Ranting, Tawangsri, Gendhing, dan Zhang Mey tumbuh bersama sejak belia. Mereka menjalani takdir sebagai perempuan dan menemukan bahwa hidup tak selalu terkonfigurasi serupa dongeng masa lalu para peri.
Kebun kehidupan pun acapkali melalui kemarau panjang yang harus dilewati. Mereka tak berdaya mengelak dari kepatuhan terhadap partitur perkawinan, walaupun yang teralun adalah selarik nada pahit.
Beranikah mereka menentukan pilihan? Sanggupkah mereka ingkar dari kisah berurai air mata dan menjadikan perjalanan hidup sebagai sebuah pengembaraan menakjubkan?
WARNING!!! Review ini cuma berisi curhat. Segala kritikan dan masukan saya tentang isi buku sudah saya sampaikan langsung ke penulis buku pada 9 April 2010.
Susahnya jadi perempuan Jalan melenggang dibilang genit Jalan tegak dibilang berlagak
Susahnya jadi perempuan Berpakaian terbuka dibilang obral Berpakaian tertutup dibilang konvensional
Susahnya jadi perempuan Bicara banyak dibilang tak tahu diri Bicara sedikit dibilang kepala tak berisi
Susahnya jadi perempuan...
Susahnya tumbuh menjadi seorang perempuan saya alami betul saat kecil. Sebagai cucu perempuan pertama dari belasan cucu laki-laki yang lahir sebelum saya, Ibu seperti mendapatkan mandat dari keluarga besar Soerjadinata untuk menjadikan saya seorang perempuan sejati. Saat kecil, saya dibanjiri hadiah boneka, berbagai macam pita dan renda, dan segala pernak-pernik berbau perempuan lainnya. Hal yang sebetulnya sama sekali tak saya suka.
Tapi Ibu, dan juga keluarga besar saya, lupa bahwa saya tak punya teman perempuan di keluarga. Sepupu-sepupu saya (yang semuanya laki-laki) tentu saja tak tertarik untuk bermain dengan mainan yang saya suka, kecuali untuk mengganggu atau membuat saya menangis.
Alih-alih membesarkan hati dan melindungi perasaan saya, Ibu justru menerapkan berbagai aturan dan larangan, demi membentuk kepribadian saya sebagai seorang perempuan sejati. "Don't wash your hands in public, Lita," kata Ibu saat saya menangis di depan orang banyak. Tak perlu tertawa, senyuman sudah cukup untuk menunjukkan kalau kamu senang, dan sebagainya, dan sebagainya.
Walhasil, saya tumbuh sebagai orang yang serba salah. Saya pun - hingga saat ini - sulit memaafkan diri sendiri bila saya berbuat salah, atau berbagi kesusahan yang saya hadapi dengan orang lain. Semua saya simpan sendiri, dan buat saya itu lebih baik.
Beranjak remaja, saya mulai melakukan pemberontakan-pemberontakan terhadap Ibu. Mulai dari membuang semua rok dan gaun yang saya miliki dan menggantinya dengan celana panjang, berhenti les menari dan berbelok latihan tae kwon do (padahal cuma kepingin kenalan sama Dede Yusuf), sampai mencuri uang Ibu untuk nonton konser Metallica. Pertengkaran-pertengkaran pun tak terhindarkan. Ibu menganggap saya membangkang, sementara saya menganggap Ibu tak pernah puas dengan segala yang telah saya lakukan untuk beliau.
Persengketaan saya dengan Ibu berakhir manakala saya terbaring koma di rumah sakit. Malam itu, masih dalam keadaan koma, saya mendengar rententan doa yang panjang yang dipanjatkan Ibu untuk saya. Sampai saat ini, doa tersebut masih terngiang saat saya menghadapi kesusahan dalam hidup.
Entah kenapa, setelah berdamai dengan Ibu, saya justru menemukan jati diri saya sebagai perempuan. Mata saya pun terbuka, bahwa ajaran-ajaran yang Ibu alami saat seusia saya, jauh lebih berat. Dan warisan itu Ibu teruskan untuk diri saya, untuk kebaikan saya semata. Dan setelah itu, Ibu pun lebih bersikap santai dan terbuka terhadap saya. Posisi Ibu pun berubah di mata saya: dari musuh besar menjadi idola.
Saat menamatkan buku Garis Perempuan ini, saya kembai teringat perkataan Ibu saat saya berencana menikah waktu itu: perawan atau tidak, laki-laki belum tentu menghargai kita. Terlebih, bila kita sebagai perempuan, tidak bisa menghargai diri kita sendiri. Dan berbahagia untuk diri sendiri, sebelum berbahagia untuk orang lain, adalah syarat utama untuk mencapai penghargaan itu.
Duh, jadi pengen denger lagunya Il Divo: Mama, thank you for who I am Thank you for everything I'm not Forgive me for the words unsaid And for the time I forgot
....
Mama forgive the time to cry Forgive me for not making right For all the storms I may have done That I've been wrong Dry your eyes, dry your eyes
And I know you believe And I know you have dreams And I'm sorry it took all times to see That I am where I am because of your truth And I miss you, I miss you.(lits)
Let's talk about virginity. Some, well most would say, to the hell with virginity this is no 18th century, yet it is still a matter for few. This book put virginity as a delicate subject, delivered by four young women with different social backgrounds.
It tries to reflect that, being three Javanese and one Indonesian-Chinese, they're not only dealing with deep-rooted traditions regarding the virginity but also being a woman as well. Not many women, I'm talking about Indonesian specifically, have the luxury to chose or to decide when, how, where and whom she'd lose her virginity with.
The four young women here remind me to the classic archetypes of women which could be extracted from Coelho's The Witch of Portobello,
Gendhing reminds me to the Virgin (not the sexual virgin), the one who searches springs from from her complete independence, and everything she learns is the fruit of her ability to face challenges alone. She denies the option to put her virginity on a golden tray as an offering for the person who has the power to release her and her family from their problem.
Ranting is the Martyr, who finds her way to self-knowledge through pain, surrender, and suffering. She sacrifice herself for a marriage, included in a polygamy practice, to save the precious life of one she loves most and decides its her body she has sacrifice but not her soul.
Tawangsri is the Saint, who finds her true reason for living in unconditional love and in her ability to give without asking anything in return. She loves Jenggala, and he loves her back yet she awares that for the moment someone else requires his limitless love more than she does. But at the same time she's perfectly fit into the Bitch type (this one left out by Coelho btw as spotted by a dear friend of mine in this review), whose search comes from her independence and aggression in pursuing her spiritual path. She fights for her cause with no care about the common opinion. She expressed herself freely but sacrifices those who condemn and judge her. Tawangsri would be the one to decide when she'd lose her virginity and with whom. My heroine.
I couldn't yet decide whether Zhang Mey fits the Witch archtype, who justifies her existence by going in search of complete and limitless pleasure, as she also fits one of the women types introduced by the author (the queen, who is smart and wise to lead her people; the goddess, who is beautiful and bless others with happiness; and the warrior lady, who is strong and loyal). Zhang Mey with no doubt would search complete and limitless pleasure yet at the same time she would also fight all the demons that tried to close her path to the one she loves although at the end there's always a possibility she'd lose the war. She's definitely a warrior lady.
And me, I'd be the woman from the Greek line. The descendant of Athena, whom Zeus had plucked from his own brain, and I would never missed a chance to remind men that I and those from this line were sprung from the head of god and had nothing to do with men's insides or with their damnation.
***
Dari lembar pertama buku ini menarik untuk dibaca. Permasalahannya sudah sering kita dengar dan hadapi tapi tetap seorang Sanie B. Kuncoro meraciknya secara apik dan disampaikan dengan indah.
Ada kutipan luar biasa menarik yang aku temukan di buku ini,
"Bagaimanapun gigihnya upaya-upaya kesetaraan dilakukan, tak terhindarkan bahwa perempuan tak bisa meninggalkan unsur-unsur feodalisme di dalam dirinya sendiri, yang menempatkan dirinya sebagai warga negara kelas dua, seperti yang dikatakan. Ketika kariernya melesat dan menempatkannya pada posisi yang lebih tinggi dari suaminya, entah dari segi level atau finansial, perempuan dan juga pasangannya akan merasa ada sesuatu yang tidak pada tempatnya. Lebih tepatnya, masing-masing merasa melampaui batas. Tentu ada beberapa pengecualian, tapi pada umumnya seperti itu. Maka, beberapa perempuan memilih untuk mengerem laju kesuksesannya."
Kesetaraan tidak melulu dimulai dari laki-laki, tapi dari perempuan itu sendiri untuk keluar dan melihat batas-batas tak kasamata yang dirajut di sekitarnya. Hanya ada empat perempuan dalam kisah ini, tapi mereka adalah refleksi diri kita dan pasangan-pasangan kita entah suami, kekasih, calon kekasih, pacar gelap atau siapa pun dia.
Perlu menyebutkan bahwa karakter setiap lelaki dalam hidup keempat tokoh perempuan di sini walau hanya muncul sedikit namun tidak berarti terlupakan begitu saja. Masing-masing punya arti penting dalam cerita ini dan tidak ditempatkan sebagai antagonis.
Satu-satunya kekurangan buku ini adalah, aku tidak mau kisahnya berakhir.
Buku ini bertele-tele. Ya Tuhan, gue tidak pernah melihat buku dengan tebal halaman seperti buku ini, yang kalau cerita di dalamnya diceritakan kembali secara lisan, cuma memakan waktu kurang dari lima menit. Kalau gue harus menceritakan kembali isi buku ini, mungkin reka adegannya akan seperti ini:
Reporter bincang-bincang sore di MetroTV (RBBSdM): "Farah mungkin bisa menceritakan kembali, bagaimana isi cerita buku ini?"
Farah: "Intinya sih ada 4 perempuan yang terbelenggu dengan status keperawanannya sendiri, Mbak. Gitu doang. Setelah itu, ceritanya di dalamnya cuma dipanjang-panjangin doang sih. Dibingung2in gitu tokohnya. Atas nama norma lah, atas nama tanggung jawab moril lah, atas nama cinta lah, ya gitu-gitu deh.."
RBBSdM: "Oh. Singkat sekali ya kesimpulannya? Padahal ini bukunya tebal lho.." *membolak-balik buku ditangannya*
RBBSdM: "Lalu tantangannya apa dalam membaca buku ini?" *masih berusaha terlihat antusias*
Farah: "Tantangan terbesar bagi pembaca adalah untuk selalu berusaha berkonsentrasi dalam membaca buku ini. Istilahnya, Mbak, kalau kita mendadak mesti berhenti baca novel ini ditengah jalan, connectnya lagi nanti jadi gampang. Itu yang susah, Mbak!" *pasang ekspresi meyakinkan*
RBBSdM: "Oh gitu.." *Mulai speechless dan mulai berpikir, "Ini narasumbernya tidak membantu sama sekali sih? Siapa sih nih yang ngundang buat diwawancara disini? Cih." tapi sambil tetep pasang tampang senyum ngambang.*
Nah sementara si RBBSdM nanya ke narasumber lain mengenai kesan-kesan mereka mengenai buku ini, gue akan kembali menjelaskan mengenai buku ini kepada para pembaca Goodreads.
Pembaca Goodreads (PG): Narasumber lain? Farah: Iya, Narasumber lain. Kan ceritanya gue diundang ke acara bincang-bincang sorenya berame2 gitu loh.. PG: *manggut-manggut*
Nah ya. Itu sih kesan gue soal buku ini. Oke lah ya, tema yang diangkat itu menarik dan dilematis. Keperawanan. Keperawanan yang diukur dari: apakah kamu masih memiliki selaput dara atau tidak, apakah tubuhmu pernah terjamah tangan-tangan lelaki atau tidak, dan kemudian yang menjadi highlight dalam kisah-kisah ini: bagaimana cara kamu menyerahkannya.
Kata-kata (yang seharusnya) penuh makna dan kiasan berhamburan di setiap halaman buku ini. Untuk menggambarkan Orgasme saja, muter-muter minta ampun.
Kiasan, metafora, wejangan-wejangan orang tua, kemudian penjelasan mengenai reaksi-reaksi alami yang terjadi pada tubuh perempuan saat sedang melakukan hubungan badaniah digambarkan terlalu (yak, sekali lagi) panjang.
Satu hal lain yang menggelitik, adalah percakapan antara Ranting dan ayahnya saat ayahnya menggambarkan bagaimana cantiknya ibu Ranting saat baru 'mekar'. Percakapan dibawah cahaya rembulan itu menurut gue terlalu cerdas. Pilihan kata yang digunakan sangat jauh dari kesederhanaan latar belakang kehidupan tokoh yang sebenarnya sudah sejak awal susah payah dibangun. Ingat dong, saat ibu Ranting bilang belum tentu nanti saat Ranting dapat haid pertama, mereka bisa bagi-bagi besek ke tetangga2?
Logika sekali lagi dikorbankan dalam pencitraan buku ini. Sama seperti Ma Yan. Buku ini kurang logika. Ayahnya ranting itu kerjanya apa? Pendidikannya apa? Bagaimana kehidupan mereka? Kok bisa merangkai kalimat dengan begitu indah dan terpelajar? Lalu dimana benang merah wejangan sang ayah dengan kehidupannya yang digambarkan susah secara ekonomi?
Mungkin sekali lagi, penulis tidak percaya, bahwa kesederhanaan seseorang bisa menghasilkan wejangan yang juga indah dan bermakna. Demi melengkapi 'keindahan' buku ini yang ingin dia bangun sejak awal, kesederhanaan itu diamputasi. Sayang sekali.
Tapi pilihan apa yang bisa dibuat oleh penulis saat ia sudah menetapkan bahwa dia ingin menghasilkan buku yang penuh kiasan dan (mudah-mudahan bisa dianggap) indah? Mau nulis secara ilmiah? Biologi gitu? Terus nanti jadinya gimana?
Mungkin begini:
Ranting tergetar saat ia merasakan terjadinya persatuan dua macam gamet dari dua individu yang berbeda jenis kelaminnya. Ia menyadari, bahwa percampuran materi genetik tersebut akan memungkinkan terbentuknya individu baru dengan sifat baru.
Seperti yang pernah ia pelajari di sekolah dulu, ia paham bahwa setelah gamet jantan atau spermatozoa milik suaminya dan gamet betina atau sel telur miliknya bertemu, akan terjadi peristiwa fertilisasi atau yang dikenal juga dengan nama singami.
Najis, mati aja lo, Far.. *digampar bolak-balik sama guru Biologi*
Kisah wanita kedua masih ada hook-nya buat gue. Oke lah, gue masih mau baca. Tapi masuk ke cerita wanita ke-3, ah ya sudah lah ya. *skip skip skip* Oh gitu toh ceritanya. *skip skip skip* Oh yayayaya.. *skip skip skip* Hm hm. *tutup buku. Main the Sims.
Oh. Ngobrol2 dengan narasumber lainnya udah selesai. Abis ini mbak pembawa acaranya mau nanya2 gue lagi.
RBBSdM: "Kita kembali lagi ke Farah ya? Farah, ada pesan ngga buat para pemirsa yang mungkin tertarik untuk membeli atau membaca buku ini?"
Farah: "Oh iya. Kalau sudah terlanjur minjem buku ini di perpustakaan sekolah atau udah terlanjur dibawa ke kasir dan udah terlanjur discan sama mbak kasirnya, ya dibaca aja. Cuma saran saya, sebelum baca buku ini, latihan pernapasan ringan dulu aja.."
RBBSdM: "Latihan pernapasan ringan? Wah ini menarik sekali. Biar kenapa tuh, latihan pernapasan ringan?"
Farah: "Biar otaknya jernih saat membaca buku ini. Jadi bisa menangkap maksud dari penulis buku ini. Sebelum latihan pernapasan juga dianjurkan makan pisang 2 buah. Sebagai asupan energi ke otak. Minum minyak ikan juga boleh. Atau makan salmon. Yah, yang bisa bikin otak mendadak cerdas gitu lah."
RBBSdM: *melambai-lambaikan tangan hopeless ke kamera. Minta puter iklan aja langsung*
Jangkrik: *masih* krik krik krik
Farah: *Meperin upil ke bawah meja*
Iklan diputar, dilanjutkan dengan Headline News mengenai Narasumber bincang-bincang sore yang diseret keluar studio oleh satpam karena telah mengotori properti dengan sengaja.
Saya memilih beberapa paragraf berikut yang menurut saya cocok untuk menggambarkan isi buku ini:
“Keperawanan ora tergantung bancaan. Dengan atau tanpa bacaan semua perempuan tetaplah perawan. Dibancaki puluhan tampah pun, kalau tidak bisa menjaga keperawanannya dengan baik, ya percuma. Nasi bancaan, seberapa kekuatannya? Lha wong cuma sega [itu sekadar nasi:]. Zaman sudah sesulit ini, tidak bisa diadang atau diatasi segala kegilaan zaman itu cuma dengan nasi bancaan.”.:Hal 15:.
Dimengertinya kini apa yang dikatakan Masari sesaat lalu. Bahwa poligami merupakan salah satu problem perkawinan yang berpotensi memecah belah perempuan. Memosisikan para perempuan sebagai lawan satu dengan yang lain, dalam upaya mendapatkan pembagian berupa perhatian dan cinta. .:Hal 105:.
Ketika seseorang melakukan sesuatu terhadap orang lain, yang sesungguhnya tidak diinginkan pihak lain, berarti terdapat unsur pemaksaan. Bila unsur pemaksaan itu dipaksakan, yang terjadi kemudian adalah pemerkosaan. Namun, bagaimana seseorang yang dianggap pelaku, tidak menyadari bahwa dia ‘memaksa’?.:Hal 109:.
”… dalam rupiah tidak banyak yang diberikan karak-karak itu kepadaku. Tapi, paling tidak karak-karak tidak menjadikan aku sebagai pelacur di dalam rumahku sendiri dan tidak membiarkan diriku diperkosa suami seminggu dua kali atas nama perkawinan.”.:Hal 114:.
“Ada istilah komodifikasi tubuh menjadikan tubuh sebagai komoditas barang dagangan. Bahwa kemudian kau memosisikan tubuhmu, khususnya keperawananmu sebagai komoditas dan mengeksplorasinya sebagai penghasil keuntungan secara finansial, itu adalah sebuah hak.”.:Hal 197:.
*****
Buku ini memang banyak membahas tentang keperawanan, dan juga sedikit mengenai posisi perempuan dalam poligami. Tapi menurut saya, buku ini lebih banyak bercerita tentang perempuan dan hak-nya untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Dan, keperawanan hanya sebagai simbol untuk menggambarkannnya. Keperawanan milik mereka, dan biarkan mereka yang memutuskan akan diperlakukan seperti apa keperawanan itu.
Dan kami para lelaki, masih banyak yang menginginkan calon istrinya seorang perawan, dan banyak juga yang tidak terlalu memperdulikannya. Itu juga pilihan. Masing-masing punya pilihan untuk dijalani, jadi saling menghargai saja.
*****
Pada bab-bab awal, saya sangat menyukai kalimat-kalimat yang membangun cerita dalam buku ini. Indah! Tapi lama-lama, maaf, saya kok jadi merasa bosan. Mungkin, paragraf berikut bisa menggambarkan perasaan saya.
“Cantik saja tidak selalu cukup. Sering kali persoalannya bukan soal cantik atau tidak, tapi selalu pada kebutuhan terhadap variasi. Istri cantik bagi suami bisa jadi serupa sepiring bistik. Memang enak, tapi kalau yang terhidang bistik terus ya bosen juga. Maka, bisa jadi gado-gado atau pecel akan menjadi selingan yang menyegarkan.”.:Hal 136:.
Intinya, beberapa kalimat-kalimat “gado-gado” atau “pecel” sebagai selingan mungkin akan membuatnya tetap terasa segar dari kalimat pertama sampai kalimat terakhir.
Perempuan, yang dipuja sebagai kembang, sering hanya dinanti ketika mekar, namun diganti ketika layu. Apakah kumbang hanya mencari yang segar?
Masa perawan hanya datang satu kali. Itulah hidup yang dijalani perempuan. Nilai-nilai yang ditanamkan oleh budaya timur, apakah kau bakul karak, buruh cuci, pekerja salon, penjual batik, mahasiswi sosiologi, atau penghuni rumah benteng cina.
Apakah hanya lelaki dan ibu mertua yang menilai keperawanan perempuan? Kenapa tidak kita sendiri? Kenapa menjadi tidak perawan menjadi tidak suci?
Empat perempuan ini memilih, semua untuk saat pertama mereka, untuk menggadaikan dan ditebus kembali, untuk dijual namun direbut lagi, untuk diserahkan dengan cinta entahlah jadi, atau untuk ditinggalkan tak jadi apa-apa. Dan apakah ini soal keperawanan atau kehormatan? Apakah ini soal nama baik atau hanya gosip di belakang apabila tidak perawan? Atau kehidupan di belakang, yang belum mereka ketahui, tapi mereka sudah menanggung konsekuensinya. Mereka tahu, mereka memilih.
Memilih seseorang dalam jodohmu seperti memilih kucing dalam karung yang berlapis-lapis. Setiap terbuka lapisan awalnya, akan memunculkan sesuatu yang belum kau ketahui pada mulanya. Lalu kau menduga apa yang ada dalam lapisan berikutnya, yang ketika kau buka tak serupa dugaanmu. Begitulah, setiap lapis kehidupan pasanganmu akan menyimpan misterinya sendiri.
Seringkali perempuan hanya menjadi obyek dari norma atau etika yang ada di masyarakat. Lelaki tidak dipertanyakan keperjakaannya, namun perempuan selalu. Ketika perempuan diperkosa, yang disalahkan perempuan, dianggap terlalu genit. Ketika perempuan tidak bahagia dalam perkawinannya, yang disalahkan perempuan, dianggap tidak bisa nerimo. Ketika si suami selingkuh, yang disalahkan si istri, yang kurang bisa menjaga suaminya baik-baik, nggak bisa memberi kehangatan di rumah. Ketika anak-anak berkelahi, yang disalahkan ibunya, yang tidak memberikan pengajaran yang baik.
Perempuan, tidaklah bisa selalu sempurna. Namun bagaimana kita menjalani kodrat sebagai perempuan ini agar selalu sebagai bunga segar, yang selalu berbunga, tidak sekali petik dan layu, selalu memberikan kebahagiaan pada sekitar, dapat sedih ketika hujan. Perempuan ada bukan cuma untuk mengabdi, namun juga untuk dirawat dan dihargai. Cerdas bagaikan ratu, cantik laksana dewi, dan kuat bagai prajurit.
Karena kita istimewa. Dan pelukan selalu memberikan ketentraman.
Aku membayangkan Dian Sastro sebagai Tawangsri, Rachel Maryam sebagai Gendhing, Happy Salma sebagai Ranting, dan Dominique sebagai Zhang Mey, jika novel ini bertransformasi menjadi film. Hmm, kira-kira ada tidak ya yang berniat membingkai karya tulis ini menjadi sebuah karya visual dalam layar perak. Semoga saja.
Oiya, aku membaca novel ini karena “teracuni” teman-teman baruku di GRI, dan untung saja aku mendapatkan copy novelnya dengan potongan harga berkat mereka. Sedap. Terima kasih teman-teman.
Baiklah, mari kita bahas novel yang kata penulisnya adalah novel pertamanya ini (loh, terus Ma Yan novel ke berapa? Bukannya lebih dulu terbit, dan itu di cover depan novel ini tertulis “Penulis Bestseller Ma Yan”, maksudnya apa?)
Perempuan menjadi topik tak berujung untuk selalu diulas. Beragam liku-liku peran akan disematkan pada makhluk indah ciptaan Tuhan ini. Mulai dari yang “sekadar” peran sampingan hingga peran dramatis pengundang kontroversi. Dan, novel ini memilih mengangkat perempuan pada banyak peran. Meski kesemuanya bermuara pada dramatisasi kontroversi.
Alkisah, mengalirlah denting dawai kehidupan empat perempuan dengan nama-nama yang sudah kusebutkan di muka. Ada sosok Ranting yang harus rela memasrahkan mustika keperempuanannya sebagai istri ketiga pada sosok tuan besar yang ‘berjasa’ mengentaskannya dan keluarganya dari tubir jurang kemiskinan meskipun pada akhirnya Ranting lebih memilih melacurkan diri pada lelaki itu. Tersebut juga kisah Gendhing yang terbelit pilihan sulit antara menghadiahkan selaput daranya pada laki-laki yang sanggup ‘membelinya’ ratusan juta untuk melunasi utang keluarganya ataukah mempertahankannya namun dengan risiko dia menjadi ‘babu’ yang senasib dengan kedua orang tuanya. Selanjutnya, ada Tawangsri yang merasa menemukan memori hangat dekapan seorang ayah pada sosok duda beranak satu yang ditemuinya secara tidak sengaja, tetapi dia teradang keraguan batin ketika hendak menyerahkan harta paling berharganya demi menyadari bahwa ada masa lalu yang sulit dikompromikan pada laki-laki itu. Terakhir ada Zhang Mey yang terbelenggu tradisi etnisnya untuk harus mampu mempersembahkan percikan darah perawan di atas saputangan pada lelaki yang ditunjuk sebagai suaminya meskipun gelenyar cintanya justru terpaut pada sosok iniren yang tak memenuhi persyaratan keluarganya untuk dipertimbangkan sebagai menantu.
Empat perempuan diikat dalam empat lakon yang dialirkan dengan serangkaian kalimat yang mendayu-syahdu oleh Sanie. Tak bisa kusangkal bahwa kemampuan olah kalimatnya begitu memesona. Membanjiri kesadaranku akan keindahan kata-kata. Ini adalah guyuran kenikmatanku, karena aku ingin mendeklarasikan diri sebagai pelumat keindahan kata-kata. Namun demikian, puntiran-puntiran kalimat Sanie kadang juga agak menjemukan karena kegemarannya untuk over used pada kata-kata tertentu. Aku mencatat ada kata “bergeming”, “treperenyak”, “suwung”, dan “lalu”, yang kadang digunakan terlampau sering. Yang agak mengganggu nikmatnya kunyahanku pada novel ini adalah kata “lalu”. Seolah-olah Sanie kehabisan ide untuk mencari padanan kata lain demi menyambung paragraf-paragraf yang diciptakannya. Ini seperti ketika ada yang bercerita, “…habis bangun lalu aku mandi, habis mandi lalu aku makan, habis makan lalu aku sikat gigi, habis sikat gigi lalu aku nonton tipi.” Tidak salah, dan juga hak penulis untuk menggunakannya, tapi bagiku penggunaan kata itu sungguh agak mengganggu. Satu tanya tersembul adalah, apakah tidak ada kata lain sebagai pengganti kata "lalu", sehingga tidak terkesan over used begitu? Meskipun demikian, penggunaan kata-kata over used itu tak lantas membuatku mendadak mual.
Kejemuan pada segala keindahan susunan kalimat dalam novel ini juga timbul dari kesan serba tahu dari si penulisnya. Pada beberapa bagian, aku terpaksa skip dan berpindah cepat ke halaman berikutnya. Ini yang aku kategorikan sebagai kalimat menye-menye. Terlalu bertele-tele meskipun masih dapat dikoneksikan dengan situasi dan kondisi yang dialami para pelakonnya. Namun, tetap saja bentukan kalimat tersebut mengingatkanku pada novel Laskar Pelangi yang juga kubaca loncat-loncat sangking banyaknya kalimat hiasan sebagai pengantar pada inti paragraf utamanya. (Yang akhirnya nggak pernah selesai dibaca)
Hmm, kesan serba tahu ini mnejadi kontradiksi ketika di awal mendongeng, Sanie hanya menyebut “tanaman parasit yang berupa sulur-sulur kuning menjalar pada ranting-ranting dan dedaunan” (hlm: 4), “sulur-sulur kuning yang ruwet bergumpal memanjang”(hlm: 7). Apa iya, tidak ada ahli Biologi yang telah menemukan nama untuk tumbuhan parasit yang mengibakan sekali karena tidak terkenal itu? Ataukah sebagaimana kata oom Google yang ketika aku tanya, “tumbuhan parasit sulur kuning,” membawaku bertamasya ke beberapa situs yang mengidentifikasi sulur-sulur itu sebagai tumbuhan dengan nama “tali putri”? Well, bukan sesuatu yang maha-penting sih, tapi agak mengganggu bagiku jika di lembar-lembar berikutnya si penulis dengan fasihnya menebarkan beragam informasi dari pengetahuan teknologi kereta api Shinkanzen hingga migrasi kupu-kupu raja, namun hanya menyematkan istilah “sulur kuning” pada tumbuhan yang jamak dijumpai itu.
Kritik lain yang aku berikan adalah suasana permainan “pasaran” yang ada di pembukaan novel. Kalau boleh jujur, permainan masa kecilku adalah bercampur-baur dengan teman-teman laki-laki dan perempuan. Kadang bermain drama, kadang bermain gedrik gunung, bahkan juga pasaran, jadi paling tidak aku juga pernah merasakan bagaimana jalannya permainan itu. Dan, seingatku dialog-dialog percakapan kami tidak sekaku itu. Aku merasa kurangnya unsur riang dalam setiap luncuran percakapan para tokoh-tokoh ciliknya itu.
Ketidak’sreg’anku yang lain adalah kenapa ketika cerita Tawangsri, modelnya dibuat berbeda. Jikalau pada kisah ketiga yang lain, si tokoh laki-lakinya tak bisa diketahui pasti keseharian dan pemikirannya, kenapa yang di waktu cerita pasangannya Tawangsri, si tokoh laki-laki itu diberikan hak untuk menguraikan pikirannya? Namun, sekali lagi aku melarikan pertanyaanku sendiri itu pada hak penulis untuk menulis dalam model apapun.
Walah, aku selalu begini. Memberikan kritik pada bagian-bagian yang nggak penting, meskipun bagiku pribadi sih itu perlu untuk menyempurnakan kenyamananku mengikuti aliran plot yang dibangun si penulis cerita. Cerita sebagus apapun jika dalam membawakannya (termasuk kemasan dan cetakannya) tidak membuatku sreg ya…tidak akan berhasil membuatku puas.
Overall, aku suka dengan novel ini. Dan kalau harus menetapkan tokoh favorit di novel maka aku memilih Cik Ming sebagai tokoh perempuan favorit dan ayah Zhang Mey sebagai tokoh laki-laki favorit.
Hmm, ada beberapa pemikiran yang akan segera kucatat untuk dapat kubawa pada diskusi bookclub GRI berikutnya jika rencana temanya jadi mengangkat buku ini untuk didiskusikan.
Dalam hidup, kita selalu dihadapkan dengan pilihan
Hal inilah yang ingin ditegaskan oleh Sannie B Kuncoro dalam bukunya Garis Perempuan. Dan, apakah perempuan bisa menentukan pilihannya sendiri? Walaupun pilihan itu melibatkan sesuatu yang mutlak dimiliki semua perempuan yaitu keperawanan?
Melalui sosok Ranting, Gendhing, Tawangsri dan Zhang Mey, penulis mengantarkan pembaca untuk menemukan jawabannya. Memaknai keperawanan dari sudut pandang yang berbeda. Toh, akhirnya pilihan itu ada di tangan kita, Perempuan.
***
Di akhir halaman, saya berpikir banyak hal mengenai keperawanan. Menjadi perawan apakah suatu pilihan apabila keperawan itu sendiri merupakan suatu komoditas?
Miris mengingat itu. Saat keperawanan menjadi komoditi, perempuan sebenarnya ada di posisi korban atau pelaku? Lingkungan sosial menghujat Perempuan sebagai pelaku padahal mungkin saat itu perempuan adalah korban. Trefiking, pemerkosaan -pemaksaan perenggutan keperawanan- apakah Perempuan memilih untuk mengalaminya?
Ranting, Gendhing, Tawangsri, dang Zhang Mey empat sahabat yang melalui masa hidup mereka dengan lika-liku yang berbeda. Dengan pilihan sendiri, mengartikan arti keperawanan dengan persepsi mereka sendiri. Karena semua wanita adalah perawan…
Awalnya aku baca buku ini sedikit tergugah oleh nasib Ranting, tapi…..entah kenapa setelah membaca Gendhing kemudian Tawangsri dan Zhang Mey aku merasa sedikit bosan.
Banyak sekali kalimat bijak di dalam sini, banyak juga kalimat yang menyentil kehidupan serta gaya hidup orang. Namun menurutku kadarnya itu terlalu banyak. Sehingga yang awalnya terkesan manis malah jadi giung alias nyeri akibat kemanisan :P
Sebenarnya apa sih yang mau diangkat oleh novel ini? Empat wanita yang memilih sendiri bagaimana keperawanannya harus diakhiri? Bahwa bagaimanapun rapuhnya wanita, tetap yang memegang kendali atas dirinya adalah mereka sendiri??
Aku menangkapnya memang seperti itu.
Tapi kisah Ranting dan Gendhing, yang terpaksa memilih melepaskan keperawanan demi harta dan keluarga, membuat permasalahan di sini kurang greget. Walau mereka memilih nasibnya sendiri tanpa paksaan. Untunglah tokoh Gendhing lebih pintar dan mempertahankan apa yang menjadi miliknya.
Dan….. tokoh Tawangsri dan Zhang Mey??? Inikah kebebasan seorang perempuan untuk memilih apa yang menjadi hak mereka?? Inikah??
Di buku ini sering sekali diangkat pertanyaan mengenai jika keperawanan diberikan tanpa status nikah, apakah sang perempuan pemberi keperawanan itu akan dianggap pelacur??? Grrrrrrr
Yang kutangkap di sini bukan itu…. Yang kutangkap di sini bukan isu perawan. Tapi termarjinalkannya perempuan… =.=”
Termarjinalkannya perempuan dengan berpikir bahwa dia bisa melakukan apapun yang ia miliki. Tapi ujung-ujungnya tidak ada yang langsung terang-terangan beresistensi terhadap posisi marjinalnya itu. Yang mereka lakukan adalah justru menjadikan diri mereka jatuh dalam lubang yang secara samar mengelukkan laki-laki.
Kukira awalnya semua perempuan di sini mendobrak Patriarki, tetapi seiring membaca aku malah menganggap bahwa penulisnya sendiri tidak berani menjadikan para tokohnya mendobrak patriarki terlalu lama, sehingga di dalam diri mereka, mereka yang katanya memilih demi kepentingan mereka sendiri tanpa paksaan justru malah mengukuhkan patriarki. Walau secara tidak langsung. Disamarkan oleh kata “memilih sendiri keputusan dalam hidup mereka.”
1 bintang untuk Ranting dan Gendhing yang meresistensikan diri mereka melalui asimilasi dan redefinisi.
1 bintang untuk kalimat indahnya yang menyentil hidup.
1 bintang untuk aku karena sudah berhasil menamatkannya ;D ;D
balik ke Fantasy lagi ahhhhh *Momo yang stress lihat perempuan-perempuan di sini*
Secara garis besar buku ini mengisahkan persahabatan 4 wanita, mulai dari mereka kecil sampai dewasa, atau bisa dibilang sampai saat selaput dara mulai dipertanyakan.
Buku ini dipisahkan menjadi 6 bab besar. - Selasar awal, kisah persahabatan Ranting, Tawangsri, Gendhing, Zhang Mey dimulai. - Kisah 4 sahabat diuraikan dalam babnya masing-masing. - Selasar akhir, nasib akhir keempat sahabat.
Secara keseluruhan saya suka buku ini, Sanie Kuncoro merenda kata sedemikian indah bahkan terkadang cukup melankolis menurut saya. Yang paling saya suka sih kata puncak rasa ini, entah kenapa terdengar indah dibanding dengan orgasm*. Nuansa Jawa dan Cina juga terasa lumayan di sini, karena banyak dialog dalam bahasa Jawa dan Cina, walau kadang terasa mengganggu karena bahasa Jawa yang kadang tercampur dengan bahasa Indo yang cukup baku.
Novel garis perempuan ini bisa dibilang buku feminis, acap kali saya merasa bangga menjadi wanita saat membaca buku ini. Kalimat yang saya suka "Begitulah agaknya. Perempuan dan seksualitasnya bisa menjadi mesin penakluk yang efektif" pas baca koq saja jadi inget Jenifer Dunn yak? hehe.. Banyak lagi kalimat yang indah yang saya dapat saat membaca buku ini. Terlebih lagi saat menyinggung keperawanan.
Keperawanan, imho, sepertinya topik ini yang merupakan inti cerita dari Garis Perempuan. Perawan, masih pentingkah? Adakah harga yang pas untuk sebuah keperawanan? Jika Ranting terpaksa 'menjual' selaput daranya demi uang untuk membantu ibunya, menjadi murahkah harga seorang wanita?
Toh pada akhirnya, setiap perempuan adalah perawan...
Perempuan dengan segala keunikannya memiliki segala sesuatu yang sepertinya tidak habis-habisnya untuk dipelajari dan dibahas. Pujangga-pujangga ternama pun tidak melewatkan sifat wanita dalam karya sastra mereka.
Novel ini bercerita tentang persahabatan empat orang perempuan yang bernama Ranting, Gendhing, Tawangsri, dan Zhang Mey. Mereka bersahabat sejak usia anak-anak. Permainan favorit yang mereka senangi adalah main pasar-pasaran. Mereka berempat melakukan persiapan untuk permainan pasar-pasaran. Antara lain menyiapkan kereweng (dari bekas pecahan genting) untuk dijadikan uang-uangan. Selain itu mereka mengumpulakn bunga-buga sepert bunga kenanga, bunga bougenvil, dan bunga melati sebagai barang dagangan dalam pasar-pasaran mereka. Dalam cerita pada bab awal ini disebutkan bahwa yang berperan menjadi pembeli adalah Ranting dan Gendhing, sedangkan Tawangsri dan Zhang Mey menjadi penjualnya. Namun, akhirnya banyak anak-anak lain yang datang. Ranting dan Gendhing akhirnya mengambil peran sebagai penjual. Dagangan mereka laku keras. Tumpukan kereweng menjadi buktinya.
Disinilah imajinasi anak-anak mengalahkan realitas dunia orang dewasa. Mereka terutama Ranting tidak perlu merasa takut akan tidak ada uang untuk berbelanja. Baginya, kehidupan ia dan mboknya yang pas-pasan tentunya tidak akan dapat leluasa berbelanja di dunia nyata.
Permainan pasar-pasaran mereka baru saja berhenti ketika seorang ibu berteriak mengucapkan "Bancaan..bancaan...kemari." Bancaan ini biasanya dibagikan khusus buat anak kecil, dalam rangka kelahiran bayi, ulang tahun, kehamilan, pernikahan atau acara syukuran lainnya. Namun kali adalah Bancaannya Ajeng, karena ia sudah perawan. Keempat gadis cilik saling melirik, Zhang May bertanya, "Apa artinya menjadi perawan?" Gendhing menjawab, " Mbuh, ora weruh" Ranting dan Tawangsri,"Podo, aku yo ora mudeng"
Selanjutnya adalah untaian cerita dari masa kanak-kanak menuju usia akil baliq yang terjadi pada diri Ranting, Gendhing, Tawangsri, dan Zhang Mey. Ranting tinggal bersama dengan Mboknya yang berjualan karak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Tawangsri tinggal bersama ayahnya yang seorang tukang becak pada keluarga Zhang May dan ibu yang berprofesi sebagai buruh cuci. Tawangsri memiliki ibu yang berprofesi sebagai pedagang kain batik di pasar, sedangkan Zhang May adalah anak dari pengusaha yang menyewakan becak kepada orang.
Dari latar belakang keluarga yang berbeda, mereka tumbuh dalam keluarga masing-masing yang membesarkan mereka. Ranting harus terbiasa membantu ibunya berjualan karak, sementara ibunya sendiri sudah tua dan menderita tumor. Tawangsri yang sering membantu ibunya untuk mencuci untuk mendapat tambahan buat uang sekolah dan kebutuhan sehari-harinya. Tawangsri dan Zhang May lebih beruntung dari kedua temannya, karena orangtua mereka lebih mampu secara ekonomi untuk menyekolahkan mereka hingga perguruan tinggi.
Persoalan yang dialami oleh keempat gadis ini adalah persoalan yang juga dialami oleh gadis-gadis di seluruh negeri ini. kadangkala keinginan yang begitu menggebu-gebu tidak harus berakhir dengan indah seperti cerita negeri dongeng atau cerita pengantar sebelum tidur. Setiap menit setiap jam adalah perjuangan, membuat keputusan di tengah situasi yang sulit adalah tantangan terberat bagi para gadis belia ini.
Bagaimana Ranting harus membiayai biaya operasi tumor ibunya? Bagaimana gendhing memikul utang bapa ibunya? Bagaimana tawangsri menemukan sosok ayah dalam diri Jenggala yang memikatnya pada suatu sore? Bagaimana Zhang Mey harus menentukan siapa pria yang menjadi bagian hidupnya, pillihannya kah atau pilihan orangtuanya?
Mungkin memang kehidupan seperti garis, yang tidak akan pernah kembali lagi. garis akan mulai dari titik satu dan tidak akan pernah kembali lagi. Sanie Kuncoro sangat apik dalam mengemas permasalahan realitas perempuan dalam sebuah novel. Tidak disebutkan di daerah mana novel ini bersetting, namun dari beberapa kosakata bahasa jawa yang sangat banyak di bagian cerita Ranting dan Gendhing, saya berkesimpulan ini bercerita di daerah Jawa Tengah, karena disamping itu saya menemukan ada nama kota Wonosobo disebut. Selain itu, Sanie Kuncoro adalah alumni Universitas Diponegoro, jadi saya semakin kuat berkesimpulan novel ini berkisah di sebuah kota di Jawa Tengah.
Banyak sekali kosa kata Jawa yang ditulis disini, dan bagusnya lagi ada glossarinya di halaman akhir sehingga bagi yang nggak ngerti bisa ngintip dulu.Sanie sangat pintar meramu kata-kata menjadi untaian kalimat yang indah, saya sangat suka dengan pilihan-pilihan kata-katanya.
Tidak salah saya memberi 4 bintang, karena buku ini memanglah bagus.
Pada akhirnya aku mendapatkan buku ini, setelah sempat ‘hilang’ dari peredaran karena laris manis. Udah lama banget pengin baca buku ini setelah baca review teman-teman yang menarik hati. Membaca buku ini menimbulkan garis-garis pemikiran di benakku, akankah membentuk suatu gambar yang indah ?
Sanie, yang menceritakan kisah-kisah dalam buku ini dengan berganti-ganti sudut pandang, mengawalinya dengan selasar, sebuah pendahuluan. Kisah masa kecil empat bersahabat yang sama-sama anak tunggal perempuan di keluarganya. Ranting, Gendhing, Tawangsri, dan Zhangmey, dengan karakter yang berbeda-beda dan latar belakang keluarga yang berbeda pula. Sanie mengulik kisah masa kecil itu dengan sangat jelas, yang membuatku teringat dengan pasaran dan permainan lainnya di masa kecilku.. yang mungkin tak seindah yang kudambakan, namun tetap saja menyimpan kepingan-kepingan yang mengesankan.
Mereka bertumbuh di lingkungan yang berbeda, dan itupun menumbuhkan mereka menjadi pribadi yang semakin kuat dengan karakter yang berbeda-beda. Namun begitu segala perbedaan yang ada tidak menjadikan persahabatan mereka terganggu. Mereka tetap bersahabat dengan bentuk yang berbeda, yang tidak selalu diwakili dengan pertemuan. Pertemuan menjadi suatu hal yang sangat spesial mengingat terpisahnya mereka oleh jarak dan profesi.
Ranting tumbuh menjadi seorang gadis yang kuat, tabah menghadapi segala tantangan beratnya kehidupan, terutama dari segi perekonomian keluarga. Seolah tak cukup derita yang harus dia tanggung, sakitnya sang ibu, mengantarnya pada suatu keputusan untuk menjadi istri ketiga dari seorang pengusaha kaya. Aku begitu terkesan dengan gambaran saat malam pertama Ranting, dihadapkan dengan tarik-menarik dalam hatinya. Kala setagen yang tadinya membebat perutnya dengan sangat kencang hingga menyesak napas, justru saat itu baginya adalah ‘pelindung’ terakhir yang diharapkannya tidak akan terlepas, bagaikan kisah Drupadi yang hendak diperkosa Dursasana. Semua itu dihadapinya tanpa rasa cinta, ya Ranting tak pernah tahu rasanya dicintai dan direngkuh dengan cinta, bukan berahi. Walaupun begitu, Ranting akhirnya memenangkan hatinya, setelah akhirnya memutuskan untuk berusaha lepas dari jerat sang suami yang tidak dicintainya. Dalam kelemahlembutannya, ada kekuatan yang tersembunyi yang memampukannya untuk berontak.
Gendhing bergumul dengan impian masa depannya yang diharapkan lebih baik dari kedua orangtuanya. Masa depan yang kabur itu seolah menjadi kelam setelah sebuah musibah menimpa keluarganya. Dalam bayang rentenir dan kisahnya dengan seorang lelaki yang menemaninya menikmati sekeping senja, Gendhing menghadapi persimpangan jalan. Antara haruskah dia menuruti kata hatinya demi keluarga dengan jalan yang ‘mudah’, atau kata hatinya untuk mencari jalan lain yang lebih ‘sulit’ ? Gendhing adalah seorang yang berani, berani untuk mengatakan tidak demi sebuah nurani. Berani untuk berjuang, betapapun sulitnya jalan yang harus dia jalani, dan sampai kapan pun itu.
Tawangsri, seorang gadis yang haus akan kasih sayang seorang ayah. Kehausan itu telah menghantarnya pada peliknya perasaan yang dimilikinya terhadap sosok ‘ayah’ yang dia dambakan sejak kecil. Menarik membaca bagian tarik ulur perasaannya untuk mendekat pada sosok itu atau menjauh, rasa yang mungkin pernah dirasakan semua orang pada awal masa jatuh cinta, antara ya untuk terus maju, atau tidak untuk berhenti dan mundur. Langkah yang Tawangsri ambil ternyata tidaklah semudah jalan cinta orang lain. Ada sebuah tembok penghalang dari masa lalu, yang tiada akan pernah dapat diruntuhkan, karena tembok itu ada dalam pikiran. Tawangsri, adalah pribadi yang tahu apa yang dia inginkan, namun begitu mengalah pada sebuah kenangan yang tiada akan pernah dapat tercerabut. Dahulu aku pernah berangan, andai saja tiap orang tidak mengembangkan rasa pada lawan jenis yang sedang/pernah dilanda cinta pada orang lain, maka tidak akan ada rasa sakit selanjutnya. Itu yang pernah menjadi prinsipku untuk sekian tahun, hingga akhirnya kulanggar, dan akhirnya sakit sekali.
Zhangmey, satu-satunya keturunan Tionghoa di antara 4 bersahabat, merasa akrab dengan budaya dan kehidupan Jawa yang ada di sekitarnya, sehingga dia lebih suka menjalani dan menikmati hal-hal yang berbau Jawa daripada yang dari keturunan nenek moyangnya. Zhangmey bergumul dengan kisah cinta beda suku bangsa, yang bukan hanya menyangkut 2 jiwa, namun juga kebanggaan dan harapan keluarga. Kisah ini belum sampai pada titiknya, namun sebuah koma yang perlu dilanjutkan hingga akhirnya. Zhangmey dipilihkan jalan yang tidak mudah, tidak juga berarti tertutup. Masih ada asa, walau bagai secercah cahaya yang menghimpit dalam kegelapan. Zhangmey, sosok yang berani mencinta dan berani untuk mempertahankannya, walau entah sampai kapan.
Keempat kisah ini berdiri sendiri-sendiri, namun kembali terangkai dalam selasar akhir yang menyatukan keempat sahabat itu untuk kemudian memisahkan mereka kembali. Lokasi penceritaan, nampaknya di seputar Solo, dengan petun juk Pasar Klewer. Meski dari segi situasi penceritaan, nampaknya pantas juga untuk diceritakan dari Yogyakarta. Aku membayangkan sudut-sudut Yogya yang mana yang pantas untuk masing-masing kisah ini. Yang kurang jelas adalah periode waktunya… apakah ini menggambarkan situasi di masa kini ataukah beberapa tahun silam ? Mencuplik dari gambaran-gambaran Sanie, kisah ini relatif ‘baru’ dengan perkembangan kabar perekonomian, dan lain sebagainya. Hanya saja, menurutku cerita ini rasanya lebih pas di ambang tahun 90an, karena latar belakang ceritanya. Sanie membahasakan bagian-bagian tertentu dari pembicaraan para sahabat dengan berbagai istilah keilmuan, yang kadang kurasa agak ‘tinggi’, namun tetap saja mendapatkan alasan yang kuat, karena pembicaraan itu dilakukan antara para sahabat yang memang pandai, bahkan 2 di antaranya kuliah.
Isu penting dalam buku ini adalah tentang keperawanan. Bahwa ternyata keperawanan itu bisa menjadi suatu keiistimewaan, maupun suatu ‘senjata pamungkas’ yang dapat mempunyai nilai tawar. Tak dapat dipungkiri, sebuah selaput yang sering dianggap sama dengan keperawanan itu ternyata menjadi komoditas, yang ditawarkan oleh yang empunya, maupun yang dicari oleh peminatnya. Bagiku, keperawanan bukanlah sekedar sebuah selaput, keperawanan itu terutama ada pada hatinya. Bagaimana tidak ? Mungkin saja banyak wanita yang ‘kehilangan’ selaput daranya tanpa keinginannya, karena kecelakaan, olahraga yang terlalu keras, atau perbuatan orang-orang yang cacat moral ? Apabila itu terjadi pada mereka tanpa mereka kehendaki, apakah berarti mereka kehilangan keperawanan ? Bagiku tidak. Mereka kehilangan bagian dari tubuhnya, iya. Tapi perempuan sesungguhnya kehilangan keperawanannya pada saat ia menyerahkan segenap hati dan tubuhnya pada seorang lelaki yang dia cintai, bukan sebagai pemuasan berahi, namun sebagai luapan rasa cinta. Tilik kasus yang dihadapi oleh Ranting. Menurutku Ranting memang diperkosa oleh suaminya, karena Ranting sama sekali tidak menghendaki apa yang terjadi padanya, namun ia tak kuasa melawannya. Pada saat itu Ranting kehilangan sebagian dari tubuhnya, namun dari satu sisi, dia tetaplah perawan. Ini memang pandangan pribadiku, sebuah refleksi dari sebenarnya apakah yang disebut keperawanan itu ? Tentu saja, sebuah selaput itu tetap harus dijaga, namun bukan untuk sebutan ‘keperawanan’, melainkan untuk hal-hal yang lebih penting dari itu. Kita punya batasan moral dan batasan menurut ajaran agama masing-masing, dan sesungguhnya itu jauh lebih layak dijadikan alasan untuk menjaga bagian istimewa dari perempuan itu, sehingga tidak dijadikan komoditas. Aku tertarik menyoroti mengapa seringkali masalah ‘keperawanan’ lebih disorot daripada ‘keperjakaan’ ? Terdapat ketidakseimbangan di sini, yang seharusnya standar yang diterapkan masing-masing orang adalah sama, bukan standar ganda. Mencoba melihat dari porsi yang berimbang saja. Apakah hanya perempuan yang pantas untuk diukurkan standar itu, tapi tidak untuk lelaki ?
Hmm.. buku ini memang menggariskan banyak pemikiran di benakku.. :)
kalau sudah terlalu banyak review yang dibaca, musti make kacamata kuda pas baca buku nya biar ga terkontaminasi membangun karakter di imjainasi sendiri.. udah selesai baca, eeeh malah bingung mo nulis apa..
bintang empat untuk ide cerita, minus satu untuk banyaknya halaman-halaman yang dilewatin gara-gara bosen..
kata mba indri mood baca aku yang lagi ga bagus.. hmm...bisa jadi bukan itu, mba.. mungkin karena expectasi yang berlebih, tapi nyatanya terlalu banyak analogi yang kepanjangan.. kayak waktu ngegambarin perasaan Ranting saat melihat dirinya di cermin di hari pernikahannya...panjaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang banget padahal bisa dengan satu atau dua kalimat sudah cukup..bisa jadi malah lebih indah..
sperti kata mas jimmy juga disini (kutip yaaa, Mas..) http://www.goodreads.com/review/show/... "buku ini lebih banyak bercerita tentang perempuan dan hak-nya untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Dan, keperawanan hanya sebagai simbol untuk menggambarkannnya" saya suka banget kalimat ini..rasa nya pas buat ngegambarin buku ini..
cuma ada satu yang hilang di buku itu... menjaga keperawanan lebih banyak dikontradiktifkan dengan budaya dan norma sosial.. bagaimana dengan Agama?
Sebegitu pentingnyakah arti sebuah keperawanan? Hingga seakan-akan nilai dari seorang perempuan hanya bisa dilihat dari ada atau tidaknya hymen - Sebuah selaput tipis yang sangat rapuh dan mudah koyak, bahkan secara tak sengaja- .
Perawan dan keperawanan, adalah issue sentral yang dibahas dalam buku ini. perempuan dengan problematikanya. Perempuan dengan takdir dan kodratnya. Serta nilai dan budaya yang menyertainya. Buat seorang perempuan, menjadi akil baliq adalah sebuah awal dari perubahan dirinya dari seorang anak-anak menjadi seorang perawan. Seperti bunga yang mulai berbunga mekar dan siap untuk dipanen dan dipetik ataupun sekedar dihisap sarinya oleh lebah-lebah yang berkeliaran. Budaya masyarakat- terutama budaya timur yang patriakat- menempatkan seorang perempuan pada sebuah kewajiban untuk menjaga dirinya – terutama keperawanannya- agar dapat dipersembahkan utuh bagi pria yang jadi suaminya kelak. Sementara, di lain sisi kaum pria tidak pernah diwajibkan untuk tetap menjadi seorang perjaka saat ia menikahi istrinya. Pria boleh bermain-main sebelum atau bahkan setelah menikah, sementara perempuan tidak.
Ketika terjadi sebuah “kecelakaan” dan kehamilan di luar nikah umumnya masyarakat langsung memberikan cap dan stigma negative pada diri sang perempuan, tetapi tidak pada diri lelakinya. Yang lebih parah, masyarakat juga terkadang tidak peduli bahwa sebenarnya perempuan disini juga adalah korban. Termasuk juga untuk kasus perkosaan, lagi-lagi perempuanlah yang disudutkan. Sepertinya kalau bicara soal ketidakadilan, tak akan habis masalahnya. Walaupun katanya zaman sudah modern, walaupun katanya sudah terjadi kesetaraan, tetapi tetap saja masyarakat, dan bahkan kaum perempuannya sendiri belum dapat melepaskan diri dari pandangan itu.
Sebelum review ini menjadi melenceng terlalu jauh, kita kembali ke topik awal. Novel ini berkisah tentang empat orang sahabat - Ranting, Gendhing, Tawangsri dan Zhang Mey-. Dengan empat takdir dan jalan hidup yang berbeda. Ketika suatu saat masing-masing dari mereka dihadapkan pada beberapa pilihan terkait tentang takdir mereka sebagai seorang perempuan. Apakah pilihan yang akan mereka ambil?
Ranting yang berasal dari keluarga miskin dengan ibu penjual karak, dihadapkan pada sebuah dilemma apakah ia akan “menjual’ dirinya dgn menjadi istri ketiga tuan tanah Basudewo demi biaya pengobatan simboknya. Gendhing yang kebingungan ketika keluarganya terjerat hutang. Dan pada saat yang sama ada seorang pria paruh baya kaya raya yang menawarkan padanya jalan keluar dari semua masalahnya hanya dengan cara memberikan dirinya hanya untuk datu malam saja. Tawangsri yang kesepian dan kehilangan figure seorang ayah. Dan suatu ketika seperti menemukannya pada figure seorang Jenggala – duda beranak satu yang dicintai dan mencintainya. Dan dia bisa bebas untuk memilih apakah akan menjadikan pria itu sebagai “yang pertama” atau tidak. Serta Zhang Mey yang dihadapkan pada tembok tebal tradisi keluarganya yang keturunan Cina. Ketika sebuah tradisi menaruh darah perawan pertamanya di sapu tangan putih di malam pertamanya dengan pria yang telah dipilihkan keluarganya untuk menjadi suaminya adalah sesuatu yang bersifat mutlak dan tak bisa dibantah.
Empat orang perempuan, empat jalan hidup dan takdir dan empat keputusan. Membuatku tersadar kalau terkadang kita tak bisa lari dari takdir. Tetapi hidup adalah sebuah pilihan. Dan jalan hidup yang terbentuk adalah akibat dari pilihan-pilihan yang telah kita buat sebelumnya. Apa yang baik buat satu orang, belum tentu baik buat orang yang lainnya. Begitupun sebaliknya. Dan di hampir setiap episode dalam kehidupan kita, selalu ada pilihan. Sama seperti ketika kita sampai di sebuah persimpangan, kita bisa memilih belok kanan, kiri, mundur dan balik arah ke belakang atau bahkan memutuskan untuk tinggal dan diam. Ranting, Gendhing, Tawangsri dan Zhang Mey adalah contoh dari sebegitu banyaknya perempuan yang dihadapkan pada pilihan dalam hidup, dan kali ini terkait dengan masalah keperawanan.
Terlepas dari nilai, budaya ataupun dogma. setiap perempuan dewasa bebas menentukan nasib dan jalan hidupnya sendiri. Yang tentunya dengan resiko dan konsekuensinya, termasuk “beban dosa” – kalau dosa dan pahala itu benar-benar ada -. Karena setiap orang berhak untuk memilih dan menentukan hidupnya sendiri. Selama tidak mengganggu hak dan kepentingan orang lain.
Sebuah buku yang menarik, dan terkadang membuatku terbawa emosi (baca: nyolot) saat menyadari ketakbedayaan kaum perempuan untuk berontak terhadap budaya dan takdir. Yang paling bikin keki adalah di bagian Tawangsri. Sampai sekarang masih juga geregetan dengan endingnya. Kenapa harus begitu?? Memangnya tidak bisa berakhir dengan.. *****(spoiler) :D . yach, tetapi namanya juga cerita. Penulis punya hak perogatif untuk menentukan jalan ceritanya, termasuk endingnya. Pun memang dalam kehidupan nyata, semua tidak selalu berakhir sempurna.
Membaca buku Garis Perempuan (Empat Wanita, Empat Jalan Hidup) Novel oleh Sanie B. Kuncoro Penyunting Imam Risdiyanto Penerbit Bentang Jogya Januari 2010 370 halaman
Pertama,saya ingin menyoroti keistimewaan buku ini, yaitu ditulis dengan tata bahasa yang apik, menuruti bahasa Indonesia yang baik dan benar, menguraikan cerita secara ringan dan jelas, dan diedit dengan baik (meski Endah Sulwesi mencatat satu dua koreksi). Saya sungguh menghargai usaha Sanie dalam merawat bahasa. Meski kemudian, cara ini menusuk ke sisi lain, seperti pisau bermata dua, bahwa bahasa yang teratur, dalam beberapa hal, menjadi tidak logis bila diterapkan dalam percakapan. Kita terbiasa memotong prefiks me- untuk kata kerja, lebih sering mengganti sufiks -in yang belum dicatat di KBBI, untuk menggantikan –kan. Bagi masyarakat Indonesia timur berbahasa seperti ini dalam percakapan dan tulisan merupakan keterampilan yang umum.
Kedua, kalaulah buku ini berjenis kelamin, maka dia adalah perempuan. Bukan karena judulnya ada kata perempuan. Tapi ditulis secara perempuan berikut ritme hormonal tubuhnya. Bisa saja jenis kelamin lain sanggup menulis tema ini, tapi mungkin tidak seintim ini mengungkap keperempuanan perempuan, memahami tidak masuk akalnya perempuan bisa berubah dalam hitungan detik. Jadi, buku ini mengetengah soal perempuan, oleh perempuan dan berperspektif perempuan.
Gaya Sanie menulis mengingatkan saya pada cara Mas Kurnia Effendy, dengan kekuatan kalimat yang lembut-mendayu dan indah, sampai-sampai khawatir retak bila dikomentari. Sebelum menulis novel pertama ini saya kira Sanie lebih banyak menulis cerpen yang jauh lebih pendek, novelet atau cerita bersambung yang agak lebih panjang. Dan penulis nggak mati gaya. Malah seperti inilah saatnya bagi Sanie untuk menunjukkan dirinya elama ini, menulis lebih leluasa dalam ruang yang lebih luas, yang bisa menampung seluruh renungan pribadinya yang tenang tentang apa dan bagaimana perempuan. Juga penulis bisa panjang lebar menunjukkan penerimaan secara terbuka atas pengalaman perempuan-perempuan lain, dalam hal ini perempuan Jawa dan Cina, yang ada di sekitar hidup penulis.
Nama tokoh-tokoh antik dan artistik. Ranting, Gendhing, Tawangsri, Chang Mey. Lalu Basudewo, Jenggala, Tenggar. (Nemu di mana, San?). Sebagai pembuat karakter tersebut, penulis menghargai setiap tokohnya, sedikit membebaskan, ditimbang-timbang, tapi tetap dikontrol sehingga tidak sampai kebablasan. Semuanya diatur untuk mencapai keinginan penulis, meski novel ditutup secara terbuka, sehingga pembaca bebas meneruskan apa saja nasib para tokoh tersebut.
Berkisah persahabatan empat perempuan. Tiga Jawa, satu Cina. Cerita dibuka dengan cerita masa kecil, bermain masak-masakan. Sanie tidak kekurangan nama tumbuhan berikut fungsi-fungsi dalam permainan, jadi kepingin kembali jadi anak kecil. Bagian ini ditulis dengan ceria dan permai, sambil mulai memperkenalkan karakter masing-masing tokoh, yang ditandai dengan tindakan dan cara mereka merespons, yang kemudian akan dipakai oleh penulis dalam membangun tokoh di masa dewasa.
Lalu gadis-gadis cilik itu berkenalan dengan istilah perawan, dalam satu peristiwa satu teman perempuan mereka dibancaki, yaitu tradisi merayakan menstruasi pertama seorang gadis dalam masyarakat Jawa. Keempat gadis pintar itu kemudian berpikir mereka pun akan mengalami hal sama, akan dibancaki, karena mereka pun perempuan. Dan Sanie mulai mengolah cerita ini berbeda pada setiap gadis, sesuai dengan keadaan keluarga dan budaya masing-masing. Mereka mulai diajak untuk mengerti perbedaan di atas kesamaan mereka sebagai perempuan, mulai memahami adanya masalah ekonomi dan tradisi dalam keluarga masing-masing.
Setelah itu cerita dibagi dalam empat bagian tokoh. Cerita berkembang sendiri-sendiri, dan keempat perempuan menemui nasibnya masing-masing. Tidak diceritakan kapan mereka terpisah, sejak SMP atau SMA, masih tinggal di kota yang sama atau sesekali ngopi bareng. Mereka menempuh cara hidup yang berbeda dan dibiarkan mengurus urusan sendiri dengan keluarga masing-masing. Meski pada momen-momen penting tiba-tiba mereka dikumpulkan kembali, saling bertukar pandangan, saling mendukung dan menunjukkan rasa saying. Bagian yang saya sukai. Penulis membiarkan keempat sahabat saling membuka diri tapi tidak masuk dalam wilayah personal, seolah setiap orang dibiarkan memutuskan nasibnya sendiri, dan yang lain mendukung betapa pun buruk hasilnya nanti. Penulis memberi nilai persahabatan yang tulus di sini.
Pada masing-masing cerita, Sanie memberi kesempatan seluasnya kepada para tokoh untuk menjelaskan ketika keputusan-keputusan penting meski diambil. Misalnya ketika Ranting memutuskan menjadi pelacur bagi suaminya (saya jatuh cinta pada tokoh Basudewo, lo, San! ), Gendhing yang tiba-tiba menemukan harga dirinya di tengah pergumulan dengan kekasih diam-diamnya, Tawangsri yang menerima takdirnya mencintai duda Jenggala, atau Zhang Mey yang tidak dibiarkan membantah kepada orang tua karena percaya cintanya yang abadi kepada Tenggar.
Kengganan penulis menabrakkan keempat tokoh menjadi satu kejadian, cukup dipahami. Bisa dua alasan menurut saya. Penulis tidak terbiasa atau belum mau melibatkan diri dalam kerumitan konflik berlapis. Tapi ia menggantikannya dengan kekayaan bahasa lokal (Jawa) dan kebiasaan etnis Cina, pengetahuan yang menarik tentang makanan rakyat, dan hal-hal lain yang tak terduga dia selipkan di sudut-sudut tulisan. Novel populer yang ringan dan menarik ini akan menjadi bacaan menyenangkan sore hari, meski tanpa teh manis hangat dan pisang goreng sekali pun.
Perempuan. Bagaimana memaparkan makhluk itu? Spesies yang selalu menggetarkan untuk dijelajahi, tetapi sudahnya menelantarkan penjelajahannya pada zona antah berantah. Menyesatkan dalam lorong-lorong labirin tak berkesudahan - JENGGALA.
Tak banyak buku yang 'mengupas' keperawanan, ya, keperawanan, perempuan... dan kelelakian. Buku GARIS PEREMPUAN karya Sanie B. Kuncoro ini salah satunya.
Buku ini justru jauh dari vulgaritas, subjektivitas pribadi, instead i feel like being put on operation table ready to be cut open... The same typical question which I asked my Mom when I first had my period, "Why has it to b like this?"
RANTING. Membuka selasar kisah dengan 'persetubuhan keseratus'nya. Puncak rasa yang (beyond her will) dialami setelah merasa 'diperkosa' oleh laki-laki yang telah sah secara hukum 'owned' her - ia dibeli seharga 25juta or so what she thinks. Dan transaksi itu akan segera berakhir setelah persetubuhan keseratus.
I remember people always say that it's better to be loved, since women can easily fall in love. Is that wat the writer is trying to describe? Karena batasan antara benci dan cinta itu samar, then wat's love to consider?
GENDHING. Lain lagi dengan Gendhing yang mengukuhkan Freedom to choose. Perempuan dalam banyak hal di buku ini disandingkan dengan kemiskinan. Terpojokkan dengan ketidakmampuan, kendati diberkati oleh otak yang cerdas. Untungnya Tuhan tidak diikutsertakan dalam pergumulan ini...
Ia memilih untuk 'bebas memilih'. Stand on wat she thinks is RIGHT.
TAWANGSARI. Mengingatkan pada diriku sendiri. Ketika pedih itu membuatku menyelesaikan proyek membangun dinding atas kelelakian. Kelelakian dengan so called their power, mengecewakan relung-relung bidukku.
Ketika memutuskan untuk mencari serpihan yang tersisa, that NOT ALL MEN ARE LIKE THAT.. and even when love is hard, i wanna stay and get to know the answer. It's not for him. It's for my own self.
Zhang Mey. Keturunan Indo-Chinese yang mencoba menyuarakan hatinya. Cinta kepada seorang pribumi yang tidak dipandang sederajat dengannya. Pergumulannya dengan makna keperawanan dan Tenggar.
Ironis ketika dalam mimpinya ia seakan telah 'dipersunting' dan melepaskan pertahanan itu. Dan semua itu mimpi.
at almost coming to an end, ko figur kelelakian di sini seakan menjadi centre of virginity. Dari Ranting adalah sosok Basudewo, sementara Gendhing dengan sang Ayah yang 'terpaksa' menjelaskan arti keperawanan. Lalu Tawangsari dengan kealpaan sang Ayah yg menjadikannya missing in patron. Kemudian Zhang Mey yg terjebak kultus ke-cina-an yg dibawa si Kepala Rumah Tangga - menjadikan ia 'beda'.
Dalam buku ini si perawan bergumul dengan hidup, cinta, kehampaan dan amarah... lucunya tak jauh dari kelelakian.
Penulis seakan mencoba mengkritisi culture patriarki dg menyajikan keempat karakter ini yg berperan dalam freedom to live dan freedom to choose
Karena setiap PEREMPUAN itu perawan maka kami juga pantas memilih.
Sebenarnya sudah cukup lama aku memimpikan untuk membaca buku ini. Niat untuk beli, tapi kok lebih niat untuk minjam ya.. Hehe, karena awalnya Bang Helvry mau minjamin tapi kok malah ga jadi. Gimana si Bang Helvry… Tapi akhirnya berhasil juga untuk dapat pinjaman.
Garis Perempuan merupakan novel yang aku baca selama di rumah sakit. Lumayan bisa menghilangkan rasa jenuh dan bosan karena hanya tidur-tiduran saja di rumah sakit. Terima kasih Mbak Sanie untuk bukunya karena sudah memberikan penghiburan kepada saya melalui buku ini. Oke, akan menceritakan sedikit tentang buku ini. Buku ini menjadi buku yang berhasil membuatku menangis atas kisah Ranting sebagai istri ketiga. Sosok yang akhirnya menemukan cinta setelah 1 tahun menahan diri sebagai istri ketiga namun akhirnya jatuh cinta sendiri dengan suaminya.
Perkataan Ranting yang menyentuh hati adalah di halaman 124 “Ranting tidak pernah tahu rasanya dicintai dan bagaimana menginginkan seorang laki-laki. Baginya tidak pernah diketahuinya bagaimana memaknai pendar-pendar berahi yang bergerak di dalam hati. Baginyasemua itu serupa lelatu, bunga api yang memercik dari unggun, memercik sesaat lalu padam dan menghilang diterbangkan angin. Namun sekarang ditemukan kembali kehangatan itu. Rengkuh lengan Basudewo berupa balutan selimut baginya. Pagutan lelaki itu serupa kepak sayap pertama pada kupu-kupu yang baru saja terlepas dari kepompong. Sayapa yang tidak pernah dimilikinya sebelum ini. Sayang yang melayang pada imajinasi terjauh”.
Ini merupakan puncak dari bagaimana sebenarnya Ranting itu selama ini. Seorang wanita seperti Ranting tidak memahami bagaimana cinta datang dan bagaimana cinta itu berkembang. Dia hanya menyadari bahwa ternyata cinta itu sudah ada dan langsung masuk ke dalam kehidupannya. Cerita Ranting menjadi cerita yang paling menarik perhatianku, dan sedikit kecewa kenapa cerita ini harus ditempatkan di awal, karena aku sudah merasakan klimaks dari buku ini di awal. Seharusnya ditempatkan di tengah saja kali ya. Cerita Gendhing, Tawangsri dan Zhang Mei menarik tapi enatah mengapa aku lebih tertarik dengan Ranting. Karena penggambaran wanita pada umumnya ada di dalam ranting pada umumnya.
Cerita keempat wanita ini semuanya menceritakan bagaimana mereka mengetahui cinta dari sosok pria. Bagaimana ternyata pria menjadi pengaruh yang besar dalam kehidupan mereka. Sampai kisah Gendhing yang harus bertarung dengan keperawanan dan akhirnya dia bisa menjadi wanita merdeka karena berhasil memenangkan pertarungan batinnya. Walaupun kalau kita bisa jujur, hanya sedikit wanita yang bisa berhasil untuk melewati peluang berharga itu. Siapa yang akan mau untuk bersusah payah menjadi buruh tanpa digaji untuk melunasi hutang sedangkan ada cara yang lebih enak dan menggiurkan.
Tapi ternyata Gendhing melewati itu semua. Kisah Twangsri dan Zhang Mei menjadi kisah yang lebih pendek dibandingkan dengan 2 kisah wanita sebelumnya, namun menjadi cerita yang apik dan menyenangkan.;
Ranting, Tawangsri, Gendhing, dan Zhang Mey tumbuh bersama sejak belia. Mereka menjalani takdir sebagai perempuan dan menemukan bahwa hidup tak selalu terkonfigurasi serupa dongeng masa lalu para peri. Kebun kehidupan pun acapkali melalui kemarau panjang yang harus dijalani. Mereka tak mampu mengelak dari kepatuhan terhadap partitur perkawinan, walaupun yang teralun adalah selarik nada pahit. Beranikah mereka menentukan pilihan? Sanggupkah mereka ingkar dari kisah berurai airmata dan menjadikan perjalanan hidup sebuah pengembaraan menakjubkan?
Opini:
Dari segi bahasa, sangat puitis, kalau dari dua poin sebuah karya yang pernah diulas oleh Warren n Wellek: dulce dan utile, buku ini lebih berat ke arah utile dan sepertinya memang ditujukan untuk kalangan pembaca yang sudah ahli (bahkan saya sendiri tidak berani menempatkan diri di ukuran pembaca yang ahli, ketika membaca novel ini). Membutuhkan kecermatan dan kesabaran yang luar biasa tinggi ketika membelah dan menelaah kalimat per kalimat indah yang diuraikan oleh pengarang saat dia menjabarkan kehidupan perempuan, yang tidak pernah lepas dari objektifikasi lelaki. Pada lembaran-lembaran pertama saya menikmati kisah pertama sosok Ranting, kemudian Gendhing, tapi ketika tiba giliran kisah Tawangsri dan Zhang Mey, saya belum mampu menelisik lebih jauh kisah mereka. Tapi bukan berarti buku ini buruk. Hanya saja kesabaran saya sedang tidak penuh saat itu.
Scoop!
Kisah pertama menceritakan kehidupan Ranting, seorang anak penjual karak yang mewarisi pekerjaan ibunya serta kehidupan miskin, sembari menanggung tidak hanya kehidupan mereka berdua, tapi juga penyakit kanker ibunya yang semakin parah. Tak ada jalan keluar bagi seorang Ranting kala itu, kecuali sosok Basudewo. Apakah ini garis yang ditorehkan Ranting sendiri, atau memang jalan seorang perempuan?
Kedua mengenai Gendhing, yang dikatakan ibunya memiliki tulang yang berbeda dengan mereka, bahwa Gendhing istimewa dan tidak ditakdirkan untuk miskin seperti mereka. Sehingga harapan tinggi ditautkan ibunya pada sosok Gendhing yang memang cerdas dan cantik. Tapi butuh lebih dari cerdas dan cantik untuk memperoleh segalanya di dunia ini, satu hal yang tidak dipunyai oleh sosok ibu Gendhing: kesabaran. Sehingga mereka terjebak di jurang kemiskinan yang tak terkira dalamnya.
Kisah ketiga tentang kehidupan Tawangsri. Seorang perempuan dengan karakter lebih tegas dari teman-temannya yang lain, bahkan diberi julukan seorang perempuan yang tidak memiliki kesulitan saat menentukan segala sesuatu dalam hidupnya. Hingga dia menemukan sosok Jenggala yang mewakili keinginan tersembunyi. Sebuah celah yang tidak ingin ditunjukkan Tawangsri pada siapapun.
Kisah keempat, dan yang terakhir, menguraikan sosok Zhang Mey yang dibesarkan di dalam dua dunia. Chungkuoren dan iniren. Yang dengan segera membelah kehidupan Zhang Mey dan memisahkannya dengan sosok ibunya. Terutama ketika akhirnya hati Zhang Mey berkhianat dan mengingkari takdir yang sudah ditentukan oleh keluarganya.
Last Words…
Kuncoro, yang sudah beberapa kali memenangkan perlombaan di tabloid, memang mampu meramu dan menyelipkan beberapa fenomena tentang perempuan dengan kata-kata indahnya.
Sudah cukup lama ingin baca buku ini, karna masih ragu. Ternyata setelah membacanya, saya pun tak ragu memberikan bintang lima :). Saya merasa menemukan semua yang saya cari di Garis Perempuan. Sisi problematika hidup perempuan, sosial, tradisi dan budaya, pluralisme, persahabatan, kekeluargaan, pesan moral, diksi indah serta cara penyampaian yang cerdas. Garis Perempuan menggambarkan cerita empat perempuan yang bersahabat dalam menjalani kodrat mereka sebagai perempuan dewasa. Ranting, Gendhing, Tawangsri dan Zhang Mey akhirnya menemukan apa arti keperawanan bagi hidup mereka masing-masing setelah melalui berbagai hal. Dari plot yang 'sederhana', penulis dapat menjadikan sebuah kisah yang luar biasa. Banyak perenungan dan cara berpikir para perempuan yang ditawarkan Sanie B Kuncoro. Secara pribadi buku ini sungguh menyentuh saya. Terutama dengan karakter Ranting dan Gendhing.
hmm.. menyisakan sedikit tanya di hati, terutama tentang bagaimana garis Tawangsari dan Zhang Mey selanjutnya...
dan mengapa garis perempuan harus selalu terkait dengan laki-laki, hiks.
*Mereka tak berdaya mengelak dari kepatuhan terhadap partitur perkawinan, walaupun yang teralun adalah selarik nada pahit. *
Benarkah garis perempuan harus selalu begitu....? tak dapatkah menentukan nasibnya sendiri...?
ya ya ya.. terlepas dari itu semua.. Sanie cukup berhasil bercerita secara mendetail, terutama di kisah kanak2 ke-4 perempuan tsb. Sedikit banyak saya dapat membayangkan masa kanak2, dimana saya dulu juga suka main pasaran, tapi istilahnya bukan pasaran seingatku siih... masak2an apa ya.. terus sekolah2an... hehehheh
Kisah persahabatan empat orang perempuan, persahabatan sejak masih anak-anak sampai menjadi perempuan dewasa. Keperawanan menjadi issu utama buku ini. Kesan saya kok buku ini semacam paling tau tentang perempuan ya, mungkin risetnya mendalam...terlalu berusaha melankolis dan kalimat yang digunakan dalam obrolan sehari-hari rasanya terlihat canggung karena ngga umum orang ngobrol begitu puitis.Atau saya aja yang ngga gitu ya...hehehe
Perempuan. Makhluk yang konon diciptakan dari seruas tulang rusuk pria ini memang selalu menarik untuk dibincang, ditulis, dibahas, ditelanjangi (pakai tanda petik, ya). Dan mungkin yang paling tepat melakukannya adalah perempuan itu sendiri. Apalagi jika menyangkut hal-hal yang hanya dimiliki dan dialami oleh perempuan. Misalnya, keperawanan. Siapa yang lebih paham tentang “rahasia besar” ini kecuali para perempuan?
Apakah hari ini isu keperawanan masih memiliki arti penting? Bisa jadi ya, setidaknya dalam novel perdana Sanie B Kuncoro ini. Novel dengan seting sebuah daerah di Jawa Tengah ini, bertutur ihwal empat orang gadis dalam memandang dan menyikapi makna keperawanan. Bagi Ranting, Gendhing, Tawangsri, dan Zhang Mey, keperawanan bisa menjadi sebuah anugerah atau justru malapetaka.
Siapakah sebenarnya yang paling berhak dan berkepentingan dengan keperawanan seorang perempuan? Mestinya, perempuan itu sendiri sebagai pemilik yang sah. Namun, pada kenyataannya, sering kali seorang atau banyak perempuan terpaksa harus kehilangan miliknya yang (mungkin) paling berharga itu demi sesuatu yang sesungguhnya tidak dia inginkan. Umpamanya, yang dialami Ranting.
Gadis miskin ini menghadapi dilema. Ia harus melunasi utang puluhan juta untuk biaya operasi ibunya. Ranting, karena kemiskinannya, tak punya banyak pilihan. Jika hanya mengandalkan hasil jualan karak (semacam kerupuk yang terbuat dari beras), seumur hidupnya pun utang itu tak akan pernah terbayar. Tetapi, dia juga tidak mungkin membiarkan ibunya dalam penderitaan terus menerus. Sementara itu, ada seorang lelaki yang menawarkan jalan keluar: bersedia membayarkan utangnya asalkan Ranting mau dijadikan istri ketiga. Sungguh pilihan yang sulit.
Tak jauh dari Ranting, ada seorang gadis lain yang mengalami nasib nyaris serupa. Gadis itu, Gendhing, berada pada kondisi sosial ekonomi yang hanya sedikit saja di atas Ranting. Berkat kerja keras orang tuanya–ayahnya tukang becak dan ibunya kuli cuci pakaian–Gendhing agak lebih beruntung ketimbang Ranting karena bisa menyelesaikan SMA-nya sehingga ia bisa bekerja di salon milik majikan ibunya sambil terus mencari peluang kerja yang lebih baik.
Celakanya, sebelum sempat mewujudkan cita-cita, Gendhing terbentur sebuah masalah. Seperti Ranting, ia pun terpaksa pasang badan untuk menyelamatkan orang tuanya dari belitan utang. Lagi-lagi, solusi yang disodorkan pada seorang perempuan yang terjepit adalah sebuah barter pelunasan utang dengan penyerahan dirinya, entah sebagai istri kesekian atau sekadar “simpanan”.
Dalam kasus Ranting dan Gendhing, akar masalahnya adalah kemiskinan. Kedua gadis ini sadar betul tubuh perawan mereka memiliki nilai jual yang tinggi. Pada para lelaki yang terobsesi tidur dengan para perawan, Ranting dan Gendhing menemukan pembeli yang bersedia membayar mahal. Terjadilah sebuah transaksi dan saat itu keperawanan hanyalah sebuah komoditi.
Lain halnya dengan Tawangsri dan Zhang Mey. Kedua wanita ini barangkali jauh lebih beruntung daripada dua sahabat mereka. Sri dan Zhang (mengapa bukan Mey?) tidak mesti bergulat dengan kemiskinan. Orang tua mereka berada pada level sosial ekonomi menengah atas. Sementara Ranting dan Gendhing harus bermandi keringat mengais rezeki, Sri dan Zhang menikmati dunia kampus tanpa harus memikirkan biayanya. Bagi Sri dan Zhang, tersedia lebih banyak pilihan, termasuk menentukan kepada siapa tubuh perawan mereka akan dipersembahkan. Mungkin untuk kekasih sebagai bukti cinta atau kepada suami di malam pengantin.
Pilihan Sanie pada tema “perawan” ini, mungkin berdasarkan pengamatannya terhadap sekitar. Penulis yang berumah di Solo ini, barangkali menemukan fakta bahwa keperawanan masih merupakan sesuatu yang dianggap penting. Baik oleh perempuan atau pun (lebih-lebih) lelaki, khususnya pada masyarakat Timur. Di novelnya ini, Sanie mengambil latar budaya Jawa dan Cina, dua kultur yang sangat karib dengannya. Sebagi seorang peranakan Cina yang lahir dan besar di Solo, Sanie tentu sangat memahami persoalan-persoalan yang ia tampilkan, baik kultural maupun sosial ekonominya.
Dengan gaya menulisnya yang khas–romantis melankolis, sehingga kadang terkesan berlarat-larat dengan kalimat–Sanie mengurai kisahnya menjadi empat bagian inti yang masing-masing menceritakan keempat tokoh utamanya. Pembagian ini memudahkan pembaca mengikuti alur novel yang linier. Latar budaya Jawa dan Tionghoa, cukup terwakilkan. Beberapa ungkapan dan dialog dalam kedua bahasa berhasil menghidupkan cerita. Untuk para pembaca yang tidak paham bahasa Jawa dan Mandarin, jangan khawatir, penulis langsung menerjemahkannya di situ juga, tak perlu repot-repot melirik catatan kaki. Alhasil, novel ini lumayan menarik untuk dicermati. Sangat perempuan. Banyak hal yang mengundang untuk didiskusikan lebih lanjut.
Terlepas dari kisah keempat dara tadi, saya pun masih sering “menemukan” pria (dan banyak!) yang mencari seorang calon istri perawan. Bagi mereka, ada semacam sebuah kebanggaan jika berhasil menjadi yang pertama memerawani perempuan yang menjadi istri mereka. Keperawanan juga menjadi bukti kesucian seorang perempuan. Seolah-olah para wanita “suci” ini benar-benar belum pernah tersentuh kulit lelaki dan sebaliknya, jika sudah tidak perawan berarti perempuan tersebut bermoral bejat. Dan kita tahu, stigma ini tidak berlaku buat para lelaki.
Ini hanya masalah kultur yang notabene hasil ciptaan manusia (baca: lelaki). Sejak dulu, para perawan sudah diposisikan sebagai korban. Lihat saja ritual-ritual agama kuno yang selalu menyajikan seorang perawan di altar sebagai persembahan kepada para dewa. Atau pada masa yang lebih moderen lagi, perawan-perawan kerap dijadikan upeti kepada para raja atau sebagai pampasan perang. Pada abad 21 ini, hal serupa masih berlanjut dalam kemasan yang sedikit berbeda. Terjadi pada perempuan-perempuan tak berdaya seperti Ranting dan Gendhing. Kalau begini, sebuah anugerah atau bencanakah menjadi seorang perawan? Ternyata, tak semata-mata soal pilihan.***
Overall, i like this book tells me how to be woman and the cultural chain which bind them in the name of virginity. The story is great ,but lack unique point which make every character became special. I want to give three stars, but for the honor of bringing chinese culture to indonesian reader. I give it 4.
Bukunya bagus jelasin perempuan indonesia dan kekangan keperawanan dan resiko kehilangan yang mengikuti mereka. Tapi, tiap karakter gak spesial sama sekali. Hanya terlihat ya sudahlah. Rencana awal mau ngasih 3, tapi bolehlah 4 karena kasih gua informasi soal budaya cina peranakan di Indonesia.
Buku ini adalah salah satu novel kontemporer Indonesia dengan alur yang rapi jali. Jalinan ceritanya bersumber pada empat sub-plot yang masing-masing mengikuti seorang perempuan muda yang sudah saling akrab sejak kecilnya; Ranting si yatim dan miskin, Gendhing yang keluarganya kekurangan, Tawangsri yang keluarganya nampak normal tetapi ternyata kurang fungsional dan Zhang Mey yang keluarganya lengkap normal fungsional tapi mengekangnya dalam tradisi.
Sebetulnya keempat perempuan muda ini terikat pada tradisi tanpa terkecuali. Ini baru saya sadari di akhir masing-masing sub-plot dan kemudian keempatnya dipertemukan lagi di setting yang juga dipakai untuk membuka novel ini. Keempatnya hampir mendobrak tradisi tapi lantas memilih untuk tetap berada di dalam garis batas. Kecuali Ranting, yang sepertinya hidupnya paling rumit dibandingkan ketiga sahabat masa kecilnya.
Ranting harus menempuh plot klise 'menyerah pada nasib yang menentukan lain' setelah segala usaha dan upayanya. Kemudian penulis memberikannya jalan keluar yang manis romantis dari plot klise itu untuk mengakhiri kisahnya yang ruwet. Jalan keluar itu mendobrak aturan tak tertulis yang membelit Ranting dari segi plot maupun dari segi tradisi.
Sayangnya penulis tidak berbelas kasihan pada tiga perempuan muda lainnya. Dua dibuat patah hati, dan satu dibiarkan mengambang tanpa kepastian.
Plot dan penulisan yang rapi jali membuat saya meluncur membaca buku ini tanpa kesulitan yang berarti. Penulis juga sangat memperhatikan grafik tensi plot ceritanya, naik-turunnya drama tertata nyaman sehingga tidak membuat lelah membaca. Yang saya tidak biasa hanyalah gaya bahasa formal yang digunakan para tokoh dalam buku ini, terutama untuk bagian cerita Tawangsri. Memang hanya masalah preferensi saya pribadi saja, karena sulit rasanya membayangkan orang menggunakan bahasa seformal itu dalam realitas sehari-hari, kecuali dalam sebuah pertemuan formal cenderung ilmiah.
Selain gaya bahasa itu, ada satu bagian dialog yang nampak janggal dan di luar karakter pada bagian awal buku ketika Tawangsri kecil dan bundanya berdialog mengenai esensi keperawanan sambil melipat kain batik dagangan. Tapi hanya satu kali itu saja sang Bunda mengutarakan kalimat yang di luar karakternya. Untuk plot Zhang Mey, muncul penasaran di benak saya. Keturunan cina di Indonesia berasal dari berbagai suku yang masing-masing punya bahasanya sendiri, tidak semuanya bisa berbahasa Mandarin. Setahu saya di Surabaya banyak orang Hokkien, jadi mereka bicara dengan bahasa Hokkien. Di Pontianak banyak Haka, Gek dan Tiociu, jadi mereka bicara bahasa Haka atau Gek atau Tiociu. Bahasa-bahasa ini berbeda sekali satu sama lain walaupun di telinga awam kedengaran sama: cina. Bedanya seperti jika bahasa Batak dan bahasa Jawa dibandingkan.
Nah, saya kurang tahu suku apa yang mendominasi populasi warga keturunan Cina di Solo, dan apakah mereka semua menggunakan bahasa Mandarin sehari-harinya di rumah.
Hal lain yang muncul di kepala saya setelah selesai ngebut membaca buku ini adalah: hidup perempuan apakah hanya di seputar perawannya / menikah tidak menikahnya saja? Karena entah kenapa, rasanya itu yang saya tangkap dari kisah keempat sahabat ini. Seluruh hidup mereka seperti tersendat atau terganjal pada permasalahan keperawanan ini.
Akhirnya, buku ini cukup menarik untuk dibaca. Cukup memperkaya pengetahuan dan memperluas wawasan. :)
Bab awal dari buku ini melontarkan saya akan masa2 kecil saya yang kurang lebih sama dengan mereka. Masa2 dimana keluarga saya bisa dibilang hidup dibawah standrat, mengingat hal itu saya jadi lebih sayang pada kedua orang tua saya, perjalanan mereka yang berat dalam menaikkan standart hidup keluarga, dan hidup kami mulai berubah ketika orang tua saya memutuskan untuk berwirausaha.
*lho kok jadi curhat* *back to review*
4 orang perempuan, Ranting, Gendhing, Tawangsri, dang Zhang Mey berteman sejak kecil. Mereka yang begitu penasaran dengan arti sebuah kata "Perawan" menanyakan kepada ibunya masing2. Setiap Perempuan adalah perawan, itulah jawaban dari semua ibu mereka. Seiiring berjalannnya waktu mereka tumbuh dewasa dengan jalan kisah yang berbeda.
Kalau saya simpulkan, inti dari cerita dalam buku ini adalah bagaimana Ranting, Gendhing, Tawangsri, dang Zhang Mey kehilangan keperawanannya. dari keempat perempuan, saya kurang suka dengan Tawangsri, dia anak dari orang mampu, dia cantik, dia pintar, tetapi begitu mudah memberikan keperawanannya hanya karena dia ingin berontak dari budaya dan adat.
Terlalu banyak kata2 bijak dalam buku ini membuat saya lelah untuk membaca, alhasil banyak kata yang saya lompati.
Perawan. Entah mengapa satu kata itu dipermasalahkan. Entah diperjuangkan atau diperjualbelikan. Dalam buku ini, empat wanita itu mempertaruhkan satu hal: keperawanan. Tapi mengapa sampai begitu rumit? Seperti kata Kakek Pram, "Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya."
Bagi saya, perawan (kb) adalah sebutan bagi perempuan yang belum dikawini. Masalah tradisi (adat/agama) yang mengharuskan wanita menjaga keperawanan, itu adalah sebuah hadiah yang menekankan tentang betapa berharganya wanita. Tak perlu disesali, saya kira. Juga tak perlu diratapi. Lalu, jika diartikan sebagai kata sifat, perawan bisa menentukan seorang wanita baik-baik atau tidak. Dan terserah, itu pilihan.
"Perempuan agaknya memang serupa kelopak bunga, berawal dari kuntum dan merekah dengan helai-helai kelopak yang rapuh, rentan renggutan. Tak berdaya oleh terpaan angin, sengatan serangga pencari nectar, dan jamahan tangan-tangan yang menyimpan hasrat." (Garis Perempuan, pg.306)
Bukankah akan lebih indah, jika bunga beserta kelopaknya itu disimpan baik-baik dan dilindungi? Tapi tetap, saya mengagumi gaya tulisan buku ini yang detil dalam setiap fakta yang ada.
Bertele-tele cara berceritanya dan terlalu menggurui. Percakapan di dalamnya pun terlalu "pintar" dan ga sesuai dengan penggambaran karakter yang ada.
Sebenarnya tema yang diangkat cukup menarik, yaitu tentang keperawanan. Tapi ya gitu, cara berceritanya ga asik. 4 tokoh perempuan dengan karakter dan status sosial yang berbeda kok percakapannya sama-sama idealis sekali, bahkan menyangkut ilmu astronomi dan lain sebagainya. Padahal tidak diceritakan bahwa si tokoh berprestasi di sekolah atau tertarik pada bidang tertentu.
Endingnya juga ga jelas dan ga menarik. Cuma keempat tokoh itu ketemu di kebun dan penjabaran tentang idealisme mereka dari sudut pandang si penulis. Penulis kurang bisa menggambarkan detail pendukung yang membuat pembaca bisa berimajinasi dengan lebih baik. Bahkan sesepele masalah setting! Di awal cuma diceritakan kalo ibu salah satu tokoh adalah pedagang batik di Pasar Klewer. Kupikir settingnya di sekitar Solo. Ealah ga digambarin lagi gimana selanjutnya. Terus juga setting kehidupan masing-masing tokoh juga kurang digambarkan, padahal karakter dasar yang dibangun udah lumayan bagus.
Cerita tentang empat gadis yang bersahabat sejak masa kecil. Saling menguatkan, tapi tetap tidak mampu membantu ketika takdir ‘menghampiri’ mereka. Buku ini seolah ingin menggambarkan ketidakberdayaan perempuan, bahwa perempuan tidak punya pilihan. Berlatar budaya Jawa (tapi gak tau Jawa bagian mana – mungkin gue agak terlewat pas bacanya). Sebagai perempuan (halah…), gue agak gemes pas baca buku ini. Gemes dengan segala kepasrahan mereka. Tapi, ya gitu deh, kadang, kita sendiri mungkin gak bakal bisa berbuat apa-apa, atau mencari pilihan lain kalau lagi terdesak.
I did judge this book by its cover. Hehehe… sejujurnya malah gue sempet lupa judulnya. Abis, covernya lucu sih, menarik. Ini ‘perkenalan’ pertama gue dengan karya Sanie B. Kuncoro. Gue cukup tertarik untuk membaca buku beliau yang lainnya.