To be in Love with You is to be in Love with Myself” is a collection of short reflections on life and love that has been published on Instagram @asihsimanis . The book is designed as a semi-picture book, inspired by the children’s book genre for adults. The writing and font size of the book are chosen purposively so that it can be read on the train as a bite-size piece. The writer hopes that readers could reflect on their own journey while reading this book
Hadiah termanis apa yang pernah kamu berikan kepada pasangan? Penulis menulis buku ini sebagai hadiah pernikahan bagi suaminya 🫠💖 #BRBmelelehdulu
'To Be in Love with You, is To Be in Love with Myself' adalah buku berisi kumpulan tulisan pendek Prasanti Widyasih Sarli (Asih) yang terbagi menjadi 2 bagian: 'On Life' dan 'On Love'. Tulisan-tulisannya pendek namun reflektif dan indah, ditulis seperti puisi, namun tetap on point. Misalnya, soal bagaimana kita sering merasa 'overwhelmed' dengan 'pekerjaan besar' yang kita lakukan, merasa tidak ada progress atau perubahan yang berarti. Padahal dengan menyelesaikan satu per satu yang ada depan mata secara perlahan, we're getting there. "Gradually, then suddenly."
Separuh buku tentang cinta, walau personal (dan UwU banget! 🫠💖), tetap mengajak kita untuk bertanya kembali, apakah dalam hubungan kita sudah tercermin rasa cinta kita terhadap diri sendiri juga?
Dengan ukuran yang mungil dan kurang dari 100 halaman, pengalaman membaca buku ini begitu menenangkan dan menyenangkan 🤗 Akan saya rekomendasikan untuk siapa saja dan cocok untuk memulai tahun yang baru 🤍
Bukunya kecil, pas di tas, dan ga bikin kamu males buat dibawa kemana-mana.
Tulisan-tulisan kak asih tentang hidup, makam, kehilangan, dan juga cinta membuat saya merefleksikan banyak hal. Bagaimana saya menjalaninya selama ini. Bagian favorit saya dalam buku ini adalah
𝙱𝚎 𝚝𝚑𝚊𝚝 𝚑𝚘𝚙𝚎. 𝙼𝚊𝚔𝚎 𝚝𝚑𝚊𝚝 𝚙𝚊𝚝𝚑. 𝙾𝚙𝚎𝚗 𝚝𝚑𝚎 𝚛𝚘𝚊𝚍.
Mungkin ini yang paling relate dengan diri saya saat ini. Dimana saya mencoba untuk lebih berani, percaya diri, dan berekspresi tentang diri saya, juga lebih berani untuk berkenalan dengan orang baru, memperkaya pengalaman dan ilmu pengetahuan, dan memberi kesempatan untuk murid-murid saya memperoleh pengalaman yang sebelumnya, yang bisa saya berikan adalah pengalaman ikut Olimpiade matematika. Sekarang anak-anak didik saya juga saya arahkan untuk aktif di bidang kemanusiaan seperti perdamaian global. Terima kasih kak Asih sudah menulis ini, ditunggu buku selanjutnya! 🥰
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sebenernya ya, buku dengan tulisan pendek-pendek gini, bukan yang biasanya kubaca.
Tapi untuk bukunya Bu Asih ini, aku bahkan rela ikut PO dan nunggu bukunya tiba. Beberapa tahun belakangan setia jadi pembaca igstoriesnya sih, udah cocok dan suka sama gaya nulisnya 😆
Bukunya pun keciiil, tipis, 98 halaman saja. Dengan ukuran gemas begini, kirain akan tamat dalam sekali duduk. Nyatanya, tulisan Bu Asih yang sederhana dan jujur, malah bikin betah berlama-lama merenung.
Banyak ruang kosong di setiap halamannya, seolah sengaja memberi kita jeda dari hikuk pikuk dunia.
Rasanya hangaaat sekali. Mungkin karena tulisan-tulisan di dalamnya memang dihadiahkan untuk seseorang. Ketulusannya terasa betul sampai ke hati 💜
nothing is more personal than writing a book for your loved one. simple prose to remind you about life and love. I had the opportunity to give this book to my loved one only to be sent back when the love's no longer there. to the one who I kept thinking about when he was in Andalusia, I hope you found your peace.
Penulis buku ini merupakan dosen saya ketika menempuh program sarjana. Saya ingat ketika itu merasa overwhelmed dengan beban akademik yang menumpuk dan tidak sengaja menemukan tulisan pendek di media sosial pribadinya berjudul Gradually then Suddenly, salah satu yang tersemat di dalam buku ini bersama tulisan lainnya yang juga pernah beliau unggah. Tulisan tersebut cukup sederhana, tapi sangat dalam dan hangat; merasa seperti dikuatkan olehnya di luar ruang kelas.
Melalui buku ini, kita perlahan-lahan diajak berkontemplasi mengenai hidup dan hubungan dengan orang yang dikasih, mengalir mengikuti alur ragam kata yang indah nan puitis, juga disuguhkan dengan ilustrasi yang menggemaskan. Sangat direkomendasikan terutama bagi yang suka membaca secara perlahan dan merasakan keindahan setiap momen saat ini.
Finally, I've had the chance to read this book. To be honest, I've always loved her writing, and as I suddenly found myself at the last page, I could understand why I'm drawn to her writing. She's been passionate about poetry since childhood, and it's no wonder her writing always feels so warm. I adore poetry, and her writing somehow introduces me to the kind of writing I aspire to create someday.
The book itself, as I mentioned, is incredibly warm and profoundly reflective — the kind of writing that makes you wonder how the author could perceive things in such a way. In the section on Life, it feels like someone is embracing me, prompting deeper contemplation of my own life. Meanwhile, the section on Love has taught me so much about love and relationships, leaving me hopeful that someday I'll experience such profound connections myself.
It's a short read, but I guarantee you won't feel it's too short, as it opens up many rooms for thought in our minds. Each page may contain fewer than 8 lines, but I love how it matches our mind's processing speed, allowing for a deeply immersive reading experience. It's a wonderful gift, not just for loved ones, but for everyone
Baca buku ini seperti catch up sama teman lama setelah enggak ketemu sekian tahun. It was written nicely and filled with warmth and genuine feelings, rasanya 'cukup' (enggak terlalu panjang, enggak terlalu pendek--yah, betul-betul seperti mengobrol dengan teman lama saja). A good reflection to start the year! Love the illustrations, sangat menghidupkan tulisan-tulisan di dalamnya. Hangat!
Buku ini saya temukan kala jalan² di area Cihapit dan saya selesaikan dalam sekali duduk. Alasan membelinya kala itu sesimpel temen yang bilang "ini penulisnya yang akun instagramnya pernah aku share ke kamu. Dosen ITB yang pernah kuliah di Jepang. Ini tuh buku aslinya souvenir pernikahannya lho", udah deh akhirnya beli, hingga menghantarkan saya untuk order buku kedua beliau.
Short, yet profoundly moving. Nothing beats a writer who writes for their loved ones, contohnya ya buku ini. Truly enjoyed reading your love story, Bu Asih. Its fascinating how you managed to let us see your world, your life, and how you fell in love with your husband and yourself through your eyes.