan mendeskripsikan atau menggambarkan bagaimana lakon Ara.

Tapi Ara yang keras kepala dan berjiwa pemberontak yang membuat cerita ini menjadi menarik. Ara yang rela untuk tidak bermain di dalam pementasan Belanda membuat keputusan yang berani. Namun, di dalam beberapa bagian, Ara seperti kehilangan jati dirinya. Ia menjadi perempuan yang lemah, yang putus asa dan rela membiarkan Revolusi perlahan lenyap. Sepertinya Pram memang tak menginginkan Ara sebagai perempuan yang benar-benar utuh menjadi pejuang seperti Cut Nyak Dhien yang sampai mati untuk mendapatkan kemerdekaan. Ia lebih menginginkan Ara menjadi perempuan yang kembali seharusnya menjadi perempuan. Bahkan sempat terpikir olehku kalau Ara hanya besar mulut saja, tapi tidak untuk berjuang.

Di bagian tengah cerita, sepertinya Pram memaksa cerita agar tetap mengalir. Dan itu terlihat dengan beberapa adegan yang lebih terkesan memaksa untuk masuk dibandingkan pada bagian awal yang benar-benar menggigit. Saya yang sebagai pembaca sempat merasa penat dengan beberapa bagian yang seperti itu. Kemudian pada epilognya juga masih terasa 'gantung'. Entah apa maksud Pram membuat ceritanya seperti itu.

Jalan pikiran Pram yang sulit diprediksi bermain di dalamnya. Roman ini sudah berkisah enam puluh tahun yang lalu, tetapi masih tak jauh dari keberadaan bangsa ini. Cerita yang hampir serupa dengan keadaan yang ada saat ini. Cerita yang sederhana ini mengalir di antara cita-cita dan asa yang ingin menjulang tinggi. Mungkin kita memang selalu butuh Ara yang memang menginginkan kehidupan merdeka dengan caranya sendiri.

Sampul buku untuk edisi terbitan "Lentera Dipantara" kurasa tidak sesuai dengan Larasati yang adalah seorang Yogyakarta. Bukan karena terlalu cantik, tetapi raut wajah Jawa tidak tampak pada gadis tersebut.

Jakarta, 19 Mei 2011 | 18.38
A.A. - dalam sebuah inisial
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
December 28, 2022
Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan dan KMB adalah wilayah kritis. Belanda yang membonceng Nica memiliki agenda tersembunyi untuk merebut kembali Hindia Belanda, sementara Republik yang baru berdiri hanya punya wilayah dan rakyat, pemerintahan belum terorgqnisir, angkatan bersenjata apa lagi. Nusantara ibarat wilayah panas, berbagai pihak saling mengklaim kekuasaan dan penguasaan sementara rakyat kecil tetap yang menderita. Tapi hal yang selalu layak diingat dari masa Revolusi ini: semangat rakyat untuk membela Republik dan mempertahankan kemerdekaan negara yang baru berdiri ini.

Lewat Larasati, Pram menggambarkan suasana era Revolusi ini dengan sedemikian. Bukan lewat pandangan mata para pembesar yang berjas rapi dan disegani Penjajah meski statusnya sebagai eksil, melainkan dari pengalaman seorang wanita  biasa yang bekerja aktris sekaligus perempuan penghibur. Karena menurutnya, Revolusi yang sebenarnya ada pada anak-anak muda yang berjuang di front terdepan, yang langsung menghadapi pasukan NICA dengan senjata apa adanya. Hanya berbekal keberanian muda dan kecintaan mereka pada tanah air, Larasati menyaksikan sendiri betapa Revolusi benar-benar dihayati oleh rakyat bawah. Bagaimana dengan para pembesar dan angkatan tua? Mereka hanya sibuk korupsi, lupa pada gelegar revolusi.

Salah satu adegan menarik di buku ini, Larasari sempat bertemu dengan sastrawan kenamaan Chairil Anwar. Ia bahkan sempat jajan kue pancong bersama sang pengobar revolusi. Peristiwa-peristiwa besar hanya dikisahkan sepintas lalu, seperti jatuhnya Yogyakarta, berdirinya Republik Indonesia Serikat, dan Konferensi Meja Bundar. Tapi Larasati mempersembahkan kepada pembaca laporan pandangan mata dari garis terdepan pertempuran, bahkan dalam pertempuran itu sendiri. Karena seperti berulang kali diungkap oleh Pram, hanya rakyat sesungguhnya yang berjuang sekaligus memperjuangkan revolusi fisik. 
Profile Image for Ms.TDA.
235 reviews5 followers
August 8, 2025
Dengan latar Indonesia yang baru Merdeka dan sedang dalam masa pasca kemerdekaan mengusir para penjajah, banyak mereka2 yg menyatakan diri sbg revolusioner dimana sebenarnya negara itu sendiri belum MERDEKA! dari kalangan bawah hingga ke atas. Miris, ya begitulah negara ini 🙃

“Kau seniman. Seniman mesti netral kalau ada sengketa politik atau militer. Seni selamanya untuk seni.” Ujar Kolonel Surjo Sentono ke Larasati. Masih terdengar begitu relevan hingga abad 21 ini😮‍💨
Profile Image for nat.
127 reviews
April 25, 2011
Ada beberapa alasan aku bisa membaca dengan cepat:
1. Bukunya sangat menarik, hingga tak ingin berhenti membacanya.
2. Bukunya sangat tidak menarik, sehingga skimming menuntaskannya hingga halaman terakhir karena ingin terlepas dari jalinan ceritanya.
3. Lagi banyak waktu untuk baca, misalkan liburan, karena kurang kerjaan ya membaca saja.
4. Bukunya tipis, jadi mau nggak mau ya cepat selesai.

Alasannya bisa memuat lebih dari 1 poin di atas. Nah, untuk buku satu ini, paling tidak poin no 1,3,4 memenuhi penyebabnya.

Larasati, seorang wanita yang digambarkan cantik dan jauh dari nuansa kekerasan fisik, namun terlibat dalam perjuangan.
Seorang bintang drama yang sering manggung untuk membawakan pesan-pesan perjuangan.

Kisah perjalanannya dari pedalaman hingga kota pendudukan, beserta lika-liku kehidupannya di Batavia, digambarkan dalam buku ini.
Awalnya aku cukup menikmatinya, karena gaya berceritanya mengalir, sehingga tidak terasa sudah sampai tengah buku.
Sayangnya, menjelang akhir sepertinya ada akselerasi penceritaan, sehingga endingnya kurang menggigit.
Pram memang penulis handal, karyanya membuatku terpikat, hingga membuatku menyelesaikan buku ini dalam 1 sore.
Ada harapanku yang tak terpenuhi di sini. Aku berpikir, buku ini akan menceritakan bagaimana perjuangan Larasati di panggung, namun ternyata itu tak banyak digambarkan.

Sosok Larasati membuatku tersadar lagi bahwa di masa perjuangan banyak sekali sosok yang berjasa dalam memperoleh kembali kemerdekaan ini. Bukan hanya mereka yang bersenjatakan bambu runcing atau mereka yang berseragam putih dengan palang merah.
Namun juga pemasak di dapur umum, petani yang menyediakan bahan pangan para pejuang, bahkan seorang pemain sandiwara yang sepertinya tak langsung dapat membunuh musuh, namun dapat mengobarkan semangat perjuangan dengan akting dan kata-kata propagandanya.

Jadi teringat, suatu kala di masa kecilku, saat masih banyak film perjuangan, aku membayangkan ikut dalam perjuangan di dalamnya.
Bukan menjadi pembawa bambu runcing, karena aku bukan orang yang suka perang. Atau membawa kotak perlengkapan obat-obatan, karena aku ngeri melihat ceceran darah. Namun menjadi gadis berkepang dua yang membantu di barak perlengkapan atau persediaan, atau menjadi mata-mata pembawa pesan..haha ^__^
Yang jelas, imajinasi hidup di masa itu lumayan menarik. Bagaimana ya rasanya sekolah di jaman itu, naik sepeda onthel (unta), menikmati desiran angin yang menerpa dan suasana kota ya belum terlalu ramai ?
Klasik, dan menyenangkan rasanya, bila saja kurun waktu itu tiada penjajah yang singgah dan bertahta di negeri ini.


-dari pedalaman Yogyakarta-

nat 25042011
Profile Image for Edy.
273 reviews37 followers
March 1, 2009
Pramoedya memang luar biasa…Beliau mempunyai visi yang menerawang sangat jauh. Ketika tahun 1960an beliau sudah banyak berbicara mengenai emansipasi perempuan, padahal isu itu belum menyeruak di banyak kepala.

Larasati, seorang perempuan yang berprofesi sebagai bintang film dan pelacur-pun bisa berbuat sesuatu untuk mengisi revolusi. Dia masih mempunyai harga diri dan kebanggaan sebagai anak bangsa Indonesia.

Sungguh ironis dengan kelakuan banyak orang saat ini, tampilannya banyak yang perlente dan sok alim tetapi kelakuan aslinya tidak lebih sebagai tikus yang menggerogoti Negara dan merugikan orang banyak.
Dalam novel ini, Pram juga mengajarkan bahwa godaan kekuasaan bisa meruntuhkan iman perjuangan. Tidak sedikit pejuang ketika sudah mendapatkan kursi empuk, terkadang kemudian lupa diri dan bertindak korup. Padahal dulunya mereka adalah pejuang berani mati yang pantang menyerah…itu catatan bahwa materialism memang bisa menyesatkan….
Profile Image for Margareth.
37 reviews
January 16, 2008
The 2nd book of Pramoedya I ever read. I think "Gadis Pantai" much better than this one.
Menurutku isinya sedikit aga maksa, terlalu banyak pernyataan Ara (Larasati) yang berapi2 tentang Revolusi, tapi action-nya untuk mendukung revolusi ga banyak. Not Action Talking only, menurutku. Kata2nya terlalu memaksa pembaca memasuki Revolusi, kurang smooth dan kurang berhasil baik membawa pembaca ke haru biru suasana revolusi maupun membangkitkan patriotisme pembaca. (jika itu memang tujuannya)

Akhirnya, who the hell I am, mengkritik seorang Pramoedya? He3x..
Profile Image for Aya Prita.
168 reviews21 followers
August 16, 2018
Buku ini adalah buku Pram pertama saya. Well, menarik.
Kisah Revolusi lewat sudut pandang "feminin" : perempuan dan "berperang tapi belas kasih" itu penting.
Profile Image for Tezar Yulianto.
391 reviews39 followers
January 17, 2015
Buku ini adalah buku Pramoedya pertama yang saya baca. Agak kaget dengan penulisan Pram, yang langsung melaju cepat di bagian awal, dengan stau tokoh sentral, Larasati, dilingkari oleh berbagai tokoh dan karakteristik.
Larasati, atau Ara, adalah bintang di masa yang tidak tepat. Dia bintang film terkenal, tapi seting roman ini adalah masa-masa pergerekan revolusi. Di mana, apa pun yang dilakukan oleh Ara, benar-benar bermata dua. Karena dia berada di antara dua kutub, ortang-orang pro revolusi maupun pro penjajah. Dan Ara sendiri memilih utuk hidup sebagai pro revolusi dan menjadian Revolusi sebagai impiannya, dan dengan impiannya itu, ia memilih untuk hidup di lingkungan rumah ibunya, kdi Jakarta, yang merupakan daerah kekuasaan penjajah etimbang hidup nyaman di Yogya, daerah yang dimiliki oleh tentara kita pada saat itu.
Ara bergerak dalam pusaran waktu, ketika dia mendapat kunjungan seorang tentara muda di penginapan, mendapatkan pengalaman tak enak di stasiun dan penjara, sampai harus dicurigai sebagai antek NICA oleh kakek nenek tetangga ibunya. Begitu waktu bergulir, Ara sudah mendapatkan rasa takut ketika merasakan sendiri bagaimana rasa pertempuran itu. Juga mendapatkan dia dalam saat-saat bersama Jusman, laki-laki arab yang hanya bertindak atas nafsu kepada Ara, yang harus berakhir justru di saat impiannya terwujud, revolusi.
Untuk merasakan bagaimana gambaran hidup di era perjuangan revolusi, Pram menggambarkan dengan baik, tapi alur yang cepat berjalan di awal dan tengah cerita dan tiba-tiba melambat di akhir cerita, cukup menarik.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Maulida Sri Handayani.
6 reviews4 followers
January 6, 2008
Larasati adalah roman Pramoedya yang cukup menarik dibaca, di angkot misalnya. Jumlah halamannya cuma 180. Kau bisa bereskan kurang dari 2 jam. Roman ini bercerita tentang gejolak seorang bintang film bernama Larasati di tengah hangatnya Revolusi yang masih dipertahankan dengan berdarah-darah karena Belanda masih merasa Indonesia sebagai Dutch East India.

Roman ini memang tak sebagus roman Tetralogi Pulau Buru. Terlalu kentara revolusi dengan "R" besar. Lekra banget kali ya... Tapi mungkin karya ini relevan di zamannya ketika terbit pada 1960. Lagipula Pram memang hidup di zaman peralihan itu. Ia hidup sejak sebelum republik ini tegak sampai rezim yang memenjarakannya tanpa peradilan jatuh.

Sayang sekali, semangat Larasati akan Revolusi terganggu oleh penggambaran yang dibuat pembuat cover buku ini. Larasati digambarkan berwajah Eropa. Cukup memperlihatkan bahwa orang Indonesia masih mempunyai inferioritas bangsa terjajah dengan penggambaran cantik ala cover Larasati itu.
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
November 2, 2012
Larasati merupakan tokoh utama pada cerita ini. Dia seorang aktris cantik dengan latar belakang kurun waktu perjuangan bersenjata 1945-1950. Berkisah tentang para pahlawan sejati ataupun munafik. Larasati berjuang dengan caranya sendiri, menyerahkan segalanya termasuk dirinya untuk revolusi.

Pram beberapa kali menokohkan perempuan dalam bukunya antara lain Nyai Ontosoroh di tetralogi Buru,walaupun tokoh utamanya Minke tetapi Nyai Ontosoroh adalah tokoh utama wanita, terus ada Midah dan Larasati. Larasati memberikan sisi lain perjuangan seorang perempuan. Larasati berjuang dengan cara menghibur pejuang, menolak bermain pada film propaganda Belanda. Pram menunjukkan profil Larasati dengan latar belakang penghibur dengan tidak berlebih-lebihan , kontradiktif tapi yang pasti masih punya harga diri sebagai bangsa dan tentu saja cinta tanah air.

Profile Image for Arutala.
506 reviews1 follower
December 19, 2021
Membaca karya PAT sangat membutuhkan ruang lingkup yang terbatas, kalau gak suasana penjajahan, masa hidup yang terkekang, atau hanya sebuah petualangan.

Kali ini kisah berlatar masa pasca kemerdekaan dengan isu revolusi dan Nica yang masih membuntuti. Menarik karena tokohnya seorang seniwati. Tapi jujur ya, kok membacanya rada melelahkan padahal tebal novel hanya 100-an halaman.

Mungkin imajinasi pembaca macam saya kurang menyatu dengan apa yang disampaikan oleh PAT. Secara keseluruhan novel ini membuka mata dan cerdas dalam mengolah persoalan tentang kebebasan.

Larasati dan masalahnya adalah juga masalah perempuan di masa itu.
Profile Image for Mikochin.
144 reviews22 followers
April 29, 2011
Awalnya saya pikir novel Larasati akan menceritakan perjuangan Larasati, atau Ara, sebagai seorang pejuang Revolusi lewat profesinya yaitu seorang bintang film ternama. Agak sedikit kecewa, pada awalnya, namun tetap saja membaca perjuangan anak-anak bangsa merebut kemerdekaan dari tangan Belanda dan NICA merupakan pengalihan perhatian yang sangat sebanding.
Rating yang saya berikan tersendat di bintang ketiga dikarenakan endingnya yang terasa kurang menggigit dan membuat saya agak heran, "Sudah selesai?"
Mungkin kalau ceritanya dibuat lebih panjang saya bisa makin menikmatinya.
Profile Image for Francisca Todi.
Author 8 books48 followers
June 8, 2017
3.5

Awalnya saya ngerasa cape juga baca buku ini, soalnya bahasa dan cara memenggal kalimat/paragrafnya suka agak aneh, sampai2 suka bingung, ini yang ngomong siapa sih?

Tapi setelah mulai ke tengah, saya jadi bisa lebih apresiasi bagaimana Pram menceritakan revolusi dari sudut pandang Ara, bahkan jatuh-bangunnya revolusi itu juga paralel dengan kehidupan Ara sendiri.

Singkat kata, menarik, tragis sekaligus mengharukan. Dan pas selesai baca, rasanya saya jadi sangat berterima kasih kepada para pahlawan kita di zaman revolusi itu. :)
Profile Image for Lee.
254 reviews46 followers
October 17, 2008
Buku Pram pertama yang kubaca.
Didapat waktu ke perpustakaan kota Jogja ketika SMA.

Kenapa hanya 2 bintang?
simpel.

aku sudah lupa jalan ceritanya.

jadi aku berkesimpulan, pasti ceritanya tidak begitu bagus, sampai-sampai dengan gampang aku melupakannya.

anyway, review macam apa ini?!


note:
*akan diedit ketika kembali berhasil menemukan buku itu di perpustakaan itu*
Profile Image for Irwan.
Author 9 books122 followers
July 30, 2012
Sayang sekali aku tidak suka buku ini. Ceritanya absurd. Tidak mudah untuk menyelami tokoh-tokohnya. Terutama Larasati yang selalu bimbang tidak menentu. Si Arab bermata kuning itu juga absurd. Loncatan-loncatan waktunya juga janggal: sang ibu berangkat suatu sore dan tidak kembali selama setahun. Apa yang terjadi selama setahun itu? Sayang sekali.
Profile Image for Fatoni M.
367 reviews81 followers
May 22, 2016
Kisahnya sendiri, saya nggak terlalu menyukainya. Konfliknya nggak seru-seru banget. Mungkin apa yang membuat Mas Pram menjadi penulis hebat adalah beliau mampu memasukkan pemikiran-pemikiran Revolusi di buku ini dengan baik. Saya sendiri merasakan betapa nggak-mau-banget-gue-hidup-di-jaman-revolusi.
Profile Image for Winnie Sutanto.
12 reviews
May 7, 2021
Saya sangat menyukai buku ini. Buku ini merupakan salah satu pelajaran bagaimana cara untuk berjuang dengan cara yang berbeda, bagaimana cara untuk berpikiran terbuka.
Profile Image for leya kuan.
26 reviews
June 21, 2024
took me a bit longer to finish because i read it in its original indonesian.
Profile Image for A.J. Susmana.
Author 3 books13 followers
September 18, 2014
Revolusi, Perempuan Dan Keberanian



Sejak di halaman awal Novel Larasati, ditunjukkan sikap yang tak ragu untuk bertempur menghadapi penjajah asing: “..tidak bakal aku main untuk propaganda Belanda, untuk maksud-maksud yang memusuhi Revolusi. Aku akan main film yang ikut menggempur penjajahan.” Tokoh utamanya, yang bintang film, seakan mau berkata bahwa film adalah alat revolusi yang penting dan mendesak.

“Kau seniwati. Jelek-jelek aku seniman juga. Kalau Revolusi menang, kau akan dengar namaku sebagai seniman, sebagai pengarang. Aku banyak dengar tentangmu. Kau bisa berjuang lebih baik dengan senimu…Kau memang hebat (h. 23)

Keberanian melawan penjajahan asing ini tampak menjadi refrain dalam novel ini yang alurnya berjalan lurus dari awal sampai menang dengan selingan kecil masa lalu Larasati sebagaimana peribahasa: berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

Dengan begitu keberanian adalah hasil dari latihan, praktek dan dukungan terus-menerus, bukan sekadar pemahaman teori saja. Larasati yang diawal merenungi: “Kalau aku lelaki, aku bakar seluruh perkampungan artileri ini. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya ia menyesali kelahirannya sendiri sebagai wanita. Kalau aku lelaki — aku bisa berbuat banyak.” Tetapi di bumi penjajahan, yaitu daerah pendudukan Belanda di Jakarta, Larasati justru semakin didorong untuk menjadi berani oleh keadaan dan juga pemimpin muda belasan tahun yang gugur dalam operasi malam mencegat patroli Belanda.

“Kau tidak takut lagi, bukan? Jawablah.”

Tak ada sesuatu apapun yang dapat dikatakan oleh Larasati selain menggeleng. “Tak perlu takut. Kau harus mendendam. Kita perlu dendam.” Dan ia tak bicara lagi…

Seperti hujan disentakkan dari langit, Larasati menggigil, menjerit. Anak itu mati. Ia baru mengenalnya namun tiada ternilai cintanya padanya. Begitu cepat datangnya cinta itu. Cinta untuk pertama kali dalam hidup. Beberapa jam yang lalu pemuda itu masih dianggapnya sebagai benggolan pembunuh. Ah, anak semuda itu. Sepuluh atau sebelas tahun lebih muda dari diri dan tubuhnya sendiri. Kalau umurnya panjang, aku rela melakukan segala perintahnya. (h. 107-108)

Nenek tetangganya pun turut memberanikan:

“..Kalau mesti terjadi sesuatu, hadapi dengan berani. Kau belum pernah dengar si Ma’in, itu ayah anak yang semalam gugur. Dia mati setengah tahun yang lalu, waktu menyerbu tangsi. Dia selalu bilang pada anak-anak itu: “Kalau mati dengan berani; kalau hidup, hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada — itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.” (121)

Jatuhnya Yogya, sebagai ibu kota Republik, ke tangan Belanda pun dianggap sebagai tiadanya keberanian dan tiadanya konsistensi antara ucapan dan tindakan para pimpinan.

“Pura-pura! Belum apa-apa sudah kibarkan kain kafan! Mereka belum lagi kelaparan! Mereka belum lagi lecet! Kacuak-kacuak busuk yang cuma pintar pamorkan belangnya sendiri itu! Apa katanya dulu? Masing-masing mau pimpin perang gerilya! Dengan senjata apa saja: pacul, linggis, arit, golok, tombak, bamburuncing, ayoh, siapkan semua! Apa sekarang? Ternyata orang lama menyelamatkan dirinya sendiri-sendiri di bawah bendera kain kuburan! Mayat-mayat yang pandai sorak itu! (h. 134) Kritikan semacam ini juga bisa ditemui pada Petualang Trisnoyuwono (h. 287-288) dan juga pada karya yang dianggap kontra revolusi:” tanpa nama, domba-domba revolusi”, novel B. Soelarto, terbit tahun 1964 oleh n.v. Nusantara. Sebelumnya, tahun 1961 tampil dalam bentuk Drama dan mendapatkan hadiah sastra dari Majalah Sastra sebagai lakon terbaik.

“Perdjoangan kemerdekaan tidak mengenal menjerah, tidak mengenal kompromi! Tapi bapak sebagai seorang pemimpin, kini malah mau menjerah, mau kompromi. Bagaimana sih bapak ini!



aku sudah terlandjur dibakar api-semangat para pemimpin. Banjak djanji kesanggupan mereka. Untuk kalau perlu ikut langsung terdjun ke medan bersenjata. Nah, sekarang kesempatan itu terbuka.



Bitjara bapak memang tjukup diplomatis. Maaf djika aku terpaksa harus mengatakan bahwa sikap bapak-bapak ini adalah sikap bantji! Sikap egoistis! Ja, aku tau betul bahwa bapak-bapak hanja mau melarikan diri dari segala resiko, semata-mata hanja untuk mengedjar keselamatan diri pribadi sadja. (B. Soelarto, Tanpa Nama, domba-domba revolusi, n.v. Nusantara, 1964;68-71)

Walau Novel Larasati berlatar perang mempertahankan Kemerdekaan atau Republik Indonesia, 1945-1949, novel Larasati baru ditulis atau diumumkan tahun 1960 sebagai cerita bersambung dalam surat kabar Bintang Timur/Lampiran Budaya LENTERA dari 2 April 1960 – 17 Mei 1960. Latar politik dari tahun diumumkannya Larasati adalah semakin kencangnya tuntutan untuk menyelesaikan revolusi nasional: merdeka penuh atau merdeka 100 % dan pasca dibatalkannya perjanjian KMB secara sepihak oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Pembatalan dilakukan karena hasil-hasil KMB dianggap memberatkan Negara Republik muda kita seperti misalnya harus “mengambil alih hutang Hindia Belanda sebanyak 4.300.000.000 Gulden” sebagaimana dikisahkan Rosihan Anwar dalam Kisah-Kisah Zaman Revolusi, terbitan Pustaka Jaya

Mengenai KMB novel Larasati ini bersikap:

“Perundingan-perundingan di negeri Belanda tidak menimbulkan sesuatu perasaan agung di dalam hati mereka. Konferensi Meja Bundar! Di sana-sini terdengar ejekan: Itulah kalau orang cuma pura-pura jadi revoluisioner! Banteng-banteng sudah kehilangan tanduknya, jadi banteng dungkul; sudah kehilangan otaknya! Singa tua ompong pun tak dapat dikalahkannya! Ha? Mana bisa Revolusi kalah, kalau jiwa revolusioner sendiri tidak patah? Orang lain lagi membela: ini hanya taktik bukan strategi! Ah-ah, mana bisa orang selalu ambil taktik kompromi dengan musuhnya, sampai akhirnya dirinya sendiri tidak ada?! Yang ada tinggal komprominya?!” (h. 173-174)

Sikap terhadap KMB dalam novel ini tampak sama dengan Novel Petualang karya Trisnoyuwono yang tahun diumumkannya hampir sama dengan Larasati. (Baca juga: Petualang, Trisnoyuwono, Sinar Harapan, Jakarta, 1981; 292-296). Petualang pertama kali muncul sebagai cerita bersambung dalam harian Pikiran Rakyat Bandung dengan judul Si Anak Hilang. Setelah mengalami perubahan-perubahan, dimuat dengan judul yang sama dalam majalah Trio pada tahun 1960. Setelah diadakan perbaikan-perbaikan beruntun, muncul dengan judul Petualang dalam majalah Djaja dan Purnama. Tahun 1981 diterbitkan Sinar Harapan dengan judul Petualang sementara Larasati karena hambatan politik baru terbit sebagai buku tahun 2000 oleh Hasta Mitra.

Sikap Petualang terhadap KMB bisa diringkas dengan umpatan: “Persetan penyerahan kedaulatan!!” oleh Herman tokoh utama novel Petualang ketika KMB itu ternyata tidak menjamin masa depan dan keselamatan hidupnya. Ia pun lari dari tahanan Belanda. Kisah yang sama dalam dunia politik nyata dikisahkan oleh Soemarsono: “Pada tanggal 13 Desember 1949 saya melarikan diri bersama yang membebaskan saya, karena tidak ada kemungkinan saya akan dilepaskan. Pasukan Belanda penjaga penjara sebanyak satu peleton dilucuti oleh pasukan gerilya yang waktu itu memang butuh senjata. Bersama mereka saya muter-muter di daerah Jawa Barat. Itu terjadi sebelum “Overdracht” sebab overdracht baru terjadi tanggal 27 Desember 1949.” (Soemarsono, Revolusi Agustus, kesaksian seorang pelaku sejarah, Hasta Mitra, 2008; 179-182)

Dengan latar politik “Revolusi Belum Selesai” itulah tendensi politik Pramoedya Ananta Toer terhadap arah Republik yang sudah diperjuangkan kurang lebih 15 tahun itu tampak menonjol dan semakin berpihak dalam Novel Larasati ini. Pada Larasati, dengan tokoh perempuan yang cantik, molek dan jelita, seorang artis film populer yang pernah menikmati kemewahan hidup dan kemasyuran; disayang dan diharap banyak pihak ditampilkan tema yang radikal berpihak yaitu Revolusi itu sendiri dan perlunya Keberanian untuk menghadapi penjajahan asing penyebab derita berabad baik tua ataupun muda, lelaki atau perempuan, bermoral baik atau pun tidak seperti pelacur misalnya.

“Aku boleh seorang pelacur! Aku boleh seorang sampah masyarakat! Aku seorang bintang film gagal! Tapi beradat! Tidak. Aku juga punya tanah air.” (h. 12)

“Jelek-jelek tanah airku sendiri, bumi dan manusia yang menghidupi aku selama ini. Cuma binatang ikut Belanda.” (h.13)

“Memang aku hanya seorang pelacur, tuan kolonel. Tapi aku masih berhak mempunyai kehormatan. Karena, aku tidak pernah menjual warisan nenekmoyang pada orang asing.” (h. 36)

“Bagaimana pun juga kotornya namaku, aku akan tetap dapat berguna. Kotor? Tiba-tiba ia memberontak terhadap dirinya sendiri. Biar aku kotor, perjuangan tidak aku kotori. Revolusi pun tidak! Negara pun tidak! Rakyat apa lagi! Yang aku kotori hanya diriku sendiri. Bukan orang lain. Orang lain takkan rugi karenanya.” (h. 44)

Bung Karno pun tidak ragu-ragu bekerja sama dengan para pelacur atau sundal menurut Ali Sastroamidjojo dalam memperjuangkan kemerdekaan dan menjadi bagian dari Partai Nasional Indonesia.

“Dalam gerakan PNI ku di Bandung terdapat 670 orang dan mereka adalah anggota jang paling setia dan patuh daripada anggota lain jang pernah kuketahui. Kalau menghendaki mata-mata jang djempolan, berilah aku seorang pelacur jang baik. Hasilnja mengagumkan sekali dalam pekerdjaan ini.” (Baca juga: Bung Karno, Penjambung Lidah Rakjat Indonesia, Cindy Adams, Gunung Agung,Djakarta, 1966;111-115)

Revolusi sebagai tema berulang kali diucapkan Larasati. Betapa penting dan perlunya Revolusi untuk perubahan dan kemajuan umat manusia. Tanpa revolusi tak akan ada kemajuan.

“Ia tidak pernah belajar, tidak pernah mempelajari sesuatu pun. Mengapa aku sekarang dapat mengerti semua ini? ..Siapa yang gurui?



‘Revolusi,’ Ara menjawab. Dan sesungguhnya, ia dapatkan jawaban atas pertanyaannya sendiri: Rervolusilah gurunya selama ini. Hanya sang Revolusi yang agung ini…Revolusi melingkupi pengalaman puluhan abad. Revolusi melingkupi buku ribuan jilid.”



“Hanya Revolusi yang menentukan.”



“Kau tidak seperti dulu, Ara.”

“Tentu saja tidak. Apa gunanya Revolusi kalau tidak bisa mengubah aku?”

“Kau singa garang.”

“Di bumi penjajahan ini.”

“Kau bakal mati kelaparan.”

“Tidak, selama Revolusi menggelora.”

“Kau mata-mata Republik.”

“Setidak-tidaknya bukan anjing orang asing.”

Dan melalui mulut Chaidir, penyair yang bersemangat, semua sektor diundang untuk terlibat dalam kerja-kerja revolusi.

” ‘Sandiwara?’ kata perdana menteri,’apa yang bisa diperbuat sandiwara dalam masa orang tidak membutuhkan seni apapun juga sekarang ini?’

Chaidir dengan berapi-api membela seakan-akan sandiwara itu dirinya sendiri,’Dalam keadaan bagaimanapun setiap orang membutuhkan segala-galanya. Berikan apa yang mereka butuhkan. Tapi jangan padamkan api Revolusi. Berikan minyak pada api itu!’

Dan karena kata-katanya ini, sandiwara berkembang cepat laksana api di tengah-tengah padang rumput kering. “(h. 137 Lihat juga halaman 26)

Sebagai perempuan dan seniwati, Larasati pun merasakan bagaimana Revolusi tidak digerakkan menyeluruh: ” Kadang-kadang memang terasa olehnya bahwa heroisme dan patriotisme wanita di jaman Revolusi ini terletak pada kepalang-merahan saja! Tapi ia takkan meninggalkan kejuruannya. Ia cintai kejuruannya. Dan ia yakin melalui kejuruannya ia pun dapat berbakti pada Revolusi. Ia merasa dirinya pejuang, berjuang dengan caranya sendiri. (h. 26)

Dengan caranya sendiri itu, “Ia…telah mainkan cerita-cerita perjuangan dan hiburan di tempat-tempat yang sama sekali tidak penting di masa damai, biarpun tidak ada di peta bumi tempat dia bermain! Tidak ada pengagum, tidak ada pemuja, tidak ada honorarium barang sepeser — cuma makan nasi keras dan ikan asin, dan transpor di atas truk yang berdesak membanting-banting! Kadang-kadang tepuk-tangan pun tidak — karena penduduk dusun belum biasa bertepuk tangan, lebih biasa menerima segala diam-diam dengan hatinya.” (h. 26)

Dengan caranya sendiri itulah, ia pun dapat menyelesaikan tugas untuk menemukan pejuang yang lenyap tanpa kabar sekaligus membantu simpatisan Republik di daerah pendudukan untuk berjuang bersama di daerah Republik (h. 22, 61, 125) Larasati pun bertemu dengan pejuang wanita yang dipenjarakan: Turinah namanya. “Wanita…berwajah pucat. Mukanya lebar, pendek, berbaju dan bercelana militer. Waktu melihat Larasati nampak ia sangat terkejut tapi segera menunduk. Juga Larasati sendiri terkejut. Ia pernah melihat wajah itu, di Yogya, belum beberapa bulan berselang. Mungkin salah seorang peminta otograf. Ia pun menunduk dan dengan sopan pelan-pelan menutup pada pintu selnya. (h. 58)

Membaca Larasati, Anda akan diagitasi agar Anda berpihak pada Revolusi dan diyakinkan bahwa revolusi pasti menang sebagaimana juga lagu perlawanan terhadap kediktatoran Orde Baru:

“Rakyat pasti menang. Pasti menang. Pasti Menang.”

“Revolusi tidak pernah kalah. Setiap kekalahan yang dideritakannya tidak lain dari kemenangan koruptor. Revolusi selalu menang!” (h. 134)

Pun sampai pada hari ini.

Kota Bumi, 31 Agustus 2014

AJ SUSMANA, pengurus Komite Pimpinan Pusat- Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD); penggiat di Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker)

Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/suluh/...
Follow us: @berdikarionline on Twitter | berdikarionlinedotcom on Facebook
Profile Image for ukuklele.
462 reviews20 followers
July 24, 2024
"Seniman mesti netral kalau ada sengketa politik atau militer. Seni selamanya untuk seni." (halaman 32)


Larasati/Ara sejenis alpha female yang hidup pada masa revolusi. Caranya menanggapi situasi terasa defensif, seperti selalu ingin mengungguli orang-orang yang mendekat kepadanya, yang kebanyakan pria. Sepertinya hampir di setiap adegan, di mana pun Ara berada, ada saja pria yang mendekatinya, mulai dari perwira perlente sampai penyair dekil, pemuda belasan tahun hingga kakek-kakek, Repulikein ataupun Nica; lokal, Jepang, Tionghoa, Arab--ia adalah perempuan milik semua bangsa. Sikapnya yang demikian itu bisa dimaklumi, menimbang posisi dan situasinya. Sepanjang cerita, ia berada dalam pertarungan yang mengancam nyawa bukan hanya dirinya seorang melainkan juga para pejuang yang dia ada simpati.

Karakternya sedikit mengingatkan pada Inggit Garnasih, yang cantik lagi mandiri tapi tak beranak. Rupanya lookism sudah ada sedari dahulu, seperti yang dibatinkan sendiri oleh Ara, "Kalau aku tak memiliki tubuh indah dan wajah cantik, mungkin aku jadi sebagian dari mereka yang dibunuh pelan-pelan dalam penjara ini." (halaman 62). Pernyataan dalam karya sastra ini seperti membenarkan asumsi masyarakat tentang the power of good looking yang acap berseliweran di media sosial itu: kalau kamu good looking, separuh hidupmu aman.

Latar yang diangkat dalam cerita ini adalah masa yang menentukan masa depan Indonesia. Dalam masa ini terjadi perebutan kekuasaan antara Nica dan nasionalis, perjuangan mempertahankan tanah jajahan atau kemerdekaan bangsa. Hasilnya, Indonesia berdaulat tapi Belanda enggan mengakui. Bagaimanapun, berpuluh-puluh tahun kemudian, melihat pemerintahan Indonesia yang dijalankan bangsa sendiri malah tak keruan sedang Belanda ternyata negara maju dengan segala kelebihannya, sekali-sekali terdengar omongan, "Andai tetap dijajah Belanda," seakan-akan Indonesia bakal dibawa maju serta.

"Mungkin kau dakwa kami kejam, Ara," ia tersenyum lagi. "Dua tiga tahun lagi kau bakal tahu hasilnya. Kau akan berterima kasih atas tindakan kami." (Kolonel Belanda di halaman 58)


Saya rasa novel ini sebetulnya penuh adegan intens, sampai muncul adegan favorit saya yaitu yaitu pertemuan Ara dengan Chaidir. Penyair bau yang membayar kue pancong dan kopi dengan selembar kemeja yang dipakainya ini mengingatkan pada Chairil Anwar. Apalagi lalu disebutnya "Jassir" sebagai kritikus sastra dan "Uzman" empunya kelompok sandiwara amatir, sekonyong-konyong timbul dugaan sebenarnya yang dimaksud adalah HB Jassin dan Usmar Ismail. Kehadiran tokoh-tokoh sastra ini, walaupun cuma nama, seakan-akan "kameo" yang sekalian memberikan comic relief dalam situasi ketegangan yang beruntun sebelumnya.

Enggak juga sih. Saya membaca buku ini dalam keadaan santai, tak bisa relate juga dengan tokoh Ara. Apalagi ke belakang pace makin cepat, penyampaian serbaringkas. "Ketegangan" itu saya sadari lebih dengan nalar ketimbang rasa. Walau dalam pembacaan ini kurang menjerat, tetap saja novel ini sangat layak dibaca. Selain menambah wawasan sejarah, dalam novel ini juga ditunjukkan segi-segi kejiwaan berbagai manusia dalam masa sengit: ada yang oportunistis, ada yang pemberani, ada yang terobsesi dengan revolusi tapi hanya bisa jadi tawanan lelaki, dan seterusnya.
Profile Image for Muhammad Ali Syaifudin.
10 reviews1 follower
April 4, 2018
Perjuangan seorang Ara, bintang film, seniman, dalam mewujudkan Revolusi membuka pandangan akan wujud-wujud perjuangan. Selain Pejuang di medan perang, kita dapati Ara jugalah pejuang. Indonesia masa pendudukan yang diceritakan Pram membuat saya teringat Novel Hunger Games. Latarnya begitu mirip, seakan-akan saya pikir Suzanne Collins menjiplak karya Pram. Indonesia massa pendudukan setelah proklamasi pun masih hidup dalam kesengsaraan. Bedanya, Kisah Ara lebih merujuk pada hal nyata. Namun, tidak bisa disangkal, perjuangan Ara mirip Katniss Everdeen dalam membawa pemberontakan, atau yang Ara sebut ‘Revolusi’. Mengingat Katniss berjuang melawan pemerintahan yang otoriter dan semena-mena, bersesaian dengan kisah yang dialami Ara pada pemerintah Hindia-Belanda. Mengerikan sekali menyadari dunia Distopia seperti itu benar-benar pernah terjadi di dunia ini, bahkan di tanah Air.

Perjuangan Ara yang terlihat insignifikan, namun berada di jalan yang luhur. Kobaran api Revolusi, berhasil menanamkan semangatnya, pelajarannya kepada kita semua. Dendam yang dimiliki orang Indonesia, akan terus mengalir selama Kemerdekaan belum terwujud. Ara hanyalah seorang bintang film, yang terjabak pada pandudukan Belanda bersama NICA. Peran Ara dan seniman-seniman lainnya dalam Revolusi tidak bisa diukur. Harapan besar dikandung orang-orang Indonesia untuk mencapai kemerdekaan hakiki, sebuah tanah air yang dimiliki sendiri. Revolusi akan terus berjuang, bahkan ketika Yogya sekalipun jatuh. Sejarah bercerita, Indonesia akhirnya bisa merdeka melawan Belanda. Semua ini berkat Revolusi, yang tidak akan mati di hati orang Indonesia. Betapa ironisnya, musuh Revolusi jugalah inlander, orang Indonesia sendiri. Ara mengingatkan saya pada Zaman pendudukan. Semangat Revolusi yang dibawakannya, kisah ‘nyata’ yang diceritakannya, membuat saya memandangi alam Indonesia dengan perasaan merinding. Membayangkan massa pendudukan, perjuangan pemuda, melawan orang-orang kita sendiri.

Saya memberikan nilai 8/10 untuk novel ini. Melihat banyaknya kosa kata lampau, seperti Matari untuk matahari dan tanahair untuk tanah air. Bahkan tata bahasa yang tidak wajar di mata saya, membuat saya harus berpikir lebih jauh dan meninjau konteks untuk memahami novel ini. Novel ini juga tidak mengandung bagian-bagian, namun satu cerita yang langsung disambung dengan kesinambungan yang jelas, meskipun akan terlihat mirip dibagi-bagi menjadi beberapa fase waktu. Bagaimanapun juga, tulisan ini membangkitkan rasa semangat betapa Revolusi begitu susah didapatkan. Betapa Kemerdekaan merupakan hadiah yang tak tertandingi. Meskipun, kisah Revolusi di Indonesia tidak berhenti setelah Konferensi Meja Bundar, namun Novel ini membangkitkan semangat untuk mencari tahu lebih jauh sejarah Indonesia. Ara, seorang bintang film yang jugalah Revolusi itu sendiri, terus berdiri tegak, melawan pendudukan, bersama Republik, bersama seniman-seniman, bersama pemuda-pemuda, tentu saja juga bersama pemimpin-pemimpin, Republik Indonesia. Merdeka!
20 reviews
September 20, 2020
~Revolusi---dia adalah guru. Dia adalah penderitaan. Tetapi dia pun harapan. Jangan khianati Revolusi. Kembali ia pandangi kedua orang tua itu yang mungkin beberapa tahun lagi tewas digulung maut. Namun mereka pun meletakkan harapannya pada Revolusi.~

**********

Larasati, seorang wanita, aktris panggung dan bintang filem pujaan masyarakat melakukan perjalanan pulang dari Yogya ke kota pendudukan Jakarta. Selama perjalanan dan setibanya di Jakarta dia menyaksikan dan mengalami peristiwa dan atmosfir peperangan antara pihak NICA dan kaum Republiken.

Berkat keterkerkenalannya (pun 'sex appeal' yang dimilikinya) dia setidaknya selalu berhasil menghindari konflik sengit dengan orang-orang yang ditemuinya dari kedua kubu meskipun selalu memercikkan ketegangan dan kecurigaan pada awalnya.

Melukiskan lanskap masa revolusi dan karakter-karakter manusia-manusia di dalamnya dengan cukup representatif. Ada pemuda-pemuda pejuang revolusioner dengan semangat menyala. Ada kolonel KNIL inlander yang tak percaya akan revolusi dan lebih percaya dengan meriam-meriam dalam baterai artlileri yang dipimpinnya guna meruntuhkan semangat pemuda-pemuda tersebut. Dan tentu saja kaum oportunis nir-idealisme yang berpihak berdasarkan orientasi keuntungan material semata termasuk para mata-mata NEFIS dan perwira TNI yang korup.

**********

Tidak sepenuhnya mengusung aliran realisme karena bisa ditemukan unsur romantime di dalamnya, novel ini tentu saja punya misi dan mencerminkan visi dari pengarangnya. Menggugah semangat patriotisme dan cinta tanah air tanpa mengabaikan rasa kemanusiaan universal.
Pembaca perlu hati-hati dan bijaksana menyikapi bagian dan karakter tertentu agar tidak tendensius mengeneralisir dan tergelincir kepada rasisme.

**********

Ketika terperangkap dalam sebuah pertempuran, Larasati seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seorang pemimpin pasukan pejuang yang sangat belia, belasan tahun umurnya, begitu yakin dan tanpa takut mati mengomandani anak-anak buahnya yang tak kalah belianya di tengah-tengah desingan peluru dan dentumun mortir. Buat apa dilakukannya semua itu dan untuk apa meresikokan hidupnya? Tatkala terdengar tangisan bayi dari salah satu gubuk penduduk pemuda itu berujar, "Buat setiap bayi yang sudah, dan yang belum dilahirkan, kita semua rela tewas----bayi-bayi yang kita semua sama sekali tidak kenal, tidak pernah lihat, tidak pernah dengar tangisnya."
Profile Image for Dindatps.
12 reviews
March 20, 2024
Lagi-lagi karya Pram menjadi wakil zaman pada periodisasi sejarah Indonesia. Terkhusus "Larasati" ini mengisahkan tentang sosok Larasati atau yang lebih akrab dengan nama panggung Ara. Ya, Ara adalah seorang aktris pada zaman revolusi.

Seniman lakon yang tumbuh naik daun pada zaman revolusi, dimana pendudukan Hindia Belanda masih mencekam meskipun sudah melewati proklamasi kemerdekaan di tahun 1945. Ara salah satu dari golongan republikein, yaitu golongan yang tetap mempertahankan bentuk negara republik. Ara bersikeras tidak ingin masuk NICA.

Ara di sini digambarkan menjadi sosok wanita yang membela revolusi, bersama barisan-barisan pemuda yang punya keberanian luar biasa di masyarakatnya. Meskipun memiliki privilage sebagai seorang aktris terkenal, tidak membuat Ara lantas dapat bebas begitu saja, ancaman dapat datang dari mana saja, apalagi bila Ara terang-terangan mengaku sebagai republikein.

Ara harus pergi ke Cikampek, Jakarta, meninggalkan Yogya, dilepas oleh Kapten Oding. Kapten Oding sosok yang melindungi Ara semasa berkerja jadi aktris di Yogya. Ara membawa surat keterangan dari Oding, bertemu dan diperiksa seorang perwira sebelum ke Cikampek, dan sampailah pada bertemunya ia dengan opsir Ketut Suratna yang sudah lama hilang kabar.

Namun perjalanannya ke Jakarta ternyata lebih buruk. Pemandangan wajah-wajah pemuda yang akan mati di tengah perjuangan revolusi selalu membayangi dan dapat sewaktu-waktu menggoyahkan tekad Ara.

Ara kembali bertemu ibunya yang bekerja pada seorang Arab. Yang... Ah entahlah. Ada pula Martabat, atau dipanggil Tabat. Ia adalah pemuda yang pemberani, menolong Ara. Keduanya, yaitu Ara dan Tabat menurutku yang justru menjadi 2 tokoh utama di novel ini. Sayangnya, pada akhirnya...

Intinya novel ini keren sih!! Pram tidak pernah gagal mengemas sejarah. Jujur setelah baca ini jadi paham pelajaran sejarah waktu SMP dulu; khususnya tentang NICA, Revolusi, perpindahan Hindia Belanda jadi RIS, KMB, dsb.
Profile Image for Dewi Hambali.
69 reviews12 followers
April 23, 2025
"Kalau mati, dengan berani; kalau hidup, hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada--itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita." (P. 121)

📻
Berlatar belakang di era pasca kemerdekaan ketika Belanda datang dan ingin menguasai lagi Indonesia. Larasati atau sering disebut Ara adalah bintang film terkenal yang melakukan perjalanan dari Yogya ke Jakarta.

Di tengah sering terjadinya pertempuran yang panas, Jakarta bukan menjadi tempat yang aman baginya. Banyak hal terjadi, mulai dari diajak untuk bermain film propaganda Belanda, ia menolak. Hingga dijadikan 'peliharaan' bagi seorang kaya pendukung Belanda.

Cerita yang mengangkat tema politik ini disajikan dengan alur yang terasa lambat di awal, namun makin akhir makin cepat. Meskipun bukunya tipis, tapi banyak rangkaian kejadian yang terjadi. Semangat revolusi para tokoh sangat kental. Terlihat sekali betapa gigihnya mereka berjuang untuk mengusir Belanda dari negeri tercinta yang telah merdeka.

Cerita yang bisa membangkitkan rasa nasionalisme bagi pembacanya. Membaca ini cukup ngeri buatku. Suasana tegang dan mencekam berhasil digambarkan dengan detail. Betapa sulitnya hidup bagi rakyat yang pro kemerdekaan di masa paska proklamasi. Tak sedikit pribumi yang berkhianat dan membelot mendukung Belanda.

Pov dari Larasati sebagai orang ketiga. Karakter Larasati pun sangat terbangun: cerdas, berani, teguh pendirian. Cukup banyak karakter lainnya, aku agak ketuker-tuker sih pas baca.

Baca buku ini rasanya cape. Kalimat yang terasa kaku, juga penggalan yang agak membingungkan di awal. Aku masih kenalan sih sama gaya bahasanya Pram. Di tambah lagi cerita tidak terbagi dalam beberapa bab, rasanya terengah-engah karena tidak ada tempat berjeda.

Buku yang bukan genre nyamanku, tapi membaca novel seperti ini jadi salah satu cara menyenangkan untuk belajar sejarah buatku.

📻
Larasati • Pramoedya Ananta Toer • Cet 4, 2009 • Lentera Dipantara • 178 hlm
⭐️ 3,8/5
Profile Image for Zaharahanum Kamarudin.
38 reviews4 followers
March 9, 2022
Dalam meraikan kejayaan perjuangan, ada individu yang akan mempersoal, apakah sumbangan kita terhadap perjuangan tersebut.

Sebelum menamatkan bacaan Larasati (2003) karya penulis agung Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, saya juga sering berasa kecil apabila menyedari bahawa saya tidak memberi sumbangan pada satu-satu perjuangan. Saya bukan penggerak utama yang menumpahkan keringat mahupun menyumbang pemikiran. Saya juga bukan hartawan yang mampu membiayai sesuatu perjuangan itu.

Namun, Larasati memujuk saya, melalui kisah hidupnya.

Kita tanggap revolusi sebagai satu idea mega, tak terpeluk dek tangan, tak tergalas dek bahu. Tetapi, Larasati selaku bintang filem, yang bergelora jiwanya ingin berbakti merealisasikan revolusi, menyangkal dakwaan bahawa idea revolusi terlaksana oleh tangan-tangan tertentu atau bahu-bahu terpilih sahaja.

Soal dirinya seorang anak panggung, yang juga dipandang sebagai pemuas nafsu semata-mata ditolak ke tepi. Malah, lambaian pemuda-pemuda yang bersedia mati dan wajah mulus anak-anak kecil yang terkesan oleh penaklukan penjarah sentiasa membayangi Larasati, menjadi penguat dan pendorong agar wanita ini bersikukuh pada jalan pilihannya.

Bagi Larasati, setiap insan punya hak dan peranan menjayakan revolusi, meskipun hanya sekilas ingin dalam diri. Ingin yang sekilas itulah yang menentukan tindakan. Dan, pada kala daya sudah tiada, kudrat sudah tak meraja, sekilas ingin yang tak pernah padam nyalanya itu tetap jua perlu dirai.

Larasati mungkin bukan peran penting yang memastikan tertubuhnya Republik Indonesia. Namun, jiwanya kukuh berjuang. Dia bertahan miskin dan lapar, malah kemudiannya terkurung dan menderita sakit demi revolusi.

Hayatilah alur hidup gadis muda ini. Dapatkan naskhah Larasati daripada Kedai Hitam Putih atau mana-mana pengedar buku Indonesia yang lain.
Profile Image for Edwin Setiadi.
404 reviews17 followers
January 15, 2025
Indonesian National Revolution, from the eyes of the civilians

This is an incredible story about Indonesia in the post-independence era (17 August 1945 - 27 December 1949), which often dubbed as Indonesian National Revolution. It was when not long after Indonesia declared independence from Japan, the Dutch forces came back with the backing of the allied forces to re-capture the country that they have occupied for centuries.

The story evolves around Larasati, an actress who pledged her allegiance to the Republic, in the battle between the Republic (the natives) vs. NICA (Netherlands-Indies Cicil Administration). In the story she travelled from Republic-controlled Yogyakarta (where she has made her living) by train to NICA-controlled Jakarta to come visit her mother, only to find herself caught in the middle between the Republic guerilla movement against the NICA.

Along the journey, she met with various different types of characters: The NICA officers, the Dutch jail warden that forced her to witness her fellow natives being tortured, the native traitors that supported the NICA, the local youths in the slums creating independent rebel group, the local grandpa and grandma, the struggling poet, the rich Arab, and more men who will cheat her freedom and even her posessions, and some who will save her.

Indeed, the book has strong characters with rich details, and it also shows the impressive descriptions about how horrifying life was like during those highly turbulent 4 years, that brings the rigid textbook history into life. Too real, in fact, that I can almost feel myself being inside the frightening story and feel the nationalism burning through my veins. That's what makes Pramoedya a maestro.
Profile Image for Sejutaluka.
64 reviews9 followers
November 7, 2021
"Angkatan tua itu sungguh bobrok. Hanya angkatan tua yang korup dan mengajak korup! Angakatan muda membuat revolusi melahirkan sejarah."

Pram meletakkan roman Larasati pada latar setelah proklamasi dan sebelum agresi militer Belanda I, itu berarti sekira akhir tahun 1946 dan awal tahun 1947. Saat itu NICA telah menguasai Jakarta dan memukul mundur pasukan Republik hingga seberang timur kali Bekasi.

Larasati seorang perempuan aktris panggung dan bintang film yang melakukan perjalan dari Yogya memasuki Jakarta. Selepas memasuki Jakarta Ara panggilan Larasati, meleburkan niatnya sebagai seorang pejuang, seorang revolusioner demi Republik yang dia cintai.

Berhadapan dengan para inlander yang munafik, para pemimpin yang dari mulutnya mengalir omong kosong, para pendatang Arab yang hanya peduli keuntungan dan lelaki yang hanya menginginkan molek tubuhnya. Ara, mengajak pembacanya melihat golak revolusi dari sudut rendah rakyat kecil.

Sudut yang menggambarkan bahwa revolusi bukan hanya milik mereka yang berjuang dengan senjata di tangan, bukan pula monopoli para pembesar negeri yang sibuk berdiplomasi, tapi menancapkan satu perspektif lusuh bahwa revolusi justru milik rakyat kecil yang rumahnya tergusur, yang berteman akrab dengan rasa lapar berhari-hari.


Pram meletakkan Ara sebagai tokoh sentral roman ini, narasinya mengalir maju dengan cepat dan runtut, mengikat emosi pembacanya dengan kuat, mengajak untuk merasakan betapa sulitnya bertahan di masa itu.


Satu roman yang mengisahkan sisi lain dari gemerlapnya masa revolusi. Sampai jumpa lagi Di Tepi Kali Bekasi!.
Displaying 1 - 30 of 185 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.