Buku : Dengan Pujian Bukan Kemarahan ~Rahasia Pendidikan dari Jepang~ Tebal : 295 + XVIII
Buku ini berisi kumpulan pengalaman mendidik anak penulis selama di Jepang, khususnya di Provinsi Kanagawa. Terdiri atas Prolog, Tiga Bab dan Epilog.
PROLOG : [kutipan :] "...Buku ini adalah catatan pembelajaran saya selama membesarkan anak-anak di Kampung Shirahata, Kanagawa, Jepang. Di sebuah masa yang berjarak60-an tahun dari setting cerita Toto-chan. Tentu banyak yang berubah dan berbeda. Idealisme dan keindahan yang memukau di SD Tomoe, tak semua bisa saya temukan di sini, namun sedikit banyak masih tetap ada yang tersisa, yang sayang untuk saya lewatkan begitu saja.
Saya bukalah seorang ibu yang sempurna. Bukan super okaasan yang selalu sabar melap semua tumpahan, telaten menjawab pertanyaan anak-anak yang seperti tak ada habisnya, selalu bersamangat merancang pendidikan anak-anak. Saya adalah seorang ibu seperti layaknya ibu-ibu lainnya, yang mengalami pasang-surut semangat dalam menjalankan tugas sebagai ibu. Meskipun begitu, saya bertekad untuk terus belajar, berharap bisa meneladani kepala sekolah SD Tomoe, Pak Kobayashi, yang dikenang anak-anak muridnya seperti Toto-chan."
Tanggapan pembaca :
Salam kenal. Saya Ria, ibu dari 2 anak putra dan putri yang sudah cukup besar (12 tahun dan 20 tahun). Saya membaca buku yang ibu tulis. Sangat banyak pelajaran yang saya dapat dari tulisan ibu tersebut. Walaupun anak-anak sudah cukup besar, rasanya sudah terlambat untuk mengikuti jejak ibu. :-)
Sebenarnya yang menemukan buku di Gramedia adalah anak saya yg besar (laki-laki), karena dia tahu saya gemar membaca buku-buku dengan tema seperti itu. Lagi pula, saat ini dia adalah mahasiswa di sastra Jepang UI, jadi judul tulisan Jepang di buku itu tentu segera membuatnya tertarik. :-)
Tulisan ibu sangat enak dibaca. Tidak terlalu banyak teori muluk. Sangat menyentil kesalahan-kesalahan diri saya sendiri, sehingga saya bertekad untuk merubah mindset saya.
Terima kasih telah berbagi inspirasi ya. Apakah ibu menulis buku yang lain? Saya menyukai gaya bahasa ibu juga dalam bercerita.
Salam, Alpharia Rynant
---
Mba Nesia, salam kenal dari saya. Saya baru saja habis membaca buku Mba, “Dengan Pujian, Bukan Kemarahan.” 2 thumbs up buat mba Nesia! Saya ga bisa berenti membacanyan hanya dalam waktu 1,5 hari saya selesai bacanya. Buku yang Mba tulis membuat saya berpikir dan merefleksi saya sebagai seorang ibu dari 3 anak. Saya juga pembaca buku Toto chan (and I loveeee that book). Membaca pola didik orang Jepang memang berbeda ya mba dari kita, tapi tentu kita bisa ambil positifnya. Thanks mba Nesia, buku mba benar-benar bisa sebagai reminder, seperti juga buku Toto chan yang sudah saya baca 3X. Very recommended book! Lynda R.Zaldy Ibu dari Timoteus Jason, Ignacia Andrea dan Mikael Kenneth www.mymealcatering.com
Banyak sekali pelajaran yang saya petik di buku ini. Mendidik anak memang bukan hal mudah tapi ternyata juga tidak sulit. Penulis memaparkan dengan gamblang berbagai pengalaman 'menjinakkan' anak-anak :D Penulis juga memaparkan tidak selamanya orang tua itu selalu benar dan menjadi guru anak-anak. Salut pada penulis yang secara gentle mengakui hal ini. Saya terpesona dengan penulis yang tanpa malu meminta diajari huruf kanji pada sang anak. Penulis juga jujur mengungkapkan kalau belajar sabar, empati dan kepandaian sosialisasi justru dari ketiga anaknya. Aaah anak-anak. Selalu menyimpan sejuta pesona. Jadi pingin punya anak. jiaaah :P
Dari dulu, banyak hal-hal bagus mengenai Jepang yang aku dengar (terlepas dari sejarah bahwa mereka pernah menjajah Bangsa Indonesia). Jepang dikenal sebagai salah satu negeri yang maju (dan juga mahal), orang-orangnya pintar, disiplin tinggi, teknologinya mencengangkan dan mampu bangkit dari keterpurukan dengan waktu yang relatif cepat.
Apa rahasianya? Mungkin, secara tersirat, buku ini mengangkat salah satu faktor mengapa Negeri Sakura bisa semaju sekarang, yakni Sumber Daya Manusia-nya yang unggul. Dan tentu saja, hal itu tidak terlepas dari pola didik masa kecil mereka.
Penulis buku ini –Nesia Andriana Arif, beserta suami, telah lebih dari 12 tahun tinggal di Jepang. Mereka telah dikarunai tiga orang anak. Pertama, Fatimah Syakura (12 Tahun), kedua, Fadel Muhammad (9 Tahun) dan yang bungsu, Fadiya Sakina (6 Tahun). Kisah hari-hari Nesia dalam membesarkan ketiga buah hatinyalah yang ia curahkan melalui buku berkarver lucu ini.
Dari awal, kita sebagai pembaca dikenalkan dulu dengan berbagai jenis pendidikan yang ada di Jepang. Di bab awal, pembaca disuguhkan informasi mengenai masing-masing sekolah yang ada di sana. Seperti Youchien atau Taman Kanan-kanak. Hoikuen atau Tempat Penitipan Anak. Kids Supporter atau tempat penitipan anak skala kecil, hingga Sekolah Dasar. Semuanya dijelaskan secara terperinci. Bagaimana persyaratannya, berapa besar biayanya, sampai bagimana proses belajar mengajarnya.
Walaupun berbeda, ada satu kesamaan dari tiap-tiap sekolah tersebut. Guru diposisikan bukan sebagai pendidik (apalagi dengan gambaran pendidik ala Indonesia), namun sebatas pembimbing yang membebaskan anak didiknya untuk belajar tanpa paksaaan. Cara membimbingnya pun terbilang unik. Mereka bisa belajar dimana saja. Dalam ruang, ataupun di luar ruangan. Tidak ada paksaan agar anak didik bisa membaca dengan cepat (sehingga bisa keterima di SD) karena mereka meyakini bahwa semua anak pintar dan punya potensi masing-masing. ”Meskipun dikatakan di youchien tidak ada pelajaran khusus seperti berhitung dan membaca, sebenarnya guru secara halus menyisipkan latihan pembiasaan murid-murid terhadap hitungan dan bacaan. Misalnya saja, setiap hari di kelas, guru menulis nama hari itu dan membaca sambil menunjuk satu persatu hurufnya...” Hal.10.
Gak nemu yang sekeluarga lengkap :((
Mereka juga punya cara tersendiri untuk menegur anak yang tak sengaja melakukan kesalahan. Bukan dengan omelan apalagi bentakan, tetapi mereka selalu melakukannya dengan pujian, apapun kesalahan anak didik mereka. Setiap anak dianggap berprestasi. Tidak ada pembagian ranking di kelas. Yang ada, para murid akan diberikan stiker pujian atas apa yang mereka lakukan. ”Buku itu (rapot), juga dilengkai macam-macam stiker yang mengentarai tiap satu bulan. Stiker itu berisi kata-kata pujian. Yoku gambatta ne [Sudah bersungguh-sungguh, ya...:], sugoi! [hebat!:], arikko-san [anak baik:], dan kata-kata lain bermakna serupa.”
Perhatian pihak sekolah terhadap kesehatan murid juga besar. Kepala sekolah diwajibkan makan makanan siang yang disediakan 1 jam sebelum jam makan siang. Hah? Kenapa, kah? Gunanya, jika makanan tersebut ternyata mengandung racun, kepala sekolahlah yang pertama kali merasakan dampaknya. Dari dini, anak-anak di Jepang juga diajari bagaimana menjaga lingkungan. Jika membuang kotak susu-pun ada caranya. Yakni kotak susu tersebut harus dikempeskan terlebih dahulu sehingga tong sampah bisa menampung lebih banyak sampah, dan ini tentu saja mengurangi pemborosan energi dari mobil pengangkut sampah. Ckckck...
”Menjadi guru bagi anak adalah biasa bahkan sering membosankan, tapi menjadi murid dari anak, sungguh pengalaman baru yang menyenangkan, memberikan gambaran yang baru...” hal.63. Mbak Nesia berkata seperti itu ketika ia kesulitan mengajarkan Fatimah bahasa Indonesia (Fatimah mengatakan bahwa bahasa Indonesia susah). Untuk membuat pemahaman tentang proses belajar, Mbak Nesia lalu meminta Fatimah untuk mengajarinya huruf Kanji. Ternyata, ketika Fatimah merasakan menjadi seorang pendidik, ada satu pemahaman baru bahwa tidak ada yang sulit jika seseorang mau belajar.
Tapi, pola pendidikan ala Jepang tidak sepenuhnya diterapkan oleh Mbak Nesia. Di Jepang, jika seorang anak terjatuh dan menangis, orang tua tidak akan segera membantu si anak agar bisa berdiri dan berusaha mendiamkan tangis yang keburu meledak. Orang tua di Jepang, lebih cuek dan menganggap itu salah satu cara mendidik anak agar kelak terbentuk pribadi yang pekerja keras dan ulet. ”Namun, saya sendiri tidak yakin dan 100% sependapat bahwa itulah sikap paling baik dan tepat untuk ditunjukkan seorang ibu saat anaknya jatuh.” Hal.169
Itulah masyarakat Jepang. Dibalik pribadi mereka yang tampak gagah, banyak diantaranya berjiwa rapuh. Kerena itu pula banyak sekali terjadi kasus bunuh diri di Jepang. Menurut penelitian, orang-orang di Jepang sekarang ini lebih individualis sehingga jika mereka memiliki masalah, tidak ada tempat untuk berbagi.
Aduuuh, aku bukan reviewer yang baik. Semoga potensi emas buku ini bisa sedikit tersampaikan ya diulasanku ini. Buku ini hampir tanpa cela. Setiap kisah yang tertulis dibuku ini mempunyai makna yang dalam. Jika diselipkan beberapa gambar, menurutku akan lebih baik, karena pembaca bisa melihat gambaran yang utuh. Bahasa yang digunakan enak sekali. Aku bahkan bisa menuntaskan buku ini dalam sekali duduk (kurang lebih 3 jam). Cocok sekali untuk para orang tua yang selama ini masih belum pakem ilmu mendidik anak ”dengan pujian, bukan kemarahan”-nya. Untuk calon orang tua dimasa depan (tunjuk jari hihi) buku ini juga tak kalah bermanfaatnya.
Marah — atau tepatnya mengomel, sudah menjadi tambahan karakter setelah seseorang menjadi ibu. Jadi ingat perkataan teman, “sependiam apapun seorang perempuan, kalau sudah jadi ibu pasti cerewet, minimal di rumahnya sendiri.” Pendapat yang hampir 100% benar.
Masalahnya, kemarahan seorang ibu, kerap hanya luapan emosi sesaat yang diakhiri dengan penyesalan, baik yang diekspresikan ataupun di dalam hati. Tidak mudah mendidik anak di ‘negeri orang’ dengan kultur dan kondisi alam yang berbeda. Mbak Nesia menceritakan pengalamannya membersamai ketiga putra/i-nya yang tak luput dari penyesalan dan instropeksi. Menjadi orangtua pun harus terus belajar.
Mengambil latar keseharian penulis di Jepang, kumpulan kisah ini juga menggambarkan sistem pendidikan dan kehidupan masyarakat Jepang, khususnya di sekitar tempat tinggal penulis. Dengan Pujian Bukan Kemarahan adalah salah satu ‘prinsip’ pendidikan di Jepang, terutama bagi anak usia di bawah 8 th.
Dua karakter positif di Jepang yang digarisbawahi oleh penulis adalah keteladanan dalam tanggung jawab dan membangun kemandirian. Rasa tanggung jawab yang besar dari orang Jepang, membuatnya memiliki dedikasi yang besar dalam melakukan sesuatu, begitupun dengan kemandirian yang sudah diterapkan dari usia dini.
Salah satu kisah yang paling kusukai adalah Di Antara Butir-Butir Permen, tentang para orangtua yang menghargai aturan pendidikan anak yang diterapkan orang tua yang lain. Saling memahami bahwa masing-masing orangtua memiliki prinsip mendidik anak yang tidak boleh dilanggar.
Ada positif, pasti ada negatif. ‘Dingin’ dan kurang suka bersosialisasi sering melekat dalam diri orang Jepang. Kondisi yang menyebabkan kejiwaan yang lemah dan kurang hangatnya hubungan satu sama lain, menjadi salah satu sebab banyaknya kasus bunuh diri di Jepang. Meski begitu, beruntung penulis pun mengenal sebagian orang-orang Jepang yang bersahabat dan peduli dengan sekitarnya.
Membaca buku ini menjadi instropeksi sebagai orangtua karena Mbak Nesia menceritakan tanpa ‘jaim’ dengan emosi yang naik-turun ketika berhadapan dengan kelelahan dan anak-anak. Ambil sisi baiknya, tinggalkan sisi buruknya. Manusia perlu belajar dari sisi baik dan buruk.
Buku yang di tulis bu Nesia, mengajarkan budaya positif yang dapat diambil dari kebiasaan orang Jepang yaitu memberikan apresiasi pada setiap kemajuan anak, juga menumbuhkan kemandirian sejak dini, tapi terdapat hal negatif juga berupa, motto ‘kankei-nai’ (tidak ada hubungan), yang membuat orang-orangnya menjadi cenderung individualis dan kurang empati pada orang lain.
Menurutku berdasar penjelasan buku ini, boro-boro empati, simpati aja kurang sekali, hal yang ku dapati setelah memahami Kankei-nai, sebuah istilah yang tak asing sebagai seseorang yang suka menonton anime Jepang setelah membaca buku ini, hihihi.
Yang menarik perhatian ku untuk dijadikan refleksi, dan mungkin bisa diterapkan juga di Indonesia. Mungkin jika kamu yang membaca tulisan ini punya ilmu yang lebih, dan kewenangan lebih sebagai berikut. Di Jepang, ada istilah komodo 110, dimana ada satu warga jepang yang memiliki kerelaan untuk rumahnya digunakan sebagai pos berlindungi anak-anak dari orang-orang jahat.
Tentu saja pemilik rumah perlu mendaftarkan diri di kantor Kecamatan untuk mendapat izin menjadi kodomo 110, kemudian mengajuan akan diurus, dia akan dilatih, dan dibina oleh kepolisian dan/pihak terkait. Proses hingga dinyatakan sebagai kodomo 110 juga ada seleksinya. Jadi, tidak sembarang saja. Terlepas dari kebiasaan apatis di atas, ada aspek respect terhadap perlindungan anak-anak yang aku tangkap pada budaya Jepang.
Lengkapnya penjelasan tentang kodomo 110 adalah istilah untuk titik-titik yang bisa dijadikan anak-anak sebagai tempat berlindung dari bahaya yang tiba-tiba datang mengancam. Misalnya Orang jahat, ataupun karena kelelahan atau tersasar di jalan. Penduduk biasa yang mendapat kepercayaan Pemerintah Jepang akan diberikan stiiker di depan rumah mereka.
Mungkin bisa di asimilasi, atau dijadikan refleksi bagi kita semua untuk lebih peduli lagi akan kejahatan yang menimpah anak-anak, serta orang-orang ‘lemah fisik; misalnya perempuan, atau anak laki-laki yang masih kecil, lansia. Ingat, semua bisa jadi korban tidak hanya mencakup umur tertentu atau jenis kelamin tertentu.
Sebelumnya kita membahas budaya yang positif, sekarang budaya negatif. Pada umumnya, selain budaya kankei-nai, juga ada budaya Bernama jisatsu (bunuh diri). DI Jepang ada istilah jisatsu (bunuh diri).
Istilah ini bermula dari sejarah para samurai di Jepang yang memiliki jiwa pejuang atau patriotri, yang apabila samurai kalah perang maka, mereka akan menebas perutnya. Hanya saja gaya bunuh diri zaman sekarang berbeda, seperti menabrakan diri ke kereta, minum racun, menggantung diri,dll.
Kasus seperti Kato Tomohiro (25) seorang penduduk Shizouka, tempatnya tiga jam dari Tokyo. Tomohiro sengaja menabrakan truk Isuzu Elf seberat 2 ton dalam jarak 159 km dari Kota Susano, Provinsi Shizuoka pada kerumunan orang-orang di Akihabara (tempat wisata). Ia mengumumkan rencanya ke internet H-20 Menit sebelu kejadian. Asut punya usut, motif pelaku disebabkan karena pelaku hanya ingin mendapat kepedulian yang tidak pernah ia dapatkan. Diperkuat dengan ucapannya;
“Jika ada orang yang mau ngehentikan aksi ‘tidak masuk akal’ dia maka, ia akan berhenti, tapi sayang budaya kankei-nai, begitu melekat-erat seperti jiwa dengan raga pada masyarakat Jepang.
Proses hingga dinyatakan sebagai kodomo 110 juga ada seleksinya. Jadi, tidak sembarang saja. Terlepas dari kebiasaan apatis di atas, ada aspek respect terhadap perlindungan anak-anak yang aku tangkap pada budaya Jepang. lengkapnya penjelasan tentang kodomo 110 adalah istilah untuk titik-titik yang bisa dijadikan anak-anak sebagai tempat berlindung dari bahaya yang tiba-tiba datang mengancam. Misalnya Orang jahat, ataupun karena kelelahan atau tersasar di jalan. Penduduk biasa yang mendapat kepercayaan Pemerintah Jepang akan diberikan stiiker di depan rumah mereka.
Mungkin bisa di asimilasi, atau dijadikan refleksi bagi kita semua untuk lebih peduli lagi akan kejahatan yang menimpah anak-anak, serta orang-orang ‘lemah fisik; misalnya perempuan, atau anak laki-laki yang masih kecil, lansia. Ingat, semua bisa jadi korban tidak hanya mencakup umur tertentu atau jenis kelamin tertentu.
Sebelumnya kita membahas budaya yang positif, sekarang budaya negatif.
Pada umumnya, selain budaya kankei-nai, juga ada budaya Bernama jisatsu (bunuh diri). DI Jepang ada istilah jisatsu (bunuh diri).
Istilah ini bermula dari sejarah para samurai di Jepang yang memiliki jiwa pejuang atau patriotri, yang apabila samurai kalah perang maka, mereka akan menebas perutnya. Hanya saja gaya bunuh diri zaman sekarang berbeda, seperti menabrakan diri ke kereta, minum racun, menggantung diri,dll.
Kasus seperti Kato Tomohiro (25) seorang penduduk Shizouka, tempatnya tiga jam dari Tokyo. Tomohiro sengaja menabrakan truk Isuzu Elf seberat 2 ton dalam jarak 159 km dari Kota Susano, Provinsi Shizuoka pada kerumunan orang-orang di Akihabara (tempat wisata). Ia mengumumkan rencanya ke internet H-20 Menit sebelu kejadian. Asut punya usut, motif pelaku disebabkan karena pelaku hanya ingin mendapat kepedulian yang tidak pernah ia dapatkan. Diperkuat dengan ucapannya;
“Jika ada orang yang mau ngehentikan aksi ‘tidak masuk akal’ dia maka, ia akan berhenti, tapi sayang budaya kankei-nai, begitu melekat-erat seperti jiwa dengan raga pada masyarakat Jepang.
Menurutku, kita harus tahu garis kapan kita perlu cuek, dan harus PEDULI pada lingkungan kita. Ya kalau cuek dengan kritikan yang tidak bermaksud membangun, ya tinggalkan atau cuek saja, tapi jangan separah itu juga cuek hingga seperti halnya kankei-nai, misal, masa tetangga kos sakit engga tahu, atau ada kabar tetangga meninggal engga tahu. Itulah pentingnya mengambil peran di Masyarakat.
Demikianlah, Tindakan bunuh diri menurutku, juga bukan terjadi karena lemah ”mental” saja, tapi lemah iman, karena setahu ku Negara Jepang masih termasuk negara yang kurang kepercayaan akan tuhan. Diperkuat dengan jiwa individualis, motto Jepang yang kankei-nai tersebut. Kurangnya percaya akan adanya tuhan dan ajaran agama sehingga jalan pintas yang dipilih hanya bunuh diri. Padahal sejatinya itu tidak menyelesaikan masalah malah menambah masalah bagi keluarga yang ditinggalkan almarhum atau almarhm sendiri saat menghadap Allah nanti.
Beberapa hari lalu aku ikut kajian offline tentang gaya hidup ala Al Quran, di kajian tersebut dibahas sekilas bahwa hukuman yang tuhan yaitu allah pada orang yang bunuh diri adalah akan dilihatkan padanya dan orang banyak di Padang Mahsyar nanti.
Bagaimana cara dia mati, aib nya akan dibuka sejelas-jelasnya, dan akan dihukum berubah pengulangan terus menerus padanya caranya mati didunia fana dulu. Kita harus berterima kasih pada Allah, selama di dunia fan aini begitu baik menutupi AIb-aib kita.
Sebelum kamu mengambil keputusan yang akan kamu seseli ini, coba ingat kembali jiwa mu, tubuh mu adalah hal yang dibagi-NYA. Tidak sepantasnya kamu ‘merusak atau mendzolimi“ jiwa dan tubuh yang tuhan bagi padamu. Sungguh, dia pencipta-mu akan marah, dan kecewa dengan keputusan sepihakmu.
Itulah mengapa aku juga menyakini hukuman dari tuhan bagi orang yang bunuh diri sebagai yang dijelaskan di atas. Jangan kecewakan tuhanmu dengan keputusan itu, Walau seperti manusia didunia ini tidak menginginkan kamu ’bernafas’, atau ‘julid’ atau tidak peduli pada masalah hidup kamu, bukan berarti hidup kamu tidak berharga.
Jangan ya, hidup mu itu berharga, kamu kuat dan istimewa. kita dilahirkan untuk terus beribadah pada tuhan, saat yang tepat setelah ‘bekal’ kebijaksanaan, kebajikan, dan akhlak yang mulia kita ‘pupuk’. DIA yang Maha Penyayang akan memanggil kembali hamba-NYA yang berfitrah saling Penyayang itu, dalam keadaan sebaik-baiknya dikembalikan.
DIA yang Maha penyayang akan mengangkat semua sifat manusia mu (nafsu, rasa iri hati, sombong, kemarahan yang bercampur kecewa pada manusia), kesedihan di dunia fana hanya sementara ya, bersabar ya. DIA begitu menyayangi kita hamba-Nya, setiap tarikan nafas mu, ada DIA di dekatmu, dimana pun kamu mengaduh, menangis, mengeluh, DIA Maha Mendengar, begitu dekat dengan setiap tarikan nafas serta aliran darahmu.
Ujian berupa masalah itu beragam juga ada yang terus diuji dengan sederet masalah atau musibah dari aspek keluarga, pertemanan, keuangan dll, juga ada yang diuji dengan limpahan harta, jabatan, tahta, penghormatan diri di masyarakat,
Bagaimana ia bersyukur hanya pada DIa yang Maha Esa atas apa yang telah di bagi pada hambanya yang berlumur dosa ini. Sabar, syukuri, jika saat ini kamu masih punya masalah sebab itu artinya kamu HIDUP, Allah masih notice hidup kamu. Jika kamu hidup enak-enak aja, malah itu yang harus dipertanyakan what wrong with you?’
Penilaian Penulis Mengenai Cerita Ini :
Kelebihan, menceritakan seorang Muslim (ibu) yang mendidik 3F(anaknya) di Negeri Sakura, Jepang. Penggambaran istilah dengan penjelasan footnote yang memudahkan pembaca.
Kekurangan mendetail meceritakan secara detail bagaimana mengolah emosi (marah) bagi orang tua kepada anaknya. Menurutku, malah di Bab-bab yang kurang mencerminkan bagian Bu Nesia dengan anak-anaknya jauh menarik. Misal, Bu Nesia menggambarkan interaksi Putri Bungsunya Fadiya dengan nenek Hayashi, pola piker nenek Hayashi-san yang memukau “Nenek berusaha untuk tidak pikun,Nak. Kalau Nenek pikun, nanti nambah merepotkan orang serumah,” katanya dengan tatap merawang ke depan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Tulisan interpretasi yang adil dalam menjabarkan bagaimana para orangtua di Jepang mendidik anak-anaknya. Banyak sekali hal positif yang dijabarkan di sini. Hal-hal yang seharusnya diterapkan juga di iklim edukasi negara kita.
Berbeda dengan di Indonesia yang anak-anaknya dipaksa untuk mengerti calistung sejak usia yang sangat dini, di Jepang ternyata ketiga hal itu bukanlah prioritas utama di tahap awal pendidikan dasar. Kegiatan anak-anak di Jepang saat TK ya bermain dan bermain.
Meskipun di TK dan di tempat penitipan anak nggak diajarkan baca-tulis-hitung, sebenarnya para guru mempersiapkan mereka untuk menghadapi tiga hal itu. Misalnya dengan menuliskan nama hari dan tanggal setiap hari di papan tulis dengan hiragana, lalu membacakannya pada para murid. Juga menghitung keras-keras setiap para murid main lompat tali (jumlah banyak hitungan disesuaikan dengan tingkat usia), dan saat menyusuri tangga. Dengan begitu anak-anak mempelajari calistung secara perlahan dan alami.
***
Untuk mengajarkan tanggung jawab, murid-murid di Jepang bergantian menjadi kyuushouku touban (petugas makan siang). Satu jam sebelum jam makan siang, kepala sekolah di SD harus menghabiskan makanan yang menunya sama dengan para guru dan murid. Tujuannya jika ternyata ada keracunan makanan, kepala sekolah yang pertama kali merasakan akibatnya. Ternyata profesi kepala sekolah SD di Jepang adalah pekerjaan yang berisiko mengorbankan nyawa (cold sweating)
***
Untuk melatih kemandirian, murid-murid kelas 3-4 diajak ensouku (acara jalan-jalan keluar sekolah) pakai kereta. Sedangkan murid-murid kelas 5 mulai diajak naik bus ke tempat yang lebih jauh yang mengharuskan mereka semua menginap semalaman. Persiapan untuk ensouku dilakukan sejak jauh-jauh hari.
***
Berbeda dengan di Indonesia, guru di Jepang tidak pernah tiba-tiba tidak datang. Kalaupun berhalangan mereka akan memberi tahu seminggu sebelumnya. Bahkan ketika ada badai, cuaca dingin mendadak bahkan hujan, mereka akan tetap datang karena tidak memberitahukan ketidakhadiran beberapa hari sebelumnya.
***
Buku ini kubilang adil karena tidak hanya berisi puji-pujian, tapi juga sisi gelap orang Jepang. Masyarakat Jepang dalam buku ini digambarkan bagai paradoks berskala besar. Di satu sisi mereka memang mendidik anak-anak kecil mereka untuk jadi mandiri, tangguh, dengan budaya yang apresiatif. Tapi di sisi lain mereka adalah orang-orang yang dingin, iyogarisan alias canggung jika berhadapan dengan orang lain apalagi orang asing, dan menjunjung prinsip mengurus diri sendiri dan tidak ambil pusing dengan urusan orang lain yang bisa dibilang sangat ekstrim.
Jibun no koto, jibun de yarou. Urusan sendiri diselesaikan sendiri. Begitu prinsip mereka.
Sikap individualistis orang Jepang ini parah sekali. Terhadap urusan orang lain, mereka sering mengucapkan "Kankei nai" alias "nggak ada hubungannya". Ada satu cerita yang membuatku sedih sekali. Anak Ibu Nesia di sini diceritakan memiliki teman sekelas bernama Misaki yang tampaknya bermasalah. Misaki bahkan sampai mengiris-iris tangannya sendiri. Ibu Nesia jelas menyuruh anaknya untuk melaporkan hal itu kepada gurunya. Namun, sang guru malah cuma cuma bilang bahwa masalah Misaki adalah urusan rumah tangganya sendiri. Astaga.
Ternyata individualisme yang terlalu ekstrim ini dipandang sebagai salah satu penyebab tingginya angka gangguan jiwa sampai kasus bunuh diri di Jepang. Karena orang-orangnya begitu dingin dan tak mempedulikan masalah orang lain.
Pada tahun 2008, pernah terjadi kasus penyerangan yang menggemparkan bernama Akihabara Toorima Jiken. Pada insiden ini Kato dari Shizuoka menabrakkan truk elf ke kerumunan di Akihabara, lalu turun dan menusukkan pisau pada orang-orang yang ditemuinya. Alasannya ia kecewa dengan kondisi masyarakat. Kato dikucilkan di kantor. Padahal, dulu ia anak berprestasi di SMA. Di internet ia sebenarnya sudah mengumumkan rencana aksinya karena ingin ada orang yang peduli. Ia berkata andai ada yang menghentikan, dia takkan melakukan perbuatan itu.
Hampir 6 bulan kita semua terkurung di rumah akibat Covid19. Orang-orang tua selalu bilang parenting itu akan muncul secara alami setiap hari setting perkembangan anak. Tapi kenyataannya tidak segampang itu. Tiap hari adalah perjuangan menguras emosi ortu dan anak terutama di masa "sekolah dari rumah" seperti saat ini. Dan aku teringat pada buku ini.
Walau terinspirasi dari buku Toto Chan, tapi buku kisah nyata ini tetap memberikan kisah yang berbeda-beda. Aku belajar bagaimana para Ibu di Jepang begitu sibuk dengan ini itu tapi masih bisa menunjukan ketegasan pada anak-anak tanpa marah-marah. Bagaimana untuk lebih "tega" agak anak tahu untuk lebih mandiri. Bagaimana mengajarkan kedisplinan sejak dini.
Ilmu parenting Indonesia tentu saja bagus, tapi tidak ada salahnya untuk belajar dari negara lain. Bagian favoriteku disini adalah tentang sistem pendidikan diJepang, nilai-nilai apa yang dikembangkan untuk dipelajari anak-anak sejak dini. Jadi jangan merasa gagal saat proses mendidik kita tidak mulus. Karena parenting adalah proses intropeksi/masa belajar terus menerus sebagai orang tua.
Sebuah buku yang menceritakan jatuh bangunnya seorang ibu yang ingin menjadi ibu terbaik bagi anak-anaknya. Membaca buku ini rasanya seperti ikut merasa lelah, "marah", namun lebih banyak porsi buku ini yang membuat pembaca merasa ingin lebih baik lagi, lagi dan lagi.
Buku yang membuat pembaca rasanya ikut tinggal di Jepang. Merasakan bagaimana plus dan minus kehidupan serta pendidikan di negeri tersebut.
Buku ini isinya keren, banyak pengetahuan tentang pendidikan Jepang yanh kita dapat di buku ini. Penulis menceritakan tentang pendidikan ketiga anaknya dan bagaimana dia menjadi sosok ibu yang harus terus belajar setelah kehadiran anak, karena anak berubah jadi guru kita dalam kehidupan sehari hari.
Di Jepang TK tidak diajarkan menulis dan membaca secara langsung, tetapi siswa diajarkan saat bermain, sambil bermain siswa bisa mengenal angka misalnya seorang guru di Jepang sengaja melafalkan hitungan dengan keras dan berulang supaya siswa tahu, begitu pula dengan mengenal huruf, guru di Jepang sengaja mengeja huruf pada nama hari setiap hari mereka akan belajar, hal itu juga dilafalkan dengan keras. Karena setiap hari dalam setahun siswa akan paham sendiri. Pendidikan yang tanpa target dan paksaan. Di TK Jepang ada pembelajaran bertanam, mencabut ubi, menangkap ikan, merapikan tempat tidur, menggosok gigi, makan sendiri tanpa disuapi, juga pelajaran kotor kotor yang menghasruskan mereka bisa membersihkan badan sendiri.
Di Sekolah Jepang tidak ada kantin sekolah, pemerintah sudah mempekerjakan 3-4 koki, pelayannya adalah siswa perkelas bergantian. Makanya tidak heran kalau orang Jepang mandiri dan pekerja keras, karena sudah dilatih dari kecil. Seorang Kepala Sekolah harus makan 1 jam sebelum yang lainnya makan supaya kalau makanan tersebut bermasalah maka Kepala Sekolah yang paling dahulu kena. Juga tentang kebersihan digilir perkelas setiap harinya. Jadi kepedulian akan kebersihan cukup tinggi. Bahkan Penulis pernah diingatkan oleh anakknya salah kalau membuang kotak susu tanpa diremas terlebih dahulu, karena di sekolah diajarkan dengan kotak susu yang sudah diremas maka tidak menghabiskan banyak tempat di kantong sampah, sehingga tukang sampah tidak bolak balik dan bisa hemat energi.Di Jepang juga tidak ada securuty sekolah, karena pintu masuk sudah diberi pengamanan, dengan 10 digit angka yang harus dipakai. Hanya orang tua siswa yang diberi, itupun diganti setiap minggunya.
Di Jepang setiap siswa diberi pemahaman bahwa setiap pekerjaan itu penting dan baik dengan gaji yang baik pula, seperti tukang sampah, tanpa mereka sekolah dan kerja tidak nyaman, tidak seperti di Indonesia, orang dikatakan sukses kalau jadi dokter, pilot, pengusaha dan lainnya. Di Indonesia kalau mampu beli banyak mobil, kalau di Jepang orang cukup beli 1 mobil karena rumah di Jepang kecil dan biaya parkir disana mahal. Cuma yang membedakan orang kaya Jepang beli mobil dengan merk yang mahal pula.
Pernah suatu hari, npenulis dihadapkan oleh kenyataan bahwa orang disana sikapnya begitu dingin. Waktu dia naik kereta bersama 3 orang anaknya dan membawa koper besar, kebetulan kereta penuh, tas terbuka dan isinya berserakan, banyak yang menyalahkan, hanya 1 orang yang membantu, dalam pikiran penulis, "masih ada orang Jepang yang peduli". Begitu pula saat di taman bermain ada teman dari anaknya yang terjatuh dan menangis, dia berusaha menolong, padahal ibu ibu disana diam termasuk ibu dari anak itu. Pandangan mereka seperti menyalahkan bantuan tersebut. Ternyata di Jepang orang tua memang dingin terhadap anak supaya kelak dewasa akan jadi sosok mandiri dan pekerja keras. Tetapi hal tersebut ada sisi negatifnya, sikap dingin tersebut membuat rasa sosial minim sehingga angka kematian di Jepang cukup tinggi 100.000/tahun dengan 24 kasus yang berbeda. Karena seorang pekerja dari pagi sampai malam sibuk bekerja tanpa sosialisasi, kalau mereka punya masalah tidak ada teman berbagi maka pelarian mereka adalah bunuh diri, menabrakkan dirinke mobil, kereta api, mengunci diri di mobil, melompatkan dari ketinggian, dan masih banyak lagi...
Buku yang sangat menarik dan wajib dibaca oleh seseorang yang berada di dunia pendidikan dan tentunya oleh seorang ibu...
Disajikan dengan cerita keseharian penulisnya yg pernah tinggal bersama keluarga nya di Jepang, selain jd panduan pengasuhan anak, sedikit banyak kita juga jadi tau cultur orang jepang dalam keseharian mereka, sistem pendidikan yg diberlakukan di jepang, dan bagaimana mereka mendidik anak2 nya...
pokoknya bagus deh u kita yg lg belajar jd orang tua. bacaan nya ringan tapi juga bermakna. apa yg diterapkan orang jepang dlm pendidikan mereka memang tidak smua baik dan sesuai tapi membaca buku ini membuat kita kaya akan sudut pandang kita dalam mendidik anak terutama yg masih d bawah 10 tahun...
I love this book. Well, sebenarnya saya juga kagum dengan budaya Jepang, karena itu saya tertarik dengan buku ini. Sebuah buku parenting guide, bisa juga menjadi teaching guide, dimana kita membudayakan memberikan pujian atau motivasi positif untuk membangun kepribadian anak yang ulet dan pantang menyerah. . . Ayo, berikan pujian atas tiap usaha yang sudah dilakukan oleh anak-anak kita. . :)
selesai baca buku ini rasanya kayak habis nonton film dorama jepang tentang pendidikan anak di negara mereka. selalu inspiratif meski tidak sepenuhnya dikopi mentah-mentah untuk diterapkan kepada anak-anak kita. harus tahu apa maksud dari sikap orangtua jepang pada anaknya, dan diambil positifnya :)
This books really encourage me as a teacher, which is mostly in many first pages. I think i still should have one then for myself, the writer has many golden words to teach me how to teach..and educating children, eventually...
saya menyukai penuturan mba Nesia tentang bagaimana menjadi orang tua, saya juga menyukai pengakuannya tentang ketidaksempurnaannya. saya merasa terinspirasi oleh buku ini.