Offering new conceptual insights while remaining accessible to the general reader, Christopher Bollas explores what free association tells us about human consciousness and creativity.
Christopher Bollas, Ph.D. is a Member of the International Psychoanalytical Association and has been practicing for over fifty years. Former Director of Education at the Austen Riggs Center he was Visiting Professor of Psychoanalysis at the Institute of Child Neuropsychiatry of the University of Rome. He is a prolific author and international lecturer.
Bagi kita yang udah membaca karya karya Freud dan buku tentang Freud, asosiasi bebas bukan hal yang asing lagi. Asosiasi bebas salah satu buah pemikiran Freud dalam metodologi psikoanalisis. Dalam buku kecil berseri ini kita akan diajak untuk memahami metode Freud ini. Bagi para peminat awam yang ingin mempelajari metode Freud, buku ini sebenarnya kurang cocok, karena beberapa kosa kata yang digunakan, mungkin hanya dipahami oleh mereka yang berkecimpung dalam bidang Psikologi.
Metode Asosiasi bebas ini di cetuskan oleh Freud, setelah dia merasa metede Hipnosis yang digunakanya sebelumnya kurang begitu ampuh dalam menyembuhkan pasien Histeria (penyakit dalam psikoanalisis). Metode hipnosis ini secara garis besar membuat pasie berada dalam keadaan tidak sadar (tidur), lalu diberikan sugesti sugesti yang diharapkan berdampak pada penyembuhan si pasien. Berbeda dengan Hipnosis metode Asosiasi bebas dalam buku ini dijelaskan si terapis mempersilahkan pasien untuk mengutarakan segala sesuatu yang terlitas dalam pikiranya, dan si terapis menafsirkan pernyataan pernyataan si pasien. Unsur subjektifitas si terapis sangat di tekankan dalam asosiasi bebas.
Metode ini juga sering disebut sebagai metode "kereta api", karena si pasien diibaratkan naik kereta api, sewaktu naik kereta api pasien digambarkan melihat pemandangan di luar kereta, dan pemandangan itulah yang diceritakan kepada si terapis. Dalam metode asosiasi bebas ini terapis juga di tuntut untuk aktif memberikan pertanyaan dari ungkapan si pasien, pertanyaan terapis ini sifatnya bercabang artinya, dari satu pertanyaan akan disambung lagi dengan pertanyaan lainya.