Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kakakku, Bongsoon

Rate this book
Namanya Bongsoon.

Pada usia 6 atau 7 tahun, dia melarikan diri dari kekerasan ayah tirinya. Lalu, dia tinggal bersama saudara ibunya, yang menelantarkannya di keramaian. Dia juga pernah bekerja pada seseorang, tapi tidak pernah dibayar.

Akhirnya, Bongsoon tinggal dan bekerja di keluarga Jjang. Bagi Jjang, Bongsoon bukan sekadar pembantu. Perempuan delapan belas tahun itu adalah orang pertama yang melihat wajah Jjang saat lahir, orang pertama yang menenangkannya saat menangis, dan satu-satunya di dunia ini yang memihak Jjang.

Jjang tumbuh bersama dengan kesedihan yang dialami Bongsoon yang terus menerus menderita dan bernasib buruk.

Inilah kisah pembantu di Seoul pada 1960-an, dari sudut pandang majikan yang berusia 5 tahun.

248 pages, Paperback

First published January 1, 1998

7 people are currently reading
466 people want to read

About the author

Jiyoung Gong

38 books207 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
63 (19%)
4 stars
152 (47%)
3 stars
96 (30%)
2 stars
9 (2%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 65 reviews
Profile Image for Puty.
Author 9 books1,426 followers
December 22, 2022
Sepanjang tahun 2022, kami di BBB banyak membahas sastra Korea, dan kebanyakan bertema keperempuanan dan hubungan keluarga. Di akhir tahun ini, saya mendapat kesempatan untuk menjadi advanced reader sekaligus menuliskan sedikit pengantar.

'Kakakku, Bongsoon' bercerita tentang pahitnya hidup seorang perempuan bernama Bongsoon yang sejak kecil mengalami kekerasan di rumah kemudian ditelantarkan. Bongsoon kemudian diangkat sebagai pembantu yang mengasuh Jjang, karakter utama dalam buku ini.

Dari sudut pandang Jjang kecil, kita dapat melihat sepotong-sepotong kehidupan Bongsoon yang menyedihkan dan ketegarannya dalam menghadapinya sambil berusaha mengasuh dan melindungi Jjang. Dari sudut pandang Jjang kecil yang polos, terselip rasa hangat dalam cerita yang bittersweet 💔 Walau berasa dari Korsel, sebenarnya yang diceritakan di sini biasa terjadi juga di Indonesia.

Melalui novel ini, kita seperti diingatkan bahwa 'memberdayakan' sesama perempuan tidak semudah yang dikatakan. Ada berbagai trauma yang bisa mempengaruhi bagaimana seorang perempuan mengambil keputusan hidupnya. Namun toh, seperti yang saya kutip dari halaman pada slide terakhir, menangis bersama adalah hal yang biasa bagi perempuan walau mungkin tidak bisa dipahami laki-laki 🥲

Berlatar di Korea Selatan pada tahun 1960-an, kita dapat pula mengintip situasi kehidupan Korsel pascaperang dan upaya percepatan ekonominya. Isu kesenjangan sosial terangkat pula di sini.

Saya rekomendasikan bagi semua yang tertarik dengan sastra Korea, buku dengan POV anak dan buku bertema keperempuanan 🇰🇷 Terima kasih Mbak Lia dari Penerbit Haru atas rekomendasinya 🤍
Profile Image for Liliyana Halim.
312 reviews245 followers
August 16, 2023
Selesaiiiii! Dan sukaaa 🤩🤩🤩. Aku cukup suka cara berceritanya, manis, hangat, sedih dan ketika Jjang merasa kecewa, aku dapat merasakan kekecewaan Jjang ke Bongsoon 🙈. Karena chapter di novel ini banyak jadi buatku terasanya seperti lagi baca diary Jjang. Meskipun Jjang masih kecil tapi menurutku dia lebih oke dari mamanya. Jangan lupa baca novel ini ya 😉.
.
Sementara itu, aku hanya menyatukan tanganku. Aku belum tahu caranya berdoa. Biasanya manusia belum bisa berdoa sebelum ada kesulitan yang datang menghampiri. (Hal 210).
.
Seharusnya aku menyadari saat itu. Dari sekian banyak emosi manusia yang tidak terhitung, seharusnya aku tidak menaruh harapan kepada mereka yang menunjukkan sikap permusuhan denganku. Meskipun aku tahu sejak awal bahwa mereka akan bersikap seperti itu, aku tetap menaruh harapan yang akhirnya menjadi racun untukku. (Hal 74).
.
Ketika seseorang berjalan dengan membawa peta, tapi jalannya mengarah ke arah lain, maka orang itu lebih mengingkan jalannya berubah sesuai peta yang sudah tergambar. Dia tidak akan mau mengikuti jalan yang ada. (Hal 133).
.
Alasan kenapa dalam hidup tidak ada hal yang kecil adalah setiap pilihan sederhana yang harus kita hadapi dalam hidup menentukan arah dari hidup kita. Setiap keputusan yang kita buat berdasar dari keseluruhan hidup yang telah kita lalui. Aku mengetahui bahwa hal-hal kecil yang sederhana itu adalah hal penting yang bisa mengubah arah dalam hidup kita. (Hal 186).
Profile Image for Abbie.
97 reviews32 followers
May 16, 2019
Gong Ji-young’s autobiographical novel My Sister Bongsoon reflects her personal reflection, as a middle-class individual, on women that were neglected during the early stages of economic development in South Korea and the value of women in the society in a more general sense. The story of “sister” Bongsoon is being narrated by Jjang, a bright five-year old girl that I personally consider to be mature for her age. Through the stories of Jjang, her family, Bongsoon, Mija and Mikyung, the author relates how maids during those days were uneducated, unloved and hardworking which shows an image of Korean society. While Gong Ji-young’s aim was to picture Bongsoon and countless other maids who existed during those period that were ignored, a general feminist perspective emerges from her lines that, probably, many female readers can relate to.

On the socio-cultural side, the novel shows an image of the Korean socio-cultural aspects or factors through Jjang’s family and their external relations towards friends, relatives and other people. Religion, education and family relationships were portrayed visually in novel.

Going deeper though, it shows how women were treated during that period that I categorized into three (3) items:

1. Education – In traditional Korean society and culture, women were educated to be subordinated and deprived of formal education. Their roles in the society were limited or confined in their homes as good housewives and caring mothers. This is portrayed in the early parts of the novel where Jjang notes that her Dad was able to study in Korea as he was pressured to provide for his family, being the first son of a Confucian household. When her dad was in America, her mom was left to take care of her and her siblings. Jjang and her sister were lucky because they were able to go to school unlike Bongsoon and Mija that probably got their “education” through reading books, magazines and tabloids. Stressing the importance of education can be read in Jjang’s Western-influenced dad’s script which says:
“There will be lots of great women who can do things even men dare no. You must be one of them, honey. Like all those western women who can discuss their ideas equally with men, and teach students in college. You know, women who can finish up jobs even men dare not try! Then no one will look down on you, just because you are a woman.”

2. Emotions – Jjang claimed that men could not understand how women feel during the part where Bongsoon and Mija were crying over the love they never received from their parents and other loved ones. I relate this scenario to one major stereotype for women which is being emotionally weak. Society conditions women to believe that they are the emotional gender and women are often told to calm down or shut up. For men, displaying anger can be justified relating to their “nature” but when a woman gets angry over something, she is considered crazy and irrational. There are lots of stereotypes on women when it comes to discussions on emotions and this gender stereotyping of emotions pose crucial barriers for women to obtain success in their respective career paths or leadership roles in the society.

3. Expectations – Aside from gender stereotypes that deeply affects women’s lives, the socio-cultural expectations for women also hinder them in achieving their dreams and goals in life. Another important part of the story was Jjang’s realization during the time that she was trying her hardest to be accepted by the other kids. For me, it was some sort of a visual representation of what females go through in this society. Jjang realized that nobody really cares about what she does or achieves, how she feels with the pressure of doing her role, her “it” job. Again, I relate Jjang’s realizations to the sad reality of gender roles and stereotypes. In this age and time, although there have been many improvements in gender equality, women are still undervalued or underappreciated while men are placed on pedestals. Women still do most of the housework and childcare along with their respective career-related work. Women carry a heavy burden on their shoulders but still men tend to dismiss women’s’ small victories and disrespect them. Gender roles and stereotypes takes on a broad and deep discussion but basically what the novel shows is that women have fewer opportunities than men, expected to be married off to a good husband, carry and nurture children and work at home. Jjang’s thoughts tugged my heartstrings when she questioned herself for being unlucky, being at the wrong place and wrong time. It is depressing that your gender brings hardships upon oneself but some girls nowadays still face discrimination, violence and sexual assault in their own countries like Iraq, Iran, Egypt and India among many others.

Jjang’s mom claimed, “What can we do? It’s your fate” as if resigning to the fact that women have no other option in life but to be a good mother and wife. I believe that women around the world must be empowered and strengthened to take responsibility for their lives and choices. As Michelle Obama said, we should get out there and define ourselves so we will not be inaccurately defined by others.

Profile Image for Jess.
609 reviews140 followers
December 25, 2022
3,75/5

“Aku kira Bongsoon hanyalah seorang anak yang pendiam, tapi ternyata hati kecilnya banyak memiliki kenangan buruk yang sangat menyedihkan.”


Cerita tentang pembantu rumah tangga tapi dari perspektif anak kecil.

Buku ini sukses memperlihatkan ketimpangan sosial antara masyarakat baik karena status sosial, latar belakang pendidikan, dan gender.

Berada dalam kepala Jjang selama membaca buku ini, jujur sulit jadinya menentukan suatu karakter itu baik atau tidak. Setiap karakter pasti punya alasan dibalik tindakan yang mereka lakukan.

Dari buku ini, keliatan banget kadang orang tua bahkan bisa terasa seperti orang yang tidak dikenal, dan stranger bisa menjadi mereka yang paling dekat dalam hidup.

Kak Bongsoon adalah satu-satunya orang yang memelukku ketika aku sedih, ketika aku menjadi sasaran perundungan dan ketika aku merasa kesepian.


Tumbuh besar bersama Bongsoon, Jjang merasa Bongsoon hadir bukan hanya sebagai maid tapi juga sebagai sosok kakak. Dia merasa dilindungi, diperhatikan, dimengerti. Hal yang tidak bisa dia dapatkan dari keluarganya sendiri.

Buku ini bukan hanya memperlihatkan hal-hal apa yang dilakukan Bongsoon untuk Jjang. Tapi bagaimana Bongsoon diperlakukan oleh dunia.

Dia masih muda, tapi pilihannya dalam hidup terlalu terbatas. Kemalangan demi kemalangan terus muncul, seakan hidupnya memang tidak ditakdirkan naik.

Dasar pembantu… kau hanya pembantu yang numpang di rumahku…


Buku ini juga meng-explore kehidupan pembantu rumah tangga lain yang hadir di kehidupan Jjang dan keluarganya. Walaupun setiap mereka berbeda tapi ada satu harapan bahwa hidup mereka akan berubah saat mulai bekerja dengan keluarga Jjang.

Plot dalam buku ini terkesan acak karena memang berangkat dari memori seorang anak kecil, jadi susah bagi ku untuk menilai dengan jelas jalan ceritanya akan berakhir seperti apa.

Masih gak nyangka buku yang menceritakan tentang pembantu rumah tangga dapat diceritakan dari perspektif anak kecil.
Profile Image for Indi.
820 reviews63 followers
January 17, 2024
Un récit autobiographique très touchant et surprenant qui donne un aperçu de la vie de certaines femmes coréennes dans les années 60.
Je ne savais pas que c'était autobiographique lorsque je me suis engagée dans cette lecture et je suis fascinée de voir la précision des souvenirs de l'autrice. Sa relation avec Bongsun était très touchante avec une bonne touche de bittersweet à la fin du livre. J'ai aussi beaucoup aimé en apprendre sur l'histoire de la famille de l'autrice et franchement, je dirais pas non pour en lire plus sur sa vie.
Clairement une première lecture de cette autrice que j'ai beaucoup appréciée, j'ai hâte de lire ses autres livres !
Profile Image for yelenska.
693 reviews174 followers
July 13, 2021
j'aimerais tellement la rencontrer ou parler avec elle. ce doit être une belle personne, pour écrire de si belles histoires avec autant de bienveillance. encore un récit qui m'a beaucoup touchée. il ne me reste désormais plus qu'un livre à lire de cette autrice, et ce sera pour très très bientôt, sachez-le !
Profile Image for Paola.
12 reviews13 followers
February 21, 2021
"...In un certo modo la mia è stata l'infanzia di una tipica bambina coreana: una bambina che, ben lontana dall'essere al centro dell'attenzione dei genitori, cresceva praticamente per conto suo. Avevo bei vestiti di merletto e deliziosi nastrini rosa che mia madre ordinava appositamente in un negozio di cose fatte a mano e per merenda mangiavo dolci acquisiti in una pasticceria. Ma non per questo ero diversa da quei bambini scatenati che giocavano per la strada davanti a casa mia. L'unica differenza tra me e loro consisteva nel fatto che le loro mamme erano costrette ad andare ogni giorno a lavorare al mercato per crescere la famiglia, mentre mia madre andava ogni giorno al mercato per fare la spesa, dal momento che non aveva bisogno di lavorare per allevarci..."

Ci sono diversi passaggi in questo romanzo che rendono bene il concetto che contiene, ma questo in modo particolare mi è rimasto impresso perché in poche righe descrive tutto. A partire dalla posizione della donna all'interno della famiglia e della società e la stratificazione sociale della Corea del Sud in periodo storico di grande crescita, gli anni '60, ma nello stesso tempo di chiusura, di oppressione. Erano gli anni che seguivano quelli della distruzione di un paese, sia geograficamente che moralmente, che economicamente. Gli anni della salita al potere di Park Chung Hee, forse la figura più controversa della storia moderna e contemporanea coreana, con i suoi propositi di crescita e sviluppo, ma anche di censura, repressione e coprifuoco. E mentre l'economia cresceva, in modo non stabile essendo plasmata dai giochi della politica, il divario tra le classi sociali era fortissimo e se nelle città il benessere cresceva tra le classi più alte, i poveri si ritrovarono ad essere sempre più poveri e convivevano in una società tutt'altro che equilibrata. Periodo che si trascinerà, tra repressione e rivolte, pur con poteri differenti, fino alla fine degli anni '80.
Questo è il contesto storico in cui si sviluppa questo romanzo, che non è direttamente autobiografico, ma che prende spunto, a detta dell'autrice stessa, da qualcosa a lei familiare, che nata nel 1963 ha vissuto prima come figlia e poi come donna, studentessa e attivista gli anni più turbolenti.
Ho provato diverse emozioni leggendolo, dalla frustrazione alla commozione passando per la rabbia, quindi credo che l'autrice, in questo, sia riuscita nel suo intento.
Restituisce al lettore una serie di riflessioni grandi sul ruolo della donna, sulla differenza tra classi, sulle tacite, ma rigidissime, regole comportamentali e di costume che la società imponeva.
Riflessioni decisamente più grandi di Jjang che a modo suo ci racconta la storia di Bongsoon che cerca disperatamente di trovare il suo posto nel mondo, un qualche senso di appartenenza che possa giustificare la sua stessa esistenza.
Orfana, viene accolta come una figlia dalla famiglia di Jiang quando ancora quest'ultima era appena nata e la famiglia arrancava per sopravvivere vivendo di riso e speranza. Come una figlia sì, ma i confini di questo ruolo si fanno sempre più labili e si confondono con quelli della collaboratrice domestica, mano che la famiglia accresce la propria fortuna. Più il benessere cresceva, più Bongsoon prendeva coscienza del suo posto e più sentiva la necessità di trovare la sua strada e l'affetto che potesse darle una famiglia sua. Il legame tra Jjang e Bongsoon è forte, ma quanto e come si capirà veramente soltato finendo il libro.
Mi ha fatto male diverse volte leggere queste pagine, ho odiato alcuni personaggi permeati di un falso perbenismo detestabile davvero, ma che esprimevano bene l'intenzione dell'autrice.
Lo stile è molto scorrevole e ogni pagina va via liscia, a volte anche troppo. Non nego che avrei voluto un po' più di contesto storico e sentire un po' di più la mano dell'autrice, soprattutto conoscendo la sua storia di attivista, che invece ha preferito lasciare tutta la voce alla bambina, perdendo in questo modo un pochino di impatto. Ovviamente è una questione di gusto personale, ma probabilmente è il motivo per cui mi è sicuramente piaciuto, ma non mi ha completamente rapito il cuore.

Profile Image for Tia Ayu Sulistyana (tiareadsbooks).
266 reviews73 followers
May 21, 2025
•recently read•
3.8/5⭐️

•••

Kakakku, Bongsoon merupakan buku autobiografi tentang kisah kehidupan Bongsoon, seorang pembantu di Seoul pada tahun 1960-an. Buku ini diceritakan dari sudut pandang Jjang, gadis berusia 5 tahun yang diasuh Bongsoon sejak ia lahir.

Dari Jjang, kita akan mengikuti cerita kehidupan Bongsoon yang selalu menderita dan bernasib buruk. Pada usia 6 atau 7 tahun, Bongsoon melarikan diri dari kekerasan ayah tirinya dan ditelantarkan oleh saudara ibunya. Tak sampai di situ, Bongsoon pun pernah bekerja tanpa pernah dibayar. Nasib baik baru datang pada Bongsoon ketika ia tinggal dan bekerja untuk keluarga Jjang, bahkan dianggap sebagai keluarga.

Bagi Jjang, Bongsoon bukan sekedar pembantu. Perempuan berusia 18 tahun itu merupakan orang pertama yang melihat wajah Jjang saat lahir, juga satu-satunya orang di dunia yang selalu ada dan memihak pada Jjang.

Jujur ya, buku ini tuh bikin nano-nano dan menguras emosi. Miris rasanya melihat Jjang tak diperhatikan dan tumbuh dewasa lebih cepat dari usianya. Ia bahkan sampai merokok, membaca majalah dewasa, hingga minum alkohol. Sedih dengan nasib Bongsoon yang selalu menjadi korban ketidakadilan dan gemes dengan kenaifan-nya yang mudah percaya pada orang lain. Tapi di sisi lain, aku salut dengan cara berpikirnya yang selalu positif.

Overall, aku cukup menikmati buku dengan genre slice of life ini. Buku autobiografi yang biasanya bikin bosen, tapi di buku ini enggak~ Aku suka gaya bercerita Gong Ji-young yang mengalir, apalagi bab-bab pendeknya bikin buku ini page-turner! Oh, aku cover bukunya pun cantik meski bernuansa sendu~ Buku ini pun padat akan pesan moral yang bisa dijadikan pembelajaran dalam hidup.

•••

#tiareadsbooks #tiawritesreviews

•••

FAVE QUOTES:

❝Peran kita seharusnya mengikuti nasib yang ada di depan kita. Seharusnya semuanya cukup dengan memikir-kan makna hidup bagi masing-masing. Sayangnya, tidak sesederhana itu...❞
—Page 9

❝Yah, beginilah kehidupan di dunia ini. Orang yang mengalami kesusahan biasanya bisa memahami perasaan satu sama lain. Sementara itu, orang yang serba berkecukupan terkadang memang menyeramkan.❞
—Page 27

❝Seharusnya aku menyadarinya saat itu. Dari sekian banyaknya emosi manusia yang tidak terhitung, seharusnya aku tidak menaruh harapan kepada mereka yang menunjukkan sikap permusuhan denganku. Meskipun aku tahu sejak awal bahwa dia akan bersikap seperti itu, aku tetap menaruh harapan yang akhirnya menjadi racun untukku.❞
—Page 70

❝Mungkin orang-orang tidak menginginkan kebenaran yang apa adanya. Orang-orang hanya menginginkan sesuatu yang telah dipikirkan atau diharapkannya. Ketika seseorang berjalan dengan membawa peta, tapi jalannya mengarah ke arah lain, maka orang itu lebih menginginkan jalannya berubah sesuai peta yang sudah tergambar. Dia tidak akan mau mengikuti jalan yang ada.❞
—Page 129
Profile Image for Riona Primavera.
83 reviews6 followers
January 13, 2023
4 stars. Important message and story, but I don't get a special feeling after finishing this book.

I read this book in Indonesian translation, so I will talk about this book in Indonesian.

"Kakakku, Bongsoon" bercerita tentang sudut pandang anak berusia lima tahun, Jjang, terhadap 'kakaknya' yang bernama Bongsoon. Bongsoon adalah pembantu rumah tangga di rumah Jjang yang memiliki kisah hidup miris dan tragis. Buku ini mengeksplorasi bagaimana cara pandang dan penggambaran anak usia lima tahun terhadap apa saja yang terjadi di rumahnya, terutama yg berhubungan dengan Bongsoon.

Sebagai orang yang besar dengan ART, beberapa cerita Jjang sangat relate denganku. Usia Bongsoon dan Jjang tidak berbeda jauh, begitu juga dengan aku dan 'kakakku' yang pernah bekerja di rumahku saat aku lebih muda. Cerita dan pengamatan Jjang sebagai anak lima tahun terasa sangat polos dan 'pure'.

Ketika aku berdiskusi dengan pembaca lain (teman bookstagram yang aku panggil Kak Rizu) yang membaca buku ini, aku baru tahu ternyata buku ini adalah semi-autobiografi. Kak Rizu mengatakan bahwa inilah yang membuatku merasa biasa saja saat menamatkan buku ini. Buku yang ditulis berdasarkan pengalaman nyata tentu tidak 'sesempurna' buku fiksi pada umumnya karena tidak memiliki semua unsur fiksi yang biasanya ada di buku fiksi.

Insight dari Kak Rizu membuka mata banget buatku. Aku jadi bisa memaknai buku ini dengan lebih baik. Aku yang biasanya menilai buku berdasarkan perasaan yang ditinggalkan saat menamatkan buku ini jadi lebih bisa memandang buku ini secara berbeda, in a good way.

Buku ini berlatar di Korea tahun 1960an. Saat itu Korea belum semaju sekarang. Banyak anak-anak seperti Bongsoon tidak memiliki nasib yang beruntung. Dengan diceritakannya kisah Jjang dan Bongsoon ini, membuatku sadar bahwa kisah seperti ini penting untuk diketahui. Bagaimana sifat manusia sesungguhnya (yang dulu maupun sekarang tidak jauh bedanya), bagaimana kehidupan seorang perempuan di dunia yang tidak adil bagi perempuan itu sendiri, dan berbagai kejadian 'membuka mata' yang bikin kita menyadari bahwa dunia tidak sesederhana itu.
Profile Image for ichan  .
41 reviews
December 31, 2022
"Alasan kenapa dalam hidup tidak ada hal yang kecil adalah setiap pilihan sederhana yang harus kita hadapi dalam hidup menentukan arah dari hidup kita. Setiap keputusan yang kita buat berdasar dari keseluruhan hidup yang telah kita lalui. Aku mengetahui bahwa hal-hal kecil yang sederhana itu adalah hal penting yang bisa mengubah arah dalam hidup kita"

Buku ini menceritakan tentang seorang pembantu bernama Bongsoon yang sepanjang hidupnya terus menerus menderita, namun Bongsoon selalu punya harapan. Diceritakan dari sudut pandang anak kecil berumur 5 tahun bernama Jjang (anak majikan Bongsoon). Bagi Jjang, Bongsoon bukan hanya sekedar pembantu, tapi seperti seorang kakak. Sepanjang membaca buku ini kita diajak berpikir tentang banyak hal dan diliputi perasaan sedih tentang hidup Jjang kecil dan lika liku hidup Bongsoon serta diajak flashback ke masa kecil dan mengingat orang yang berharga di hidup kita, Menunjukan potret Korea Selatan tahun 60-an dan ketimpangan sosial antara masyarakat dari status, pendidikan dan gender. Terjemahannya nyaman dibaca dan mudah dipahami. Recomended!
Profile Image for Leila.
517 reviews10 followers
April 28, 2023
Che tristezza.
Che malinconia.
Forse per il fatto che è di parte autobiografico, abbiamo una narrazione coinvolgente e convincente: diverse donne ma soprattutto due completamente diverse per tutto e anche per ceto sociale che devono affrontare il divario tra la "vecchia" e la "nuova" Corea.
Una cercando il proprio posto nel mondo ma finendo sempre per sbagliare, l'altra che si ritroverà nella bambagia ma che in realtà gliene frega assai poco. L'unica cosa che vuole è la "sorella".
Profile Image for Readingwithhirai.
224 reviews5 followers
March 2, 2026
“Apakah kamu percaya bahwa kesalahan yang tidak dijadikan pembelajaran akan terus terjadi berulangkali seumur hidup?”

Menyelami kisah perjalanan hidup Bongsoon membuatku menangis dan frustasi mengingat tak ada ujung dari ketidakbahagiaan dan kesengsaraan yang dialaminya. Kemudian aku meruntutkan kembali kejadian yang menimpa Bongsoon lengkap dengan sebab akibatnya. Awalnya aku memang kasihan namun ada sisi jengkel juga mengingat sifatnya yang naif serta menggampangkan segala hal. Bongsoon mungkin seolah tak punya pilihan namun sebenarnya dia bisa punya pilihan jika tidak plin pan atau menganggap setiap kesalahan selalu ada bantuan. Aku kesal dengan cara Bongsoon menyelesaikan setiap masalah yang datang padanya. Jadi sejak membaca buku ini dari awal sampai akhir akupun masih berperang dengan keberpihakanku antara marah, jengkel namun juga kasihan dengan Bongsoon. Kita melihat perjalanan hidup Bongsoon dari perspektif Jjang sehingga membuat pembaca tenggelam dalam setiap tahun maupun peristiwa yang terjadi. Dari semua itu akupun jadi terngiang sebenarnya apa yang ada di dalam benak Bongsoon? Bagaimana perasaan Bongsoon sebenarnya? Kisahnya memang membuat pembaca frustasi dan lelah, tapi bagaimana jadinya jika Bongsoon justru menikmati hidupnya yang seperti itu?

Alur buku ini cepat dengan pembagian kisah berdasarkan tahun dan sub bab peristiwa penting mengenai perkembangan keluarga Jjang dan Bongsoon itu sendiri. Adakalanya terselip kilas masa depan mengenai kehidupan Jjang dan ibunya yang bercengkerama mengenai Bongsoon. Dari sinilah aku tahu kalau sekian banyaknya masalah dan tahun yang berlalu tak bisa mengubah Bongsoon jadi orang berbeda. Bongsoon seolah berotasi di dunia yang sama tanpa belajar dari kesalahan-kesalahan sebelumnya. Kisah ini bukan hanya tentang Bongsoon melainkan juga kilas masa kecil pertumbuhan dari sisi Jjang. Banyaknya isu ketimpangan sosial, perundungan dan juga hak-hak yang dirampas dalam bentuk kekerasan yang tidak seharusnya. Jjang mengalami pendewasaan sebelum usianya seperti mencoba rokok bahkan melihat majalah dewasa tanpa pengawasan orang tua. Aku menghela nafas di bagian ini cukup mengkhawatirkan masa depan Jjang. Namun semua itu terjawab sudah mengapa Jjang sampai ikut terbawa ke sana dan kenapa Bongsoon bisa berubah jadi orang yang sulit dikendalikan setelah mengenal cinta.

Ada banyak ketidakadilan yang menimpa Bongsoon seperti tuduhan pencurian yang tidak dilakukannya sampai dimanipulasi dan dijahati oleh pacarnya sendiri sampai hamil. Akupun sempat berpikir, apakah ini dampak masa kecil yang tak pernah mendapatkan kasih sayang? Sehingga ketika ada pria yang memberikan cinta dirinya sudah langsung patuh mengikuti semua kemauannya. Apalagi Bongsoon sangat cepat menyimpulkan laki-laki itu “orang baik” tanpa sadar bahwa dirinya sedang dimanfaatkan. Kisah Bongsoon membawa kita pada realita peliknya ketidakmampuan seseorang, kebodohan dan faktor kemampuan ekonomi berpengaruh pada masa depan seseorang. Bongsoon adalah korban keadaan, selebihnya dirinya terus membiarkan raga itu terjebak dalam lumpur berulang kali tanpa ada niat untuk naik menyelamatkan diri.

Sekilas Mengenai Isi Novel
Kisah ini merupakan perjalanan hidup dari Bongsoon yang diceritakan dari anak berusia 5 tahun, Jjang. Sejak bayi Jjang besar dan tumbuh bersama Bongsoon, bagi Jjang Bongsoon adalah kakak yang baik dan tempat berlindung untuknya. Dari sini kita akan melihat episode kehidupan Bongsoon yang awalnya baik-baik saja menjadi sesuatu yang mengerikan. Kita akan mengikuti perjalanan hidup keluarga Jjang mulai dari ketidakstabilan ekonomi, perspektif masyarakat Korea zaman itu sampai bagaimana Bongsoon tumbuh dewasa. Kisah yang tak berhenti dengan unsur kebahagiaan namun penuh hal-hal yang bisa menjadi pembelajaran hidup.

Ketimpangan Sosial, Ketidakstabilan Ekonomi dan Peliknya Menjadi Perempuan
Buku Kakakku, Bongsoon menceritakan kisah jejak kehidupan dari Bongsoon yang menyedihkan mengingat tak ada kebahagiaan hanya getir dan penuh ketidakadilan. Bongsoon adalah anak tanpa ayah ibu apalagi dia sempat mengalami kekerasan dari sang ayah tiri bahkan ditelantarkan membuatnya berakhir diselamatkan oleh keluarga Jjang. Dari latar belakang masa kecil Bongsoon kita sudah tahu banyaknya ketakutan dan trauma yang dialaminya sehingga tangki cintanya pasti kosong, dia tak tahu makna kasih sayang sehingga sulit mendefinisikannya. Kisah ini mengambil latar tahun 1960 an di Seoul, Korea Selatan di mana pada masa itu ekonomi masih sangat sulit jadi banyak orang berjuang, termasuk ayah Jjang yang mencari pekerjaan.
Penulis mengisahkan Bongsoon dan Jjang secara bersamaan membuatku sekaligus berpikir tentang ketimpangan sosial yang terjadi di antara keduanya meskipun sekilas keduanya mengalami ketidakadilan yang sama. Masa itu, ibunya Jjang sering mengeluh harus mengurus anak-anaknya sendiri di balik kurangnya pendapatan apalagi masih harus menampung Bongsoon. Bukan hanya itu saja di zaman itu memiliki anak perempuan bukanlah hal menguntungkan, banyak istri mengeluh ketika melahirkan anak perempuan. Sebaliknya, mereka akan sangat senang dan merasa aman ketika melahirkan anak laki-laki yang dianggap lebih berguna untuk melanjutkan keturunan keluarga maupun bekerja untuk mereka. Jadi, mengapa menjadi perempuan sangat sulit? Saat lahir tidak diharapkan, saat besar keselamatannya terancam oleh predator yang berkeliaran bahkan saat menikah tidak hanya harus mengurus anak-anak namun juga mencukupi keuangan keluarga dengan bekerja.

Mengapa Anak Kecil Dianggap Tak Terlihat?
Buku ini banyak mengekspresikan kisah anak kecil yang dianggap tak terlihat dari sisi Jjang. Sejak keluarganya masih sulit ekonominya sampai sudah berkecukupan Jjang tetap saja sama tak memiliki kesempatan untuk mengungkapkan pendapatnya. Itulah mengapa dibandingkan berucap, dia lebih sering hanya melihat tanpa berpendapat. Jjang banyak menggunakan matanya untuk merekam setiap episode atau bagian dari kehidupan Bongsoon termasuk apa yang terjadi pada kehidupan orang dewasa pada masa itu. Jjang adalah saksi kehidupan Bongsoon mulai dari yang biasa-biasa saja sampai di era jatuh cintanya. Bongsoon dimabuk asmara, sementara dirinya tak mengerti maksud cinta. Ada seseorang yang “terlihat baik” sedikit sudah mampu mengambil hatinya.
Dari buku ini aku melihat tak ada panduan khusus menjadi anak-anak, remaja bahkan ke arah usia dewasa. Seolah manusia-manusia ini hanya harus ikut arus saja namun ketika salah mereka disalahkan padahal tak pernah ada pengarahan sebelumnya. Begitupun dengan Jjang yang terjerembab dalam pergaulan salah bersama temannya Bongsoon. Jjang mengenal apa yang tak seharusnya dikenal di usianya yang masih belia. Jjang tak pernah tahu mana yang boleh dan tidak, selebihnya dia akan disalahkan jika mencoba hal yang tak seharusnya. Orang-orang dewasa terkadang melarang anak kecil tidak mendekati hal-hal buruk namun tidak membatasi akses mereka.

Bukan Hanya Bongsoon, Jjang Juga Berjuang untuk Dirinya Sendiri
Buku ini bukan hanya mengulik tentang Bongsoon melainkan juga sosok Jjang yang berjuang sejak kecil. Bedanya Jjang mampu berpikir dan membedakan mana yang benar dan salah sementara Bongsoon tetap terjebak dalam lubang lumpur yang sama. Kita akan banyak melihat bagaimana Jjang menyimpulkan peristiwa-peristiwa yang menimpanya seperti saat dirinya harus menyerahkan semua persediaan kue hanya untuk bisa diterima dalam lingkungan anak-anak sekitarnya. Namun, yang dia dapatkan apa? Tak ada yang bisa merubah ketidaksukaan mereka terhadapnya. Jjang menganggap kesendirian itu menyeramkan, setelah Bongsoon yang sudah berubah kala itu. Namun akhirnya Jjang mengerti lebih baik sendiri dibandingkan harus memaksakan diri berteman dengan orang-orang palsu itu.

Peliknya Ketidaktahuan, Kebodohan dan Tidak Belajar dari Kesalahan
Kisah dari buku ini banyak menyiratkan mengenai ketidaktahuan dan kebodohan. Bongsoon tak pernah mau belajar dari kesalahan yang dilakukannya. Bongsoon memang awalnya tak tahu sebab akibat apa yang terjadi jika memilih jalan hidup tersebut. Namun setelah masalah itu selesai, akhirnya dia tetap berada pada jalan yang tak bisa kita prediksi arahnya. Ibunya Jjang mencoba memberikan jalan namun Bongsoon mengambilnya mentah-mentah. Sudah ada firasat yang aneh mengenai kelanjutan hidup Bongsoon dari sisi ibunya Jjang namun bagi Bongsoon yang terpenting adalah hidup bersama orang yang mencintainya. Sifat naif Bongsoon memang sangat menjengkelkan namun tak bisa menutupi rasa sedih dan getirnya diriku saat menyelami kisahnya.

Kisah tentang Pemahaman Kebaikan, Ketulusan dan Ketergantungan
Ada bagian yang menurutku perlu dibahas mengenai kedekatan keluarga Jjang dengan Bongsoon bahkan memberikan rumah aman untuknya sejak dulu. Namun sepertinya Bongsoon terlalu nyaman dalam naungan tersebut sehingga yang awalnya berbentuk kebaikan menjadi sistem ketergantungan yang membuatnya terus merasa aman. Sampai ketika naungan aman itu ditutup, Bongsoon tetap mencoba masuk untuk mendapatkan kembali keamanan yang dulu pernah ada. Hingga suatu ketika saat naungan itu sudah benar-benar tutup Bongsoon tak tahu arah, dibandingkan berubah dan menyadari kesalahannya dia tetap melanjutkan hidup yang baginya sudah benar itu. Lalu, siapa yang salah? Ibunya Jjang? Atau justru Bongsoon sendiri yang salah langkah?

Point Menarik dan Unggul dari Buku:
Menariknya buku ini bukan kisah yang ditulis langsung oleh Bongsoon melainkan dari sisi pandangan Jjang, anak yang dibesarkan Bongsoon sejak masih bayi.
Kita tidak hanya menyoroti bagaimana kehidupan Bongsoon melainkan juga bagaimana kisah Jjang yang penuh lika-liku dalam menemukan pertemanan dan jati dirinya.
Kisahnya dibuat runtut dan pendek-pendek dengan menyajikan banyak kejutan di setiap sesinya.
Penulis berhasil menekankan nasihat kehidupan dalam bentuk contoh konkrit mengenai jalan hidup seseorang yang tidak pernah berubah karena kesalahan diri seseorang itu sendiri.

Penokohan, Alur Cerita dan Karakterisasi
Tidak banyak tokoh yang perlu dikenali dalam buku ini, kamu cukup mengenal Bongsoon, Jjang dan ibunya Jjang. Selebihnya hanya muncul sekilas sebagai penentu nasib Bongsoon selanjutnya. Bongsoon adalah sosok polos yang sedari kecil sudah menderita kemudian ikut ibu Jjang sebagai anak angkat sekaligus pembantu. Tentu saja ibunya Jjang tak banyak memberikan petuah dan mengawasi Bongsoon begitupun dengan Jjang yang merasa tidak dekat dengan sang ibu. Ibunya Jjang ini sulit ditebak sifatnya berubah-ubah dari saat masih kekurangan sampai menjadi kaya raya. Sementara Jjang adalah anak kecil yang penuh keingintahuan dia mencoba apapun yang ditemukannya meskipun akhirnya dia tahu mana yang benar dan salah dari semua itu. Seluruh tokoh memiliki karakter kuat dan mendominasi dalam kisah alurnya.

Seberapa Jauh Buku Ini Mencapai Tujuannya?
Dibandingkan memberikan kesimpulan dari kisah akhir perjalanan Bongsoon, ternyata buku ini justru hanya menceritakan kehidupan Bongsoon dan sebenarnya kisah itu belum berakhir. Pembaca masih disisakan ruang untuk memikirkan kembali bagaimana nasib Bongsoon setelah ini. Buku ini berhasil mencapai tujuannya untuk membuat pembaca banyak berpikir sebelum bertindak termasuk sebab akibat dari ketidaktahuan atau kebodohan yang menjerumuskan seseorang.

Konsep dan Eksekusi Cerita
Dari segi konsep bagus kisah tentang perjalanan hidup Bongsoon yang diceritakan dari sudut pandang Jjang, anak yang bisa dibilang dibesarkan dan dirawat oleh Bongsoon itu sendiri. Kisahnya terasa nyata, manusiasi dan realistis dari perkembangan Bongsoon sejak kecil menuju dewasa. Bongsoon tetaplah remaja pada umumnya yang nakal dan penasaran terhadap cinta maupun hal-hal baru dalam hidupnya. Ditambah minimnya wawasan dan juga ketidaktahuannya mengenai konsekuensi dari hal-hal yang dipilih membuat hidup Bongsoon semakin tak terarah. Penulis mengeksekusi kisah Bongsoon dengan hantaman realita yang menyedihkan. Tidak ada akhir manis maupun indah bahkan menyisakan rasa mengganjal di dalam hati pembaca.

Apa yang Kurang dari Buku dan Harapan Pembaca:
Buku ini memberikan efek frustasi dari sisi nasib dan perjalanan kisah Bongsoon sungguh sangat mengganggu pikiranku. Sejujurnya tak ada yang salah dengan ending yang terus berlangsung seperti penderitaan Bongsoon. Hanya saja akupun juga bertanya-tanya apakah hidup Bongsoon selamanya akan begitu? Tak adakah kesempatan untuknya berubah atau justru dirinya yang menutup kesempatan itu? Harapanku semoga Bongsoon sekali saja tahu apa yang salah darinya kemudian menikmati masa tua yang tenang. Dia tak perlu mencari tempat aman maupun perhatian, padahal cukup mengandalkan dirinya sendiri dia bisa bertahan. Dia tak butuh cinta yang ada pada ilusi “orang baik” di kepalanya. Dia hanya butuh berpikir sebelum bertindak dan berhenti menjadi orang naif. Bongsoon harus tahu tak selamanya bergantung dengan orang lain, dia harus menemukan kemandiriannya sendiri setelah semua hal yang terjadi bukan semakin merusak diri sendiri.

Perasaanku Saat Membaca Buku
Akupun bingung bagaimana mendeskripsikan perasaanku saat membaca buku ini. Di satu sisi aku amat kasihan dengan nasib Bongsoon yang tak pernah mengalami kisah baik namun di sisi lain aku juga membencinya. Bongsoon adalah gambaran peliknya kemiskinan dan realita menyedihkan dari anak-anak yang dibuang bahkan dipekerjakan sejak kecil. Berbeda dengan Jjang, Bongsoon sudah harus berjuang sejak kecil bahkan dirinya yang masih kecil sudah harus mengurus Jjang yang masih bayi. Hidup Bongsoon seharusnya aman jika dia tak terbuai cinta dengan si penatu, di situlah awal mula segala kerusakan. Bongsoon tak akan mengalami nasib buruk jika berhasil membuktikan ketidakbersalahannya mengenai tuduhan ibunya Jjang. Bongsoon terlalu cepat mengambil keputusan, itupun keputusan yang sangat beresiko untuk dirinya. Nasib Bongsoon jelaslah tak pernah senang dan banyak dukanya. Sampai akhir dia tak menemukan kebahagiaan bahkan dari sisi penceritaan Jjang dewasa, Bongsoon masih tetaplah orang naif yang mencari kasih sayang sekitarnya.

Pelajaran yang Didapat dan Sasaran Pembaca:
Perlu dipahami bahwa dalam hidup ini kita memiliki kewajiban untuk selalu belajar dari apa yang sebelumnya kita tidak tahu menjadi tahu maupun tentang kesalahan yang kita lakukan agar dijadikan bahan evaluasi selanjutnya. Buku Kakakku, Bongsoon menyoroti apa yang terjadi pada hidup Bongsoon yang penuh kenaifan dan menganggap keputusan dalam hidupnya menjadi hal sederhana tanpa memikirkan konsekuensi setelahnya. Mungkin Bongsoon merasa selalu ada tempat kembali, selalu ada orang yang menerimanya kembali ketika salah. Ternyata hal itu membuat kehidupannya terus berulang dan berotasi pada kesalahan yang sama. Kita harus benar-benar memikirkan masa depan dari setiap keputusan kecil meskipun dampaknya tidak terlalu terlihat. Jangan mudah bilang mau, jangan mudah langsung menurut apalagi plin plan dalam menentukan pilihan. Berkaca dari Jjang meskipun kisah masa kecilnya miris namun dirinya tahu seiring waktu mana yang benar dan salah menjadi bahan evaluasinya. Jjang tahu kesulitan yang dilalui Bongsoon begitupun nasib yang menimpa karena pilihan Bongsoon sendiri. Jujur buku ini sangat kompleks seperti sulit menyalahkan Bongsoon maupun siapa saja yang terlibat dalam penentuan nasibnya. Bahkan sampai akhir, seseorang yang tak pernah memikirkan konsekuensi atas hidupnya tak meninggalkan kesan manis apapun.

Buku slice of life ini cocok dibaca untuk pecinta kisah hidup dengan cara penceritaan lain mengingat buku ini diceritakan dari sudut pandang Jjang bukan langsung dari Bongsoon. Buku yang lekat dengan kisah mengharukan, menyakitkan dan tentu saja menjengkelkan. Selain itu buku ini juga banyak membahas tentang realita kehidupan, suka maupun tak suka bukankah kita tetap wajib untuk melakukannya?
Profile Image for Annida.
61 reviews7 followers
January 2, 2023
Buku ini nyeritain tentang Bongsoon yang menjadi pembantu di rumah keluarga Jjang, Jjang adalah seorang anak kecil berumur 5 tahun yang menceritakan kisah Bongsoon yang ia pandang sebagai sesosok kakak yang ia sayangi.

Buku ini bergenre autobiography, di mana hanya fokus menceritakan satu orang saja, di buku ini Jjang sebagai pencerita menceritakan bagaimana kehidupan Bongsoon dalam pandangan anak kecil berumur 5 tahun.

Penasaran ga sih kenapa Bongsoon dipanggil Kakak sama Jjang? karena bagi Jjang bongsoon bukan cuma pembantu di rumahnya aja tapi Bongsoon adalah orang yang memihak dia, yang peduli sama dia dan selalu jadi orang yg nenangin dia pas nangis.

Aku beneran emosi banget baca buku ini, emang dasarnya gampang nangis juga sih, aku bisa ngerasain banget gimana Jjang ngejelasin kalo bongsoon itu sangat berharga buat dia. Kita kadang punya orang yg bisa mengerti kita dan peduli sama kita ketika kita kecil, kan.

Selain berkisah tentang Bongsoon kita juga dibawa melihat kisah masa kecil Jjang yang hidup jauh dari kata harmonis, masa kecil Jjang gaada manis-manisnya menurutku, aku iba banget dan sedih. Jjang tumbuh dewasa sebelum waktunya.

Sepanjang baca buku ini yang ada di benakku cuma pertanyaan, kenapa jalan hidup Bongsoon begini? sebenernya apa yang salah? Aku sadar karna buku ini berlatar tahun 1960 di mana saat-saat itu adalah masa yang ga mudah buat semua orang.

Banyak yg bisa dibicarain dari buku ini, kehidupan sosial, anak yg tumbuh dengan perhatian yg kurang, sifat manusia pada masa itu, streotip, dan dengan segala hal yang terjadi di kehidupan Bongsoon yang aku kagumi adalah dia bisa tetap tersenyum dan melanjutkan hidupnya.

Selanjutnya, reviewku buat bukunya.

Aku suka suka suka banget sama covernya, vintage dan sangat menggambarkan kehidupan masa itu, terus juga buku ini ga tebel tapi tetep bisa memuat semua cerita jadi menurutku pas banget. Buat terjemahannya gausah diragukan sih, bagus dan jelas.

Nah yang paling aku suka lagi, kutipannya banyak bangetttt, aku banyak banget nandain halaman di buku ini dan juga nuangin pemikiranku di bukunya, nanti aku share beberapa kutipan yang jadi favoritku. Intinya buku ini sangat worth to read dan banyak pelajaran yang bisa diambil juga.
Profile Image for Riska (lovunakim).
230 reviews36 followers
December 12, 2022
- Review -
Kakakku, Bongsoon by Gong Ji-young

📝 This is an advanced readers copy from @penerbitharu

⚠️This review will contain some spoiler⚠️

Tw: child abuse, abortion, alcohol, nudity

Buku ini mengambil sudut pandang dari seorang anak kecil bernama Jjang, yg menceritakan kisah hidup seorang pembantu dirumahnya yg ia panggil Kak Bongsoon.

Sedari kecil Bongsoon sudah disiksa oleh keluarganya, dan orang-orang yg menampungnya. Hingga akhirnya ia ikut kerumah orangtua Jjang dan menjadi pembantu disana. Saat itu Bongsoon masih berumur 8 tahun.

Dibuku ini menceritakan keseharian Bongsoon yg mengasuh Jjang sejak ia lahir, karna ibu Jjang yg sibuk dengan urusannya sendiri akhirnya Jjang tumbuh dengan kasih sayang Bongsoon dan Jjang sangat menyayangi Bongsoon.

Perhatian orangtua sangat minim dalam kisah dibuku ini, bayangkan Jjang yg seorang anak umur 5 tahun uda baca majalah dewasa dan ngerokok, minum alkohol. Gedeg parah aku bacanya.

Terus Bongsoon ini juga tipikal cewek yg polos lugu dan gampang dibodohi, mudah percaya dengan orang yg baru ia temui. Kisah cintanya selalu berakhir menyakitkan. Laki-laki yg ia temui pun uda keliatan abusive dan manipulative tapi tetep aja si Bongsoon ini mau. Kesellll pengen marah (╯°□°)╯︵ ┻━┻

Oiya Jarak antar chapter berdekatan, cuma 2-4 halaman.
Lalu kita seakan diajak keliling kota Seoul dengan deskripsi yg lumayan bagus untuk menggambarkan suasana kota itu pada tahun 1963.

Banyak pelajaran dan makna hidup yg bisa kita ambil dalam kisah Jjang yg menjadi saksi hidup Kak Bongsoon dalam buku ini. Cukup menyakitkan dan bikin sedih plus marah bacanya. Kalian yg penasaran langsung baca sendiri aja nanti kalo udah rilis ya!

So far for me is 4.5 of 5 stars to Kakakku, Bongsoon by Gong Ji-young
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book275 followers
February 17, 2023
Jjang adalah anak ketiga, dan sejak dia lahir dia diasuh dan ditemani oleh seorang anak perempuan bernama Bongsoon yang berumur 13 tahun. Oleh karena itu, Jjang lebih dekat dengan Bongsoon dan memanggilnya sebagai kakak.

Sebagaimana remaja yang bertumbuh, Bongsoon juga mengalami hal seperti ingin mencoba sesuatu dan jatuh cinta. Sampai suatu waktu ibunya Jjang kehilangan cincin. Bongsoon dituduh mengambilnya, dan dia pun pergi dari rumah. Jjang tentunya kehilangan sosok seorang kakak, bahkan ketika pengganti Bongsoon datang, rasanya berbeda.

Novel ini menggambarkan hidup seorang asisten rumah tangga lewat sudut pandang seorang anak kecil. Latar belakang waktunya adalah tahun 1960an. Saya merasa cara pandang Jjang menjadi dewasa sebelum waktunya. Di masa kanak-kanak, Jjang telah menyaksikan bagaimana Bongsoon harus bekerja, bertemu laki-laki, pergi dari rumah, hamil, menggurkan kandungan, lalu dipaksa kawin lagi. Bahkan karena pergaulan Bongsoon, Jjang mencoba merokok di usia lima tahun.

Kisah Bongsoon menggambarkan bagaimana seorang perempuan Korea di masa itu, yang tumbuh dalam kerasnya kehidupan, dan membuat seakan-akan kesialan tidak lepas darinya. Cukup page turner sampai halaman terakhir.
Profile Image for Lea Saurusrex.
604 reviews66 followers
March 4, 2022
J'ai un peu de mal à juger cette courte autobiographie, je l'avoue.

La plume de Gong Ji-young me ravit, comme dans Nos Jours Heureux et le travail de traduction est, une fois de plus, formidable.
La lecture en était d'autant plus intéressante après la mise en contexte apportée par celle de Kim Jiyoung, née en 1982 de Cho Nam-joo : j'ai eu l'impression d'avoir accès à un autre niveau de compréhension. (même si Ma très chère grande soeur se déroule dans les années 60)

L'histoire, quant à elle est un peu déroutante. Il y a quelque chose de beau et de tragique à lire ces souvenirs d'une Jiyoung très jeune (il m'a fallu faire preuve de suspension d'incrédulité : j'ai été déroutée de lire des souvenirs aussi précis et une compréhension du monde aussi fine de la part d'une enfant de quatre ans...), de la manière dont elle parle de cette grande soeur, avec nostalgie, amour, douceur...
Mais l'amertume vient teinter le récit à plusieurs reprises, et m'empêche de l'apprécier tout à fait. Pourtant, rien de plus que des réactions assez humaines, finalement. C'est peut-être ça qui est le plus dur à lire, au final.
Profile Image for Fra.
159 reviews142 followers
February 27, 2021
"Ripensando alla mia infanzia avevo l'impressione che, già a partire da quei giorni lontani, la mia vita fosse stata tracciata su una mappa. Una mappa sulla quale erano già indicati gli errori che avrei commesso, i dispiaceri che avrei provato, le indecisioni di cui mi sarei in seguito pentita: tutti i momenti cruciali della mia vita. Non era certo difficile da decifrare priva com'era di simboli astratti o codici segreti; eppure non avevo mai prestato attenzione a quella carta. Non immaginavo che nel corso della mia vita mi sarei spesso trovata a doverla consultare. Continuavo invece a condurre la vita di sempre, senza mai allontanarmi dal mio ambiente e dalle mie abitudini, convinta che, se l'avessi ignorata, avrebbe definitivamente smesso di esercitare la sua influenza su di me."
Profile Image for Manon「マノン」.
432 reviews89 followers
May 22, 2019
I keep thinking about this book again and again. I absolutely love Gong Jiyoung’s writing style and now I want to read all her books that have been translated!
Profile Image for Fathiyah.
128 reviews4 followers
December 31, 2022
Kisahnya sedih dan bikin kita kasihan sama bongsoon. Karakternya kuat. Review lengkapnya ada di ig @fatimuin atau yt Fathiyah M
Profile Image for Faisal Chairul.
272 reviews18 followers
January 7, 2024
Novel ini mengisahkan tentang seorang asisten rumah tangga berusia 18 tahun bernama Bongsoon dengan latar kota Seoul, Korea Selatan, pada dasawarsa 1980-an dari sudut pandang seorang anak berusia 5 tahun yang orangtuanya diperbantukan bernama Jjang. Secara umum, novel ini mengisahkan perjalanan pendewasaan Jjang yang didapatkan dari interaksinya dengan kedua orangtuanya dan dengan Bongsoon beserta kehidupan yang menyertainya. Alur novel ini bersifat mundur, dimulai dengan cerita Bongsoon di masa kini dari sudut pandang Jjang yang juga sudah dewasa. Bongsoon dikabarkan kembali kabur, seperti yang beberapa kali terjadi di masa lalu. Pengulikan masa lalu Bongsoon inilah yang kemudian menjadi latar cerita beralur mundur.

Bongsoon bukan hanya seorang asisten rumah tangga bagi Jjang, melainkan orang pertama yang menyaksikan kelahirannya, orang yang selalu hadir di sisi Jjang ketika merasa sedih dan kesepian, orang yang selalu menenangkan dirinya ketika menangis. Bagi Jjang, Bongsoon adalah sosok kakak, ibu, dan teman. Oleh karenanya, proses pendewasaan Jjang turut dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa yang dialami oleh Bongsoon.

Cerita di dalam novel ini menggambarkan pula kondisi sosial Korea Selatan, terutama pandangan terhadap perempuan (yang ideal). Bagaimana perempuan harus bersikap. Bagaimana posisi perempuan dalam pernikahan. Terkait poin tersebut, saya menangkap dua hal kontradiktif. Ibu Jjang, dalam dialog dengan ayah Jjang, diposisikan sebagai penentu kebijakan rumah tangga (kasus penentuan menikahkan Bongsoon atau tidak), namun di sisi lain, dalam dialognya dengan Bongsoon, menyarankan posisi perempuan hanya sebagai pihak yang pasif.

Bongsoon ditokohkan sebagai seorang yang mengalami rentetan peristiwa memilukan. Pernah ditelantarkan ibunya waktu kecil, pernah bekerja dengan seseorang namun tidak dibayar, pernah mengalami cinta monyet namun ditinggalkan. Bongsoon ditokohkan memiliki sifat yang baik, pantang menyerah, dan pekerja keras namun terlalu polos, namun tidak pernah belajar dari kesalahan. Hal itulah yang membuat Bongsoon seringkali mengambil keputusan-keputusan yang serigkali tidak logis.
Profile Image for Achandra.
217 reviews5 followers
December 31, 2023
akakku, Bongsoon merupakan cerita tentang pahitnya kehidupan seorang anak perempuan yg berusia sekitar 6/7 tahun yg mengalami kekerasan kemudian ditelantarkan. Dalam usianya yg belia dan hidup sebatang kara, Bongsoon dibawa oleh keluarga 'Jjang' untuk dijadikan pembantu.

Jjang merupakan anak perempuan bungsu dari keluarga yg cukup berada. Dan kita akan memahami bagaimana peliknya kehidupan Bongsoon lewat mata polos Jjang. Yap, novel ini akan menceritakan potongan-potongan kehidupan Bongsoon lewat sudut pandang Jjang yg berusia 5-7 tahun. Dari sudut pandang seorang anak kecil, tersimpan banyak kisah bittersweet tapi ada beberapa cerita yg terasa hangat di hatiku.

Ceritanya diawali ketika Jjang berusia 30an tahun dan ibunya menceritakan bagaimana kehidupan Bongsoon saat ini. Kemudian, Jjang mengingat kembali potongan-potongan kehidupannya bersama Bongsoon. Dia menyadari seberapa berpengaruh Bongsoon pada kehidupannya, hingga dia berpura-pura menjadi buruh pabrik meskipun lulusan universitas. Yg dia lakukan semata-mata hanya ingin merasakan bagaimana sulitnya kehidupan Bongsoon dan perempuan-perempuan lain yg tidak memiliki siapapun dan apapun untuk diandalkan. Karena bagi Jjang, Bongsoon merupakan ibu, teman, dan kakak perempuan.

Berlatar di Korea Selatan di tahun 1960an dimana Korsel masih menjadi negara dunia ketiga, dengan kondisi sosial pasca perang dan kesenjangan ekonomi yg tinggi. Sebenarnya kisah Bongsoon, seorang anak perempuan di usia belia, hidup menjadi pembantu, terjebak dengan tipu daya asmara, percaya pada satu atau dua sosok yg akan memberikan kehidupan lebih baik untuknya. Terjebak dalam trauma yg mempengaruhi hampir separuh kehidupannya. Kisah ini pun masih banyak ditemukan di Indonesia 💔

Semoga lewat tangan kita banyak Bongsoon-Bongsoon yg bisa menemukan kehidupan yg lebih baik 🤗
Profile Image for ND Ratna .
120 reviews
September 22, 2025
lama ga baca buku Korea, sekalinya baca la kok sad ending. ini baru pertama kalinya aku baca novel pakai sudut pandang anak balita si jjang yg msh under 7 tahun.

alurnya mundur maju cmn yg akur maju diksh perbedaan font tulisan jadi gampang ngikutinnya.

si bong soon ini diceritakan anak yatim piatu yg dirawat sama keluarganya jjang. saat miskin mereka sangat menghargai bongsoon soalnya dia ni jadi kek pembantu menurutku.

tapi pas ayahnya jjang pulg dr Amerika kemudian kerja d perusahaan dan jadi kaya malah berbeda memandang bongsoon.

dia pernah dituduh nyolong berlian ibu jjang dan ditelanjangi pdhal usianya belum genap 19 thn di depan kerabat jjang. kaburlah dia sama kekasihnya byungsik si penatu yg trnyata kasar dan sering mukulin bongsoon.

dia hamil tapi dipaksa aborsi. trs ibu jjang nyariin suami. bongsoon awalnya ga mau tapi krn d kejadian d restoran saat makan solomom, ketika calon suami yg usianya 33 taun ga bisa motong donkatsu dan dibantu bongsoon utk memotong nya jadi leleh jg hati cewek ni. menikahlah mereka lalu punya anak laki-laki yg diharapkan keluarga cowok.

sayangnya si cowok ini sbenarnya sakit2an krn TBC dan meninggal sbelum liat anaknya sendiri. yg lbh kasian lagi bongsoon ini dijauhi ibunya jjang pdhal nih ibu jg yg ngebet nyuruh bongsoon nikah.

ampe akhir hayat sedih kali idup bongsoon yg berganti pria namun slalu berakhir pilu. pdhal dia nih mimpinya sederhana cmn pngen hidup bersama, berbagi kasih syang selevel mencuci kaki suaminya saat pulg kerja, memasak makanan utk anak mereka. kek quote dalam buku ini.

"menyayangi seseorang itu berarti kamu tau bagaimana cara yang tepat menyayanginya".

dr kecil hidup terlunta-lunta, bhkan hingga 50 taun usianya jg msh terlunta-lunta.
si jjang sendiri wlau berkecukupan juga bercerai dgn suaminya. intinya nih novel ga ada seneng2nya, sedih semua.
Profile Image for Asteropsia.
3 reviews
June 15, 2024
Ma très chère grande sœur 봉순이 언니 👧
Gong Ji-young 공지영

Ce roman autobiographique retrace l'enfance de la petite Jjang-a 짱아 dans la Corée des années 60. Le pays subit alors le joug autoritaire du général Park Chung-hee qui impose une politique d'industrialisation massive en sacrifiant le peuple sur l'autel du développement. L'essor économique fulgurant apporte son lot de bouleversements : abandon des vieilles pratiques traditionnelles, occidentalisation des modes de vie, société de consommation...

La petite Jjang-a se souvient des vestiges de ce temps révolu où les enfants se régalaient de dalgona 달고나, jouaient au ddakji 딱지, lisaient les tout récents manhwa 만화. On écoutait les chansons pop de Patty Kim 패티김 et les ballades de Lee Mi-ja 이미자. Les jeunes filles découvrent la cigarette, le chocolat, les hamburger, les magazines à l'eau de rose, les permanentes bouclées et les talons hauts.

Mais celle qui transcende le roman de son sourire, c'est grande sœur Bongsun. La bonne sigmo 식모 qui réside dans la famille comme fille adoptive mais qui s'occupe des tâches ménagères. La pauvre Bongsun dont le destin s'acharne à assombrir sa triste existence et qui malgré sa gentillesse ne peut échapper à la déchéance des cœurs brisés.

Domesticité courante jusqu'aux années 70, les fillettes pauvres étaient confiées à des proches pour travailler jusqu'à leur mariage contre un salaire minime, le gîte et le couvert. "Celle qui cuisine" 밥해주는 사람 / 食母 n'a que peu d'avenir, loin des Cendrillon du cinéma qui la font tant rêver.

Roman émouvant, pétri de cette mélancolie han 한 douce-amère, c'est un récit d'humanité qui touche profondément le lecteur.
Displaying 1 - 30 of 65 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.