Ada tiga pria yang mencintai Mayumi; Shun yang tak terduga, Henry yang selalu membawa kebahagiaan, serta Satoshi, sang Penolong Misterius.
Semuanya berawal ketika Mayumi diadopsi keluarga Nakano dan tumbuh menjadi gadis cantik yang lincah dan cerdas. Lalu kebahagiaan Mayumi teempas saat seseorang yang dicintainya malah berusaha menodai. Sekalipun masih ada yang melindunginya, Mayumi memilih meninggalkan kediaman keluarga Nakano. Mayumi sangat yakin, ketabahan hatinya akan menuntun kembali pada kebahagiaan. Dia yakin, meski kerikil kehidupan selalu menghadang, luka dan perih dapat dibalutnya dengan doa. Hingga akhirnya waktu mempertemukan Mayumi dengan seorang mualaf pendiam yang cerdas.
Shun, Henry, dan Satoshi, siapakah diantara mereka yang menjadi belahan hati Mayumi? Bagaimana pula Mayumi mengelak dari upaya balas dendam yang selalu mengejarnya?
"Akatsuki adalah kisah cinta yang lembut dan syahdu antara Mayumi dan Satoshi. Dihiasi pencarian kebenaran Islam, eksotisme alam, dan budaya Jepang. Novel ini terlalu manis untuk dilewatkan." – Sinta Yudia, penulis The Road to Empire dan Reinkarnasi
"Novel dengan latar budaya Jepang ini mampu mengupas ihwal perilaku manusia, bukan hanya tentang percintaannya, tapi juga perjuangan untuk meraih ridha-Nya." – Titien Rostini, Ketua Jurusan Bahasa Jepang STBS Yapari-ABA Bandung.
"Kisah tentang gadis Jepang yang menjadi mualaf, inspiring! Penggambaran suasana Jepang-nya T.O.P. banget!" – Ratnasari, mahasiswa Shizuoka International School, Japan.
Miyazaki Ichigo adalah nama pena dari Muliyatun Nasyiah. Penulis kelahiran Lamongan, 5 Desember 1989 ini adalah anak kelima dari lima bersaudara pasangan Suparja dan Mutarbiyah.
Akatsuki merupakan novel pertamanya yang dibukukan. Sebelum ini, cerpennya yang berjudul "Karena Itu, Aku Wanita, Maksudku... Muslimah" menjadi juara I dalam Lomba Menulis Cerpen Islami se-Jawa Timur dalam acara BeSmart yang diadakan oleh Uswah Student Center (USC)pada tahun 2007. Cerpennya yang lain, "Lebih Baik Kau Diam" menjadi juara III dalam Lomba Menulis Kisah Islami yang diadakan oleh Muslimat Hidayatullah (Mushida) pada tahun 2008 dan dibukukan bersama karya finalis lainnya dalam buku kumpulan cerpen "Kutemukan Cinta dalam Tahajudku" terbitan Bina Ilmu Surabaya.
Kirain beneran orang Jepang yang nulis, tapi ternyata bukan. Haha...
Ide cerita dan isinya sebetulnya bagus. Lalu deskripsi tentang kehidupan, budaya, dan masyarakat Jepangnya juga keren. Suka dengan kutipan ayat Al-Quran yang disisipkan di buku. Selesai baca buku ini, entah kenapa bukan mikir kesimpulan dari bukunya malah mikir 'ini penulisnya pasti suka sama Naruto dan Bleach'.
Terlalu banyak kutipan lagu berbahasa Jepang di dalam buku ini justru menurunkan penilaian. Harusnya penulisnya buat kalimat sendiri aja lalu di terjemahkan ke dalam bahasa Jepang, jadi kutipan-kutipannya ga banjir begitu.
Satu lagi... agak terganggu dengan hubungan kakak beradiknya yang seperti kaya orang pacaran dibandingkan dengan hubungan saudara. Mana ada kakak manggil adiknya 'honey' walau sedekat apapun *garuk-garuk tembok* Terus kayanya gampang banget itu kakaknya peluk, cium, peluk, cium. Haduh... sama adik sendiri aja gak pernah begitu *ketawa guling-guling*
Mixed Feeling. Awalnya aliran narasi dan adegannya masih tenang dan bisa mengambil hatiku. Setidaknya terasa wajar. Semakin ke tengah dan mendekati akhir, pacenya jadi seperti terlalu dipaksakan.
Yang pertama. OK, ini buku soal Jepang yang ditulis oleh orang Indonesia. Sampai saat ini cuma Ghyna Amanda penulis Indonesia yang menurutku benar-benar berhasil menyajikan "rasa Jepang" di novel yang ia tulis (Hikikomori Chan). Sejujurnya karena setingnya di Tokyo dan lumayan mendetail di awal (Jalan Kasuga, Kota Tawara, Distrik Taito, Tokyo, lalu ada Sungai Sumida, etc) aku jadi tertarik membaca ini. Lumayan buat referensi. Tapi seperti novel-novel berseting Jepang yang ditulis oleh banyak orang penulis Indonesia lainnya (terutama teenlit), "rasa Jepang"nya jadi tertutupi oleh gejolak drama. Padahal, yang aku suka dari cerita-cerita Jepang adalah rasa "natural" dan atmosfer "sunyi lagi sendu".
Yang kedua. Ini cerita soal mualaf Jepang. Pastinya menarik buat sebagian besar orang Islam sepertiku dong. Tapi satu yang kutahu pasti dari membaca begitu banyak kisah mualaf. Nggak semudah itu orang non masuk Islam. Pasti melalui proses pencarian yang panjang, rasa penasaran, pertentangan hati yang begitu berliku, tantangan dari lingkungan, dan saat orang itu sudah masuk Islam pun gejolak itu biasanya tak berhenti. Baca saja kisah para mualaf seperti Cat Steven (Yusuf Islam), Yusha Evans, etc. Itu yang kurasa kurang dari kisah Mayumi.
Buat orang Jepang yang mengasingkan elemen agama dalam kehidupannya (hal yang kontradiktif karena budaya-budaya klasik mereka biasanya berkaitan erat dengan ritual keagamaan), Islam jelas barang asing. Apalagi pada tahun 2009 saat buku ini ditulis. Dari apa yang kubaca pada buku Hikari no Michi karya anggota FLP Jepang, pada tahun itu, jumlah orang Islam di Jepang meningkat jadi 50ribu. Tapi jumlah itu masih minoritas dan hasil dari statistik orang Islam yang berasal dari Timur Tengah. Masih sedikit orang Jepang yang tergerak untuk masuk Islam.
Sedangkan Mayumi di sini diceritakan terlalu mudah menerima berbagai penjelasan soal Islam. Awal ketertarikannya masih masuk akal sih, karena tertarik pada Satoshi, teman cowok misterius yang ternyata Islam. Tapi pada perkembangannya cerita ini kurang bisa menggambarkan perjalanan pencarian Mayumi terhadap Islam. Seperti yang kubilang tadi, dia terlalu mudah menerima. Padahal, biasanya orang non terutama orang Jepang yang sisi logikanya lebih dominan, mereka pasti mengajukan begitu banyak pertanyaan. Pertanyaan yang mungkin susah dijawab oleh orang-orang Islam awam. Aku pernah merasakannya saat berdialog dengan seorang teman FB dari Jepang soal "Isram". Ia bertanya soal perang besar (sepertinya merujuk pada perang Salib dan perang-perang turunannya di masa sekarang) yang sering melibatkan tiga agama besar: Kristen, Yahudi, Islam. Yang kemudian kujawab bahwa itu masalah politik. Dan bahwa kebudayaan Jepang sendiri sarat dengan unsur ritual agama. Dia lalu menjawab bahwa dia baru menyadari hal itu setelah berbicara denganku. Toh, akhirnya kami tak kontak lagi dan dia tak lagi mencari tahu soal Islam.
Kesalahan pada cerita ini menurutku adalah, pemikiran Mayumi terhadap Islam bukanlah pemikiran orang non yang awalnya begitu asing terhadap Islam. Itu adalah pemikiran dari penulis sendiri yang banyak diwarnai oleh semangat dakwah yang begitu menggebu. Itu semangat yang bagus. Tapi penerapannya jadi terlalu berlebihan dan jatuhnya jadi tidak wajar. Aku berharap Mayumi akan terus bertanya, mendebat soal hal-hal yang bahkan tidak terpikirkan oleh orang Islam sendiri. Karena itu yang kurasakan saat dulu pernah mencoba berdebat dan berdialog dengan beberapa orang atheis, agnostic, dan non. Dialog dengan mereka malah membuatku sadar betapa banyak yang belum kuketahui dan kupelajari soal agamaku sendiri. Karena kalau aku sudah cukup rajin menuntut ilmu harusnya aku bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.
OK. Melihat orang jadi mualaf bahkan di kisah fiksi pun selalu membuatku senang. Tapi aku akan lebih senang dan puas jika sang tokoh mengalami pencarian dan pemikiran yang begitu berliku sebelum hal itu terjadi. Tidak instan.
Aku sebenarnya penasaran juga dengan latar belakang Satoshi, Ayame, Bibi Izumi dan Paman Akira yang orang Jepang asli tapi menganut agama Islam. Itu ajaib. Biasanya orang Jepang masuk Islam karena pernikahan. Misalnya dengan orang Indonesia atau orang Timur-Tengah. Latar belakang Islamnya keluarga ini seharusnya menarik untuk digali.
Yang ketiga. Karakter Mayumi paling kentara ketidakkonsistenannya. Dia terlalu banyak menanggung beban moral dari penulis. Mayumi itu cengeng, penasaran, ceroboh, kekanakan sekaligus menyegarkan seperti remaja pada umumnya. Tapi saat diserang preman bersama temannya tiba-tiba ia jadi menguasai karate! Ability ajaib yang tiba-tiba saja disummon di saat genting. Padahal, latihan ke dojo pun Mayumi tidak pernah. Adegan ini juga maksa. Karena dibuat seolah hanya agar Mayumi terluka lalu ditolong Satoshi. ERGH!
Yang Keempat. Aliran adegan "dramatis" yang terasa canggung juga menghantui plot cerita ini. Misalnya adegan pertemuan Mayumi dengan Henry . Kalau diruntut proses pencarian Henry harusnya nggak bisa disingkat segampang itu lho. Tapi apalah artinya protes pembaca. Demi drama, plot pun dipercepat.
Adegan ketika kemudian Mayumi mengetahui jati dirinya dan keluarga Nakano. Itu juga tiba-tiba. Apalagi waktu karakter Shun yang tadinya digambarkan sebagai seorang kakak yang sungguh perhatian dan mendadak berubah drastis jadi psikopat. YA SALAM! Tolong, siapa pun bawakan aku remote. Aku mau menekan tombol "slow" biar bisa bernapas.
Apalagi adegan ketika Henry akhirnya mengikuti Mayumi . Itu juga nggak jelas. Henry lalu digambarkan mabuk, muntah, . Begini, nggak semua orang non itu punya kehidupan yang nggak sehat lho! Bahkan ada juga yang hidupnya terlihat lebih teratur daripada beberapa orang Islam. Kenapa sih, kisah-kisah Islam semacam ini suka memperlihatkan sisi buruk dari orang non? Hey! Terlalu typical. Buat plot yang lebih menantang dong (dan ini peringatan keras buat diriku sendiri yang sedang mencoba mengonsep kisah serupa. HIIIKS).
Moodku membaik lagi saat kisah ini mendekati akhir. Yaitu ketika Mayumi akhirnya mendapatkan adegan romantis! ARGH! Aku merasa sangat cewek ketika terkikik-kikik membaca adegan konyol Mayumi dan suaminya. Meskipun, adegan ini pun disela oleh "plot drama maksa" dengan tertembaknya sang suami karena ulah orang yang mengganggu Mayumi di masa lalu. HERGH...
Lalu habis itu baca adegan-adegan romantis lagi dan... nyengir lagi deh. Ya udah gak tegalah aku cuma mau ngasih dua bintang doang (DASAR!)
Ada dua hal lagi yang kusoroti di sini. Sisipan-sisipan kalimat Jepang yang terlalu banyak ternyata mengganggu ya (meski yah bisa dibuat belajar). Soalnya sastra Jepang terjemahan malah disajikan full Indonesia dan justru karena itu keindahannya didapat lho. Yang paling bikin "ngik" adalah, kutipan-kutipan bahasa Jepang itu seringnya diambil dari lagu-lagu anime! BUANYAK PULA. Alarm "wibu-wibu-wibu" langsung berdering keras di kepalaku. Oke. Aku akan mengurangi sisipan bahasa Jepang di novel yang sedang kutulis. OTL
Yang terakhir adalah... sisipan keterangan budaya dan lokasi yang menurutku seperti dipindahkan secara kasar dari referensi. Jadinya kurang masuk menjadi elemen yang menyatu ke dalam cerita. Ah... susahnya bikin cerita dengan seting Jepang :(
Well, banyak yang bisa kupelajari dari kekurangan novel ini. Setidaknya Mayumi memang pantas jadi heroine di cerita ini, karena berkat adegan romantisnya bersama sang suami dadakan aku jadi mengerem diriku untuk menjelekkan-jelekkan novel ini >< *Maafkan aku penulis. Kalau Anda menulis novel soal Jepang lagi, kuharap sudah lebih bagus dari novel jadul tahun 2009 ini. *bow*
Judul Buku : Akatsuki No. ISBN : 9786028236423 Penulis : Miyaki Ichigo Penerbit : Mizania Tanggal terbit: November - 2009 Jumlah Halaman: 304 halaman
Akatsuki adalah salah satu novel yang sangat mengesankan bagi saya karena di dalam novel ini menceritakan tentang seorang gadis bernama Mayumi. Dia adalah gadis yang sangat cantik dan cerdas.Dia juga sangat ramah kepada siapa saja yang ditemuinya.Semua itu bagaikan sirna ketika seseorang yang sangat ia sayangi berniat menodainya.Akhirnya, dia lebih memilih meninggalkan keluarga Nakano, daripada dia tetap tinggal disana. Disaat Mayumi terpuruk, bertemulah dia dengan seseorang yang bernama Sathosi. Setelah dia mengenal seorang Sathosi dia sangat terkesan dengan agama yang dianut oleh Sathosi beserta keluarganya. Kakak Sathosi juga sangat kuat ibadahnya, sehingga menambah keinginan Mayumi untuk memeluk agama Islam yang dianut oleh keluarga Sathosi. Akhirnya, Mayumipun masuk agama Islam dengan tekad yang sangat kuat. Dia pun banyak belajar tentang agama Islam dari keluarga Sathosi. Diakhir cerita, Mayumi menikah dengan Sathosi laki-laki yang sangat dia idam-idamkan dan mempunyai keluarga kecil yang bahagia dan menjalani hidup barunya di kota yang dekat dengan tempat Sathosi kuliah. Di dalam novel ini pula dihiasi pencarian kebenaran Islam, eksotisme alam, dan budaya Jepang yang dapat kita ketahui.
KELEBIHAN: Dengan membaca novel ini kita dapat mngetahui perjuangan seorang gadis yang tidak mempunyai agama yang menjadi seorang muallaf dan novel ini juga dapat dibaca oleh berbagai umur karena bahasanya mudah dipahami dan terdapat pula bahasa Jepang yang membantu kita untuk bisa belajar bahasa dan budaya yang ada di Jepang. KEKURANGAN: Mungkin akan sulit jika yang membacanya orang yang lanjut usia karena terdapat bahasa Jepangnya.
Akhirnya selesai baca juga setelah lama tertunda. Belinya di Sekatenan Buku 2013, dapat yang kover lama terbitan Mizania.
Jujur saja, saya melakukan banyak skimming dan skipping selama membaca buku ini. Prafrase-parafrasenya yang seperti copas-langsung-dari-sumber itu sangat menganggu. Saya juga gak baca kutipan-kutipan lagu yang nyelip dalam berbagai suasana di sepanjang cerita. Nyaris semuanya lagu anime. Agak kurang cocok, menurut saya. Mungkin lebih pantas pakai lagu-lagu ballad penyanyi pop Jepang, atau lagu-lagu dorama.
Ceritanya menarik, dengan ide cerita yang gak biasa. Pembawaannya juga asyik meski di beberapa kesempatan terkesan "manga banget" (mungkin ini efek bacaan penulis, ya? Tapi Winna Efendi dan Prisca Primasari gak sampai begitu tuh). Ekspetasi saya memang terbanting, tapi saya cukup mengapresiasi. Gak banyak lho novel agak-manga yang mengangkat tema religius seperti ini.
Gaya bicara Henry yang honey-honey-an itu agak mengganggu. Baru kali ini saya tahu seorang kakak manggil adiknya dengan "honey".
Sifat dingin Satoshi juga agak maksa, karena di bayangan saya dia gak sedingin itu. Hanya kalem dan gak banyak bicara. Awal-awalnya dia emang nyebelin, tapi ada beberapa bagian di akhir yang bikin saya pengin ber-"kyaa kyaa" ria.
Novel ini mengingatkan saya pada naskah cerita novel-agak-manga yang saya tulis waktu SD dulu. Lumayanlah buat nostalgia.
Satosi<3 Kebetulan aku juga suka yang berbau Jepang, makanya aku beli buku ini. Aku suka setiap informasi yang diberikan di setiap ceritanya. Seperti benar- benar ada di Jepang. Ada beberapa yang deskripsinya terlalu berpanjang- panjang dan biasa emang. Tadinya mau kasih tiga bintang. eh aku inget satoshi sama henry<3 Satu bintangnya lagi buat mereka:))
Secara keseluruhan ini kayak cerita-cerita novel pada umumnya. Ada orang, ketemu, suka, baper, konflik (tergantung novelnya), solusi dari penulis, tamat. Jadi yang paling menarik bukan ceritanya, tapi tokohnya. Seorang muslim yang bener-bener memperaktikan kemuslimannya. Bukan karena untuk dilihat orang, tapi karena memang dia yakin sama yang dia lakuin. Sampai lewat kejujuran inilah, orang lain bisa jadi dapet petunjuk.
Baca buku ini pas SMA sih dan terkejut kirain bakal romance comedy gitu, ternyata.... isi bukunya dalem banget dan ngajarin banyak hal terutama tentang rasa percaya (sama Agama) 😭 Thanks to my sister whi recommend me this book 🥰
Demi wortel! Ini novel favorite banget! Kenapa? Temanya itu romance yang dimix sama kesan religi, belum lagi nuansanya jepang. >< perpaduan yang komplit menurutku. Terlebih, nggak pernah berhenti mengagumi seorang lelaki tampan nan sholeh, Satoshi. Sampe mikir, apa ada sesosok lelaki seperti dia? Haha. Pokoknya, yang belum baca ini cus dibaca. Dijamin bakal suka ><
akatsuki menceritakan tentang gadis remaja bernama mayumi yang dibesarkan oleh keluarga nakano. setelah besar dan menjadi gadis yang cantik, pintar dan cerdas mayumi banyak pria yang menyukainya. mulai dari sodaranya sendiri shun sampai satoshi yang akhirnya menjadi suaminya. kisah cinta yang manis dan romantis menjadi suguhan dalam novel ini. saya sendiri menilai novel ini seperti bundel komik yang panjang karena cara bertutur dan penokohannya yang serta penggambran setting yang seperti dalam komik.
Sebenarnya menurutku banyak bagian-bagian yang bisa dipotong karena gak ada efek juga buat ceritanya. Udah gitu ada beberapa penjabaran yang gak terlalu penting, tapi dijelasin panjang lebar. Aku berasa kayak lagi baca buku pelajaran. Dan cukup membosankan.
Interaksi antar kakak-beradik ini juga lebay. Dialog-dialognya gak wajar. Aku risih dengan honey-honey-an mereka :v
Terus, di novel ini kebanyakan lirik lagu Jepangnya. Di awal-awal masih kubaca, tapi makin kebelakang makin capek, akhirnya aku skip-skip aja deh.
Tapi jejepangannya cukup terasa sih. Jadi, 3 bintang aja.
Novel jaman sma nih!!! Jujur waktu baca sinopsinya langsung captivated!!~ penulis membuat pembacanya penasaran dengan ceritanya~ makin dibaca makin ingin tahu apalagi gaya penulisannya yang menarik, simple tapi membuat para pembacanya ketagihan!!! Arrghhh novel islami pertama yang membuat saya langsung jatuh cinta! Worth-reading, really recommended!!!
Cinta seorang gadis Jepang kepada mualaf, teman sekelasnya, yang panjang dan berliku yang mengantarkannya ke dalam keIslaman dengan akhir bahagia. Cinta Hatake Mayumi untuk Kagawa Satoshi, dan cinta Kagawa Satoshi untuk Hatake Mayumi.
Saya suka banget novel ini, suka banget banget. Jatuh cinta pada tokoh Satoshi. Yaudah itu aja.
Sebenarnya saya suka dengan cerita cinta novel Islami semacam ini, tapi entah mengapa saya kurang suka buat yang satu ini, mungkin ini masalah selera ya.
Btw insert lirik lagu Jejepangannya di beberapa bagian novel agak mengganggu, terlalu banyak, meskipun pas banget sama adegannya.
Wow, i just finished the book. In my opinion, this is the-must-read-book. Well, it's predictable, but I love the way she brought us sink in her story and the quote from Alquran. I love it!
woow, novel ini benar-benar lembut dan menyentuh, teman2 saya sampai menangis saat membacanya,dan penggambaran tokoh dan latar tempatnya sampai membekas di benak saya hingga 4 hari hahahaha