Well, kemarin setelah terbengong-bengong di depan rak buku Gramedia dan kebingungan memilih antara Let Go atau Refrain, akhirnya saya pilih Let Go (harganya lebih mendukung isi dompet saya, btw *plak*). Ah, Refrain kapan-kapan yah? Saya nabung dulu. (Apaan nih? Kenapa malah curcol?)
Oke, dan pilihan saya rupanya gak salah-salah amat.
Let Go termasuk buku yang bisa saya rampungkan dalam dua kali duduk (tersela sholat Ashar dulu soalnya, kalau gak pasti dalam sekali duduk udah rampung tuh). Dan satu reaksi yang langsung keluar di otak saya setelah menyelesaikannya: ini manga banget! Saya bahkan bisa membayangkan setiap adegannya tanpa terkecuali dalam panel-panel manga. Saya bilang begitu, bukan berarti gak suka. I loves manga, anyway. So, it’s okay. Dan kalau boleh bilang, style menulis saya juga termasuk dalam aliran mangaish, jadi seneng aja nemu novel dengan style sama. Eksekusinya juga mantap, pula. Sederhana, tapi mengena. Favorit saya.
Oke, pertama, kenapa saya bisa jatuh cinta sama Let Go atau Refrain? Padahal, biasanya saya kalau ke toko buku selalu memilih novel bertema agak berat kayak fiksi fantasi. Tapi, sampul kedua buku itu bener-bener menarik. Sederhana, tapi keren. Salut deh sama Gagas Media yang selalu berhasil bikin ilustrasi sampul yang keren-keren. Warnanya biru pastel, pula. Ditambah burung-burung yang kelihatan banget sketsa pensil (atau hasil potret, tapi diedit selayaknya sketsa pensil?), hasilnya jadi lembut banget. Selembut cerita dalam novel ini. Yeah, don’t judge a book only by its cover. That’s right. Tapi tetep aja cover berpengaruh.
Hmmm, novel ini bercerita tentanga 4 orang: cowok badung tapi kelewat baik ke semua orang; cowok cakep, tajir, jenius, tapi tingkat kesadisannya gak usah ditanyain lagi; cewek sempurna tapi kesibukannya gak manusiawi sampai kewalahan sendiri; cewek pemalu, baik, pintar, tapi kena inferior complex dan gak bisa bilang “tidak” ke orang lain. Dan keempatnya digabungkan oleh wali kelas mereka ke dalam tim mading sekolah bernama Veritas.
Dilihat dari 4 karakter itu, ini khas stereotip manga-manga Jepang. Untungnya eksekusinya mendukung. Yah, persahabatannya kental banget, tentunya ada selipan cecintaan di dalamnya. Yang bikin saya salut dan seneng banget sama buku ini, cecintaan gak mendominasi. Cecintaan seperti tambahan di sini, tapi gak cuma tempelan. Lebih ke persahabatan sih sebenarnya, terutama antara Caraka dan Nathan. Sejak awal sudah mengindikasikan bahwa mereka bakal deket. Saya aja langsung tereak: BROMANCE DETECTED! XD
Tapi, saya suka. Mengingatkan saya akan bromance antara Niwa Daisuke dan Hiwatari Satoshi dalam animanga D.N.Angel. Dan lagi, kondisi mereka mirip pula. Yang satu baiknya gak tanggung-tanggung. Yang satu sakit-sakitan. Yang satu berusaha keras pengin menjalin persahabatan. Yang satu menghindar mati-matian, meskipun alasannya agak beda.
Dan waktu Sarah mengungkapkan rasa sukanya ke Caraka, saya langsung ingat animanga Honey and Clover. Beneran, caranya Sarah itu “mirip” sama caranya Ayumi pas mengungkapkan rasa suka ke Mayama (biarpun Ayumi lagi mabuk dan ngungkapinnya pas Mayama menggendong Ayumi pulang). Mana reaksi penolakan si Caraka sama persis kayak reaksinya Mayama, pula. Yah, saya selalu memaki dalam hati: kesamaan ide memang mengerikan!
Waktu perasaan Caraka akhirnya diterima Nadya pun, saya langsung ingat Kimi ni Todoke. Saking leganya setelah tahu Kuronuma gak benci sama dia, Kazehaya langsung lemes dan jatuh terduduk (atau terjongkok ya? Saya agak lupa), lega bukan main. Dan Kuronuma ikut-ikutan jongkok dan senyum manis banget ke Kazehaya. Aiyah, mirip kan sama kelegaannya Caraka dan reaksinya Nadya? Well, stereotip manga shoujo sih. Tapi, eksekusinya bagus. Itu yang saya suka.
Twistnya juga bagus. Penerapan planting-harvest-nya lumayan kena-lah. Ya soal bapaknya Caraka, ya soal Nathan (sial, saya sebel banget sama Mbak Windhy gara-gara gak tanggung-tanggung nyiksa karakter favorit saya ini). Yah, walaupun sudah bisa agak-agak ketebak sama saya, soalnya stereotip animanga sih plotnya.
Soal karakter, saya harus bilang bahwa karakterisasinya kuat. Terutama Caraka dan Nathan. Interaksi mereka berdua keren, anyway. Saya paling suka kalau sudah masuk scene di mana mereka berdua adu mulut. Percakapan mereka agak ‘bodoh’, childish, tapi mengena. Yah, bisalah membayangkan orang yang bisanya main otot tapi kalau sudah ngomong ngototnya gak ada yang bisa ngalahin perang mulut sama orang bermulut sadis yang bahkan sanggup secara cerdas mementahkan kata-kata gurunya hingga bikin speechless … beneran, terkadang percakapan mereka bikin saya ngakak guling-guling XD
Dialognya juga cerdas, dan kespontanannya gak maksa. Well, tapi bener deh. Kaku banget. Seolah tokoh-tokoh di novel itu—termasuk ABG-nya—berusaha keras menerapkan berbahasa Indonesia yang baik dan benar, tapi gagal. Soalnya, perpaduannya dengan bahasa slang sehari-hari gak nyatu dan gak mulus. Banyak juga kalimat-kalimat keren dalam novel ini. Eh, ralat: BANYAK. BANGET. Sampai-sampai rasa-rasanya tiap satu atau dua lembar sekali ada aja yang isi omongannya keren banget. Tapi, sayangnya, cara pesan-pesan itu masuk ke dialog setengah maksa. Gak luwes dan gak natural. Untuk sekilas saya mikir: kayaknya Mbak Windhy ngebet banget pengen masukin semua quote keren yang pernah terlintas di benaknya dalam satu buku. Alhasil, bejubel. Kayak lagi masukin banyak banget barang ke dalam tas ransel, tapi saking banyaknya jadi harus menjejalkannya (jadi inget pas nyiapin barang-barang buat kemah).
Yang bejubel gak cuma kalimat kerennya, tapi juga informasinya. Gila, ada yang menghabiskan dua atau tiga halaman sendiri cuma untuk menjelaskan isi kitab Negarakertagama. Dan itu gak ngaruh ke cerita biarpun dihilangkan, paling juga cuma buat menegaskan kalau si Caraka jenius Sejarah. Tapi, cuma itu. Dan yang lebih parah, gak ada follow-up-nya sama sekali. Habis jelasin isi kitab itu panjang lebar, ya udah selesai. Gak disinggung-singgung lagi. Ya mau gimana lagi? Hubungannya ke cerita aja gak ada sama sekali.
Dan gak cuma itu, informasi tentang lagu-lagu klasik, film-film, pengarang novel dan buku-bukunya ... well, bener-bener bejubel. Dan yang lebih parah, seringkali dijejalkan di satu tempat, gak disebar. Jadi bikin saya agak mengernyit dan setelah selesai membaca, ya otomatis langsung terlupakan semua. Saya gak bilang buruk. Bagus kok. Jarang-jarang ada penulis bisa memberikan informasi aktual dalam novelnya. Tapi, ini banyak banget. Terlalu banyak.
Ada juga dialog yang naudzubillah panjangnya.... Terutama pas Bapaknya Nathan curhat ke temen-temen anaknya, itu semuanya meluncur gitu aja tanpa proses yang cukup. Gak cuma itu sih, tapi ... ah, coba baca sendiri saja :)
Kalau boleh saya bilang, novel ini istimewa. Jarang-jarang lho teenlit menawarkan tema yang agak berat begini. Dan saya suka. Apalagi ternyata dieksekusi secara apik. Tapi, sayang, deskripsinya kurang, Mbak Windhy. Saya tahu ini POV 3, tapi ini kan POV 3 limited, sudut pandangnya terbatas dari pihak si Caraka. Selain deskripsi tempat dan suasana yang perlu ditonjolin lagi, deskripsi perasaannya si Caraka boleh kok dieksplor lebih dalam. Walaupun gak sedalam POV 1. Tapi, jujur deh. Ini kelewat sedikit. Lebih banyak telling lewat dialog, kayaknya yah?
Oke, akhir kata, saya suka tema yang diambil Mbak Windhy. Dan saya juga suka cara eksekusinya. Seperti yang saya bilang, karena gaya kita sama-sama mangaish, Mbak. Novel ini akan selalu menempati tempat yang spesial di rak buku saya. Walaupun bergabung dengan novel-novel fiksi fantasi sih :)
Hmm, saya menanti karya Mbak Windhy selanjutnya. Ngomong-ngomong, saya jadi pengen baca Touche. Itu fantasi kan yah? XD