Baca buku ini dari awal tahun 2021, tapi baru selesai sekarang karena memang harus dibaca berkali-kali dalam kondisi tenang untuk bisa paham buku ini. Saya baca versi terjemahan bahasa Indonesia, tapi sepanjang baca selalu ngedumel karena ada beberapa kata yang terjemahannya nggak pas dan paragrafnya loncat dari satu topik ke topik lain. "Ini terjemahannya yang jelek apa gue yang bego, sih?". Akhirnya coba baca terjemahan bahasa Inggris untuk membandingkan. Setelah baca beberapa bab, saya jadi yakin kalau kesalahan ada di diri saya. Ternyata saya yang (masih) kurang otak dan kurang iman untuk bisa paham yang dimaksud Rumi di buku ini.
Fihi Ma Fihi, secara harfiah artinya "In It What's In It" atau "Inilah yang Sesungguhnya" berisi 71 ceramah Rumi tentang hakikat keterciptaan manusia dan hubungannya dengan Tuhan. Dari pemilihan judul, Rumi seperti menyampaikan bahwa esensi manusia sesungguhnya adalah pemaknaan atas Tuhan; Tuhan sebagai tujuan utama dari pengembaraan jiwa di dunia. Rumi menerjemahkan semua hal yang terjadi di Bumi, dari yang terkecil sekalipun, adalah bentuk nyata dari penghambaan makhluk ciptaan kepada penciptanya. Terdengar berat, tapi semua tema dalam ceramahnya sesungguhnya berangkat dari persoalan sehari-hari yang dihadapi murid dan orang terdekat Rumi. Raja, filsuf, ulama, pedagang, sampai pelacur muncul sebagai perumpaan Rumi untuk menggambarkan hubungan antara manusia dengan Tuhannya.
Menurut saya, buku ini tidak dimaksudkan untuk dipahami sebagai satu kesatuan. Dengan adanya kesamaan pesan tentang penghambaan manusia kepada Tuhan, pembaca bisa memilih mana ceramah yang relatable. Diperlukan pengalaman pribadi, kalau bisa sentimentil sekalian, supaya bisa lebih meresapi maknanya. Saya sendiri kurang tergugah dan mengerti ceramah yang sifatnya terlalu metafisika. Contohnya ketika Manshur al-Hallaj merasakan puncak cintanya pada Allah dan menyatakan, "Akulah Allah," yang maksudnya, "Aku adalah fana dan yang kekal adalah Allah". Otak saya nggak nyampe untuk berandai-andai ke level itu. Saya lebih suka ceramah tentang akhlak sehari-hari dan menggunakan perumpamaan fenomena alam sederhana, seperti gugurnya dedaunan dan mekarnya bunga.
Butuh banyak pengalaman dan pertanyaan hidup untuk bisa memahami karya Rumi. Saya jadi sadar saya bodoh dan banyak dosa saat baca buku ini, tapi di sisi lain saya merasa ada ceramah yang khusus ditulis untuk saya, contohnya bab 65. Saya nggak paham satu hal, tapi saya merasa ada jawaban untuk hal lain di ceramah yang lain. Aneh memang ada buku yang bisa memberikan efek begitu. Padahal ceramahnya berlangsung sekitar 800 tahun lalu, tapi pesannya masih sesuai sampai sekarang.
Saya akan baca ulang buku ini setiap tahun untuk melihat apakah lebih banyak ceramah yang bisa saya pahami dengan bertambahnya pengalaman, hitung-hitung evaluasi diri juga. Saya belum pernah baca buku tentang sufisme sebelumnya, tapi mungkin Fihi Ma Fihi bisa jadi langkah pertama untuk masuk ke sufisme. Saya merekomendasikan buku ini untuk semua orang yang punya pertanyaan soal hakikat hubungan manusia dan Tuhan. Level pemahaman bisa berbeda, tergantung nalar dan kepekaan masing-masing. Satu yang pasti, merasa bodoh dan kurang iman setelah baca buku ini adalah normal karena kita semua masih manusia.