In classical mythology, Phaethon is the child of the sun god Helios, who tries to drive his father's chariot and is killed in the attempt. Euripides explains how this Helios had seduced Phaeton's mother - already betrothed to another - and as the price of her seduction had promised to grant her a favour. As an adult Phaethon claims the promise and asks to drive his father's chariot, with disastrous consequences... Only a quarter of Euripides' original version of Phaethon has survived. Alistair Elliot has translated these surviving 327 lines and reconstructed the rest, staying as faithful as possible to Euripides' time and way of thinking. The result is something very like finding a lost Euripides play, unperformed since the fifth century BC and amounting to a new masterpiece.
Euripides (Greek: Ευριπίδης) (ca. 480 BC–406 BC) was a tragedian of classical Athens. Along with Aeschylus and Sophocles, he is one of the three ancient Greek tragedians for whom any plays have survived in full. Some ancient scholars attributed ninety-five plays to him, but the Suda says it was ninety-two at most. Of these, eighteen or nineteen have survived more or less complete (Rhesus is suspect). There are many fragments (some substantial) of most of his other plays. More of his plays have survived intact than those of Aeschylus and Sophocles together, partly because his popularity grew as theirs declined—he became, in the Hellenistic Age, a cornerstone of ancient literary education, along with Homer, Demosthenes, and Menander. Euripides is identified with theatrical innovations that have profoundly influenced drama down to modern times, especially in the representation of traditional, mythical heroes as ordinary people in extraordinary circumstances. This new approach led him to pioneer developments that later writers adapted to comedy, some of which are characteristic of romance. He also became "the most tragic of poets", focusing on the inner lives and motives of his characters in a way previously unknown. He was "the creator of ... that cage which is the theatre of William Shakespeare's Othello, Jean Racine's Phèdre, of Henrik Ibsen and August Strindberg," in which "imprisoned men and women destroy each other by the intensity of their loves and hates". But he was also the literary ancestor of comic dramatists as diverse as Menander and George Bernard Shaw. His contemporaries associated him with Socrates as a leader of a decadent intellectualism. Both were frequently lampooned by comic poets such as Aristophanes. Socrates was eventually put on trial and executed as a corrupting influence. Ancient biographies hold that Euripides chose a voluntary exile in old age, dying in Macedonia, but recent scholarship casts doubt on these sources.
Kisah-kisah dewa-dewa Yunani sudah menjadi bagian dari kebudayaan dunia. Kisah dewa, manusia setengah dewa, dan para pahlawan, dalam literatur Yunani, sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam khazanah cerita dunia. Kisah penguasa semesta Zeus yang membawa petir di tangannya, kecantikan Afrodite sang dewi cinta, keganasan Ares sang dewa perang, kebijaksanaan Atena, atau permainan musik Apollo, bukan lagi sekadar jadi kekayaan literatur dunia. Banyak nama dari mitologi Yunani yang lantas terkenal dalam bidang-bidang lainnya, misalnya psikologi. Jika kita menyebut Oedipus Complex untuk perasaan dan pengaruh ibu yang terlalu kuat, nama tersebut berasal dari tokoh Oedipus yang mencintai ibunya. Atau jika kita menyebut kata Narsisisme untuk istilah kecintaan diri yang berlebihan, maka nama itu berasal dari tokoh Narkisus yang tampan yang jatuh cinta pada dirinya sendiri. Maka penerbitan Seri Mitologi Yunani (18 jilid, penutur ulang Menelaos Stephanides, ilustrator Yannis Stephanides, Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, 1991-1993), untuk pembaca remaja, sejak buku pertama Pertempuran Para Titan sampai buku ke-17, Odise, patutlah disambut sebagai sebuah usaha untuk memperkenalkan mitologi Yunani ini sebagai suatu kesatuan yang utuh. Artinya, jika selama ini para remaja mengenal tokoh-tokoh mitologi Yunani secara sepintas kilas, dengan membaca keseluruhan seri ini akan makin jelas sosok tokoh-tokoh, karakter, dan perlambangan sifat-sifat mereka itu. Dewa yang Manusiawi Seri ini memperlihatkan urutan penceritaan yang runtut, dengan pembabakan cerita berdasarkan Kisah Dewa Olimpus (Seri A), Dewa dan Manusia (Seri B), dan Para Pahlawan (Seri C). Pada bagian pertama yang terdiri dari enam judul buku, pembaca akan diperkenalkan dengan dua belas dewa Yunani yang paling besar dan paling dihormati. Keduabelas dewa tersebut adalah Zeus (penguasa langit), Hera (istri Zeus), Afrodite (dewi keindahan dan cinta), Apollo (dewa terang dan seni musik), Hermes (dewa perdagangan), Demeter (dewi pertanian), Artemis (dewi malam bulan purnama, hutan, dan perburuan), Hefestus (dewa api dan kerajinan tangan), Ares (dewa perang), Atena (dewi kebijaksanaan, seni, dan perang yang adil), Poseidon (dewa laut), dan Hestia (dewi rumah tangga dan perapian abadi). Bagian awal seri ini menceritakan tentang ke-12 dewa Yunani dan mitos-mitos yang berkaitan dengan mereka. Atena misalnya, dewi kebijaksanaan yang namanya dipakai sebagai nama ibukota Yunani, dikisahkan lahir dari kepala sang penguasa, Zeus (buku ke-6: Palas Atena). Mitos-mitos kelahiran dan kejadian para dewa ini, sebagaimana layaknya mitos memberikan porsi yang besar pada imajinasi pembuatnya. Tetapi pengarang buku ini memberikan catatan-catatan yang menghubungkan mitos-mitos tersebut dengan pemikiran masa kini. Bahwa Atena dilahirkan dari kepala Zeus, secara logika adalah suatu kemustahilan. Tetapi jika dilihat sebagai simbol, maka kelahiran melalui kepala ini melambangkan kebijaksanaan dan keadilan sang dewi. Karakter dewa-dewa Yunani, yang konon tingkatnya lebih tinggi dari manusia ini, penuh dengan kontradiksi. Janganlah berharap dewa-dewa ini murni sebagai tokoh-tokoh yang baik dan dipuja-puja. Bahkan Zeus pun tak luput dari perbuatan yang tidak adil, seperti ketika ia menghukum Prometeus, dewa sahabat manusia, dengan hukuman rantai (buku ke-8: Prometeus). Atau juga karakter jahat Hera yang membuang anaknya Hefestus; karakter Ares yang selalu menginginkan perselisihan, perpecahan, dan perang; atau kisah penyelewengan Ares dan dewi cinta Afrodite (buku ke-5: Singgasana Emas) Penggambaran dewa-dewa dengan sifat manusia ini cukup menarik sebagai perlambangan atas kehidupan manusia masa kini. Orang-orang Yunani kuno, dengan kemampuan imajinasi mereka yang tinggi, rasa keindahan yang didukung kondisi alam mereka yang permai, telah melahirkan kisah-kisah besar yang menarik dari zaman ke zaman, paling tidak sebagai bahan bacaan tentang perlambangan karakter manusia. Keberanian Berpikir Salah satu hasil pemikiran dan filsafat Yunani yang ada di belakang mitos-mitos ini adalah keberanian berpikir. Dewa-dewa Yunani yang berkuasa atas manusia itu, pada akhirnya juga digugat oleh manusia sendiri. Ketika Prometeus, figur titan (dewa Yunani yang berbadan besar dan berkekuatan hebat) penolong umat manusia dihukum rantai di pegunungan Kaukasus, para sahabatnya meratapinya. “Aku ajarkan kepada manusia seni dan pengetahuan. Aku ajari mereka membaca dan menulis. Aku ajari mereka membangun rumah, dan aku berikan kepada mereka kehangatan hati,” ujar Prometeus. “Tapi mengapa kau dihukum untuk semua kebaikan itu?” kata para Okeanida, dewi-dewi air putri Okeanus. “Kaulihat bagaimana hukumanku untuk semua itu. Tapi dengarkan kata-kataku. Seandainya aku melakukan kejahatan, mungkin aku tak akan dihukum sama sekali. Ketidakadilan menimbulkan hukuman yang paling berat untuk mereka yang berjuang menentangnya,” kata Prometeus (h. 8 buku ke-8: Prometeus). Dialog Prometeus dan para Okeanida ini memperlihatkan kecaman terhadap ketidakadilan hukuman Zeus, sang penguasa dewa dan manusia. Bahkan para Okeanida itu bernyanyi dalam lingkaran suci teater: “Kami telah belajar membenci para pengkhianat!” Dan salah satu pengkhianat itu adalah Zeus! Hal ini memperlihatkan betapa radikalnya pemikiran dan filsafat Yunani yang tersembul dalam mitos-mitos Yunani ini. Tentulah pesan-pesan semacam ini belum sepenuhnya dapat dimengerti oleh pembaca remaja, sebagai dengan ilustrasi yang begitu hidup. Sementara bagi kelompok yang lebih dewasa, seri ini merupakan bacaan ulangan mitos-mitos Yunani, mungkin dengan perbedaan versi dari yang pernah mereka kenal dulu. Tentang ilustrasi dalam seri ini cukup menarik dikemukakan karena memperlihatkan suatu perspektif baru. Pedoman yang banyak dianut ilustrator mitologi Yunani, adalah bahwa ilustrasi harus tetap setia pada ilustrasi klasik asli yang digarap dalam dua dimensi, tanpa perspektif dan hemat warna. Ilustrator seri ini, Yannis Stephanides, mengambil kompromi dengan tetap mengikuti garis klasik, tetapi dengan menambahkan beberapa unsur perspektif baru di tempat-tempat yang diperlukan. Untuk pewarnaan, ilustrator seri ini mengambil warna-warna cerah, yang dipilih untuk memberikan suasana dongeng kepada pembaca. Karena “begitulah mitologi dalam pandangan pembaca modern: kumpulan kisah bijak yang memikat, yang cemerlang bagai jalinan terang imajinasi yang muncul dari kedalaman berabad-abad”. Dari rumusan di atas, penceritaan kembali mitos-mitos Yunani oleh dua bersaudara Menelaos dan Yannis Stephanides ini, memperlihatkan konsep-konsep pendidikan anak yang mereka terapkan lewat penceritaan dongeng. Sesuatu yang jarang ditemukan pada cerita-cerita anak buatan Indonesia.
~ “Kisah Kuno dalam Warna Modern”, Panduan Pameran Buku Ikapi Pusat, 22 September 1995.sasaran khalayak buku ini. Tetapi justru di sinilah letak universalnya seri ini. Bagi anak-anak ia merupakan sebuah kumpulan kisah dunia dengan cerita dan tokoh-tokoh menarik yang imajinatif, dan
We only have fragments of this! But the etiological aspects included from the myth are very interesting! Worth reading this alongside Ovid’s version of the myth (in a more narrative format) in his Metamorphoses.
A fascinating bit of palimpsest involved in reworking this play, and very interesting to read how the author did it. I enjoyed the play itself, although it seemed a little short.
This is a pretty interesting attempt to reconstruct Euripides' lost play, as well as it is possible to reconstruct it from the fragments that remain. One interesting aspect is that Elliot states in the introduction that he was not attempting to write a new play, or his own version of the play, but attempting to reproduce the play as he imagines Euripides would have written it. This is in sharp contrast to a work like Colin Teevan's reconstructed Alcmaeon in Corinth, which is very much a modern play on the basic plotline of a lost Euripides work.
The play itself is interesting because while Phaeton is the titular character and ostensibly the main player in the myth, the play's plot really isn't much about him at all. It is really about the family--Clymene and Merops, principally--and how they deal with the loss of their son and the revelation to Merops that he was not actually Phaeton's biological father. It is a story focused on the conflict within the family, as opposed to the myth structure which focuses on Phaeton's ill-fated attempt to drive Helios' chariot (an episode which is, in good Greek tragic fashion, narrated but not shown).