Jump to ratings and reviews
Rate this book

Jalur Gaza, Tanah Terjanji, Intifada dan Pembersihan Etnis

Rate this book
Agresi Israel di Jalur Gaza menyisakan penderitaan rakyat Palestina, terutama anak-anak, kaum perempuan, dan orang tua. Serangan roket Hamas yang tidak akurat dibalas Israel dengan "kembang api kematian", timbullah penderitaan, kehancuran, kematian ! Apakah ini merupakan upaya membasmi kelompok Hamas ataukah bertujuan pembersihan etnis ? Ataukah hendak mempertunjukkan superioritas Israel terhadap Palestina ? Keganasan Israel selama 22 hari pada Januari 2009 telah menewaskan 1.300 orang dan ribuan lainnya luka-luka.

Melalui buku ini pembaca akan memperoleh gambaran dengan jelas mengenai konflik Israel dan Palestina. Berawal dari Mesir, negeri yang kaya akan sejarah. Kemudian sejarah Gaza yang menjadi topik penting, kemakmuran tanah terjanji, termasuk kota Jabaliya; bumi yang melahirkan gerakan Intifada. Serta berbagai peristiwa yang terkait dalam upaya perdamaian di Timur Tengah.

326 pages, Paperback

First published August 1, 2009

6 people are currently reading
114 people want to read

About the author

Trias Kuncahyono

10 books6 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
9 (20%)
4 stars
17 (37%)
3 stars
15 (33%)
2 stars
2 (4%)
1 star
2 (4%)
Displaying 1 - 10 of 10 reviews
Profile Image for Afifah.
Author 62 books222 followers
July 15, 2010
Laporan jurnalistiknya sih oke banget... salut deh sama Pak Trias Kuncahyono yang bersama wartawan lain telah berhasil menembus Gaza dan membagi2 oleh2nya dalam bentuk buku.
Tapi, saya merasakan kurang greget dan kurang semangat yang muncul dalam buku ini.
Profile Image for Indira Iljas.
206 reviews10 followers
May 16, 2015
emang sudah lama sekali pengen tau secara mendalam tentang konflik si gaza yg rasanya gak ada habisnya. kebanyakan dpt info yg kurang netral. sptnya sy tdk salah ketika memutuskan membeli buku ini..... baru bab 1 sy membacanya dan sy pun terpikat oleh penulisannya......
Profile Image for Rheza Ardi.
32 reviews1 follower
October 14, 2018
Biasanya, saya melanggan sebuah rubrik di harian Kompas hari Minggu. Namanya Kredensial. Penulisnya Trias Kuncahyono, Wakil Pemimpin Redaksi Koran Kompas. Sesuai dengan judul rubrik itu (yang berarti surat kepercayaan diplomatik), isinya selalu tentang isu hubungan internasional. Pak Trias biasa menyitir sebuah kisah dari masa lalu, kemudian menautkannya dengan peristiwa terkini dalam sebuah garis penghubung. Saya selalu kagum dengan rentang bacaan penulis, yang tercermin dari gagasannya. Pasti dia pelahap buku yang rakus. Sayangnya, rubrik itu sudah tidak ada lagi sejak sekitar dua bulan lalu. Entah kenapa. Mungkin Pak Trias harus fokus ke pekerjaan manajerial di ruang redaksi.

Jejak kepakaran Trias di bidang hubungan internasional, bisa ditarik dari tahun 1983, sejak ia jadi sarjana jurusan HI UGM. Sampai sekarang, buku-buku tentang relasi antarnegara masih ditulisnya. Misalnya, awal tahun 2018 ini dirilis buku Turki: Revolusi Tak Pernah Henti. Saya tertarik buat baca, tapi menahan diri sebelum tamatkan dulu buku Trias lain yang sudah lebih dulu dibeli. Yang pertama, judulnya Jalur Gaza: Tanah Terjanji, Intifada, dan Pembersihan Etnis.

Jalur Gaza ini buku keenam yang ditulis Trias. Pijakan penulisannya, berdasarkan perjalanan jurnalistik ke Palestina pada akhir tahun 2008 hingga awal Januari 2009. Ketika itu, Israel sedang gencar menyerang wilayah Gaza Palestina. Kisah dalam buku ini, dimulai dari perjalanan Trias dan rekannya Mustafa Abd Rahman ke kota El Arish di perbatasan Mesir dan Palestina. Dari sana mereka bertemu banyak orang yang menggambarkan suasana invasi Jalur Gaza oleh Israel. Kesengsaraan itu, kemudian dilengkapi dengan konteks konflik Palestina-Israel. Sejak era prasejarah.

Informasi tentang sejarah Gaza, ditulis Trias dari banyak literatur. Untuk satu informasi pun tak jarang ia menyertakan lebih dari satu sumber. Misalnya soal sejarah nama Gaza. Di halaman 115 dituliskan bahwa menurut Zev Vilnay, berasal dari bahasa arab Gazza, yang artinya kuat. Menurut Mariam Shahin, Gaza berasal dari Ghazzat, sebutan orang Mesir Kuno bermakna “kota yang paling berharga”.

Seperti halnya tulisan di rubrik Kredensial, buku ini juga menampilkan ciri khas Trias, yang menghadirkan informasi dari masa lalu. Sejauh yang ia bisa telusuri. Data itulah yang kemudian diaktualisasi. Sebut saja paparan tentang kisah Samson dan Delilah dari kitab Hakim-hakim Bab 16. Di halaman 114, disebutkan bahwa superioritas Samson itulah yang jadi salah satu pendorong orang Israel memerangi bangsa Filistin. Belakangan, melalui halaman 116 kita akan tahu bahwa bangsa Filistin yang dikisahkan musuh Samson, sebetulnya satu dari sejumlah suku bangsa yang mendiami daerah pesisir—yang kemudian diberi nama Pleshet oleh orang Yunani.

“Akibat selalu diperebutkan dan dijajah, komposisi penduduk Gaza dan wilayah Yudea selalu berubah-ubah, tergantung siapa yang berkuasa di kota dan wilayah itu. Para penguasa di wilayah itu juga tidak segan-segan mengusir penduduk asli dan mengganti nama wilayah itu.” (hal. 117)

Lantas apa yang ditawarkan penulis terhadap konflik di wilayah Gaza? Trias menuliskan bahwa perlu ada pro-eksistensi. “Israel dan Palestina tak harus sepakat tentang masa lalu, tetapi keduanya harus sepakat tentang masa depan yang adil dan damai. Keduanya harus mengakui eksistensi masing-masing sebagai negara berdaulat.” (hal. 296) []
Profile Image for Arief Bakhtiar D..
134 reviews82 followers
March 8, 2016
NARASI

SEPERTI puisi atau slogan, cerita adalah bagian dari komunikasi dan aksi. Atau yang paling mengerikan, ia bisa ambil peran dalam balas dendam dan pembunuhan.

Dalam Quran yang populer adalah kisah Habil & Qabil. Dalam Kitab Hakim-Hakim, kita membaca Samson & Delilah.

Samson, dengan otot kuat dan kokoh, dengan badan gempal, dengan rambut panjang yang tak pernah dipotong sejak lahir, bukanlah tandingan bagi siapa pun. Diceritakan bahwa ia bisa mencabik-cabik singa jantan muda tanpa senjata dengan mudah. Ia bisa membongkar pintu gerbang Gaza yang besar, dan membawanya mendaki ke bukit Tell al-Muntar. Saya, kita, tak pernah tahu asal-usulnya. Tapi ia hidup di Gaza, dan dalam suatu risalah disebut-sebut tokoh pembebas bangsanya dari penindasan orang-orang Filistin.

Orang-orang Filistin ─ya, orang-orang itulah, yang saat ini dipercaya sebagai orang-orang Palestina, yang dianggap sebagai penindas para keturunan Yakub. Dalam kitab itu, Samson dan segala kekuatannya adalah bahaya besar para elit Filistin. Maka kita kemudian tahu cinta Samson kepada Delilah, seorang gadis Filistin yang diutus menjebak Samson. Pada suatu kesempatan, seperti galibnya lelaki yang takluk dan sepenuhnya percaya di tangan wanita, Samson berbicara mengenai kekuatannya, rahasia terbesarnya, seperti tertulis dalam Kitab Hakim-Hakim Bab 16: “Rambutku tak pernah dicukur karena aku seorang nazir Yahweh, aku dikuduskan bagi Yahweh sejak masih dalam kandungan ibu. Maka, apabila rambutku dicukur, aku akan kehilangan kekuatanku dan akan menjadi lemah seperti orang lain.”

Dari pengetahuan itu Delilah segera melakukan aksi: ia meminta Samson tidur di pangkuannya, dan tak teramat lama setelah Samson tertidur, seseorang memotong tujuh helai rambutnya.

Demikianlah orang-orang Filistin menjebak Samson, memenjara, mencungkil mata, dan menaruhnya di suatu gedung di antara dua tiang raksasa. Ia menjadi tontonan, bahan tertawaan. Ia barangkali tak percaya lagi cinta. Tapi dalam tragedi itu Samson tak ingin menjadi korban seorang diri. Dengan bantuan seorang anak ia menyentuh tiang raksasa. Dan betapa muskil untuk meruntuhkan gedung, tapi Yahweh memberkati Samson buat terakhir kali: tiang itu digoyangnya keras-keras dan gedung itu runtuh. Samson memang mati, tapi riwayatnya terhenti bersama orang-orang Filistin yang ada di dalam gedung ─sesuatu yang untuk itulah ia hidup: menghancurkan penindasan bangsa Filistin.

Mungkin dengan cerita itu pandangan orang-orang Yahudi saat ini terbentuk, saat kita melihat radikalisme dan ekstrimisme di Palestina. Saya tak tahu benar keterkaitan darah orang-orang Filistin dalam cerita Samson dan orang-orang yang kini hidup di JalurGaza, atau Tepi Barat, atau Yerusalem. Tapi keterpautan, dalam kitab itu dan kisahnya dengan masa kini, bisa jadi pada mulanya masalah tafsir. Tafsir sang aku adalah perspektif, atau lebih tepatnya seleksi, terhadap “realitas”.

Sejarah menyusun peta waktu, membacakan hidup dan dunia pada manusia. Tapi kapasitas manusia, melalui kisah, alam, benda-benda, puisi, sudah sejak lama tidak mustahil untuk melahirkan penindasan. Kisah jadi hidup, jadi semangat untuk berbicara, berdaya, dan bertindak lebih banyak. Di situ ada kekuatan yang saling mempengaruhi bersama, seperti telah saya sebut di atas, seleksi sang aku terhadap “realitas”. Di sinilah kita dapat sepakat ada “narasi” dalam definisi Lukács saat ia bicara mengenai sastra: obyek jadi hidup sepanjang terpaut dengan kenyataan.

Kekuatan “berdaya” dari kisah itu, atau sastra sebagai bagian umumnya, yang agaknya membantu kita menjelaskan kekhususan ketakutan Mao pada drama. Seperti kita tahu, Mao membatasi, sebagaimana dalam hal tata kesadaran dan tingkah laku rakyat Cina, praktek-praktek seni dan sastra. Di awal-awal Revolusi Kebudayaan, bulan April 1963, Mao resmi melarang semua drama hantu. Genre hantu ini punya ciri yang khas: ia biasanya mengingatkan akan cerita-cerita “pembalasan dendam oleh roh-roh korban terhadap orang yang membunuh mereka”. Hantu-hantu penuntut balas itu yang mungkin dibayangkan Mao sebagai “musuh kelas” yang dibunuh karena perintahnya.Paradramawan pun disebut “pejabat borjuis reaksioner” –kategori baru “musuh kelas”.

Sebelum itu, dalam diri Marx ─yang dikagumi diantaranya oleh Mao sejak menjadi pustawakan, dan pikirannya menjadi salah satu kekuatan paling penting di abad 20─, ada pengaruh-pengaruh dari lakon Prometheus Dibelenggu karya Aeschylus. Di tahun 1841, saat itu ia 23 tahun, Marx mengutipnya dengan cukup serius dalam naskah disertasi doktoralnya. Kita tahu mitologi itu: Prometheus, makhluk setengah manusia setengah dewa, mencuri api dari Zeus, yang disebutnya “Bapa”, di Olympus. Api itu diberikan kepada manusia. Dan Prometheus pun dibelenggu di batu karang, dihukum dengan elang besar yang merenggut dan mencabik-cabik hatinya, yang selalu tumbuh kembali, berulang kali.

Dalam lakon itu Marx percaya Prometheus adalah simbol “martir paling mulia dalam sejarah filsafat”, memperoleh keyakinannya akan posisi manusia sebagai pusat dan pembangun dunia, “individu-individu yang hidup”.

Kisah-kisah, atau lakon, memungkinkan manusia memiliki ide, dan yang lampau punya integrasi dengan masa kini. Kisah menjadi bagian dari praxis, bagian dari semangat pembebasan dari sesuatu yang mengancam, sekaligus bagian dari kekejaman terbesar yang pernah ada. Delilah, atau hantu-hantu, atau Prometheus ─mereka mengitari kita, merasuki.
Profile Image for Ayu Novita.
79 reviews1 follower
May 11, 2017
dari buku ini, saya bisa belajar bagaimana cara menulis kisah non-fiksi dengan rasa fiksi yang diperkaya dengan sumber-sumber lain.

cover both sidenya oke!
3 reviews
April 5, 2011
Nasib Jalur Gaza sejak semula ditentukan oleh letak geografisnya. Posisi Jalur Gaza yang bagaikan "sandwich" terapit antara laut dan rute perdagangan Utara Timur Tengah, Asia, Afrika, dan Eropa. Membuat wilayah Gaza selalu menjadi rebutan para penguasa dari dahulu kala.

Itulah sepenggal cerita singkat tentang Gaza. Kota penuh kontrofersi yang selalu direbutkan oleh penguasa-penguasa dunia. Hingga saat inipun Gaza tak luput dari perebutan kekuasaan atas Gaza oleh Palestina-Israel.

Buku ini menceritakan tentang kisah-kisah keseharian yang disaksikan, didengar, dirasakan oleh penulis dalam perjalanan dan selama di Jalur Gaza. Buku ini bagaikan laporan perjalanan penulis yang ditulis secara rapi dalam bentuk cerita yang memukau. Buku karangan Trias Kuncahyono ini bercerita tentang manusia yang berusaha mempertahankan hidupnya dan mencoba membangun kehidupan yang aman dan bercerita tentang manusia yang mengumbar nafsunya untuk berkuasa dan menindas pihak lain.

Buku Jalur Gaza ini sangatlah layak dikonsumsi oleh masyarakat. Bobot bacaan yang dituliskan sangat tinggi, mengungkap sebagian kejadian apa adanya tentang Gaza, ratapan rakyat Palestina dan kerakusan Israel.
Buku ini juga diperkaya oleh buku-buku, koran-koran, dan majalah-majalah akan sejarah Gaza dan konflik Palestina-Israel (negri yang kaya akan sejarah, Mesir).

"Tak ada gading yang tak retak". Itulah ungkapan yang cocok untuk buku ini. Walaupun buku ini mempunyai bobot yang tinggi dan kaya akan sejarah. Tetapi masih mempunyai kekurangan yaitu bahasanya terlalu berbelit-belit, sehingga untuk pembaca yang awam akan sejarah sulit untuk memahaminya.
Profile Image for Nazmi Yaakub.
Author 10 books279 followers
August 8, 2010
Jalur Gaza, Tanah Terjanji, Intifada dan Pembersihan Etnis merakam Gaza dalam latar serangan ganas regim Israel pada akhir 2008 dan awal 2009. Wartawan Kompas ini bersama-sama dengan Koresponden Kompas di Kaherah, melihat Gaza yang digerogoti oleh regim Zionis pasca serangan itu.

Sebagai seorang wartawan, memang seboleh-bolehnya cuba menguburkan emosi di sebalik timbunan dan runtuhan fakta dan berita - tetapi tidak ada manusia yang bisa melemparkan naluri kemanusiaannya apabila menulis tentang Gaza. Tidak juga Trias Kuncahyono.

Memang Trias banyak menimbunkan sejarah keruntuhan di bumi Palestin yang timbunan kerosakan bangsa dan kerajaan bertompok-tompok di wilayah terdera itu. Mungkin kerana banyak timbunan sejarah itulah, kita sedikit terganggu untuk menyusur penderitaan umat Palestin itu.

Bagaimanapun, Jalur Gaza, Tanah Terjanji, Intifada dan Pembersihan Etnis ini wajar dijadikan teladan oleh wartawan tanah air dalam menyambung tulisan mereka di akhbar atau majalah kepada buku yang lebih kekal sifatnya.
Profile Image for heri.
288 reviews
June 29, 2013
cukup detail menceritakan agresi militer israel ke jalur gaza pada bulan desember 2008 hingga januari 2009. termasuk bagaimana kondisi daerah yang terkena agresi tersebut..
Displaying 1 - 10 of 10 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.